Monday, July 03, 2006

Kisah Pendekar Bongkok

SIE Kauwsu (Guru Silat Sie) membaca surat itu dengan kedua tangan agak gemetar dan mukanya berubah pucat. Karena senja hari telah tiba dan cuaca tidak begitu terang lagi, dia lalu menyalakan sebuah lampu meja, kemudian dibacanya sekali lagi surat itu. Sehelai kertas yang bertuliskan beberapa buruf dengan tinta merah.

"Sie Kian, akhirnya aku dapat menemukan engkau! Sebelum malam ini habis, seluruh keluargamu dan segala mahluk yang hidup di dekat rumahmu, akan kubunuh semua!"

Demikianlah bunyi surat itu. Tanpa nama penulisnya. Akan tetapi, Sie kauwsu atau Sie Kian tahu benar siapa penulisnya. Tadi dia menemukan surat itu pada daun pintu belakang rumahnya, tertancap pada daun pintu dengan sebatang piauw (senjata rahasia) beronce merah. Dia mengenal benar piauw itu. Lima tahun yang lalu, dia pernah terluka pada pundaknya oleh piauw seperti itu. Dia tahu benar siapa pemilik piawsu, siapa penulis surat.

Peristiwa itu terjadi lima tahun yang lalu. Ketika itu, dia melakukan perjalanan ke daerah Hok-kian untuk mengunjungi seorang sahabat lamanya. Juga dia ingin melancong, karena semenjak menjadi guru silat, dia tidak pernah sempat melancong. Kini dia mempunyai seorang murid terpandai yang dapat mewakilinya mengajar para murid sehingga dia mempunyai kesempatan untuk pergi. Kepergiannya direncanakan selama satu bulan. Dia tidak dapat membawa anak isterinya, karena anaknya yang ke dua, baru lahir beberapa bulan yang lalu. Masih terlalu kecil untuk diajak pergi. Anaknya yang pertama, seorang anak perempuan yang sudah berusia lima belas tahun, juga tidak dapat diajak pergi karena harus membantu ibunya di rumah. Maka diapun pergi seorang diri ke timur.

Di dalam perjalanan inilah terjadinya peristiwa itu. Dia melihat perampokan di dalam hutan terhadap sebuah keluarga bangsawan yang melakukan perjalanan dengan kereta. Perampok itu adalah sepasang suami isteri yang masih muda. Kurang lebih duapuluh lima tahun usia mereka. Sie Kian turun tangan melindungi bangsawan itu dan terjadilah perkelahian antara dia dan suami isteri itu. Ternyata suami isteri itu lihai juga, akan tetapi mereka masih belum mampu mengalahkan Sie Kian yang pandai bersilat pedang. Perkelahian itu berakhir dengan kematian isteri perampok itu, dan luka parah pada perampok yang dengan penuh duka memanggul jenazah isterinya dan menanyakan Sie Kian. Sie Kian sendiri juga terluka di pundaknya, terkena sebatang senjata rahasia piauw yang dilempar oleh perampok itu.

"Sie Kian, kalau engkau membunuhku, aku tidak akan begini merasa sakit hati," demikian perampok itu sebelum pergi. "Juga kalau engkau hanya menghalangi perbuatan kami merampok, akupun tidak perduli. Akan tetapi engkau telah membunuh isteriku tercinta dan aku bersumpah bahwa kelak aku akan mencarimu dan aku akan membunuh seluruh keluargamu dan semua penghuni rumahmu!" Setelah mengeluarkan ucapan itu, perampok muda itu pergi dengan muka berduka. Sie Kian membiarkannya pergi dan mengira bahwa ucapan itu tentu hanya ancaman seorang perampok yang kecewa.

Akan tetapi, ternyata hari ini ada surat dan piauw beronce merah! Perampok itu ternyata bukan hanya meninggalkan ancaman kosong belaka dan hari ini, kurang lebih lima tahun semenjak peristiwa itu, perampok itu benar-benar datang untuk melaksanakan ancamannya dan sumpahnya! Diam-diam Sie Kian bergidik. Ancaman dalam surat itu sungguh menyeramkan. Akan tetapi, dia tidak takut! Selama hidupnya, Sie Kian adalah seorang laki-laki yang jantan. Demi membela kebenaran, dia tidak takut kehilangan nyawa! Ancaman surat itu hanya ancaman seorang penjahat, seorang perampok, dan dia akan menyambutnya, menandinginya dengan sikap seorang pendekar sejati! Tidak, dia tidak akan minta bantuan orang lain!

Setelah termenung sejenak, Sie Kian menyimpan surat dan piauw itu ke dalam kantung bajunya, dan diapun memasuki kamar di mana isterinya sedang berbaring menyusui anak mereka, anak laki-laki yang baru berusia sepuluh tahun dan mereka beri nama Sie Liong. Dengan wajah tenang saja Sie Kian duduk di kursi dalam kamar itu dan bertanya kepada isterinya, di mana adanya puteri mereka yang bernama Sie Lan Hong. Dia dan isterinya memang hanya mempunyai dua orang anak, yaitu pertama Sie Lan Hong yang sudah berusia lima belas tahun dan setelah lewat empat belas tahun lebih barulah isterinya melahirkan Sie Liong.

"Ia baru saja keluar dari sini, mungkin ia berada di dalam kamarnya," jawab istrinya sambil bangkit duduk karena Sie Liong sudah tidur pulas. "Ada apakah? Kelihatannya engkau begitu pendiam." Isteri yang sudah amat mengenal watak suaminya itu bertanya dengan pandang mata curiga melihat sikap suaminya begitu pendiam, tidak seperti biasanya.

"Panggil dulu Lan Hong ke sini, juga pangil Cu An yang berada di kamarnya. Ada urusan penting sekali yang hendak kubicarakan dengan kalian bertiga."

Isteri Sie Kian memandang suaminya dengan heran, akan tetapi tidak membantah dan ia lalu keluar dari kamarnya. Tak lama kemudian ia muncul kembali bersama seorang gadis yang manis, yaitu Lan Hong, dan seorang laki-laki muda berusia kurang lebih duapuluh lima tahun. Pria ini adalah Kim Cu An, murid kepala yang kini membantu Si Kian memimpin para murid yang belajar di perguruan silat itu. Karena Kim Cu An seorang yatim piatu yang tidak mempunyai sanak keluarga, maka dia diterima tinggal di rumah gurunya itu, sebagai murid, juga sebagai pembantu guru. Tentu saja Cu An merasa terkejut dan heran ketika oleh ibu gurunya dia dipanggil menghadap gurunya di dalam kamar gurunya itu!

Setelah isterinya, puterinya dan muridnya duduk di atas bangku dalam kamar itu, dengan sikap masih tenang Sie Kian lalu bicara. "Kalian tentu masih ingat akan ceritaku tentang peristiwa yang terjadi lima tahun yang lalu ketika aku mengadakan perjalanan ke Hok-kian itu, bukan?"

"Peristiwa yang mana?" tanya isterinya.

"Apakah suhu maksudkan pertemuan suhu dengan suami isteri perampok itu?" tanya Cu An.

Gurunya mengangguk. "Benar. Seperti telah kuceritakan, aku berhasil menyelamatkan keluarga bangsawan dari kota raja yang dirampok oleh perampok yang terdiri dari suami isteri itu. Dalam perkelahian itu, aku terluka senjata rahasia piauw, akan tetapi aku berhasil membunuh isteri perampok itu dan melukainya. Akan tetapi, ketika itu aku tidak menceritakan kepada kalian akan sumpah dan dendam perampok yang kematian isterinya itu. Ketika itu kuanggap tidak penting dan semua perampok yang dikalahkan tentu akan mengeluarkan ancaman. Akan tetapi...., hari ini ancaman perampok itu agaknya akan dilaksanan!" Sie Kian menarik napas panjang.

"Ancaman bagimana?" tanya isterinya, nampak khawatir.

"Ketika itu, sambil memanggul jenazah isterinya dan dalam keadaan luka dia bersumpah bahwa pada suatu hari dia akan mencariku dan akan membasmi seluruh keluargaku. Ancaman yang keluar dari mulut seorang perampok seperti itu, mana ada harganya untuk diperhatikan dan dianggap serius!"

"Akan tetapi.... dia bersumpah karena kematian isterinya, dan hal itu berbahaya sekali!" kata isterinya.

Sie Kian kembali menarik napas dan dia mengangguk. "Benar sekali pendapatmu itu dan sekarang inilah buktinya." Dia mengeluarkan senjata piauw dan kertas bersurat itu. "Tadi kutemukan surat ini tertancap piauw di daun pintu belakang. Surat itu berbunyi begini." Sie Kian membacakan surat itu, didengarkan dengan muka pucat oleh isterinya. Lan Hong dan Cua An mendengarkan dengan sikap tenang. Mereka adalah orang-orang muda yang sejak kecil sudah belajar ilmu silat maka memiliki ketabahan besar.

"Ayah, kalau dia muncul, kita lawan dia! Penjahat itu sudah sepatutnya dibasmi!" kata Lan Hong dengan penuh semangat.

"Sumoi benar, suhu. Kita tidak perlu takut menghadapi ancaman dan gertak kosong seorang penjahat seperti dia...."

"Ha-ha-ha-ha-ha...!" Pada saat itu, terdengar suara orang tertawa yang datangnya dari atas genteng.

Sie Kian meloncat dari kursinya. "Lan Hong, Cu An, kalian menjaga ibu dan adik kalian di sini!" berkata demikian, tubuh Sie Kian sudah berkelebat keluar dari dalam kamar itu dan dia segera keluar dan meloncat ke atas genteng. Pada saat dia meloncat ke atas genteng, terdengar suara anjing menggonggong di belakang, akan tetapi suara gonggongannya berubah pekik kesakitan lalu sunyi.

Sie Kian melayang turun dan lari ke belakang. Dia tidak melihat berkelebatnya orang, hanya menemukan anjing peliharaannya itu telah mati den sebuah ronce merah nampak di lehernya. Anjing itu mati dengan sebatang senjata piauw terbenam di dalam lehernya! Sie Kian mencari-cari, memandang ke kanan kiri dengan waspada. Akan tetapi pada saat itu, terdengar bunyi ayam-ayam berteriak, disusul ringkik kuda.

"Celaka....!" serunya dan dia cepat lari ke kandang kuda dan ayam yang berada agak jauh di samping rumah. Dan seperti juga anjingnya, dia melihat belasan ekor ayam peliharaannya, dan seekor kuda, telah menggeletak mati!

Sie Kian tidak memperdulikan lagi keadaan binatang-binatang peliharaannya dan cepat dia lari masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang. Dan pada saat itu, terdengar jerit wanita yang datangnya dari kamar para pelayan di belakang. Sie Kian terkejut dan kembali dia melompat keluar, menuju ke kamar pelayan. Dia merasa menyesal sekali mengapa memandang rendah lawan dan dia lupa untuk memanggil dua orang pelayannya agar berkumpul di dalam rumah besar. Dan seperti yang dikhawatirkan, dua orang pelayan wanita itu telah tewas di dalam sebuah kamar pelayan, leher mereka, hampir putus dan kamar itu banjir darah. Jelas bahwa leher mereka terbabat oleh pedang!

Sie Kian menjadi marah sekali. Dia meloncat masuk ke dalam rumah dan hatinya lega melihat betapa Lan Hong dan Cu An masih berjaga di depan kamar, sedangkan isterinya, dengan muka pucat, duduk di atas pembaringan memangku Sie Liong yang masih tidur nyenyak.

"Apa... apa yang terjadi...?" tanya isterinya ketika dia tiba di kamar itu.

"Jahanam itu...., dia telah mulai melaksanakan ancamannya! Semua binatang peliharaan kita dibunuhnya, juga dua orang pelayan kita dibunuhnya."

"Aihhh....!" Isterinya menangis.

"Sudah, tenanglah dan jangan menangis. Kita harus siap siaga menghadapinya. Dia tidak main-main dan ancamannya bukan gertak kosong. Cu An dan Lan Hong, kalian tetap berjaga di sini, menjaga keselamatan ibumu dan adikmu. Aku yang akan menghadapi jahanam busuk itu!"

"Baik, ayah," kata Lan Hong dengan luka pucat walaupun ia masih bersikap tenang. Kini tangannya memegang sebatang pedang.

"Teecu akan menjaga subo dengan taruhan nyawa, suhu!" kata Cu An dangan sikap gagah. Juga dia memegang sebatang pedang.

Dengan hati penuh kemarahan, Sie Kian lalu keluar dari dalam kamar, berdiri sejenak di ruangan tengah, memasang telinga. Akan tetapi tidak mendengar suara apa-apa dan malam tiba dengan sunyinya. Dia lalu keluar berindap-indap dari dalam ruangan itu, kemudian mengelilingi rumah dan memeriksa setiap sudut. Namun, tidak nampak bayangan orang.

Dengan gemas dia lalu meloncat naik ke atas genteng, berdiri di wuwungan rumahnya, lalu berteriak, "Perampok laknat, penjahat keji, jahanam keparat! keluarlah dari tempat persembunyianmu dan marilah kita bertanding secara jantan untuk menentukan siapa yang lebih kuat!"

Namun, tidak ada jawaban dan suasana, sunyi saja. Tempat tinggal keluarga Sie memang berada di sudut kota Tiong-cin, di pinggir dan mempunyai pekarangan luas, agak jauh dari tetangga, agak terpencil. Memang Sie Kian memilih tempat ini di mana dia dapat membuat lapangan yang luas untuk berlatih silat para muridnya. Sebagai seorang guru silat bayaran, Sie Kian menerima siapa saja yang mampu membayar, dan karena itu dia memiliki banyak sekali murid, baik dari kota Tiong-cin sendiri maupun dari dusun-dusun sekitarnya dan dari kota lain. Akan tetapi, semua muridnya tidak ada yang tinggal di situ kecuali Cu An yang merupakan murid utama dan kini bahkan menjadi guru pembantunya.

Karena usahanya mencari musuh itu sia-sia, dan tantangnnya juga tidak mendapatkan jawaban, akhirnya dangan hati mendongkol Sie Kian masuk lagi ke dalam rumah. Ketika isterinya, Lan Hong, dan Cu An memandang kepadanya dengan mata bertanya, dia hanya menggeleng kepala. "Tidak ada bayangan si keparat itu! Dia tentu telah pergi, atau bersembunyi, untuk menanti kelengahanku, atau mendatangkan ketegangan dalam hati kita."

Memang suasana menjadi tegang sekali. Bahkan Cu An yang biasanya tenang itu kini nampak agak pucat. Siapa orangnya yang tidak akan tegang menanti musuh yang main kucing-kucingan dan amat kejam itu? Semua binatang peliharaan telah dibunuhnya, juga dua orang pelayan wanita yang sama sekali tidak berdosa dan kini dia menghilang, membiarkan semua orang dicekam ketegangan dan kegelisahan.

Mereka berempat duduk di dalam kamar itu. Isteri Sie Kian merupakan orang yang paling ketakutan. Sie Kian duduk dangan tenang, akan tetapi pendengarannya dicurahkan keluar untuk menangkap gerakan yang tidak wajar di luar rumah. Yang benar-benar tenang hanyalah Sie Liong, anak berusia sepuluh bulan itu! Dia masih suci, batinnya masih bersih dari pengetahuan sehingga rasa takut dan duka tidak akan pernah dapat menyentuhnya.

"Suhu....!" Suara Cu An terdangar aneh ketika memecah kesunytan itu. Bahkan suara yang hanya merupakan satu kata panggilan itu sempat mengejutkan Lan Hong yang menoleh kepadanya dangan kaget, juga nyonya Sie terperanjat. Hanya Sie Kian yang dengan tenang memandang muridnya itu.

"Ada apakah, Cu An? Takutkah engkau?"

Pemuda itu menjilat bibirnya yang kering. Akan tetapi lidahnya juga kering bahkan mulutnya terasa kering sekali, dan dia menggeleng kepalanya.

"Suhu, teecu tidak takut, hanya tegang. Kalau musuh sudah berada di depan teecu, biar teceu terancam mautpun teecu tidak takut. Akan tetapi suasana tidak menentu ini sungguh menegangkan. Bagaimana kalau kita semua pindah saja ke lian-bu-thia (ruangan belajar silat)? Di sana lebih luas. Kalau terjadi penyerangan sewaktu-waktu, kita akan lebih leluasa untuk menghadapi musuh."

Setelah berpikir sejenak, Sie Kian mengangguk, "Engkau benar, Cu An. Kita belum tahu berapa orang jumlah musuh yang akan datang menyerbu, dan kamar ini memang terlalu sempit sehingga membahayakan keselamatan subo-mu dan adikmu yang kecil. Mari kita semua pindah saja ke ruangan latihan silat."

Sie Kian menyuruh puterinya membawa kasur agar di ruangan yang luas itu isterinya dapat menidurkan puteranya yang masih kecil. Mereka semua dengan penuh kewaspadaan lalu pindah ke dalam ruangan berlatih silat, sebuah ruangan jauh sepuluh kali lebih luas dari pada kamar itu, dan di situ hanya ada satu pintu besar dari mana orang luar dapat masuk. Kasur yang dibawa Lan Hong diletakkan di sudut ruangan itu dan ibunya lalu duduk di situ sambil memangku Sie Liong.

Setelah pindah ke ruangan yang lebih luas ini, benar saja hati mereka bertiga yang siap menghadapi musuh menjadi lebih tenang. Ruangan itu cukup luas dan mereka bertiga dapat melindungi Nyonya Sie dari depan saja karena tempat itu dikelilingi dinding sehingga lebih mudah bagi mereka untuk mempersatukan tenaga menghadapi serbuan musuh.

Betapapun juga, suasana tegang tetap saja mencekam hati mereka. Sie Kian sendiri berulang kali mengepal tinju, merasa dipermainkan oleh musuhnya. Dia tahu bahwa sekali ini, dia harus berjuang mati-matian, mempertahankan nyawa keluarganya. Dia berjanji bahwa sekali ini, dia akan membasmi semua musuh yang datang, tidak memberi kesempatan seorangpun berhasil lolos agar tidak terulang pembalasan dandam seperti ini. Kalau saja dulu dia membunuh perampok pria itu, tentu tidak akan timbul masalah seperti sekarang.

Tiba-tiba Sie Kian terkejut dan dia meloncat keluar dari pintu lian-bu-thia. Juga Cu An dan Lan Hong meloncat berdiri, pedang siap di tangan kanan dan mereka berdua sudah mengambil sikap berjaga-jaga, sedangkan nyonya Sie mendekap puteranya dangan muka pucat, mata terbelalak dan jantung berdebar penuh ketegangan. Tak lama kemudian terdangar suara kucing mengeong disusul suara Sie Kian menyumpah-nyumpah! Kiranya suara yang mencurigakan tadi hanyalah suara seekor kucing yang kebetulan lewat! Sungguh menggelikan sekali betapa ketegangan membuat semua orang menjadi demikian mudah kaget. Sie Kian muncul kembali dari pintu dan diapun menahan ketawanya, walaupun perutnya terasa geli. Demikian Pula Cu An dan Lan Hong.

Dari jauh terdangar suara ayam jantan berkokok. Biasanya, kalau ada ayam jantan berkokok, ayam jantan di kandang keluarga itu akan menyambutnya. Sekali ini, kokok ayam itu tidak ada yang menyambut, akan tetapi Sie Kian maklum bahwa tengah malam telah lewat. Ayam jantan di sana itu sudah biasa berkokok di waktu tengah malam, kemudian di waktu pagi sekali. Kini tengah malam telah lewat. Betapa cepatnya waktu berlalu. Rasanya baru saja dia menerima surat itu, di senja hari tadi, dan tahu-tahu kini telah lewat tengah malam.

Tiba-tiba mereka semua dikejutkan oleh suara ketawa terbahak-bahak yang datangnya dari luar rumah! Kini Sie Kian melompat berdiri dan dia membentak marah.

"Pengecut hina yang berada di luar! Masuklah, aku berada di lian-bu-thia sudah sejak tadi menanti kedatanganmu. Mari kita bertanding sampai seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa lagi!" tantangnya.

Suara ketawa itu berhenti, dan kini disusul suara yang mengandung ejekan, "Sie Kian! Aku memang memberi waktu agar kallan dicekam ketegangan hebat. Sekarang aku datang untuk membunuhmu. Keluarlah, aku menunggumu di pekarangan depan rumahmu!"

"Jahanam busuk! Engkau masuklah, aku sudah menanti dangan pedang di tangan untuk membunuhmu!" bentak Sie Kian yang tidak ingin meninggalkan keluarganya.

"Ha-ha-ha-ha, Sie Kian kini menjadi seorang pengecut dan penakut! Aku menantangmu di luar, dan engkau bersembunyi di balik gaun isterimu? Ha-ha! Keluarlah dan sambut aku, kalau tidak aku akan membakar rumahmu ini."

"Suhu...., jangan keluar, mungkin ini suatu siasat memancing harimau keluar sarang," bisik Cu An gelisah.

"Tidak, di sini ada engkau dan Lan Hong, hatiku tenang adanya kalian bardua menjaga ibumu. Aku akan keluar menyambut tantangan anjing keparat itu!"

"Hayo, Sie Kian! Apakah engkau benar-benar takut?" teriakan itu datang lagi dari luar.

"Jahanam busuk, siapa takut? Tunggu, aku akan menyambut tantanganmu!" Sie Kian segera meloncat keluar, terus menuju ke pekarangan depan rumahnya.

Orang itu sudah menanti di luar. Lampu dua buah yang tergantung di serambi depan cukup terang, menerangi pekarangan itu. Memang tadi dia menggantung dua buah lampu agar tempat itu menjadi terang, tidak seperti biasanya yang hanya diterangi sebuah lampu gantung. Dari penerangan dua buah lampu itu, Sie Kian yang sudah berdiri berhadapan dalam jarak empat meter dangan orang itu, dapat mengenal wajah musuh besarnya. Wajah seorang laki-laki yang masih muda, kurang lebih tigapuluh tahun usianya. Wajah seorang laki-laki yang cukup tampan, halus dan tidak ditumbuhi kumis dan jenggot lebat. Bahkan wajah itu posolek, pakaiannyapun rapi dun bagus, sepatunya mengkilap baru. Itulah wajah perampok yang lima tahun yang lalu berkelahi dangannya, perampok yang kematian isterinya. Akan tetapi kini ada sesuatu dalam sikap orang itu yang menunjukkan bahwa dia bukanlah orang yang dahulu, bahwa kini dia telah menjadi seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Agaknya selama lima tahun ini dia telah menggembleng diri mati-matian, hanya untuk melakukan balas dandam ini.

Akan tetapi Sie Kian tidak merasa gentar. Kalau berhadapan dangan seorang lawan, betapapun kuat lawan itu, dia tidak pernah gentar. Tidak ada lagi ketegangan seperti tadi. Hanya ada sedikit kekhawatiran bahwa orang ini menggunakan tipu muslihat, memancing dia keluar dan ada temannya yang akan menyerang ke dalam. Akan tetapi kekhawatiran inipun diusirnya dangan keyakinan bahwa murid kepala dan puterinya cukup kuat untuk melindungi isteri dan puteranya yang masih kecil.

"Hem, kiranya engkau perampok busuk yang dulu itu? Sungguh perbuatanmu ini menunjukkan kecurangan dan membuktikan bahwa engkau seorang pengecut. Kalau hendak membalas dandam, kenapa tidak langsung saja menantangku? Kenapa memakai jalan membunuhi binatang-binatang dan pelayan-pelayan yang tidak berdosa?"

"Ha-ha-ha, Sie Kian, lupakah kau akan sumpahku bahwa suatu hari aku akan membasmi engkau dan seluruh keluargamu dan seluruh isi rumahmu? Ha-ha-ha, sekaranglah saatnya! Tidak perlu banyak cakap, nanti kalau sudah mati nyawamu akan bertemu dengan isteriku dan masih ada waktu bagimu untuk minta ampun kepadanya!"

"Jahanam busuk!" Sie Kian memaki dan diapun sudah menyerang dengan pedangnya. Serangannya dahsyat sekali karena dalam marahnya, ingin Sie Kian segera merobohkan musuh ini. Pedangnya berkelebat dari samping dan mengirim bacokan ke arah leher orang itu yang kalau mengenai sasaran tentu akan membuat leher itu terpenggal putus.

Akan tetapi, orang itu bergerak cepat sekali dan dengan mantap pedangnya berkelebat dari samping ke atas, menangkis bacokan pedang Sie Kian.

"Tringggg....!" Nampak bunga api berpijar dan Sie Kian merasa betapa lengan tangannya tergetar hebat. Dia terkejut dan meloncat ke belakang, melihat pedangnya. Ternyata pedangnya itu patah sedikit pada mata pedangnya, hal ini menunjukkan bahwa pedang di tangan lawannya adalah sebuah pedang pusaka yang ampuh! Orang itu tertawa mengejek dan langoung menyerang dengan dahsyat. Sie Kian mengelak ke samping dan membalas serangan musuh dan mareka segera terlibat dalam perkelahian mati-matian dan seru sekali. Dan sekali ini, Sie Kian harus mengaku dalam hatinya bahwa lawannya sungguh sama sekali tidak boleh disamakan dengan dahulu, tidak boleh dipandang rendah karena ternyata memiliki ilmu pedang yang hebat, di samping tenaga sin-kang kuat ditambah lagi sebatang pedang pusaka yang ampuh!

Mulailah Sie Kian merasa khawatir. Seorang lawan saja Sudah begini lihai, apa lagi kalau dia datang berkawan. Ah, isteri dan anaknya berada di dalam! Bagainana kalau dia kalah? Bagaimana kalau ada kawan-kawan penjahat ini? Lebih baik menyuruh mereka melarikan diri! Biarlah, dia akan mati di tangan musuh, asal keluarganya selamat!

"Singgg....!" Pedang lawan meluncur dekat sekali dengan dadanya. Sie Kian mengelak ke kanan, akan tetapi pedang itu sudah membacok dari kiri dengan kecepatan kilat. Sie Kian menggerakkan pedang menangkis. Terpaksa menangkis karena sejak tadi dia tidak pernah mengadu senjata secara langsung, maklum bahwa pedangnya akan kalah kuat. Kini, karena tidak mungkin mengelak lagi, terpaksa dia menangkis.

"Cringgg....!" Pedang di tangan Sie Kian patah dan buntung bagian atasnya! Lawannya tertawa bergelak dan kesempatan ini dipergunakan oleh Sie Kian untuk mengerahkan tenaga berteriak ke arah dalam rumah.

"Lan Hong....! Ajak ibu dan adikmu melarikan diri! Cepaaaattt....!"

Lawannya tertawa bergelak, tertawa mengejek dan pedangnya menyambar dengan cepatnya, menusuk ke arah lambung Sie Kian. Guru silat ini melihat datangnya serangan yang amat berbahaya. Dia melempar tubuhnya ke atas tanah dan bergulingan sehingga terbebas dari tusukan tadi. Akan tetapi lawannya mengejar dan pada saat itu muncullah Kim Cu An. Pemuda ini mendengar teriakan gurunya, menjadi khawatir sekali. Sejak tadi, tidak ada musuh menyerbu lian-bu-thia itu, maka dia berpendapat bahwa musuh hanya seorang saja dan agaknya gurunya membutuhkan bantuan. Kalau tidak begitu, tentu gurunya tidak berteriak menyuruh puterinya membawa ibu dan adiknya melarikan diri! Kim Cu An lalu berlari keluar dan di pekarangan itu dia melihat suhunya bergulingan di atas tanah, dikejar oleh seorang laki-laki bertubuh jangkung yang gerakannya gesit bukan main.

"Suhu, teecu datang membantumu!" teriak Cu An dan dia lalu menggerakkan pedangnya membacok orang itu dari belakang. Akan tetapi, orang itu memutar pedangnya menangkis.

"Tranggg....!" Cu An mengeluarkan seruan kaget karena pedangnya terpental dan hampir terlepas dari pegangan saking kuatnya tenaga lawan dan ketika dia melihat, pedangnya telah buntung ujungnya!

"Hati-hati, Cu An, dia memegang sebatang pedang pusaka!" teriak Sie Kian yang telah terbebas dari desakan tadi berkat bantuan muridnya. Kini guru dan murid menghadapi lawan tangguh itu dengan pedang mereka yang sudah buntung ujungnya!

Orang itu tertawa lagi. "Ha-ha-ha kebetulan sekali. Kalian sudah berkumpul di sini sehingga tidak melelahkan aku harus mencari ke sana-sini! Kalian akan mampus di tanganku!"

"Nanti dulu! Perkenalkan dulu namamu sebelum kami menbunuhmu!" bentak Sie Kian yang ingin tahu siapa sebenarnya musuh besarnya ini.

"Ha-ha-ha, apa artinya kalau kuperkenalkan namaku pada kalian yang sebentar lagi akan mampus?" Tiba-tiba saja orang itu sudah menerjang dengan dahsyatnya dan pedangnya bergerak amat cepatnya, berubah menjadi gdlungan sinar yang menyambar-nyambar, mengeluarkan suara berdesing dan menimbulkan angin berpusing. Sungguh suatu ilmu pedang yang amat dahsyat! Sie Kian dan Cu An segera mengerahkan tenaga dan seluruh kepandaian mereka untuk menahan serangan itu. Namun mereka segera terdesak hebat dan tiba-tiba tangan kiri lawan itu bergerak. Tiga batang piauw beronce merah menyambar ke arah tiga bagian tubuh depan Cu An, abdangkan pedangnya membuat gerakan memutar membacok ke arah tubuh Sie Kien dilanjutkan tusukan-tusukan maut!

Guru dan murid ini menjadi repot sekali. Hampir saja Cu An menjadi korban senjata rahasia piauw itu. Untung dia masih dapat melempar tubuh ke atas tanah sehingga terbebas dari renggutan maut lewat senjata piauw. Dan Sie Kian juga terhuyung ke belakang dalam usahanya mengelak dan menangkis gulungan sinar pedang. Pada saat itu, lawannya kembali menggerakkan tangan kiri dan tiga sinar merah meluncur ke arah tenggorokan, dada dan lambung Sie Kian yang sedang terhuyung, dan orang itu meninggalkannya, pedangnya kini menyambar-nyambar ke arah Cu An yang baru saja meloncat bangun dari atas tanah di mana dia berguling tadi.

Cu An berusaha menangkis, namun kembali pedangnya patah dan pedang lawan meluncur terus memasuki dadanya.

"Cappp....!" Pedang dicabut, darah menyembur dan tubuh Cu An terjengkang, tewas seketika karena jantungnya ditembusi pedang lawan.

Sie Kian yang juga repot sekali mengelak dari sambaran tiga batang piauw tadi, terkejut bukan main melihat muridnya roboh. Akan tetapi pada saat itu, lawannya sudah datang menerjangnya. Dia berusaha menangkis, namun seperti keadaan muridnya, pedang yang menangkis itu patah dan pedang lawan meluncur terus dengan kekuntan dahsyat menyambar ke arah leher. Terdangar suara bacokan keras dan leher Sie Kian terbabat putus. Kepalanya terlepas dari tubuhnya dan menggelinding ke atas tanah. Tubuhnya terbanting keras dan darah bercucuran membasahi tanah pekerangan.

Orang itu tertawa bergelak, dengan wajah gembira dia menyambar rambut kepala Sie Kian dengan tangan kirinya, lalu dia berloncatan memasuki rumah itu.

Sementara itu, Lan Hong yang tadi mendengar teriakan ayahnya, menjadi khawatir sekali. Bagaimana ia dapat melarikan diri kalau ayahnya terancam bahaya? Apa lagi, ia harus membawa lari ibunya dan adiknya, bagaimana mungkin ia dapat berlari cepat, dan andaikata ia melarikan ibunya dan adiknya, tentu akan dapat dikejar dan disusul pula oleh musuh yang lihai. Ia merasa bimbang, apa lagi ketika melihat suhengnya melompat keluar untuk membantu ayahnya. Lan Hong lalu berdiri melindungi ibunya yang masih mendekap adiknya. Melihat ibunya menggigil ketakutan, ia berkata dengan gagah, dan mengangkat pedangnya.

"Ibu, jangan takut! Aku akan melindungi ibu dan adik Liong."

Melihat sikap puterinya, Nyonya Sie timbul pula keberaniannya. Orang jahat akan mengganggu anak-anaknya? Tidak, ia tidak boleh tinggal diam saja! Biarpun tidak sangat mendalam, ia pernah pula belajar ilmu silat dan kini, melihat puterinya akan menghadapi orang jahat, dan melihat bayinya terancam, bangkit semangat dan keberanianaya. Apa lagi mengingat betapa suaminya juga terancam bahaya maut. Ia segera menurunkan Sie Liong yang masih tidur itu ke atas kasur, lalu ia sendiri berlari ke arah rak senjata yang berada di sudut ruangan belajar silat itu, memilih aenjata sebatang golok kecil yang ringan dan ia berdiri di samping puterinya.

"Kita beroama menghadapi penjahat, Hong-ji!" katanya. Lan Hong khawatir melihat ibunya, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, lebih banyak orang yang menghadang penjahat lebih baik. Ia hanya mengharapkan ayahnya dan suhengnya sudah cukup untuk mengusir penjahat yang menyerbu rumah mereka.

Tak lama kemudian, terdengar suara ketawa dan sebuah benda melayang dari pintu ruangan itu masuk ke dalam. Benda itu jatuh ke lantai lalu menggelinding ke depan dua orang wanita itu. Lan Hong yang sudah siap siaga, memandang benda itu. Sebuah kepala yang lehernya masih berlepotan darah!

"Ayah....!" Ia menjerit.

Ibunya melengking dan menubruk ke depan, melempar goloknya dan menangis menggerung-gerung. Pada saat itu ada bayangan orang berkelebat masuk.

"Ibu mundur....!" Lan Hong berteriak, akan tetapi terlambat. Ibunya sudah meloncat ke depan dan menubruk kepala suaminya itu, dan pada saat itu, laki-laki jangkung yang berkelebat masuk itu sudah menggerakkan pedangnya.

"Crakkkk!" Pedang itu menyambar cepat dan kuat sekali, dan leher ibu yang menangisi kepala suaminya itupun terbabat putus, kepalanya menggelinding di atas lantai dan darah menyembur-nyembur.

"Ibuuu....!" Lan Hong hampir pingsan melihat ini, akan tetapi kemarahan membuat ia dapat menahan diri dan dengan kemarahan meluap, dendam sakit hati yang amat hebat, iapun menyerang laki-laki itu dengan pedangnya, ia menusuk dengan sekuat tenaga ke arah dada orang itu sambil mengeluarkan suara melengking nyaring saking marahnya.

Laki-laki itu mengelak dan dia mengamati gadis yang menyerangnya, sinar kagum terpancar dari pandang matanya. "Ah, engkau sungguh manis sekali! Engkau puteri Sie Kian? Sungguh tak kusangka guru silat itu mempunyai seorang puteri yang begini cantik dan manis!" Kembali dia mengelak ketika pedang di tangan Lan Hong menyambar ke arah lehernya.

Lan Hong tidak memperdulikan kata-kata orang itu yang memuji-muji kecantikannya. Hatinya penuh dandam kebencian dan ingin ia menyayat-nyayat dan mencincang hancur tubuh musuh besar yang telah membunuh ayah ibunya itu. Ia melanjutkan serangannya, dan kemarahan membuat seranggnnya itu tidak teratur lagi, akan tetapi justru serangan seperti itu amat berbahaya.

Melihat kenekatan gadis yang menyerangnya sambil bercucuran air mata itu, laki-laki itu segera menggerakkan pedangnya menangkis sambil mengerahkan tenaga sin-kang. Pedang yang menangkis itu mengeluarkan tenaga getaran kuat sehingga ketika pedang bertemu, pedang di tangan Lan Hong patah dan juga terlepas dari pegangannya! Gadis itu berdiri dengan muka pucat akan tetapi matanya terbelalak memandang penuh kabencian. Laki-laki di depannya itu berusia kurang lebih tigapuluh tahun, wajahnya tampan dan pakaiannya rapi, tubuhnya tinggi semampai. Seorang pria yang akan menarik hati setiap orang wanita, akan tetapi pada saat itu, Lan Hong melihatnya seperti setan jahat yang amat dibencinya.

Laki-laki itu menodongkan pedangnya ke depan dada Lan Hong, tersenyum dan kembali matanya memancarkan sinar kagum dan juga heran. "Sungguh mati, kalau usiamu tidak semuda ini, tentu kau kukira isteriku! Engkau mirip benar dangan isteriku, bahkan engkau lebih cantik manis, lebih segar dan lebih muda! Ahh, ayahmu telah membunuh istriku, sudah sepatutnya kalau dia menyerahkan puterinya sebagai pengganti isteriku. Ha-ha, benar sekali! Nona manis, engkau akan menjadi isteriku. Aku tidak akan membunuhmu, sebaliknya malah, aku akan mengambil engkau menjadi isteriku, isteri yang tercinta, dan aku akan membahagiakanmu, akan melindungimu.... engkau akan menjadi pengganti isteriku yang telah tiada...."

"Tidak sudi! Lebih baik aku mati dari pada menjadi isterimu, jahanam!" teriak Lan Hong dan kini gadis ini menyerang dengan kepalan tangannya, menghantam ke arah muka yang amat dibencinya itu.

"Plakk!" Tangan itu telah tertangkap pada pergelangannya oleh tangan kiri pria itu.

"Nona, pikirkan baik-baik dan jangan menurutkan nafsu amarah. Ingat bahwa aku terpaksa membunuh keluarga ayahmu karena ayahmu pernah membunuh isteriku yang tercinta. Sekarang, semua hutang telah lunas dan engkau...., engkau sungguh menarik hatiku, aku jatuh cinta padamu, nona. Engkau menjadi pengganti isteriku. Mudah saja bagiku untuk memaksamu dan memperkosamu, nona. Akan tetapi aku sungguh tidak menghendaki itu. Aku ingin engkau dengan suka rela menyerahkan diri padaku, menjadi isteriku yang kucinta."

"Tidak! Tidak sudi! Lebih baik aku mati!" Lan Hong meronta-ronta dan pada saat itu terdengar tangis seorang anak kecil! Sie Liong agaknya terbangun dan dia menangis menjerit-jerit seperti anak yang ketakutan.

Baik Lan Hong maupun orang itu terkejut. Orang itu melepaskan Lan Hong yang tadi sudah melupakan adiknya itu, dan dengan pedang di tangan dia menghampiri kasur terhampar di mana anak itu rebah menangis.

"Aha! Kiranya keluarga Sie masih mempunyai seorang anak kecil? Laki-laki pula! Ah, dia harus mampus....!"

Tiba-tiba saja Lan Hong menubruk adiknya. "Tunggu....! Jangan.... jangan bunuh adikku....!" jeritnya sambil mendekap adiknya, melindunginya, mukanya pucat dan matanya terbelalak memandang pria itu. "Jangan bunuh adikku.... ah, kumohon padamu, jangan bunuh adikku yang masih kecil ini....!"

"Dia putera ayahmu, kelak hanya akan menjadi ancaman bahaya bagiku. Aku harus membunuhnya. Berikan dia padaku!" Laki-laki itu menghardik, kini suaranya berubah, tidak seperti tadi, penuh nada manis merayu, kini terdangar galak dan kejam.

Lan Hong membayangkan betapa orang itu akan membunuh adiknya. Kalau ia melawan, iapun tentu akan mati. Baginya, mati bukan apa-apa, akan tetapi kalau ia mati dan adinya mati pula, lalu siapa kelak yang akan membalas dendam setinggi gunung sedalam lautan ini? Satu-satunya jalan, ia harus mengorbankan diri, menyerahkan diri, demi adiknya agar dapat hidup, agar kelak akan ada yang membalaskan kehancuran dan pembasmian keluarga ayahnya ini!

"Tidak! Tunggu....! Aku.... aku akan menyerahkan diri, dengan suka rela.... aku akan menjadi isterimu asalkan engkau.... tidak membunuh adikku....! Kalau engkau tetap membunuhnya, aku akan melawanmu sampai mati dan aku tidak akan menyerahkan diri, aku akan membunuh diri!"

Sejenak pria itu tertegun, memandang kepada anak laki-laki dalam pondongan gadis itu, lalu memandang gadis itu dari kepala sampai ke kaki. Sungguh aneh sekali, pikirnya. Gadis ini mirip benar dengan isterinya yang telah tiada! Dan begitu bertemu, timbul rasa suka dan cinta kepada gadis ini. Baru penolakannya saja sudah menyakitkan hati, kalau dia harus memperkosanya, hatinya akan lebih kecewa lagi. Kalau gadis itu menyerahkan diri seeara suka rela, mau menjadi isterinya, alangkah akan bahagianya hatinya! Hidupnya akan menjadi terang lagi setelah kegelapan bertahun-tahun yang dideritanya karena kematian isterinya. Akan tetapi anak itu! Ah, bukahkah janjinya hanya tidak akan membunuhnya? Baik, dia tidak akan membunuhnya, tapi....!

"Benar engkau akan menyerahkan diri kepadaku dengan suka rela?"

"Benar!"

"Dan engkau akan belajar mencintaku seperti aku mencintamu setelah aku menjadi suamimu yang mencintamu?"

Wajah gadis itu berubah merah. "Aku.... aku akan mencoba...."

"Bagus, kalau begitu, aku tidak akan membunuh adikmu, akan tetapi sekali engkau memperlihatkan sikap memusuhi aku yang menjadi suamimu, adikmu akan kubunuh!"

"Tidak, engkau harus bersumpah dulu! Bersumpahlah bahwa engkau tidak akan membunuh Sie Lionh, adikku ini. Bagaimanapun juga aku percaya bahwa engkau masih memilikl harga diri dan memiliki kehormatan untuk memegang teguh sumpahmu. Bersumpahlah, baru aku akan percaya padamu." Gadis itu mempertahankan diri sambil mondekap adiknya yang sudah berhenti menangis.

Pria itu tersenyum dan mengangguk-angguk. "Engkau cantik, engkau manis, engkau gagah dan engkau cerdik! Sungguh membuat aku samakin jatuh cinta saja. Engkau patut menjadi isteriku, sungguh! Siapakah namamu? Aku akan bersumpah."

"Namaku Sie Lan Hong dan adikku ini Sie Liong."

"Nah, sekarang dengarkan sumpahku!" kata pria itu dan diapun berdiri dengan tegak, mengangkat pedangnya di depan dahi, mengacung ke atas dan diapun berkata dengan suara lantang. "Aku, Yauw Sun Kok, bersumpah demi nama dan kehormatanku, disaksikan oleh padang pusakaku, Bumi dan Langit, bahwa kalau Sie Lan Song menjadi isteriku dan membalas cinta kasihku, menyerah dengan suka rela kepadaku, maka aku tidak akan membunuh Sie Liong! Biar Bumi dan Langit mengutuk aku kalau aku melanggar sumpahku!"

Setelah bersumpah, pria yang mengaku bernama Yauw Sun Kok itu menyimpan pedangnya ke dalam sarung pedang dan tersenyum kepada Lan Hong. "Nah, bagaimana? Puaskah engkau dangan sumpahku tadi?"

Lan Hong mengangguk dan Sun Kok nampak girang sekali. "Manisku, Hong-moi, kekasihku, isteriku.... kemenangan ini harus kita rayakan. Untuk memperkuat sumpahku, saat ini juga engkau harus menjadi isteriku yang tercinta. Tidurkan adikmu itu...." Dengan lembut Sun Kok lalu mengambil Sie Liong dari dekapan Lan Hong, merebahkan anak itu di tepi kasur, kemudian dengan lembut namun penuh gairah, bagaikan seekor harimau, dia menerkam Lan Hong, mendorong gadis itu rebah ke atas kasur di dekat adiknya!

Dapat dibayangkan betapa hancur perasaan hati gadis itu. Dara yang sedang remaja ini terpaksa harus menyerahkan dirinya bulat-bulat, tanpa perlawanan sedikitpun, menyerahkan dirinya digauli pria yang baru saja membunuh ayahnya, ibunya, suhengnya, dua orang pelayan dan semua binatang peliharaan di dalam rumah. Bahkan ia harus melayani pria itu di kasur yang dihamparkan di atas lantai lian-bu-thia, dan dari tempat ia rebah terlentang itu ia dapat melihat dua buah kepala yang berlepotan darah di atas lantai, tak jauh dari situ. Kepala ayahnya dan Ibunya!

Sie Liong mulai menangis lagi, meraung-raung. Lan Hong juga menangis, merintih kesakitan. Namun, Yauw Sun Kok yang dibakar nafsu birahinya itu tidak memperdulikan semua itu. Dia sudah merasa bangga, juga bahagia sekali karena gadis itu benar-benar menyerahkan diri bulat-bulat tanpa perlawanan sedikitpun! Diapun tidak perduli ketika gadis itu, di antara isak tangis dan rintihannya, berbisik-bisik, "Ayah.... Ibu.... ampunkanlah anakmu ini.... demi keselamatan Sie Liong.... ahhhh...."

Setelah merasa puas dengan penyerahan diri yang sama sekali tidak mengandung perlawanan seperti dijanjikan gadis itu, Yauw Sun Kok merasa semakin sayang kepada Lan Song. Rasa sayang itu dibuktikan dengan diturutinya permintaan gadis itu untuk menguburkan jenazah ayah ibu gadis itu, suhengnya, dan dua orang pelayan. Sun Kok malam itu juga menggali lubang-lubang di belakang rumah keluarga Sie, menguburkan jenazah suami isteri Sie Kian dalam satu lubang, jenazab Kin Cu An dan dua orang pelayan di lain lubang. Kemudian, menjelang pagi, diapun memondong tubuh Lan Song yang juga memondong Sie Liong melarikan diri secepetnya meninggalkan tempat itu.

Gegerlah penduduk Tiong-cin ketika pada keesokan harinya mereka mendapatkan rumah keluarga Sie sunyi senyap. Ketika para penduduk memeriksa, mereka tidak menemukan seorangpun penghuni di rumah itu. Di pekarangen dan di ruangan berlatth silat nampak banyak darah, dan semua binatang di rumah itu mati dalam kandangnya. Tentu saja para petugas pemerintah melakukan pemeriksaan dan mereka menemukan dua lubang kuburan baru itu. Kuburan dibongkar dan makin gegerlah kota Tiong-cin ketika mereka menemukan mayat-mayat Sie Kian, isterinya, muridnya, dan dua orang pelayan wanita. Jelas mereka itu tewas karena dibunuh, bahkan Sie Kian dan isterinya tewas dengan kepala terpisah dari badannya. Yang membuat semua orang bingung adalah lenyapnya Sie Lan Hong dan Sie Liong, dua orang anak keluarga Sie itu.

Teka-teki peristiwa yang terjadi di rumah keluarga Sie itu tetap merupakan rahasia yang tidak terpecahkan oleh semua orang. Dan rahasia itu memang tidak mungkin dapat dipecahkan karena dua orang yang dapat menjadi kunci pembuka rahasia itu, yaitu Sie Lan Hong dan Sie Liong, telah pergi jauh sekali dari tempat itu. Ratusan bahkan ribuan li jauhnya dari kota Tiong-cin karena Yauw Sun Kok membawanya pergi ke barat, jauh sekali, di perbatasan barat propinsi Sin-kiang!

***

Yauw Sun Kok adalah seorang laki-laki petualang yang sudah hidup seba­tangkara sejak masih kecil. Kedua o­rang tuanya telah meninggal dunia karena wabah penyakit menular yang amat berbahaya di dusunnya dan dalam usia sepuluh tahun dia sudah hidup sebatang kara dan yatim piatu. Kehidupan yang keras seorang diri ini menggemblengnya menjadi seorang pemuda yang keras. Namun, dia memang memiliki kecerdikan sehingga biarpun ketika ayah ibunya me­ninggal dia baru berusia sepuluh tahun, namun dia telah memiliki kepandaian membaca dan menulis. Ketika dia hidup seorang diri, merantau sebatangkara dan menemui banyak kekerasan dan kesu­litan hidup, dia mengerti bahwa dalam kehidupan yang sulit dan serba keras itu, dia perlu menguasai ilmu silat. Maka, ke manapun dia merantau, dia sela­lu berusaha untuk mempelajari ilmu si­lat dari siapapun.

Akhirnya, dalam usia lima belas tahun, setelah menguasai beberapa macam ilmu silat, dia bekerja pada seorang ke­pala perampok kenamaan di sepanjang Sungai Kuning. Karena dia setia dan pan­dai mengambil hati, diapun menjadi mu­rid kepala perampok itu dan mempelajari ilmu silat dan ilmu.... merampok! Seringkali dia mewakili gurunya memimpin anak buah untuk merampok atau membajak perahu-perahu di sungai dan dalam usia dua puluh tahun, dia telah menjadi seorang perampok yang lihai dan ditakuti. Bukan saja ilmu silatnya cukup lihai, akan tetapi juga dia masih bersikap seperti orang terpelajar dengan modal sedikit ilmu sastra yang pernah dipela­jari di waktu ayahnya masih hidup. Pakaiannya selalu rapi dan karena wajah­nya tampan, maka banyak wanita yang jatuh hati kepadanya.

Di antara gadis yang tergila-gila kepadanya adalah puteri kepala perampok itu sendiri! Gadis puteri kepala perampok itu memang cantik manis, dan segera terjadilah hubungan akrab di antara mereka. Akan tetapi, kepala perampok itu tidak setuju kalau puterinya berjodoh dengan Sun Kok yang menjadi pembantunya dan muridnya pula. Biarpun dia kepala perampok, akan tetapi dia tidak ingin melihat puterinya menjadi isteri perampok! Dia ingin melihat pu­terinya menjadi isteri seorang pejabat tinggi atau seorang hartawan, setidak­nya seorang yang hidup terhormat dan terpandang! Di sini terbukti bahwa se­tiap orang yang melakukan penyelewengan dalam hidupnya, sama sekali bukan karena dia tidak tahu, atau dia menyu­kai pekerjaan maksiat atau penyelewengan itu! Kalau dia mampu, tentu saja dia akan menjauhi perbuatan menyeleweng i­tu! Kalau seorang pencuri sudah menja­di kaya raya dan terhormat, tak mung­kin dia ingin mencuri lagi! Kepala pe­rampok itupun tidak ingin mempunyai mantu perampok!

Akan tetapi, hubungan antara Sun Kok dan puteri perampok itu sudah amat jauh dan mendalam, bahkan puteri kepala perampok itu sudah berulang kali menyerahkan diri kepada Sun Kok. Sudah berulang kali mereka melakukan hubungan suami isteri dengan pencurahan kasih sayang. Karena dihalangi oleh orang tua gadis itu, jalan satu-satunya bagi mereka hanyalah minggat! Sun Kok dan kekasihnya meninggalkan sarang kepala perampok itu dan gadis itu ketika lari membawa pula beberapa barang berharga. Dan mulailah mereka berdua hidup seba­gai suami isteri perampok! Mereka jauh meninggalkan sarang kepala perampok di tepi Sungai Kuning itu dan mereka men­jadi perampok di sepanjang perbatasan Propinsi Hok-kian di timur.

Demikianlah sedikit riwayat Yauw Sun Kok sampai lima tahun kemudian, ketika dia berusia dua puluh lima tahun dan menjadi perampok bersama isterinya tercinta, mereka berdua ketika sedang merampok kereta keluarga bangsawan; mereka bertemu dengan Sie Kian dan dalam perkelahian, isteri Yauw Sun Kok tewas di tangan Sie Kian! Yauw Sun Kok yang kematian isterinya, menjadi berduka sekali dan dia mendendam sakit hati yang hebat terhadap Sie Kian. Kembali dia hidup sebatangkara karena isterinya belum pernah melahirkan seorang anak. Dengan dandam yang bernyala, Yauw Sun Kok lalu merantau ke barat. Dia mendengar bahwa Pegunungan Himalaya merupakan gudang para pertapa yang memi­liki ilmu kepandaian tinggi, maka ke sanalah dia pergi, untuk belajar ilmu silat yang lebih tinggi agar kelak dia dapat membalas dandamnya kepada Sie Kian.

Selama lima tahun, Yau Sun Kok menghamburkan semua hartanya yang di­kumpulkan dari hasil merampok bersama isterinya, termasuk harta bawaan iste­rinya, untuk belajar ilmu silat. Bermacam guru ditemuinya dan diapun berhasil mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi, dan mendapatkan sebatang pedang pusaka yang disebut Pek-lian-kiam (Pe­dang Teratai Putih) karena di badan pedang itu terdapat ukiran setangkai bunga teratai putih dan pedang itu sendiri terbuat dari baja putih sehingga kalau dimainkan menjadi gulungan sinar putih yang menyilaukan mata.

Setelah merasa cukup memiliki il­mu silat yang boleh diandalkan, Yauw Sun Kok lalu pergi mencari musuh besarnya. Tidak sukar baginya untuk menemu­kan tempat tinggal Sie Kian atau Sie Kauwsu yang membuka perguruan silat bayaran di kota Tiong-cin itu. Dia mela­kukan penyelidikan dan merasa girang melihat betapa rumah keluarga Sie ber­diri terpencil dan para muridnya tinggal di luar perguruan. Setelah memper­hitungkan masak-masak, dia lalu mengi­rim surat ancaman itu dengan mempergu­nakan senjata rahasia piauwnya dan akhirnya, dia berhasil membasmi keluar­ga Sie, dan melarikan dua orang anak musuh besarnya. Sungguh di luar perhitungannya bahwa dia dapat jatuh cinta kepada Lan Hong, padahal dia bukahlah seorang yang mata keranjang dan mudah tergila-gila kepada wanita cantik. Mungkin karena ada persamaan atau kemiripan antara wajah Lien Hong dan mendiang isterinya, maka dia tertarik sekali.

Setelah berhasil menaklukan Lan Hong sehingga gadis remaja itu menyerahkan diri kepadanya, Yauw Sun Kok merasa gembira sekali. Dia maklum bahwa perbuatannya di Tiong-cin itu akan menimbulkan kegemparan, maka dia lalu melakukan perjalanan secepatnya menuju ke barat! Dia membawa Lan Song yang telah menjadi isterinya itu ke Sin-kiang bersama anak kecil itu.

Di sebuah kota kecil bernama Sung-jan, di perbatasan barat Propinsi Sin-kiang, Tauw Sun Kok telah memiliki sebuah rumah yang lumayan. Di sinilah tempat tinggalnya yang terakhir setelah menuntut ilmu. Dan di kota ini, namanya sudah mulai terkenal sebagai seorang yang lihai. Namanya mulai terke­nal, karena dia mempunyai hubungan de­ngan banyak tokoh kang-ouw di daerah barat. Memang Sun Kok pandai mengambil hati orang-orang kang-ouw yang berilmu titiggi dan dengan kepandaiannya mengambil hati ini, dia dapat mempelajari banyak macam ilmu silat.

Setelah tiba di rumahnya, Sun Kok lalu merayakan pesta pernikahannya dengan Sie Lan Hong! Meriah juga pesta itu karena selain mengundang orang-orang terkemuka di kota Sung-jan, juga dia mengundang tokoh-tokoh kang-ouw di da­erah barat yang menjadi kenalannya.

Suatu keanehan terjadi dalam hati Sie Lan Hong. Melihat sikap bekas mu­suh besar yang kini menjadi suaminya itu, sikap yang amat baik, penuh dengan kelembutan dan cinta kasih, penuh ke­mesraan dan kesabaran, sedikit demi sedikit lenyaplah kebencian di dalam hati dara remaja ini! Apalagi melihat betapa Sun Kok bersungguh-sungguh memperisterinya, bukan sekedar main-main dan untuk mempermainkannya saja. Melihat betapa suaminya itu mengadakan pesta yang meriah untuk pengesahan pernikahan mereka, timbul perasaan suka di hati gadis ini. Sun Kok yang berpenga­laman itu memang pandai merayu, dan Lan Hong adalah seorang gadis yang usianya baru lima belas tahun, maka mudah saja dia terbuai dalam kemesraan dan kenik­matan kasih sayang suaminya. Perlahan-lahan, rasa benci dan dandam itu lenyap terganti perasaan cinta yang mesra!

Akan tetapi ada suatu hal yang menggelisahkan hati Yauw Sun Kok. Dia­pun kini sudah tidak mendandam lagi kepada keluarga Sie, dan cintanya terha­dap Lan Hong yang sudah menjadi isterinya adalah cinta yang mendalam. Bahkan diapun tidak membenci Sie Liong, adik isterinya itu. Sebaliknya, dia juga memiliki perasaan sayang kepada anak i­tu, di samping perasaan iba mengingat betapa anak itu sudah tidak mempunyai ayah bunda lagi. Akan tetapi, di sam­ping perasaan sayang dan iba ini, ada semacam kegelisahan timbul dalam hati­nya setiap kali dia memangku dan menimang Sie Liong. Dalam diri anak ini dia melihat ancaman bahaya besar! Kalau kelak Sie Liong sudah menjadi seorang dewasa, tentu dia akan mendangar akan kematian ayah ibunya di tangan kakak i­parnya ini, dan tentu akan terjadi malapetaka! Besar sekali kemungkinannya, Sie Liong kelak akan mencoba untuk membalas dandam! Dari pihak isterinya, dia tidak khawatir karena dia dapat merasakan kemesraan dan kasih sayang dari isterinya kepadanya. Akan tetapi anak ini?

Setahun kemudian, ketika Sie Liong sudah pandai berjalan, pada suatu hari Sun Kok mengajaknya ke kebun belakang. Sementara itu Lan Hong menyusui anaknya di dalam kamar. Satelah menikah setahun lamanya, Lan Hong melahir­kan seorang anak perempuan yang mungil dan diberi nama Yauw Bi Sian. Ketika itu, Bi Sian baru berusia satu bulan. Sun Kok mengajak Sie Liong ke kebun dan memang anak ini dekat sekali dengan dia. Sun Kok seringkali menimang dan memondongnya, seolah-olah adik isteri­nya itu anak kandungnya sendiri. Dan memang dia tidak berpura-pura. Ada ra­sa sayang dan iba kepada Sie Liong.

Akan tetapi, ketika dia membawa Sie Liong bermain-main di kebun belakang, kembali dia teringat akan bahaya yang mengangancam dari diri anak ini. Dia tahu bahwa Sie Liong memiliki tulang yang kuat dan darah yang bersih. Anak ini berbakat baik sekali untuk kelak menjadi seorang yang gagah perkasa. Kalau kelak anak ini menjadi seorang pandai, tentu keselamatan dirinya terancam! Wajah anak itu saja sudah mulai mengingatkan dia akan wajah Sie Kian yang dibunuhnya. Berbeda dari wajah isterinya yang mirip ibunya. Kelak Sie Liong akan menjadi Sie Kian kedua yang mungkin saja akan membunuhnya untuk membalas dendam! Mulailah dia merasa menyesal mengapa dia membunuh dan membasmi keluarga Sie tanpa mengenal ampun. Pada hari ini dia insyaf, mendiang Sie Kian membunuh isterinya bukan karena benci atau dendam, melainkan dalam perkelahian yang wajar. Sie Kian sebagai seorang pendekar membela bangsawan yang dirampoknya, dan dalam perkelahian itu Sie Kian berhasil mengalahkan dia dan isterinya. Isterinya tewas dan dia terluka, juga Sie Kian terluka oleh senjata rahasia piauw-nya.

Bagaimanapun juga, anak ini merupakan ancaman bahaya besar. Betapa mudahnya melenyapkan ancaman bagiya itu. Sekali menggerakkan tangannya, anak ini akan mati dan lenyaplah ancaman bahaya itu. Akan tetapi, dia teringat akan sumpahnya kepada isterinya. Dia telah bersumpah tidak akan membunuh anak ini, dan isterinya ternyata juga memegang teguh janjinya. Isterinya itu kini menjadi seorang isteri yang mencinta, mesra dan bahkan telah melahirkan seorang anak keturunannya! Bagaimana mungkin dia melanggar sumpahnya? Isterinya benar. Bagaimanapun juga, dia masih memiliki harga diri dan dia tidak akan melanggar sumpahnya! Dan pula, bagaimana dia tega membunuh anak ini yang sudah disayangnya pula?

"Ci-hu (kakak ipar).... ci-hu.... tangkap.... tangkap....!" Tiba-tiba Sie Liong berseru gembira sambil menunjuk ke arah seekor kupu-kupu kuning yang beterbangan di antara kembang-kembang yang tumbuh di kebun itu.

Yauw Sun Kok memandang anak itu. Dia tersenyum. "Kau tangkaplah sendiri, Sie Liong! Engkau anak pandai, harus mampu monangkap sendiri kupu-kupu itu."

Sie Liong dengan gembira berlari-lari mengejar kupu-kupu itu. Akan tetapi kupu-kupu itu terlampau gesit dan terbangnya terlampau tinggi bagi Sie Liong yang mengejar terus. Karena selalu melihat ke arah kupu-kupu di atas, ketika berlari-lari itu, tiba-tiba ka­ki Sie Liong tersandung batu besar dan diapun tergelincir dan terguling.

"Dukk!" ketika terjatuh itu, kepalanya membentur batu dan anak itupun pingsan! Kepalanya yang kanan dekat pelipis mengeluarkan benjolan berdarah. Sun Kok terkejut dan cepat dia meloncat menghampiri dan memondong tubuh anak itu, lalu duduk di atas bangku dan memangkunya. Sie Liong telah pingsan. Ketika dia hendak menyadarkan anak itu dengan memijat belakang kepalanya, ti­ba-tiba menyelinap pikiran lain dalam banaknya. Inilah kesempatan yang amat baik! Dia tidak akan membunuh anak ini akan tetapi dapat membuatnya menjadi cacat dan dengan cacatnya itu, kelak dia tidak akan dapat menjadi orang ku­at dan terhindarlah dia dari ancaman balas dandam anak ini! Membuat dia ca­cat tidak berarti membunuhnya. Dia tl­dak melanggar sumpahnya, dan dalam ke­adaan pingsan begini, anak inipun ti­dak merasakan apa-apa! Dan dia akan mengusahakan agar tidak ada bekas-bekas penganiayaan, dan peristiwa jatuhnya anak ini kelak dapat menjadi alasan mengapa dia menjadi cacat!

Tanpa ragu lagi, Sun Kok menelungkupkan tubuh Sie Liong yang pingsan i­tu, membuka bajunya, kemudian dengan dua jari tangan kanannya, dia menotok dan memuntir tiga kali di punggung a­nak itu! Benar seperti dugaannya, anak yang pingsan itu tidak kelihatan kesakitan, padahal tiga kali totokan jari dan puntiran itu telah membuat tulang punggung itu retak dan jaringan sya­raf dan ototnya menjadi hancur!

Sun Kok memondong kembali tubuh itu setelah membereskan pakaiannya, membawanya pulang ke rumah. Tanda biru menghitam pada punggung itu tentu tidak menimbulkan kecurigaan. Tak seopun akan menyangba bahwa tanda itu adalah tanda bekas totokan dan puntiran jari tangannya!

Melihat suaminya memasuki kamar memondong tubuh Sie Liong yang lemas seperti anak tidur, Lan Hong terkejut. "Ah, ada apakah?" tanyanya, memandang wajah suaminya dengan khawatir.

"Dia mengejar kupu-kupu, tersan­duag dan terjatuh, kepalanya terban­ting ke atas batu dan dia pingsan," katanya sambil merebahkan tubuh anak itu ke atas pembaringan.

Lan Hong sejenak memandang wajah suaminya, penuh dengan kecurigaan dan sepasang alisnya berkerut. Melihat isterinya memandangnya seperti itu, Sun Kok manghampiri dan merangkul isterinya. "Isteriku yang baik, apakah sampai kini engkau belum juga percaya padaku? Ingat, aku takkan pernah melupakan sumpahku. Aku tidak akan membunuh Sie Liong! Aku sudah amat sayang padanya. Bagaimana kini engkau dapat memandang kepadaku dengan kecurigaan seperti itu?"

Lan Hong membalas rangkulan suaminya. "Ah, maafkan aku...." dan iapun segera memeriksa keadaan Sie Liong. Kelihatannya hanya kepala anak itu saja yang terluka, berdarah dan membenjol. Akan tetapi biarpun mereka berdua telah berusaha untuk membikin sadar, anak itu tetap saja pingsan. Hal ini membuat Lan Hong merasa khawatir sekali dan suaminya segera pergi mengundang seorang tabib yang terkenal pandai di kota Sung-jan itu. Tabib itu seorang peranakan Nepal dan memamng dia pandai sekali dalam soal pengobatan.

Orang berkulit hitam dan tinggi kurus bersorban putih itu datang membawa keranjang obatnya, dan segera memeriksa Sie Liong. Tabib itu sudah lama mengenal Yauw Sun Kok yang dikenal di kota itu sebagai seorang ahli silat yang pandai disamping pekerjaannya sebagai seorang pedagang rempah-rempah yang cukup maju.

Mula-mula dia memeriksa keadaan kepala yang benjol itu, ditunggui dengan penuh kekhawatiran oleh Lan Hong yang memondong puterinya dan suaminya. Tabib itu mengangguk-angguk. "Hanya luka di luar, tidak berbahaya dengan kepala ini. Hemm, kenapa dia belum juga siuman? Tentu ada luka lain. Biar kuperiksa tubuhnya." Dia lalu membuka pakaian anak itu, dibantu oleh Sun Kok. Ia sama sekali tidak merasa khawatir. Seorang tabib yang pandai seperti orang Nepal ini tentu akan dapat menemukan luka di punggung itu, akan tetapi tak mungkin akan tahu bahwa itu disebabkan oleh totokan jari tangan dan a­kan mengira bahwa punggung itupun terpukul benda keras.

Dugaannya memang benar. Setelah memeriksa seluruh tubuh, akhirnya tabib itu menemukan tanda menghitam di tulang pungung. "Ahh, inilah yang menyebabkan dia pingsan terus! Punggungnya terluka, dan luka ini lebih hebat dari pada luka di kepalanya!"

Dia memeriksa dengan teliti, lalu mengerutkan alisnya, manggeleng-geleng kepalanya dan menarik napas panjang.

"Bagaimanakah keadaannya, Sin-she (Tabib)?" tanya Lan Hong khawatir melihat muka orang Nepal itu.

"Tidak baik.... sungguh tidak baik....! Luka di punggung ini hebat sekali. Agaknya tulang punggung ini retak, dan otot-ototnya juga terluka parah...."

"Aihh! Bagaimana hal itu dapat terjadi? Dan.... dan.... apakah dia dapat disembuhkan, Sin-she?" tanya pula Lan Hong sambil memandang suaminya.

Sun Kok mengangguk-angguk. "Aku hanya melihat ada batu besar di bawah­nya ketika dia jatuh. Karena yang nam­pak hanya kepalanya yang membenjol dan berdarah, kusangka hanya itu saja lukanya. Tentu punggunguya terbanting pada batu yang menonjol sehingga seperti terpukul."

Tabib itu mengangguk-angguk. "Agaknya begitulah. Akan tetapi jangan kha­watir, dia masih kecil sehingga luka parah itu tidak akan merenggut nyawa­nya, walaupun aku khawatir sekali...."

Melihat tabib itu nampak ragu, Lan Hong bertanya cemas, "Khawatir apa, Sin-she? Katakanlah, apa yang akan terjadi dengan adikku?"

"Dia akan dapat disembuhkan, oleh obatku dan oleh kekuatan tubuhnya sen­diri yang masih murni. Akan tetapi tu­lang punggungnya itu akan tidak normal pertumbuhannya dan aku khawatir kelak dia akan menjadi seorang yang bongkok."

"Ahh....!" Lan Hong menutupi mukanya dengan tangan, ngeri membayangkan adiknya menjadi seorang yang bongkok punggungnya.

Tangan suaminya menyentuh pundak­nya dengan lembut. "Tidak perlu berdu­ka. Biar cacat, biar bongkok asal sehat, bukankah begitu? Yang penting Sie Liong dapat sembuh dan sehat kembali."

Sie Liong mendapat perawatan baik-baik dan tepat seperti keterangan ta­bib pandai itu, Sie Liong dapat sembuh, akan tetapi pertumbuhan tulang pung­gungnya tidak normal. Dua tahun kemudian sudah nampak betapa punggungnya bongkok dan ada punuk di punggungnya seperti punggung onta. Dan Yauw Sun Kok diam-diam tersenyum seorang diri, merasa lega dan aman sekarang. Seorang bocah yang bongkok punggungnya, bagai­manapun juga tidak mungkin akan dapat menjadi seorang yang perlu ditakuti. Rasa takut dapat membuat orang menjadi curang dan kejam sekali. Sun Kok mela­kukan kekejaman itu kepada seorang a­nak kecil yang sebetulnya sudah mulai disayangnya karena dia takut membayangkan betapa Sie Liong kelak akan menge­tahui tentang kedua orang tuanya yang dibunuhnya, kemudian anak itu akan membalas dendam kepadanya.

Sie Lan Hong juga bukan seorang wanita yang bodoh. Biarpun suaminya memberi keterangan bahwa Sie Liong terjatuh menimpa batu ketika mengejar ku­pu-kupu, dan ketika Sie Liong telah sadar anak itupun dapat bercerita sedi­kit-sedikit bahwa kupunya nakal, bahwa dia terjatuh ketika mengejar kupu-kupu, namun diam-diam Lan Hong menaruh perasaan curiga kepada suaminya. Ia tahu bahwa suaminya itu, bagaimanapun juga, masih merasa khawatir kalau-kalau Sie Liong kelak akan mengetahui akan kema­tian orang tuanya lalu anak itu akan membalas dendam kepadanya. Ia meraga curiga apakah jatuhnya adiknya itu bu­kan disengaja dan dibuat oleh suaminya! Akan tetapi ia sudah terlalu mencinta suaminya, apalagi kini mereka telah mempunyai seorang anak. Dan andaikata benar ada unsur kesengajaan dari suaminya yang menyebabkan adiknya terjatuh dan menjadi cacat, tetap saja suaminya tidak melanggar sumpahnya. Suaminya pernah bersumpah tidak akan membunuh Sie Liong! Dan membuatnya cacat bukan­lah pembunuhan. Maka, khawatir kalau ia menuduh tanpa bukti hanya akan merenggangkan kasih sayang antara ia dan suaminya, Lan Hong diam saja dan mena­han itu di dalam hatinya.


***


Waktu berjalan dengan amat cepat­nya dan Sie Liong kini telah menjadi seorang anak laki-lakl berusia tiga belas tahun. Encinya tidak mempunyai a­nak lain kecuali Yauw Bi Sian yang sudah berusia sebelas tahun pula. Dan Sie Liong tumbuh besar sebagai seorang a­nak laki-laki yang amat cerdas, rajin dan pendiam. Akan tetapi dia rajin se­kali bekerja. Dan biarpun punggungnya bongkok dengan punuk sebesar kepalan tangan, namun tubuhnya sehat dan dia tidak pernah sakit. Juga otaknya cerdas sekali sehingga ketika seorang gu­ru sastra didatangkan oleh Sun Kok un­tuk mengajar puterinya, Sie Liong yang ikut pula belajar, dengan cepat sekali dia dapat menghafal semua huruf sehingga guru yang mengajar itu memujinya sebagai anak yang amat cerdas.

Sun Kok masih merasa aman melihat perkembangan Sie Liong yang kini menjadi seorang anak yang biarpun pandai membaca dan menulis, namun seorang a­nak bongkok yang biarpun sehat bertu­buh lemah. Hanya satu hal yang mengecewakan hatinya melihat bahwa Sie Liong tidaklah menjadi seorang anak berpenyakitan seperti yang diharapkannya, melainkan menjadi seorang anak sehat. Se­ringkali terjadi pertentangan dalam batinnya sendiri. Sepihak dia merasa ke­cewa melihat anak itu sehat, di lain pihak dia merasa girang karena betapa­pun juga ia merasa sayang kepada anak itu!

Sie Liong memang seorang anak yang tahu diri. Dia merasa bahwa hidupnya menumpang kepada cihu (kakak ipar), maka diapun tidak bermalas-malasan. Setiap hari, pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan membantu pekerjaan rumah walaupun cihu-nya mempunyai beberapa orang pelayan. Dan sejak kecil, Bi Sian amat dekat dengannya karena dialah yang selalu mengajak keponakan itu bermain-main. Bi Sian juga merasa amat akrab dan sayang sekali kepada pamannya itu. Karena usia mereka hanya berselisih dua tahun saja, maka biarpun mereka itu paman dan keponakan, hubungan mere­ka amat akrab sebagai dua orang anak yang sebaya atau sepantar.

Semenjak Bi Sian berusia enam tahun, ayahnya telah mulai memberi pela­jaran ilmu silat kepadanya. Melihat i­ni, Sie Liong merasa ingin sekali un­tuk ikut belajar, akan tetapi selalu cihu-nya melarangnya.

"Sie Liong, engkau harus tahu bahwa keadaan tubuhmu tidak memungkinkan engkau belajar ilmu silat. Ketahuilah bahwa syarat utama bagi orang yang i­ngin menguasai ilmu silat dengan baik adalah ketegakan tubuhnya. Tulang punggung dari tengkuk sampai pinggang haruslah tegak dan rata, maka tidak baik kalau engkau berlatih silat. Lebih baik engkau menekuni ilmu membaca dan menu­lis." Demikian Sun Kok pernah berkata.

Mendengar ini, Sie Liong menundukkan mukanya dan merasa bersedih. Akan tetapi dia tahu diri dan mulai saat i­tu, dia tidak pernah mengemukakan kei­nginannya belajar ilmu silat.

Akan tetapi, Bi Sian amat sayang kepada paman kecilnya itu. Anak perempuan ini tahu belaka akan isi hati kawan bermainnya ini, maka iapun tahu benar betapa paman kecil itu ingin sekali ikut belajar ilmu silat. Oleh karena itu, setiap kali mereka berdua saja tanpa diketahui orang lain, Bi Sian lalu mengajarkan semua gerakan yang dipelajarinya dari ayahnya kepada Sie Liong. Dan si bongkok inipun menerima­nya dengan amat gembira. Memang dia i­ngin sekali belajar silat, maka tentu saja dia gembira menyambut uluran ta­ngan Bi Sian yang mengajarnya. Dan ternyata, kecerdasannya membantunya dengan luar biasa sekali sehingga dia mudah menghafal setiap gerakan, bahkan karena bakatnya, dia mampu bergerak lebih lincah dan lebih cekatan dan baik dibandingkan Bi Sian. Tentu saja ada hambatan besar baginya, yaitu kebong­kokan tubuhnya. Maka, dalam beberapa gerakan nampak betapa gerakannya melakukan jurus itu nampak lucu sekali. Dan kadang-kadang Sie Liong merasa nyeri pada tengkuk dan punggungnya sete­lah dia berlatih silat bersama Bi Sian.

Setelah Sie Liong berusia tiga be­las tahun dan Bi Sian berusia sebelas tahun, kedua orang anak ini telah mem­pelajari banyak macam gerakan silat. Bi Sian telah menjadi seorang gadis cilik yang pandai bersilat. Gerakannya lin­cah sekali dan karena ia sejak kecil digembleng ayahnya dan mempelajari sa­madhi dan latihan pernapasan, maka bi­arpun usianya baru sebelas tahun, anak perempuan ini memiliki tenaga yang ku­at.

Dua orang anak yang saling menga­sihi dan saling membela ini dapat menyimpan rahasia Sie Liong mempelajari ilmu silat sehingga baik Sun Kok mau­pun Lan Hong sama sekali tidak pernah menyangka bahwa Sie Liong yang sehat dan gerakannya yang cekatan, suami isteri itu hanya mengira bahwa itu adalah berkat rajinnya akan itu bekerja, memikul air, menyapu dan pekerjaan lain yang dilakukannya tanpa diperintah.

Akan tetapi akhirnya kemampuannya bersilat itu terbuka dengan terjadinya suatu peristiwa. Semua orang di kota Sung-jan tahu belaka bahwa Yauw Sun Kok adalah seorang ahli silat yang pandai. Pernah beberapa kali Yauw Sun Kok membantu para petugas keamanan kota memberantas gerombolan perampok sehingga dia dikenal sebagai seorang jagoan yang disegani. Oleh karena itu, tidak ada penduduk yang berani mengganggu keluarganya. Biarpun semua orang menge­nal Sie Liong sebagai si Bongkok, na­mun di depan Yauw Sun Kok dan is­terinya, tidak ada orang yang berani mengganggu anak bongkok itu, karena mereka maklum bahwa anak bongkok itu adalah adik isteri Yauw Sun Kok.

Pada suatu hari Bi Sian dan Sie Liong pergi ke Pasar untuk berbelanja. Tadinya Sie Liong yang disuruh encinya pergi ke pasar untuk berbelanja berbagai bumbu dapur yang sudah hampir habis persediannya. Melihat Sie Liong pergi ke pasar, Bi Sian ikut dan ibunya memperkenankan karena anak perempuan itu dapat pula membantu Sie Liong membawa barang belanjaan yang cukup banyak.

Hari itu memang ramai sekali orang pergi berbelanja. Juga keadaan kota Sung-jan amat ramai. Maklumlah, orang menyambut hari raya Imlek, menyambut "tahun baru" atau munculnya musim semi yang cerah dan mendatangkan ber­kah bagi para petani melalui sawah ladang mereka. Seminggu lagi "sin-cia" tiba dan orang-orang sibuk berbelanja membeli berbagai keperluan dapur, dan mulai ramai orang memasak karena pada hari-hari itu biasanya mereka mengada­kan sembahyangan pada abu leluhur masing-masing.

Menyembahyangi abu leluhur merupakan suatu kebiasaan tradisi yang amat kuno di Tiongkok. Tradisi ini mendo­rong semua orang untuk selalu berbakti setia, dan mencinta sambil menghormati orang tua dan nenek moyang mereka. Ba­gi kebiasaan tradisi ini, ada tiga macam kebaktian yang tidak boleh diting­galkan manusia, kalau mereka ingin hi­dup benar. Pertama, berbakti kepada Langit dan Bumi, istilah yang kemudian dikenal sebagai Tuhan Yang Maha Esa sebagai Sang Maha Pencipta yang juga menciptakan diri kita. Kedua, berbakti kepada ayah ibu, orang tua dan nenek mo­yang sebagai orang-orang yang telah menghadirkan kita di dunia ini dan kemudian menjadi pemelihara dan pelin­dung kita, dan ketiga berbakti kepada guru sebagai orang yang telah membimbing dan memberi petunjuk kepada kita. Pada masa itu, kalau seseorang tidak memenuhi tiga macam kebaktian ini, dia dianggap sebagai seorang yang murtad, seorang yang berdosa dan jahat!

Jelaslah bahwa menyembahyangi abu leluhur berarti menanamkan rasa hormat, cinta dan bakti kepada orang tua, seo­lah-olah mengingatkan kita bahwa sam­pai orang tua sudah meninggalpun kita tidak boleh melupakan cinta kasih dan jasa mereka terhadap kita. Tindakan seperti ini tentu saja memberi contoh yang baik kepada anak cucu kita, seperti suatu peringatan kepada mereka bahwa merekapun wajib mencinta dan meng­hormati orang tua mereka seperti kita menghormati orang tua kita.

Namun sayang seribu sayang, tuju­an yang amat bijaksana dan baik ini seringkali diselewengkan orang. Banyak orang bersembahyang di depan meja abu leluhur mereka dengan suatu pamrih tertentu. Bukan semata untuk menghormat dalam kenangan terhadap orang tua, melainkan sembahyangan itu menyembunyi­kan pamrih agar mereka yang bersembah­yang itu diberkati oleh roh si mati! Ini suatu penyelewengan besar! Bahkan sesudah matipun, orang-orang tua itu kita minta, untuk melakukan sesuatu demi kesenangan dan keuntungan diri pribadi kita! Memang, segala tujuan, betapapun baiknya, akan disalahgunakan orang kalau di situ sudah terdapat kei­nginan untuk menyenangkan diri sendi­ri, demi kepentingan diri sendiri. Segala sesuatu akan menjadi palsu dan kotor, karena semua perbuatan itu palsu adanya, semata menjadi sarana untuk mencapai sesuatu yang diinginkan, da­lam hal ini tentu saja yang diinginkan adalah demi kesenangan sendiri, demi kepentingan diri sendiri! Adakah sem­bahyangan di depan abu leluhur yang dilakukan orang demi penghormatan dan kenangan kasih sayang orang-orang tua i­tu semata? Tanpa adanya pamrih pribadi itu? Kalau ada, alangkah baiknya!

Hati Sie Liong den Bi Sian gembi­ra sekali ketika mereka membawa keranjang kosong, pergi ke pasar. Jalan me­nuju ke pasar itupun ramai, penuh orang berlalu lalang dan wajah mereka rata-rata gembira. Banyak orang sudah mengenal Sie Liong karena bongkoknya memang mudah membuat orang mengingatnya. Dan banyak orang yang berjumpa di jalan menegur dan menyapa Sie Liong. Ada yang menyebutnya Sie-kongcu (Tuan muda Sie), ada yang menyebutnya dengan "Hee, bocah bongkok!" begitu saja. Namun, Sie Liong tetap tersenyum dan menjawab me­reka semua dengan kata-kata ramah bah­wa dia akan pergi berbelanja ke pasar. Dia maklum bahwa mereka yang menyebut­nya si bongkok itupun bukan dengan maksud menghina, melainkan dengan ramah dan hendak bergurau. Dia sudah terbia­sa mendengar sebutan si bongkok. Dulu, ketika dia berusia sekitar enam tahun, mulai mengerti akan harga diri, memang sebutan itu menyakitkan hati. Apalagi kalau dia bercermin dan melihat betapa tubuhnya melengkung ke depan, dia merasa rendah diri. Akan tetapi karena sudah terbiasa, kini sebutan si bongkok tidak mempengaruhi batinnya. Dia sudah menerima kenyataan bahwa dia memang bertubuh bongkok, dan memang sepatut­nya disebut si bongkok!

Akan tetapi, setiap kali ada o­rang menyebut Sie Liong dengan sebutan si Bongkok, Bi Sian mengerutkan alisnya dan melotot marah kepada orang yang menyebut demikian. Di dalam hatinya, Bi Sian tidak rela paman kecilnya di­sebut Si Bongkok, yang dianggapnya su­atu ejekan atau hinaan.

Dua orang anak yang berjalan ber­dampingan itu memang merupakan peman­dangan yang agak ganjil. Wajah Sie Li­ong memang tidak buruk, biasa saja, dan pakaiannya juga pantas. Akan tetapi tubuhnya yang melengkung ke depan itu, dengan punuk pada punggungnya yang ma­kin membesar, membuat dia nampak pen­dek dan kedua lengannya kelihatan pan­jang seperti lengan monyet. Pendeknya, Sie Liong bukanlah seorang pemuda remaja yang menarik hati, melainkan sesosok tubuh yang dapat menimbulkan rasa geli dan juga iba dalam hati orang yang memandangnya. Sebaliknya, Yauw Bi Sian adalah seorang anak perempuan berusia sebelas tahun yang mungil. Wajahnya manis sekali, terutama sepasang matanya dan mulutnya. Kulitnya putih mulus, dan bentuk tubuh yang masih kekanak-kanakan itupun padat dan sehat, menjanjikan bentuk tubuh seorang wanita yang indah. Kalau dara cilik ini diumpamakan se­tangkai bunga yang belum mekar, kuncup yang indah menarik, sebaliknya Sie Liong seperti seekor kupu-kupu yang jelek dan cacat. Sungguh tidak merupakan pasangan yang serasi.

Mereka sudah tiba di dekat pasar ketika tiga orang anak laki-laki yang berusia antara tiga belas sampai lima belas tahun melihat mereka. Tiga orang anak-anak itu tadinya bermain-main di tepi jalan. Ketika mereka melihat Sie Liong dan Bi Sian, mereka menghentikan permainan mereka dan memandang kepada dua orang anak yang membawa keranjang kosong itu. Mereka bertiga tahu siapa adanya Sie Liong dan mereka tidak pernah berani mengganggu, mengingat bahwa Si Bongkok itu adalah adik isteri Yauw Sun Kok yang terkenal jagoan. Akan te­tapi mereka melihat Bi Sian yang dalam pandangan mereka amat manis dan mena­rik. Mulailah mereka merasa iri kepada Sie Liong. Anak semanis Bi Sian tidak cocok untuk berjalan bersama Si Bongkok. Karena iri maka tiga orang anak itu sengaja hendak memperolok-olok Sie Liong.

"Nona Yauw, apakah engkau hendak berbelanja ke pasar?" tanya seorang diantara mereka.

Karena pertanyaari itu sopan dan wajar, Bi Sian mengangguk, "Benar, aku hendak berbelanja ke pasar."

"Kalau begitu, marilah kuantar engkau, Nona. Biar nanti kami bertiga yang membawakan barang belanjaanmu sampai ke rumahmu."

"Benar, nona Yauw. Daripada engkau berjalan dengan si Bongkok ini, menjadi buah tertawaan orang!" kata anak ke dua.

"None Yauw," kata orang ke tiga sambil tertawa. "Engkau membawa monyetmu ke pasar, apakah hendak kaujual?"

Tiga orang anak itu tertawa sambil menuding kepada Sie Liong. Sie Liong tersenyum saja, tidak marah karena dianggap mereka bertka itu berkelakar saja. Akan tetapi Bi Sian yang menjadi marah sekali. Mukanya berubah merah dan ia melangkah maju dengan sikap me­ngancam.

"Kalian ini tikus-tikus busuk, berani menghina orang! Apakah kalian me­nantang berkelahi?" bentak Bi Sian de­ngan sikap galak.

Anak yang paling besar di antara mereka, yang bertubuh jangkung kurus dan mukanya penuh jerawat, berusia ku­rang lebih lima belas tahun, lalu memberi hormat kepada Bi Sian. "Aih, mana kami berani menghinamu, nona Yauw? Kami hanya main-main dengan Si Bongkok ini, karena memang kami penasaran melihat nona diantar oleh Si Bongkok. Suruh saja dia pulang dan kami bertiga akan menjadi pengawal dan pengantar nona agar di jalan tidak ada yang berani mengganggu."

"Siapa butuh kawalan kalian? Dan jangan kalian mengejek dan menghina dia. Dia adalah pamanku, menghina dia berarti menghina aku! Nah, enyahlah kalian!"

Dua orang anak laki-laki yang la­in hendak membantah, akan tetapi anak yang jangkung itu menarik tangan mere­ka. "Mari kita pergi dari sini!" kata­nya. Agaknya dia merasa sungkan untuk berbantahan dan berkelahi dengan Bi Sian, apalagi di situ mulai berkumpul banyak orang yang menonton. Ketika ti­ga orang anak itu pergi, orang-orang tersenyum dan memuji kegagahan sikap Bi Sian. Memang pantas sekali anak perempuan itu menjadi puteri Yauw Sun Kok yang gagah perkasa, kata mereka. Seorang di antara mereka, seorang kakek penjual kuih, menghampiri Bi Sian.

"Nona Yauw, hati-hatilah, anak yang jangkung tadi adalah putera komandan pasukan keamanan kota. Dia memang nakal sekali dan suka main keroyokan."

Bi Sian mengepal tinju. "Aku tidak takut!"

Sie Liong menghadapi kakek itu. "Terima kasih, lopek. Kami tidak mencari keributan. Mereka yang tadi meng­ganggu kami yang sedang berjalan menu­ju ke pasar."

Orang-orang bubaran dan dua orang anak itu melanjutkan perjalanan mereka ke pasar. Setelah berbelanja, mereka­pun melakukan perjalanan pulang. Keranjang mereka sudah penuh dengan barang belanjaan. Sie Liong sengaja memenuhi keranjangnya yang besar sehingga Bi Sian hanya membawa keranjang yang ke­cil dan tidak begitu berat. Barang-ba­rang yang berat dimasukkan dalam keranjang besar oleh Sie Liong dan dia me­manggul keranjang itu di pundaknya. Tangan kiri memegang keranjang itu, dan tangan kanannya masih membawa lima e­kor ayam pada kaki mereka. Jarak anta­ra rumah keluarga Yauw dan pasar di tengah kota itu memang cukup jauh, tidak kurang dari tiga li jauhnya. Ketika dua orang anak itu tiba di jalan yang su­nyi karena di kedua tepi jalan itu adalah kebun orang yang cukup luas, tiba-tiba muncul lima orang anak laki-laki di depan mereka. Agaknya mereka tadi sengaja bersembunyi dan kini keluar setelah Sie Liong dan Yauw Bi Sian tiba di situ. Yang tiga orang adalah anak-anak yang ribut dengan mereka tadi, kini ditambah dua orang anak laki-laki yang usianya tentu lebih dari lima be­las tahun dan sikap mereka seperti ja­goan. Anak jerawatan yang menurut kakek tadi adalah putera komandan pasu­kan keamanan kota, tetap memimpin mereka karena dialah yang menghadang pa­ling depan.

"Monyet bongkok, berhenti dulu!" bentak anak laki-laki jerawatan itu.

Sie Liong bersikap tenang saja dan tidak menjadi marah, akan tetapi Bi Sian yang menjadi marah. Ia melepaskan keranjangnya di atas tanah, lalu me­langkah maju menghadapi anak laki-laki jangkung jerawatan itu. "Engkau lagi? Kalian ini mau apa? Masih juga hendak menghina orang?"

"Nona, kami bermaksud baik. Kami menghormati ayahmu yang menjadi saha­bat ayahku. Kami hanya tidak rela me­lihat monyet bongkok ini menjadi pengiringmu. Monyet bongkok, berikan keran­jang itu kepada kami dan kau boleh me­rangkak pergi dari sini, biar kami yang mengantar nona Yauw pulang!"

Kemarahan Bi Sian memuncak. "Engkau sungguh bermulut kotor dan jahat!" katanya dan iapun sudah maju dan menyerang dengan tamparan tangannya. Karena sejak kecil Bi Sian sudah terlatih, maka gerakan tangannya itu cepat dan ku­at.

"Plakkk!" Pipi kiri anak jerawatan itu terkena tamparan.

"Aduhh....!" Dia terhuyung, menutupi pipi yang tertampar dengan tangan, rasanya panas dan nyeri dan ternyata pipi itu menjadi biru membengkak! "No­na, kenapa engkau memukul aku yang hendak membantumu?" bentaknya marah dan penasaran.

"Keparat, kalian ini memang kurang ajar dan perlu dihajar!" kata Bi Sian dan ia sudah menerjang maju lagi, sekali kakinya terayun, seorang anak laki-laki lain yang mencoba untuk me­nangkap lengannya, jatuh tersungkur dan memegangi perut sambil meringis kesakitan.

"Wah, anak perempuan ini galak dan liar!" kata dua orang anak laki-laki yang lebih besar dan merekapun menubruk ke depan.

"Plak-plakk!" Bi Sian membagi-bagi pukulan dan tendangan, dan lima orang anak laki-laki itu jatuh bangun.

Akan tetapi mereka itu lebih besar dan mereka kini melakukan perlawanan. Seorang di antara mereka meubruk dari belakang dan berhasil menelikung kedua lengan Bi Sian ke belakang tubuhnya. Bi Sian meronta-ronta, akan tetapi anak-anak lain memegangi kaki dan tangannya sehingga ia tidak lagi mampu melepaskan diri.

"A Cong, cepat kauhajar monyet bongkok itu. Biar kami yang memegangi nona Yauw agar ia tidak dapat melindungi monyet bongkok itu!" kata orang yang menelikung kedua lengan Bi Sian. Biarpun kini ada tiga orang anak yang memegangi tubuh Bi Sian, namun mereka tidak berani menyakiti anak perempuan itu, juga tidak berani berbuat kurang ajar. Mereka hanya memegangi Bi Sian agar anak itu tidak dapat melepaskan diri dan tidak dapat membantu Sie Liong yang akan dihajar oleh dua orang anak yang lain, termasuk Lu Ki Cong, putera komandan pasukan keamanan di Sung-jan itu.

Akan tetapi, Sie Liong sudah menurunkan keranjangnya, juga melepaskan lima ekor ayam yang kakinya diikat itu. Tadinya ia memang diam saja dan tidak bermaksud untuk berkelahi dengan anak-anak itu, membiarkan saja mereka menggoda, mengganggu bahkan menghinanya. Dia tahu diri. Dia anak cacat, bongkok dan hal itu tidak perlu dibantahnya. Akan tetapi, melihat betapa tiga orang anak memegangi kaki tangan Bi Sian, mukanya berubah merah dan kedua matanya mengeluarkan sinar berapi. Dia boleh menahan semua hinaan yang dilontarkan kepada tubuhnya yang bongkok, akan tetapi jelas bahwa dia tidak mungkin membiarkan mereka itu mengeroyok dan memegangi Bi Sian.

"Anak-anak jahat! Lepaskan Bi Si­an!" bentaknya sambil menghampiri tiga orang yang masih memegangi anak perem­puan itu. Akan tetapi Lu Ki Cong dan seorang temannya yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam, nampaknya seperti jagoan muda, menghadangnya. Lu Ki Cong dan anak muka hitam itu adalah murid-murid dari guru silat bayaran terpan­dai di kota itu.

"Heh, monyet bongkok, kami akan melepaskan nona Yauw kalau sudah kenyang menghajar mukamu yang buruk!" kata Lu Ki Cong sambil melayangkan tinjunya ke arah muka Sie Liong.

Sie Liong belum pernah berkelahi seumur hidupnya. Akan tetapi dia dengan tekun mempelajari ilmu silat dari Bi Sian, dan dengan rajin sekali, lebih rajin dari Bi Sian sendiri, dia mela­tih ilmu-ilmu atau gerakan silat itu di dalam kamarnya, atau di tempat su­nyi di mana tidak ada orang melihatnya. Karena itu, dia telah memiliki kepeka­an dan gerakan otomatis. Walaupun dia belum pernah berkelahi, namun dia me­ngenal gerakan-gerakan dalam latihan itu seperti gerakan mengelak, menang­kis, memukul, menendangdan sebagainya. Kini, melihat tangan Ki Cong melayang ke arah mukanya, secara otomatis tubuh Sie Liong bergerak ke belakang dan pukulan itupun luput! Ki Cong menyusulkan tendangan kakinya ke arah perut Sie Liong, akan tetapi anak inipun dengan gerakan otomatis menggerakkan tangan kirinya menangkis ke samping.

"Dukkk!" Kaki yang menendang itu­pun tertangkis.

Melihat betapa dua kali serangan­nya dapat dielakkan dan ditangkis, Lu Ki Cong menjadi penasaran sekali. Tadinya dia mengira bahwa dengan sekali pukul saja, dia sudah akan dapat merobohkan Si Bongkok ini. Dan tangkisan tadi pun kuat sekali sehingga dia merasa kakinya nyeri. Temannya yang lebih tua darinya dan memiliki ilmu silat yang lebih pandai, segera menerjang ke de­pan dan menghujankan serangan. Lu Ki Cong juga menyerang lagi, sehingga kini Sie Liong dikeroyok dua! Dua orang itu memukul dan menendang dengan gencar dan penuh kemarahan.

Ilmu silat yang pernah dipelajari Sie Liong hanya melalui Bi Sian dan tidak pernah dia mendapatkan bimbingan guru. Maka, gerakan-gerakan yang dipelajarinya itu tidak lebih hanya gerak­an kembangan saja, seperti tarian. Ma­ka, menghadapi serangan sungguh-sung­guh yang dilakukan dua orang anak laki-laki yang sudah biasa berkelahi, tentu saja dia kewalahan. Tadinya dia hanya ingin menolong Bi Sian, tidak ingin memukul orang. Akan tetapi, kini tubuh­nya mulai menjadi bulan-bulanan pukul­an dan tendangan! Untung baginya bahwa berkat kerajinannya bekerja dan bangun pagi-pagi sekali melakukan segala pe­kerjaan berat, tubuhnya menjadi sehat dan kuat sekali. Pukulan dan tendangan yang diterimanya itu hanya mendatangkan rasa nyeri, akan tetapi tidak sam­pai merobohkannya.

Setelah kini tubuhnya, mukanya, menjadi sasaran pukulan dan tendangan, merasa betapa tubuhnya nyeri-nyeri, Sie Liong menjadi marah! Apa lagi dia men­dengar Bi Sian berteriak-teriak, "Ja­ngan pukuli paman Liong! Lepaskan dia, jangan pukuli dia! Ah, kalian anak-a­nak jahat, iblis siluman. Lepaskan aku, biar aku yang melawan kalian!"

Dua orang anak laki-laki yang la­in hendak membantah, akan tetapi anak yang jangkung itu menarik tangan mere­ka. "Mari kita pergi dari sini!" kata­nya. Agaknya dia merasa sungkan untuk berbantahan dan berkelahi dengan Bi Sian, apalagi di situ mulai berkumpul banyak orang yang menonton. Ketika ti­ga orang anak itu pergi, orang-orang tersenyum dan memuji kegagahan sikap Bi Sian. Memang pantas sekali anak perempuan itu menjadi puteri Yauw Sun Kok yang gagah perkasa, kata mereka. Seorang di antara mereka, seorang kakek penjual kuih, menghampiri Bi Sian.

"Nona Yauw, hati-hatilah, anak yang jangkung tadi adalah putera komandan pasukan keamanan kota. Dia memang nakal sekali dan suka main keroyokan."

Bi Sian mengepal tinju. "Aku tidak takut!"

Sie Liong menghadapi kakek itu. "Terima kasih, lopek. Kami tidak mencari keributan. Mereka yang tadi meng­ganggu kami yang sedang berjalan menu­ju ke pasar."

Orang-orang bubaran dan dua orang anak itu melanjutkan perjalanan mereka ke pasar. Setelah berbelanja, mereka­pun melakukan perjalanan pulang. Keranjang mereka sudah penuh dengan barang belanjaan. Sie Liong sengaja memenuhi keranjangnya yang besar sehingga Bi Sian hanya membawa keranjang yang ke­cil dan tidak begitu berat. Barang-ba­rang yang berat dimasukkan dalam keranjang besar oleh Sie Liong dan dia me­manggul keranjang itu di pundaknya. Tangan kiri memegang keranjang itu, dan tangan kanannya masih membawa lima e­kor ayam pada kaki mereka. Jarak anta­ra rumah keluarga Yauw dan pasar di tengah kota itu memang cukup jauh, tidak kurang dari tiga li jauhnya. Ketika dua orang anak itu tiba di jalan yang su­nyi karena di kedua tepi jalan itu adalah kebun orang yang cukup luas, tiba-tiba muncul lima orang anak laki-laki di depan mereka. Agaknya mereka tadi sengaja bersembunyi dan kini keluar setelah Sie Liong dan Yauw Bi Sian tiba di situ. Yang tiga orang adalah anak-anak yang ribut dengan mereka tadi, kini ditambah dua orang anak laki-laki yang usianya tentu lebih dari lima be­las tahun dan sikap mereka seperti ja­goan. Anak jerawatan yang menurut kakek tadi adalah putera komandan pasu­kan keamanan kota, tetap memimpin mereka karena dialah yang menghadang pa­ling depan.

"Monyet bongkok, berhenti dulu!" bentak anak laki-laki jerawatan itu.

Sie Liong bersikap tenang saja dan tidak menjadi marah, akan tetapi Bi Sian yang menjadi marah. Ia melepaskan keranjangnya di atas tanah, lalu me­langkah maju menghadapi anak laki-laki jangkung jerawatan itu. "Engkau lagi? Kalian ini mau apa? Masih juga hendak menghina orang?"

"Nona, kami bermaksud baik. Kami menghormati ayahmu yang menjadi saha­bat ayahku. Kami hanya tidak rela me­lihat monyet bongkok ini menjadi pengiringmu. Monyet bongkok, berikan keran­jang itu kepada kami dan kau boleh me­rangkak pergi dari sini, biar kami yang mengantar nona Yauw pulang!"

Kemarahan Bi Sian memuncak. "Engkau sungguh bermulut kotor dan jahat!" katanya dan iapun sudah maju dan menyerang dengan tamparan tangannya. Karena sejak kecil Bi Sian sudah terlatih, maka gerakan tangannya itu cepat dan ku­at.

"Plakkk!" Pipi kiri anak jerawatan itu terkena tamparan.

"Aduhh....!" Dia terhuyung, menutupi pipi yang tertampar dengan tangan, rasanya panas dan nyeri dan ternyata pipi itu menjadi biru membengkak! "No­na, kenapa engkau memukul aku yang hendak membantumu?" bentaknya marah dan penasaran.

"Keparat, kalian ini memang kurang ajar dan perlu dihajar!" kata Bi Sian dan ia sudah menerjang maju lagi, sekali kakinya terayun, seorang anak laki-laki lain yang mencoba untuk me­nangkap lengannya, jatuh tersungkur dan memegangi perut sambil meringis kesakitan.

"Wah, anak perempuan ini galak dan liar!" kata dua orang anak laki-laki yang lebih besar dan merekapun menubruk ke depan.

"Plak-plakk!" Bi Sian membagi-bagi pukulan dan tendangan, dan lima orang anak laki-laki itu jatuh bangun.

Akan tetapi mereka itu lebih besar dan mereka kini melakukan perlawanan. Seorang di antara mereka meubruk dari belakang dan berhasil menelikung kedua lengan Bi Sian ke belakang tubuhnya. Bi Sian meronta-ronta, akan tetapi anak-anak lain memegangi kaki dan tangannya sehingga ia tidak lagi mampu melepaskan diri.

"A Cong, cepat kauhajar monyet bongkok itu. Biar kami yang memegangi nona Yauw agar ia tidak dapat melindungi monyet bongkok itu!" kata orang yang menelikung kedua lengan Bi Sian. Biarpun kini ada tiga orang anak yang memegangi tubuh Bi Sian, namun mereka tidak berani menyakiti anak perempuan itu, juga tidak berani berbuat kurang ajar. Mereka hanya memegangi Bi Sian agar anak itu tidak dapat melepaskan diri dan tidak dapat membantu Sie Liong yang akan dihajar oleh dua orang anak yang lain, termasuk Lu Ki Cong, putera komandan pasukan keamanan di Sung-jan itu.

Akan tetapi, Sie Liong sudah menurunkan keranjangnya, juga melepaskan lima ekor ayam yang kakinya diikat itu. Tadinya ia memang diam saja dan tidak bermaksud untuk berkelahi dengan anak-anak itu, membiarkan saja mereka menggoda, mengganggu bahkan menghinanya. Dia tahu diri. Dia anak cacat, bongkok dan hal itu tidak perlu dibantahnya. Akan tetapi, melihat betapa tiga orang anak memegangi kaki tangan Bi Sian, mukanya berubah merah dan kedua matanya mengeluarkan sinar berapi. Dia boleh menahan semua hinaan yang dilontarkan kepada tubuhnya yang bongkok, akan tetapi jelas bahwa dia tidak mungkin membiarkan mereka itu mengeroyok dan memegangi Bi Sian.

"Anak-anak jahat! Lepaskan Bi Si­an!" bentaknya sambil menghampiri tiga orang yang masih memegangi anak perem­puan itu. Akan tetapi Lu Ki Cong dan seorang temannya yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam, nampaknya seperti jagoan muda, menghadangnya. Lu Ki Cong dan anak muka hitam itu adalah murid-murid dari guru silat bayaran terpan­dai di kota itu.

"Heh, monyet bongkok, kami akan melepaskan nona Yauw kalau sudah kenyang menghajar mukamu yang buruk!" kata Lu Ki Cong sambil melayangkan tinjunya ke arah muka Sie Liong.

Sie Liong belum pernah berkelahi seumur hidupnya. Akan tetapi dia dengan tekun mempelajari ilmu silat dari Bi Sian, dan dengan rajin sekali, lebih rajin dari Bi Sian sendiri, dia mela­tih ilmu-ilmu atau gerakan silat itu di dalam kamarnya, atau di tempat su­nyi di mana tidak ada orang melihatnya. Karena itu, dia telah memiliki kepeka­an dan gerakan otomatis. Walaupun dia belum pernah berkelahi, namun dia me­ngenal gerakan-gerakan dalam latihan itu seperti gerakan mengelak, menang­kis, memukul, menendangdan sebagainya. Kini, melihat tangan Ki Cong melayang ke arah mukanya, secara otomatis tubuh Sie Liong bergerak ke belakang dan pukulan itupun luput! Ki Cong menyusulkan tendangan kakinya ke arah perut Sie Liong, akan tetapi anak inipun dengan gerakan otomatis menggerakkan tangan kirinya menangkis ke samping.

"Dukkk!" Kaki yang menendang itu­pun tertangkis.

Melihat betapa dua kali serangan­nya dapat dielakkan dan ditangkis, Lu Ki Cong menjadi penasaran sekali. Tadinya dia mengira bahwa dengan sekali pukul saja, dia sudah akan dapat merobohkan Si Bongkok ini. Dan tangkisan tadi pun kuat sekali sehingga dia merasa kakinya nyeri. Temannya yang lebih tua darinya dan memiliki ilmu silat yang lebih pandai, segera menerjang ke de­pan dan menghujankan serangan. Lu Ki Cong juga menyerang lagi, sehingga kini Sie Liong dikeroyok dua! Dua orang itu memukul dan menendang dengan gencar dan penuh kemarahan.

Ilmu silat yang pernah dipelajari Sie Liong hanya melalui Bi Sian dan tidak pernah dia mendapatkan bimbingan guru. Maka, gerakan-gerakan yang dipelajarinya itu tidak lebih hanya gerak­an kembangan saja, seperti tarian. Ma­ka, menghadapi serangan sungguh-sung­guh yang dilakukan dua orang anak laki-laki yang sudah biasa berkelahi, tentu saja dia kewalahan. Tadinya dia hanya ingin menolong Bi Sian, tidak ingin memukul orang. Akan tetapi, kini tubuh­nya mulai menjadi bulan-bulanan pukul­an dan tendangan! Untung baginya bahwa berkat kerajinannya bekerja dan bangun pagi-pagi sekali melakukan segala pe­kerjaan berat, tubuhnya menjadi sehat dan kuat sekali. Pukulan dan tendangan yang diterimanya itu hanya mendatangkan rasa nyeri, akan tetapi tidak sam­pai merobohkannya.

Setelah kini tubuhnya, mukanya, menjadi sasaran pukulan dan tendangan, merasa betapa tubuhnya nyeri-nyeri, Sie Liong menjadi marah! Apa lagi dia men­dengar Bi Sian berteriak-teriak, "Ja­ngan pukuli paman Liong! Lepaskan dia, jangan pukuli dia! Ah, kalian anak-a­nak jahat, iblis siluman. Lepaskan aku, biar aku yang melawan kalian!"

Sie Liong yang mulai marah itu memandang dengan mata mencorong. "Kalian orang-orang jahat!" bentaknya dan suaranya melengking nyaring, kemudian dia mulai membalas dengan pukulan-pukulan seperti yang pernah dipelajarinya dari Bi Sian.

"Plakkk!" Dia menangkis pukulan Ki Cong dan membiarkan pukulan si muka hitam mengenai dadanya, akan tetapi dia membalas kepada Ki Cong dengan pukulan tangan kanan ke arah leher putera ka­mandan itu.

"Desss!" Tenaga Sie Liong memang besar dan pukulan itu keras sekali, juga mengenai pangkal leher dengan tepat sehingga tubuh Ki Cong terputar lalu dia roboh dan mengaduh-aduh.

Si muka hitam menyerang dari sam­ping, tangan kanannya berhasil mencengkeram muka Sie Liong. Agaknya dia ber­maksud untuk mencengkeram mata Sie Liong, akan tetapi terlalu rendah sehingga yang dicengkeram adalah hidung dan mulut Sie Liong. Cengkeraman itu keras dan kalau dilanjutkan, tentu hidung dan bibir Sie Liong dapat robek terluka.

Karena kesakitan, Sie Liong membuka mulutnya dan menggigit jari telunjuk yang berada di mulutnya, menggigit dengan keras mengerahkan tenaganya.

"Krekk!" Hampir saja jari itu putus oleh gigitan Sie Liong. Setidaknya, tentu buku jarinya retak-retak. Anak bermuka hitam itu menjerit-jerit kesakitan. Sie Liong melepaskan gigit­annya dan anak itu memegangi jari ta­ngannya sambil meloncat-loncat kesakitan. Rasa nyeri menusuk jantungnya.

Lu Ki Cong yang tadi terpukul pangkal lehernya, sudah bangun lagi dan dengan kemarahan berkobar dia menggunakan kedua tangannya memukul dari atas ke arah ubun-ubun kepala Sie Liong. Karena tubuhnya jangkung, maka dia da­pat melakukan serangan seperti itu dan kalau mengenai ubun-ubun kepala, mung­kin saja Sie Liong akan terluka parah atau setidaknya akan roboh pingsan.

Sie Liong yang merasa nyeri-nyeri seluruh tubuhnya itu, tidak mau menerima lagi pukulan begitu saja. Dia meng­angkat kedua lengannya ke atas dengan jurus yang dikenalnya dari Bi Sian. Jurus itu menurut Bi Sian bernama "Dua Tihang Penyangga Langit". Kedua lengannya dengan kekuatan sepenuhnya diang­kat ke atas menangkis dua tangan lawan yang menghantam ubun-ubun kepalanya.

"Dukkk!" Kuat sekali kedua lengan Sie Liong itu. Lu Ki Cong sampai berteriak kesakitan ketika kedua lengannya bertemu dengan dua lengan lawan yang menangkisnya dan pada saat itu, Sie Liong melihat betapa dada lawannya "terbuka" sampai ke perut. Dia cepat merendahkan tubuhnya, dan kepalanya yang memang sudah terjulur ke de­pan karena bongkoknya itu, ditundukkan dan dengan sepenuh tenaga diapun menyeruduk ke depan! Kepalanya mengenai perut Lu Ki Cong.

"Bukkk!" Dan tubuh Lu Ki Cong ter­jengkang dan terbanting, dia batuk-batuk dan muntah darah!

Sie Liong tidak melihat lagi keadaan lawan-lawannya yang sudah roboh itu. Si muka hitam mengaduh-aduh meme­gangi telunjuk kanan yang hampir putus tergigit, sedangkan Ki Cong tidak mam­pu bangkit, mengerang kesakitan dan napasnya agak terengah-engah. Sie Liong hanya memperhatikan Bi Sian dan kini ia meloncat dan menerjang tiga orang anak yang masih memegangi kaki dan ta­ngan Bi Sian. Disergap dengan penuh kemarahan oleh Sie Liong, tiga orang a­nak itu terpaksa melepaskan Bi Sian dan kini Sie Liong dan Bi Sian mengamuk. Tiga orang anak itu sama sekali tidak mampu membalas dan mereka itu menerima hujan pukulan dan tendangan Bi Sian sehingga akhirnya mereka minta-minta am­pun, bahkan dua orang di antaranya me­nangis, dan lima orang anak itu lalu melarikan diri, ada yang terseok-seok ada yang setengah merangkak!

Sie Liong dan Bi Sian tidak mengejar. Bi Sian memandang Sie Liong dengan mata penuh kekaguman.

"Paman Liong, engkau hebat! Engkau mampu mengalahkan mereka...." kata Bi Sian sambil maju dan memegangi kedua tangan pamannya, memandang wajah paman cilik i­tu dengan penuh kekaguman. "Dan engkaulah yang telah menolongku, paman!"

Sie Liong merasa betapa hatinya girang bukan main menerima pujian ini. Serasa lenyap semua nyeri di tubuhnya oleh pandang mata dan ucapan keponakannya itu. Rasa girang ini bergelimang rasa malu dan diapun dengan lembut me­narik kedua tangannya dan membuang mu­ka.

"Ahhh.... sudahlah, Bi Sian. Di mana barang-barang kita? Wah, wah, itu ayamnya berloncatan jauh. Mari kita kumpulkan!"

Mereka berdua lalu mengumpulkan barang belanjaan yang cerai berai, dan betapapun mereka mencari, ayam yang lima ekor itu tinggal tiga ekor saja. Juga banyak barang belanjaan menjadi ru­sak terinjak dan kotor. Sie Liong menarik napas panjang.

"Ahh, aku tentu akan dimarahi en­ci Hong!"

"Tidak, biar aku yang bercerita bahwa kita diganggu anak-anak nakal kepada ibu!"

"Jangan, Bi Sian! Jangan ceritakan bahwa aku telah berkelahi. Ah, cihu tentu akan marah kepadaku....!"

"Kenapa ayah harus marah? Bukankah engkau telah menolongku, paman? Biar aku yang menceritakan dan kalau a­yah dan ibu marah kepadamu, aku yang akan membelamu!"

"Jangan, Bi Sian. Kuminta sekali lagi kepadamu, jangan ceritakan bahwa aku telah berkelahi. Cihu sudah berkali-kali memperingatkan agar aku tidak berkelahi. Dia tentu akan marah dan bersedih kalau melihat aku tidak mentaati pesannya. Ah, aku tidak ingin membikin cihu bersedih. Dia sudah begitu baik kepadaku. Kuminta, jangan kauceritakan bahwa aku berkelahi!"

Bi Sian memandang wajah paman cilik itu. Tangannya lalu bergerak ke a­rah muka itu, dengan lembut ia meraba-raba muka yang bengkak-bengkak dan bi­ru itu. "Sakit-sakitkah mukamu dan badanmu, paman Liong? Aku melihat betapa engkau dipukuli dan ditendangi...."

Tiba-tiba rasa nyeri itu datang lagi, akan tetapi Sie Liong menggigit bibirnya. "Tidak, tidak berapa nyeri...."

"Paman, kalau aku tidak boleh menceritakan bahwa engkau telah menolong­ku dan berkelahi mengalahkan lima o­rang anak nakal yang jauh lebih kuat dan lebih tua darimu, lalu apa yang akan kita katakan kalau ayah dan ibu melihat mukamu yang bengkak-bengkak ini dan bertanya?"

Sie Liong meraba mukanya. Dia ti­dak dapat melihat mukanya yang lembam membiru, akan tetapi dapat merasakan nyeri di tepi kedua matanya dan di pi­pi kirinya, juga dapat merasakan beta­pa pipinya itu membengkak. Karena itu dia tidak dapat membayangkan bahwa mu­kanya akan mudah kelihatan bekas perkelahian.

"Ah, bagaimana baiknya....? Aku tidak ingin cihu bersedih dan enci Hong marah-marah." Dia kelihatan bingung.

Melihat kesungguhan hati Sie Liong yang tidak ingin diketahui ayah ibunya bahwa dia telah berkelahi, Bi Sian me­rasa kasihan walaupun dianggapnya si­kap itu berlebihan. "Baiklah, paman. Aku tidak akan menceritakan mereka ten­tang perkelahianmu. Aku akan menerangkan bahwa mukamu bengkak-bengkak kare­na ada lima orang anak nakal menganggu kita. Engkau dipukuli, lalu aku melawan mereka sehingga mereka kabur. Nah, dengan begitu engkau terhindar dari sangkaan berkelahi dan karena aku yang berkelahi, maka kehilangan ayam dan barang-barang adalah tanggung-jawabku."

"Dan engkau akan kelihatan gagah berani. Aku senang sekali, akan tetapi kalau engkau dimarahi enci Hong ten­tang kehilangan itu, biar kukatakan bahwa barang-barang itu tadinya kuba­wa, dan hilang karena aku dipukuli me­reka. Dan engkau tidak dapat menjaga barang-barang itu karena engkau dikeroyok lima."

Bi Sian mengangguk dan mereka lalu pulang. Benar saja seperti yang di­khawatirkan Sie Liong, mereka disambut oleh Yauw Sun Kok dan Sie Lan Hong dengan mata terbelalak dan penuh keheranan.

"Aih! Apa yang telah terjadi? Berantakan dan kotor semua barang belan­jaan ini! Dan ayamnya hanya tiga ekor? Eh, apa yang telah terjadi, Sie Liong dan Bi Sian?" Sie Lan Hong berseru de­ngan alis berkerut."Sie Liong! Engkau telah berkelahi, ya? Berani engkau berkelahi?" Yauw Sun Kok berseru marah ketika melihat wajah adik isterinya itu bengkak-beng­kak. Sie Lion hanya menundukkan muka­nya, khawatir kalau-kalau kakak iparnya itu akan melihat kebohongannya ka­lau dia membuka suara.

Bi Sian sudah melangkah maju di depan Sie Liong dan dengan lantang juga berani ia berkata,

"Ayah! Ibu! Jangan marah kepada paman Liong! Dia sama sekali tidak bersalah! Akulah yang bersalah sehingga barang belanjaan berantakan dan ada yang hilang dan akulah yang berkelahi!"

Melihat sikap puteri mereka itu, Yauw Sun Kok memandang dengan mata bersinar bangga dan wajah berseri. "Bi Si­an, engkau berkelahi? Mengapa? Cerita­kan apa yang terjadi dan mengapa pula wajah Sie Liong bengkak-bengkak, dan mengapa pula barang belanjaan kotor berantakan dan ada yang hilang?"

Lan Hong yang merasa kasihan melihat adiknya yang bongkok itu mukanya bengkak-bengkak dan kelihatan kesakit­an, lalu berkata, "Biarkan mereka du­duk. Sie Liong, engkau minumlah dulu, engkau juga Bi Sian."

Kedua orang anak itu minum air teh yang tersedia di atas meja, kemudian mereka berempat duduk menghadapi meja. Bi Sian lalu mulai bercerita.

"Ketika kami pulang dari pasar, di jalan yang sepi dekat ladang itu kami dihadang oleh lima orang anak laki-la­ki yang usianya kurang lebih lima belas tahun, ayah. Mereka itu anak-anak na­kal. Mereka menggoda dan memaki paman Liong, mengataken paman monyet bongkok. Paman diam saja, akan tetapi aku yang tidak kuat menahan. Aku balas memaki mereka, bahkan aku lalu memukul mereka. Mereka lalu memukuli paman Liong yang tidak melawan. Aku menjadi marah dan aku lalu berkelahi dengan mereka, se­mentara paman Liong masih dipukuli. Akhirnya, aku berhasil mengusir mereka, ayah. Barang belanjaan menjadi kocar-kacir, lima ekor ayam itu terlepas dan kami hanya dapat menemukan kembali ti­ga ekor saja. Aku yang berkelahi, ayah, akan tetapi lima orang anak itu jahat seperti setan. Apa lagi yang seorang, yang jangkung dan berjerawat mukanya. Kata orang, dia itu anak komandan kea­manan di kota ini, ayah."

"Apa? Putera Lu Ciangkun (Perwira Lu)?" Sun Kok bertanya kaget sekali. "Kalau begitu anak itu adalah Lu Ki Cong!"

"Kami tidak tahu namanya, ayah, hanya ada seorang kakek di jalan yang memperingatkan aku bahwa anak itu ada­lah putera komandan pasukan keamanan di Sung-jan."

"Aiih!" Yauw Sun Kok menepuk pahanya sendiri. Tentu saja dia mengenal baik Lu Ciangkun! Perwira itu bukan saja sahabat baiknya, bahkan di antara mereka pernah timbul percakapan tentang memperjodohkan anak masing-masing satu sama lain. Perwira itu hanya mempunyai seorang anak saja, yaitu anak laki-laki bernama Lu Ki Cong. Biarpun belum diresmikan, bahkan isterinya sendiri belum diberitahu hal itu, di antara kedua orang itu seperti sudah ada ikatan. Dan sekarang, mereka berkelahi! Lalu dia memandang kepada Sie Liong, dan bertanya kepada puterinya.

"Bi Sian, coba ceritakan lagi yang jelas. Apa yang menjadi sebab perkela­hian itu? Mengapa mereka itu menggoda dan mengganggu Sie Liong?"

Bi Sian bersungut-sungut, "Anak jerawatan itu mengatakan bahwa tidak pantas paman Liong mengantar aku ke pasar. Katanya dia yang mengantar, dan dia mengusir paman Liong. Ketika aku marah dan memakinya, dia malah memukuli paman Liong bersama teman-temannya."

Ah, kini mengertilah Sun Kok. A­nak sahabatnya itu cemburu! Tentu saja! Agaknya anak itu telah diberitanu oleh orang tuanya bahwa dia akan dijodoh­kan dengan Bi Sian, maka begitu melihat Bi Sian berjalan dengan Sie Liong, anak itu cemburu dan iri! Pantas kalau begitu, dan Sun Kok lalu tertawa bergelak. Tentu saja isterinya menjadi he­ran, juga Bi Sian memandang ayahnya dengan mata terbelalak.

"Mengapa ayah tertawa?" tanyanya berani.

Sun Kok masin tertawa bergelak. Mendengar pertanyaan puterinya itu, dia berkata sambil tersenyum. "Ha-ha, dia cemburu! Lu Ki Cong itu mencemburukan engkau dan Sie Liong! Ha-ha, bagaimana dia bisa cemburu? Sie Liong adalah seorang anak cacat.... eh, dia kan pamanmu sendiri! Apakah dia tidak kaube­ri tahu?"

Bi Sian menjadi penasaran. "Su­dah kuberitahu bahwa dia pamanku. Akan tetapi kenapa dia cemburu, ayah? Ada hak apa dia cemburu?"

Yauw Sun Kok masih tersenyum. "Tentu dia sudah mendengar dari ayahnya akan rencana ayahnya dan aku menjodoh­kan engkau dengan dia...."

"Ayah....!" Bi Sian berteriak, matanya terbelalak memandang ayahnya, a­lisnya berkerut. Sejenak anak ini me­mandang ayahnya dengan muka merah dan mata merah, akan tetapi ia lalu lari masuk ke dalam kamarnya. Melihat ini, Sie Liong yang sejak tadi menundukkan mukanya, lalu mengundurkan diri ke da­pur membawa barang-barang belanjaan untuk menyerahkan kepada pelayan di da­pur.

"Aih, Sian-ji masih kanak-kanak, baru juga sebelas tahun usianya. Bagaimana kau bicara tentang perjodohan de­ngan ia yang belum mengerti apa-apa itu?" Sie Lan Hong menegur suaminya.

Suaminya hanya tersenyum. "Kalau tidak ada peristiwa perkelahian itu, tentu aku belum akan menceritakan kepadanya. Apa lagi, ikatan jodoh itu baru merupakan omong-omong antara kawan sa­ja, belum resmi mereka meminang. Kare­na itu, engkaupun belum kuberitahu. Bagaimana juga, Lu-ciangkun adalah sahabatku. Peristiwa perkelahian antara ke dua orang anak yang kami ingin jodoh­kan itu sungguh membuat hatiku tidak enak. Apa lagi kalau sampai puteranya terluka oleh tangan Bi Sian yang galak. Biarlah aku pergi ke sana untuk minta maaf." Yauw Sun Kok lalu pergi dari rumahnya, mengunjungi rumah Komandan Lu.

Sie Lan Hong lalu memasuki kamar puterinya, disambut oleh anaknya yang matanya merah karena menangis. Melihat ibunya, Bi Sian lalu bertanya dengan wajah bersungut-sungut. "Ibu, aku ti­dak sudi dijodohkan dengan tikus jera­watan itu!"

"Eh? Tikus Jerawatan yang mana?" ibunya bertanya heran karena memang tidak mengerti.

"Itu, anak bengal putera Lu-ciangkun! Benarkah aku akan dijodohkin de­ngan dia, ibu? Kalau benar, aku akan minggat saja!"

"Hushhh, itu hanya kelakar ayahmu dan sahabatnya saja. Belum ada pinang­an resmi dan kalau ada pinangan, tentu ayahmu akan mengajak aku berunding, dan engkaupun akan kuberitahu. Sudahlah, jangan marah. Karena perkelahian itu, ayahmu merasa tidak enak terhadap Lu-ciangkun yang menjadi sahabat baiknya dan sekarang dia pergi ke sana untuk minta maaf."

"Ayah pergi ke rumahnya? Celaka....!" Akan tetapi Bi Sian segera menu­tup mulut dengan tangan. Terlambat. Ibunya sudah mendengar ucapan itu dan melihat sikap puterinya, Lan Hong merasa curiga.

"Sian-ji, ada apakah? Mengapa engkau terkejut dan gelisah mendengar ayahmu pergi ke rumah Lu-ciangkun? Menga­pa engkau mengatakan celaka tadi?"

Bi Sian maklum bahwa kalau ayahnya pergi ke rumah tikus jerawatan itu, tentu ayahnya akan mendengar segalanya dan ibunya akhirnya juga akan tahu. Lebih baik ia lebih dulu memberitahukan ibunya dan menarik ibunya di fihaknya agar membela ia dan pamannya.

"Ibu, aku tadi.... berbohong kepada ayah, maka aku kaget mendengar a­yah pergi ke rumah komandan itu," katanya mengaku.

"Bohong? Bohong bagaimana, Bi Sian?"

"Aku memang berkelahi dengan lima orang anak nakal itu, akan tetapi aku telah mereka tangkap dan tidak berdaya. Mereka lalu memukuli paman Sie, dan melihat aku ditangkap, paman Sie lalu mengamuk dan lima orang itu dia hajar sampai luka-luka dan mereka semua melarikan diri."

"Sie Liong? Tidak mungkin!" kata Sie Lan Hong. Bagaimana adiknya yang bongkok dan lemah itu dapat mengalah­kan lima orang anak nakal yang lebib besar?

"Benar, ibu. Aku tidak berbohong," Bi Sian lalu menceritakan semua yang telah terjadi. Betapa lima orang anak nakal itu menghina Sie Liong akan tetapi pamannya itu diam saja. Ialah yang marah-marah dan memukul, akhirnya tiga orang anak memegangi kaki tangannya dan dua orang anak memukuli Sie Liong. Akhirnya Sie Liong mengamuk dan berha­sil menolongnya dan mereka berdua lalu menghajar lima orang anak itu sehingga melarikan diri.

"Paman Liong minta kepadaku, agar jangan bercerita kepada ayah dan ibu bahwa dia ikut berkelahi, maka aku la­lu berbohong. Akan tetapi sekarang a­yah pergi ke sana, tentu tikus jerawatan itu akan mengadu dan menceritakan bahwa paman Liong yang memukulnya."

Sie Lan Hong masih bingung dan heran. "Tapi.... tapi.... Sie Liong cacat dan lemah....."

Biarpun matanya masih merah oleh tangisnya tadi, kini Bi Sian tersenyum, senyum bangga bahwa hanya ialah satu-satunya orang yang tahu akan rahasia pribadi Sie Liong.

"Jangan ibu kira bahwa paman Li­ong seorang yang lemah! Selama ini dia mempelajari semua ilmu silat yang dia­jarkan ayah kepadaku, dan dia bahkan lebih lihai dari pada aku, ibu. Ketika dia melawan anak-anak nakal itu, hebat bukan main!"

Terkejutlah hati Sie Lan Hong mendengar ini. Adiknya mempelajari ilmu silat! Ah, jantungnya berdebar penuh ketegangan. Hal itulah yang amat dibenci suaminya, dikhawatirkan suaminya. Ia tahu benar bahwa suaminya ingin melihat Sie Long sebagai seorang anak cacat yang lemah, yang tidak mungkin untuk melakukan kekerasan. Ada alasan yang amat kuat mengapa suaminya menginginkan Sie Liong menjadi anak lemah. Tentu agar anak itu kelak tidak mempunyai pikiran untuk membalas dendam! Perih rasa hati Lan Hong. Ia sendiri seringkali termenung dan merasa berdosa kepada ayah ibunya. Ayah ibunya dibunuh oleh Yauw Sun Kok, biarpun dengan alasan untuk membalas kematian isteri pertama suaminya itu. Dan ia terpaksa menyeralkan diri kepada Sun Kok demi menyelamatkan adiknya. Akan tetapi akhirnya ia jatuh cinta kepada suaminya ini, apa lagi setelah ia melahirkan seorang anak. Iapun tidak menginginkan terjadi permusuhan antara Sie Liong dan suaminya. Akan tetapi, kini terjadi peristiwa itu dan suaminya tentu akan marah sekali mendengar bahwa Sie Liong telah mempelajari ilmu silat.

"Sian-ji.... jangan.... jangan kauceritakan hal itu kepada ayahmu. Ayahmu tidak suka mendengar Sie Liong belajar ilmu silat."

"Tapi, kenapa ibu? Kenapa ayah tidak suka kalau paman Liong belajar ilmu silat? Paman Liong juga mengatakan begitu. Akan tetapi kenapa? Aku, seorang anak perempuan, sejak kecil sudah dilatih silat oleh ayah. Akan tetapi paman Liong adalah seorang anak laki-laki, dan tubuhnya cacat, lemah pula, maka sudah sepatutnya kalau dia belajar ilmu silat agar sehat dan kuat. Kenapa ayah melarangnya?"

"Ayahmu.... lebih tahu, anakku. Tubuh pamanmu itu cacat, apa lagi cacat di punggung. Berbahaya sekali kalau mempelajari ilmu silat. Sudahlah, le­bih baik kau tidak bercerita apa-apa kepada ayahmu."

Akan tetapi hal itu tidak ada gu­nanya. Mereka mendengar kedatangan Yauw Sun Kok yang berteriak memanggil Sie Liong. Bergegas ibu dan anak ini kelu­ar dengap hati yang penuh kekhawatiran. Mereka melihat Sun Kok sudah duduk di ruangan dalam dengan muka merah.

Memang Sun Kok marah sekali. Ketika dia berkunjung ke rumah sahabatnya, Lu-ciangkun, dia bukan saja mendengar bahwa yang memukuli putera sahabatnya itu adalah Sie Liong, bahkan anak laki-laki jangkung itu masih rebah di pembaringan karena dia mengalami luka di perutnya, akibat benturan kepala Sie Li­ong. Sahabatnya itu bahkan mengatakan bahwa Sie Liong itu ganas dan berbaha­ya sekali. "Bukan hanya Ki Cong yang terluka parah, bahkan kawan-kawannya juga terluka parah oleh anak bongkok itu. Dia sungguh ganas, liar dan berbahaya sekali."

Tentu saja Sun Kok marah bukan main kepada adik isterinya itu. Bagaima­na Sie Liong dapat menjadi seorang a­nak yang demikian kuat dan menurut pe­nuturan Ki Cong, pandai silat pula? Teringatlah dia akan keadaannya sendi­ri. Kalau dibiarkan Sie Liong terus menerus mempelajari ilmu silat sampai menjadi seorang yang pandai, keselamatan nyawanya tentu terancam kelak! Akan tetapi, jalan satu-satunya hanya membunuh anak itu, padahal dia tidak mau melakukan hal itu. Bukan hanya karena dia pernah bersumpah kepada isterinya bahwa dia tidak akan membunuh Sie Liong, akan tetapi juga dia tidak tega kalau harus membunuhnya. Bagaimanapun juga, harus dia akui bahwa Sie Liong adalah seorang anak yang baik, rajin, penurut dan pendiam. Akan tetapi bagaimana tahu-tahu dia memiliki kepandaian ilmu silat?

"Sie Liong....!" Yauw Sun Kok memanggil lagi dengan suara nyaring.

Pada saat itu muncullah Sie Liong. Mukanya masih bengkak-bengkak dan ta­ngannya masih basah karena ketika di­panggil, dia sedang membersihkan jendela-jendela rumah itu dengan lap dan a­ir.

"Ci-hu memanggil saya?" tanyanya kepada cihu-nya. Dengan sikap tenang dia berdiri di depan cihunya yang du­duk dan memandang kepadanya dengan ma­ta bernyala.

"Sie Liong, dari siapa engkau mempelajari ilmu silat?" bentak Yauw Sun Kok.

Diam-diam Sie Liong terkejut men­dengar pertanyaan yang tiba-tiba itu, namun anak ini memang memiliki ketabahan luar biasa sehingga wajahnya yang bengkak-bengkak itu tidak memperlihat­kan apa-apa. Ingin dia memandang kepada Bi Sian karena hanya Bi Sian yang tahu bahwa dia mempelajari ilmu silat. Apakah anak perempuan itu yang memberitahukan ayahnya? Akan tetapi jelas bukan, karena kalau Bi Sian memberitahu, tidak mungkin cihunya bertanya dari siapa dia mempelajari ilmu silat. Lalu bagaimana baiknya? Dia tidak ingin me­libatkan Bi Sian, takut kalau-kalau a­nak perempuan itu mendapatkan marah dari ayahnya.

Sie Liong menggeleng kepalanya dan memandang wajah cihunya dengan berani.

"Saya tidak belajar silat dari siapapun, cihu."

"Brakkk!" Yauw Sun Kok menggebrak meja di depannya sehingga ujung meja i­tu retak. "Bohong kau! Aku tahu bahwa engkaulah yang memukuli putera Lu-Ciangkun dan kawan-kawannya, dan engkau me­ngalahkan mereka dengan ilmu silat! Hayo katakan dari siapa engkau belajar ilmu silat!"

"Ayah, yang memukuli adalah si tikus jerawatan itu dan kawan-kawannya, mereka yang lebih dulu menghina dan memukul!" Bi Sian memperotes.

"Diam kau! Kau sudah membohongi aku dan mengatakan bahwa Sie Liong ti­dak berkelahi! Sie Liong, hayo katakan dari siapa engkau belajar ilmu silat!"

Sie Liong sudah mengambil keputusan tetap untuk tidak melibatkan kepo­nakannya yang selalu mencoba untuk membelanya itu. "Cihu, memang saya mempe­lajari ilmu silat, akan tetapi tidak ada gurunya. Saya belajar sendiri."

Yauw Sun Kok memandang dengan mata melotot. "Tidak mungkin belajar si­lat tanpa guru! Coba kaumainkan beberapa jurus ilmu silatmu, ingin aku me­lihat ilmu silatmu!" katanya, setengah mengejek, setengah marah. "Hayo cepat, jangan membuat aku hilang kesabaran, Sie Liong! Engkau sudah melanggar laranganku!"

Sie Liong memandang kepada enci­nya. Sang enci merasa kasihan kepada a­diknya, akan tetapi ia tahu bahwa ka­lau permintaan suaminya itu tidak dituruti, maka dia tentu akan menjadi sema­kin marah. Bagaimanapun juga, kemarah­an suaminya itu beralasan karena larangannya telah dilanggar oleh Sie Li­ong. Maka ia mengangguk kepada adiknya itu.

"Engkau mainkanlah ilmu silat yang pernah kaupelajari agar cihumu melihatnya, Sie Liong," katanya lembut.

Mendengar ucapan isterinya ini, diam-diam Yauw Sun Kok mengira bahwa tentu isterinya yang telah mengajarkan ilmu silat kepada adiknya itu, maka dia sudah merasa mendongkol sekali.

"Baiklah, cihu. Akan tetapi harap jangan diketawai karena permainanku tentu jelek dan tidak karuan." Maka dia­pun lalu memasang kuda-kuda dan menggerakkan kaki tangannya seperti kalau dia berlatih silat menirukan semua ge­rakan yang dilakukan Bi Sian di waktu berlatih silat. Baru beberapa jurus Sie Liong bergerak, Sun Kok sudah ter­kejut sekali karena gerakan-gerakan a­nak laki-laki itu adalah gerakan ilmu silatnya sendiri! Dan gerakan itu demikian lincah dan gesit, juga penuh tenaga, jauh lebih baik dari pada gerakan Bi Sian.

"Berhenti....!" bentaknya sambil meloncat dari atas kursinya, berdiri di depan Sie Liong yang cepat menghen­tikan gerakan kaki tangannya. "Hayo katakan, dari siapa engkau mempelajari semua gerakan ilmu silat itu!"

"Maaf, cihu. Saya mempelajarinya dengan.... mencuri lihat dan mengintai ketika.... Bi Sian sedang berlatih silat. Semua gerakannya itu saya catat dan hafalkan dalam hati, kemudian saya meniru gerakan-gerakannya itu di dalam kamar dan saya latih terus setiap hari. Saya tidak berniat buruk, hanya ingin sekali mempelajarinya...."

Yauw Sun Kok bernapas lega. Jadi bukan isterinya dan bukan puterinya yang mengajar anak ini. Akan tetapi, jelas bahwa anak ini memiliki bakat yang amat baik. Padahal dia sudah bongkok, namun tetap saja dapat mempe­lajari ilmu silat jauh lebih maju dari pada Bi Sian. Diapun mencari akal.

"Sie Liong, ketika aku melarang engkau belajar silat, hal itu sudah kupikirkan masak-masak, demi kebaikamu sendiri. Tubuhmu cacat, tulang pungungmu bongkok, sungguh tidak baik bahkan berbahaya sekali kalau engkau mempela­jari ilmu silat! Engkau tidak percaya? Nah, boleh kita berlatih silat seben­tar. Keluarkan semua jurus yang sudah kaupelajari, dan serang aku dengan sungguh-sungguh seperti akupun akan menye­rangmu dengan jurus yang sama. Engkau akan melihat sendiri nanti. Hayo, se­ranglah!"

Sie Liong mengira bahwa dia akan memperoleh petunjuk dari cihunya yang biasanya amat sayang kepadanya. Sedi­kitpun dia tidak menaruh hati curiga dan diapun mentaati perintah itu, lalu mulai menggerakkan kaki tangannya, me­nyerang cihunya dengan jurus-jurus silat yang pernah dilatihnya.

Sie Lan Hong memandang dengan jantung berdebar, masih belum tahu apa yang dikehendaki suaminya. Ia sendiri juga terkejut karena sama sekali tidak pernah menyangka bahwa adiknya ternyata benar-benar telah menguasai gerakan silat yang lebih baik dari pada puterinya. Dengan mata terbelalak, Bi Sian juga memperhatikan gerakan Sie Liong, iapun mengira bahwa ayahnya akan memberi petunjuk kepada pamannya itu. Ia merasa terharu mendengar betapa pamannya itu sengaja berbohong, mengatakan bah­wa dia mengintai dan mencuri pelajaran silat itu, tidak mau melibatkannya. Betapa pamannya itu amat sayang kepada­nya dan iapun merasa amat sayang kepa­da pamannya itu.

Diam-diam Yauw Sun Kok terkejut.

Ternyata gerakan Sie Liong selain baik sekali, juga anak ini memiliki tenaga yang jauh lebih besar dibandingkan a­nak-anak sebayanya. Tentu saja jauh lebih menang dibandingkan Bi Sian. Tidak mengherankan kalau lima orang anak nakal itu kalah olehnya. Dan kalau dibi­arkan terus anak ini memperdalam ilmu silat, tidak salah lagi, dia kelak a­kan menjadi orang pandai dan akan mem­bahayakan dirinya!

Setelah menghadapi serangan-se­rangan Sie Liong untuk mengujinya sam­pai belasan jurus, mulailah Yauw Sun Kok menyerang! Sie Liong juga berusaha mempertahankan diri dengan elakan dan tangkisan karena cihunya menyerang de­ngan jurus-jurus yang sudah dikenalnya. Akan tetapi dia tidak tahu apa yang tersembunyi di dalam benak cihunya. Ti­ba-tiba gerakan tangan cihunya demiki­an cepatnya sehingga Sie Liong tidak mampu melindungi tubuhnya.

"Plakkk! Plakkk!" Dua kali tangan Yauw Sun Kok menyambar dan mengenai pangkal leher Sie Liong dan ketika tu­buh anak itu berputar, sekali lagi ta­ngannya menghantam punggung yang bong­kok. Sie Liong mengeluh pendek dan dia pun roboh terpelanting, muntah darah! Agaknya Yauw Sun Kok masih belum puas, akan tetapi tiba-tiba Bi Sian sudah menubruk tubuh Sie Liong dan melindunginya!

"Ayah, kenapa pukul paman Liong? Kenapa ayah memukul paman Liong?" Anak ini hampir menangis. Lan Hong juga su­dah melompat di depan suaminya dan memandang tajam.

"Apa yang kaulakukan?" katanya dengan suara nyaring dan mata me­mandang tajam.

Yauw Sun Kok menurunkan kedua tangannya. "Hemm, aku hanya ingin memperlihatkan dia betapa berbahayanya dia berlatih silat! Kalau pungungnya tidak cacat seperti itu, pukulanku tadi ti­dak akan membuatnya muntah darah." Un­tung dia masih ingat tadi sehingga dia mengurangi tenaga pada pukulannya, ka­lau tidak, tentu anak itu sudah roboh tewas dan ini berarti dia melgnggar sumpahnya dan tentu akan terjadi peru­bahan dalam hubungannya dengan isteri­nya tercinta.

Bi Sian membantu Sie Liong bangkit. Anak laki-laki itu tidak kelihatan menyesal atau marah walaupun dia menyeringai kesakitan dan mengusap da­rah dari bibirnya dengan ujung lengan bajunya. Bi Sian bangkit dan memandang ayahnya dengan marah.

"Ayah kejam! Ayah telah menghajar paman Liong yang tidak berdosa! Ayah, paman Liong membohong kepada ayah karena hendak melindungi aku! Sebetulnya, dia bukan mengintai, bukan mencuri ilmu silat, melainkan akulah yang telah me­ngajarkan semua ilmu silat itu kepada­nya! Kalau ayah mau marah dan mau menghukum, hukumlah aku!" Anak itu berdiri tegak dengan dada membusung, seperti hendak menantang ayahnya.

"Hushh," ibunya cepat merangkulnya, khawatir kalau suaminya benar-benar marah dan menghajar anaknya. Akan tetapi, Sun Kok tidak marah. Bahkan dia sudah menduga akan hal itu.

"Ayah, paman Liong tidak bersalah. Perkelahian itu terjadi karena kejahatan anak-anak nakal itu!"

"Hemm, kalau dia tidak pandai silat, tentu tidak akan terjadi parkelahian," kata Yauw Sun Kok.

"Kalau paman Liong tidak pandai berkelahi, mungkin dia akan dipukuli sampai mati dan aku juga! Pawan Liong sama sekaii tidak bersalah dan tidak adil kalau menyalahkan dia, ayah!" Kembali Bi Sian membantah biarpun ibunya sudah mencoba untuk mencegahnya banyak bicara.

"Bi Sian, pikiranmu sungguh pendek! Coba bayangkan. Kalau engkau per­gi sendiri ke pasar tanpa Sie Liong, atau dia pergi tanpa engkau, apakah a­kan terjadi perkelahian itu? Sudahlah, mulai saat ini, aku melarang Sie Liong belajar silat darimu! Sie Liong, maukah engkau berjanji?"

Sie Liong sudah bangkit berdiri dan menundukkan mukanya. Dia merasa menyesal bahwa karena dia, Bi Sian harus menjadi seorang anak yang berani menentang ayah sendiri.

"Baik, cihu. Saya berjanji bahwa mulai hari ini, saya tidak akan belajar silat lagi dari Bi Sian."

Lega rasa hati Yauw Sun Kok mendengar janji ini. Bagaimanapun juga, dia tidak pernah membenci anak itu, bahkan dia merasa suka dan kasihan. Anak itu menjadi bongkok karena perbuatannya. Akan tetapi dia melakukan itu bukan karena benci, melainkan karena mengkhawatirkan keselamatan dirinya sendiri. Kalau ada jaminan bahwa Sie Liong kelak tidak akan membalas dendam kepadanya, mungkin dia akan suka mewariskan selu­ruh kepandaiannya kepada anak yang amat baik itu.

"Coba kuperiksa tubuhmu," katanya dan dia segera memeriksa keadaan tubuh Sie Liong. Anak ini mengalami luka yang cukup parah, akan tetapi tidak sampai membahayakan jiwanya. Dia segera memberi obat minum dan mengharap agar Sie Liong benar-benar kapok dan tidak belajar ilmu silat lagi yang hanya akan merugikan dirinya sendiri.


***


Meja sembahyang itu penuh dengan bermacam masakan, juga buah-buahan. Keluarga Yauw melakukan sembahyang lelu­hur. Hanya setelah dia menikah dengan Sie Lan Hong saja Yauw Sun Kok mulai mengadakan sembahyangan lagi setiap tahun. Tadinya dia sama sekali tidak pernah sembahyang, yaitu ketika dia masih menjadi perampok dengan isterinya yang pertama. Seolah-olah dia telah melupakan begitu saja kedua orang tuanya yang telah tiada, dan melupakan nenek moyangnya. Akan tetapi semenjak dia menjadi suami Lan Hong, isterinya ini membujuknya dan setiap tahun mereka melakukan sembahyangan.

Sie Liong masih menderita akibat pukulan cihunya dua hari yang lalu. Dia masih suka batuk-batuk dan biarpun ki­ni batuknya tidak mengeluarkan darah lagi, namun kadang-kadang masih terasa nyeri pada punggungnya yang bongkok kalau dia batuk, dan kepalanya pusing. Selama dua malam ini kalau sedang ti­dur di kamarnya, dia gelisah dan bebe­rapa kali bahkan dia menangis tanpa suara. Dia merasa nelangsa sekali. Cihu­nya biasanya baik kepadanya, akan tetapi kini cihunya malah memukulnya. Dan Bi Sian menjadi korban pula, ribut dengan ayahnya gara-gara dia. Dan dia teringat pula betapa Bi Sian akan dijo­dohkan dengan Lu Ki Cong putera Lu-ci­angkun itu! Hal ini menambah rasa duka di dalam hatinya. Dia berduka untuk Bi Sian. Keponakannya yang manis itu, yang berhati keras akan tetapi jujur, yang berbudi baik, akan dijodohkan dengan anak yang jahat itu! Diapun teringat kepada encinya, dan merasa kasihan ke­pada encinya. Dia merasa betapa enci­nya amat sayang kepadanya, dan encinya tentu menderita tekanan batin yang hebat ketika dia dipukul oleh cihu-nya. Mungkin akan terjadi ketegangan antara cihu-nya dan encinya gara-gara dia. Dan diapun seringkali memergoki enci­nya itu duduk melamun dan kalau sedang duduk seorang diri, nampak betapa pada wajah yang cantik itu terbayang kedukaan yang mendalam. Padahal, dia tidak melihat sesuatu yang dapat mendatang­kan kesedihan di hati encinya. Cihu-nya amat baik dan sayang kepada encinya, juga Bi Sian seorang anak yang baik, kehidupan encinya juga sudah serba cu­kup dan menyenangkan. Apa yang menye­babkan encinya kadang-kadang melamun dan kelihatan seperti orang berduka?

Agaknya Yauw Sun Kok masih mendongkol karena peristiwa dua hari yang la­lu. Wajahnva nampak muram dan setelah bersembahyang dan menancapkan hio di hio-louw di atas meja sembahyang, dia­pun lalu meninggalkan ruangan itu un­tuk pergi ke tokonya di mana dia berdagang rempa-rempa dibantu oleh beberapa orang pegawai. Di ruangan sembahyang itu kini tinggal Sie Lan Hong, Sie Li­ong dan Yauw Bi Sian bertiga. Sie Lan Hong tadi sudah bersembahyang bersama suaminya.

"Bi Sian, sekarang engkau bersem­bahyang bersama pamanmu Liong, beri hormat kepada kakek nenek dalam dan kakek nenek luar." Yang disebut kakek nenek dalam adalah ayah ibu suaminya, dan kakek nenek luar adalah ayah ibunya sendiri.

Dua orang anak itu menyalakan beberapa hio (dupa biting) dan mulai bersembahyang. Ketika Sie Liong bersembahyang, dia membayangkan ayah ibunya, dan hatinya terasa seperti diremas. Dia tidak pernah tahu seperti apa wajah ayahnya dan ibunya! Usianya belum ada setahun ketika ayahnya dan ibunya meninggalkan dia. Encinya menjadi pengganti ayah ibunya. Dalam keadaan berduka ka­rena peristiwa dua hari yang lalu, karena kepalanya masih terasa pening dan punggungnya yang bongkok terasa nyeri-nyeri, hatinya semakin bersedih teringat akan ayah ibunya yang telah tiada. Tak terasa lagi, luluhlah hati Sie Li­ong yang biasanya keras dan tabah itu dan diapun menangis tersedu-sedu sam­bil menjatuhkan diri berlutut di depan meja sembahyang.

Bi Sian terkejut sekali melihat pamannya menangis seperti itu. Belum pernah ia melihat pamannya menangis, pamannya yang kuat, tabah dan selalu tenang, kini menangis tersedu-sedu se­perti anak kecil. Iapun menjatuhkan diri berlutut dekat pamannya itu dan menyentuh lengannya lalu merangkulnya.

"Paman Liong, ada apakah? Apakah.... apakah engkau sakit....?" Bi Sian merasa menyesal sekali kepada ayahnya yang kemarin dulu pernah memukul pamannya ini, dan ia merasa kasihan sekali kepada Sie Liong.

Sie Liong menggeleng kepala, akan tetapi tangisnya semakin menjadi-jadi. Sikap lemah lembut dan baik dari ga­dis cilik itu menambah keharuan hati­nya, dan dia tidak mampu menjawab karena lehernya tersumbat oleh tangis.

Melihat keadaan adiknya itu, dengan alis berkerut penuh kekhawatiran Sie Lan Hong mendekati dan berlutut lalu merangkul adiknya. "Adik Liong, engkau kenapakah? Mengapa engkau menangis seperti ini? Belum pernah aku melihat engkau menangis seperti ini. Apamukah yang terasa sakit?"

Sie Liong menggeleng kepala dan mengusap air matanya, mengeraskan hati­nya untuk menghentikan tangisnya. "Yang sakit adalah hatiku, enci. Mengapa ayah dan ibu meninggalkan aku sewaktu aku masih kecil sekali? Mengapa mereka itu meninggal dunia, enci? Sakitkah? A­taukah ada yang membunuh mereka?"

"Akupun merasa heran, ibu dan sering aku bertanya kepada diri sendi­ri. Kenapa kakek dan nenek luar meninggal dunia dalam usia muda? Melihat be­tapa usia paman Liong tidak banyak selisihnya dengan aku, maka tentu kakek dan nenek luar itu belum tua benar ke­tika meninggal dunia. Apa yang menyebabkan kematian mereka, ibu?"

Ditanya oleh adik dan anaknya se­perti itu, jantung Sie Lan Hong berde­bar penuh ketegangan! Terbayanglah se­mua peristiwa yang terjadi sebelas a­tau dua belas tahun yang lalu! Betapa a­yahnya dan ibunya, juga suhengnya, dan dua orang pelayan wanita, juga semua anjing, kuda dan ayam, dibunuh orang pada malam yang menyeramkan itu! Hanya tinggal ia dan adiknya yang belum dibunuh. Kemudian muncul si pembunuh yang amat kejam itu! Pembunuh itu adalah Yauw Sun Kok, suaminya sendiri, ayah kandung Bi Sian! Ketika itu, ia baru berusia lima belas tahun! Yauw Sun Kok tergila-gila kepadanya, dan ia terpak­sa menyerahkan dirinya bulat-bulat ka­rena ia tidak ingin melihat adiknya, Sie Liong dibunuh oleh musuh besar itu!

Kemudian setelah menjadi isteri Yauw Sun Kok, ia dapat mengusir perasaan dendam dan bencinya terhadap pria itu, bahkan menggantinya dengan perasaan cinta! Dan Yauw Sun Kok kini telah menjadi suaminya yang tercinta dan ju­ga amat mencintainya, menjadi ayah kandung dari anaknya, Bi Sian. Bagaimana mungkin ia akan menceritakan semua itu kepada anaknya dan adiknya? Mencerita­kan bahwa suaminya sendiri adalah pem­bunuh ayah ibunya dan musuh besar keluarganya? Sudah lama ia menghapus per­musuhan ini, kebencian berubah menjadi kasih sayang, permusuhan berubah menjadi ikatan suami isteri yang sudah mem­punyai keturunan pula! Tidak, sampai bagaimanapun, ia tidak akan membongkar rahasia itu kepada adiknya atau kepada anaknya!

"Enci, kenapa enci tidak menjawab pertanyaan kami? Mengapa enci kelihat­an ragu-ragu?" Sie Liong mendesak encinya, dan kini sepasang matanya yang masih kemerahan karena tangis tadi mengamati wajah encinya dengan penuh seli­dik.

"Ah, tidak." Sie Lan Hong cepat menjawab, nampak agak gugup. "Aku ragu-ragu karena mengapa hal yang menyedihkan itu harus diceritakan lagi? Aku terkenang akan hari-hari yang malang itu, adikku! Baiklah, kaudengarkan ce­ritaku, dan engkau juga, Bi Sian. Sie Liong, ayah dan ibu kita telah menjadi korban wabah yang amat berbahaya. Pc­nyakit menular itu mengamuk di dusun kita, dan ayah ibu kita terserang se­hingga meninggal dunia. Untuk menghin­darkan diri dari amukan wabah itu, aku membawa engkau yang baru berusia sepu­luh bulan, melarikan diri mengungsi dari dusun kita dan akhirnya aku bertemu dengan cihu-mu dan dia menolong kita. Akhirnya aku menikah dengan cihu-mu dan kita semua pindah ke sini."

Mendengarkan cerita encinya ini, Sie Liong menarik napas panjang. "Ka­sihan sekali ayah dan ibu, dan kasihan pula engkau yang begitu susah payah menyelamatkan diri kita berdua, enci."

Sie Lan Hong memejamkan kedua matanya karena tiba-tiba matanya menjadi basah air mata. Betapa tepatnya ucapan Sie Liong itu walaupun adiknya mempunyai gambaran dan maksud yang lain dalam kata-katanya itu. Memang sungguh kasihan. Ayah ibunya dibunuh orang! Dan ia sendiri, ia telah mengorbankan dirinya sampai pada batas paling hebat, demi menyelamatkan diri dan juga adiknya!

"Enci, di manakah kita tinggal?"

Sie Lan Hong memandang wajah adiknya, alisnya berkerut. "Kenapa engkau menanyakan hal itu, adikku? Tempat itu adalah tempat malapetaka bagi keluarga ayah ibu kita, sudah lama kulupakan dan kita sekarang menjadi penghuni ko­ta Sung-jan ini."

"Aku hanya ingin tahu, enci. Sia­pa tahu, kelak ada kesempatan bagiku untuk berkunjung ke sana dan bersembahyang di depan makam ayah dan ibu."

Sie Lan Hong menggigit bibirnya. Tak mungkin ia membohongi adiknya lagi dan apa salahnya kalau ia memberitahu? Biarlah adiknya itu kelak bersembah­yang di depan makam orang tua mereka.

"Dusun kita itu jauh sekali, di perbatasan utara sebelah barat, berna­ma dusun Tiong-cin."

Sie Liong mencatat nama dusun ini dan letaknya di dalam hatinya dan malam itu dia tidak dapat tidur, gelisah di atas pembaringan dalam kamarnya, a­palagi karena kepalanya masih pening dan punggungnya masih terasa berdenyut nyeri.


***


Pada suatu pagi, nampak sesosok bayangan orang berjalan perlahan di a­tas Tembok Besar! Tembok Besar itu me­rupakan bangunan raksasa yang amat he­bat, naik turun bukit dan jurang, me­manjang sampai ribuan li panjangnya sehingga disebut Ban-li Tiang-sia (Tem­bok Panjang Selaksa Li). Di beberapa bagian dari Tembok Besar ini memang dijadikan markas bagi pasukan-pasukan penjaga perbatasan, namun banyak pula bagian yang kosong dan sunyi sama sekali. Dan orang yang berjalan perlahan di atas Tembok Besar itupun berjalan seorang diri dalam kesunyian. Kemudian suara nyanyiannya memecah kesunyian pagi hari di antara bukit-bukit dan ju­rang-jurang yang penuh hutan lebat itu.


"Tembok Besar memanjang

ribuan li

bekas tangan manusia

masih hidup atau sudah mati


Tembok Besar lambang kekerasan

untuk mempertahankan kekuasaan

berapa puluh laksa manusia mati

untuk menciptakan bangunan ini?"


Nyanyian yang berakhir dengan pertanyaan ini tidak terjawab. Angin ber­tiup kencang dan menimbulkan suara ke­tika bertemu dinding tembok, bersiutan dan membuat rambut, kumis, jenggot dan pakaian kuning orang itu berkibar-ki­bar seperti bendera. Orang itu sudah tua sekali, jenggot dan kumisnya juga rambutnya yang dibiarkan riap-riapan, sudah putih semua. Namun wajahnya ma­sih nampak merah dan halus seperti wa­jah orang muda, tubuhnya yang tinggi kurus itu tegak lurus dan jalannya santai dengan langkah berlenggang seperti langkah seekor harimau. Usianya tentu sedikitnya tujuh puluh tahun. Pakaian­nya hanya dari kain kuning panjang yang dilibat-libatkan di tubuhnya dari kaki sampai ke pundak, bagian pinggang dii­kat dengan tali kulit kayu, kakinya mengenakan sandal kulit kayu pula. Sam­bil berjalan seenaknya di atas Tembok Besar, dia memandang ke kanan kiri. Seluruh yang nampak di sekelilingnya agaknya tidak terlepas dari pandang ma­tanya yang penuh kewaspadaan dan penuh semangat. Tangan kanannya memegang sebatang tongkat kayu sepanjang satu me­ter, akan tetapi agaknya bukan dipergunakan untuk membantu die berjalan, me­lainkan dipegang seperti hanya untuk iseng-iseng saja. Gerak-gerik kakek ini halus, sinar matanya lembut dan mulut yang dikelilingi kumis dan jenggot itu selalu tersenyum seolah-olah dia bera­mah tamah dengan alam disekelilingnya. Matanya bersinar-sinar penuh kegembiraan ketika dia menyapu segala sesuatu di sekelilingnya dari atas tembok yang tinggi itu dengan pandang matanya dan biarpun hanya sekelebatan, dia telah menangkap segala yang nampak karena pandang matanya seperti sinar lampu sorot yang amat kuat dan terpusat. Pohon-pohon tinggi besar yang tumbuh di sekeliling tempat itu nampak hijau dan li­ar. Bukit-bukit menjulang tinggi di kanan kiri, dan jurang-jurang amat dalam sehingga tidak nampak dasarnya. Kalau dia berjalan di bawah, di atas tanah, tentu akan sukar melihat semua itu bahkan melihat langitpun akan sukar sa­king lebatnya daun-daun pohon. Akan tetapi, dari atas tembok yang tinggi i­ni, dia seperti berdiri di puncak sebuah bukit dan dapat melihat sekeliling dengan jelas. Beberapa ekor burung be­terbangan dan seekor burung rajawali baru saja meninggalkan cabang sebatang pohon. Gerakannya ketika meloncat dan terbang membuat cabang itu bergoyang keras dan beberapa helai daun kering melayang-layang turun karena putus da­ri tangkainya. Sepasang mata kakek itu mengikuti beberapa helai daun kering yang melayang turun sambil menari-nari di udara itu, dan diapun tersenyum penuh bahagia.

Betapa bahagianya orang yang ma­sih mampu menikmati semua keindahan yang dihidangkan oleh alam di sekeliling kita. Kalau kita mau membuka mata dan mengamati sekeliling kita tanpa penilaian, maka kitapun akan dapat meli­hat segala keindahan itu! Dalam gerak- gerik setiap orang manusia, lambaian setiap ranting pohon, sinar matahari, tiupan angin, cerahnya bunga dengan keharumannya, kicaunya burung, senyum seorang muda, pandang mata seorang ibu kepada anaknya. Betapa indah mentakjubkan kesemuanya itu! Sayang, batin kita sudah terlampau sarat oleh segala ma­cam persoalan, segala macam masalah kehidupan, kepusingan, kesusahan, keta­kutan, kekhawatiran, kebencian, permusuhan, iri hati, cemburu yang mendatangkan kesengsaraan dalam batin. Batin yang sengsara, bagaimana mungkin dapat melihat keindahan itu? Segala hanya akan nampak buruk dan membosankan!

Tiba-tiba kakek itu mengangkat muka ke atas, agaknya dia baru teringat akan urusannya. "Aih, masih amat jauh perjalanan, dan aku tidak boleh berlambat-lambatan begini." Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat dan lenyaplah bentuk tubuhnya. Yang nampak hanya bayangan kuning yang berkelebat cepat dan sebentar saja bayangan itu meluncur ke barat dan lenyap!

Kakek itu adalah seorang pertapa yang sudah puluhan tahun tidak pernah meninggalkan guha pertapaannya di He-lan-san, yaitu di daerah Mongolia Dalam sebelah selatan. Sudah dua puluh tahun kakek itu bertapa di He-lan-san, semenjak dia datang dari Pegunungan Himalaya di barat. Para penduduk perkampungan di sekitar Pegunungan He-lan-san menganggap dia sebagai seorang kakek pertapa yang baik hati, yang suka menolong orang dengan pengobatan, dan karena kakek itu dikabarkan amat sakti, maka semua orang menghormatinya dan dia disebut sebagai Pek-sim Sian-su. Se­butan pek-sim ini mungkin dimaksudkan untuk memujinya sebagai seorang yang berhati putih, seorang yang amat budi­man. Dan kakek itu agaknya menerima pula begitu saja sebutan Pek-sim Sian-su (Guru Suci Berhati Putih).

Terjadi keanehan pada diri kakek itu. Beberapa waktu yang lalu, pada suatu malam, dia tiba-tiba saja terba­ngun dari tidurnya, lalu duduk bersila dan sampai setengah malam dia bersama­dhi. Lalu paginya, tanpa pamit kepada siapapun, dia pergi begitu saja meninggalkan guha pertapaannya dan melakukan perjalanan ke barat! Yang dituju ada­lah perbatasan Sin-kiang dan Tibet! Malam itu, dalam tidurnya dia seperti mendapat ilham yang mendorong dia harus melakukan perjalanan secepatnya menuju ke tempat itu. Seorang yang hidup suci seperti Pek-sin Sian-su, peristiwa mendapat ilham atau isarat gaib bukanlah hal yang aneh lagi. Seorang manusia yang hidup bersih lahir batin, yang tubuhnya tidak dikotori makanan-makanan enak yang merusak, tidak dilemahkan oleh kegiatan-kegiatan yang bergelimang nafsu, yang batinnya tidak dikotori oleh segala macam kenangan, gagasan, tidak dikotori oleh segala macam nafsu maka dia memiliki badan dan batin yang amat peka! Kekuatan alam ini adalah kekuatan yang memperlihatkan kebesaran dan kekuasaan Thian, dan alam telah memberi tanda-tanda, getaran-getaran pada badan dan batin manusia. Kalau manusia itu bersih lahir batin dan menjadi peka, maka dia akan mampu menerima isarat-isarat gaib ini, tanda-tanda melalui getaran atau bahkan panglihatan, dalam sadar maupun dalam tidur. Dan Pek-sim Sian-su sudah mencapai tingkat seperti itu, maka tidaklah mengherankan kalau pada hari itu dia kelihataan berlari cepat melalui Tembok Besar menuju ke barat.

Mari kita tengok apa yang sedang terjadi di perbatasan Propinsi Sin-kiang sebelah selatan yang berbatasan dengan Tibet. Tak jauh dari dusun Sung-jan, agak ke selatan, nampak Pegunung­an Kun-lun-san dengan bukit-bukitnya yang berbaris-baris, melintang dari barat ke timur menjadi perbatasan antara Sin-kiang dan Tibet. Biarpun tidak se­besar dan seluas atau setinggi Pegu­nungan Himalaya, namun Pegunungan Kun-lun-san inipun sudah tetkenal sekali dengan puncak-puncaknya yang tinggi, jurang dan celah yang amat lebar dan dalam, dengan hutan-hutan lebat dan liar amat berbahaya bagi manusia yang bera­ni memasukinya. Dan di Kun-lun-san ini terkenal pula dengan adanya banyak pendeta dan orang-orang menyucikan diri, pertapa-pertapa dan orang-orang yang berilmu tinggi. Bahkan satu di antata orang-orang pandai itu membentuk Kun-lun-pai atau Partai Persilatan Kun-lun yang amat terkenal.

Kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu, terjadi bentrokan antara para pendeta Lama di Tibet dengan beberapa o­rang pertapa di Himalaya. Yang menjadi sebab hanyalah perselisihan paham dalam kepercayaan dan keagamaan sehingga timbul bentrokan hebat! Betapa banyaknya tokoh agama yang lupa bahwa agama dia­dakan sebagai tuntunan terhadap manusia agar dapat hidup tenteram dan damai menjauhi segala bentuk permusuhan, ke­bencian dan kejahatan. Akan tetapi, tanpa disadari, diantara mereka malah bentrok sendiri karena persaingan dan pertentangan paham dan gagasan!

Bentrokan antara para pendeta La­ma di Tibet dan para pertapa di Himalaya itu semakin meluas. Para pendeta Lama yang banyak jumlahnya dan di antara mereka banyak pula yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, menyerbu Himalaya dan mereka ini menyerang semua pertapa tanpa memperhitungkan apakah mereka itu terlibat dalam permusuhan ataukah tidak! Banyak di antara para pertapa yang benar-benar sudah menjauhkan diri dari pada permusuhan, maka mereka itu mengalah dan diam-diam menyingkir dari Himalaya dan sebagian dari mereka "me­ngungsi" ke Kun-lun-san, mencari tempat pertapaan di tempat baru itu untuk menghindari permusuhan dan pengejaran para pendeta Lama di Tibet. Demikian­lah, pada waktu ini, banyak terdapat pertapa di Kun-lun-san, yaitu para pe­larian dari Himalaya. Dan Pek-sim Sian-su juga merupakan seorang pertapa di Himalaya yang kemudian melanjutkan pe­ngungsiannya ke timur, jauh di timur sampai dia menetap di Pegunungan He-lan-san di daerah Mongolia Dalam.

Dan kini terjadi geger besar di Kun-lun-san karena munculnya lima o­rang pendeta Lama jubah merah yang mengamuk den menyerangi para pertapa di Kun-lun-san! Agaknya mereka itu adalah para pendeta dari Tibet yang masih me­naruh dendam terhadap para pertapa a­sal Himalaya, dan mendengar betapa pa­ra pertapa itu banyak yang melarikan diri ke Kun-lun-san, maka lima orang pendeta Lama Jubah merah itu lalu me­ngamuk ke sana! Dan menurut kabar, li­ma orang pendeta Lama itu memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat, mereka itu sakti sekali dan sudah banyak pertapa yang tidak berdosa menjadi korban dan terbunuh oleh mereka!

Keributan yang terjadi di Kun-lun-san itu juga mengguncang ketenteraman Kun-lun-san. Tembok-tembok yang kokoh kuat dari perkumpulan silat besar ini seperti tergetar oleh keributan itu dan biarpun Kun-lun-pai tidak tersang­kut, namun tentu saja para tokohnya merasa tidak enak. Kun-lun-pai sudah di­akui sebagai sebuah partai persilatan yang besar, yang mengakui Pegunungan Kun-lun-san sebagai markas atau sumber mereka. Kalau kini ada orang-orang a­sing mengacau di Kun-lun-san, membunuhi para pertapa yang tidak berdosa, berarti mereka itu memandang rendah kepa­da Kun-lun-pai dan tidak menghargai Kun-lun-pai, berani melanggar wilayah­nya bahkan mendatangkan kekacauan.

Sementara itu, serbuan lima o­rang pendeta Lama jubah merah dari Ti­bet itu mendatangkan perpecahan di an­tara para pertapa dan pendeta sendiri. Para pertapa atau pendeta yang menga­nut Agama Buddha banyak yang berpihak kepada para pendeta Lama, sebaliknya para pertapa dan pendeta yang menganut Agama To menentang. Perpecahan ini me­nimbulkan pertentangan dan perkelahian di antara mereka sendiri dan karena para pertapa ini sebagian besar adalah orang-orang yang amat lihai dan tinggi ilmu kepandaiannya, maka terjadilah perkelahian dan pertempuran yang amat he­bat dan yang mengguncangkan Pegunungan Kun-lun-san dan menggetarkan tembok perkumpulan Kun-lun-pai.

Ketua Kun-lun-pai pada waktu itu berjuluk Thian Hoat Tosu, seorang penganut Agama To yang taat. Dia memimpin Kun-lun-pai dibantu oleh seorang sute­nya yang berjuluk Thian Khi Tosu. Dua orang tosu ini memiliki ilmu silat yang tinggi dan di asrama Kun-lun-pai itu terdapat kurang lebih seratus orang murid Kun-lun-pai yang terbagi dalam em­pat tingkat. Murid kepala atau tingkat pertama, hanya ada belasan orang dan mereka inilah yang mewakili dua orang guru mereka untuk memberi latihan dan bimbingan kepada para murid yang lebih rendah tingkatnya.

Thian Hoat Tosu dan Thian Khi To­su merasa gelisah sekali dengan adanya keributan di Kun-lun-san, dan pada pa­gi hari itu, mereka berdua bercakap-cakap di ruangan dalam tanpa dihadiri seorangpun murid karena mereka ingin bi­cara empat mata saja.

"Suheng, keadaan ini tidak mung­kin dapat dipertahankan dan didiamkan saja. Nama Kun-lun-pai akan tercemar dan menjadi buah tertawaan dunia kang-ouw sebagai tuan rumah yang tidak berani berkutik walaupun dihina oleh tamu-tamu kurang ajar!" kata Thian Khi Tosu dengan sikap marah.

"Siancai-siancai-siancai....!" Thian Hoat Tosu berseru lembut sambil me­rangkap kedua tangan di depan dada. "Semoga kita dapat tahan uji menghadapi cobaan ini, sute, Tentu engkau mak­sudkan gerakan yang dilakukan oleh pa­ra Lama jubah merah itu, bukan?"

"Benar sekali, suheng! Mereka itu dengan congkak mengaku sebagai Lima Harimau dari Tibet, dan lima orang pendeta Lama jubah merah itu sungguh som­bong sekali. Mereka menyerang dan mem­bunuhi para pertapa yang sudah lemah dan tua, mereka yang tidak berdosa apa pun. Bagaimana kita dapat memembiarkan saja mereka merajalela di Kun-lun-san yang menjadi wilayah kedaulatan Kun-lun-pai, suheng?"

"Aih, sute, apa yang dapat kita lakukan? Engkau tentu juga tahu bahwa permusuhan itu hanya merupakan kelan­jutan saja dari permusuhan beberapa puluh tahun yang lalu di Himalaya. Para pendeta Lama itu agaknya mewakili para Dalai Lama di Tibet untuk menghukum mereka yang datang dari Himalaya. Selama mereka itu tidak mengganggu Kun-lun-pai, apa yang dapat kita lakukan? Mereka itu bermusuhan, dan kita tidak ter­libat apapun, bagaimana kita dapat mencampuri? Bisa menimbulkan salah paham lebih besar, sute."

"Tidak, suheng, pinto tidak setu­ju dengan pendapat itu! Kita selalu mencoba untuk menanamkan jiwa kesatria, jiwa kependekaran kepada para murid, agar mereka itu menentang yang jahat sewenang-wenang dan membela kaum lemah tertindas. Kalau sekarang kita melihat Lima Harimau Tibet itu sewenang-wenang membunuhi orang tidak berdosa dan kita tinggal diam, bukankah hal itu memberi contoh buruk sekali kepada para mu­rid?"

"Ingat, sute, selain itu kita juga mengajar mereka agar tidak mencampuri urusan orang lain yang tidak kita ketahui duduk perkaranya. Dalam urusan antara para Lama dan para pertapa itu­pun kita tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi antara mereka, tidak tahu siapa benar siapa salah. Bagaimana mungkin kita mencampuri? Tidak, sute, sekali lagi kuperingatkan. Jangan eng­kau membawa Kun-lun-pai ke dalam per­musuhan antara mereka. Kita tunggu sa­ja perkembangan selanjutnya."

"Dan membiarkan pembantaian terus dilakukan oleh para Lama yang buas i­tu? Ah, pinto akan bersamadhi dan mo­hon kekuatan batin bagi kita semua, suheng," berkata demikian, dengan muka yang tidak puas dan penuh penasaran, Thian Khi Tosu meninggalkan suhengnya untuk bersamadhi di dalam kamarnya sendiri.

Sementara itu, beberapa li jauhnya dari asrama Kun-lun-pai, dua orang pe­muda sedang berjalan sambil memanggul belanjaan di punggung mereka. Mereka adalah Ciang Sun den Kok Han, dua o­rang murid Kun-lun-pai tingkat tiga, dua orang pemuda berusia kurang lebih dua puluh tahun yang sudah lima tahun menjadi murid Kun-lun-pai. Mereka itu bertubuh tegap dan bersikap gagah, dan biarpun sudah lima tahun berlatih dengan tekun, mereka baru memiliki ting­kat tiga. Hal ini membuktikan betapa tingginya ilmu silat Kun-lun-pai, dan betapa sulitnya untuk mencapai tingkat pertama. Sebagai murid tingkat tiga, mereka sudah diperkenankan membawa sebatang pedang di pinggang mereka, wa­laupun pedang itu hanya mereka bawa sekedar untuk berjaga diri dan untuk di­pergunakan membela diri saja, bukan untuk menyerang orang lain. Sangsi hukuman bagi murid Kun-lun-pai amat berat kalau mereka melanggar peraturan perguruan.

Ciang Sun dan Kok Han berjalan memanggul barang belanjaan sambil bercakap-cakap. Mereka baru saja pulang da­ri sebuah pasar di dusun kaki pegunungan untuk membeli rempa-rempa dan bumbu-bumbu masak karena persediaan di asrama telah habis.

Tiba-tiba keduanya berhenti me­langkah dan memandang ke arah kiri da­ri mana mereka mendengar suara orang membentak-bentak. "Engkau harus menjadi tawanan kami, menyerah untuk kami bawa pulang ke Tibet dan menerima keputusan pimpinan kami, atau kalau engkau tidak mau menyerah, terpaksa akan kubunuh di sini!" demikian suara yang membentak itu.

"Siancai....! Puluhan tahun yang lalu, ketika pinto masih agak muda dan bertapa di Himalaya, kalian ini para Lama sudah memburu dan membunuhi para pertapa yang tidak berdosa. Pinto ti­dak mau terlibat dan pergi mengungsi ke Kun-lun-san, dan hari ini, dalam u­sia pinto yang sudah tua, kalian tetap saja melakukan penangkapan dan pembunuhan terhadap kami yang tidak berdosa," terdengar suara yang halus menjawab.

Ciang Sun dan Kok Han sudah menu­runkan bawaan mereka dan dengan hati-hati menyelinap di antara pohon-pohon mendekati tempat itu, kemudian mereka mengintai. Kiranya dua orang pendeta Lama sedang menyeret seorang tosu tua yang kini duduk bersila di atas tanah, pakaiannya robek-robek, dan dua orang Lama itu berdiri dengan sikap mengan­cam di depannya. Dua orang Lama itu berusia sekitar limapuluh tahun, bertubuh tinggi besar, kepala mereka gundul dan pakaian mereka serba kuning dengan jubah luar berwarna merah darah. Ada­pun tosu itu berpakaian putih, kotor dan robek di beberapa bagian, rambut­nya sudah putih semua, panjang dan di­gelung ke atas. Usia tosu itu tentu sudah tujuh puluh tahun.

"Tidak berdosa? Omitohud.... ma­na ada orang mengakui kesalahannya? Kalian ini para pertapa, sejak puluhan tahun yang lalu, di Himalaya telah mempunyai rencana jahat, berniat memberontak dan berusaha menggulingkan kekuasaan Dalai Lama dan merampas kekuasaan. Kalau orang-orang macam kalian ini ti­dak dibasmi, kelak hanya akan menda­tangkan keributan saja!" bentak Lama yang ada codet bekas luka di dahinya.

"Sudahlah, untuk apa bicara panjang lebar dengan dia? Heh, tosu kepa­rat, bukankah engkau seorang di antara mereka yang berani memakai julukan Himalaya Sam Lojin (Tiga Orang Kakek Himalaya) itu dan julukanmu adalah Pek In Tosu?" teriak Lama ke dua yang mukanya bopeng.

"Siancai...., memang pinto disebut Pek In Tosu, dan kami tiga orang kakek dari Himalaya sudah bersumpah tidak akan membiarkan kebencian mengua­sai hati, apalagi memberontak."

"Aahh, tidak perlu banyak cakap lagi!" kata pula si codet. "Kalau hen­dak membela diri, nanti saja di depan pimpinan kami di Lhasa! Hayo ikut dengan kami!"

"Siancai....! Pinto sudah tua, tidak sanggup lagi melakukan perjalanan ke Tibet yang amat jauh itu. Pinto tidak bersedia ikut dengan kalian ke sana."

"Apa? Kalau begitu, kami akan membunuhmu di sini juga!" teriak si muka bopeng.

Dua orang murid Kun-lun-pai yang sejak tadi bersembunyi dan mengintai, menjadi marah sekali dan kesabaran me­rekapun hilang. Sebagai murid-murid Kun lun-pai yang sejak pertama kali masuk ke asrama itu diajarkan sikap pendekar yang menentang penindasan, tentu saja mereka marah melihat sikap dua pendeta Lama itu. Apalagi merekapun seperti murid Kun-lun-pai yang lain, sudah men­dengar akan tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh sekelompok pendeta Lama sebanyak lima orang. Kabarnya, mereka itu menangkapi dan membunuhi para pertapa, terutama para tosu dan hal i­ni sudah menimbulkan perasaan tidak senang dalam hati mereka terhadap para pendeta Lama itu. Kini mereka melihat dan mendengar dengan mata dan telinga sendiri, tentu saja mereka kehabisan kesabaran. Bagaikan dikomando saja, dua orang pemuda itu melompat ke depan dua orang pendeta Lama dengan sikap gagah.

"Kalian ini adalah orang-orang tua yang sudah mencukur gundul rambut dan memakai jubah pendeta!" teriak Ciang Sun, pemuda yang bertubuh tinggi besar. "Akan tetapi tindakan kalian seperti penjahat-penjahat keji saja, hendak memaksakan kehendak kepada orang lain dengan jalan menjatuhkan fitnah keji!"

"Totiang, silakan mundur, biarlah kami berdua yang menghadapi pendeta tersesat ini!" kata Kok Han.

Sementara itu, dua orang pendeta Lama itu saling pandang, kemudian mereka menghadapi dua orang pemuda itu de­ngan alis berkerut. Si codet menyapu dua orang pemuda itu dengan pandang matanya yang liar dan tajam seperti mata harimau, dan suaranya terdengar parau dan penuh teguran.

"Hemm, kalian ini bocah-bocah ingusan dari mana berani mencampuri u­rusan orang-orang tua? Mengingat kali­an masih kanak-kanak, biarlah pinceng berdua memaafkan perbuatan kalian yang lancang ini. Pergilah sebelum kami ke­hilangan kesabaran."

"Kami bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain, akan tetapi kami juga bukan orang yang dapat membiarkan saja terjadinya kesewenang-wenangan dan penindasan. Sejak pertama kali menjadi murid Kun-lun-pai, kami sudah digembleng untuk menentang kejahatan seperti yang kalian lakukan sekarang ini!" kata pula Ciang Sun yang tinggi besar, bertenaga raksasa dan mukanya yang persegi membuat dia nanpak gagah sekali. Kok Han bertubuh sedang, wajahnya bulat dan tampan, apalagi dihias brewok yang terpelihara rapi, membuat diapun nampak gagah.

Dua orang Lama itu saling pandang dan tertawa, lalu Lama yang mukanya bopeng berkata, "Ha-ha-ha, sejak kapan­kah Thian Hwa Tosu ikut-ikutan mencam­puri urusan kami dan berani menentang para Lama dari Tibet?"

Lama yang mukanya terhias codet memandang kepada dua orang pemuda itu dengan mata mencorong, lalu berkata, "Kalian dua orang anak kecil cepat kembali ke Kun-lun-pai dan sampaikan kepada ketua kalian bahwa kami, Lima Hari­mau dari Tibet, tidak ingin melihat Kun-lun-pai mencampuri urusan pribadi kami. Katakan bahwa kami berdua, Thay Ku Lama dan Thay Si Lama, yang menyuruh kalian!"

"Kami tidak diperintah oleh Suhu! Kun-lun-pai tidak tahu menahu akan tindakan kami ini! Kami bertindak atas nama sendiri yang tidak rela melihat kalian mempergunakan kekerasan bertindak sewenang-wenang. Kalau kalian membebaskan totiang ini, baru kami mau sudah!" kata Ciang Sun.

"Siancai....! Ji-wi kong-cu (ke­dua tuan muda) harap berhati-hati dan jangan membela pinto karena hal itu membahayakan keselamatan ji-wi sendi­ri," kata tosu itu dengan wajah khawatir.

"Biarlah totiang, kami yang ber­tanggung jawab," kata Ciang Sun, se­dangkan Kok Han sudah melangkah maju menghadapi dua orang pendeta Lama itu. "Sekali lagi, kami harap kalian pendeta-pendeta tua yang sepatutnya mencari kebaikan dan melaksanakan kebaikan di dunia ini, suka membebaskan totiang ini agar kami dua orang muda ti­dak perlu turun tangan mempergunakan kekerasan!" berkata demikian, Kok Han sudah memasang kuda-kuda dan kedua ta­ngannya dikepal. Juga Ciang Sun sudah berdiri di sebelahnya, juga memasang kuda-kuda, siap untuk bertanding!

Kembali dua orang Lama itu saling pandang, kemudian mereka tertawa dan Thay Si Lama yang bermuka bopeng berkata dengan nada mengejek, "Kami tidak akan membebaskan dia, dan hendak kami lihat kalian ini tikun-tikus cilik da­ri Kun-lun-pai dapat melakukan apakah?"

Ini merupakan tantangan dan tentu saja dua orang pemuda Kun-lun-pai itu menjadi marah, apalagi mereka disebut tikus-tikus cilik Kun-lun-pai yang berarti menghina pula perkumpulan mereka.

"Engkau memang Pendeta sesat yang jahat!" bentak Ciang Sun sambil menye­rang Thay Si Lama si muka bopeng.

"Kalian memang patut dihajar agar tidak membikin kacau lagi di daerah Kun-lun-pai!" bentak Kok Han yang juga sudah menerjang Thay Ku Lama, yaitu pendeta Lama yang bermuka codet.

"Plak! Plak!"

Pukulan dua orang pemuda itu sama sekali tidak ditangkis oleh dua oraag Lama itu, bahkan diterima dengan dada terbuka. Kepalan kanan dua orang pemu­da itu dengan tepat mengenai dada mereka, akan tetapi apa yang terjadi? Dua orang pemuda itu terpental ke belakang dan terbanting roboh bergulingan! Ketika bangkit kembali, mereka menyeringai kesakitan karena kepalan tangan kanan mereka telah menjadi bengkak dan mem­biru! Dasar orang muda yang kurang pe­ngalaman. Hal itu tidak membuat mereka menjadi jera, bahkan mereka merasa penasaran sekali. Dengan tangan kiri, mereka mencabut pedang dari pinggang masing-masing dan mereka berduapun menyerbu ke depan, menusukkan pedang me­reka ke arah dada dua prang pendeta Lama itu,

Kini dua orang pendeta Lama itu menggerakkan tangan, menyambut pedang itu dengan tangan telanjang. Pedang dari dua orang pemuda itu bertemu dengan telapak tangan mereka yang mencengke­ram.

"Krekkk! Krekkk!" Dua batang pedang itu patah dan hancur dalam ceng­keraman dua orang kakek Lama itu dan sebelum dua orang pemuda itu hilang rasa kaget mereka, Thay Ku Lama si muka codet sudah melangkah maju, dua kali tangannya bergerak ke arah pundak dua orang murid Kun-lun-pai itu dan merekapun roboh terjungkal dan tidak mampu bergerak lagi karena jalan darah mere­ka telah tertotok! Mereka telentang dan hanya dapat memandang dengan mata melotot.

Thay Si Lama yang mukanya bopeng mencela temannya. "Suheng, kenapa ti­dak habiskan saja mereka ini? Dari pada kelak menjadi penyakit, biar kuha­biskan saja nyawa mereka!" Berkata de­mikian, Thay Si Lama melangkah maju dan tangannya sudah bergerak hendak memberi pukulan maut kepada dua orang murid Kun-lun-pai yang sudah tidak berdaya itu.

"Siancai...., kalian terlalu kejam, tidak mungkin pinto tinggal diam saja!" Tiba-tiba kakek yang berpakaian putih dan rambutnya yang putih digelung ke atas itu sudah berkelebat dan nampak bayangan putih, tahu-tahu pukulan yang dilepaskan Thay Si Lama ke a­rah dua orang pemuda itu telah tertangkis.

"Dukkk!" Dua lengan bertemu dan akibatnya, Thay Si Lama terdorong ke belakang dan terhuyung. Kini mereka ber­dua berdiri menghadapi tosu itu dan muka Thay Si Lama yang bopeng itu menja­di merah padam.

"Omitohud, bagus sekali! Sekarang Pek In Tosu unjuk gigi dan melawan ka­mi!" kata Thay Ku Lama si muka codet sambil menyeringai mengejek. "Mengapa tadi pura-pura alim dan sama sekali tidak melakukan perlawanan?"

"Siancai....! Sudah puluhan tahun kami para pertapa mencoba untuk melenyapkan semua bentuk nafsu, dan kami pantang mempergunakan kekerasan. Akan tetapi, melihat betapa kalian hendak membunuh dua orang muda yang sama sekali tidak berdosa, bagaimana mungkin pinto mendiamkannya saja? Kalian telah menghajar dua orang bocah ini untuk kelancangan mereka, akan tetapi kenapa hendak kalian bunuh? Apakah kalian ju­ga sudah siap untuk menentang Kun-lun-pai?"

"Pek In Tosu, semua orang tahu bahwa engkau adalah seorang di antara Himalaya Sam Lojin yang kabarnya memiliki ilmu kesaktian luar biasa. Akan tetapi jangan mengira kami Lima Hari­mau Tibet akan gentar menghadapimu. Nah, keluarkanlah kesaktianmu karena kami hendak membunuh engkau dan juga dua orang bocah ini!" kata Thay Ku La­ma dan pendeta Lama yang mukanya codet dan perutnya gendut itu tiba-tiba memasang kuda-kuda yang aneh, yaitu seperti orang berjongkok, kedua lengan ditekuk dengan tangan membentuk cakar, te­lentang di kanan kiri dada, dan perut­nya yang gendut itu makin lama semakin menggembung ketika dia menyedot napas sebanyaknya sampai keluar suara angin berdesis. Lalu dari dalam perutnya terdengar suara "kok-kok!" dan kedua ta­ngan yang tadinya telentang itu kini menelungkup perlahan-lahan, seluruh tubuhnya tergetar dan seluruh syarafnya menegang karena dia siap melancarkan pukulan maut yang amat dahsyat. Agak­nya, menghadapi seorang di antara Himalaya Sam Lojin, Lama yang mukanya co­det dan perutnya gendut ini hendak mengeluarkan ilmu simpanannya agar de­ngan sekali pukul atau sekali serang dia sudah akan mampu merobohkan lawan­nya yang dia duga tentu lihai sekali.

Diam-diam Pek In Tosu terkejut. Dia sudah pernah mendengar akan ilmu yang kini diperlihatkan lawannya itu. Itu adalah sejenis pukulan jarak ja­uh yang mengandalkan sin-kang dan khi-kang, yang dinamakan Hek-in Tai-hong-ciang (Tangan Sakti Awan Hitam dan Ba­dai). Dari perut gendut yang menggem­bung itulah datangnya dorongan tenaga sakti yang amat ampuh. Maklum bahwa lawan telah mengeluarkan ilmu simpanan­nya, siap menyerangnya, Pek In Tosu berkata lembut.

"Siancai...., pinto melanggar pantangan, semoga mendapat pengampunan....!" Dan kakek inipun menggerakkan kedua lengannya, diputar seperti mem­bentuk bulatan-bulatan yang saling do­rong, tubuhnya makin direndahkan dan kedua kakinya dipentang lebar, lalu kedua tangannya berhenti bergerak, sa­ling bertemu di depan dada seperti me­nyembah dan diapun sudah siap menanti serangan dahsyat dari lawannya.

Bunyi kok-kok-kok dari perut Thay Ku Lama semakin keras dan semakin ce­pat dan dari kedua telapak tangannya mengepul uap hitam! Telapak tangan i­tupun berubah kehitaman. Sungguh dahsyat bukan main ilmu ini, dahsyat dan amat berbahaya bagi lawan. Pek In Tosu melihat ini semua, namun dia masih tetap tenang saja, bukan tanang meman­dang rendah, melainkan tenang menghe­dapi apapun yang terjadi dan yang akan menimpa dirinya.

Tiba-tiba Thay Ku Lama yang membuat kuda-kuda seperti seekor katak i­tu, menerjang dan tubuhnya meloncat ke atas depan, bunyi kok-kok semakin ke­ras dan tiba-tiba ada angin besar sekali menyambar ke arah Pek In Tosu dan angin keras itu membawa tenaga pukulan dahsyat dan uap hitam! Bakan main dahsyatnya serangan ini. Angin itu saja mengandang tenaga sakti yang amat ku­at dan mampu merobohkan lawan, asap hitam itupun mengandung racun yang berbahaya, apa lagi kalau tubuh lawan sam­pai tersentuh oleh kedua telapak tangan hitam itu.

Akan tetapi, tiba-tiba dari kedua telapak tangan Pek In Tosu keluar asap putih! Itulah ilmu kesaktian Pek In Sin-ciang (Tangan Sakti Awan Putih) yang menyambar ke depan, menyambut a­ngin dan asap hitam dari pukulau lawan. Kaki kakek tua itu bergeser ke kiri dan kedua tangannya membuat gerakan memutar dari kiri, menangkis kedua ta­ngan lawan yang digerakkan lurus ke depan seperti orang mendorong daun pin­tu.

"Plak! Plakk!" Dua pasang tangan bertemu, dan akibatnya, tubuh gendut dari Thay Ku Lama terpelanting ke kiri.

Akan tetapi, kuda-kuda Pek In Tosu ju­ga terguncang sehingga kakek itu terpaksa melangkah mundur tiga langkah untuk mengembalikan keseimbangan tubuhnya. Pada saat itu, dari arah kanan Thay Si Lama telah menyerangnya. Lama bermuka bopeng ini juga lihai bukan main dan begitu menyerang, dia telah mengeluarkan ilmu simpanannya yaitu yang disebut Sin-kun Hoat-lek (Ilmu Sihir Silat Sakti). Bukan saja kedua tangan itu membagi-bagi tamparan dan totokan maut, akan tetapi juga dari kedua te­lapak tangan itu keluar angin pukulan dahsyat yang mengeluarkan suara bercu­itan, dan juga mengandung tenaga muji­jat dari ilmu sihir yang membuat kedua tangan itu seolah-olah berubah menjadi puluhan banyaknya dan menyerang dari semua sudut!

Melihat ini, Pek In Tosu memuji dan berseru, "Siancay....!" Dilanjut­kan dengan pembacaan mantram dan diapun tetap mempergunakan ilmu pukulan sakti Pek In Sin-ciang. Terjadilah pertandingan silat yang aneh dan seru. Semua sambaran tangan Thay Si Lama yang disertai hawa mujijat itu seperti ter­tolak mundur semua oleh awan putih yang keluar dari kedua telapak tangan Pek In Tosu. Bahkan kini asap atau a­wan putih semakin besar dan semakin tebal, mendesak Thay Si Lama yang mulai main mundur! Melihat ini, Thay Ku La­ma mengeluarkan suara kok-kok-kok lagi dan diapun membantu sutenya, mengero­yok Pek In Tosu!

Dikeroyok dua oleh dua orang Lama yang sakti itu, Pek In Tosu yang sudah tua sekali itu kelihatan terdesak! Se­betulnya dengan tenaga sin-kangnya yang setingkat lebih kuat, dan keringanan tubuhnya yang memudahkan dia untuk berkelebat menghindarkan diri dari pukulan-pukulan daheyat kedua orang lawannya, Pek In Tosu tidak perlu terdesak. Namun, usianya sudah tujuh puluh tahun dan tubuhnya sudah mulai lemah dimakan uiia, juga selama puluhan tahun ini dia tidak pernah bertanding, maka tentu saja dia kewalahan dan akhirnya terdesak. Kedua orang lawannya, dua orang pendeta Lama yang usianya baru lima puluhan tahun itu, agaknya memang terlatih dan mereka seringkali berkelahi maka gerakan mereka lebih lincah dan juga daya tahan mereka lebih kuat.

Tiba-tiba Pek-sin Tosu berseru, "Siancai....!" dan dia lalu duduk ber­sila di atas tanah! Thay Ku Lama dan Thay Si Lama tertegun menahan gerakan mereka, terheran-heran melihat lawan mereka kini tiba-tiba duduk bersila dan memejamkan mata seperti orang bersamadhi, kedua telapak kaki telentang di atas paha, itulah duduk bersila da­lam kedudukan Teratai yang kokoh kuat. Mereka mengira bahwa kakek itu sudah kelelahan dan pasrah mati maka keduanya lalu saling pandang dan Thay Ku Lama menghantamkan tangan kanannya ke a­rah ubun-ubun kepala Pek In Tosu. Ilmu Hek-in Tai-hong-ciang hanya dapat dilakukan dalam keadaan berjongkok menye­rang ke atas, ke arah lawan yang berdiri. Kini lawannya duduk bersila, maka tentu saja dia tidak dapat menggunakan tenaga katak sakti itu! Dia menghantam dengan telapak tangan terbuka ke arah ubun-ubun kepala dan kalau mengenai sasaran, tak dapat diragukan lagi lawan­nya tentu akan tewas seketika!

Pek In Tosu mengangkat tangan ki­rinya menangkis.

"Dukkk!" Tubuh Thay Ku Lama terpental! Kiranya kakek tua renta itu duduk bersila bukan karena putus harapan dan menerima binasa, melainkan dia mengam­bil sikap bertahan dan melindungi tu­buhnya secara yang paling istimewa dan paling kuat! Kedudukan seperti Teratai itu memang merupakan cara bersila yang paling kokoh kuat seperti piramida, dan seolah-olah kakek itu dapat menye­dot hawa bumi yang membuat tubuhnya kuat sekali dan tangkisannya membuat la­wan terpental! Thay Si Lama menjadi penasaran dan diapun menyerang dari arah belakang. Akan tetapi, kembali Pek In Tosu menangkis, tangannya diangkat ke arah belakang dan begitu kedua tangan bertemu, tubuh Thay Si Lama terpental dan terhuyung!

Dua orang pendeta Lama itu menja­di semakin penasaran. Mereka adalah dua orang tokoh yang kenamaan, dua di antara Lima Harimau Tibet yang sudah amat terkenal. Sejak belasan tahun ini mereka adalah tulang punggung dari pemerintahan Dalai Lama. Merekalah yang menjaga kedaulatan dan kekuasaan Dalai Lama sehingga ditaati oleh jutaan orang ma­nusia! Selama ini, belum pernah Harimau Tibet bertemu tanding. Mustahil kalau kini, menghadpi seorang pertapa tua renta saja, mereka sampai tidak mampu merobohkan, padahal pertapa itu kini sama tidak dapat membalas lagi, hanya duduk bersila sambil membela diri!

Namun, berkali-kali menyerang, baik bergantian maupun berbareng dan hasilnya sama saja. Setiap kali ditangkis, mereka terpental dan terhu­yung, bahkan pernah hampir terjengkang. Agaknya, makin keras mereka mempergunakan tenaga, semakin kuat pula tolakan Pek In Tosu yang menangkis mereka. Ke­duanya saling pandang, memberi isarat dengan kedipan mata dan tiba-tiba merekapun menghentikan serangan mereka dan berdiri di depan dan belakang Pek In Tosu dalam jarak kurang lebih tiga me­ter. Kemudian, mulailah mereka berjalan mengitari kakek yang duduk bersila itu dan keduanya mulai mengeluarkan lagu-lagu pujaan atau nyanyian yang biasa­nya mereka nyanyikan di dalam kuil me­reka untuk memuja para dewa. Akan tetapi, lagu yang mereka nyanyikan ini la­in lagi, ada hubungannya dengan ilmu sihir dan nyanyian ini bukan untuk me­muja para dewa saja, melainkan juga untuk mengundang setan dan meminjam kekuasaan setan untuk mengalahkan musuh!

Suara nyanyian itu aneh dan menyeram­kan. Suara Thay Ku Lama parau dan besar, dan kadang-kadang di dalam suara­nya ada selingan suara kok-kok-kok se­perti kalau dia mengerahkan ilmu Hek-in Tai-hong-ciang, sedangkan suara Thay Si Lama yang bermuka bopeng itu tinggi mencicit seperti suara seekor tikus yang terjepit. Suara nyanyian itu bu­kan suara sembarangan, melainkan dike­luarkan dengan tenaga khi-kang dan si­hir, suara itu makin lama semakin menggetar dan berirama, dan dua orang pen­deta Lama itu bernyanyi sambil melangkah mengelilingi tubuh Pek In Tosu dan kini kepala mereka menggeleng-ge­leng menurutkan irama lagu mereka! Aneh memang! Makin lama, nyanyian mere­ka itu seolah-olah terseret oleh gelombang suara nyanyian mereka.

Mula-mula, tubuh Pek In Tosu gemetar, kemudian, dari kepalanya keluar uap putih tipis yang membubung ke atas. Itulah tandanya bahwa dia sedang berjuang mati-matian untuk melawan pengaruh hebat dari nyanyian itu! Pek In Tosu bukanlah seorang yang lemah batinnya. Sebaliknya, karena hasil samadhi yang berpuluh tahun, dia memiliki batin yang amat kuat dan tidak mudah dia dipenga­ruhi kekuatan apapun dari luar. Namun, diserang oleh kekuatan suara itu, dia harus mengerahkan seluruh tenaga batinnya untuk tidak terpengaruh. Suara itu tetap saja terdengar biarpun dia beru­saha mematikan pendengarannya, seolah-olah suara itu mempunyai kekuatan gaib untuk menembus dirinya tanpa melalui alat pendengaran! Dan getaran yang disebabkan suara itu membuat tubuhnya gemetar. Diapun lalu melawan, mengerahkan khi-kang dan dari kepalanya keluar uap putih yang makin lama semakin menebal. Akan tetapi, pertahanannya agaknya go­yah karena perlahan-lahan akan tetapi pasti, kepala Pek In Tosu mulai bergo­yang-goyang perlahan-lahan! Makin la­ma, goyangan kepala Pek In Tosu sema­kin nyata dan mengarah geleng-geleng kepala seperti yang dilakukan oleh dua orang penyerangnya!

Keadaan kakek tua renta itu kini gawat sekali. Ilmu yang dilakukan oleh dua orang itu adalah semacam ilmu I-hu-to-hoat (hypnotism) melalui pengaruh suara yang mengandung sihir. Kalau Pek In Tosu sudah benar-benar mengikuti irama nyanyian itu berarti dia sudah kena dicengkeram dan tentu dia akan mudah dirobohkan dan dibunuh karena semangatnya seolah-olah sudah di dalam cengkeraman kekuasaan dua orang pendeta Lama itu!

Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan nyawa Pek In Tosu itu, tiba-tiba di dalam kesunyian tempat yang amat sepi itu terdengar suara yang memecahkan kesunyian. Tadinya hanya suara nyanyian aneh kedua orang pendeta Lama itu yang terdengar, dengan irama yang semakin mantap. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara tak-tok-tak-tok yang nyaring, suara bambu dipukul-pukulkan pada batu! Suara inipun nyaring sekali, tidak kalah oleh nyaringnya suara nyanyian, dan berirama pula, akan tetapi iramanya sama sekali tidak serasi dengan irama nyanyian dua orang pendeta Lama! Bahkan sebaliknya, irama tak-tok-tak-tok itu menjadi lawan dan menjadi kebalikannya dan tentu saja kini terdengar suara yang kacau balau karena irama nyanyian itu bertabrakan dengan irama bambu yang dipukul-pukul batu. Siapakah yang memukuli batu dengan bambu itu?

Tak jauh dari situ nampak seorang anak laki-laki yang menggunakan sepotong bambu memukuli batu besar di depannya. Irama pukulan bambu itu bertolak belakang dengan irama nyanyian dua orang pendeta Lama, maka tentu saja hal ini mengganggu konsentrasi, bahkan mengacaukan "paduan suara" antara mereka. Dua orang pendeta Lama itu terkejut dan marah, dan mereka cepat-cepat menyesuaikan irama nyanyian mereka dengan ketukan irama bambu, karena kalau irama mereka bersatu, maka kekuatan daya serangan dari suara mereka akan menjadi semakin mantap dan besar. Seperti orang bernyanyi yang diiringi musik, akan menjadi semakin enak didengar dan menghanyutkan. Sejenak mereka berhasil dan nyanyian mereka itu menjadi semakin mantap, dan kini Pek In Tosu makin mengikuti bunyi nyanyian itu, mengikuti iramanya dengan geleng-geleng kepa­la! Akan tetapi hanya sebentar saja karena ketukan bambu itu kini berubah lagi iramanya, kembali menjadi berlawan­an dengan irama nyanyian dua orang pendata Lama, bahkan kini ketukannya men­jadi keras dan iramanya sengaja dibuat kacau-balau, kadang-kadang cepat, ka­dang-kadang sedang dan berubah lagi menjadi lambat, kadang-kadang iramanya satu-satu, dua-dua, berubah menjadi satu-dua satu-tiga, dua-tiga dan sebagainya. Tentu saja tidak mungkin bagi dua orang kakek Lama untuk menyesuaikan lagi irama nyanyian mereka dan kini bu­nyi-bunyian yang terdengar demikian kacau balau sehingga daya hanyutnya men­jadi kacau dan lemah sekali, dan Pek In Tosu, seperti orang yang baru sa­dar bahwa tadi dia telah hanyut, kini nampak duduk bersila dengan tegak lu­rus dan sama sekali tidak bergerak! Dari kepalanya juga tidak lagi keluar u­ap putih, dan kepalanya tidak lagi di­geleng-gelengkan. Bahkan dua orang pendeta Lama yang tadinya mengitari Pek In Tosu sambil bernyanyi dan mengge­leng-geleng kepala memantapkan irama nyanyian mereka, kini langkah-langkah kaki mereka kacau, dan gelengan kepala mereka ngawur dan kacau, kaku dan ka­dang-kadang keliru menjadi angguk-ang­gukan!

Anak laki-laki itu berusia kurang lebih tiga belas tahun dengan pakaian yang sudah kumal den robek-robek seperti pakaian seorang gelandangan. Rambutnya panjang den tidak terawat, awut-awutan, sebagian menutupi dahi dan mu­kanya. Wajah itu tidak buruk, bahkan bentuknya tampan, matanya lebar dan memiliki sinar terang, sepasang mata yang jernih dan jeli seperti mata burung Hong, namun wajah itu mendatangkan ra­sa iba bagi yang melihatnya. Punggung­nya bongkok dan agaknya ada daging me­nonjol di punggung itu.

Anak itu bukan lain adalah Sie Liong! Seperti kita ketahui, Sie Liong merasa selalu berduka dan gelisah se­jak terjadi peristiwa perkelahian antara dia yang membantu Yauw Bi Sian melawan Lu Ki Cong dan kawan-kawannya. Dia menerima kemarahan dari cihu-nya, bah­kan menerima pukulan yang membuat kepalanya berdenyut nyeri dan punggungnya lebih nyeri lagi. Dan dia mendengar bahwa Lu Ki Cong, putera Lu-ciangkun komandan pasukan keamanan di kota Sung-jan itu bahkan telah disepakati akan menjadi calon jodoh Bi Sian!

Semenjak itu, hatinya selalu merasa tidak tenang, apalagi ketika mere­ka melakukan sembahyangan dan dia men­dengar bahwa ayah ibunya meninggal du­nia karena penyakit menular di dusun mereka, yaitu Tiong-cin, hatinya mera­sa semakin berduka dan gelisah. Pada suatu malam, ketika dia tidak dapat pulas dan selalu gelisah, dia meninggal­kan kamarnya yang berada di ujung belakang, lalu berjalan ke kebun samping rumah. Tiba-tiba dia mendengar suara encinya bercakap-cakap dengan cihu-nya dan dari suara cihu-nya, dia tahu bahwa cihu-nya itu sedang marah dan suaranya keras! Memang kamar enci dan cihu-nya itu menghadap ke kebun dan suara itu keluar melalui celah-celah jendela me­reka yang tertutup. Kamar Bi Sian ber­ada di sebelah lagi, dan jendela kamar gadis cilik itu telah gelap, tanda bahwa ia tentu telah tidur. Sebaliknya, dari jendela kamar encinya nampak cahaya lampu belum dipadamkan.

"Jelas bahwa dia salah besar!" terdengar suara cihu-nya membentak nyaring. "Pertama, dia mencuri belajar ilmu si­lat padahal sudah kularang dia belajar silat! Ke dua, dia berani mencari keributan dan berkelahi dengan anak-anak, bahkan memukul dan menggigit putera Lu-ciangkun yang hendak kujodohkan dengan Bi Sian. Anak itu memang keterla­luan, dan engkau bahkan membela anak bongkok jelek itu!"

"Apa? Bongkok jelek katamu? Ja­ngan kaukira aku tidak tahu bahwa eng­kaulah yang membuat dia menjadi bong­kok!"

"Eh? Apa yang kaukatakan itu?" cihu-nya bertanya kaget, sama kagetnya dengan dia sendiri mendengar ucapan encinya itu.

"Ya, engkau yang membuat dia men­jadi bongkok! Karena engkau takut kepadanya! Itu pula sebabnya engkau mela­rang dia belajar silat. Engkau takut kepadanya!"

"Ssttt....! Lan Hong, apa yang kaukatakan ini?"

Terdengar encinya menangis. "Setelah.... setelah apa yang kulakukan untukmu semua.... setelah kuserahkan badanku, Cintaku, kesetiaanku padamu, hanya dengan harapan agar adikku diselamatkan...., masih kurang besarkah pengorbananku? Dia sudah menjadi bong­kok, cacat, dan engkau.... masih juga membencinya?"

"Kau keliru, Lan Hong. Engkau tahu bahwa akupun suka padanya, hanya aku...., benarlah, aku khawatir dan kaupun tahu betapa aku cinta padamu. Aku telah merobah hidupku, mencari nama baik dan kedudukan yang terpandang. Semua ini untukmu dan untuk Bi Sian. Akan tetapi adikmu itu.... dia seakan-akan menjadi penghalang kebahagiaan kita.... aku selalu khawatir dan kadang-­kadang aku bermimpi buruk, tak dapat tidur...."

Hening sejenak, lalu terdengar encinya berkata lirih. "Aku dapat memaklumi perasaan hatimu, akan tetapi.... aku tetap menuntut agar adikku yang tunggal itu tidak diganggu!"

"Lan Hong, demi kebahagiaan kita, anak itu harus disingkirkan."

"Apa?" Encinya setengah menjerit. "Maksud.... maksudmu....?"

"Biar kutitipkan dia di sebuah kuil besar, agar di sana dia dapat menjadi seorang kacung, dan mudah-mudahan kelak dia menjadi seorang hwesio. Bu­kankah hal itu amat baik baginya? Men­jadi seorang hwesio adalah kedudukan yang terhormat, mulia dan disegani orang."

"Ahhh.... tapi.... tapi...."

"Tidak ada tapi lagi, isteriku yang manis. Bukankah engkau menghendaki agar kebahagiaan kita tidak tergang­gu dan keselamatan adikmu terjamin pu­la?"

Setelah hening sampai lama, enci­nya berkata, "Baiklah, akan tetapi aku harus tahu di kuil mana dia dititip­kan, dan aku dapat mengunjunginya dan menjenguknya sewaktu-waktu...."

Sie Liong tidak mendengarkan terus. Cepat dia kembali ke kamarnya dan dia duduk di atas pembaringannya dengan muka pucat dan bengong. Ingin rasanya dia menangis, menjerit-jerit sa­king nyeri rasa hatinya. Akan tetapi dia bertahan, bahkan menutupi mulutnya yang mulai terisak-isak itu dengan bantal.

Dia hendak disingkirkan? Dititipkan dalam kuil? Tidak! Dia tidak akan menyusahkan cihu-nya lagi! Dia tidak akan membuat encinya cekcok dengan suami encinya. Bagaimanapun juga, dia dapat menduga bahwa cihu-nya tidak suka kepadanya, bahkan membencinya. Bukankah encinya mengatakan bahwa cihu-nya yang membuat dia menjadi bongkok? Ucapan ini mengejutkan dan juga membuat dia terheran-heran dan tidak mengerti. Dan cihunya takut kepadanya? Menggelikan dan mustahil! Cihunya, yang demikian gagah perkasa, yang tinggi ilmu silatnya, takut kepadanya, seorang anak bongkok yang lemah? Dan mengapa pula mesti takut? Tidak, dia tidak akan menyusahkan mereka lagi. Dia mengeraskan hatinya dan menghentikan tangisnya, lalu dengan perlahan-lahan agar gerak-geriknya tidak terdengar dari luar, dia mengumpulkan pakaiannya, membungkusnya dengan kain menjadi buntalan yang cu­kup besar. Kemudian dia menulis sehelai surat di atas mejanya.


Enci Lan Hong dan cihu,

Maafkan saya. Saya pergi tanpa pamit, hendak kembali ke dusun Tiong-cin di utara, selamat tinggal.

Sie Liong.


Biarpun dia baru berusia tiga belas tahun, namun Sie Liong yang bongkok i­tu memiliki otak yang cerdik. Dengan sengaja dia meninggalkan surat, menu­lis bahwa dim hendak pergi ke Tiong-cin. Padahal, setelah dia meninggal­kan rumah cihu-nya membawa buntalan di punggungnya yang bongkok, dia sama se­kali tidak pergi ke utara, melainkan ke selatan! Akan tetapi, dia sengaja keluar dari pintu gerbang kota itu se­belah utara, dan sengaja melalui jalan yang ramai sehingga nampak oleh beberapa orang ketika dia pergi melalui pin­tu gerbang kota sebelah utara. Begitu tiba di luar pintu gerbang, memasuki malam yang gelap, dia lalu menyelinap dan mengambil jalan memutar, melalui sawah yang sunyi, mengelilingi tembok kota itu dan melanjutkan perjalanan menuju ke selatan! Tidak ada seorangpun yang melihatnya karena selain waktu sudah lewat tengah malam, juga Sie Liong dengan hati-hati sekali mengambil ja­lan sunyi yang sudah dikenalnya.

Perhitungan anak ini memang tepat sekali. Pada keesokan harinya, ketika mendapatkan surat Sie Liong di atas meja, Lan Hong menangis sedih dan suami­nya cepat melakukan pengejaran ke uta­ra tentu saja! Apa lagi ketika Yauw Sun Kok mendengar keterangan beberapa orang yang sempat melihat Sie Liong di malam hari itu, membawa buntalan menu­ju ke pintu gerbang utara. Dari para petugas jaga di pintu gerbangpun dia mendengar bahwa memang benar anak bongkok itu semalam lewat dan keluar dari pintu gerbang itu menuju ke utara, melalui jalan besar.

Yauw Sun Kok melakukan perjalanan cepat, berkuda, mengejar terus ke uta­ra. Akan tetapi sampai sehari dia melakukan perjalanan, belum juga dia berhasil menyusul Sie Liong! Tadinya dia mengira bahwa tentu anak itu mendapatkan boncengan ke utara, akan tetapi sete­lah sehari dia gagal, dia kembali lagi dan kehilangan jejak anak itu. Tidak ada orang yang melihatnya, dan dia mengira bahwa tentu anak itu telah meng­ambil jalan menyimpang. Akan tetapi jalan yang mana dan ke kanan atau ki­ri? Akhirnya, diapun pulang dengan wa­jah lesu. Dia tidak begitu susah di­tinggal pergi adik isterinya itu, akan tetapi ada dua hal yang membuatnya ge­lisah. Pertama, isterinya tentu akan berduka, dan ke dua, dan ini yang amat mengganggunya, dia tetap mengkhawatir­kan kalau-kalau kelak Sie Liong akan membalas dendam atas kematian kedua o­rang tuanya. Akan tetapi, apa yang perlu ditakutinya? Anak itu bongkok dan cacat! Seperti telah diduganya, isterinya menjadi berduka dan dia harus ber­usaha keras untuk menghibur hati iste­rinya, mengatakan bahwa Sie Liong su­dah cukup dewasa untuk mengurus diri­nya sendiri, dan bahwa kebetulan seka­li Sie Liong pergi karena kehendak sendiri, jadi mereka tidak perlu menyuruh­nya atau membawanya pergi.

Demikianlah, Sie Liong melakukan perjalanan seorang diri, manuju ke se­latan. Dia selalu menghindarkan diri agar jangan bertemu orang selama beberapa hari itu, agar tidak ada orang dari kota Sung-jan yang akan melihatnya dan kemudian melaporkannya kepada cihu-nya. Dia memilih jalan liar melalui hutan-hutan dan pegunungan dan inilah yang mencelakakan dia.

Kurang lebih sebulan sesudah dia meninggalkan rumah encinya, dia berja­lan melalui sebuah hutan besar pada suatu pagi yang sejuk. Setiap harinya Sie Liong melakukan perjalanan dan dia ma­kan darimana saja. Kadang-kadang dia mendapat belas kasihan orang yang memberinya makan, dan ada kalanya dia ha­rus menjual beberapa potong pakaiannya untuk ditukar dengan makanan. Bahkan pernah dia hanya makan sayur-sayur yang didapatkannya di ladang orang untuk sekedar menahan lapar. Malam tadi, ada seorang petani yang baik hati menerimanya di rumahnya. Sie Liong membantu petani itu membelah kayu bakar den dia­pun mendapatkan tempat tidur dan makan malam yang cukup mengenyangkan perut­nya. Bahkan pagi tadi ketika dia pergi, keluarga petani itu memberinya sarapan dan memberinya bekal roti kering dan sayur asin kering! Maka, pagi itu Sie Liong berjalan dengan tegap dan kaki ringan, hatinya gembira karena semalam dia mendapatkan bahwa masih banyak o­rang yang baik hati di dunia ini. Kehangatan yang dirasakannya ketika keluarga petani itu menerimanya membuat dia merasa bahagia di pagi hari itu.

Tiba-tiba dia dikejutkan oleh munculnya lima orang yang berloncatan dari balik batang-batang pohon. Lima orang itu berwajah bengis menyeramkan. Kalau saja mereka itu tidak berpakaian, tentu Sie Liong akan mengira mereka binatang-binatang sebangsa kera besar. Tubuh dan pakaian mereka kotor dan pandang mata mereka bengis den buas. Akan tetapi karena mereka berpakaian, maka Sie Liong kehilangan kekagetannya den tersenyum kepada mereka.

"Aih, paman sekalian membikin ka­get saja padaku," katanya sambil membetulkan letak buntalan di punggungnya.

"Huh, kiranya hanya anak anjing buduk!" kata seorang.

"Anjing cilik, punggungnya bongkok lagi!" kata orang ke dua.

Wajah Sie Liong menjadi merah dan dia memandang kepada dua orang itu de­ngan mata melotot penuh kemarahan. "Paman-paman adalah orang-orang dewasa, kenapa suka menghina anak-anak? Punggungku memang bongkok, apa sangkut pautnya dengan kalian? Kurasa bongkokku tidak merugikan orang lain termasuk kalian!"

"Wah, anjing cilik gonggongnya sudah nyaring!" teriak seorang di antara mereka, yang mukanya penuh brewok dan matanya lebar kemerahan. Dia adalah pemimpin gerombolan itu dan kini dia menghampiri Sie Liong dengan golok besar di tangan kanan. Golok itu berkilauan saking tajamnya dan si brewok sudah menempelkan mata golok ke leher Sie Liong. Terasa oleh Sie Liong betapa golok itu tajam sekali menempel di kulit lehernya. Sedikit saja digerakkan, tentu lehernya akan putus! Akan tetapi, sedikitpun dia tidak merasa gentar, bahkah dia molotot dengan marah, walaupun maklum bahwa dia tidak berdaya dan melawanpun berarti hanya membunuh diri.

"Anjing galak, apakah engkau i­ngin mampus dengan leher buntung?" bentak si brewok. "Hayo jawab!"

Betapapun marahnya, Sie Liong maklum bahwa orang ini jahat dan kejam luar biasa dan kalau dia tidak menjawab, orang ini akan marah dan bukan mustahil lehernya akan disembelih. Maka dia menggeleng sambil berkata dengan suara lirih, bukan karena takut melainkan karena hati-hati agar suaranya tidak terdengar menyatakan kemarahan hatinya. "Tidak."

"Ha-ha-ha! Kalau begitu biarlah kepalamu masih menempel di tubuhmu, a­kan tetapi buntalanmu harus kautinggalkan!" berkata demikian, dengan tangan kirinya kepala gerombolan itu merenggut buntalan pakaian Sie Liong lepas dari punggungnya, lalu mondorong sehingga anak itu terjengkang dan kepalanya ter­banting ke atas tanah dengan kerasnya. Sie Liong merasa kepalanya pening, akan tetapi dia cepat bangkit dan berkata dengan suara yang tak dapat disembunyikan lagi kemarahannya.

"Milikku hanya itu, pakaian-pakaian untuk pengganti. Kembalikan, kalian orang-orang jahat!"

Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus dan bermuka pucat, terbelalak menghampiri Sie Liong de­ngan marah. "Apa? Engkau ini masih belum cukup dihajar rupanya!" Tangannya meralh dan terdengar suara membrebet ketika dia merenggut pakaian yang me­nempel di tubuh Sie Liong. Pakaian itu robek dan terlepas sehingga anak itu kini telanjang bulat! Lima orang itu tertawa bergelak.

Dia hendak disingkirkan? Dititipkan dalam kuil? Tidak! Dia tidak akan menyusahkan cihu-nya lagi! Dia tidak akan membuat encinya cekcok dengan suami encinya. Bagaimanapun juga, dia dapat menduga bahwa cihu-nya tidak suka kepadanya, bahkan membencinya. Bukankah encinya mengatakan bahwa cihu-nya yang membuat dia menjadi bongkok? Ucapan ini mengejutkan dan juga membuat dia terheran-heran dan tidak mengerti. Dan cihunya takut kepadanya? Menggelikan dan mustahil! Cihunya, yang demikian gagah perkasa, yang tinggi ilmu silatnya, takut kepadanya, seorang anak bongkok yang lemah? Dan mengapa pula mesti takut? Tidak, dia tidak akan menyusahkan mereka lagi. Dia mengeraskan hatinya dan menghentikan tangisnya, lalu dengan perlahan-lahan agar gerak-geriknya tidak terdengar dari luar, dia mengumpulkan pakaiannya, membungkusnya dengan kain menjadi buntalan yang cu­kup besar. Kemudian dia menulis sehelai surat di atas mejanya.


Enci Lan Hong dan cihu,

Maafkan saya. Saya pergi tanpa pamit, hendak kembali ke dusun Tiong-cin di utara, selamat tinggal.

Sie Liong.


Biarpun dia baru berusia tiga belas tahun, namun Sie Liong yang bongkok i­tu memiliki otak yang cerdik. Dengan sengaja dia meninggalkan surat, menu­lis bahwa dim hendak pergi ke Tiong-cin. Padahal, setelah dia meninggal­kan rumah cihu-nya membawa buntalan di punggungnya yang bongkok, dia sama se­kali tidak pergi ke utara, melainkan ke selatan! Akan tetapi, dia sengaja keluar dari pintu gerbang kota itu se­belah utara, dan sengaja melalui jalan yang ramai sehingga nampak oleh beberapa orang ketika dia pergi melalui pin­tu gerbang kota sebelah utara. Begitu tiba di luar pintu gerbang, memasuki malam yang gelap, dia lalu menyelinap dan mengambil jalan memutar, melalui sawah yang sunyi, mengelilingi tembok kota itu dan melanjutkan perjalanan menuju ke selatan! Tidak ada seorangpun yang melihatnya karena selain waktu sudah lewat tengah malam, juga Sie Liong dengan hati-hati sekali mengambil ja­lan sunyi yang sudah dikenalnya.

Perhitungan anak ini memang tepat sekali. Pada keesokan harinya, ketika mendapatkan surat Sie Liong di atas meja, Lan Hong menangis sedih dan suami­nya cepat melakukan pengejaran ke uta­ra tentu saja! Apa lagi ketika Yauw Sun Kok mendengar keterangan beberapa orang yang sempat melihat Sie Liong di malam hari itu, membawa buntalan menu­ju ke pintu gerbang utara. Dari para petugas jaga di pintu gerbangpun dia mendengar bahwa memang benar anak bongkok itu semalam lewat dan keluar dari pintu gerbang itu menuju ke utara, melalui jalan besar.

Yauw Sun Kok melakukan perjalanan cepat, berkuda, mengejar terus ke uta­ra. Akan tetapi sampai sehari dia melakukan perjalanan, belum juga dia berhasil menyusul Sie Liong! Tadinya dia mengira bahwa tentu anak itu mendapatkan boncengan ke utara, akan tetapi sete­lah sehari dia gagal, dia kembali lagi dan kehilangan jejak anak itu. Tidak ada orang yang melihatnya, dan dia mengira bahwa tentu anak itu telah meng­ambil jalan menyimpang. Akan tetapi jalan yang mana dan ke kanan atau ki­ri? Akhirnya, diapun pulang dengan wa­jah lesu. Dia tidak begitu susah di­tinggal pergi adik isterinya itu, akan tetapi ada dua hal yang membuatnya ge­lisah. Pertama, isterinya tentu akan berduka, dan ke dua, dan ini yang amat mengganggunya, dia tetap mengkhawatir­kan kalau-kalau kelak Sie Liong akan membalas dendam atas kematian kedua o­rang tuanya. Akan tetapi, apa yang perlu ditakutinya? Anak itu bongkok dan cacat! Seperti telah diduganya, isterinya menjadi berduka dan dia harus ber­usaha keras untuk menghibur hati iste­rinya, mengatakan bahwa Sie Liong su­dah cukup dewasa untuk mengurus diri­nya sendiri, dan bahwa kebetulan seka­li Sie Liong pergi karena kehendak sendiri, jadi mereka tidak perlu menyuruh­nya atau membawanya pergi.

Demikianlah, Sie Liong melakukan perjalanan seorang diri, manuju ke se­latan. Dia selalu menghindarkan diri agar jangan bertemu orang selama beberapa hari itu, agar tidak ada orang dari kota Sung-jan yang akan melihatnya dan kemudian melaporkannya kepada cihu-nya. Dia memilih jalan liar melalui hutan-hutan dan pegunungan dan inilah yang mencelakakan dia.

Kurang lebih sebulan sesudah dia meninggalkan rumah encinya, dia berja­lan melalui sebuah hutan besar pada suatu pagi yang sejuk. Setiap harinya Sie Liong melakukan perjalanan dan dia ma­kan darimana saja. Kadang-kadang dia mendapat belas kasihan orang yang memberinya makan, dan ada kalanya dia ha­rus menjual beberapa potong pakaiannya untuk ditukar dengan makanan. Bahkan pernah dia hanya makan sayur-sayur yang didapatkannya di ladang orang untuk sekedar menahan lapar. Malam tadi, ada seorang petani yang baik hati menerimanya di rumahnya. Sie Liong membantu petani itu membelah kayu bakar den dia­pun mendapatkan tempat tidur dan makan malam yang cukup mengenyangkan perut­nya. Bahkan pagi tadi ketika dia pergi, keluarga petani itu memberinya sarapan dan memberinya bekal roti kering dan sayur asin kering! Maka, pagi itu Sie Liong berjalan dengan tegap dan kaki ringan, hatinya gembira karena semalam dia mendapatkan bahwa masih banyak o­rang yang baik hati di dunia ini. Kehangatan yang dirasakannya ketika keluarga petani itu menerimanya membuat dia merasa bahagia di pagi hari itu.

Tiba-tiba dia dikejutkan oleh munculnya lima orang yang berloncatan dari balik batang-batang pohon. Lima orang itu berwajah bengis menyeramkan. Kalau saja mereka itu tidak berpakaian, tentu Sie Liong akan mengira mereka binatang-binatang sebangsa kera besar. Tubuh dan pakaian mereka kotor dan pandang mata mereka bengis den buas. Akan tetapi karena mereka berpakaian, maka Sie Liong kehilangan kekagetannya den tersenyum kepada mereka.

"Aih, paman sekalian membikin ka­get saja padaku," katanya sambil membetulkan letak buntalan di punggungnya.

"Huh, kiranya hanya anak anjing buduk!" kata seorang.

"Anjing cilik, punggungnya bongkok lagi!" kata orang ke dua.

Wajah Sie Liong menjadi merah dan dia memandang kepada dua orang itu de­ngan mata melotot penuh kemarahan. "Paman-paman adalah orang-orang dewasa, kenapa suka menghina anak-anak? Punggungku memang bongkok, apa sangkut pautnya dengan kalian? Kurasa bongkokku tidak merugikan orang lain termasuk kalian!"

"Wah, anjing cilik gonggongnya sudah nyaring!" teriak seorang di antara mereka, yang mukanya penuh brewok dan matanya lebar kemerahan. Dia adalah pemimpin gerombolan itu dan kini dia menghampiri Sie Liong dengan golok besar di tangan kanan. Golok itu berkilauan saking tajamnya dan si brewok sudah menempelkan mata golok ke leher Sie Liong. Terasa oleh Sie Liong betapa golok itu tajam sekali menempel di kulit lehernya. Sedikit saja digerakkan, tentu lehernya akan putus! Akan tetapi, sedikitpun dia tidak merasa gentar, bahkah dia molotot dengan marah, walaupun maklum bahwa dia tidak berdaya dan melawanpun berarti hanya membunuh diri.

"Anjing galak, apakah engkau i­ngin mampus dengan leher buntung?" bentak si brewok. "Hayo jawab!"

Betapapun marahnya, Sie Liong maklum bahwa orang ini jahat dan kejam luar biasa dan kalau dia tidak menjawab, orang ini akan marah dan bukan mustahil lehernya akan disembelih. Maka dia menggeleng sambil berkata dengan suara lirih, bukan karena takut melainkan karena hati-hati agar suaranya tidak terdengar menyatakan kemarahan hatinya. "Tidak."

"Ha-ha-ha! Kalau begitu biarlah kepalamu masih menempel di tubuhmu, a­kan tetapi buntalanmu harus kautinggalkan!" berkata demikian, dengan tangan kirinya kepala gerombolan itu merenggut buntalan pakaian Sie Liong lepas dari punggungnya, lalu mondorong sehingga anak itu terjengkang dan kepalanya ter­banting ke atas tanah dengan kerasnya. Sie Liong merasa kepalanya pening, akan tetapi dia cepat bangkit dan berkata dengan suara yang tak dapat disembunyikan lagi kemarahannya.

"Milikku hanya itu, pakaian-pakaian untuk pengganti. Kembalikan, kalian orang-orang jahat!"

Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus dan bermuka pucat, terbelalak menghampiri Sie Liong de­ngan marah. "Apa? Engkau ini masih belum cukup dihajar rupanya!" Tangannya meraih dan terdengar suara membrebet ketika dia merenggut pakaian yang me­nempel di tubuh Sie Liong. Pakaian itu robek dan terlepas sehingga anak itu kini telanjang bulat! Lima orang itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, anjing cilik ini biar bongkok, tubuhnya mulus juga."

Sie Liong yang merasa terhina itu marah sekali dan diapun sudah mener­jang ke depan dengan ngawur. Si muka pucat menyambutnya dengan sebuah tendangan yang keras.

"Bukkk!" Tendangan itu mengenai dada Sie Liong, membuat anak itu jatuh terjengkang dan kepalanya kembali ter­banting menghantam batu dan diapun ro­boh pingsan.

Ketika dia siuman kembali, Sie Liong mendapatkan dirinya rebah di atas tanah berumput di dalam hutan, dan lima orang itu sudah tidak nampak lagi. Kepalanya berdenyut nyeri, tubuhnya yang terbanting juga sakit-sakit, dan buntalan pakaiannya tidak ada lagi. Bahkan pakaian yang tadi menempel di tubuhnya juga sudah tidak ada. Agaknya setelah direnggut lepas, dibawa pergi oleh lima orang tadi.

Dia bangkit duduk, memegangi kepala bagian belakang yang berdenyut nyeri. Ah, betapa jahatnya lima orang ta­di. Jahat dan kejam sekali, tega merampas buntalan pakaiannya, bahkan mene­lanjanginya dan menghajarnya! Baru sa­ja dia merasa betapa indahnya hidup di dunia karena adanya orang-orang yang baik hati seperti keluarga petani itu yang memberinya tempat mondok dan ma­kan, tiba-tiba saja kini muncul lima orang yang demikian jahatnya! Berubah seketika nampaknya hidup di dunia ini, betapa sengsara dan buruknya, betapa pahit dan mengecewakan. Dia harus makin berhati-hati karena di dalam dunia ini tidak kalah banyaknya terdapat orang-orang jahat.

Sie Liong teringat akan keadaan dirinya. Telanjang bulat! Tidak memi­liki sepotongpun pakaian yang dapat dipakai menutupi tubuhnya yang telanjang bulat. Tidak ada pula perbekalan makan untuk mengisi perutnya, dan dia berada di tengah hutan yang lebat!

Sie Liong mendapat keterangan dari keluarga petani semalam bahwa kalau dia berjalan terus menembus hutan itu ke selatan, dia akan monemui sebuah dusun yang cukup besar, dan menurut petani itu, sebelum sore dia tentu akan dapat tiba di dusun itu. Dia bangkit dan setelah pening di kepalanya tidak begitu hebat lagi, mulai dia melangkahkan kakinya. Dia merasa aneh dan lucu, berjalan dalam keadaan telanjang bulat seperti itu. Suara berkeresekan di kanan membuat dia terkejut dan cepat-cepat dia menggunakan kedua tangan untuk menutupi selangkangannya, takut kalau-kalau ada orang muncul dan melihat kete­lanjangannya. Akan tetapi yang muncul adalah dua ekor monyet! Sie Liong ter­tawa sendiri. Monyet-monyet itupun te­lanjang bulat mengapa dia harus malu? Diapun melepaskan kedua tangannya dan menghadapi dua ekor monyet itu sambil tersenyum. Monyet-monyet itu semenjak lahir telanjang dan tidak pernah merasa malu. Kenapa kalau manuasia merasa malu? Jadi kalau begitu, malu timbul bukan karena ketelanjangannya, melainkan karena merasa telanjang! Karena monyet-monyet itu tidak pernah merasa telanjang, juga anak-anak bayi tidak pernah merasa telanjang, maka mereka itu tidak menjadi malu.

Sie Liong berjalan lebih cepat. Kadang-kadang berdebar jantungnya, penuh ketegangan dan perasaan malu kalau dia membayangkan bagaimana nanti dia kalau bertemu dengan orang di dusun itu? Apakah ada yang mau menolongnya den bagaimana dia dapat menemui mereka dalam keadaan telanjang bulat? Mungkin dia a­kan dianggap gila!

Benar seperti keterangan petani yang baik itu, sebelum sore dia telah tiba di luar sebuah dusun. Pagar dusun itu cukup tinggi, dan nampak genteng merah di atas dinding putih.

Sie Liong merasa bingung. Tak mungkin dia memasuki dusun itu dalam keadaan telanjang bulat seperti itu. Bagaimanapun dia bukan anak kecil la­gi, usianya sudah tiga belas tahun, su­dah menjelang dewasa. Maka diapun bersembunyi saja di pinggir hutan sambil mengamati dusun itu dari kejauhan. Nampak olehnya beberapa orang petani laki-laki dan wanita keluar masuk melalui pintu gerbang dusun itu. Bahkan ada dua orang anak penggembala kerbau menggiring kerbau mereka pulang ke dalam dusun. Dia akan menanti sampai keadaan cuaca menjadi gelap, baru dia akan masuk ke dusun itu, mencari keluarga pe­tani yang baik untuk menolongnya. Kalau saja di dusun itu tinggal keluarga petani seperti yang monampungnya sema­lam, tentu mereka akan mau menolong­nya, pikirnya.

Senja tiba dan cuaca mulai gelap. Sie Liong lalu dengan hati-hati meaye­linap memasuki dusun melalui pintu gerbang. Dia menyelinap di antara pohon-pohon dan melihat sebuah rumah yang menyendiri di tepi dusun, dia lalu mang­hampirinya.

Sampai lama dia ragu-ragu dan berdiri di belakang sebatang pohon. Keti­ka dalam keremangan senja itu dia malihat seseorang datang dari arah bela­kang rumah menuju ke dapur rumah itu yang berada di belakang, dia membuat gerakan untuk keluar dari balik pohon dan menegur. Akan tetapi, ketika itu orang tadi sudah dekat dan ternyata o­rang itu adalah seorang gadis remaja yang membawa sebuah tempat air dari tanah bakar yang dipondongnya di atas pinggang kiri. Melihat bahwa orang yang tadinya disangka laki-laki itu setelah dekat baru kelihatan bahwa ia seorang gadis remaja, dengan gugup Sie Liong menyelinap kembali ke balik batang po­hon. Namun terlambat, kakinya mengin­jak ranting kering dan gadis remaja i­tu sudah membalikkan tubuh menengok.

"Siapa itu?" Gadis itu menegur.

Sie Liong tidak berani berkutik. Ba­tang pohon itu terlampau kecil untuk menutupi seluruh tubuhnya, dia tidak berani menjawab saking malunya.

"Hayo katakan siapa itu! Maling­kah? Aku akan menjerit memanggil orang kalau engkau tidak mau keluar dari ba­lik pohon itu!"

Celaka, pikir Sie Liong. Kalau dia disangka maling dan gadis itu men­jerit, mungkin dia akan dikeroyok orang sedusun! Terpaksa dia keluar dari balik batang pohon, sedapat mungkin menutupi selangkangnya dengan kedua ta­ngan.

"Aku.... aku bukan maling...." katanya lirih.

Gadis itu torbelalak memandang kepada pemuda cilik yang telanjang bulat itu, dengan tubuh yang berkulit putih bersih, sama sekali tanpa pakaian!

"Eiiiiihhh....!" Ia menjerit dan tempat air dari tanah bakar itu terle­pas dari rangkulannya, jatuh dan pecah sehingga air jernih itu mengalir kelu­ar. Gadis remaja itupun berlari-lari seperti dikejar setan memasuki rumah. "Setaaan....! setaaaaann....!" Ia menjerit-jerit.

Sie Liong kembali memyelinap ke balik batang pohon, tersenyum pahit dan merasa bahwa dia memang sudah men­jadi setan! Setan telanjang yang menakutkan seorang gadis remaja. Setan bongkpk telanjang! Sungguh sial, geru­tunya, tidak tahu harus berbuat apa. Tak lama kemudian, gadis remaja itu datang lagi dengan sikap takut-takut, bersama seorang laki-laki setengah tua dan seorang laki-laki berusia dua puluh tahun lebih, keduanya membawa parang dan siap untuk berkelahi melawan setan. Di belakang gadis remaja itu keluar pula seorang wanita yang saling berpe­gang tangan dengan gadis itu, nampak ketakutan.

"Mana. dia? Mana setan itu?" tanya pemuda itu dengan lagak pemberani akan tetapi suaranya agak gemetar.

"Tadi di sana, di belakang pohon itu! Nah, lihat! Dia masih di sana...." gadis itu merangkul ibunya.

Dua orang laki-laki itu juga su­dah melihat tubuh putih yang sebagian tertutup batang pohon dan mereka maju baberapa langkah, akan tetapi tetap dalam jarak yang aman.

"Setan! Keluarlah dan perlihatkan mukamu!" bentak laki-laki muda.

"Kalau engkau benar setan, harap jangan ganggu keluarga kami, kami adalah orang baik-baik dan suka sembah­yang," kata pria yang setengah tua.

Sie Liong merasa bahwa bersembunyi lebih lama lagi tidak ada gunanya juga kalau dia melarikan diri, mungkin akan dikejar orang sedusun. Maka, dia­pun terpaksa keluar dari balik pohon sambil menggunakan kedua tangan menutupi bawah perutnya.

"Maaf, paman.... maafkan aku. Aku.... aku bukan setan, aku manusia biasa yang mengharapkan pertolongan kalian."

Dua orang pria itu jelas kelihat­an lega mendengar ini, akan tetapi me­reka masih ragu-ragu. Kalau benar manusia, mengapa bertelanjang bulat? Kalau manusia, tentu orang gila dan ini sama menyeramkannya dengan setan!

"Engkau seorang manusia? Kenapa malam-malam begini datang ke sini dan telanjang bulat? Apakah engkau gila?" tanya pria setengah tua.

"Maafkan, paman. Aku tidak gila, aku.... aku siang tadi lewat di hutan itu dan aku dirampok. Buntalan pakaianku, juga pakaian yang kupakai, diram­pas perampok, bahkan aku dipukul mere­ka. Lihat, kepalaku masih berdarah di sini." Untuk membuktikan kebenaran ka­ta-katanya, Sie Liong membalikkan tu­buh memperlihatkan luka di belakang kepalanya, juga memperlihatkan daging menonjol di punggung yang membuatnya bungkuk, memperlihatkan pula tanpa di­sadari pinggulnya karena yang ditutup­nya hanyalah bawah perut.

"Iiihhh....!" Gadis remaja itu men­jerit lagi dan menutupi muka dengan kedua tangan, hanya mengintai dari celah-celah jari tangannya!

Kini pria setengah tua itu percaya karena dia melihat betapa belakang kepala itu memang terluka. "Kauambil­kan satu stel pakaianmu, juga obor." perintahnya kepada puteranya, kakak gadis remaja tadi.

"Baik, ayah." Diapun lari ke da­lam. Ayah, ibu den anak perempuan itu manih mengamati Sie Liong yang menjadi rikuh sekali. Karena di situ ada dua orang wanita terutamm gadis remaja yang menutupi muka dengan kedua tangan dia kembali menyelinap ke balik batang pohon, menyembunyikan tubuhnya dan hanya memperlihatkan kepalanya saja.

"Maafkan aku, puman. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, maka aku sengaja menanti sampai gelap baru berani memasuki dusun ini dengan maksud minta pertolongan kepada siapa saja. Melihat rumah paman ini agak terpencil, make aku lalu datang ke sini untuk minta pertolongan, takut kalau sampai terlihat banyak orang. Dan ternyata pilihanku tidak keliru. Aku berteau dengan keluarga yang budiman. Harap enci di sana itu memaafkan aku, aku tidak se­ngaja untuk bersikap kurang ajar dan melanggar suaila."

Mendengar kata-kata yang halus dan teratur rapi, ayah ibu dan anak i­tu dapat menduga bahwa tentu anak te­lanjang itu bukan seorang dusun, me­lainkan seorang kota yang terpelajar.

"Siapakah namamu, orang muda?" tanya si ayah.

"Namaku Liong, she Sie."

Pada saat itu, pemuda tadi datang lagi membawa obor di tangan kanan dan satu stel pakaian di tangan kiri. Kini obor menerangi tempat itu dan gadis remaja itu tetap mengintai dari celah-celah jari tangannya. Dengan peraaaan berterima kasih sekali Sie Liong menerima satu stel pakaian itu, lalu memakainya di balik batang pohon. Baju itu kebe­saran, lengannya terlalu panjang dan celana itupun kakinya terlalu panjang. Terpaksa dia menggulung lengan dan ka­ki pakaian itu, dan muncul dari balik batang pohon. Karena baju itu kedodor­an, maka bongkoknya tidak terlalu kelihatan.

Sie Liong mengangkat tangan memberi hormat kepada mereka. "Paman, bibi, toako dan enci, aku Sie Liong mengha­turkan banyak terima kasih dan percayalah, selama hidupku aku tidak akan me­lupakan budi pertolongan yang amat berharga ini."

Laki-laki setengah tua itu melangkah maju. Kini dia yakin bahwa anak i­ni bukan setan, bukan pula orang gila, dan dirangkulnya pundak Sie Liong, di­tariknya untuk diajak masuk ke rumah.

"Anak yang malang, mari kita masuk ke dalam. Engkau boleh bermalam di rumah kami dan makan malam bersama ka­mi, akan tetapi engkau harus menceritakan semua pengalaman dan riwayatmu km­pada kami."

Sie Liong mengikuti mereka dan kini gadis remaja itu tidak lagi menutupi mukanya dengan jari tangan. Gadis i­tu berusia kurang lebih lima belas tahun dan mukanya manis sekali, tubuhnya padat berisi karena ia biasa bekerja berat seperti lajimnya gadis-gadis dusun.

Mereka bersikap ramah sekali. Sie Liong diajak makan malam yang terdiri dari nasi dan sayur-sayuran tanpa daging. Jarang ada petani makan daging, mungkin hanya satu dua kali sebulan karena daging merupakan makanan atau hidangan yang mewah bagi mereka. Akan tetapi, di antara orang-orang yang demikian ramah dan baiknya, hidangan itu terasa lezat sekali oleh Sie Liong yang memang sudah lelah dan lapar sekali. Sesudah makan, mereka duduk di tengah pondok, memutari meja dan Sie Liong lalu bercerita.

"Aku adalah seorang anak yatim piatu. Ayah ibuku telah tidak ada, meninggal karena penyakit menular yang berjangkit di dusun kami, jauh di utara. Semenjak itu, aku lalu hidup seorang diri, selama beberapa tahun ini aku ikut dengan orang, bekerja sebagai pelayan. Kemudian, karena ingin meluaskan pengalaman, aku lalu berhenti dan melakukan perjalanan merantau. Tak kusangka, sampai di dalam hutan itu muncul lima orang yang demikian kejamnya, merampas semua pakaian dalam buntalanku, bahkan melucuti pakaian yang kupakai sehingga aku bertelanjang bulat. Untung ada paman, bibi, toako dan enci yang baik budi sehingga aku tertolong terhindar dari ketelanjangan dan kelaparan."

Empat orang itu senang sekali me­lihat sikap Sie Liong yang demikian sopan, kata-katanya yang rapi, sungguh berbeda sekali dengan anak-anak di du­sun yang kasar.

"Kalau engkau sebatangkara, biarlah engkau tinggal di sini saja bersama kami, Sie Liong. Asal engkau suka hidup sederhana dan membantu pekerjaan di sawah ladang, makan seadanya dan pakaianpun asal bersih, kami akan suka sekali menerimamu." kata sang ayah.

"Benar kata ayahku, Sie Liong. Tinggallah di sini, den engkau menjadi adikku!" kata gadis manis itu. Ibu ga­dis itu, dan kakaknya juga, menyambut dengan senyum ikhlas.

Sie Liong memandang mereka dengan mata basah karena hatinya terharu sekali. Sungguh aneh manusia di dunia ini, pikirnya. Dia pernah bertemu dengan keluarga petani yang amat baik hati, memberinya tempat bermalam dan memberinya makan dan dia sudah manganggap mereka itu teramat baik hati. Akan tetapi, kegembiraan hatinya bertemu dengan kelu­arga petani yang baik itu dihancurkan oleh kenyataan pahit ketika dia berte­mu dengan lima orang perampok. Dan pandangannya bahwa manusia di dunia ini banyak yang baik seketika berubah de­ngan kepahitan, melihat betapa lima orang perampok itu amat jahatnya. Namun, baru setengah hari lewat, dia bertemu lagi dengan keluarga petani ini yang ternyata luar biasa baiknya, bukan sa­ja memberinya pakaian sehingga dia ti­dak lagi telanjang, memberinya makan, merimanya bermalam di situ, bahkan kini menawarkan agar dia hidup bersama mereka di rumah mereka! Adakah kebaik­an yang lebih hebat dari pada ini? Ke­ikhlasan tanpa pamrih yang amat mengharukan. Dia bangkit dari duduknya dan mengangkat kedua tangan di depan dada, memberi hormat kepada mereka.

"Sungguh paman sekalian teramat baik kepadaku, budi yang berlimpahan dari paman sekalian ini takkan kulupakan selama hidupku. Semoga Thian memberkahi paman sekalian karena kebaikan dan ketulusan hati paman, bibi, toako, dan enci. Aku Sie Liong takkan pernah melupakannya. Akan tetapi maaf, aku masih ingin malanjutkan perantauan dan belum ingin tinggal di suatu tempat tertentu. Kelak, kalau sudah timbul keinginan itu, aku akan ingat kepada penawaran paman, karena sungguh, aku akan lebih bangga dan senang hidup serumah dengan keluarga paman yang budiman ini dari pada dengan keluarga lain."

Malam itu, dengan hati penuh kegembiraan Sie Liong tidur di dalan sebuah kamar bersama putera tuan rumah yang mengalah tidur di atas lantai bertilamkan tikar dan memberikannya dipannya yang kecil kepada Sie Liong. Mula-mula Sie Liong monolaknya, akan tetapi pemuda itu memaksa sehingga akhirnya Sie Liong menerima juga. Malam itu, sebelum tidur, dia sempat rebah telentang, agak miring karena pungungnya tidak memungkinkan dia tidur telentang penuh, dan melamun. Bermacam-macam sudah dia mengalami dalam kehidupan ini semenjak terjadi perkelahian di kota Sung-jan itu. Dan semua pangalaman itu mulai menggemblengnya dan mematangkan jiwanya. Maklumlah dia bahwa di dunia ini terdapat banyak orang jahat, di samping banyak pula orang baik, dan bahwa dalam kehidupan yang serba sulit dan keras ini, dia harus pandai-pandai menjaga diri sendiri. Baru mencari makan saja sudah tidak mudah, apa lagi menghadapi gangguan orang-orang jahat yang amat kejam. Agaknya, perlu memiliki kepandaian silat yang akan membuat dia kuat dan tangguh untuk mengatesi semua gangguan orang jahat itu, di samping dapat pula dia pergunakan untuk melin­dungi orang yang dihimpit kejahatan o­rang lain, seperti halnya Bi Sian ketika diganggu pemuda-pemuda remaja yang nakal itu. Mulailah timbul tekatnya untuk mempelajari ilmu silat tinggi dan mencari seorang guru yang pandai.

Pada keesokan harinya, Sie Liong pamit pada keluarga yang baik itu, dan diapun melanjutkan perjalanannya terus ke selatan. Sampai akhirnya pada pagi hari itu menjelang siang, dia tiba di sebuah hutan dan dari jauh dia sudah mendengar suara nyanyian dua orang pendeta Lama dengan suara dan iramanya yang aneh. Sie Liong tertarik sekali dan cepat dia menuju ke arah suara itu. Melihat betapa ada seorang tosu tua renta duduk bersila dan dikelilingi oleh dua orang pendeta berkepala gundul berjubah merah, dia merasa heran sekali dan cepat dia duduk tak jauh dari situ. Dia memegang sebatang bambu yang dipergunakannya sebagai tongkat, juga sebagai semacam senjata kalau-kalau dia diserang binatang buas atau juga orang jahat. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dan yang sedang dilakukan oleh tiga orang kakek itu, akan tetapi men­dengarkan nyanyian dan irama dua orang pendeta Lama itu, telinganya merasa tidak enak sekali, bahkan nyeri seperti ditusuk-tusuk rasanya. Maka, tanpa di­sadari, dia lalu mengetuk-ngetukken tongkat bambu di tangannya itu pada sebuah batu besar. Karena bambu itu bar­lubang, maka menimbulkan suara nyaring dan diapun memukul tak-tok-tak-tok berirama, akan tetapi dia sengaja menen­tang irama nyanyian dua orang pendeta Lama itu agar telinganya tidak sakit seperti ditusuk-tusuk oleh irama aneh itu. Dan begitu dia mendengar suara tak-tok-tak-tok dari bambunya sendiri, benar saja, telinganya tidak begitu nyeri lagi karena tidak lagi "diserang" oleh irama nyanyian dua orang pendeta Lama.

Akan tetapi, kembali telinganya nyeri ketika dua orang pendeta itu me­nyesuaikan irama lagu mereka dengan i­rama ketukan bambunya. Sie Liong menjadi penasaran dan diapun mengubah irama ketukan bambunya, bahkan kini dia bikin irama yang kacau balau, berganti-ganti dan berubah-ubah!

Melihat betapa ilmu yang mereka lakukan melalui pengaruh irama dan nyanyian telah dibikin hancur dan kacau oleh suara ketukan bambu, marahlah dua orang pendeta Lama itu. Mereka menghentikan nyanyian mereka, dan keduanya membalikkan tubuh menghadap ke arah suara ketukan bambu.

"Tak-tok-tak-tok, tak-tok-tak-tok, tak-tok-tak-tok, tak-tok-tak-tok, tak­-tok-tak-tok!" suara ketukan bambu itu seperti ketukan bambu peronda malam! Melihat bahwa yang mengacaukan ilmu mereka hanya seorang bocah bongkok berusia tiga belas tahun, dua orang pendeta Lama itu terbelalak, merasa penasaran, malu dan terhina sekali, hanya se­orang bocah bongkok! Dan ilmu mereka telah ketahuan rahasianya dan telah menjadi kacau! Memang rahasia kekuatan ilmu itu berada pada iramanya yang mampu menyeret dan mencengkeram semangat seseorang. Akan tetapi begitu irama i­tu kacau oleh irama lain, seolah-olah jantung ilmu itu ditusuk, kunci raha­sianya dibuka dan ilmu itupun tidak a­da gunanya lagi.

"Bocah setan! Berani engkau me­ngacaukan ilmu kami?" bentak Thay Ku Lama yang bermuka codet dan tubuhnya sudah meloncat dengan cepat bagaikan seekor burung garuda melayang, dan ce­pat sekali dia menyerang anak itu de­ngan Pukulan Hek-in Tai-hong-ciang be­gitu kedua kakinya menyentuh tanah dan dia sudah berjongkok! Bukan main keji­nya serangan dari Thay Ku Lama ini. Pukulan Hek-in Tai-hong-ciang adalah pu­kulan sakti yang ampuh. Seorang dewasa yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekalipun jarang ada yang kuat menahan pukulan ini, apa lagi kini yang dipukulnya seorang anak-anak yang lemah!

"Siancai....! Engkau terlalu keji, Lama!" terdengar seruan halus dan tubuh Pek In Tosu sudah meluncur seperti bayangan putih dan dari samping dia sudah menangkis pukulan dahsyat itu sambil mengerahkan tenaga sin-kang yang tidak kalah hebatnya, yaitu Pek In Sin-ciang yang mengeluarkan uap pu­tih.

"Desss....!" Tubuh Thay Ku Lama terpelanting dan terguling-guling. Ternyata Pek In Tosu dalam usahanya menyelamatkan anak bongkok, telah mengerah­kan seluruh tenaganya sehingga pandeta Lama itu tidak kuat bertahan. Akan te­tapi, pukulannya yang dahsyat tadipun sudah menyerempet dada Sie Liong dan a­nak inipun terpelanting dan terbanting keras!

They Ku Lama terkejut bukan main dan tahulah dia bahwa ketika menangkis, Pek In Tosu telah mengerahkan tenaga­nya dan ternyata kakek tua renta itu benar-benar amat tangguh. Dia tidak terluka, hanya tordorong sampai terpelanting, namun dia marasa jerih. Setelah meloncat bingun, dia lalu berkata dengan suara marah dan muka merah.

"Tunggu saja, Pek In Tosu. Kami akan membasmi Himalaya Sam Lojin!" Se­telah berkata demikian, Thay Ku Lama mengajak sutenya untuk pergi dari situ. Dua orang pendeta Lama itu berkelebat dan letyap dari situ.

"Siancai....! Sungguh mereka itu orang-orang sesat yang berbahaya seka­li...." kata Pek In Tosu yang segera menghampiri dua orang pemuda murid Kun-lun-pai. Dua kali tangannya bergerak dan dua orang pemuda itu telah terbe­bas dari totokan. Mereka tadi hanya diam tak mampu bergerak akan tetapi da­pat mengikuti apa yang telah terjadi di depan mata mereka, perkelahian yang aneh dan hebat sekali. Mereka tahu pu­la bahwa nyawa mereka diselamatkan o­leh kakek sakti itu, maka keduanya la­lu berlutut dan menghaturkan terima kasih kepada Pek In Tosu yang segera mengibaskan ujung lengan bajunya dan berkata dengan halus.

"Sudahlah, harap ji-wi (kalian berdua) segera pulang saja ke Kun-lun-pai dan jangan mencampuri urusan para Lama itu."

Dua orang itupun cepat-cepat memberi hormat lalu pergi dari situ untuk membuat laporan tentang peristiwa itu kepada pimpinan mereka di Kun-lun-pai. Setelah dua orang murid Kun-lun-pai itu pergi, Pek In Tosu lalu meng­hampiri Sie Liong yang menggeletak pingsan. Dia mengamati anak itu lalu berlutut.

"Thian Yang Maha Agung.... Sungguh kasihan sekali anak ini...." katanya ketika melihat betapa napas anak itu empas empis, mukanya agak membiru. Tahulah dia bahwa pertolongannya tadi agak terlambat den anak itu masih ter­langgar hawa pukulan Hek-in Tai-hong-ciang yang amat dahsyat itu. Pek In Tosu cepat meletakkan kedua telapak tangannya ke atas dada Sie Liong, lalu perlahan-lahan dan dengan hati-hati sekali dia menyalurkan tenaga sakti dari tubuhnya melalui telapak tangan ke dalam dada anak itu. Perlahan-lahan dia mendorong dan mengusir keluar hawa busuk beracun sebagai akibat pukulan Hek-in Tai-hong-ciang sehingga untuk sementara ini nyawa anak itu tidak lagi terancam bahaya, walaupun luka di dadanya masih belum dapat disembuhkan. Untuk menyembuhkan luka akibat getaran pukulan sakti itu, dia tidak mampu dan harus dicarikan seorang ahli pengobatan yang pandai.

Anak itu menggerakkan kaki tangannya dan membuka mata, meringis kesakitan akan tetapi tidak mengeluh. Melihat betapa punggung anak itu menonjol dan bongkok, kakek itu menarik napas pan­jang dan perasaan iba memenuhi batin­nya. Anak bongkok yang aneh ini, mung­kin karena tidak disengaja, tadi telah menyelamatkan nyawanya yang sudah ter­ancam maut di bawah pengaruh sihir dua orang pendeta Lama! Dan sebagai akibatnya, anak yang bongkok dan miskin ini terkena pukulan beracun. Bagaimanapun juga, dia harus mengusahakan agar anak ini dapat disembuhkan oleh seorang ahli. Dan dia memandang kagum. Anak itu tidak mangeluh sama sekali, padahal dia tahu bahwa luka itu tentu menda­tangkan perasaan nyeri yang hebat. Ha­nya napas anak itu masih sesak, dan ketika anak itu bangkit duduk, dia cepat memejamkan kedua matanya karena pening. Akan tetapi, dia tetap tidak mengeluh!

"Sakitkah dadamu?" tanya Pek In Tosu lirih.

Sie Liong membuka matanya, meman­dang kepada kakek itu dan mengangguk. "Nyeri dan napasku sesak. Totiang, kenapakah hwesio tadi memukul aku?"

Pek In Tosu menarik napas panjang dan semakin suka dan kagum kepada anak bongkok itu. "Untuk menjawab pertanya­anmu itu, perlu lebih dulu pinto keta­hui, kenapa tadi engkau memukuli batu dengan bambu ini?"

Sie Liong yang masih agak pening itu memejamkan mata, mengingat-ingat dan terbayanglah semua yang tadi terjadi. "Totiang, ketika tadi aku lewat di hutan ini, aku mendengar suara nyanyi­an dan aku tertarik, lalu mendekat. Aku tidak mengerti mengapa totiang du­duk bersila dan dikelilingi dua orang hwesio yang bernyanyi-nyanyi dan mena­ri-nari. Akan tetapi suara nyanyian i­tu, iramanya, begitu tidak enak, makin lama semakin menyiksa telingaku. Maka, aku lalu memukul-mukulkan bambu pada batu ini, untuk menolak suara yang ti­dak enak itu."

"Siancai.... Tanpa kausadari engkau telah menentang dan memecahkan ilmu sihir mareka. Karena suara ketukan bambumu itu merusak kekuatan sihir dari nyanyian mereka, maka mereka menja­di marah dan hendak membunuhmu."

Sie Liong terkejut sekali dan sa­king herannya, dia bangkit berdiri. A­kan tetapi tubuhnya terhuyung dan dia tentu roboh kalau tidak cepat pundaknya ditangkap oleh Pek In Tosu. "Jangan banyak bergerak, engkau masih dalam kea­daan luka berat. Marilah engkau ikut denganku, akan pinto usahakan agar engkau mendapat pengobatan yang baik."

Karena terlalu lemah, Sie Liong hanya mengangguk pasrah dan di lain saat dia merasa tubuhnya seperti terbang. Kira­nya dia dipondong oleh kakek itu dan kakek itu sudah berlari dengan amat cepatnya, seperti terbang saja!

Bukit itu puncaknya merupakan pa­dang rumput yang luas. Di sana-sini tumbuh pohon yang tua dan besar, dengan daun-daun yang lebat. Dari padang rum­put di puncak bukit itu, orang dapat melihat ke seluruh penjuru, melihat sawah ladang, melihat bukit-bukit lain di Pegunungan Kun-lun-san, puncak-pun­cak tinggi yang tertutup awan, jurang-jurang yang amat dalam dan hutan-hutan yang hijau.

Mereka duduk bersila di atas pa­dang rumput itu, duduk dalam bentuk segi tiga mengurung anak bongkok yang juga duduk bersila di tengah-tengah. Se­orang di antara tiga kakek yang duduk bersila itu adalah Pek In Tosu. Orang ke dua juga seorang tosu, bertubuh tinggi kurus seperti hanya tinggal tulang terbungkus kulit. Namun muka kakek ini licin tanpa rambut sedikitpun, seperti muka kanak-kanak dan mulutnya selalu dihias senyum ramah. Usianya sebaya de­ngan usia Pek In Tosu, sekitar tujuh puluh tahun dan dia berjuluk Swat Hwa Cin-jin, dengan pakaian serba putih sederhana seperti juga yang dipakai Pek In Tosu. Orang ke tiga bernama Hek Bin Tosu, dan sesuai dengan namanya, muka tosu ini kehitaman dan tubuhnya pendek besar, wajahnya nampak serius dan be­ngis, pakaiannya juga putih dan usia­nya juga sebaya dengan dua orang tosu lainnya. Mereka bertiga inilah yang dahulu dikenal sebagai Himalaya Sam Lojin (Tiga Orang Kakek Himalaya). Mere­ka dahulu adalah para pertapa di Hima­laya yang ikut pula mengungsi ke Kun-lun-san untuk menghindarkan bentrokan dan keributan dengan para Lama di Tibet. Tak mereka sangka, setelah puluh­an tahun, kini muncul mereka yang menamakan dirinya Lima Harimau Tibet, lima orang pendeta Lama yang sakti melaku­kan pengejaran ke Kun-lun-san dan menyerang para pertapa yang berasal dari Himalaya! Bahkan baru saja dua orang pendeta Lama berusaha menangkap Pek In Tosu, dengan ancaman membunuhnya kalau tidak mau menyerah.

"Siancai....! Sungguh mengheran­kan sekali sikap para Lama itu. Menga­pa mereka itu memusuhi kita?" Hek-bin Tosu yang berwatak kasar namun jujur terbuka itu berseru. Mereka bertiga i­ni bukan saudara seperguruan, akan te­tapi biarpun mereka datang dari sum­ber perguruan yang lain, di Himalaya mereka bertemu dan bersatu sebagai ti­ga orang murid dalam hal kerohanian, di bawah petunjuk seorang guru besar yang kini telah tiada. Karena itu, me­reka bertiga merasa seperti saudara saja dan mereka terkenal sebagai Himala­ya Sam Lojin.

"Tidak tahukah engkau, sute?" ka­ta Swat Hwa Cinjin. "Ketika kita masih di Himalaya dahulu, mereka para Lama itu sudah memusuhi para pertapa di sa­na dan menganggap bahwa para pertapa itu ingin memberontak dan ingin menja­tuhkan kedudukan Dalai Lama. Rupanya, biarpun sebagian besar para pertapa menghindarkan diri, mereka masih terus mendendam dan kini mereka itu mengutus Lima Harimau Tibet untuk membasmi para pertapa di pegunungan ini yang datang dari Himalaya."

"Benar seperti apa yang dikatakan Swat Hwa sute. Sungguh menyedihkan sekali bagaimana orang-orang yang sudah memiliki tingkat sedemikian tingginya, masih juga menjadi budak dari nafsu dendam!" kata Pek In Tosu yang diang­gap paling tua di antara mereka.

"Pinto hanya ingat sedikit saja a­kan hal itu, akan tetapi sampai seka­rang pinto masih belum jelas persoalannya. Mengapa para pendeta Lama itu me­nuduh para pertapa Himalaya memberon­tak? Dan mengapa pula yang mereka mu­suhi khususnya adalah kita bertiga?" Hek-bin Tosu bertanya penuh rasa penasaran.

Pek In Tosu menarik napas panjang. "Memang mendiang suhu berpesan kepada pinto agar urusan itu tidak perlu pin­to ceritakan kepada siapapun, sehingga engkau sendiri juga tidak mengetahui­nya. Sekarang, menghadapi nafsu balas dendam dari para Lama, biarlah kalian dengarkan apa yang pernah terjadi puluhan tahun yang lalu."

Swat Hwa Cinjin dan Hek-bin Tosu mendengarkan penuh perhatian. Sie Liong, anak bongkok yang duduk bersila pula di tengah-tengah, ikut mendengar­kan walaupun dia harus menahan perasaan nyeri yang membuat napasnya masih agak sesak dan dadanya nyeri. Tadi, pagi-pagi sekali, tiga orang tosu itu telah mengobatinya dengan menempelkan tangan mereka pada tubuhnya. Hawa yang hangat panas memasuki tubuhnya dan memang pe­rasaan nyeri di dadanya banyak berku­rang walaupun belum lenyap sama sekali.

"Pada waktu itu, kurang lebih ti­ga puluh tahun yang lalu, mendiang suhu kebetulan berada di sebuah dusun di kaki Himalaya. Suhu melihat serombongan pendeta Lama memasuki dusun dan dengan paksa mereka hendak menculik seorang anak laki-laki yang menurut mereka adalah seorang calon Dalai Lama yang ha­rus mereka bawa ke Tibet. Ayah ibu a­nak itu tentu saja merasa keberatan dan tidak memberikan putera mereka yang tunggal, apalagi karena mereka bukan­lah pemeluk Agama Buddha Tibet. Terja­di ketegangan ketika para pendeta Lama itu memaksa. Orang-orang dusun membela orang tua anak itu dan terjadilah per­tempuran. Banyak orang dusun itu tewas, termasuk ayah ibu anak itu. Suhu yang melihat keributan itu turun tangan dan dalam bentrokan itu, tiga orang pende­ta Lama tewas ketika mereka bertanding melawan suhu. Para pendeta Lama aenja­di gentar dan sambil melarikan anak i­tu dan mayat kawan-kawan mereka, para pendeta Lama itu melarikan diri. Nah, semenjak itu, terjadi dendam di pihak pendeta Lama di Tibet dan mereka mengirim orang-orang pandai untuk membasmi para pertapa di Himalaya. Tentu saja yang mereka musuhi pertama-tama adalah suhu. Karena suhu telah meninggal dunia, maka tentu saja kita bertiga sebagai murid-murid suhu yang menjadi sasaran mereka itu, di samping juga mereka menyerang semua pertapa di Himalaya karena mereka menuduh bahwa para pertapa menentang Dalai Lama di Tibet dan hen­dak memberontak."

"Akan tetapi, itu sungguh tindak­an gila!" Hek-bin Tosu berseru penuh rasa penasaran. "Kenapa hanya untuk memilih seorang anak menjadi calon Dalai Lama, mereka bertindak kejam dan tidak segan membunuhi manusia yang tidak berdosa?"

"Siancai, sute. Kalau sute mau bersikap tenang, tentu akan mudah melihat mengapa terjadi hal itu. Kepercayaan yang membuat mereka bertindak seperti itu. Kepercayaan akan agama mereka, secara membuta dan apapun yang dikata­kan oleh pimpinan mereka merupakan pe­rintah yang harus mereka taati, mereka anggap sebagai perintah dari Thian sendiri. Dan betapapun juga, anak yang mereka culik itu adalah Dalai Lama yang sekarang!"

"Ahh." Swat Hwa Cinjin dan Hek-bin Tosu berseru. "Kalau anak itu yang menjadi Dalai Lama, lalu mengapa dia menyuruh Lima Harimau Tibet menggangil kita? Bukankah mendiang suhu bermaksud untuk menolong dia dan keluarganya ke­tika para Lama hendak menculiknya?"

"Inipun suatu kejanggalan dan ra­hasia yang harus dipecahkan. Kita belum mempunyai bukti bahwa penyerbuan ke Kun-lun-san sekali ini adalah atas perintah Dalai Lama. Sudahlah, kalau memang mereka hendak menyerang kita, terpaksa kita hadapi dengan tenang dan tidak ada pilihan lain kecuali membela diri. Kita tidak suka bermusuhan, ti­dak membiarkan kebencian menyentuh ba­tin, namun kita berhak dan berkewajib­an untuk melindungi diri kita dari se­rangan yang datang dari luar maupun dalam."

Tiga orang tosu itu kini berdiam diri, tenggelam ke dalam lamunan masing-masing. Tak mereka sangka bahwa dalam usia yang amat lanjut itu mereka masih harus menghadapi ancaman dari luar dan terpaksa harus siap siaga untuk bertanding.

"Suheng, lalu bagaimana dengan a­nak ini? Kita menghadapi bahaya ancaman Lima Harimau Tibet, dan dia berada di tengah-tengah antara kita," Swat Hwa Cinjin bertanya kepada Pek In Tosu.

"Siancai....! Agaknya, Thian yang menuntun anak ini sehingga tanpa disa­darinya sendiri dia telah menghindar­kan pinto dari ancaman maut di tangan dua orang pdndeta Lama itu dan dia menderita luka parah yang amat berbahaya bagi keselamatan nyawanya. Kita berti­ga sudah berusaha mengusir hawa bera­cun itu, namun tidak berdaya menyembuhkan lukanya. Harus ditangani seorang ahli pengobatan yang pandai. Karena Thian sendiri yang menuntunnya berada di antara kita, maka sudah menjadi ke­wajiban kita pula untuk melindunginya dan mencarikan seorang ahli untuk me­nolongnya."

Kembali tiga orang tosu itu berdiam diri. Sie Liong sejak tadi mendengarkan percakapan mereka. Dia tadinya juga tidak mengerti apa yang telah terjadi. Karena keterangan Pek In Tosu, dia hanya tahu bahwa tanpa disengaja, dia telah mengacau permainan sihir dua orang pendeta Lama itu sehingga mereka berusaha membunuhnya. Dia sudah tahu bahwa dua orang pendeta Lama dari Ti­bet itu memusuhi kakek tosu yang kemudian mengaku bernama Pek In Tosu. Dan sekarang, mendengar percakapan mereka, baru dia mengerti jelas mengapa para pendeta Lama itu hendak membunuh para tosu ini. Ketika mendengar betapa tiga orang kakek yang terancam oleh serang­an para Lama yang sakti ini harus me­lindungi pula dirinya, diapun segera berkata.

"Harap sam-wi totiang memaafkan saya. Sam-wi sendiri menghadapi ancaman para pendeta Lama, make tidak semesti­nya kalau sam-wi harus pula bersusah ­payah melindungi saya dan mencarikan ahli pengobatan. Biarlah, saya akan pergi saja dan mencari sendiri ahli pengobatan itu agar selanjutnya tidak membuat sam-wi repot dan semakin ter­ancam." Berkata demikian, dia hendak bangkit untuk meninggalkan tempat itu. Akan tetapi begitu dia bangkit, rasa nyeri menusuk dadanya sehingga dia jatuh terduduk kembali.

"Duduk sajalah dengan tenang, Sie Liong. Engkau harus terus menenangkan tubuhmu, bernapas panjang dan perlahan seperti yang kami ajarkan tadi dan ja­ngan memikirkan apa-apa. Engkau sama sekali tidak merepotkan kami," kata Pek In Tosu. Bagaimanapun juga, anak bongkok ini pernah menyelamatkan nyawanya, maka sudah menjadi kewajiban mereka bertiga untuk melindunginya, apalagi mereka bertiga tadi sudah memeriksa keadaan tubuh Sie Liong dan mereka mendapatkan kenyataan yang mentakjub­kan sekali, yaitu bahwa di dalam tubuh yang bongkok itu ternyata terkandung tulang yang amat baik, darah yang ber­sih dan bakat yang besar!

Bukit itu puncaknya merupakan pa­dang rumput yang luas. Di sana-sini tumbuh pohon yang tua dan besar, dengan daun-daun yang lebat. Dari padang rum­put di puncak bukit itu, orang dapat melihat ke seluruh penjuru, melihat sawah ladang, melihat bukit-bukit lain di Pegunungan Kun-lun-san, puncak-pun­cak tinggi yang tertutup awan, jurang-jurang yang amat dalam dan hutan-hutan yang hijau.

Mereka duduk bersila di atas pa­dang rumput itu, duduk dalam bentuk segi tiga mengurung anak bongkok yang juga duduk bersila di tengah-tengah. Se­orang di antara tiga kakek yang duduk bersila itu adalah Pek In Tosu. Orang ke dua juga seorang tosu, bertubuh tinggi kurus seperti hanya tinggal tulang terbungkus kulit. Namun muka kakek ini licin tanpa rambut sedikitpun, seperti muka kanak-kanak dan mulutnya selalu dihias senyum ramah. Usianya sebaya de­ngan usia Pek In Tosu, sekitar tujuh puluh tahun dan dia berjuluk Swat Hwa Cin-jin, dengan pakaian serba putih sederhana seperti juga yang dipakai Pek In Tosu. Orang ke tiga bernama Hek Bin Tosu, dan sesuai dengan namanya, muka tosu ini kehitaman dan tubuhnya pendek besar, wajahnya nampak serius dan be­ngis, pakaiannya juga putih dan usia­nya juga sebaya dengan dua orang tosu lainnya. Mereka bertiga inilah yang dahulu dikenal sebagai Himalaya Sam Lojin (Tiga Orang Kakek Himalaya). Mere­ka dahulu adalah para pertapa di Hima­laya yang ikut pula mengungsi ke Kun-lun-san untuk menghindarkan bentrokan dan keributan dengan para Lama di Tibet. Tak mereka sangka, setelah puluh­an tahun, kini muncul mereka yang menamakan dirinya Lima Harimau Tibet, lima orang pendeta Lama yang sakti melaku­kan pengejaran ke Kun-lun-san dan menyerang para pertapa yang berasal dari Himalaya! Bahkan baru saja dua orang pendeta Lama berusaha menangkap Pek In Tosu, dengan ancaman membunuhnya kalau tidak mau menyerah.

"Siancai....! Sungguh mengheran­kan sekali sikap para Lama itu. Menga­pa mereka itu memusuhi kita?" Hek-bin Tosu yang berwatak kasar namun jujur terbuka itu berseru. Mereka bertiga i­ni bukan saudara seperguruan, akan te­tapi biarpun mereka datang dari sum­ber perguruan yang lain, di Himalaya mereka bertemu dan bersatu sebagai ti­ga orang murid dalam hal kerohanian, di bawah petunjuk seorang guru besar yang kini telah tiada. Karena itu, me­reka bertiga merasa seperti saudara saja dan mereka terkenal sebagai Himala­ya Sam Lojin.

"Tidak tahukah engkau, sute?" ka­ta Swat Hwa Cinjin. "Ketika kita masih di Himalaya dahulu, mereka para Lama itu sudah memusuhi para pertapa di sa­na dan menganggap bahwa para pertapa itu ingin memberontak dan ingin menja­tuhkan kedudukan Dalai Lama. Rupanya, biarpun sebagian besar para pertapa menghindarkan diri, mereka masih terus mendendam dan kini mereka itu mengutus Lima Harimau Tibet untuk membasmi para pertapa di pegunungan ini yang datang dari Himalaya."

"Benar seperti apa yang dikatakan Swat Hwa sute. Sungguh menyedihkan sekali bagaimana orang-orang yang sudah memiliki tingkat sedemikian tingginya, masih juga menjadi budak dari nafsu dendam!" kata Pek In Tosu yang diang­gap paling tua di antara mereka.

"Pinto hanya ingat sedikit saja a­kan hal itu, akan tetapi sampai seka­rang pinto masih belum jelas persoalannya. Mengapa para pendeta Lama itu me­nuduh para pertapa Himalaya memberon­tak? Dan mengapa pula yang mereka mu­suhi khususnya adalah kita bertiga?" Hek-bin Tosu bertanya penuh rasa penasaran.

Pek In Tosu menarik napas panjang. "Memang mendiang suhu berpesan kepada pinto agar urusan itu tidak perlu pin­to ceritakan kepada siapapun, sehingga engkau sendiri juga tidak mengetahui­nya. Sekarang, menghadapi nafsu balas dendam dari para Lama, biarlah kalian dengarkan apa yang pernah terjadi puluhan tahun yang lalu."

Swat Hwa Cinjin dan Hek-bin Tosu mendengarkan penuh perhatian. Sie Liong, anak bongkok yang duduk bersila pula di tengah-tengah, ikut mendengar­kan walaupun dia harus menahan perasaan nyeri yang membuat napasnya masih agak sesak dan dadanya nyeri. Tadi, pagi-pagi sekali, tiga orang tosu itu telah mengobatinya dengan menempelkan tangan mereka pada tubuhnya. Hawa yang hangat panas memasuki tubuhnya dan memang pe­rasaan nyeri di dadanya banyak berku­rang walaupun belum lenyap sama sekali.

"Pada waktu itu, kurang lebih ti­ga puluh tahun yang lalu, mendiang suhu kebetulan berada di sebuah dusun di kaki Himalaya. Suhu melihat serombongan pendeta Lama memasuki dusun dan dengan paksa mereka hendak menculik seorang anak laki-laki yang menurut mereka adalah seorang calon Dalai Lama yang ha­rus mereka bawa ke Tibet. Ayah ibu a­nak itu tentu saja merasa keberatan dan tidak memberikan putera mereka yang tunggal, apalagi karena mereka bukan­lah pemeluk Agama Buddha Tibet. Terja­di ketegangan ketika para pendeta Lama itu memaksa. Orang-orang dusun membela orang tua anak itu dan terjadilah per­tempuran. Banyak orang dusun itu tewas, termasuk ayah ibu anak itu. Suhu yang melihat keributan itu turun tangan dan dalam bentrokan itu, tiga orang pende­ta Lama tewas ketika mereka bertanding melawan suhu. Para pendeta Lama aenja­di gentar dan sambil melarikan anak i­tu dan mayat kawan-kawan mereka, para pendeta Lama itu melarikan diri. Nah, semenjak itu, terjadi dendam di pihak pendeta Lama di Tibet dan mereka mengirim orang-orang pandai untuk membasmi para pertapa di Himalaya. Tentu saja yang mereka musuhi pertama-tama adalah suhu. Karena suhu telah meninggal dunia, maka tentu saja kita bertiga sebagai murid-murid suhu yang menjadi sasaran mereka itu, di samping juga mereka menyerang semua pertapa di Himalaya karena mereka menuduh bahwa para pertapa menentang Dalai Lama di Tibet dan hen­dak memberontak."

"Akan tetapi, itu sungguh tindak­an gila!" Hek-bin Tosu berseru penuh rasa penasaran. "Kenapa hanya untuk memilih seorang anak menjadi calon Dalai Lama, mereka bertindak kejam dan tidak segan membunuhi manusia yang tidak berdosa?"

"Siancai, sute. Kalau sute mau bersikap tenang, tentu akan mudah melihat mengapa terjadi hal itu. Kepercayaan yang membuat mereka bertindak seperti itu. Kepercayaan akan agama mereka, secara membuta dan apapun yang dikata­kan oleh pimpinan mereka merupakan pe­rintah yang harus mereka taati, mereka anggap sebagai perintah dari Thian sendiri. Dan betapapun juga, anak yang mereka culik itu adalah Dalai Lama yang sekarang!"

"Ahh." Swat Hwa Cinjin dan Hek-bin Tosu berseru. "Kalau anak itu yang menjadi Dalai Lama, lalu mengapa dia menyuruh Lima Harimau Tibet menggangil kita? Bukankah mendiang suhu bermaksud untuk menolong dia dan keluarganya ke­tika para Lama hendak menculiknya?"

"Inipun suatu kejanggalan dan ra­hasia yang harus dipecahkan. Kita belum mempunyai bukti bahwa penyerbuan ke Kun-lun-san sekali ini adalah atas perintah Dalai Lama. Sudahlah, kalau memang mereka hendak menyerang kita, terpaksa kita hadapi dengan tenang dan tidak ada pilihan lain kecuali membela diri. Kita tidak suka bermusuhan, ti­dak membiarkan kebencian menyentuh ba­tin, namun kita berhak dan berkewajib­an untuk melindungi diri kita dari se­rangan yang datang dari luar maupun dalam."

Tiga orang tosu itu kini berdiam diri, tenggelam ke dalam lamunan masing-masing. Tak mereka sangka bahwa dalam usia yang amat lanjut itu mereka masih harus menghadapi ancaman dari luar dan terpaksa harus siap siaga untuk bertanding.

"Suheng, lalu bagaimana dengan a­nak ini? Kita menghadapi bahaya ancaman Lima Harimau Tibet, dan dia berada di tengah-tengah antara kita," Swat Hwa Cinjin bertanya kepada Pek In Tosu.

"Siancai....! Agaknya, Thian yang menuntun anak ini sehingga tanpa disa­darinya sendiri dia telah menghindar­kan pinto dari ancaman maut di tangan dua orang pdndeta Lama itu dan dia menderita luka parah yang amat berbahaya bagi keselamatan nyawanya. Kita berti­ga sudah berusaha mengusir hawa bera­cun itu, namun tidak berdaya menyembuhkan lukanya. Harus ditangani seorang ahli pengobatan yang pandai. Karena Thian sendiri yang menuntunnya berada di antara kita, maka sudah menjadi ke­wajiban kita pula untuk melindunginya dan mencarikan seorang ahli untuk me­nolongnya."

Kembali tiga orang tosu itu berdiam diri. Sie Liong sejak tadi mendengarkan percakapan mereka. Dia tadinya juga tidak mengerti apa yang telah terjadi. Karena keterangan Pek In Tosu, dia hanya tahu bahwa tanpa disengaja, dia telah mengacau permainan sihir dua orang pendeta Lama itu sehingga mereka berusaha membunuhnya. Dia sudah tahu bahwa dua orang pendeta Lama dari Ti­bet itu memusuhi kakek tosu yang kemudian mengaku bernama Pek In Tosu. Dan sekarang, mendengar percakapan mereka, baru dia mengerti jelas mengapa para pendeta Lama itu hendak membunuh para tosu ini. Ketika mendengar betapa tiga orang kakek yang terancam oleh serang­an para Lama yang sakti ini harus me­lindungi pula dirinya, diapun segera berkata.

"Harap sam-wi totiang memaafkan saya. Sam-wi sendiri menghadapi ancaman para pendeta Lama, make tidak semesti­nya kalau sam-wi harus pula bersusah ­payah melindungi saya dan mencarikan ahli pengobatan. Biarlah, saya akan pergi saja dan mencari sendiri ahli pengobatan itu agar selanjutnya tidak membuat sam-wi repot dan semakin ter­ancam." Berkata demikian, dia hendak bangkit untuk meninggalkan tempat itu. Akan tetapi begitu dia bangkit, rasa nyeri menusuk dadanya sehingga dia jatuh terduduk kembali.

"Duduk sajalah dengan tenang, Sie Liong. Engkau harus terus menenangkan tubuhmu, bernapas panjang dan perlahan seperti yang kami ajarkan tadi dan ja­ngan memikirkan apa-apa. Engkau sama sekali tidak merepotkan kami," kata Pek In Tosu. Bagaimanapun juga, anak bongkok ini pernah menyelamatkan nyawanya, maka sudah menjadi kewajiban mereka bertiga untuk melindunginya, apalagi mereka bertiga tadi sudah memeriksa keadaan tubuh Sie Liong dan mereka mendapatkan kenyataan yang mentakjub­kan sekali, yaitu bahwa di dalam tubuh yang bongkok itu ternyata terkandung tulang yang amat baik, darah yang ber­sih dan bakat yang besar!

Sie Liong terpaksa mentaati petunjuk Pek In Tosu ini karena dia memang merasa pening begitu bangkit berdiri tadi. Dia sudah mendapat petunjuk un­tuk duduk diam, bersila dan mengatur pernapasan seperti yang diajarkan mereka.

Tiba-tiba ada angin keras menyam­bar dan seperti setan saja, muncullah lima orang pendeta Lama di tempat itu. Oleh Sie Liong hanya kelihatan bayang­an merah berkelebatan dan tahu-tahu di situ telah berdiri lima orang pendeta Lama yang sikapnya menyeramkan. Dua di antara mereka adalah Thay Ku Lama si muka codet dan Thay Si Lama si muka bopeng yang pernah dilihatnya. Tiga o­rang pendeta Lama yang lain juga mempunyai ciri yang mudah dibedakan satu antara yang lain. Orang ke tiga adalah seorang yang mukanya pucat soperti berpenyakitan dan dia ini berjuluk Thay Pek Lama. Orang ke empat berjuluk Thay Hok Lama, matanya yang kiri buta, ter­pejam dan kosong tidak berbiji mata lagi. Orang ke lima berjuluk Thay Bo La­ma, kurus kering seperti tengkorak hi­dup. Inilah Lima Harimau Tibet yang terkenal mengamuk di Kun-lun-san itu.

Melihat munculnya lima orang ini, Himalaya Sam Lojin lalu menggeser du­duk mereka. Kini mereka bersila seja­jar, membelakangi Sie Liong dan menghadapi lima orang pendeta Lama itu, de­ngan sikap yang tenang sekali. Sie Li­ong membuka matanya lebar-lebar, hatinya tegang akan tetapi diapun tidak merasa takut, hanya marah kepada lima o­rang pendeta Lama yang dianggapnya a­mat jahat dan sombong itu.

Melihat betapa tiga orang calon lawan itu duduk bersila dan berjajar menghadapi mereka, Lima Harimau Tibet juga segera duduk bersila berjajar menghadapi Himalaya Sam Lojin. Thay Ku Lama, si muka codet yang menjadi pimpinan mereka itu agaknya memberi isarat melalui gerakan tangan dan tubuh. Mereka berlima tidak berani memandang ren­dah kepada tiga orang lawan mereka. Bukan hanya karena nama Himalaya Sam Lo­jin sudah terkenal sebagai orang-orang sakti, bahkan beberapa hari yang lalu Thay Ku Lama dan Thay Si Lama sudah merasakan kelihaian Pek In Tosu dan karenanya, kini mereka berlima bersikap hati-hati.

Jarak antara dua pihak itu ada lima meter, dan jelas nampak perbedaan antara sikap mereka. Kalau Himalaya Sam Lojin bersikap tenang saja, seba­liknya sikap Lima Hartmau Tibet itu penuh geram, sinar mata mereka mencorong penuh tuntutan dan tubuh mereka jelas membayangkan kesiapsiagaan untuk ber­kelahi.

Kedua pihak sampai lama tidak mengeluarkan kata-kata, hanya saling pandang seolah-olah hendak mengukur keku­atan pihak lawan dengan pengamatan sa­ja.

"Sam Lojin, sekali lagi kami tegaskan bahwa pimpinan kami, yang mulia Dalai Lama memerintahkan kalian berti­ga untuk menghadap beliau!" tiba-tiba terdengar Thay Ku Lama berkata, suara­nya lirih namun jelas dan tajam, bah­kan mengandung perintah dan ancaman.

"Siancai! Kami bukunlah rakyat Tibet, juga bukan hamba sahaya pemerin­tah Tibet, oleh karena itu menyesal sekali kami tidak dapat memenuhi perin­tah itu."

"Kalian tinggi hati! Baiklah, ka­mi menggunakan kata-kata yang halus. Pemimpin kami, yang mulia Dalai Lama mengundang sam-wi untuk datang karena beliau ingin berwawancara de­ngan sam-wi," kata pula Thay Ku Lama, biarpun kata-katanya halus dan sopan, namun mengandung ejekan.

"Maafkan kami, kami sudah tua dan lelah, tidak mungkin dapat memenuhi undangan itu. Kalau Sang Dalai Lama memang berkeinginan untuk bicara dengan kami, silakan saja datang ke Kun-lun-san dan kami akan menyambutnya."

Marahlah Lima Hariman Tibet itu! "Kalian memang tua bangka yang sombong sekali! Apakah kalian berani menandingi kesaktian kami?" bentak pula Thay Ku Lama.

"Siancai....! Terserah kepada kalian. Kami tidak ingin bermusuhan dengan siapapun juga, akan tetapi juga tidak ingin kemerdekaan kami dilang­gar," jawab Pek In Tosu dengan sikap tenang.

Lima orang pendeta Lama itu kini merangkap kedua tangan di depan dada seperti orang menyembah, kedua mata mereka dipejamkan dan mereka seperti te­lah pulas dalam samadhi. Sie Liong yang sejak tadi mendengarkan sambil duduk bersila di belakang tiga orang kakek tua renta, diam-diam merasa mendongkol sekali kepada lima orang pendeta Lama itu. Biarpun dia tidak mengerti betul akan urusan di antara kedua go­longan itu, namun dia melihat sikap mereka dan dapat menilai bahwa lima o­rang pendeta Lama itulah yang sombong dan hendak menggunakan kekerasan memaksakan kehendak mereka kepada orang la­in. Sebaliknya, sikap tiga orang tosu itu dianggapnya amat mengalah, hal yang juga membuatnya tidak puas sama sekali. Dia tahu bahwa tiga orang tosu itu me­miliki kesaktian, mengapa harus begitu mengalah terhadap lima orang pendeta Lama yang demikian tinggi hati dan ke­ras? Mengalah sebaiknya dipergunakan menghadapi orang yang baik, sedangkan untuk menghadapi orang-orang yang ja­hat, sepatutnya kalau diambil sikap yang tegas pula! Demikian pikiran Sie Liong yang sudah banyak mengalami pen­deritaan akibat perbuatan yang jahat dan mengandalkan kekerasan.

Tiba-tiba Sie Liong memandang de­ngan mata terbelalak. Ia mengejap-nge­japkan kedua matanya, lalu menggosok-gosoknya dan memandang lagi. Akan tetapi tetap saja nampak olehnya hal yang dianggapnya tidak mungkin itu. Dia melihat betapa tubuh lima orang pendeta Lama itu perlahan-lahan naik dari atas tanah yang menjadi tempat mereka bersila, dan dalam keadaan masih bersila, lima sosok tubuh pendeta Lama itu naik ke atas sampai setinggi dua kaki dari atas tanah! Mereka seperti terbang atau mengapung di udara, seolah-olah tubuh mereka kehilangan bobot dan menjadi seperti balon kosong beri­si udara yang amat ringan!

"Sam-wi Lojin, lihat! Apakah kalian berani menandingi kesaktian kami?" Thay Ku Lama yang sudah membuka matanya, berseru. Tiga orang tosu itu me­mandang dengan mata terbelalak. Mereka tahu bahwa memang tingkat lima orang pendeta Lama itu sudah amat tinggi. Untuk dapat melenyapkan bobot seperti itu dan mengapung, membutuhkan tingkat yang sudah tinggi dari samadhi! Akan tetapi, tiba-tiba Sie Liong yang tidak sabar melihat kecongkakan lima orang itu dan tidak ingin melihat tiga orang tosu itu merasa rendah diri dan dikalahkan, berseru dengan suara nyaring.

"Uhhhh! Kalian ini lima orang pendeta Lama yang amat congkak! Apa sih artinya mengapung di udara seperti itu saja? Kacoa-kacoa yang kotor, lalat-lalat yang kotor itupun sanggup menga­pung lebih tinggi dan lebih lama dari pada kalian! Kepandaian kalian itu di­bandingkan dengan lalat dan nyamuk belum ada seperseratusnya! Andaikata ka­lian pandai terbang sekalipun, masih belum menandingi kemampuan terbang burung gereja yang kecil dan lemah! Dan kalian sudah berani menyombongkan ke­pandaian yang tidak ada artinya itu? Sungguh, batok kepala kalian yang gun­dul itu agaknya sudah terlampau keras sehingga tidak melihat kenyataan beta­pa kalian bersikap seperti lima orang badut yang tidak lucu!"

Tiga orang tosu itu terkejut bu­kan main! Juga Sie Liong terkejut karena biarpan dia mendongkol dan tidak suka kepada lima orang pendeta Lama itu, akan tetapi semua kata-kata itu keluar dari mulutnya tanpa dia sadari, seolah-olah keluar begitu saja dan dikendali­kan oleh kekuatan lain. Seolah-olah bukan dia yang bicara seperti itu, melainkan orang lain yang hanya "meminjam" mulut dan suaranya! Tadinya dia memang berniat untuk mengeluarkan suara menyatakan kedongkolan hatinya dan mengejek lima orang pendeta Lama itu, akan tetapi baru satu kalimat, lalu mulutnya sudah menyerocos terus tanpa dapat dia kendalikan!

Lima orang pendeta Lama itu demi­kian kaget, marah den malu mendengar teguran yang keluar dari mulut kanak-kanak itu dan sungguh luar biasa sekali. Pengaruh ucapan itu membuat mereka goyah dan tak dapat dihindarkan lagi, tubuh merekapun meluncur turun.

Terdengar suara berdebuk ketika pantat lima orang pendeta Lama itu terbanting ke atas tanah! Tidak sakit me­mang, namun hati mereka yang sakit dan mereka sudah melotot, memandang kepada Sie Liong dan dari mata mereka seolah keluar api yang akan membakar tubuh a­nak bongkok itu.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara ketawa, disusul suara yang lem­but namun cukup nyaring. "Ha-ha-ha, sungguh tepat sekali ucapan itu! Lima Harimau Tibet bukan lain hanyalah ba­dut-badut belaka, macan-macan kertas yang hanya dapat menakut-nakuti anak-anak saja!"

Dari belakang tiga orang tosu itu bermunculan banyak orang. Mereka ada­lah lima belas orang murid kepala Kun-lun-pai yang dipimpin oleh dua orang ketua Kun-lun-pai sendiri, yaitu Thian Hwat Tosu dan wakilnya, Thian Khi Tosu dan yang tertawa dan bicara tadi adalah Thian Khi Tosu yang berwatak ke­ras berdisiplin dan jujur.

Lima orang pendeta Lama itu cepat memandang dan ketika mereka melihat o­rang-orang Kun-lun-pai, kemarahan mereka memuncak dan untuk sementara mereka tidak memperdulikan tiga orang Himala­ya Sam Lojin dan mereka memandang kepada orang-orang Kun-lun-pai itu.

"Hemm, kiranya orang-orang Kun-lun-pai telah berani lancang untuk me­nentang kami Lima Harimau Tibet?"

"Siancai...." Kini Thian Hwat Tosu melangkah maju, menghadapi lima orang pendeta Lama yang sudah bangkit berdiri itu, diikuti oleh Thian Khi Tosu dan lima belas orang murid utama Kun-lun-pai. Thian Hwat Tosu menghadap kepada tiga orang tosu yang masih duduk bersila dengan tenang, memberi hormat dengan kedua tangan di dada dan berkata dengan penuh hormat. "Mohon sam-wi locianpwe sudi memaafkan kami kalau kami mengganggu, karena kami mempunyai suatu urusan dengan Lima Hari­mau Tibet ini."

Pek In Tosu tersenyum dan mewakili dua orang saudaranya menjawab, "Silakan, To-yu dari Kun-lun-pai."

Kini Thian Hwat Tosu menghadapi lagi lima orang pendeta Lama dan de­ngan suara lembut dan sikap hormat dia pun berkata, "Ngo-wi lo-suhu adalah lima orang terhormat dari Tibet. Agaknya ngo-wi lupa bahwa di sini bukanlah daerah Tibet, melainkan daerah Kun-lun­-san. Kedatangan ngo-wi sudah lama kami dengar, akan tetapi kami tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Betapapun juga, setelah mendengar laporan dua orang murid kami yang telah ngo-wi ro­bohkan, kami mengambil keputusan bahwa kami tidak mungkin mendiamkannya saja urusan ini. Kalau dilanjutkan sepak terjang ngo-wi di daerah ini, kami khawatir kalau terjadi bentrokan yang le­bih hebat. Karena itu, Ngo-wi lo-suhu, demi kedamaian, kami mohon dengan hor­mat sudilah kiranya ngo-wi kembali ke Tibet dan tidak melanjutkan tindakan ngo-wi di sini, dan kamipun akan melu­pakan apa yang telah terjadi di sini selama beberapa pekan ini."

Ucapan ketua Kun-lun-pai itu ber­nada halus dan juga sopan, sama sekali tidak ada sikap menyalahkan atau mene­gur, melainkan mengkhawatirkan kalau terjadi kesalahpahaman. Karena sikap­nya yang lembut ini, kemarahan lima o­rang pendeta Lama itu agak mereda, dan Thay Ku Lama lalu membalas penghormat­an ketua Kun-lun-pai dan diapun berka­ta dengan suara yang tegas, namun ti­dak kasar.

"Pai-cu (ketua), kami mengerti a­pa yang kaumaknudkan. Kamipun menerima tugas untuk mencari orang-orang tertentu dan kami sama sekali tidak ingin mengganggu, apa lagi memusuhi Kun-lun-pai selama Kun-lun-pai tidak mencampuri urusan kami. Kalau beberapa hari yang lalu kami terpaksa memberi hajaran ke­pada dua orang murid Kun-lun-pai, hal itu terjadi karena dua orang murid itu mencarapuri urusan kami yang tidak ada sangkut-pautnya dengan mereka. Namun, kami masih memandang muka Pai-cu dan nama besar Kun-lun-pai, kalau tidak demikian, apakah kiranya dua orang murid itu sekarang akan masih tinggal hidup?"

Dalam kalimat terakhir ini jelas sekali Thay Ku Lama menonjolkan kepandaian mereka dan meremehkan kepandaian murid Kun-lun-pai, juga mengandung pandangannya yang congkak.

"Lama yang sombong!" Thian Khi Tosu berseru geram. "Tentu saja dua o­rang murid kami itu bukan lawan kalian karena mereka hanyalah murid kami tingkat tiga yang masih hijau! Coba yang kauhadapi itu murid-murid utama Kun-lun-pai atau kami sendiri, belum tentu akan dapat mengalahkan dengan semudah itu!"

"Omitohud....! Siapakah yang sombong, kami ataukah Kun-lun-pai? Sungguh, kamipun ingin melihat apakah benar Kun-lun-pai sedemikian tangguh dan lihainya sehingga berani mencampuri urusan kami para utusan Tibet!"

Thian Khi Toou yang memang berwatak keras itu segera menjawab, dengan suara keras. "Bagus! Lima Harimau Tibet menantang kami dari Kun-lun-pai? Kami bukan mencari permusuhan. Akan tetapi kalau ditantang, siapapun juga akan kami hadapi!"

"Omitohud....!" Thay Si Lama, orang ke dua dari Lima Harimau Tibet itu berseru. "Kalau begitu majulah dan mari kita buktikan siapa yang lebih unggul di antara kita!"

"Manusia sombong! Aku yang akan maju mewakili Kun-lun-pai!" Thian Khi Tosu hendak melangkah maju, akan tetapi ti­ba-tiba lima belas orang murid utama dari Kun-lun-pai yang terdiri dari pria berusia antara tiga puluh sampai lima puluh tahun, sudah berlompatan ke depan dan seorang di antara mereka berkata kepada Thian Khi Tosu, "Harap suhu ja­ngan merendahkan diri maju sendiri. Ji-wi suhu (guru berdua) adalah tuan-tuan rumah, pimpinan Kun-lun-pai. Masih ada teecu sekalian yang menjadi murid, perlukah ji-wi suhu maju sendiri? Biar kami yang menghadapi lima orang Lama sombong ini!"

Thian Khi Tosu hendak membantah, akan tetapi suhengnya, Thian Hwat Tosu ketua Kun-lun-pai menyentuh lengannya dan mencegah sehingga wakil ketua itu membiarkan lima belas orang murid uta­ma itu maju. Kalau lima belas orang mu­rid utama itu maju, maka mereka bahkan lebih kuat dari pada dia atau suheng­nya sekalipun. Lima belas orang murid itu merupakan murid utama yang ilmu kepandaiannya sudah matang dan tinggi, apalagi kalau mereka maju bersama. Me­reka itu sudah menciptakan suatu ilmu, dibantu oleh petunjuk guru-guru mereka , yaitu ilmu dalam bentuk barisan yans dinamakan Kun-lun Kiam-tin (Barisan Pedang Kun-lun). Dengan barisan pedang i­ni, mereka dapat menjadi suatu pasukan yang amat kuat sehingga ketika diuji, bahkan dua orang pimpinan Kun-lun-pai itu sendiri terdesak dan tidak mampu mengatasi ketangguhan Kun-lun Kim-tin! Inilah sebabnya mengapa Thian Hwat Tosu mencegah sutenya turun tangan sendiri. Para murid itu cukup tangguh, bahkan dapat dijadikan batu ujian untuk mengukur sampai di mana kepandaian musuh!

Lima belas orang murid utama Kun-lun-pai itu lalu berlarian menuju ke tempat terbuka, di atas padang rumput yang lapang dan di situ mereka memben­tuk barisan berjajar dengan pedang di tangan masing-masing, kelihatan gagah perkasa dan rapi.

"Lima Harimau Tibet, kami telah siap sedia! Majulah kalau kalian memang hendak memusuhi Kun-lun-pai!" bentak murid tertua yang usianya sudah hampir lima puluh tahun dan menjadi ke­pala barisan pedang itu, berdiri di u­jung kanan.

Melihat ini, lima orang pendeta Lama tersenyum mengejek dan merekapun melangkah maju menghadapi mereka, de­ngan borjajar. Setelah mereka berhadapan, lima belas orang murid pertama Kun-lun-pai itu lalu bergerak mengikuti a­ba-aba yang dikeluarkan oleh pemimpin pasukan, dan mereka sudah mengepung lima orang pendeta Lama. Gerakan kaki mereka ketika melangkah amat tegap dan dengan ringan pula, menunjukkan bahwa mereka telah berlatih matang. Melihat ini, lima orang pandeta Lama itupun bergerak membuat suatu bentuk sagi lima dan berdiri saling membelakangi. Bentuk seperti ini memang paling kokoh kuat untuk pembelaan diri, karena mereka berlima dapat menghadapi pengeroyokan banyak lawan dengan cara saling me­lingungi dan tidak akan dapat diserang dari belakang, bahkan serangan dari samping dapat mereka hadapi bersama rekan yang berada di sampingnya. Pendek­nya, pengepungan lima belas orang murid Kun-lun-pai itu berkurang banyak baha­yanya dengan kedudukan lima orang Lama seperti itu.

Lima belas orang murid Kun-lun-pai itu adalah ahli silat yang sudah pan­dai. Mereka tidak berani memandang ri­ngan lima orang lawan mereka. Mereka tahu bahwa kalau bertanding satu lawan satu, di antara mereka tidak akan ada yang mampu menandingi pendeta-pendeta Lama itu yang memiliki tingkat kepan­daian lebih tinggi dari mereka, bahkan mungkin lebih tinggi dari pada tingkat ilmu kepandaian guru-guru mereka, melihat demonstrasi yang mereka perlihat­kan tadi. Namun, mereka mengandalkan keampuhan barisan Kun-lun Kiam-tin dan begitu pimpinan mereka memberi aba-aba lima belas orang itu bergerak, mulai dengan penyerangan mereka yang serentak! Memang hebat gerakan para murid Kun-lun-pai ini. Pedang mereka berkelebatan seperti kilat menyambar-nyambar. Ilmu pedang Kun-lun-pai memang terkenal hebat, dan kini mereka bukan hanya me­ngandalkan ilmu pedang masing-masing, bahkan diperkuat oleh kerapian ba­risan yang teratur sehingga begitu me­nyerang, kekuatan mereka terpadu, ba­gaikan gelombang samudera yang mener­jang ke depan dengan dahsyatnya!

Lima orang pendeta Lama itu telah siap siaga. Dengan gerakan cepat sehingga sukar diikuti pandang mata, tangan mereka bergerak dan tahu-tahu mereka telah memegang senjata masing-masing, Thay Ku Lama si muka codet sudah meme­gang sebatang golok tipis yang tadinya disembunyikannya di balik jubah merah yang longgar dan panjang itu. Thay Si Lama si muka bopeng sudah memegang se­batang cambuk hitam seperti cambuk penggembala lembu. Thay Pek Lama si muka pucat sudah memegang sepasang pedang yang tipis dan mengeluarkan caha­ya kehijauan. Thay Hok Lama si mata satu sudah memegang sebatang rantai baja yang tadi dipakai sebagai sabuk, se­dangkan Thay Bo Lama sudah memegang sebatang tombak. Lama kurus kering ini memiliki sebatang tombak yang dapat dilipat dan ditekuk menjadi tiga bagian dan diselipkan di pinggang tertutup jubah. Kini, tombak itu diluruskan dan menjadi sebatang tombak yang panjang­nya sama dengan tubuhnya.

Dalam penyerangan pertama yang serentak dilakukan oleh para murid Kun-lun-pai kepada lima orang lawan mereka itu membuat setiap orang pendeta Lama diserang oleh tiga orang lawan. Mereka berlima tidak menjadi gugup dan mereka pun menggerakkan senjata mereka menangkis. Terdengar suara nyaring berden­ting-denting disusul bunga-bunga api berpijar menyilaukan mata ketika lima ­belas batang pedang itu tertangkis o­leh senjata lima orang pandeta Lama. Karena memang tenaga sin-kang dari pa­ra pendeta Lama itu lebih kuat, maka banyak di antara pedang yang menyerang itu terpental keras dan pemegangnya merasa betapa lengan mereka tergetar he­bat! Namun, pimpinan mereka memberi aba-aba dan mereka melanjutkan serangan sampai bergelombang baberapa kali, namun selalu dapat ditangkis oleh lima orang pendeta Lama, bahkan yang tera­khir kalinya, lima orang pendeta Tibet itu mengerahkan tenaga mereka, membuat lima belas orang penyerang itu terdo­rong ke belakang bahkan ada yang ham­pir jatuh setelah terhuyung-huyung. Kesempatan ini dipergunakan oleh lima Harimau Tibet itu untuk membalas serang­an pihak lawan yang jumlahnya tiga ka­li lebih banyak dari jumlah mereka itu. Thay Ku Lama yang merupakan orang pertama dari Lima Harimau Tibet, memu­tar goloknya den golok itu seperti ki­lat menyambar-nyambar, menyerang siapa saja di antara pihak lawan terdekat. Thay Si Lama, si muka bopeng, juga meng­gerakkan cambuknya dan terdengar cambuk itu meledak-ledak di atas kepala para murid Kun-lun-pai. Thay Pek Lama memutar sepasang padangnya yang beru­bah menjadi dua gulungan sinar terang. Thay Hok Lama juga memutar rantai baja di tangannya dan senjata istimewa ini menyambar-nyambar ke sekelilingnya, seperti jari-jari maut. Orang ke lima, Thay Bo Lama yang kurus kering itu menggerakkan tombaknya dan terdengar­lah suara mendengung-dengung karena si kurus kering ini memiliki tenaga raksasa.

Biarpun lima belas orang murid utama Kun-lun-pai dapat pula menghindarkan diri dari cengkeraman maut yang disebarkan oleh Tibet Ngo-houw dengan cara saling melindungi dan saling membantu, namun mereka terdesak hebat dan hanya mampu mempertahankan diri saja terhadap serangan lima orang pendeta Lama yang bertubi-tubi itu datangnya. Jelas nampak pertempuran yang tidak seimbang sama sekali. Lewat dua puluh jurus lebih, dari lima belas orang murid utama Kun-lun-pai itu, hanya sepuluh orang yang masih mampu melawan, karena yang lima orang sudah terjungkal roboh ter­kena sambaran senjata lawan. Sepuluh orang ini mempertahankan diri mati-matian, namun kalau dilanjutkan, jelas bahwa merekapun akan roboh seperti yang dialami lima orang saudara mereka.

Tiba-tiba berkelebat bayangan dua orang dan terdengar bentakan nyaring.

"Tahan senjata!" Ketika sepuluh orang murid utama Kun-lun-pai melihat bahwa yang maju adalah kedua orang gu­ru mereka, maka merekapun berloncatan ke belakang dan sebagian segera meno­long lima orang saudara mereka yang tadi terluka. Lima orang pendeta Lama juga menahan senjata mereka dan kini me­reka memandang dengan senyum mengejek kepada dua orang pimpinan Kun-lun-pai itu.

"Pinto Thian Khi Tosu dan suheng Thian Hwat Tosu menantang kalian untuk mengadu kepandaian seorang lawan seorang!" bentak Thian Khi Tosu yang ber­tubuh besar itu dengan garang.

Mendengar ini, lima orang pendeta Lama itu saling pandang lalu Thay Ku Lama tertawa sambil melangkah maju. "Omitohud....! Dua orang tosu pimpinan Kun-lun-pai sungguh mau menang dan mau enak sendiri saja! Tadi, mereka membi­arkan lima belas orang muridnya untuk mengeroyok kami berlima, sekarang bicara tentang mengadu kepandaian seorang lawan seorang!"

Wajah Thian Khi Tosu menjadi ma­rah. "Bagus! Jangan kalian mengira bahwa pinto takut menghadapi pengeroyokan. Kalau kalian berlima hendak maju mengeroyok, silakan!"

"Sute, harap tenangkan hatimu!" Tiba-tiba Thian Hwat Tosu menegur sutenya dan ketua Kun-lun-pai ini melang­kah maju dan memberi hormat kepada li­ma orang Lama dari Tibet itu. "Siancai.... pinto berdua mohon maaf kepada Ngo-wi. Maafkan para murid kami tadi yang lan­cang turun tangan, mengeroyok kepada Ngo-wi. Akan tetapi, mereka itu hanya­lah orang-orang muda yang kurang pengalaman dan terima kasih atas pelajaran yang Ngo-wi berikan kepada mereka. Pinto berdua sute yang kebetulan menjadi pimpinan Kun-lun-pai, bertanggung jawab terhadap semua urusan Kun-lun-pai. Agar pertentangan antara Ngo-wi dan kami tidak berlarut-larut, biarlah ka­mi berdua sebagai pimpinan Kun-lun-pai mewakili perkumpulan kami untuk menentukan apakah Kun-lun-pai masih mampu mempertahankan kedaulatannya di daerah Kun-lun-san ini. Kalau kami ternyata tidak mampu menandingi Ngo-wi dalam pertandingan yang adil, satu lawan sa­tu, biarlah kami akan mundur dan selanjutnya Kun-lun-pai tidak lagi akan menghalangi semua sepak terjang Ngo-wi."

Ucapan yang panjang itu terdengar halus, namun mengandung tantangan, ju­ga teguran, disamping janji.

"Omitohud.... Bagus sekali kalau ketua Kun-lun-pai sendiri yang berjan­ji begitu. Memang cukup adil! Kita go­longan persilatan memang hanya mempu­nyai satu aturan, yaitu siapa yang lebih kuat dia berhak menentukan peraturan. Kalau kami kalah oleh ketua Kun-lun-pai, biarlah kami angkat kaki dari sini, kecuali kalau diantara kami masih ada yang mampu menandingi ketua Kun-lun-pai. Thay Si sute, temani aku untuk bermain-main dengan dua orang tosu ini sebentar."

Thay Si Lama, si muka bopeng, sambil tersenyum melangkah maju mendam­pingi suhengnya, yaitu They Ku Lama, sambil melintangkan cambuknya di de­pan dada. Thay Ku Lama sendiri sudah sejak tadi mempersiapkan golok yang dipegang terbalik dan bersembunyi di balik lengannya.

"Ha-ha-ha." Orang ke dua dari Tibet Ngo-houw yang mukanya bopeng ini tertawa. "Ini baru pertandingan yang menarik, suheng, tidak main keroyok seperti tadi."

Thian Khi Tosu menghadapi Thay Si Lama dan Thay Si Lama yang melihat wakil ketua Kun-lun-pai ini tidak bersenjata, segera meletakkan cambuknya di atas kepala dan berseru, "Tosu, keluarkan senjatamu!"

Akan tetapi sebelum kedua pihak bergerak menyerang, Pek In Tosu yang tadi masih duduk bersila bersama dua orang kawannya, kini sudah bangkit ber­diri dan sekali tubuhnya bergerak, tubuh itu sudah melayang dan berdiri di antara dua orang tosu dan dua orang Lama itu. Dangan sikap tenang dan wajah ramah dia menghadapi dua orang tosu Kun-lun-pai dan suaranya terdengar lembut.

"Toyu, pinto harap toyu dapat menjaga nama baik Kun-lun-pai. Kami per­nah mendengar bahwa Kun-lun-pai adalah perkumpulan orang-orang gagah yang ti­dak mencampuri urusan orang lain. Ka­lau sekali ini Kun-lun-pai mencampuri urusan para Lama dari Tibet, berarti Kun-lun-pai membahayakan nama baiknya sendiri. Ketahuilah bahwa para pendeta Lama dari Tibet ini datang ke Kun-lun-pai sama sekali bukan untuk memusuhi Kun-lun-pai, melainkan untuk mencari kami yang dulu disebut Himalaya Sam Lojin. Karena kami dari Himalaya pindah ke Kun-lun-san ini untuk mencari tem­pat sunyi dan damai, maka mereka mengejar ke sini dan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dangan pihak Kun-lun-pai. Kalau sekarang Kun-lun-pai mencampuri, bukankah itu berarti Kun-lun-pai terlalu iseng dan membahayakan nama baiknya sendiri? Karena itu, kami berti­ga minta agar Kun-lun-pai suka mundur dan menutup semua pintu, tidak membiarkan anak muridnya mencampuri urusan o­rang luar."

Mendengar ucapan kakek berpakaian putih dan berambut putih ini, dua orang ketua Kun-lun-pai saling pandang. Ucapan itu memang tepat dan benar. Dua orang murid tingkat tiga mereka memang bentrok dangan dua orang dari Lima Harimau Tibet, akan tetapi hal itu terjadi karena murid-murid itu mencampuri urusan para pendeta Lama. Kalau kini pertandingan dilanjutkan dan mereka sampai kalah, suatu hal yang amat bo­leh jadi mengingat saktinya lima orang pendeta Lama itu, nama besar Kun-lun-pai akan jatuh! Sebaliknya andaikata mereka menang, berarti mereka menanam bibit permusuhan dangan para pendeta Lama di Tibet dan hal itu sungguh amat berbahaya sekali! Para pendeta Lama di bawah Dalai Lama bukan hanya merupakan sekelompok pemimpin agama yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan juga menjadi pucuk pimpinan negara itu sendiri! Bermusuhan dangan para pendeta Lama sama dengan bermusuhan dangan se­luruh rakyat Tibet! Jelaslah bahwa u­capan Pek In Tosu tadi menyadarkan mereka akan dua kemungkinan yang sama-sama amat merugikan Kun-lun-pai itu. Me­nang atau kalah, akibatnya amat buruk bagi Kun-lun-pai dan sungguh tidak se­padan dangan sebabnya, yang pada hake­katnya juga salah murid mereka sendiri.

"Siancai....!" kata Thian Hwa Tosu sambil menjura. "Sungguh ucapan yang amat bijaksana, dan kami akan menjadi orang-orang yang tidak mengenal budi kalau tidak mentaatinya. Terima kasih atas nasihat itu, locianpwe. Dan ke­pada para Lama, kami mohon maaf dan sejak saat ini, Kun-lun-pai tidak lagi mancampuri urusan kalian. Sute, ajak semua murid untuk kembali ke asrama!" Ucapan terakhir ini merupakan perintah dan biarpun mukanya merah karena pena­saran dan marah, Thian Khi Tosu tidak berani membantah perintah suhengnya. Diapun mengajak semua murid untuk per­gi mengikuti ketua mereka, membawa me­reka yang terluka, pulang ke benteng Kun-lun-pai dan selanjutnya pintu ban­teng atau asrama itu ditutup rapat-ra­pat!

Setelah semua orang Kun-lun-pai pergi, Thay Ku Lama yang memimpin Ti­bet Ngo-houw itu tertawa. "Ha-ha-ha, sungguh luar biasa! Himalaya Sam-lo­jin malah membantu kami sehingga pekerjaan kami menjadi lebih ringan me­nyingkirkan penghalang berupa Kun-lun-pai! Bagus sekali! Kamipun bukan orang-orang yang tidak ingat budi. Karena kalian telah memperlihatkan sikap baik, Sam-lojin, dengan menyadarkan Kun-lun-pai sehingga mereka tidak menentang kami, maka kamipun menawarkan jalan da­mai untuk kalian. Marilah kalian ikut dangan kami, sebagai tamu undangan a­gar kami hadapkan kepada yang mulia Dalai Lama di Tibet. Kami tidak akan menganggap kalian sebagai tawanan, melainkan tamu undangan. Bagaimana?"

Kini tiga orang kakek itu sudah bangkit berdiri semua dan Pek In Tosu juga tersenyum ramah ketika menjawab, "Siancai....! Terima kasih atas niat baik itu. Akan tetapi sungguh sayang dan maafkan kami, Ngo-wi Lama, bahwa terpakna sekali kami tidak dapat menerima undangan terhormat itu."

Wajah They Ku Lama yang tadinya tersenyum, seketika berubah keruh dan alisnya berkerut, perutnya yang gendut itu bergerak-gerak menggelikan. Akan tetapi siapa yang telah mengenalnya baik-baik, maklum betapa hebatnya perut gendut itu! Yang membuat perut gendut itu bergerak-gerak seolah-olah di dalamnya ada bayi dalam kandungan itu, sebetulnya adalah ilmu pukulan Hek-bin Tai-hong-ciang itu, yang dilakukan sambil berjongkok dan perutnya mengeluar­kan bunyi kok-kok seperti seekor katak besar!

"Hem, apakah yang memaksa kalian monolak undangan kami yang kami laku­kan dengan merendahkan diri?" tanyanya dongan suara membentak.

Pek In Tosu masih bersikap halus dan ramah, "Pertama, kami adalah tiga orang yang sudah tua dan lemah, dan setua ini kami hanya ingin menikmati kehidupan yang tenang sehingga undangan terhormat itu tidak dapat kami terima karena kami tidak sanggup melakukan perjalanan sejauh itu ke Tibet. Ke dua, kami merasa tidak mempunyai urusan apapun dangan Dalai Lama, sehingga andaikata beliau mempunyai kepentingan dengan kami, sepatutnya Dalai Lama yang datang ke sini menemui kami, bukan kami yang diundang ke sana karena bagaimanapun juga, kami bukanlah anggautanya maupun rakyatnya. Nah, itulah sebabnya mengapa kami tidak dapat menerima undengan itu."

"Mau atau tidak, menerima atau menolak, kalian bertiga tetap harus ikut bersama kami ke Tibet!" bentak Thay Bo Lama, seorang di antara mereka yang tubuhnya kurus kering dan wataknya me­mang keras. "Kalau perlu, kami menggu­nakan kekerasan!"

Pek In Tosu mengangguk-angguk sambil tersenyum dan mengelus jenggotnya.

"Siancai.... sudah kuduga demiki­an. Katakan saja bahwa kalian datang ini untuk membunuh kami, tidak perlu memakai banyak macam alasan."

"Benar! Kami memang hendak membunuh kalian!" bentak Thay Ku Lama yang sudah menerjang dengan goloknya, dii­kuti oleh empat orang adik seperguruannya yang mempergunakan senjata masing-masing.

Himalaya Sam Lojin tentu saja cepat mengelak dan terjadilah perkelahi­an mati-matian. Akan tetapi, tiga o­rang kakek itu sama sekali tidak ber­senjata. Biarpun mereka adalah tokoh-tokoh besar dalam dunia persilatan dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, pan­dai mempergunakan segala macam senjata namun sudah sejak belasan tahun mereka tidak pernah menyentuh senjata, apalagi membawa-bawa senjata. Memikirkan tentang perkelahian sajapun tidak per­nah. Selain itu, juga bagi seorang yang sudah ahli benar dalam ilmu si­lat, menggunakan senjata ataukah tidak sama saja karena kaki tangan mereka sudah merupakan senjata yang paling ampuh. Tiga orang kakek Himalaya ini sudah memiliki tingkat kepandaian yang amat tinggi, baik ilmu silatnya, maupun tenaga sakti mereka yang sudah matang. Selain itu, juga mereka memiliki keku­atan batin yang mampu menghadapi saga­la macam kekuatan sihir atau ilmu hi­tam. Akan tetapi, mereka telah puluhan tahun tidak pernah berkelahi, tidak pernah mempergunakan ilmu-ilmunya un­tuk bertentangan apa lagi saling se­rang dengan orang lain. Bahkan selama ini mereka hanya tekun memerangi semua nafsu sendiri dalam kerinduan mereka kepada Tuhan, keinginan mereka untuk kembali kepada "sumbernya", bagaikan titik-titik air yang ingin kembali ke lautan. Maka, kini menghadapi serangan lima orang lawan yang sakti, mereka i­tu kurang gairah dan kurang semangat, hanya lebih banyak membela atau melindungi diri mereka sendiri saja, sama sekali tidak ada nafsu untuk meroboh­kan lawan walaupun andaikata ada nafsu itupun tidak akan mudah bagi mereka untuk merobohkan Tibet Ngo-houw.

Di lain pihak, lima orang pendeta Lama dari Tibet itupun merupakan orang-orang yang sudah matang ilmu kepandaian mereka. Bukan hanya keahlian ilmu silat tingkat tinggi mereka miliki, a­kan tetapi juga tenaga sin-kang mereka amat kuat dan disamping itu, mereka­pun pandai ilmu sihir. Thay Ku Lama memiliki pukulan Hek-in Tai-hong-ciang yang mengeluarkan tenaga dari pusat dasar perutnya yang gendut dan pukulan­nya ini amat berbahaya, selain kuat mampu merontokkan isi perut lawan, ju­ga mengandung hawa beracun yang ganas. Adapun orang ke dua, Thay Si Lama, disamping permainan cambuknya yang dah­syat, juga memiliki ilmu Sin-kun Hoat-lek, ilmu silat yang mengandung kekuatan sihir. Orang ke tiga, Thay Pek Lama merupakan ahli sepasang pedang yang memiliki gin-kang (ilmu meringankan tu­buh) yang luar biasa, membuat dia da­pat bergerak seperti terbang saja. Thay Hok Lama, orang ke empat yang bermata tunggal itu, selain berbahaya se­kali permainan senjata rantai bajanya, juga merupakan seorang ahli racun yang mengerikan. Kemudian orang ke lima, Thay Bo Lama, biarpun kurus kering, namun tenaganya raksasa dan dia pandai sekali memainkan senjata tombaknya. Dan yang lebih daripada semua itu, ke lima orang Lama ini berkelahi penuh semangat, penuh gairah untuk merobohkan lawan. Inilah yang membuat mereka ber­bahaya sekali.

Sebetulnya kalau dibuat perban­dingan, tingkat kepandaian masing-massing hampir seimbang, namun pihak Himalaya Sam Lojin masih lebih tinggi. An­daikata mereka itu bertanding satu lawan satu, kiranya tidak ada seorangpun dari para Lama itu mampu mengalahkan kakek-kakek Himalaya itu. Akan tetapi, mereka bertanding berkelompok, lima melawan tiga sehingga Himalaya Sam Lojin dikeroyok, dan seperti telah dise­butkan tadi, tiga orang kakek itu ka­lah jauh dalam hal gairah dan semangat untuk merobohkan lawan. Oleh karena i­tu, setelah melalui pertandingan selama puluhan jurus, tiga orang kakek Himalaya itu mulai nampak terdesak. Di antara mereka bertiga, nampaknya hanyalah Pek Bin Tosu yang bermuka hitam, yang berkelahi dengan semangat, memba­las setiap serangan lawan dengan se­rangan pula. Memang, orang ke tiga da­ri Himalaya Sam Lojin ini terkenal me­miliki watak yang keras, jujur dan terbuka, tidak seperti dua orang kakek lainnya yang lemah lembut, ramah dan ha­lus.

Hanya Sie Liong seorang yang me­nyaksikan pertandingan yang amat he­bat ini. Anak berusia tiga belas tahun ini sejak tadi masih duduk bersila dan menonton dengan bengong. Matanya tak berkedip sejak tadi, mulutnya ternga­nga. Matanya yang tidak terlatih itu sukar untuk dapat mengikuti gerakan delapan orang kakek yang sakti itu. Seo­lah-olah hanya melihat tari-tarian aneh yang dilakukan oleh delapan bayangan, tiga bayangan putih dan lima ba­yangan merah. Bahkan kadang-kadang ge­rakan mereka itu demikian cepat sehingga yang nampak olehnya hanyalah warna putih dan merah berkelebatan sehingga dia tidak tahu apakah yang sedang mereka lakukan, dan kalau mereka itu berkelahi, diapun tidak tahu siapa yang unggul dan siapa pula yang terdesak. Akan tetapi satu hal dia merasa pasti bahwa tiga orang kakek berpakaian putih itu adalah orang-orang yang baik. Sedang­kan lawan mereka, lima orang berpakai­an merah adalah orang-orang yang jahat. Otomatis hatinya condong berpihak kepada tiga orang kakek berpakaian putih walaupun dia tidak tahu bagaimana dia akan dapat membantu mereka.

Saking tertarik hatinya, penuh ketegangan dan kekhawatiran kalau-kalau tiga orang kakek yang didukungnya itu akan kalah, Sie Liong sampai lupa akan keadaan dtrinya sendiri. Biarpun tiga orang kakek berpakaian putih itu telah berusaha untuk mengobatinya, namun da­danya yang sebelah kiri masih terasa nyeri dan napasnya kadang-kadang sesak. Pukulan yang mengenai tubuhnya, sebetulnya hanya angin pukulannya saja, amatlah hebat dan menurut percakapan antara tiga orang kakek berpakaian putih itu dia mengerti bahwa dia telah terkena hawa pukulan beracun yang amat ampuh dari seorang di antara lima o­rang pendeta Lama itu.

Pertempuran itu kini sudah menca­pai puncaknya. Delapan orang kakek itu agaknya sudah mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian mereka, yang tiga orang untuk membela diri, yang lima o­rang berkeras hendak merobohkan mereka. Kalau tadi Sie Liong dibuat pusing o­leh bayangan putih dan merah yang bar­kelebatan, kini dia terpaksa bangkit berdiri dan karena dia masih lemah dan kepalanya pening, dia terhuyung. Namun dia tetap memaksa dirinya melangkah menjauhkan diri karena ada angin pukulan menyambar-nyambar dangan amat dahsyatnya. Tidak urung, masih ada juga angin dahsyat menyambar dan tak dapat dicegah lagi, tubuh Sie Liong terkena sambaran angin dahsyat ini dan diapun terjungkal dan terguling-guling!

Tubuhnya berhenti karena tertahan oleh sesuatu. Ketika dia membuka matanya untuk memandang, mata yang melihat segala sesuatu agak kabur, dia malihat bahwa dia berhenti terguling-guling karena tertahan oleh sepasang kaki dan sebatang tongkat butut! Dia membelalakkan matanya agar dapat memandang lebih jelas lagi. Memang sepasang kaki, akan tetapi kaki yang buruk sekali. Kaki telanjang, jari-jari kakinya jelek, ko­tor, kasar dan merenggang seperti jari kaki ayam. Makin ke atas, semakin je­lek karena kaki itu hanya kulit kering kerontang membungkus tulang dan sampai ke betis mulai tertutup celana yang terbuat dari kain kasar dan penuh tambalan pula. Ketika Sie Liong menengadah, dia melihat bahwa sepasang kaki itu adalah milik seorang kakek berpakaian jembel yang wajahnya buruk, yang menyeringai dengan mulut yang ti­dak bergigi lagi, rambutnya riap-riap­an berwarna putih, sepasang matanya mengeluarkan sinar aneh sekali. Sie Li­ong terkejut dan berusaha untuk bang­kit berdiri, akan tetapi dia terguling lagi dan roboh. Maka diapun lalu duduk saja bersila, tidak memperduilkan lagi apakah dia akan terancam ataukah tidak.

"Heh-heh-heh....!" Kakek itu ter­kekeh geli dan tongkat bututnya barge­rak ke sekeliling tubuh Sie Liong, membuat guratan di atas tanah mengelilingi Sie Liong dan nampaklah garis yang cukup dalam, lingkaran dangan garis tengah dua meter lebih. "Engkau tinggal­lah saja di dalam ruangan ini dan sia­papun tidak akan mampu mengganggumu, anak bongkok!"

Sie Liong mendongkol. Agaknya dia bertemu dengan seorang jembel tua yang gila. Akan tetapi kepalanya terlalu pening, tubuhnya sakit-sakit karena terguling-guling tadi dan diapun tidak menjawab, hanya membuka mata mononton pertempuran yang masih berjalan terus. Agaknya kakek jembel itupun kini tidak memperdulikan dia, melainkan ikut pula menonton sambil kadang-kadang mengelu­arkan suara terkekeh aneh. Dia berdiri pula di dalam lingkaran itu, di sebelah belakang Sie Liong. Ketika kakek itu terkekeh-kekeh geli menonton pertempuran, tiba-tiba Sie Liong merasa kepala­nya, leher dan mukanya kejatuhan air.

Wah, hujankah? Pikiran ini membuat dia menengadah, akan tetapi sungguh sial, pada saat itu, entah mengapa, si kakek jembel tertawa semakin keras. Sie Liong basah semua! Kiranya hujan itu turun dari mulut si kakek. Karena mulut itu tidak bergigi lagi, agaknya ketika tertawa-tawa, maka air ludahpun memercik keluar dari mulut yang tidak dilindungi pagar gigi lagi itu!

Sie Liong makin mendongkol. Dia mengusap muka, leher dan kepalanya, menggunakan lengan bajunya, dan biar­pun kepalanya pening, dia memaksa diri untuk bangkit dan untuk pergi menjauhi kakek gila itu. Akan tetapi, tiba-tiba saja kepalanya diketuk dengan tongkat.

"Tokk!" Dan diapun jatuh terduduk kembali! Ketukan dengan tongkat itu tidak mendatangkan rasa nyeri, akan tetapi seolah-olah kepalanya ditekan oleh sesuatu yang amat berat dan kuat, yang membuatnya jatuh lagi. Beberapa kali dia mencoba bangun, namun setiap kali kepalanya diketuk tongkat! Akhirnya, biar dia marah dan mendongkol, Sie Liong duduk dan tidak lagi bangkit, apalagi karena pertempuran itu kini mulai mendekati tempat dia duduk di atas ta­nah dalam lingkaran garis itu.

Memang terjadi perubahan dalam pertempuran tingkat tinggi itu. Akhirnya Himalaya Sam Lojin kewalahan juga menghadapi desakan lima orang lawan mereka yang mempergunakan segala daya, ilmu silat, sihir, bahkan racun, untuk mengalahkan mereka. Mereka bertiga terdesak dan sambil mengelak ke sana-sini kadang-kadang menangkis dengan kebutan ujung lengan baju atau juga dengan ta­ngan mereka yang kebal, mereka terus mundur. Tiba-tiba terdangar bentakan-bentakan nyaring keluar dari mulut pa­ra pendeta Lama dan Sie Liong melihat betapa tiga orang kakek berpakaian pu­tih terhuyung dan ada tanda merah di pakaian mereka yang putih. Darah! Tiga orang kakek itu agaknya terluka! Akan tetapi, mereka masih terua melawan. Kini pertempuran makin mendekati garis lingkaran dan tiba-tiba, seorang di antara kakek berpakaian putih meloncat dan kakinya menginjak sebelah dalam lingkaran.

Tiba-tiba tongkat butut kakek jembel itu bergerak mendorong punggung kakek yang "melanggar" lingkaran itu dan tubuh kakek berpakaian putih itupun tordorong keluar!

Ketika para anggauta Tibet Ngo-houw dengan penuh semangat dan nafsu mendesak terus, tiga orang kakek berpakaian putih itu berlompatan dan agak­nya mereka tidak berani menginjak lingkaran! Tidak demikian dengan para pen­data Lama. Ada dua orang yang tanpa sengaja menginjak garis lingkaran, yaitu Thay So Lama dan Thay Hok Lama. Begitu melihat Thay So Lama, si kurus kering yang bertenaga raksana itu memasuki lingkaran, kakek jembel lalu menggerakkan tongkat bututnya, seperti tadi mendorong dan tubuh pendeta Lama itupun terdorong keluar. Pada saat itu, Thay Hok Lama juga masuk ke dalam lingkaran, kembali dia tordorong keluar oleh tongkat butut.

Keduanya menoleh dan Thay Bo Lama marah sekali. Dia memutar tombaknya dan karena dia mengira bahwa anak bongkok itu yang usil tangan, tombaknya menyerang ke arah Sie Liong. Bagaikan a­nak panah meluncur dari busurnya, tom­bak itu menusuk ke arah leher Sie Liong. Anak ini tidak tahu bahwa bahaya maut mengancam nyawanya.

"Trakkk!" Tombak itu terpental ketika bertemu dengan tongkat butut. Thay Bo Lama terbelalak, tidak mengira sama sekali bahwa ada seorang kakek jembel yang mampu membuat tombaknya terpental dengan tangkisan tongkat bu­tut. Padahal, dia memiliki tenaga ga­jah yang sukar dilawan. Pada saat itu, Thay Hok Lama yang juga marah, menga­yun rantai bajanya ke arah kakek jembel. Kakek jembel itu terkekeh keras dan kembali kepala Sie Liong kehujanan dan begitu kakek jembel itu menggerakkan tangan kiri, ujung rantai baja itu sudah ditangkap dan ditariknya. Thay Hok Lama tiba-tiba merasa ada tenaga dahsyat membetotnya sehingga tertarik mendekat dan tongkat butut itu menyambar ke arah kepalanya.

"Tokkk!" Kepala Thay Hok Lama yang gundul kena dikemplang dan seketika muncul telur ayam di kepala yang gun­dul itu! Thay Hok Lama meraba kepala­nya yang dikemplang itu dengan tangan kiri dan diapun terbelalak keheranan. Kepalanya sudah kebal, bahkan dibacok golok saja tidak akan terluka. Kenapa kini dikemplang sebatang tongkat butut saja dapat menjadi bengkak dan menjen­dol sebesar telur ayam? Nyeri sekali memang tidak, akan tetapi hatinya yang amat nyeri karena dia merasa dihina. Thay Bo Lama yang melihat rekannya dikemplang, menjadi marah dan biarpun tadi dia terkejut oleh tangkisan tongkat butut, kini dia menyerang lagi dengan tusukan tombaknya ke arah perut kakek jembel.

"Waduh, jebol perut ini...." teri­ak kakek jembel dan tombak itu benar-benar mengenai perutnya dan tembus! A­kan tetapi, tidak ada darah keluar, tidak ada usus keluar dan tiba-tiba kepala Thay Bo Lama kena dikemplang tongkat butut.

"Takkk!" Dan seperti juga kepala Thay Hok Lama, kini kepala Thay Bo La­ma yang gundul muncul pula sebuah te­lur ayam! Ketika Thay Bo Lama mengerahkan kekuatan batinnya memandang, ternyata tombaknya sama sekali tidak me­nembus perut kakek jembel itu, melain­kan menembus baju jembel yang kedodor­an dan tadi hanya merupakan suatu per­mainan sihir saja. Anehnya, kenapa dia yang ahli sihir sampai dapat dipermainkan seperti itu?

Sementara itu, tiga orang pendeta Lama yang kini menghadapi tiga orgng kakek Himalaya, tentu saja merasa be­rat kalau melawan seorang dengan seorang. Dua orang rekannya meninggalkan mereka dan sibuk mengurusi kakek jem­bel!

"Si-sute dan Ngo-sute (adik seperguruan ke empat dan ke lime), hayo bantu kami!" teriak Thay Ku Lama. Dua o­rang itu, Thay Hok Lama dan Thay Bo La mengelus-elus kepala mereka yang benjol, akan tetapi mereka sadar bahwa mereka berhadapan dengan seorang jembel yang amat sakti, maka merekapun kini hendak membantu rekan-rekan mereka yang agaknya kewalahan juga menghadapi Himalaya Sam Lojin. Akan tetapi pada saat itu, terdangar seruan yang halus.

"Siancai....! Tidak malukah kalian ini lima orang pendeta yang mestinya menjahui kekerasan, kini malah mempergunakan kekeranan untuk menyerang orang lain?"

Lima orang pendeta Lama itu terkejut karena suara yang halus itu mengandung wibawa yang amat besar, bahkan mengandung getaran tenaga khi-kang yang terasa menggetarkan jantung, maka merekapun berloncatan mundur untuk mamandang siapa yang muncul itu. Kiranya seorang kakek tua renta, usianya tentu sudah tujuh piluh lima tahun, rambutnya putih semua riap-riapan, kumis dan jenggotnya juga putih, tubuhnya tinggi kurus dan tegak, wajahnya segar, pakaiannya berwarna kuning yang hanya dilibatkan dan dililitkan pada tubuhuya, tangan kanannya memegang sebatang tongkat butut.

"Supek....!" Himalaya Sam Lojin cepat memberi hormat kepada kakek itu.

"Heh-heh-heh, kalau suheng yang muncul, semua akan menjadi beres penuh damai, heh-heh-heh!" Kakek jembel bar­seru sambil terkekeh dan kembali Sie Liong kehujanan! Himalaya San Lojin memberi hormat kepada kakek jembel itu.

"Terima kasih atas bantuan susiok!"

"Heh-heh, siapa yang bantu siapa? Aku hanya membuat ruangan untuk anak bongkok ini, ternyata ada Lama jubah merah berani melanggar, tentu saja kukemplang kepalanya, heh-heh!"

Lima Harimau Tibet terkejut bukan main. Mereka belum mengenal Pek-sim Sian-su, kakek berpakaian kuning itu, dan juga tidak mengenal Koay Tojin, kakek jembel yang aneh itu, akan tetapi mendengar bahwa dua orang itu adalah su­pek (uwa perguruan) dan susiok (paman perguruan) dari Himalaya Sam Lojin, tentu saja mereka merasa gentar. Baru Himalaya Sam Lojin saja sudah merupakan lawan yang sukar dirobohkan, apalagi muncul paman guru dan uwa gurunya! Apa lagi Thay Hok Lama dan Thay Bo Lama yang masih merasa bekas ketukan tong­kat pada kepala mereka yang menjadi benjol. Masih terasa berdanyutan kepa­la itu!

"Kalian ini para tosu sombong se­lalu menentang kami!" bentak Thay Ku ­Lama dengan marah, akan tetapi juga gentar untuk turun tangan.

"Siancai....!" Pek-in Tosu yang terluka pundaknya, berdarah sedikit, berkata sambil menarik napas panjang. "Thay Ku Lama, bukankah omonganmu itu sengaja kauputar-balikkan? Sejak kapan kami memusuhi kalian? Siapakah yang menyerang, membunuhi para pertapa yang tidak bersalah apapun di Himalaya? Kami sudah mengalah, mengungsi ke Kun-lun-san. Siapa pula yang mengundang kalian datang untuk menangkapi bahkan mengancam untuk membunuh kami dan para pertapa di sini pula?"

"Kami hanya menerima perintah da­ri Yang Mulia Dalai Lama!" bentak Thay Ku Lama. "Kami harus menangkap Himalaya Sam Lojin untuk mempertanggung-jawabkan pemberontakan dan pembunuhan yang dilakukan mendiang guru kalian!"

"Siancai....!" Pek-sim Sian-su berkata, suaranya halus namun kembali lima orang Lama itu bergidik kareng isi dada mereka tergetar hebat. Mereka terpaksa mencurahkan perhatian dan me­ngerahkan tenaga untuk melindungi diri sambil memandang kepada kakek tinggi kurus itu. "Sungguh aneh sekali! Mendiang sute menentang para Lama yang hen­dak memaksa seorang anak dusun dan hendak diculik. Dalam pertempuran itu, ti­ga orang Lama tewas. Apa anehnya dalam hal itu? Kalau sute kalah, tentu dia yang tewas! Dan anak yang dilindungi mendiang sute itu adalah Dalai Lama yang sekarang! Bagaimana mungkin dia yang menyuruh kalian untuk menangkapi atau membunuh murid-murid sute? Sung­guh janggal!"

Mendengar ini, lima orang Lama i­tu saliag pandang. Kemudian Thay Ku Lama berseru, "Kami adalah utusan Dalai Lama akan tetapi telah gagal. Biarlah kami akan melapor kepada beliau dan kalian tunggu saja pembalasan dari ka­mi!" Setelah berkata demikian, Thay Ku Lama berkelebat pergi dikuti oleh em­pat orang adik seperguruannya.

"Heh-heh-heh, suheng, kenapa sam­pai sekarang engkau masih menjadi seo­rang yang lemah? Anjing-anjing itu gi­la dan membahayakan, bagaimana kalau aku mewakili suheng mengejar dan membasmi mereka?" kata Koay Tojin. Kakek i­ni adalah sute (adik seperguruan) dari Pek-sim Sian-su, akan tetapi kalau Pek Sim Sian-su hidup sebagai seorang yang memperdalam kemajuan jiwanya, hidup sebagai seorang yang membersihkan diri lahir batin bahkan mengasingkan diri dari keramaian duniawi, sebaliknya Koay Tojin suka berkeliaran dan memang ada kelainan pada dirinya. Dia dikenal sebagai seorang yang sinting! Pada hal dalam ilmu kepandaian silat maupun ke­kuatan sihir, dia tidak kalah diban­dingkan suhengnya itu. Mungkin justeru karena dia terlampau banyak mempelajari ilmu sihir dan gaib, terlalu dalam menjenguk ke dalam rahasia kegaiban, dan batinnya tidak kuat, maka dia men­jadi sinting seperti itu. Hidupnya berkeliaran seperti jembel dan kadang-ka­dang melakukan hal aneh-aneh yang ti­dak lumrah. Dia tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, berkeliaran sampai jauh ke empat penjuru dan muncul seca­ra tiba-tiba saja tanpa berita lebih dulu. Akan tetapi diapun tidak pernah menonjolkan diri sehingga jarang ada yang mengenalnya sebagai seorang sakti, lebih dikenal sebagai seorang sinting.

"Sute, engkaupun sampai sekarang masih belum menanggalkan sikapmu yang ugal-ugalan. Siapakah dirimu ini maka engkau mempunyai niat untuk membunuh orang? Apakah engkau tidak melihat bah­wa tidak ada perbedaan antara engkau dan mereka?"

"Heh-heh-heh, heei, anak bongkok. Engkau dengar itu? Bukankah pendirian suheng itu aneh sekali? Tadi dia sendiri datang, dan kalau lima ekor monyet gundul itu tidak pergi, aku yakin dia akan turun tangan melindungi tiga orang murid keponakan yang baik ini dan akan mengalahkan mereka berlima. Akan tetapi sekarang, coba dangar, dia berceramah menguliahi aku agar aku tidak membunuh lima orang Lama itu! Heh-heh-heh, lelucon yang tidak lucu bukan?"

Biarpun jembel tua itu nampak ugal-ugalan, namun diam-diam Sie Liong membenarkan pendapatnya. Maka diapun lupa diri dan sambil memandang kepada kakek berpakaian kuning itu, dia berkata, "Memang benar, kek. Lima orang pendeta itu tadi jahat bukan main, lebih jahat karena mereka itu berjuluk pendeta. Membasmi mereka merupakan kewajiban, karena akan menolong manusia dari ancaman kejahatan mereka. Andaikata aku kuat, tentu aku akan membasmi mereka!"

"Siancai.... Siapakah bocah ini?" tanya Pek-sim Sian-su kepada Himalaya Sam Lojin. Pek In Tosu lalu mencerita­kan tentang Sie Liong, seorang bocah gelandangan yang pernah menyelamatkan dirinya secara tanpa disengaja ketika dia diserang oleh dua orang Lama, kemudian betapa bocah itu terkena pukulan beracun dari Thay Ku Lama dan mereka bertiga sudah berusaha mengobatinya namun gagal ketika tiba-tiba muncul Ti­bet Ngo-houw tadi.

"Kebetulan supek telah datang, maka mohon supek menyembuhkan penderita­annya," kata Pek In Tosu kepada supek­nya. Memang aneh hubungan antara mere­ka itu. Himalaya Sam Lojin berusia ku­rang lebih tujuh puluh tahun, sedangkan Pek-sim Sian-su lima tahun lebih tua, akan tetapi dia telah menjadi uwa perguruan mereka! Hal ini adalah kare­na ketika mempelajari ilmu di Himalaya, Himalaya Sam Lojin sudah berusia tiga ­puluh tahun lebih dan guru mereka, yaitu seorang sute dari Pek-sim Sian-su, berusia tiga tahun lebih tua dari mereka.

Pek-sim Sian-su memang memiliki banyak macam kepandaian, di antaranya ilmu pengobatan. Mendengar bahwa anak bongkok itu telah menyelamatkan nyawa Pek Im Tosu, dan menderita luka pukulan beracun, diapun lalu mendekati Sie Liong dan memeriksa punggung dan dada­nya. Dia mengerutkan alisnya dan berkata. "Ah, biarpun hawa beracun sudah bersih, akan tetapi isi perutnya mengalami guncangan hebat dan ada racun tertinggal di dalam darahnya. Dia dapat diobati akan tetapi akan memakan waktu yang cukup banyak. Biarlah dia ikut dengan pinto, dan perlahan-lahan pinto sembuhkan dia."

"Lihat, anak bongkok. Orang tua itu menyelewengkan percakapan dan pura-pura tidak mendengar perkataan tadi. Menggelikan, heh-heh-heh!" kata Koay Tojin.

Biarpun di dalam hatinya Sie Li­ong merasa gembira bahwa dia akan diobati oleh kakek berpakaian kuning, na­nun mendengar ucapan Koay Tojin, dia merasa tidak puas juga.

"Locianpwe, maafkan aku. Kalau locianpwe tidak mau menjelaskan mengapa locianpwe melarang kakek jembel ini membasmi lima orang Lama yang ja­hat, terpaksa aku tidak mau ikut dengan locianpwe untuk diobati."

"Hushh! Anak baik, kalau tidak diobati engkau akan mati," kata Pek-sin Tosu.

"Heh-heh-heh, kau benar, anak bongkok. Kalau dia tidak mau menerang­kan, biar engkau ikut aku saja. Kalau harus mati, kita mati bersama dan me­lanjutkan perjalanan ke neraka atau ke sorga, he-he-heh!"

Pek-sim Sian-su menarik napas panjang. "Kalian berdua ini sama-sama ingin mengerti, itu baik sekali walau­pun sesungguhnya engkau harus malu un­tuk mengajukan pertanyaan yang kekanak-kanakan itu, sute. Anak baik, siapakah namamu?"

"Namaku Sie Liong, locianpwe."

"Sie Liong? Nama yang baik. Nah, dangarkanlah, Sie Liong, dan engkau juga, sute. Semua perbuatan itu dinilai dari yang menjadi pendorongnya. Orang bertentangan, berkelahi, juga harus dilihat dari apa yang menjadi pen­dorongnya. Jelas bahwa kita tersesat jauh kalau kita berkelahi dengan orang lain karena kemarahan, kebencian atau dandam. Engkau tadi melihat sendiri betapa tiga orang murid keponakan kita ini berkelahi melawan orang Lama hanya untuk membela diri saja, tanpa sedikitpun dikuasai nafsu kebencian, kemarahan atau keinginan membunuh lawan. Tentu saja sudah menjadi hak mereka untuk mempertahankan diri dan melindungi dirinya apabila terancam kesakitan atau kematian. Sebaliknya, engkaupun melihat sendiri bagaimana keadaan batin lawan-lawan itu dalam perkelahian. Mereka itu jelas berkelahi dengan nafsu dandam dan kebencian, keinginan untuk membunuh. Kalau sekarang kita mengejar mereka dengan niat hati untuk membasmi mereka, bukankah keinginan itupun didasari oleh kebencian? Karena itu, setiap perbuatan manusia haruslah dilihat dari pamrihnya atau dari sebab yang mendorongnya melakukan perbuatan itu, karena biarpun perbuatannya itu nampaknya serupa atau sama, namun sesungguhnya berbeda, seperti buat dan langit."

Koay Tojin terkekeh-kekeh, sedangkan Sie Liong diam-diam mengakui kebe­naran pendapat Pek-sim Sian-su. Walau­pun masih belum dewasa, namun anak itu memang memiliki kecerdasan. Melihat betapa sutenya masih hahah-heheh, Pek-sim Sian-su tersenyum.

"Sute, sudah belasan tahun kita tidak saling jumpa, kulihat engkau masih sama saja. Aku dapat membaca semua isi hatimu. Engkau tentu masih belum puas, bukan? Nah, selagi jodoh mempertemukan antara kita sekarang ini, kau boleh keluarkan semua isi hatimu dan mari kita bahas bersama, biar didengarkan juga oleh tiga orang murid keponakan kita yang bijaksana ini, dan juga biarlah anak yang baik ini berkesempatan mendengarnya."

Koay Tojin bertepuk tangan tanda gembira. "Heh-heh-heh, bagus, bagus! Memang aku belum puas, suheng. Akan kukeluarkan semua rasa penasaran dalam hatiku ini. Selama bertahun-tahun aku melihat kepalsuan-kepalsuan dunia dan aku muak, suheng, aku sedih...." Dan tiba-tiba kakek itupun menangis terisak-isak seperti anak kecil! Tentu saja Sie Liong terkejut melihat hal ini dan dia memandang dengan mata terbelalak. Akan tetapi, tiga orang kakek Himalaya itu yang kini juga sudah duduk bersila se­perti dua orang supek dan susiok mereka, hanya menundukkan muka saja, se­dangkan Pek-sim Sian-su memandang sutenya sambil tersenyum.

"Lanjutkan, sute."

Sambil menyusuti air matanya, Koay Tojin melanjutkan. "Aku melihat semua orang mengenakan topeng pada mu­kanya. Mengerikan dan menakutkan, juga membuat hati penasaran dan mendongkol sekali. Pada lahirnya semua orang memakai topeng yang indah dan bersih, padahal di balik topeng itu, batin mereka busuk dan kotor! Munafik dan pura-pura. Hati, kata dan perbuatan merupakan se­gi tiga yang berbeda jurusan. Palsu, palsu, semua palsu! Juga para pendeta yang pernah kujumpai berbatin palsu. Karena itu, suheng, aku sudah membuang semua pantangan. Heh-heh, aku makan daging, minum arak, heh-heh. Suheng sen­diri tentu tak pernah makan daging dan minum arak, bukan? Apakah suheng bare­ni mengatakan bahwa suheng tidak pernah membunuh?"

"Siancai....! Pinto tidak menyangkal, sute. Akan tetapi dijauhkan Thian kiranya hati ini dari benci, iri, dengki dan pementingan diri pribadi."

"Coba jawab, suheng. Apakah kalau suheng makan sayur dan minum air saja, berarti suheng tidak melakukan pembu­nuhan? Jawab yang jujur, jangan muna­fik, suheng!"

"Saincai...., munafik lebih keji daripada penyelewengan itu sendiri, sute. Tidak dapat disangkal lagi, di dalam sayuran, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, bahkan di dalam air jernih itu terdapat mahluk-mahluk hidup yang bar­gerak dan bernyawa dan yang tidak nam­pak saking kecilnya. Bahkan sayur itu sendiri merupakan tumbuh-tumbuhan yang hidup."

"Nah-nah-nah....!" Koay Tojin menu­dingkan telunjuknya, mengamang‑amangkan ke arah suhengnya. "Kalau begitu suheng juga membunuh!"

"Memang, hal itu pinto akui, sute, akan tetapi biarpun sama-sama membunuh namun perbedaannya bumi-langit, Manusia hidup harus makan, demi kelangsungan hidupnya dan sudah menjadi pembawa­an sejak lahir bahwa manusia harus ma­kan. Dan satu-satunya bahan makanan yang baik, menghidupkan, dan bukan sekedar menuruti nafsu lidah saja, ada­lah sayur-sayuran dan buah-buahan, ju­ga air jernih. Biarpun semua itu me­ngandung mahluk hidup, akan tetapi ka­rena tidak kelihatan maka kita membunuh tanpa kita ketahui, tanpa kita sengaja. Andaikata pinto melihat ada u­lat pada buah yang pinto makan, tentu ulat itu akan pinto singkirkan agar tidak termasuk dan termakan. Semua mah­luk hidup kecil tak nampak yang ikut termakan, bukan sengaja dimakan. Inilah bedanya, sute. Orang yang makan daging, sengaja membunuh hewan itu dan makan dagingnya untuk memuaskan selera, sedangkan orang yang makan sayur, biarpun membunuh mahluk kecil-kecil, hal itu dilakukan bukan dengan sengaja dan sama sekali tidak bermaksud menikmati dagingnya. Demikian pula dengan sayuran, welaupun sayuran itupun hidup, namun sayuran tidak bergerak, tidak memperlihatkan rasa sakit seperti halnya binatang. Demikianlah, sute. Segala perbuatan haruslah dilihat dasar dan pendorongnya. Kalau orang membunuh sesama hidup karena ingin memuaskan nafsu kesenangan, atau karena kebencian, sungguh hal itu merupakan perbuatan yang amat keji dan kejam."

"Bagaimana kalau aku minum arak? Itu tidak membunuh...."

"Sute, mengapa dianjurkan agar minuman arak dijauhi? Karena dari minum arak orang menjadi mabok dan dalam ma­bok dapat melakukan hal-hal yang tidak baik. Bermabok-mabokan memberi jalan kepada nafsu untuk makin merajalela menguasai batin. Juga, bermabok-mabokan merusak kesehatan. Kalau hal seperti ini tetap dilaksanakan, bukankah itu merupakan kebodohan besar merusak diri sendiri? Ingat, sute. Tubuh kita meru­pakan Kuil Suci yang dihuni oleh jiwa. Sudah sepatutnya kalau kita merawat Kuil Suci ini sebaik-baiknya, tidak dikotori dan tidak dirusak, kita peliha­ra sebaiknya luar dalam."

"Suheng, keteranganmu sudah cukup jelas. Sekarang, kebetulan kita saling bertemu, aku minta sedikit petunjuk tentang ilmu silat kepadamu. Nah, bersiaplah, suheng!"

Koay Tojin meloncat berdiri dan menudingkan tongkat bututnya ke langit. Melihat ini, Pek-sim Sian-su tertawa. "Ha-ha, sejak dulu engkau masih saja keranjingan ilmu silat, sute. Orang-o­rang tua bangka seperti kita ini, perlu apa mementingkan ilmu kekerasan seper­ti itu? Akan tetapi, pinto mendangar bahwa engkau telah memperoleh ilmu yang amat hebat, maka pintopun ingin pula manyaksikan kehebatan ilmumu itu, sute. Nah, perlihatkan kepada pinto!"

Pek-sin Sian-su juga bangkit berdiri dan dengan tenang dia menghampiri kakek sinting itu, berdiri tegak dengan tongkat butut di tangannya. Kedua orang kakek itu sungguh amat berbeda. Pek-sim Sian-su demikian anggun dan rapi bersih, penuh wibawa akan tetapi juga penuh kelembutan dan keramahan, sinar mata dan senyumnya penuh kasih sayang. Sebaliknya, Koay Tojin berpakaian ti­dak karuan, butut dan kotor, berdiri­nya juga sembarangan saja, dan hanya ada satu persamaan antara mereka, yaitu bahwa keduanya memiliki sinar mata mencorong dan keduanya sama-sama memegang sebatang tongkat butut.

Melihat betapa supek dan susiok mereka itu saling berhadapan dengan tongkat di tangan, Himalaya Sam Lojin mengamati dengan wajah berseri gemblra. Sungguh beruntung, pikir mereka. Kesempatan seperti ini sungguh langka. Se­mentara itu Sie Liong yang sama seka­li belum mengenal dasar ilmu silat tinggi, hanya nonton dengan hati ingin tahu, akan tetapi tentu saja dia ti­dak begitu mengerti, karena ketika ta­di terjadi perkelahian tingkat tinggi antara para pendeta Lama dan San Lojin diapun tidak mampu mengikutinya dengan baik. Dia hanya merasa heran mengapa hatinya tertarik kepada si jembel yang berotak miring ini, akan tetapi diapun kagum dan tunduk kepada kakek berpakaian kuning yang berwibawa. Heran dia mengapa kakek itu mau saja melayani jem­bel tua yang disebut sute-nya.

"Suheng, coba kausambut jurus tongkatku ini!" Tiba-tiba Koay Tojin berseru dan tongkatnya bergerak. Anehnya, gerakan itu lambat saja, seperti main-main akan tetapi ujung tongkat itu mengeluarkan angin menderu dan ujungnya menusuk secara beruntun ke arah tulang-tulang iga Pek-sim Sian-su, sedangkan tangan kirinya dipentang dengan jari-jari tangan terbuka, siap menyambut ke mana lawan akan mengelak!

Semua gerakan ini dilakukan lambat sehingga Sie Liong saja dapat mengikuti dengan pandang matanya.

"Bagus sekali!" seru Pek-sim Sian-su memuji, bukan sekadar menyenangkan hati sutenya, melainkan memuji karena kagum. Dia melihat betapa dahsyatnya serangan sutenya itu yang memang amat sukar untuk dilawan, sukar dielakkan maupun ditangkis. Dia maklum bahwa ka­lau ditangkis, maka tenaga tangkisan itu justeru akan memperkuat getaran tongkat sutenya untuk melakukan tusuk­an berikutnya karena serangan itu merupakan serangkaian tusukan ke arah tulang iga. Dia lalu mengangkat tongkatnya, menggerakkan tongkat bututnya dengan lambat pula, dan menyambut tongkat sutenya. Dua batang tongkat butut bertemu, akan tetapi Pek-sim Sian-su tidak menangkis, melainkan menggunakan sin-kang membuat tongkatnya menempel pada tongkat sutenya dan dengan demikian, tongkatnya terus mengikuti gerakan tongkat sutenya dan setiap tusukan dapat didorongnya kembali sehingga ujung tongkat sutenya itu hanya mampu mencium kain kuning yang melibat dada saja. Karena serangan pertama gagal, Koay Tojin melangkah mundur.

"Hemm, sungguh hebat. Bukankah i­tu sebuah jurus dari ilmu tongkatmu yang baru, yang dinamakan Ta-kwi Tung-hoat (Ilmu Tongkat Memukul Setan)?" tanya sang suheng.

"Heh-heh-heh, matamu yang sudah tua memang masih tajam sekali, suheng. Memang benar, dan jurus tadi kunamakan Jurus Menghitung Tulang Iga. Sayang engkau tidak membiarkan aku menghitung tulang igamu, suheng."

"Dan membiarkan tulang-tulang igaku yang sudah tua itu remuk? Aih, aku berkewajiban menjaga tubuh tua ini, sute."

"Sekarang lihatlah ini, jurus yang kunamakan Menyapu Ribuan Setan!" katanya dan Koay Tojin sudah menyerang lagi, kini tongkatnya itu membuat ge­rakan berputar lebar dan seakan ada ratusan batang tongkat menyambar ke arah tubuh Pek-sim Sian-su, dari kanan, kiri, depan, belakang, atas dan bawah! Sungguh hebat tongkat itu, atau orang yang menggerakkan tongkat itu. Bagaimana mungkin tongkat yang hanya sebatang itu mampu menghujankan serangan seper­ti itu, dari segala jurusan, dalam waktu yang berturut-turut. Dan angin pukulan yang keluar dari tongkat itu! Untung Sie Liong masih duduk bersila, demikian pula Sam Lojin sehingga angin pukulan yang menyambar ke atas itu ti­dak mengenai mereka. Daun-daun pohon yang berdekatan sudah rontok semua, bahkan ada ranting yang kurang kuat patah-patah terkena sambaran angin pukulan tongkat butut itu! Melihat keadaan ini, berdebar rasa jantung Sie Liong. Barulah dia melihat sendiri betapa he­batnya kakek jembel gila itu.

"Siancai....! Sungguh dahsyat....!" kata Pek-sim Sian-su dan kakek inipun menggerakkan tongkat bututnya dan ke manapun bayangan tongkat Koay Tojin menyambar, selalu tongkat itu bertemu dengan tongkat lain yang menangkisnya, seolah-olah tubuh Pek-sim Sian-su sudah dilindungi benteng yang kokoh kuat. Berulang kali tongkat mereka saling bertemu, mengeluarkan suara tak-tuk-tak-tuk yang menggetarkan jantung, seperti dua buah benda yang amat kuat dan berat saling bertemu. Akhirnya, kembali Koay Tojin melangkah mundur menghentikan serangannya.

"Engkau memang hebat, suheng. Ma­sih saja engkau memiliki ilmu Benteng Tongkat Baja yang amat kokoh kuat. A­kan tetapi balaslah menyerang, suheng. Kenapa engkau hanya menangkis saja dan tidak membalas?"

"Siancai...., sute yang baik. Bagaimana pinto mampu menyarang kalau untuk melindungi diri saja sudah repot sekali? Hampir saja pinto tidak kuat bertahan terhadap seranganmu yang me­ngerikan tadi."

"Biarlah sekarang yang terakhir, suheng. Sambutlah jurus Tongkat Meng­hancurkan Kepala Setan ini!" Dan dia pun sudah memegang tongkat itu dengan kedua tangannya dan langsung menghan­tamkan ke arah kepala suhengnya dari atas. Kelihatannya saja jurus ini amat sederhana bahkan kasar seperti gerakan liar orang yang berkelahi tanpa menggunakan ilmu silat. Akan tetapi sesung­guhnya pukulan ini berbahaya sekali karena mempunyai banyak macam perubahan yang tidak tersangka-sangka andaikata yang dipukul mengelak. Menghadapi pu­kulan dari atas seperti itu, memang mudah saja mengelak. Akan tetapi anehnya Pek-sim Sian-su justeru tidak mengelak melainkan mengangkat kedua tangan yang memegangi kedua ujung tongkat untuk menangkis! Dia mengenal ilmu yang aneh ini dan tahu bahwa di balik kesederhanaannya tersembunyi perubahan yang amat berbahaya. Maka dia tidak mau mengelak malah menangkis agar jurus itu dengan tenaga sepenuhnya menimpa tangkisannya dan diam-diam dia mengerahkan tenaga saktinya.

Sie Liong sudah merasa ngeri, me­ngira bahwa tentu pertemuan antara dua tongkat itu akan hebat dan dahsyat se­kali dan tentu ada di antara dua orang kakek itu yang akan terluka. Dan tong­kat butut yang dipukulkan oleh Koay Tojin itu menyambar turun, amat kuatnya menimpa tongkat yang dilintangkan di atas kepala Pek-sim Sian-su. Kedua o­rang kakek itu memegangi tongkat dengan kedua tangan.

Dua batang tongkat butut itu bertemu, keras sekali akan tetapi sungguh luar biasa. Tidak ada suara terdangar! Seolah-olah dua batang tongkat itu hanyalah benda-benda yang lunak. Akan tetapi, Koay Tojin melompat ke belakang dan tongkat bututnya telah patah menjadi dua potong! Sambil terkekeh dia melemparkan tongkat itu. Dua potong tongkat itu meluncur dan menancap pada batang sebuah pohon, tingginya dua meter lebih dan menancap rapi berjajar atas dan bawah dalam jarak sekepalan tangan.

"Heh-heh, engkau hebat, suheng. Biar kubantu engkau mengobati bocah bongkok ini!" Tiba-tiba dia sudah menangkap Sie Liong dengan mencengkeram punggung bajunya dan tiba-tiba Sie Liong merasa tubuhnya melayang ke atas dibawa oleh kakek itu melompat ke arah pohon itu. Dia tidak sempat meronta karena tubuhnya sudah melayang ke atas dan dia merasa betapa kedua kakinya dijepitkan di antara dua potongan tongkat tadi sehingga tubuhnya tergantung dengan kepala ke bawah, bergantung pada kedua kakinya yang terjepit. Ternyata dua potong tongkat yang dilemparkan tadi dan menancap di batang pohon, ja­raknya demikian tepat sehingga dapat menjepit kedua pergelangan kaki Sie Liong. Ketika Sie Liong yang tergantung dengan kepala di bawah itu hendak me­ronta karena takut jatuh, kakek jembel itu sambil terkekeh menepuk punggung Sie Liong tiga kali, cukup keras sehingga mengeluarkan bunyi berdebuk. Dan seketika Sie Liong muntahkan darah dari mulutnya yang langsung keluar dari dalam dada dan perutnya. Darah itu banyak dan agak menghitam!

Koay Tojin lalu meloncat turun. Cara dia turun dari pohon itu aneh karena dia hinggap di atas tanah bukan dengan kedua kakinya, melainkan dengan kepalanya dan kini dia melompat-lompat dengan kepala di bawah, mengeluarkan suara dak-duk-dak-duk dan tubuhnya sudah berloncatan secara aneh itu cepat sekali, sebentar saja lenyap dari situ.

"Siancai.... siancai.... siancai....!" Pek-sim Sian-su memuji dengan kedua tangan dirangkap di depan dada. "Sute Koay Tojin sungguh telah mencapai tingkat yang sukar diukur tingginya. Hebat."

Hek Bin Tosu, orang ke tiga dari Himalaya Sam Lojin membantah. "Akan tetapi masih kalah oleh supek. Buktinya tongkatnya patah menjadi dua potong ketika bertemu dengan tongkat supek!"

"Hemmm, begitukah pendapatmu? Lihat tongkatku ini...." kata Pek-sim Sian-su lirih. Tiga orang kakek itu melihat dan.... begitu tongkat di tangan itu digerakkan perlahan, maka runtuhlah tongkat itu dalam keadaan hancur berkeping-keping! Himalaya Sam Lojin terke­jut. Kiranya tenaga Koay Tojin sedemi­kian hebatnya sehingga portemuan anta­ra dua tongkat itu membuat tongkat di tangan Pek-sim Sian-su hancur, hanya berkat ilmu yang tinggi dari Pek-sim Sian-su, maka tongkat itu masih dapat dipegangnya dalam keadaan yang utuh.

"Siancai.... Bukan main hebatnya susiok...." kata Pek-in Tosu sambil menarik napas panjang. "Dan berbahaya sekali....!"

Pek-sim Sian-su dapat membaca isi hati murid keponakan ini. "Engkau be­nar, memang berbahaya sekali kalau sampai ilmu-ilmunya itu diwariskan kepada seorang manusia yang menjadi budak nafsu. Orang seperti dia itu, yang tidak waras dan memang sinting, dapat saja melakukan hal yang aneh-aneh, dan mungkin juga lengah sehingga keliru menerima murid. Bagaimanapun juga, segala sesuatu memang sudah digariskan oleh Ke­kuasaan Tertinggi, dan manusia hanya dapat memilih akan berpihak yang baik ataukah yang buruk, yang benar ataukah yang salah."

"Supek, kalau sampai susiok memiliki murid yang murtad dan sesat, ten­tu akan lebih berbahaya dari pada Tibet Ngo-houw tadi! Dan kita sudah semakin tua. Siapakah yang akan menahan kejahatannya kelak?" kata Swat Hwa Cin­jin.

Pek-sim Sian-su tersenyum. "Di atas Puncak Himalaya masih ada awan dan di atas awan masih ada langit! Betapapun kuat dan tingginya kejahatan ma­sih ada kekuasaan lain yang lebih kuat dan lebih tinggi untuk mengatasinya! Hal itu tidak perlu dikhawatirkan. Pula, bukankah kita masih hidup seka­rang? Dan kalau sute dapat mempunyai murid, kitapun bisa saja memilih seo­rang murid yang baik, agar kelak dia dapat menahan kejahatan yana datang dari manapun juga."

Pada saat itu, terdengar suara memelas, "Locianpwe.... harap suka tolong saya...."

Pek-in Tosu bangkit dan hendak menghampiri pohon itu untuk menurunkan Sie Liong, akan tetapi Pek-sim Sian-su mencegahnya. "Jangan diturunkan dulu! Biarkan racun itu habis seperti yang dikehendaki oleh sute tadi!"

Sie Liong maraca tersikea sekali. Dia tergantung dengan kedua kaki terjepit tongkat, kepalanya di bawah dan dia merasa betapa kepalanya berdenyut-denyut seperti kebanjiran darah dan mulai merasa pening, juga isi perutnya seperti masuk ke dalam rongga dadanya, kedua kaki terasa kesemutan dan seper­ti tidak ada rasanya lagi, mukanya te­rasa panas. Mendengar ucapan kakek berpakaian kuning tadi, diapun merasa mendongkol.

"Locianpwe, kenapa begitu kejam membiarkan aku tersiksa begini?"

Kini Pek-sim Sian-su mendekati pohon itu, berkata dengan lembut, "Sie Liong, ketahuilah bahwa sute Koay Tojin tadi telah membantuku mengobatimu. Dengan caranya sendiri yang aneh dia telah membantu dan mengeluarkan racun dari tubuhmu. Bukan untuk menyiksamu kalau dia menggantungmu seperti ini. Sesungguhnya tergantung dengan kepala di bawah ini merupakan suatu cara latihan yang amat hebat hasilnya, ditambah dengan tepukannya pada punggungmu tadi telah membuat engkau langsung memuntahkan darah beracun dari tubuhmu. Sebagai kelanjutannya, engkau harus bertahan selama satu jam tergantung di situ, dan semua racun akan keluar dari tubuhmu sehingga untuk menyembuhkanmu kembali hanya merupakan hal mudah, hanya memulihkan tenagamu saja."

Mendengar ini, Sie Liong merasa girang sekali. "Ah, kalau begitu, maafkan saya, locianpwe, dan terima kasih. Jangankan satu jam, biar sepuluh jam saya akan pertahankan sekuat saya."

Pek-sim Sian-su mengangguk-angguk dan diapun duduk kembali bersila di depan tiga orang murid keponakannya.

"Supek tadi menyebut tentang betapa baiknya kalau kita mempunyai seo­rang murid, apakah supek maksudkan dia itu?" Pek-in Tosu menuding ke arah tubuh anak kecil bongkok yang sedang tergantung dengan kepala di bawah itu. Pek-sim Sian-su tersenyum dan diam-diam dia memuji ketajaman pandangan mu­rid keponakan yang telah memperoleh kemajuan pesat ini.

"Benar, dialah calon yang kulihat cocok sekali untuk menjadi tumpuan ha­rapan kita," jawabnya.

"Akan tetapi...., dia cacat! Apa yang dapat diharapkan dari seorang yang cacat, apalagi cacatnya bongkok seperti dia?" Hek Bin Tosu mencela dengan alis berkerut.

"Hemm, agaknya engkau belum meme­riksa anak itu dengan seksama," kata Pek-sim Sian-su. "Sute tadi sekali melihat saja sudah tahu akan keistimewa­an anak itu sehingga dia mau turun ta­ngan mengobatinya."

"Supek benar, sute. Dia memang seorang anak yang berbakat tinggi, dan baik sekali. Cacatnya itu tidak akan menjadi penghalang besar, karena itu ha­nya merusak bentuknya saja, tidak mem­pengaruhi dalamnya," kata Pek In Tosu.

Mereka lalu bercakap-cakap tentang sepak terjang lima orang pendeta Lama dari Tibet yang mengadakan pengacauan di Kun-lun-san, memburu para pertapa yang pindah dari Himalaya puluhan ta­hun yang lalu.

"Supek, kalau dugaan teecu berti­ga benar, memang tentu ada hal-hal a­neh terjadi di Tibet. Rasanya tidak masuk di akal kalau Dalai Lama sendiri yang mengutus mereka untuk melakukan pembunuhan dan perburuan itu, apalagi mengutus mereka untuk menangkap atau membunuh teecu bertiga. Bagaimanapun juga tentu Dalai Lama tahu bahwa men­diang suhu dahulu adalah pembela dan pelindungnya, menyelamatkan banyak penduduk dusun asalnya yang diamuk oleh para Lama yang akan menculiknya." kata Pek In Tosu.

"Memang agaknya bukan Dalai Lama yang mengutus mereka. Pinto lebih con­dong menduga bahwa mereka itu tentu merupakan hubungan dekat sekali dengan para Lama yang tewas di tangan mendiang gurumu dan mereka memang sengaja menuntut balas. Bukankah ketika terjadi keributan dan pertentangan tiga puluh tahun yang lalu di Tibet itu, lima orang Lama ini belum muncul? Keributan dahu­lu itu memang dipimpin oleh Dalai Lama yang dahulu, yang marah oleh perlawan­an mendiang suhu kalian sehingga menjatuhkan korban di antara para pendeta Lama yang dahulu menganggap para pertapa, terutama para tosu di Himalaya memberontak. Akan tetapi, Dalai Lama yang sekarang ini, yang bahkan menjadi pe­nyebab perkelahian antara suhu kalian dan para Lama, tidak mempunyai permusuhan apapun dengan kita."

"Memang mencurigakan sekali dan teecu kira hal ini patut untuk diselidiki, supek," kata Hek Bin Tosu yang masih penuh semangat.

Supeknya tersenyum. "Hek Bin Tosu, lupakah engkau berapa sudah usiamu? Orang-orang setua kita ini, tidak memiliki tenaga dan keuletan lagi untuk melakukan pekerjaan besar itu. Memasuki Tibet untuk melakukan penyelidikan bu­kanlah pekerjaan yang ringan. Apa lagi kita sudah mereka kenal, bahkan mereka musuhi. Tidak, sebaiknya kalau kita menyerahkan tugas itu kepada muridku itu." Dia menunjuk kepada tubuh anak bongkok yang tergantung di pohon.

"Baiklah, supek. Kalau begitu, biarlah kelak teecu bertiga juga akan mewariskan ilmu-ilmu kami yang terbaik untuk sute kami itu," kata Swat Hwa Cinjin.

Hanya sampai di situ Sie Liong mampu menangkap percakapan mereka karena selanjutnya dia tidak mendengar apa-a­pa lagi, sudah pingsan dengan tubuh masih tergantung seperti kelelawar.

Gadis cilik itu membalapkan kuda­nya naik ke bukit itu. Seorang gadis mungil, berusia antara sebelas dan dua belas tahun dengan wajah yang manis dan sepasang mata yang jeli dan indah. Anak perempuan itu mengenakan pakaian cukup indah dan cara dia menunggang ku­da membuktikan bahwa ia sudah biasa dengan permainan ini. Kudanya juga see­kor kuda yang baik sekali, dengan tu­buh panjang dan leher panjang. Anak perempuan itu seperti berlumba saja ketika melarikan kudanya semakin cepat, padahal jalan itu tidak rata dan menda­ki. Namun, agaknya ia memang sudah biasa dengan daerah ini, dan kudanyapun bukan baru sekali itu saja membalap ke arah puncak bukit di mana terdapat ba­nyak rumput hijau segar yang gemuk dan yang akan dinikmatinya sebagai hadiah kalau mereka sudah tiba di puncak.

Akhirnya tibalah mereka di puncak bukit yang merupakan tanah datar de­ngan padang rumput yang luas. Gadis cilik itu meloncat turun, ia dan kudanya bermandi keringat, dan keduanya nampak gembira. Apalagi setelah anak perempuan itu melepaskan kendali kuda dan membiarkan kudanya makan rumput dan ia sendiri menjatuhkan diri duduk di atas rumput yang tebal, keduanya sungguh meniknati keindahan alam, hawa udara yang berbau harum itu, bau tanah dan tumbuh-tumbuhan yang segar. Kicau bu­rung menambah semarak suasana. Bebera­pa lamanya anak perempuan itu rebah telentang di atas rumput, melepaskan le­lah dan memejamkan mata. Alangkah nik­matnya telentang di atas rumput seper­ti itu! Lebih nikmat daripada rebah di atas kasur yang paling lunak dengan tilam sutera yang paling halus.

Akan tetapi seekor semut yang a­gaknya tertindih olehnya, menegigit tengkuknya. Ia bangkit dan menepuk se­mut itu, membuangnya sambil bersungut-sungut. "Semut jahil kau!" katanya dan kini ia menoleh kepada kudanya. Ketika ia melihat betapa kuda itu makan rum­put dengan lahapnya, nampak enak seka­li dengan mata yang lebar itu berkedap-kedip melirik ke arahnya, ia menelan ludah dan perutnya tiba-tiba saja merasa lapar sekali.

Anak perempuan itu adalah Yauw Bi Sian. Seperti telah kita ketahui, Bi Sian tinggal bersama ayahnya, Yaw Sun Kok, di kota Sung-jan, di ujung barat Propinsi Sin-kiang. Di tempat tinggal­nya banyak terdapat penduduk aseli Su­ku Bangsa Kirgiz, Uigur, dan Kazak yang ahli menunggang kuda. Oleh karena keadaan lingkungan ini, sejak kecilpun Bi Sian pandai menunggang kuda. Apalagi ia memang menerima latihan ilmu silat dari ayahnya, maka menunggang kuda merupakan satu di antara kepandaian yang cocok untuknya. Ayahnya yang amat sayang kepadanya bahkan membelikan se­ekor kuda yang baik untuknya dan sudah biasa Bi Sian membalapkan kudanya per­gi seorang diri ke lembah-lembah dan padang‑padang rumput.

Kepergian Sie Liong membuat anak perempuan ini berduka dan berhari-hari ia menangis dan mendesak ayah ibunya agar mencari Sie Liong sampai dapat dan mengajaknya pulang. Ia merasa kehilangan sekali karena ia tumbuh besar di samping pawan kecilnya itu yang merupakan paman, juga kakak, juga saha­bat baiknya. Semua hiburan ayah ibunya tidak dapat mengobati kesedihannya ke­tika ayahnya gagal menemukan kembali Sie Liong.

Akan tetapi, lambat laun ia manpu juga melupakan Sie Liong dan pada hari itu, setengah tahun setelah Sie Liong pergi, ia membalapkan kuda seorang di­ri menaiki bukit itu. Matahari sudah condong ke barat dan Bi Sian yang merasa perutnya tiba-tiba menjadi lapar sekali melihat kudanya makan rumput, bangkit dan menghampiri kudanya. Di­rangkulnya leher kudanya. Kuda itu de­ngan manja mengangkat kepala dan mengusapkan pipinya ke kepala gadis cilik itu.

"Hayo kita pulang, hari telah so­re," bisik Bi Sian dan iapun memasang­kan kembali kendali kudanya. Pada saat itu, muncul lima orang laki-laki kasar. Mereka itu berusia rata-rata tiga puluh tahun dan mereka menghampiri Bi Sian sambil tersenyum menyeringai. Karena tidak mengenal mereka, Bi Sian menge­rutkan alisnya dan tidak memperdulikan mereka. Akan tetapi ketika melihat ga­dis cilik itu hendak meloncat naik ke punggung kuda, tiba-tiba seorang di antara mereka melangkah maju dan meram­pas kendali kuda dari tangan Bi Sian.

"Perlahan dulu, nona. Kuda ini berikan kepada kami!" katanya.

Bi Sian terkejut dan marah. Ia sama sekali tidak merasa takut, sama se­kali tidak ingat bahwa ia berada di tempat yang sunyi sekali dan lima o­rang itu jelas bukan orang baik-baik. Telunjuknya menuding ke arah muka o­rang yang merampas kudanya.

"Siapa kalian? Berani kalian me­ngambil kudaku?" bentaknya.

"Ha-ha-ha, bukan hanya kudamu, nona, akan tetapi segala-galanya yang a­da padamu. Hayo lepaskan semua pakaianmu, kami juga minta semua pakaianmu i­tu."

Bi Sian terbelalak, bukan karena takut melainkan karena marahnya. Saking marahnya, ia tidak mengeluarkan kata-kata lagi melainkan ia sudah meloncat ke depan dan memukul ke arah perut orang yang bicara itu, seorang laki-laki brewokan yang agaknya menjadi pemimpin mereka. Serangannya cepat sekali datangnya. Maklum, biarpun usianya baru hampir dua belas tahun, akan tetapi sejak kecil Bi Sian sudah menerima gemblengan ayahnya yang pandai sehingga dalam usia sekecil itu ia sudah memiliki ilmu silat yang lumayan, terutama gerakannya cepat sekali walaupun dalam hal tenaga, ia masih belum kuat benar. Si brewok itu sambil tertawa-tawa mencoba untuk menangkap, akan tetapi dia kalah cepat.

"Bukkk!" Perutnya kena dihantam tangan yang kecil itu dan diapun terjengkang. Biarpun tidak terlalu nyeri, a­kan tetapi dia terkejut dan juga merasa malu. Kawan-kawannya segera menubruk dan tentu saja Bi Sian tidak mampu melawan lagi ketika mereka itu meringkusnya.

"Lepaskan ia!" tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan seorang pemuda remaja berusia lima belas tahun le­bih, muncul di tempat itu. Bi Sian segera mengenal pemuda ini yang bukan lain adalah Lu Ki Cong, putera Lu-ciangkun komandan pasukan keamanan di Sung-jan, pemuda yang pernah berkelahi dengan ia dan Sie Liong. Pemuda yang oleh ayah­nya dicalonkan menjadi suaminya!

Lima orang itu membalik dan memandang kepada Lu Ki Cong tanpa melepas­kan kedua lengan Bi Sian yang mereka telikung ke belakang. "Hemm, bocah lancang, siapa kau?" bentak si brewok sambil menghampiri Ki Cong dengan sikap mengancam.

Akan tetapi pemuda remaja itu ti­dak menjadi gentar. Diapun melangkah maju, membusungkan dada dan menjawab dengan lantang, "Namaku Lu Ki Cong, putera dari Lu-ciangkun komandan keaman­an di Sung-jan!"

"Ahhh....!" Si brewok terkejut dan melangkah mundur mendekati teman-temannya yang juga terkejut dan memandang ketakutan.

"Maaf.... maafkan kami.... kongcu...." Si brewok berkata dengan suara gemetar.

Lu Ki Cong melanpkah maju lagi. "Kalian tidak tahu siapa gadis ini? Ia adalah puteri Yauw Taihiap, seorang pendekar besar di Sung-jan, dan ia tu­nanganku, mengerti?"

"Maaf.... maaf...." Kini lima orang itu melepaskan Bi Sian dan mereka menggigil ketakutan.

"Kalian patut dihajar!" Ki Cong lalu melangkah maju dan tangan kakinya bergerak, menampar dan menendang. Lima orang itu jatuh bangun lalu mereka melarikan diri tunggang langgang, meninggalkan kuda tunggangan Bi Sian.

Sejenak dua orang muda remaja itu saling pandang dan dalam pandang mata Bi Sian ada sinar kagum. Tak disangka­nya pemuda yang nakal itu memiliki ke­beranian dan kegagahan!

"Terima kasih...." katanya lirih, agak malu-malu mengingat bahwa tadi pemuda itu memperkenalkan ia sebagai tu­nangannya kepada para penjahat.

Ki Cong tersenyum bangga, lalu mendekati gadis cilik itu. "Sian-moi, perlu apa berterima kasih? Sudah semestinya kalau aku membela dan melindungimu, kalau perlu dengan jiwa ragaku, bukankah engkau ini tunanganku dan calon isteriku?" Berkata demikian, Ki Cong mendekat dan tangannya lalu memegang lengan Bi Sian dengan mesranya. Merasa betapa lengannya diraba dengan mesra, meremang rasanya bulu tengkuk Bi Sian dan iapun menarik tangannya dengan renggutan, dan iapun melangkah mundur, alisnya berkerut.

"Aku tidak minta pertolonganmu, dan aku bukan tunanganmu!" bentaknya marah.

"Aihh, jangan bersikap seperti itu kepadaku, calon suamimu, Sian-moi. Ingat, antara orang tua kita sudah se­tuju akan perjodohan kita...."

"Aku tidak perduli! Aku tidak sudi!" kembali Bi Sian membentak.

"Sian-moi, jangan begitu. Mengapa engkau membenci aku? Apakah aku tidak menang segala-galanya dibandingkan anak bongkok itu?"

Tiba-tiba sepasang mata yang jeli itu mengeluarkan sinar kemarahan yang seperti bernyala. "Jangan menghina pa­man Sie Liong! Aku sayang padanya dan dia sepuluh kali lebih baik dari padamu!"

Karena pertolongannya tadi agak­nya tidak mendatangkan perasaan berte­rima kasih dan bersukur dari gadis ci­lik itu, Ki Cong menjadi penasaran dan dia berkata dengan kasar, "Sian-moi, engkau sungguh tidak tahu budi! Kalau tidak ada aku, apa yang terjadi padamu? Bukan saja kuda dan pakaianmu diambil orang, mungkin juga engkau telah diperkosa! Dan engkau sedikitpun tidak berterima kasih kepadaku!"

"Hemm, sudah kukatakan aku tidak minta pertolonganmu dan tadi aku su­dah bilang terima kasih. Mau apa lagi?"

"Setidaknya engkau harus memberi ciuman terima kasih!" kata Ki Cong yang tiba-tiba menangkap lengan gadis cilik itu dan hendak merangkul dan mencium. Akan tetapi Bi Sian menggerakkan tangannya.

"Plakkk!" Pipi pemuda remaja itu kena ditampar sampai merah. Ki Cong menjadi marah.

"Kau memang tidak tahu terima kasih!" Lalu dia menangkap kedua perge­langan tangan Bi Sian. Gadia cilik itu meronta-ronta, akan tetapi ia kalah tenaga dan kini Ki Cong sudah berhasil merangkulnya, mendekap dan mencari mu­ka anak perempuan itu dengan hidungnya. Akan tetapi Bi Sian meronta dan membu­ang muka ke kanan kiri sehingga ciuman yang dipaksakan oleh Ki Cong itu tidak mengenai sasaran.

Tiba-tiba nampak ada tongkat bergerak ke arah kepala Ki Cong dan memu­kul kepala penuda remaja itu.

"Tokk!" Seketika kepala itu menjendol sebesar telur ayam dan Ki Cong berteriak mengaduh sambil meraba kepa­lanya yang rasanya berdenyut-denyut. Dia melepaskan rangkulannya pada Bi Sian dan membalik. Ketika dia melihat seorang kakek jembel yang tua berdiri sambil memegang sebatang tongkat butut, dia marah sekali.

"Kau.... kau berani nemukul aku?" bentaknya sambil melangkah maju mende­kati kakek tua renta itu dengan sikap mengancam.

Kakek yang rambutnya putih riap-riapan dan pakaiannya tambal-tambalan itu adalah Koay Tojin. Dia kebetulan saja lewat di bukit itu dan sejak tadi melihat apa yang terjadi, kemudian me­ngemplang kepala Ki Cong dengan tong­katnya. Kini dia tertawa terkekeh-ke­keh.

"Aku! Memukulmu? Heh-heh-heh, yang memukul adalah tongkat ini, bukan aku!"

"Jembel tua busuk! Mana bisa tongkat memukul sendiri kalau tidak kaupu­kulkan?"

"Siapa bilang tidak bisa?" Koay Tojin mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi dan berkata, "Tongkat, orang menghinamu, dikatakannya engkau tidak bisa memukul sendiri. Tunjukkan bahwa engkau bisa memukul anjing dan orang kurang ajar, coba hajar pantatnya beberapa kali!"

Sungguh aneh sekali. Tongkat itu melayang terlepas dari tangan Koay Tojin, melayang di udara lalu menukik turun dan menghantam pantat Ki Cong.

"Plakk!" Ki Cong berteriak kesa­kitan dan mencoba untuk menangkap tongkat, akan tetapi sia-sia dan kembali tongkat itu menghajar pantatnya. Ki Cong kini menjadi ketakutan setengah mati dan sambil berteriak-teriak dia­pun lari tunggang langgang ke bawah bukit setelah tongkat itu menghajar pan­tatnya beberapa kali.

Melihat ini, Bi Sian tertawa se­nang sekali. Iapun terheran-heran melihat betapa ada tongkat dapat memukuli orang kurang ajar. Kini tongkat itu sudah kembali ke tangan si kakek jembel. Bi Sian mendekati.

"Kakek yang aneh, sungguh hebat sekali tongkatmu itu! Apakah itu tong­kat pusaka, tongkat wasiat?"

"Heh? Pusaka? Wasiat? Ini tongkat butut, heh-heh-heh!"

Bi Sian makin mendekat, sedikitpun tidak merasa takut atau jijik kepada kakek jembel yang terkekeh-kekeh dan menyeringai seperti orang gila itu.

"Kakek yang baik, maukah engkau memberikan tongkat itu kepadaku?"

"Tongkat ini? Tongkat butut ini? Heh-heh, boleh saja...."

Bi Sian gembira bukan main dan menerima tongkat butut itu dari tangan Koay Tojin. Ia meneliti tongkat itu, akan tetapi hanya sebatang tongkat bi­asa saja, sebuah potongan ranting pohon yang sudah kering dan kotor. Ia mencoba untuk menggerak-gerakkan tong­kat itu, akan tetapi biasa saja, tidak ada keanehannya.

"Kakek yang baik, maukah engkau mengajarkan aku caranya membuat tong­kat ini terbang dan memukuli orang ku­rang ajar? Aku ingin sekali belajar ilmu itu."

Kakek itu tertawa bergelak. "Belajar ilmu memukul orang dengan tongkat? Untuk apa?"

"Wah, banyak sekali kegunaannya, kek. Pertama, untuk melindungi diriku sendiri. Ke dua, dapat kupergunakan untuk melindungi paman kecilku yang bongkok."

"Paman kecil bongkok?"

"Ya, pamanku Sie Liong itu kecil-kecil sudah bongkok dan menjadi bahan hinaan orang. Si kurang ajar Ki Cong tadi juga menghinanya!"

"Sie Liong.... anak.... bongkok?" Koay Tojin berkata lambat dan seperti mengingat-ingat.

"Benar, kek! Apakah engkau pernah melihatnya? Dia melarikan diri dari rumah ayah, sudah berbulan-bulan, entah berada di mana, aku rindu sekali pada­nya. Kek, bolehkah aku belajar ilmu itu?"

Koay Tojin mengelus jenggotnya lalu tiba-tiba menjumput seekor kutu busuk di lipatan bajunya dan memasuk­kan kutu itu ke bibirnya. "Engkau benar mau menjadi muridku? Bukan hanya memainkan tongkat itu, bahkan menpela­jari ilmu-ilmu yang akan membuat engkau menjadi orang paling lihai di du­nia ini?"

"Mau, kek! Aku mau sekali!" kata Bi Sian girang karena ia mendapatkan perasaan bahwa ia berhadapan dengan orang sakti, seperti yang pernah ia dengar dari ayahnya. Ayahnya pernah bercerita bahwa di dunia ini terdapat orang yang memiliki ilmu tinggi sehingga kepandaiannya seperti dewa saja.

Untuk beberapa detik Koay Tojin seperti kehilangan kesintingannya dan sepasang matanya yang mencorong itu menelusuri seluruh tubuh Bi Sian dengan penuh selidik. Kemudian, sikapnya yang sinting kembali lagi.

"Kau mau? Benar-benarkah? Tidak mudah, nona cilik! Pertama, engkau ha­rus ikut ke manapun aku pergi, dan aku tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai apapun, dan kau harus bersedia hidup seperti anak jembel seperti aku!"

"Apa sukarnya? Aku bersedia!" ja­wab Bi Sian dengan penuh semangat. Ia teringat kepada paman kecilnya yang tentu hidup sebagai jembel pula. Dan tidak mungkin akan mati kelaparan kalau menjadi murid seorang yang demikian sakti seperti pengemis tua ini.

"Dan untuk waktu yang tidak sedi­kit! Sedikitnya tujuh tahun engkau harus mengikuti aku, atau sampai aku mati!"

"Aku setuju!"

"Dan mentaati semua perintahku!"

"Setuju!"

"Ha-ha-ha-ha...." Kakek itu tertawa bergelak, berdiri sambil memegangi perut yang terguncang, kepalanya me­nengadah dan mulutiya ternganga. Melihat ini, Bi Sian ikut tertawa, akan tetapi betapa kagetnya ketika tiba-tiba saja kakek itu yang tadinya menengadah kini membungkuk, dan menjatuhkan diri di atas rumput lalu menangis. "Hu-hu huuhhh...."

Tentu saja Bi Sian tidak mau ikut nenangis, melainkan ikut duduk di atas rumput, sejenak memandang kakek yang menangis tersedu-sedu itu dengan be­ngong. Karena kakek itu tidak juga berhenti menangis, ia menjadi tidak sabar dan mengguncang lengan kakek itu dengan tangannya. Kakek ini tentu gila, ia mulai curiga, akan tetapi tidak me­rasa takut, melainkan geli.

"Kek, kek, kenapa menangis?"

Tiba-tiba kakek itu menghentikan tangisnya, memandang kepada Bi Sian dengan muka yang basah air mata, matanya kemerahan, kemudian dia mewek lagi dan menangis terisak-isak. Tangis, seperti juga tawa, memang mempunyai daya tular yang ampuh. Biarpun tadinya Bi Sian tidak mau ikut menangis, kini melihat betapa tangis kakek itu tidak dibuat-bu­at, melainkan menangis sungguh-sungguh tanpa disadarinya lagi air matanya mulai keluar dari kedua matanya, mene­tes-netes menuruni kedua pipi. Bi Sian terkejut sendiri ketika menyadari akan hal ini. Cepat ia menghapus air mata dari kedua pipinya dan memegang lengan kakek itu, mengguncangnya dan berta­nya.

Tiba-tiba sepasang mata yang jeli itu mengeluarkan sinar kemarahan yang seperti bernyala. "Jangan menghina pa­man Sie Liong! Aku sayang padanya dan dia sepuluh kali lebih baik dari padamu!"

Karena pertolongannya tadi agak­nya tidak mendatangkan perasaan berte­rima kasih dan bersukur dari gadis ci­lik itu, Ki Cong menjadi penasaran dan dia berkata dengan kasar, "Sian-moi, engkau sungguh tidak tahu budi! Kalau tidak ada aku, apa yang terjadi padamu? Bukan saja kuda dan pakaianmu diambil orang, mungkin juga engkau telah diperkosa! Dan engkau sedikitpun tidak berterima kasih kepadaku!"

"Hemm, sudah kukatakan aku tidak minta pertolonganmu dan tadi aku su­dah bilang terima kasih. Mau apa lagi?"

"Setidaknya engkau harus memberi ciuman terima kasih!" kata Ki Cong yang tiba-tiba menangkap lengan gadis cilik itu dan hendak merangkul dan mencium. Akan tetapi Bi Sian menggerakkan tangannya.

"Plakkk!" Pipi pemuda remaja itu kena ditampar sampai merah. Ki Cong menjadi marah.

"Kau memang tidak tahu terima kasih!" Lalu dia menangkap kedua perge­langan tangan Bi Sian. Gadia cilik itu meronta-ronta, akan tetapi ia kalah tenaga dan kini Ki Cong sudah berhasil merangkulnya, mendekap dan mencari mu­ka anak perempuan itu dengan hidungnya. Akan tetapi Bi Sian meronta dan membu­ang muka ke kanan kiri sehingga ciuman yang dipaksakan oleh Ki Cong itu tidak mengenai sasaran.

Tiba-tiba nampak ada tongkat bergerak ke arah kepala Ki Cong dan memu­kul kepala penuda remaja itu.

"Tokk!" Seketika kepala itu menjendol sebesar telur ayam dan Ki Cong berteriak mengaduh sambil meraba kepa­lanya yang rasanya berdenyut-denyut. Dia melepaskan rangkulannya pada Bi Sian dan membalik. Ketika dia melihat seorang kakek jembel yang tua berdiri sambil memegang sebatang tongkat butut, dia marah sekali.

"Kau.... kau berani nemukul aku?" bentaknya sambil melangkah maju mende­kati kakek tua renta itu dengan sikap mengancam.

Kakek yang rambutnya putih riap-riapan dan pakaiannya tambal-tambalan itu adalah Koay Tojin. Dia kebetulan saja lewat di bukit itu dan sejak tadi melihat apa yang terjadi, kemudian me­ngemplang kepala Ki Cong dengan tong­katnya. Kini dia tertawa terkekeh-ke­keh.

"Aku! Memukulmu? Heh-heh-heh, yang memukul adalah tongkat ini, bukan aku!"

"Jembel tua busuk! Mana bisa tongkat memukul sendiri kalau tidak kaupu­kulkan?"

"Siapa bilang tidak bisa?" Koay Tojin mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi dan berkata, "Tongkat, orang menghinamu, dikatakannya engkau tidak bisa memukul sendiri. Tunjukkan bahwa engkau bisa memukul anjing dan orang kurang ajar, coba hajar pantatnya beberapa kali!"

Sungguh aneh sekali. Tongkat itu melayang terlepas dari tangan Koay Tojin, melayang di udara lalu menukik turun dan menghantam pantat Ki Cong.

"Plakk!" Ki Cong berteriak kesa­kitan dan mencoba untuk menangkap tongkat, akan tetapi sia-sia dan kembali tongkat itu menghajar pantatnya. Ki Cong kini menjadi ketakutan setengah mati dan sambil berteriak-teriak dia­pun lari tunggang langgang ke bawah bukit setelah tongkat itu menghajar pan­tatnya beberapa kali.

Melihat ini, Bi Sian tertawa se­nang sekali. Iapun terheran-heran melihat betapa ada tongkat dapat memukuli orang kurang ajar. Kini tongkat itu sudah kembali ke tangan si kakek jembel. Bi Sian mendekati.

"Kakek yang aneh, sungguh hebat sekali tongkatmu itu! Apakah itu tong­kat pusaka, tongkat wasiat?"

"Heh? Pusaka? Wasiat? Ini tongkat butut, heh-heh-heh!"

Bi Sian makin mendekat, sedikitpun tidak merasa takut atau jijik kepada kakek jembel yang terkekeh-kekeh dan menyeringai seperti orang gila itu.

"Kakek yang baik, maukah engkau memberikan tongkat itu kepadaku?"

"Tongkat ini? Tongkat butut ini? Heh-heh, boleh saja...."

Bi Sian gembira bukan main dan menerima tongkat butut itu dari tangan Koay Tojin. Ia meneliti tongkat itu, akan tetapi hanya sebatang tongkat bi­asa saja, sebuah potongan ranting pohon yang sudah kering dan kotor. Ia mencoba untuk menggerak-gerakkan tong­kat itu, akan tetapi biasa saja, tidak ada keanehannya.

"Kakek yang baik, maukah engkau mengajarkan aku caranya membuat tong­kat ini terbang dan memukuli orang ku­rang ajar? Aku ingin sekali belajar ilmu itu."

Kakek itu tertawa bergelak. "Belajar ilmu memukul orang dengan tongkat? Untuk apa?"

"Wah, banyak sekali kegunaannya, kek. Pertama, untuk melindungi diriku sendiri. Ke dua, dapat kupergunakan untuk melindungi paman kecilku yang bongkok."

"Paman kecil bongkok?"

"Ya, pamanku Sie Liong itu kecil-kecil sudah bongkok dan menjadi bahan hinaan orang. Si kurang ajar Ki Cong tadi juga menghinanya!"

"Sie Liong.... anak.... bongkok?" Koay Tojin berkata lambat dan seperti mengingat-ingat.

"Benar, kek! Apakah engkau pernah melihatnya? Dia melarikan diri dari rumah ayah, sudah berbulan-bulan, entah berada di mana, aku rindu sekali pada­nya. Kek, bolehkah aku belajar ilmu itu?"

Koay Tojin mengelus jenggotnya lalu tiba-tiba menjumput seekor kutu busuk di lipatan bajunya dan memasuk­kan kutu itu ke bibirnya. "Engkau benar mau menjadi muridku? Bukan hanya memainkan tongkat itu, bahkan menpela­jari ilmu-ilmu yang akan membuat engkau menjadi orang paling lihai di du­nia ini?"

"Mau, kek! Aku mau sekali!" kata Bi Sian girang karena ia mendapatkan perasaan bahwa ia berhadapan dengan orang sakti, seperti yang pernah ia dengar dari ayahnya. Ayahnya pernah bercerita bahwa di dunia ini terdapat orang yang memiliki ilmu tinggi sehingga kepandaiannya seperti dewa saja.

Untuk beberapa detik Koay Tojin seperti kehilangan kesintingannya dan sepasang matanya yang mencorong itu menelusuri seluruh tubuh Bi Sian dengan penuh selidik. Kemudian, sikapnya yang sinting kembali lagi.

"Kau mau? Benar-benarkah? Tidak mudah, nona cilik! Pertama, engkau ha­rus ikut ke manapun aku pergi, dan aku tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai apapun, dan kau harus bersedia hidup seperti anak jembel seperti aku!"

"Apa sukarnya? Aku bersedia!" ja­wab Bi Sian dengan penuh semangat. Ia teringat kepada paman kecilnya yang tentu hidup sebagai jembel pula. Dan tidak mungkin akan mati kelaparan kalau menjadi murid seorang yang demikian sakti seperti pengemis tua ini.

"Dan untuk waktu yang tidak sedi­kit! Sedikitnya tujuh tahun engkau harus mengikuti aku, atau sampai aku mati!"

"Aku setuju!"

"Dan mentaati semua perintahku!"

"Setuju!"

"Ha-ha-ha-ha...." Kakek itu tertawa bergelak, berdiri sambil memegangi perut yang terguncang, kepalanya me­nengadah dan mulutiya ternganga. Melihat ini, Bi Sian ikut tertawa, akan tetapi betapa kagetnya ketika tiba-tiba saja kakek itu yang tadinya menengadah kini membungkuk, dan menjatuhkan diri di atas rumput lalu menangis. "Hu-hu huuhhh...."

Tentu saja Bi Sian tidak mau ikut nenangis, melainkan ikut duduk di atas rumput, sejenak memandang kakek yang menangis tersedu-sedu itu dengan be­ngong. Karena kakek itu tidak juga berhenti menangis, ia menjadi tidak sabar dan mengguncang lengan kakek itu dengan tangannya. Kakek ini tentu gila, ia mulai curiga, akan tetapi tidak me­rasa takut, melainkan geli.

"Kek, kek, kenapa menangis?"

Tiba-tiba kakek itu menghentikan tangisnya, memandang kepada Bi Sian dengan muka yang basah air mata, matanya kemerahan, kemudian dia mewek lagi dan menangis terisak-isak. Tangis, seperti juga tawa, memang mempunyai daya tular yang ampuh. Biarpun tadinya Bi Sian tidak mau ikut menangis, kini melihat betapa tangis kakek itu tidak dibuat-bu­at, melainkan menangis sungguh-sungguh tanpa disadarinya lagi air matanya mulai keluar dari kedua matanya, mene­tes-netes menuruni kedua pipi. Bi Sian terkejut sendiri ketika menyadari akan hal ini. Cepat ia menghapus air mata dari kedua pipinya dan memegang lengan kakek itu, mengguncangnya dan berta­nya.

"Hei, kakek, kenapa kau menangis? Kenapa? Aku jadi ikut menangis, maka aku ingin tahu apa yang kita tangiskan seperti ini. Orang tertawa atau menangis harus ada sebabnya, kalau tanpa sebab kita bisa dianggap orang gila!"

Tiba-tiba saja kakek itu berhenti menangis dan kini dia tertawa. Melihat anak perempuan itu memandangnya dengan mata terbelalak, diapun berkata sambil mencela. "Kenapa kita tidak boleh ter­tawa dan menangis tanpa sebab? Kita tertawa atau menangis menggunakan mu­lut kita sendiri, tidak meminjam mulut orang lain, apa perduli pendapat orang lain?"

"Tapi kau tertawa dan menangis tanpa memberitahu sebabnya, sungguh membikin aku menjadi bingung, kek. Bi­asanya orang yang menangis dan tertawa tanpa sebab hanya orang-orang yang mi­ring otaknya, dan aku yakin engkau bu­kan orang sinting."

"Ha-ha-ha-ha, kaukira orang sin­ting itu jelek? Di dunia ini, mana ada orang yang tidak sinting? Aku tertawa karena hatiku gembira mendapatkan seo­rang murid yang baik seperti engkau. Dan aku menangis karena aku harus mewariskan ilmu-ilmu kepadamu. Hu-hu-huuhhh...." Kembali dia menangis.

Bi Sian mengerutkan alisnya. "Sudahlah, kek. Jangan menangis. Kalau memang engkau tidak rela mewariskan ilmu-ilmu kepadaku, sudah saja jangan menjadi guruku."

"Apa?" Seketika tangis itu terhenti dan dia memandang dengan mata terbelalak. "Bukan takut kehilangan ilmu karena biar kuwariskan kepada sera­tus orangpun tidak akan habis, hanya ingat akan mewariskan itu aku jadi i­ngat bahwa berarti aku akan mati! Dan aku takut.... aku takut mati...."

"Hemm, engkau takut mati, kek?"

Kakek itu berhenti lagi setelah tangisnya disambung dengan wajah keta­kutan, dan dia memandang wajah Bi Sian. "Apa kau tidak takut mati?"

Anak perempuan itu menggeleng kepala, pandang matanya jujur terbuka tidak pura-pura. "Kenapa aku harus ta­kut, kek? Orang takut itu kan ada yang ditakutinya. Kalau kematian, kita kan tidak tahu apa itu kematian, bagaimana itu yang namanya mati. Kenapa takut kepada sesuatu yang tidak kita mengerti? Aku tidak takut mati, kek!"

Kakek itu terbelalak, memandang kepada anak perempuan itu dengan penuh heran dan kagum. Tiba-tiba dia menja­tuhkan diri berlutut di depan Bi si­an. "Kau pantas menjadi guruku! Ajari­lah aku bagaimana agar aku tidak takut mati! Aku mau menjadi muridmu...."

Bi Sian melongo. Berabe, pikirnya. Kakek jembel yang memiliki ilmu kesaktian ini agaknya memang benar-benar sin­ting! "Wah, jangan gitu, kek. Bukankah aku yang menjadi muridmu dan sepatut­nya aku yang berlutut? Bangkitlah dan biarkan aku yang berlutut memberi hor­mat kepadamu."

"Tidak! Tidak!" Koay Tojin bersi­keras. "Sebelum engkau mengajari aku bagaimana caranya agar tidak takut ma­ti, aku tidak mau bangkit dan akan berlutut terus di depanmu sampai dunia kiamat!"

Bi Sian seorang anak berusia sebelas tahun lebih, bagaimana mungkin da­pat memikirkan hal yang rumit dan penuh rahasia seperti kematian? Ia seo­rang anak yang masih belum dewasa, ma­sih bocah. Akan tetapi justeru kepolosannya itulah yang membuat ia berpeman­dangan polos dan sederhana, tidak se­perti orang dewasa yang suka mengerah­kan pikirannya sehingga muluk-muluk dan berbelit-belit. Bi Sian hanya ber­pikir sebentar, mengapa ia tidak pernah takut akan kematian.

"Gampang saja, kek. Jangan pikir­kan tentang mati karena kita tidak me­ngerti. Jangan pikirkan dan kau tidak akan pusing, tidak akan takut!"

Jawaban itu memang sederhana dan sama sekali tanpa perhitungan, akan tetapi dasar kakek itu sinting, dia menerimanya dan "mengolahnya" di dalam be­naknya.

"Jangan pikirkan.... jadi pikiran yang mendatangkan rasa takut? Kalau aku tidur, pikiran tidak bekerja, apa­kah aku pernah takut? Tidak! Orang pingsanpun tidak pernah takut, apalagi orang mati, sudah tidak bisa takut lagi! Jangan pikirkan....! Ha-ha-ha, benar sekali! Tepat sekali! Itulah il­munya!" Dan diapun bangkit, menyambar tubuh Bi Sian dan melempar-lemparkan tubuh itu ke atas. Ketika tubuh turun, ditangkap dan dilemparkan lagi, makin lama semakin tinggi. Mula-mula Bi Sian agak merasa ngeri juga, akan tetapi betapa setiap kali meluncur turun tubuh­nya disambut dengan cekatan dan lunak, iapun tidak lagi merasa ngeri, bahkan menikmati permainan aneh ini. Kalau tubuhnya dilempar ke atas, ia merasa se­perti menjadi seekor burung yang ter­bang tinggi, maka mulailah ia mengatur keseimbangan tubuhnya agar kalau dilempar ke atas, kepalanya berada di atas dan ketika meluncur turun, ia dapat membalikkan tubuh sehingga terjun dengan kepala dan tangan di bawah.

"Lebih tinggi, kek! Lebih tinggi lagi!" berkali-kali ia berteriak de­ngan gembira dan kakek itu agaknya ju­ga memperoleh kegembiraan luar biasa melihat muridnya itu sama sekali tidak takut, bahkan menantangnya untuk melemparkannya lebih tinggi! Benar-benar muridnya itu tidak berbohong dan tidak takut mati! Maka diapun melemparkan tubuh anak perempuan itu makin lama semakin tinggi. Bi Sian memang cerdik sekali dan juga memiliki keberanian luar biasa. Makin tinggi lemparan itu, membuka kesempatan lebih banyak baginya untuk berjungkir balik dan membuat bermacam gerakan di udara sehingga ia se­makin trampil dan cekatan.

Akan tetapi, betatapun saktinya, Koay Tojin adalah seorang kakek tua renta yang usianya sudah tujuh puluh tahun lebih, maka permainan yang membu­tuhkan pengerahan tenaga itu membuat dia merasa lelah. Tiba-tiba dia melem­parkan tubuh murid itu jauh ke kiri, ke arah sebatang pohon besar dan dia sendiri lalu meloncat ke bawah pohon itu, siap menerima tubuh muridnya kalau meluncur ke bawah.

"Heiii....!" Bi Sian berteriak kaget akan tetapi tubuhnya sudah masuk ke dalam pohon itu, disambut daun-daun dan ranting-ranting pohon mengeluarkan bunyi berkeresakan keras. Bi Sian dengan ngawur mengulur kedua tangannya dan berhasil menangkap sebatang batang pohon dan memeluknya erat-erat. Pohon itu besar dan tinggi sekali sehingga kalau sampai ia terjatuh ke bawah, tubuhnya tentu akan remuk!

Koay Tojin yang sudah tiba di ba­wah pohon, menanti dan siap menyambut tubuh muridnya, akan tetapi tubuh itu tak kunjung jatuh! Dia merasa heran dan berteriak ke atas, tanpa dapat melihat Bi Sian karena daun pohon itu memang lebat.

"Heiiiiii! Guruku.... eh, muridku yang tak takut mati! Di mana kau, he?"

"Kakek nakal! Kenapa kau melempar aku ke pohon ini?"

Mendengar suara anak perempuan i­tu, Koay Tojin tertawa bergelak saking lega dan gembira hatinya. "Ha-ha-ha, bukankah engkau tadi belajar terbang seperti burung? Kalau menjadi burung harus sekali waktu hinggap di dalam pohon!" Kakek itu meloncat ke atas dan di lain saat dia sudah duduk di atas sebuah cabang pohon, membantu Bi Sian terlepas dari batang yang dipeluknya dengan erat dan mendudukkan pula murid itu ke atas dahan pohon yang kokoh kuat.

"Suhu nakal."

"Suhu....? Siapa suhu (guru)?"

Bi Sian memandang wajah kakek itu. "Hemm, sudah lupa lagikah suhu bahwa aku telah menjadi muridmu? Kalau tidak disebut suhu, apakah harus selalu disebut Pak Tua atau Kakek?"

"O ya benar! Engkau muridku, aku suhumu. Kenapa kau bilang aku na­kal?"

"Lihat saja muka dan kulit tanganku ini. Balur-balur dan luka berdarah terkait ranting dan daun pohon."

Koay Tojin memeriksa kulit muka, leher dan tangan yang baret-baret itu. "Ah, tidak apa-ana. Engkau harus biasa hidup di atas pohon, karena seringkali kalau berada di hutan, aku tidur di a­tas pohon. Lebih enak dan aman tidur di atas pohon, selagi pulas tidak dihampiri dan dicium harimau."

Mau tidak mau Bi Sian bergidik ngeri. "Dicium harimau? Apakah suhu pernah dicium harimau?"

"Wah, sudah sering!"

"Bagaimana rasanya, suhu?"

"Wah, geli! Kumisnya yang kaku i­tu menggelitik muka dan leher dan ketika aku terbangun.... wah, di depan mukaku nampak moncong dengan gigi yang runcing dan mata yang menyala, dan na­pasnya yang berbau amis!"

"Kenapa dia tidak langsung mener­kam, pakai cium-cium segala, suhu?"

"Ha-ha-ha, mana harimau mau langsung makan mangsanya sebelum mencium sepuas hatinya? Dia mencium untuk me­nikmati bau harum dan sedap calon mangsanya. Untung bauku agak tidak enak, apak, sehingga ketika mencium-cium dan hidungnya menyedot bauku yang apak, harimau itu agak ragu-ragu, mungkin takut kalau dagingku beracun, ha-ha-ha! Keraguan itu membuka kesempatan bagiku un­tuk menghajarnya sampai dia lari ter­pincang-pincang dan berkaing-kaing!" Kakek itu tertawa gembira sambil menepuk-nepuk lututnya. Tiba-tiba dia seperti teringat sesuatu. "Wah, aku lu­pa! Muridku, engkau harus mulai berla­tih mengumpulkan hawa sakti, membang­kitkan tenaga sakti di dalam tubuhmu!"

Tentu saja Bi Sian menjadi bi­ngung. "Apa maksudmu, suhu? Aku tidak mengerti!"

Koay Tojin lalu memegang kedua pundak muridnya itu, mengangkatnya dan menjungkirbalikkan tubuh anak itu se­hingga kedua kaki Bi Sian kini tergan­tung ke dahan pohon, bergantung pada belakang lutut yang ditekuk dan kepalanya berada di bawah.

"Pertahankan keadaan begini seku­atmu, kedua tangan biarkan tergantung saja dan tarikan napas sepanjang mung­kin. Kalau matamu berkunang, pejamkan mata."

"Bagaimana kalau kakiku tidak ku­at dan kaitannya pada dahan terlepas, suhu?"

"Bodoh! Jangan boleh terlepas! Kalau terlepas kan ada aku di sini! Nah, sambil bergantung begini kita bercakap-cakap!" Dan dia sendiripun lalu menggantungkan kedua kakinya seperti halnya Bi Sian pada dahan yang lebih tinggi sehingga kepalanya berhadapan presis dengan kepala muridnya itu, dalam jarak dua meter. Bi Sian merasa lucu sekali berhadapan muka dengan kakek itu dalam keadaan terbalik.

"Nah, sekarang katakan siapa namamu!"

"Namaku Yaw Bi Sian, suhu."

"Bagus, nama yang bagus. Bi Sian, gurumu ini dipanggil Koay Tojin, da­tang dari Himalaya akan tetapi seka­rang menjadi gelandangan tanpa tempat tinggal tertentu."

"Sekarang aku telah menjadi muridmu, suhu. Seorang murid harus berlutut dan memberi hormat kepada suhunya."

"Benar, hayo lekas berlutut di depanku!"

"Bagaimana mungkin kalau kita bergantung seperti ini?"

"Ah, benar. Aku lupa, mari kita turun dulu!" Dan sebelum Bi Sian tahu apa yang terjadi, tubuhnya sudah meluncur turun ditarik oleh kakek itu dan tahu-tahu mereka telah berada di atas rumput lagi.

Bi Sian lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Koay Tojin, memberi hormat sampai delapan kali. Koay Tojin girang bukan main dan tertawa bergelak sambil bertolak pinggang.

"Bagus, sekarang engkau telah menjadi muridku, Bi Sian. Bangkitlah!"

Akan tetapi Bi Sian tidak mau bangkit. "Tidak, aku tidak mau bangkit dan akan berlutut sampai dunia kiamat kalau suhu tidak meluluskan tuntutanku!"

Kakek itu memandang bengong, lalu terkekeh. "Heh-heh-heh, engkau ini presis seperti aku tadi, mau berlutut sampai kiamat! Mengapa engkau meniru-niru aku, heh?"

"Engkau lupa bahwa engkau ini guruku. Siapa lagi yang ditiru murid ka­lau bukan gurunya?"

"Wah, wah, repot dah! Baiklah, katakan apa permintaanmu itu?"

"Ada tiga permintaanku yang harus suhu penuhi, baru aku mau bangkit. Ka­lau tidak, aku akan berlutut...."

"....sampai dunia kiamat!" Koay Tojin menyambut sambil terkekeh dan Bi Sian tersenyum juga. Betapa lucunya keadaan itu, pikir Bi Sian. Apakah kegi­laan suhunya sudah menular padanya?

"Katakan apa tuntutanmu!"

"Pertama, sebelum aku pergi dengan suhu, aku harus pamit dulu kepada ayah ibuku."

"Hemm, setuju! Akan tetapi seben­tar saja, dari luar jendela. Pokoknya mereka itu tahu bahwa engkau pergi de­ngan aku."

"Ke dua, aku akan menjadi murid suhu paling lama tujuh tahun saja. Setelah tujuh tahun aku akan pulang ke rumah orang tuaku."

"Setuju! Tujuh tahun itu lama, mungkin sebelum tujuh tahun aku sudah mati....! Eh, apa yang kukatakan ini? Mati.... hih, aku takut.... ah, tidak, tidak. Aku tidak takut. Mati itu apa? Jangan dipikirkan, ha-ha-ha!"

"Dan ke tiga...."

"Banyak amat!"

"Cuma tiga, suhu. Yang ke tiga dan terakhir, aku mau berkelana dengan suhu, hidup kekurangan. Akan tetapi a­ku tidak sudi kalau disuruh mengemis!"

"Waah, heh-heh-heh, akupun memang gelandangan dan jembel, akan tetapi tak pernah mengemis. Kalau ada orang memberi, aku terima, akan tetapi aku tidak pernah minta. Apapun yang kita butuhkan, aku mampu adakan, untuk apa mengemis?"

"Benarkah? Suhu dapat mengadakan apa yang kita butuhkan?"

"Tentu saja?"

"Hem, mana mungkin? Seperti sekarang ini. aku butub sekali minum kare­na haus, dapatkah suhu mengadakan se­mangkuk air jernih?"

"Heh-heh, apa sukarnya? Semangkuk air jernih? Lihat ini, terimalah!"

Bi Sian terbelalak ketika tiba-tiba gurunya itu sudah mengulurkan ta­ngan kirinya yang memegang sebuah mangkuk yang penuh dengan air jernih! Ia menerimanya dan dengan sikap masih kurang percaya dan ragu-ragu ia mendekatkan mangkuk itu ke bibirnya, lalu mi­num air itu dengan segarnya.

"Suhu, dari mana suhu memperoleh semangkuk air dingin ini?" tanyanya, kini keraguannya lenyap karena air itu terasa segar dan memang benar air jer­nih aseli! Sambil terkekeh kakek itu menerima mangkuk kosong yang dikembalikan Bi Sian dan bagaikan main sulap saja, tiba-tiba saja mangkok di tangan­nya itupun dia lontarkan ke udara dan lenyap!

"Kuambil dari udara.... heh-heh-heh!"

Bi Sian terbelalak. "Wah, enak kalau begitu!" teriaknya. "Kalau kita perlu makan, minum, rumah, pakaian, e­mas permata, kita tinggal ambil dari udara! Suhu, ajari aku melakukan hal i­tu, kita akan menjadi kaya raya!"

"Hushhh! Kau sudah gila? Tidak boleh begitu!"

"Mengapa tidak boleh?"

"Tak perlu kuberitahukan, kelak engkau akan mengerti sendiri. Nah, sekarang kuturuti permintaanmu tadi, ma­ri kita kunjungi rumah keluarga orang tuamu agar engkau berpamit dari mereka."

"Itu kudaku di sana, suhu. Kita menunggang kuda!"

"Wah, aku tidak pernah menunggang kuda. Kalau engkau mengikuti aku berkelana, tidak boleh menunggang kuda."

"Tapi sayang kalau kuda itu di­tinggalkan begitu saja. Setidaknya dia harus kubawa pulang. Marilah, kita boncengan, suhu!"

"Engkau naiklah, Bi Sian. Biar kakiku hanya dua buah, tiga dengan tong­katku, kiranya tidak akan kalah mela­wan kuda yang berkaki empat itu."

"Mana mungkin, suhu?"

"Sudahlah, jangan cerewet, Bi Sian. Mari kita pergi!"

Mendongkol juga hati Bi Sian dimaki cerewet oleh gurunya. Boleh kaura­sakan nanti, pikirnya. Ingin berlumba dengan kudaku yang larinya seperti a­ngin? Bagaimanapun juga, ia tidak percaya suhunya akan mampu menandingi kecepatan kudanya. Iapun lalu meloncat ke atas punggung kuda dan menoleh kepada gurunya yang masih duduk bersila di atas tanah. "Mari kita berangkat, dan cepat, suhu. Hari sudah mulai sore!"

Berkata demikian, Bi Sian lalu mencambuk kudanya dan membalapkan kuda berlari menuruni bukit dengan cepat. Setelah beberapa lamanya ia berlari, ia menoleh untuk melihat gurunya yang ditinggalkan jauh. Tentu saja ia akan berhenti kalau melihat suhunya tertinggal jauh. Akan tetapt betapa kaget dan heran rasa hatinya melihat bahwa kakek itu tepat berada di belakang kudanya, seolah-olah sedang melenggang seenaknya saja! Ia merasa penasaran dan mencambuki kudanya, membalapkan kudanya makin cepat lagi. Setelah beberapa lamanya, kembali ia menoleh dan untuk ke dua kalinya ia terbelalak melihat suhunya tetap berada di belakang kudanya, bahkan memegang ujung ekor kuda itu sambil tersenyum-senyum kepadanya! Kini Bi Sian tidak ragu-ragu lagi. Suhunya memang seorang sakti seperti yang pernah ia dengar dari ayahnya. Hatinya merasa kagum dan juga bangga, juga gi­rang karena ia merasa yakin bahwa akan banyak ilmu yang hebat dapat diterima­nya dari kakek aneh ini. Akan tetapi suhunya sudah begitu tua. Rasa iba me­nyelinap di dalam hati Bi Sian dan ki­ni ia membiarkan kudanya berlari lam­bat agar gurunya yang sudah tua itu tidak terlalu mengerahkan tenaga.

Tiba-tiba Bi Sian menghentikan kudanya. Mereka sudah tiba di kaki bukit dan ia melihat ada enam orang berdiri menghadang di tengah jalan. Mereka itu adalah lima orang perampok tadi, dan di belakang mereka ia mengenal Lu Ki Cong! Tentu saja Bi Sian terheran-he­ran. Bagaimana lima orang perampok itu dapat berada di situ bersama Ki Cong dan agaknya di antara mereka tidak terdapat permusuhan? Bukankah tadi lima orang "perampok" itu dimaki dan diha­jar oleh Lu Ki Cong?

"Heh-heh-heh, sahabatmu yang ku­rang ajar itu sudah menanti bersama lima orang anak buahnya."

Bi Sian terkejut.

"Anak buahnya? Tidak, suhu, mereka adalah lima orang perampOk yang tadi malah dihajar oleh Ki Cong ketika mereka menggangguku!"

"Heh-heh-heh, dan kukatakan bahwa mereka adalah anak buahnya!"

"Kalian mau apa menghadang perjalananku?" bentak Bi Sian kepada lima orang itu. "Minggir!"

Akan tetapi, betapa heran rasa hati Bi Sian ketika ia melihat Lu Ki Cong menggerakkan tangannya dan berteriak kepada lima orang perampok itu. "Bunuh kakek gila itu dan tangkap ga­dis itu untukku!"

Lima orang itu bergerak ke depan dan mengepung Bi Sian dan Koay Tojin. Marahlah Bi Sian karena gadis yang cerdik itu sudah dapat menduga apa yang sebenarnya telah terjadi. Ia melompat turun dari atas kudanya dan menuding­kan telunjuknya ke arah muka Lu Ki Cong sambil memaki.

"Tikus busuk Lu Ki Cong! Sekarang aku mengerti akal busukmu. Kiranya lima orang ini adalah antek-antekmu yang sengaja kausuruh menggangguku tadi kemudian engkau muncul sebagai jagoan yang mengundurkan mereka untuk menarik hatiku! Engkau memang tikus busuk yang licik, curang, dan jahat sekali!"

Lu Ki Cong tidak menjawab, akan tetapi lima orang tukanp pukulnya itu kini menghampiri Bi Sian dan Koay Tojin dengan sikap mengancam. Kaoy Tojin hanya tersenyum lebar dan berkata kepada Bi Sian, "Bi Sian, bukankah engkau ingin menghajar tikus-tikus itu? Nah, hajarlah mereka, jangan beri ampun seorangpun, terutama tikus cilik di belakang itu!"

Tentu saja Bi Sian menjadi ragu-ragu. Ia sudah maklum bahwa tak mung­kin ia mampu mengalahkan lima orang tukang pukul itu. Tadipun ia tidak berdaya, bahkan menghadapi Lu Ki Congpun ia kalah tenaga. Bagaimana kini ia harus menghajar enam orang itu?

"Tapi, suhu, bagaimana aku mampu...."

"Hushh! Bikin malu saja! Engkau kan muridku? Hayo hajar mereka dan kau gunakan tongkat bututku ini agar ta­nganmu tidak kotor!" Kakek itu menye­rahkan tongkatnya. Besar hati Bi Sian. Ia percaya sepenuhnya akan kesaktian gurunya yang kadang-kadang seperti sinting itu memerintahkan ia menyerang, tentu gurunya sudah siap sedia memban­tunya. Dan tongkat itu agaknya tongkat wasiat, pikirnya. Buktinya, tadi tong­kat itu dapat menghajar Ki Cong tanpa dipegang oleh suhunya. Kini tongkat i­tu berada di tangannya dan entah bagaimana, ia merasa hatinya besar dan pe­nuh semangat ketika tongkat itu berada di tangannya. Tanpa memperdulikan bahaya yang mungkin mengancam dirinya lagi, Bi Sian menerjang ke depan menggerakkan tongkat butut di tangannya. Ba­gaimanapun juga, Bi Sian sejak kecil digembleng ilmu silat oleh ayahnya, maka ia memiliki gerakan yang gesit dan langkah yang teratur dan kuat.

Menghadapi serangan anak perempu­an yang memegang tongkat butut itu, lima orang tukang pukul itu tentu saja memandang rendah sekali. Mereka adalah tukang-tukang pukul yang sudah biasa mempergunakan kekerasan, dan rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup hebat, dan tenaga yang kuat. Kalau tadi mere­ka "dihajar" oleh Lu Ki Cong, hal itu memang disengaja dan sudah diatur sebelumnya, merupakan siasat Lu Ki Cong untuk menalukkan hati Bi Sian yang ke­ras. Ki Cong yang mengatur semuanya dan mempergunakan mereka. Tadi, Lu Ki Cong lari turun dari bukit, menemui mereka dan minta kepada mereka untuk menghajar dan membunuh kakek jembel yang telah menghinanya, sekalian me­nangkapkan Bi Sian karena dia masih merasa penasaran bahwa gadis cilik itu tetap tidak mau tunduk kepadanya!

Sambil tersenyum mengejek, menye­ringai lebar, seorang di antara mereka yang brewok, maju dan mengulur tangannya hendak menangkis lalu menangkap dan merampas tongkat butut itu ketika Bi Sian memukulkan tongkat itu ke arah mukanya. Akan tetapi tiba-tiba dia terkejut bukan main karena tangannya itu tertahan di udara, tak dapat digerakkan seperti bertemu dengan benda yang tidak nampak, sementara itu, tongkat butut di tangan Bi Sian sudah menyambar ke arah mukanya. Saking herannya melihat tangannya tidak dapat bergerak terus, si brewok itu tak sempat lagi mengelak.

"Plakkk!" Tongkat itu menghantam mukanya, tepat mengenai hidungnya dan darah mengucur dari hidungnya yang se­ketika "mimisen". Melihat ini, dua o­rang temannya menubruk maju, seorang merampas tongkat, seorang lagi hendak meringkus Bi Sian. Akan tetapi, kembali terjadi keanehan ketika dua orang itu mendadak terhenti gerakan mereka dan seperti patung tak mampu melanjutkan gerakan mereka. Bi Sian sudah mengayun tongkatnya ke arah mereka, menye­rang kepala.

"Tukkk! Tukkk!" Dua buah kepala itu masing-masing kebagian sekali pukulan yang cukup keras dan seketika kepa­la itu keluar telurnya, menjendol bi­ru!

"Heh-heh-heh, bagus sekali! Pukul terus, Bi Sian!"

Bi Sian sendiri terheran-heran mengapa tiga orang itu sama sekali tidak menangkis atau mengelak dan makin ya­kinlah hatinya bahwa gurunya tentu mempergunakan kesaktian, atau tongkat wa­siat itu yang lihai bukan main. Iapun terus mendesak ke depan dan dua orang tukang pukul lainnya yang sudah mener­jangnya, disambutnya dengan dua kali pukulan ke arah muka mereka.

Seperti yang terjadi pada teman-teman mereka, dua orang itu tertahan serangan mereka dan tak mampu mengge­rakkan tangan ketika tongkat butut itu menyambar ke arah kepala mereka. Mere­ka baru dapat bergerak setelah kepala mereka terpukul dan hanya dapat menggosok-gosok kepala yang menjadi benjol oleh pukulan tongkat itu.

Tentu saja lima orang itu menjadi marah sekali. Mereka adalah tukang-tu­kang pukul yang jarang menemukan tan­dingan, dan di kota Sung-jan mereka a­mat ditakuti orang. Bagaimana kini menghadapi seorang anak perempuan saja mereka sampai terkena hajaran tongkat seorang demi seorang? Biarpun tidak sam­pai terluka parah namun pukulan tong­kat itu mendatangkan rasa sakit di ha­ti yang jauh melebihi rasa nyeri di bagian yang terpukul.

"Bocah setan berani kau memukul kami?" bentak si brewok.

"Heh-heh-heh, muridku tidak kenal takut, tidak kenal mundur, tidak takut mati, tentu saja berani menghajar kalian, heh-heh. Hajar terus, Bi Sian, pu­kul anjing-anjing itu sampai mereka melolong-lolong!"

Dan Bi Sian yang kini sudah bersemangat dan bergembira sekali, mener­jang terus! Biarpun lima orang itu ki­ni sudah marah bahkan mereka mencabut golok, namun apa artinya golok-golok itu kalau setiap kali digerakkan, sela­lu tertahan di udara? Akibatnya, mereka hanya menjadi bulan-bulanan sabetan dan pukulan tongkat di tangan Bi Sian. Biarpun yang memukuli hanya seorang a­nak perempuan, akan tetapi karena anak perempuan itu sudah terlatih silat dan memiliki tenaga cukup kuat, dan yang dipukuli sama sekali tidak mampu mengelak, menangkis atau membalas, akhirnya tubuh merekapun matang biru, muka mereka berdarah dan kepala benjol-benjol!

Melihat ini, bukan hanya lima orang tukang pukul itu yang mulai terkejut dan gentar, juga Lu Ki Cong terbelalak matanya dan diapun membuat gerakan untuk menyelamatkan diri dan berlari pergi.

"Heh-heh, kau hendak lari ke ma­na? Bi Sian, jangan biarkan monyet ke­cil itu melarikan diri!" teriak Koay Tojin dan dia kelihatan menggapai de­ngan tangannya. Anehnya, kedua kaki Ki Cong yang tadinya sudah melompat hen­dak berlari itu seperti menjadi kaku dan tidak dapat digerakkan maju lagi. Sementara itu, Bi Sian yang marah sekali kepada pemuda yang menipunya itu, cepat lari menghampirinya dan tongkat­nya lalu menghajar membabi-buta! Ki Cong yang dapat bergerak kembali, men­coba melawan, akan tetapi hasilnya ma­lah pukulan-pukulan itu semakin hebat.

"Heh-heh-heh, pukul kepalanya, hantam mukanya dan habiskan pantatnya biar tahu rasa monyet itu, heh-heh!" Koay Tojin memberi semangat kepada mu­ridnya. Dan Bi Sian terns menghajar Ki Cong sampai akhirnya pemuda itu yang sudah berdarah hidungnya dan babak bundas penuh balur dan bengkak-bengkak membiru, menjatuhkan diri bergulingan di atas tanah sambil menangis! Melihat ini, lima orang tukang pukul itu mencoba untuk menolong tuan muda mereka. A­kan tetapi biarpun mereka mendesak maju dengan serentak, tiba-tiba saja gerakan mereka tertahan dan Bi Sian su­dah membalik dan menghujankan pukulan tongkatnya kepada mereka!

Lima orang tukang pukul itu bukan orang bodoh. Walaupun tadinya mereka merasa penasaran dikalahkan oleh see­rang anak perempuan, akan tetapi kini mereka maklum bahwa sesungguhnya bukan anak perempuan itu yang menghajar mereka, melainkan kakek jembel yang aneh itu. Maka, mereka menjadi gentar sekali. Kalau dilanjutkan, jangan-jangan mereka semua akan tewas oleh pukulan-pukulan anak perempuan yang galak itu! Mereka lalu menyambar tubuh Lu Ki Cong yang masih menangis, dan melarikan di­ri dari situ sambil terhuyung dan terpincang-pincang! Suara ketawa Koay Tojin mengikuti mereka, menbuat mereka semakin takut dan berusaha lari sece­patnya sampai jatuh bangun! Bi Sian tidak mengejar karena ia sudah menjatuh­kan dirinya di atas tanah, terengah-e­ngah dan bermandi peluh, akan tetani wajahnya berseri dan mulutnya terse­nyum puas.

Kakek itu tertawa terpingkal-ping­kal, bahkan lalu menjatuhkan diri pula di atas tanah dekat Bi Sian, terus tertawa sanbil memegangi perutnya dan menggeliat-geliat. Melihat ini, Bi Si­an kembali timbul dugaan bahwa gurunya ini walaupun memang sakti sekali, akan tetapi agaknya tidak lumrah manusia dan tentu akan dianggap sinting oleh orang lain. Akan tetapi ia lebih tahu. Sinting atau tidak, suhunya ini seo­rang manusia luar biasa! Iapun tahu benar bahwa suhunya yang telah membantu­nya maka dengan begitu mudahnya ia menghajar enam orang tadi tanpa satu kalipun mendapat balasan pukulan dari mereka.

"Sudahlah, suhu. Apa sih yapg kau tertawakan begitu hebat?" katanya un­tuk menghentikan aksi gurunya. Benar saja. Koay Tojin menghentikan tawanya dan diapun bangkit berdiri.

"Wah, kau hebat, Bi Sian. Kau he­bat sekali, engkau telah menghajar an­jing-anjing itu sampai berkaing-kaing, heh-heh-heh!"

Bi Sian lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki gurunya. "Berkat pertolongan suhu! Aku berjanji akan belajar dengan tekun dan penuh semangat agar kelak tidak menyusahkan suhu lagi kalau bertemu dengan anjing-anjing se­perti tadi."

Bi Sian lalu menunggangi kudanya lagi dan gurunya tetap berjalan di be­lakangnya. Kini Bi Sian mulai menaruh hormat kepada gurunya karena ia yakin akan kesaktian kakek itu, maka iapun tidak berani membalapkan kudanya, ta­kut kalau membuat orang tua itu menja­di kelelahan. Oleh karena itu, hari telah mulai gelap ketika akhirnya mereka tiba di dalam kota Sung-jan. Atas pe­tunjuk gurunya, Bi Sian menambatkan kuda itu di kebun belakang, kemudian ia­pun menurut saja petunjuk suhunya ba­gaimana harus berpamit dari ayah bundanya.

"Kalau kita masuk ke dalam dan bertemu ayah ibumu, tentu mereka akan menahanmu dan mungkin akan memusuhiku. Hal itu amat tidak enak, maka sebaik­nya engkau menurut aku saja. Mari!"

Yaw Sun Kok dan isterinya berada di ruangan dalam. Sejak tadi Sie Lan Hong merasa gelisah dan beberapa kali ia menyuruh suaminya untuk pergi mencari dan menyusul puteri mereka yang be­lum juga pulang.

"Aku mulai khawatir, kenapa sam­pai hari telah menjadi gelap begini ia belum juga pulang. Sebaiknya kalau engkau pergi mencarinya," bujuknya untuk ke beberapa kalinya.

"Ia pergi membawa kuda dan biasa­nya ia memang pulang setelah senja. Ada beberapa tempat yang biasa ia datangi dan aku tidak tahu yang mana yang ia kunjungi kali ini. Kalau aku mencari ke suatu tempat dan ia pergi ke lain tempat, mungkin aku akan bersimpang jalan dengannya. Biarlah kita tunggu sebentar. Tidak perlu khawatir."

"Akan tetapi, aku gelisah sekali. Ia anak perempuan dan...."

"Aihh, mengapa engkau memandang rendah anak sendiri? Biarpun perempuan dan masih kecil, akan tetapi Bi Sian sudah memiliki kepandaian yang cukup untuk melindungi diri sendiri. Dan ia­pun ahli menunggang kuda, tidak mung­kin terjadi sesuatu yang tidak baik padanya. Pula, siapa yang akan berani mengganggunya? Semua orang di Sung-jan tahu bahwa ia adalah anakku."

Mendengar ucapan suaminya itu, Si Lan Hong terdiam. Akan tetapi ia masih terus memandang ke arah pintu dengan penuh harapan. Pada saat itu, tiba-tiba saja ada suara ketukan pada jendela di sebelah kiri ruangan itu. Suami is­teri itu cepat menengok dan.... di balik jendela kaca itu nampaklah wajah puteri mereka! Bi Sian tersenyum lebar dan wajahnya berseri penuh kegembiraan ketika ayah ibunya memandang kepadanya dengan mata terbelalak.

"Bi Sian....!" teriak ibunya, dan ayahnya cepat melangkah ke jendela, hendak membuka jendela itu.

"Jangan dibuka, ayah! Ibu dan a­yah, dengarkan baik-baik apa yang akan kukatakan! Aku telah mendapatkan seo­rang guru, guruku namanya Koay Tojin dan kedatanganku ini hanya untuk pamit kepada ayah dan ibu. Aku akan ikut dia merantau selama tujuh tahun dan setelah tamat belajar, aku pasti pulang. Jangan cari aku, ayah. Tidak akan ada gunanya, karena ayah tidak akan dapat menyusul suhu!"

"Bi Sian....!" Yauw Sun Kok berse­ru dan cepat sekali dia sudah membuka daun jendela itu. Akan tetapi, wajah anaknya itu telah hilang dan yang nam­pak hanya malam gelap. Dia merasa penasaran dan cepat dia melompat keluar jendela. Isterinya juga meloncat kelu­ar jendela. Mereka memanggil-manggil nama Bi Sian sambil mencari-cari, akan tetapi tidak nampak bayangan anak itu.

Tiba-tiba terdengar suara anak mereka dari atas genteng. "Kuda itu kutambatkan di dalam kebun, ayah. Nah, selamat tinggal, ayah dan ibu. Tujuh tahun lagi aku pulang!"

Ketika mereka menengok, ternyata Bi Sian sudah berdiri di wuwungan rumah mereka, tentu saja Yauw Sun Kok terkejut bukan main dan diapun cepat molompat naik ke atas genteng untuk mengejar. Akan tetapi, dalam sekejap mata saja bayangan anaknya itupun lenyap. Dia merasa penasaran sekali. Tak mungkin Bi Sian dapat melompat ke atas wuwungan rumah seperti itu dan lebih tidak mungkin lagi menghilang seperti setan.

Akan tetapi semua usahanya untuk mencari sia-sia belaka. Baru sekali itu dalam hidupnya Yauw Sun Kok merasa tidak berdaya sama sekali, seperti dipermainkan, seperti seorang yang lemah. Diapun dapat menduga bahwa itu tentu gara-gara guru anaknya itu yang bernama Koay Tojin. Tahulah dia bahwa anaknya bertemu dengan seorang sakti yang memilihnya untuk menjadi muridnya. A­kan tetapi, dia tidak pernah mendengar nama Koay Tojin! Dia tidak tahu ke ma­na puterinya dibawa dan siapa Koay Tojin itu, orang macam apa! Tentu saja dia gelisah bukan main dan ketika isterinya merangkulnya sambil menangis, Yauw Sun Kok hanya dapat menarik napas panjang berulang-ulang dan merasa ber­duka sekali. "Aku akan mencarinya...., aku akan mencarinya sampai jumpa dan membawanya pulang...." Dia menghibur isterinya berkali-kali.

Akan tetapi, hiburan ini hanya tinggal hiburan kosong belaka. Sampai berbulan-bulan Yauw Sun Kok mengerah­kan tenaga, bahkan minta bantuan orang namun tidak ada yang berhasil. Tepat seperti dikatakan oleh puterinya keti­ka berpamit, dia tidak berhasil menemukan jejak Koay Tojin.

Bahkan pada keesokan harinya, Lu-ciangkun datang dengan marah-marah mencari Bi Sian sambil membawa Lu Ki Cong yang babak bundas! Ki Cong mencerita­kan betapa dia dipukuli dengan tongkat oleh Bi Sian yang dibantu seorang ka­kek jembel yang gila! Tentu saja Ki Cong tidak menyebut-nyebut tentang li­ma orang tukang pukulnya.

Mendengar ini, makin yakinlah ha­ti Yauw Sun Kok bahwa puterinya memang dipilih sebagai murid oleh seorang sakti dan bahwa Koay Tojin itu, menurut keterangan Lu Ki Cong, adalah seorang kakek tua renta yang berpakaian jembel dan bersikap seperti orang gila! Tentu dia sakti, pikirnya. Diapun minta maaf kepada Lu-ciangku, mengatakan bahwa anak perempuannya itu telah pergi diba­wa oleh seorang sakti yang mengambil­nya sebagai murid.

Demikianlah, akhirnya Yauw Sun Kok dan isterinya hanya dapat menunggu dengan hati penuh kegelisahan dan kerinduan. Mereka harus menanti sampai tujuh tahun! Mendung menyelimuti kehi­dupan keluarga ini. Yauw Bi Sian yang tadinya seolah-olah menjadi matahari yang menyinari kehidupan mereka, kini menghilang. Lebih-lebih lagi bagi Sie Lan Hong! Kepergian puterinya ini merupakan pukulan berat baginya. Baru saja ia kehilangan adik kandungnya dan da­lam keadaan masih berduka, tiba-tiba saja tanpa disangka-sangka, puterinya pergi untuk waktu yang lama sekali. Tujuh tahun!

Kesenangan dalam bentuk apapun di dunia ini tidak abadi! Kesenangan se­perti gelembung-gelembung sabun yang setiap saat dapat meletus dan lenyap di udara! Kesenangan datang dari nafsu dan menimbulkan ikatan-ikatan dengan sumber kesenangan itu. Kalau tiba saatnya kesenangan itu direnggut dan terpisah dari kita, maka kitapun merasa ke­hilangan dan berduka. Hidup ini, penuh dengan duka yang timbul dan kekecewaan, iba diri, kemarahan, kabencian, permusuhan. Karena hidup ini penuh dengan duka dan sengsara, maka kita semua rindu akan kebahagiaan. Sayang sungguh sayang, kita selalu salah mengenal kese­nangan sebagai kebahagiaan! Kesenangan hanya merupakan saudara kembar dari kesusahan belaka, keduanya itu tak terpisahkan seperti permukaan depan bela­kang dari telapak tangan. Ada susah ada senang, ada suka ada duka, tak ter­pisahkan. Karena itu, setiap kedukaan kita coba hibur dengan kesukaan, seti­ap kesusahan kita tutupi atau ingin lupakan melalui kesenangan. Padahal, kesenangan itupun akan berakhir dengan kesusahan, seperti gelombang tidak ha­nya bergerak ke satu jurusun, tapi pa­da saatnya membalik.

Kebahagiaan sungguh jauh berbeda. Kebahagiaan tidak mempunyai kebalikan! Kebahagiaan berada jauh di atas jang­kauan suka dan duka. Karena suka dan duka itu hanya merupakan permainan pi­kiran, maka hanya menjadi pakaian dari si aku. Kebahagiaan tak dapat diraih oleh pikiran. Kebahagiaan tidak dapat didatangkan dengan sengaja oleh si aku yang ingin berbahagia. Kebahagiaan adalah Cintakasih, Cahaya Illahi, kekuasaan Tuhan yang selalu ada, di dalam di­ri kita sendiri, tak pernah sedetikpun meninggalkan kita. Hanya pikiran dengan nafsu-nafsunya menyeret kita ke dalam kegelapan sehingga tidak dapat melihat-Nya.


***


Terdengar suara lantang seorang anak laki-laki yang membaca kitab dari dalam sebuah kamar di rumah gedung in­dah itu. Suaranya lantang dan yang di­bacanya adalah kitab sajak para penya­ir jaman dahulu. Suara itu merdu dan cara membacanya amat baik, setiap kata diucapkan dengan jelas dan dengan nada suara yang tepat. Kalau orang mengin­tai ke dalam kamar itu, dia akan kagum. Anak laki-laki itu memang tampan, gan­teng dan rapi, baik rambutnya, seluruh tubuhnya yang terpelihara baik-baik, maupun pakaiannya. Jelas seorang anak terpelajar dari keluarga bangsawan a­tau hartawan! Cara dia duduk saja menghadapi kitab di atas meja itupun menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang pandai membawa diri, sopan santun.

Memang anak laki-laki berusia ti­ga belas tahun itu sejak kecil sudah di gembleng dengan pelajaran sastera. Yang dimaksud pelajaran sastera pada waktu itu adalah pelajaran membaca dan menulis huruf, juga membaca kitab-ki­tab kuno dimana terdapat pelajaran filsafat, kebudayaan, sajak dan pela­jaran kebatinan yang berat-berat menjadi santapan anak-anak remaja! Tentu saja hanya sedikit yang mampu meresapi benar akan isinya, sebagian besar ha­nya mampu menghafal saja dengan lancar akan tetapi mengenai inti artinya, ja­rang yang dapat mengerti secara menda­lam. Apa lagi menghayatinya!

Anak itu bernama Coa Bong Gan, berusia tiga belas tahun dan dia adalah anak angkat dari Coa-wangwe (Hartawan Coa), seorang yang kaya raya di kota Ye-ceng, sebuah kota di kaki pegunung­an Kun-lun-san sebelah barat. Coa Hun atau Hartawan Coa adalah seorang pedagang besar yang berdagang segala macam barang dengan negara-negara barat di perbatasan barat. Kurang lebih delapan tahun yang lalu, ketika terjadi keri­butan karena adanya gerombolan peram­pok dari Nepal yang merusak dusun-du­sun di perbatasan selatan dan barat, rombongannya yang baru pulang dari ba­rat menemukan seorang anak laki-laki berusia lima tahun berlarian seorang diri sambil menangis di antara para pengungsi. Karena bocah itu mungil dan tampan, dan tidak ada seorangpun mengakuinya sebagai anggauta keluarga, maka Coa Hun lalu membawanya pulang dan se­menjak itu, anak itu diakui sebagai a­nak angkat. Anak berusia lima tahun i­tu hanya mengenal nama sendiri sebagai Bong Gan, maka sejak itu dia bernama Coa Bong Gan, menggunakan nama keluar­ga Coa-wangwe.

Karena Coa-wangwe sendiri tidak mempunyai anak laki-laki, hanya beberapa anak perempuan, maka Bong Gan disa­yang oleh keluarga itu. Hanya Coa-wan­gwe tidak merahasiakan bahwa anak itu adalah anak angkat, bukan anak kandung karena dia masih mengharapkan untuk memperoleh seorang keturunan anak laki-laki. Untuk itu dia berusaha dengan mengambil beberapa orang selir yang ma­sih muda dan sehat, sedangkan dia sen­diri ketika membawa Bong Gan pulang baru berusia empat puluh dua tahun. Kare­na itu, biarpun Bong Gan disayang, a­kan tetapi tetap saja semua orang menganggapnya bukan sebagai anak kandung Coa-wangwe dan sikap hormat para pelayan terhadapnya hanya kalau berada di depan hartawan itu. Bahkan para selir dan juga Nyonya Coa merasa iri dan ti­dak suka kepada Bong Gan yang dianggap bukan suku bangsa Han. Melihat bentuk wajah anak itu, ketampanannya merupa­kan ketampanan suku Uigur atau Kazak dan anak itu tidak ketahuan siapa o­rang tuanya. Agaknya dua hal ini, yai­tu kemuliaan yang diterima seorang anak yang tidak dikenal asal-usulnya, ketampanan dan kecerdikannya, kecakap­annya belajar ilmu kesusasteraan, men­datangkan rasa iri hati dan banyak orang tidak suka kepada Bong Gan. Baru namanya saja, yang diakui anak kecil itu ketika ditemukan, Bong Gan, berbau nama suku bangsa Uigur atau Kazak. Mungkin nama aselinya Munggan atau Bo­angana!

Bong Gan kini telah menjadi seorang pemuda remaja berusia tiga belas tahun yang amat cerdik, pandai sekali mengatur sikap dan bersikap manis dan rendah hati terhadap yang berada di a­tasnya, bersikap anggun dan berwibawa terhadap yang tidak suka kepadanya. Pakaiannya selalu baru dan rapi sekali, tubuhnya selalu dirawat baik-baik dari rambutnya sampai kuku kakinya. dan da­lam setiap penampilannya, dia hanya mendatangkan rasa bangga kepada ayah angkatnya, satu-satunya orang yang di­hormatinya secara berlebihan karena dia tahu bahwa hanya seorang ini sajalah yang memungkinkan dia mempertahan­kan kemuliaannya!

Biarpun usianya baru tiga belas tahun, namun Bong Gan amat cerdik. Dia tahu pula bahwa banyak di antara ang­gauta keluarga ayah angkatnya merasa iri hati dan tidak suka kepadanya. Dia tahu pula bahwa mereka yang tidak suka kepadanya selalu memata-matainya, me­nyebar banyak mata-mata yang bekerja sebagai pelayan-pelayan, untuk mencari kesalahannya agar kesalahannya itu dapat dilaporkan kepada ayah angkatnya. Oleh karena itu, dia bersikap hati-ha­ti sekali. Malam itu, biarpun dia tahu bahwa ayah angkatnya sedang berkunjung ke kota lain dan malam itu tidak akan pulang, dia tetap saja menghafalkan pelajarannya membaca kitab kuno dengan suara yang berirama dan merdu pada ma­lam hari itu. Ini berarti bahwa biar­pun ayah angkatnya tidak berada di ru­mah, tetap saja dia belajar dengan te­kun!

Setelah dia selesai membaca, dia mendengar langkah kaki halus memasuki kamarnya. Dia menengok dan ketika melihat siapa yang memasuki kamarnya, jan­tung pemuda remaja ini berdentam penuh ketegangan. Tentu saja dia mengenal Pek Lan, selir termuda dan tersayang dari ayah angkatnya. Pek Lan baru berusia tujuh belas tahun dan ia seorang peranakan Kirgiz-Han yang amat manis. Wajahnya lonjong seperti wanita Kirgiz umumnya, kulitnya kuning putih mulus seperti kulit wanita Han, akan tetapi bulu-bulu halus pada lengannya menam­bah daya tarik seorang wanita berdarah Kirgiz. Tentu saja ia menjadi selir tersayang Coa-wangwe karena ia paling muda dan paling cantik, dan ia dipero­leh hartawan itu dengan tebusan uang yang amat mahal! Karena ia amat disa­yang dan dimanja oleh hartawan itu, tentu saja hal ini menimbulkan perasaan iri kepada para selir lain, walaupun perasaan iri itu hanya mereka simpan dalam hati saja karena pengaruh selir muda itu terhadap Coa-wangwe amat kuat sehingga hartawan itu pasti membela sang selir termuda kalau sampai terja­di pertengkaran terbuka.

Perjodohan antara seorang pria dan seorang wanita harus berdasarkan cinta di antara mereka. Tanpa perasaan ini, sudah pasti akan terjadi pertentangan dan penyelewengan. Di dalam hati Pek Lan, sedikitpun tidak terdapat rasa sayang kepada suaminya yang jauh lebih tua itu, dan yang menjadi suami­nya karena ia telah dibeli dari orang tuanya yang miskin dan banyak hutang. Ia menjadi selir Coa-wangwe bukan de­ngan suka rela, melainkan karena ter­paksa.

Oleh karena itu, baru saja dibo­yong ke dalam rumah gedung Coa-wan­gwe, dan melihat betapa hampir semua isi rumah kelihatan tidak suka kepadanya, hatinya segera tertarik oleh pemuda remaja yang tampan itu. Ia tertarik kepada Bong Gan bukan hanya karena pe­muda remaja ini tampan, juga karena ia mendengar bahwa pemuda ini bukan pute­ra kandung suaminya, dan juga ia meli­hat betapa orang-orang serumah itu ju­ga tidak suka kepada pemuda itu. Hal ini saja mendatangkan perasaan suka dalam hatinya terhadap pemuda itu, perasaan senasib sependeritaan. Sudah lama ia bersikap manis kepada Bong Gan, memperlihatkan rasa sukanya pada pandang mata dan suaranya, namun agaknya Bong Gan masih terlalu hijau dan terlalu muda untuk menangkap isarat dan me­nanggapinya.

Sesungguhnya, biarpun usianya baru tiga belas tahun, Bong Gan bukan se­orang pemuda yang dungu. Ia banyak membaca, di antaranya ia membaca cerita­-cerita percintaan sehingga ia sudah dapat membayangkan tentang perasaan mesra antara pria dan wanita ini. Ketika Pek Lan menjadi keluarga ayahnya dan memasuki gedung itu, dia mengagumi kecantikan wanita ini. Ketika Pek Lan mulai bersikap manis kepadanya, melalui kerling mata dan senyum manisnya, Bong Gan bukan tidak tahu dan diapun merasa suka sekali kepada wani­ta itu. Hanya tentu saja, dia tidak berani bersikap tidak hormat kepada isteri ayah angkatnya, dan dia selalu ber­sikap sopan, tidak memperlihatkan tan­da bahwa dia sebenarnya sudah mengerti betapa selir muda ayahnya itu bersikap menantang padanya. Juga dia masih ter­lalu muda untuk berani memperlihatkan tanggapan.

Dan pada malam hari itu, di luar dugaan dan harapannya, tiba-tiba saja Pek Lan memasuki kamarnya! Melihat bahwa yang memasuki kamarnya dengan lang­kah halus adalah selir ayahnya, maka Bong Gan cepat bangkit berdiri. Bong Gan berusia tiga belas tahun dan Pek Lan tujuh belas tahun akan tetapi ting­gi badan mereka sama, bahkan Bong Gan lebih tinggi sedikit. Pemuda remaja i­tu cepat merangkap kedua tangan di de­pan dada memberi hormat.

"Ah, kiranya ibu yang datang malam-malam begini...."

"Hushh, jangan sebut ibu kepadaku, Bong Gan. Sungguh tidak enak seka­li mendengarnya...."

"Tapi, ibu adalah isteri ayah. Apa lagi harus saya sebut kalau bukan ibu?"

"Usia kita hanya berselisih dua tiga tahun, janggal rasanya kalau eng­kau menyebut ibu. Engkau patut menjadi adikku dan aku enci-mu, biarpun aku menjadi isteri ayahmu. Sebut saja enci kepadaku, kecuali.... tentu saja di depan orang lain boleh saja engkau menyebut ibu."

Bong Gan tersenyum, hatinya girang sekali karena wanita cantik itu bersikap amat manis. Belum pernah mereka berkesempatan bicara panjang dan berduaan saja seperti sekarang ini. A­yahnya tidak berada di rumah, dan hari sudah agak larut, semua penghuni rumah itu agaknya sudah tidur sehingga tidak ada orang lain yang melihat ibu muda ini memasuki kamarnya.

"Baiklah, enci. Silakan duduk, dan maaf, kursinya hanya sebuah," katanya menunjuk ke arah kursi yang tadi dia duduki.

"Terima kasih," Pek Lan tersenyum dan duduk di atas kursi itu. Di atas meja terdapat beberapa buah buku dan diambilnya sebuah. Kebetulan buku itu adalah buku cerita tentang percintaan romantis. Akan tetapi, Pek Lan hanya dapat membaca sedikit saja.

"Kau duduklah, Bong Gan," katanya melihat pemuda itu hanya berdiri saja.

"Biar saya berdiri saja, enci. Kursinya hanya sebuah."

"Ahhh!" Pek Lan bangkit berdiri, membawa bukunya dan duduk di atas pem­baringan. "Biarlah ahu duduk di sini. Kau duduklah."

Bong Gan duduk di atas kursi, jantungnya berdebar tegang melihat betapa wanita cantik itu duduk di atas pemba­ringannya.

Beberapa kali Pek Lan yang memba­ca buku itu melirik kepadanya, membuat Bong Gan menjadi serba salah tingkah.

"Bong Gan, huruf apakah ini....?" Pek Lan bertanya, menunjuk ke lembar­an buku yang dipegangnya. Karena dari tempat dia duduk tidak mungkin Bong Gan dapat melihat huruf itu, terpaksa dia bangkit dan menghampiri, lalu mem­bacakan huruf itu dan kembali duduk. Akan tetapi beberapa kali Pek Lan me­manggilnya untuk menanyakan huruf yang tidak dikenalnya sehingga beberapa ka­li pemuda itu menghampiri, membacakan hurufnya dan duduk kembali.

"Ah, terlalu sukar bagiku, Bong Gan. Tolong kaubacakan untukku. Kesinilah dan duduklah di sini, kita baca bersama. Kauajari aku membaca, Bong Gan."

Tentu saja Bong Gan menjadi geme­tar dan tidak berani duduk berjajar di atas pembaringan itu. Walaupun dia sudah menghampiri dekat, namun dia berdiri saja di depan wanita itu, tidak berani duduk bersanding. Pek Lan memegang tangannya dan menariknya duduk di dekatnya, di tepi pembaringan.

"Aih, mengapa engkau malu-malu dan takut?"

"Enci.... aku.... aku tidak berani.... nanti dianggap tidak sopan...." kata Bong Gan gemetar, walaupun hatinya berdebar girang dan tegang.

"Aih, siapa bilang tidak sopan? Aku adalah juga ibu angkatmu, atau kita seperti enci dan adik, apa salahnya duduk berdekatan? Hayo, jangan takut!"

Dan kini Bong Gan membiarkan dirinya ditarik dan diapun duduk di dekat Pek Lan. Tepi pinggul dan paha mereka ber­sentuhan dan Bong Gan merasakan kelembutan yang hangat, yang membuat tubuhnya gemetar dan jantungnya berdegup keras. Ketika dia membacakan buku itu, suaranya juga gemetar dan parau. Apalagi, ketika dia merasa betapa jari-ja­ri tangan yang halus itu meraba-raba tubuhnya. Jari yang hangat lembut de­ngan sentuhan-sentuhan mesra. Makin lama, suara bacaannya semakin lemah bahkan kacau dan akhirnya, buku yang tadi dibaca Bong Gan itu sudah menggeletak di atas lantai di depan pembaringan sedangkan di atas pembaringan itu, Bong Gan dan Pek Lan sudah bergumul. Pek Lan seorang guru yang penuh gairah, sedangkan Bong Gan menjadi murid yang taat dan pandai.

Nafsu, dalam bentuk apapun juga, tak pernah mengenal kepuasan. Kepuasan yang didapat hanya merupakan pendorong untuk mengejar kepuasan yang lebih mendalam lagi. Orang yang menjadi hamba nafsu tidak pernah merasa kenyang, tak pernah merasa cukup! Kekenyangan yang dirasakan hanya sebentar dan segera berubah menjadi kelaparan yang makin menghebat. Baik itu yang dinamakan nafsu seks, nafsu mengejar harta kekayaan, nafsu mengejar kekuasaan dan sebagai­nya. Makin diberi, semakin merasa ku­rang dan menghendaki yang lebih!

Demikian pula dengan Bong Gan dan Pek Lan. Begitu keduanya tenggelam dalam buaian gelombang nafsu, keduanya menjadi semakin haus. Pek Lan adalah seorang wanita muda yang dikecewakan oleh perjodohan dengan Coa-wangwe yang dilakukannya secara terpaksa, yang membuat ia selalu merasa penasaran dan tidak puas. Kini, bertemu dengan seorang pemuda remaja yang menjadi muridnya yang amat patuh, pandai dan menyenangkan, tentu saja Pek Lan menjadi lupa daratan. Sebaliknya, Bong Gan sejak kecil memang haus akan kasih sayang, kini bertemu dengan seorang wanita yang cantik menarik, yang menyayangnya, dan menjadi gurunya dalam berenang di lautan kemesraan, diapun menjadi mabok. Sebetulnya dia masih terlalu muda sehingga diapun tidak dapat lagi melihat kenyataan betapa perbuatannya itu amatlah berbahaya, juga amat hina karena dia telah berjina dengan selir ayah angkatnya yang berarti juga ibu angkatnya sendiri!

Langkah pertama dilanjutkan de­ngan langkah berikutnya, ke sekian pu­luh kali dan mereka berdua, yang dima­bok kemesraan ini, yang dibikin buta oleh nafsu berahi, tidak tahu bahwa banyak pasang mata dari mereka yang me­mang tidak suka kepada mereka, selalu membayangi dan mengintai mereka. Para pemilik mata inilah yang kemudian melaporkan kepada Coa-wangwe. Tentu saja hartawan yang usianya sudah setengah abad lebih ini menjadi terkejut, heran dan kemudian marah. Dia terkejut men­dengar bahwa selirnya yang paling disayangnya telah bermain gila dengan putera angkatnya, dan dia merasa heran me­ngingat betapa putera angkatnya itu biasanya selalu bersikap amat baik, ter­pelajar, rajin, sopan dan selalu menyenangkan hati. Bagaimana kini tiba-tiba saja dia mendengar bahwa putera angkatnya itu berjina dengan selirnya? Pula, Bong Gan baru berusia tiga belas tahun, sesungguhnya masih remaja, masih kanak-kanak dan belum dewasa! Tentu selirnya itu yang menjadi biang keladinya, pikirnya dengan gemas dan marah. Akan tetapi dia belum mau percaya begitu saja dan diaturlah oleh para selir yang la­in dan para pelayan agar sang hartawan dapat menangkap basah hubungan gelap yang dilakukan selirnya terkasih itu dengan putera tersayang pula. Diatur agar hartawan itu meninggalkan gedung untuk bermalam di luar, dan di waktu malam, ketika semua musuh rahasia dua orang muda yang sedang dimabok nafsu itu tahu bahwa mereka berdua sedang mengadakan pertemuan rahasia, di kamar sang putera angkat, hartawan Coa lalu tiba-tiba muncul dan daun pintu dige­dor dari luar!

Dapat dibayangkan betapa kaget dan takutnya perasaan Pek Lan dan Bong Gan. Mereka hanya sempat membereskan pakaian mereka sebelum daun pintu itu jebol karena dipaksa dari luar dan ke­duanya segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Coa-wangwe yang mu­kanya menjadi merah seperti udang direbus saking marahnya.

Biarpun kedua orang muda yang amat disayangnya itu berlutut sambil menangis minta ampun, tetap saja kemarahan Coa-wangwe tidak dapat diredakan, apa lagi di sampingnya terdapat para selir dan pelayan yang membisikkan be­rita-berita yang amat menyakitkan hatinya betapa putera angkat itu hampir setiap malam mengadakan pertemuan dengan sang selir dan betapa mesranya hubungan di antara mereka. Diam-diam Pek Lan melirik dan mencatat siapa-siapa yang pada malam itu hadir bersama suaminya dan dapat ia menduga bahwa mereka inilah yang telah menjadi mata-mata yang melaporkannya kepada suaminya.

Coa-wangwe demikian marah sampai dia menyuruh para pelayan memberi hu­kuman cambuk rotan pada punggung kedua orang muda itu sebanyak lima belas kali kemudian mengusir dua orang yang pung­gungnya berdarah karena kulitnya pecah-pecah itu agar meninggalkan rumah tanpa diberi bekal secuilpun pakaian pengganti atau sepotong uang kecil. Kedua­nya meninggalkan rumah sambil menangis, ditertawakan oleh mereka yang sejak lama merasa iri hati dan membenci kedua orang muda itu. Dengan tubuh sakit-sa­kit, akan tetapi hati lebih sakit lagi Bong Gan dan Pek Lan pergi meninggal­kan gedung itu, dan mereka terus pergi dengan kepala menunduk, keluar dari dalam kota Ye-ceng. Berita tentang diusirnya selir termuda dan putera angkat dari Coa-wangwe itu lebih cepat keluar dari gedung dari pada mereka, dise­barkan oleh mereka yang membenci kedua orang itu, sehingga Bong Gan dan Pek Lan tidak berani mengangkat muka, karena semua orang memandang dengan mata dan senyum mengejek.

Sampai di luar kota, malam telah menjelang pagi dan mereka berdua masih terus berjalan di dalam keremangan cuaca sambil menangis. Biarpun mereka ti­dak mempunyai tujuan ke mana harus pergi, namun kedua orang ini tak pernah menghentikan langkah, seolah-olah khawatir kalau ada orang-orang yang mengejar untuk memperolokkan mereka.

Barulah mereka berhenti setelah matahari terbit dan keduanya merasa lelah sekali. Mereka berhenti di tepi sebuah hutan, di bawah pohon rindang. Suasananya di situ sunyi sekali karena sudah amat jauh dari kota.

Melihat Pek Lan masih menangis sambil setengah menelungkup di atas rumput, Bong Gan merasa kasihan juga. Wanita muda ini biasanya hidup mulia, mewah dan manja, kini harus menempuh perjalanan setengah malam dan tidak mempunyai apa-apa lagi.

"Sudahlah, enci Pek Lan. Untuk a­pa menangis lagi? Ditangisi sampai air mata darahpun tidak ada gunanya lagi," kata Bong Gan yang sudah dapat memulihkan keadaan hatinya. Anak yang cerdik ini maklum bahwa bersedih-sedih tidak ada gunanya dan dia harus dapat menca­ri jalan yang baik dalam kehidupannya yang baru ini.

Akan tetapi, kata-kata hiburannya itu tanpa diketahuinya, membuat wanita itu menjadi lebih berduka dan akhirnya menjadi marah sekali kepada Bong Gan. Sejak tadi, di samping kedukaannya, Pek Lan menganggap bahwa semua malape­taka yang menimpa dirinya ini disebab­kan oleh Bong Gan!

"Engkau memang anak durhaka!" bentaknya sambil bangkit duduk dan telun­juknya menuding ke arah muka Bong Gan. "Engkaulah biang keladi semua ini, engkaulah penyebab malapetaka yang menim­pa diriku! Kalau bukan karena engkau, aku tentu masih hidup terhormat dan mulia di rumah keluarlga Coa! Aahh, eng­kau yang mencelakakan aku! Engkau anak tak tahu diri, engkau anak durhaka, tak tahu malu....!"

Sepasang mata Bong Gan terbelalak. "Diam!" Dia membentak marah sekali. "Engkaulah perempuan yang tidak tahu malu! Engkau yang datang pertama kali di dalam kamarku dan merayuku! Lupakah engkau? Engkaulah yang tidak tahu malu, engkau mengkhianati ayah angkatku dan engkau menyeret aku ke dalam lumpur kehinaan! Dan sekarang engkau hendak menyalahkan aku dan menghinaku? Perempu­an tak tahu malu!"

"Apa? Kau berani memaki aku? Anak kurang ajar kau!" Pek Lan bangkit ber­diri. Bong Gan juga bangkit berdiri dan Pek Lan segera menyerang anak laki-laki itu dengan tamparan dan cakaran. Bong Gan tidak tinggal diam dan diapun membalas. Dua orang itu kini bergulat, bukan di atas pembaringan dalam kamar mewah Bong Gan, bukan bergulat memperebutkan kemesraan, melainkan bergulat dalam perkelahian dan memperebutkan kebenaran masing-masing, berusaha untuk saling menyakiti!

Pek Lan lebih tua tiga empat tahun, akan tetapi Bong Gan seorang anak laki-laki, jadi masing-masing ada kelebihan dan kelemahan yang membuat perkelahian itu menjadi ramai dan seimbang! Akan tetapi tiba-tiba tubuh Bong Gan terlempar dan terguling-guling seperti disambar kilat. Kiranya di situ sudah muncul seorang nenek yang amat menakutkan dan mengerikan. Kalau saja Bong Gan dan Pek Lan tidak sedang dilanda kemarahan, tentu mereka akan lari tunggang langgang atau menggigil ketakutan, mengira bahwa di situ muncul iblis sendiri. Pek Lan melihat dengan jelas be­tapa nenek itu tadi mendorong tubuh Bong Gan dan menyebabkan anak laki-la­ki itu terlempar dan jatuh terguling-guling. Hal ini berarti bahwa nenek i­tu telah membantunya, maka biarpun ha­tinya merasa ngeri, ia tahu bahwa ne­nek itu boleh ia harapkan. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu sambil menangis! Sementara itu Bong Gan yang sudah bangkit duduk, me­rasa betapa tubuhnya nyeri-nyeri kare­na terbanting dan terguling-guling itu dan dia tidak berani bangkit berdiri, hanya memandang kepada nenek itu de­ngan mata terbelalak dan hati dipenuhi keseraman. Nenek itu berusia tua sekali, tentu tidak kurang dari tujuh puluh tahun, dan tubuhnya demikian kurus ke­ring, kecil dan membungkuk seperti u­dang kering, seolah-olah usia tua su­dah membuat ia mengkerut dan kering. Muka yang kulitnya kehitaman itu berkerut-kerut penuh garis malang-melintang, sepasang matanya sampai hampir tertu­tup kelebihan kulit pada pelupuknya, tulang-tulang pipinya menonjol, hidung dan mulutnya juga kecil karena mulut itu mengkerut ke dalam, tak nampak lagi bibirnya yang seperti dikulum mulut yang tidak bergigi lagi. Rambutnya tinggal sedikit, jarang dan pendek, kusut dan kotor. Tangan dan kaki seperti tulang-tulang terbungkus kulit tipis. Tubuh yang membungkuk seperti udang i­tu ditopang sebatang tongkat hitam yang bentuknya seperti ular kering, ditutupi pakaian yang seluruhnya berwarna hi­tam. Sungguh menyeramkan sekali keada­an nenek itu, akan tetapi sepasang ma­ta yang kecil dan bersembunyi itu mengeluarkan sinar mencorong yang menge­jutkan hati orang.

Nenek itu mengangguk-angguk ketika melihat Pek Lan berlutut di depannya sambil menangis. Tiba-tiba tangannya bergerak dan tongkatnya meluncur, tahu-tahu Pek Lan merasa dagunya didorong sesuatu yang memaksa ia untuk menengadah. Kiranya nenek itu sudah mengguna­kan ujung tongkatnya untuk memaksa ga­dis itu mengangkat muka. Melihat wajah yang manis itu, kembali si nenek meng­angguk-angguk.

"Ceritakan, kenapa kau menangis di sini!" terdengar nenek itu berkata, dan anehnya, biarpun jelas ia mengeluarkan ucapan, namun mulut itu sama se­kali tidak terbuka dan tidak bergerak!

Pek Lan agaknya menyadari bahwa ia bertemu dengan seorang manusia luar biasa atau mungkin iblis sendiri yang memperlihatkan rupa, maka iapun menja­wab sambil menahan tangisnya. "Nenek yang mulia, saya bernama Pek Lan dan saya diusir dari rumah suami saya har­tawan Coa di kota Ye-ceng karena saya difitnah bermain gila dengan bocah se­tan itu. Saya tidak mempunyai rumah dan keluarga saya di dusun pasti akan menolak saya. Semua ini gara-gara bo­cah setan itu, akan tetapi dia tidak mau mengaku salah, malah menyalahkan saya."

Nenek itu mengangkat mukanya memandang kepada Bong Gan yang masih mendekam di atas tanah. Sinar mata nenek itu mencorong seperti hendak menyambar ke arahnya, membuat Bong Gan menjadi semakin ngeri.

"Huh-huh, bocah itu mempunyai ma­ta seperti setan. Apakah kau ingin a­gar aku membunuhnya?"

Pek Lan bergidik. Nenek itu sung­guh berhati kejam bukan main. Bagaima­napun marahnya terhadap Bong Gan, ten­tu saja Pek Lan tidak ingin melihat pemuda itu dibunuh. Kalau ia teringat a­kan pengalamannya selama beberapa bu­lan ini, masih ada sisa kemesraan da­lam hatinya terhadap Bong Gan.

"Jangan, nenek yang baik, jangan dibunuh, akan tetapi beri saja hajaran agar dia kapok dan tidak berani lagi menyalahkan aku!" katanya.

Nenek itu terkekeh. "Heh-heh, ba­gus. Akan kuhajar dia biar kapok!"

Bong Gan yang sudah merasa ngeri melihat nenek itu, kini timbul kebera­niannya. Biarpun nenek itu mengerikan, namun ia hanya seorang nenek yang tua renta dan nampak ringkih. Dan dia ti­dak mau dihajar begitu saja tanpa melawan. Maka, Bong Gan segera bangkit berdiri dan siap untuk melawan kalau ne­nek itu hendak menghajarnya.

Dengan langkah terseok-seok dibantu tongkatnya, nenek itu menghampiri Bong Gan dan ia terkekeh melihat sikap anak laki-laki itu yang agaknya siap untuk melawannya.

"Heh-heh-heh, bocah setan, bergu­linglah engkau!" Nampak ia menggerak­kan tongkatnya dan nampak ada sinar hitam panjang menyambar, dan tahu-tahu tubuh Bong Gan, tanpa dapat ditahannya lagi, roboh dan tubuh itu terguling-guling!

Nenek itu tertawa terpingkal-pingkal dan hebatnya, seperti juga tadi, mulutnya tetap tertutup. Entah melalui lubang mana suara terpingkal-pingkal itu.

"Heh-heh-ho-ho.... sekarang terbanglah! Terbanglah!" Kembali yang nampak hanya sinar hitam dan tiba-tiba tubuh yang tadinya bergulingan itu, kini terlempar tinggi ke udara! Bong Gan menjadi ketakutan. Tadi ketika tubuh­nya terpelanting dan terguling-guling, dia merasa nyeri-nyeri dan babak-bundas dan kini tubuhnya terlempar begitu ja­uh ke atas, maka diapun mengeluarkan jerit ketakutan ketika tubuhnya melun­cur ke bawah dangan cepat sekali! Ten­tu akan remuk-remuk semua tulangnya, dan pecah kepalanya!

"Toloooooooong!" Dia menjerit-jerit.

"Nenek yang baik, jangan bunuh dia!" Pek Lan yang memandang dengan mata terbelalak berseru, khawatir kalau sampai pemuda cilik yang pernah menja­di kekasihnya itu akan terbanting remuk dan tewas.

"Ho-ho, tidak dibunuh, tidak dibunuh!" kata nenek itu dan benar saja, begitu tubuh Bong Gan hampir terban­ting ke atas tanah, tiba-tiba ada si­nar hitam panjang menyanbutnya dan tubuh itu kini terlempar kembali ke atas lebih tinggi daripada tadi! Tentu sa­ja Bong Gan dengan ketakutan menjerit-jerit seperti seekor anjing digebuki.

Melihat kenyataan bahwa nenek itu benar-benar tidak membunuh Bong Gan, hanya menghajarnya saja, legalah hati Pek Lan dan iapun bertepuk tangan dan bersorak. Lupalah ia akan kedukaannya.

"Bagus! Hi-hi-hik, bagus! Nah, tahu rasa sekarang engkau, Bong Gan! Ha­yo cepat kau minta ampun padaku, baru aku mau minta kepada nenek yang mulia ini untuk menghentikan permainannya!"

Bong Gan boleh jadi ketakutan setengah mati, akan tetapi dia seorang anak yang cerdik dan juga keras hati. Mendengar ucapan Pek Lan, dia mengeraskan perasaannya dan menutup mulutnya, tidak lagi mau menjerit ketakutan, me­lainkan menutup mata rapat-rapat.

Pada saat tubuhnya meluncur turun untuk ke dua kalinya, tiba-tiba saja tubuhnya itu berhenti di udara se­perti tertahan oleh tenaga yang tidak kelihatan, kemudian tubuh itu bukan meluncur ke bawah melainkan ke samping dan tahu-tahu leher bajunya sudah berada di ujung tongkat yang mengaitnya, dan tongkat itu dipegang oleh seorang kakek jembel!

Kakek yang muncul itu bukan lain adalah Koay Tojin, yang kebetulan tiba di tempat itu bersama muridnya yang baru, yaitu Yauw Bi Sian! Melihat seo­rang anak laki-laki menjerit-jerit dan tubuhnya dilempar-lempar ke atas oleh seorang nenek yang menyeramkan, Bi Si­an sudah merengek kepada gurunya.

"Suhu, tolonglah anak laki-laki itu dan hajar nenek yang jahat itu. Bi­ar aku menghajar gadis yang kejam itu!"

Mula-mula Koay Tojin memandang ke pada nenek itu dan nampak terkejut. "Waaahhh! Menghajar nenek itu? Mana a­ku berani? Ia adalah Hek-in Kui-bo (Biang Iblis Awan Hitam)....! Hiiiih.... aku ngeri melihatnya...." Dan kakek jembel itu bergidik kengerian. Meli­hat sikap gurunya, Bi Sian cemberut. Tentu saja ia tidak percaya kalau gurunya jerih terhadap nenek yang kurus kering dan hampir mati itu!

"Kalau suhu tidak berani, biarlah aku yang melawannya! Aku tidak takut!"

Berkata demikian, Bi Sian meloncat ke depan menghadapi nenek buruk itu dangan kedua tangan terkepal. "Hei, ne­nek iblis yang jahat! Kenapa engkau menyiksa orang? Hayo pergi dari sini, kalau tidak akan kupukul engkau!"

Nenek itu menyeringai lalu meno­leh kepada Pek Lan, "Ho-ho, bagaimana ini? Apakah aku harus menghajarnya ju­ga?"

Pek Lan marah sekali kepada anak perempuan yang muncul bersama kakek jembel itu karena mereka menghentikan hajaran nenek itu terhadap Bong Gan.

"Nenek yang mulia, bocah itu men­campuri urusan kita, sebaiknya kaubu­nuh saja!" Di sini sudah nampak perwa­takan yang menguasai batin Pek Lan. Ia dapat berlaku kejam sekali terhadap o­rang yang tidak disukainya, atau orang yang mendatangkan kemarahan dalam hatinya seperti gadis cilik itu.

"Bunuh? Heh-heh, benar sekali, memang bocah ini layak dibunuh!" jawab nenek itu sambil terkekeh tanpa membu­ka mulut dan tiba-tiba ia menggerakkan tongkat ularnya ke arah Bi Sian. Sinar hitam meluncur ke arah gadis cilik i­tu, mengeluarkan suara mendesir.

"Wirrrr.... takkkk!" Tongkat ular itu terpental, bertemu dengan sebatang tongkat butut di tangan Koay Tojin. Benturan antara kedua tongkat itu sedemikian kuatnya sehingga terasa oleh Pek Lan dan Bi Sian, dan nenek itu mengeluarkan suara menggereng marah, matanya yang bersembunyi di lipatan kulit itu mencorong menatap kepada kakek yang berdiri di depannya.

"Ho-ho-ho! Bukankah engkau ini kakek jembel gila dari Himalaya?" teriaknya marah. Koay Tojin menyeringai pula. Dia tidak berpura-pura kalau tadi kepada muridnya dia mengatakan takut kepada nenek itu, bukan takut karena kepandaian si nenek iblis, melainkan ngeri karena dia sudah mengenal akan kejahatan dan kekejaman hati nenek yang berjuluk Hek-in Kui-bo itu!

"Dan engkau Biang Iblis Awan Hi­tam yang sudah tidak bergigi lagi, ha-ha-ha! Hayo buka mulutmu, perlihatkan kepadaku, pasti tidak ada sepotongpun gigimu maka engkau malu membuka mulutmu!"

Nenek itu semakin marah. Kata-ka­ta "tidak bergigi lagi" bukan hanya dimaksudkan untuk mengejek keburukan ru­pa, akan tetapi juga boleh diartikan sebagai ajakan bahwa nenek itu tidak berbahaya lagi, seperti seekor macan ompong yang tidak bergigi lagi!

"Koay Tojin keparat! Tidak bergi­gi lagi, ya? Nah, rasakan gigitanku!"

Nenek itu sudah menyerang dengan cara yang amat aneh. Ia melontarkan tongkat ularnya ke atas dan tongkat itu meluncur ke arah Koay Tojin dan menye­rang kalang-kabut seperti digerakkan oleh tangan yang tidak nampak!

Koay Tojin tertawa bergelak, me­lompat ke belakang dan diapun melempar tongkat bututnya ke depan. Seperti tongkat ular si nenek, maka tongkat butut Koay Tojin itu kinipun "hidup" dan melawan tongkat ular itu dan terjadi­lah pertandingan yang amat aneh antara dua batang tongkat itu! Keduanya "bersilat" tanpa ada yang memegangnya, saling hantam dan saling tangkis sehing­ga terdengar bunyi nyaring berkali-ka­li, dibarengi menyambarnya angin pukulan dahsyat.

Melihat betapa tongkat ularnya tidak mampu mendesak tongkat butut lawan melalui kekuatan sihir, nenek itu lalu mengangkat tangannya dan tongkat ular­nya terbang kembali ke tangannya. Koay Tojin juga sudah "memanggil" kembali tongkat bututnya dan kini Hek-in Kui-bo menyerang Koay Tojin dengan tongkat itu, menggunakan tangannya. Koay Tojin menangkis dan membalas sehingga terja­dilah perkelahian yang seru antara dua orang tua aneh itu.

Melihat betapa kini gurunya sudah melawan nenek iblis, hati Bi Sian gi­rang sekali dan melihat gadis yang me­nyuruh nenek tadi membunuhnya, iapun meloncat ke depan Pek Lan dan tanpa banyak cakap lagi Bi Sian menyerang Pek Lan dengan pukulan dan tendangan! Biarpun Pek Lan sudah berusia tujuh belas tahun sedangkan Bi Sian baru berusia sebelas tahun, namun Pek Lan selamanya tidak pernah berkelahi atau belajar silat. Sebaliknya, sejak kecil Bi Sian digembleng dengan ilmu atau dasar ilmu silat oleh ayahnya sendiri, maka tentu saja ketika diserang oleh anak perempuan itu, Pek Lan menjadi repot sekali dan beberapa kali perutnya kena dipu­kul dan kakinya ditendang. Ia mencoba untuk melawan dengan cubitan, jambakan dan tamparan, akan tetapi ia tidak berhasil dan semakin lama, serangan Bi Sian semakin ganas dan menyakitkan. A­khirnya Pek Lan menjerit-jerit minta tolong.

"Nenek yang mulia.... tolong aku.... tolooooonggg!" Ia terpelanting jatuh oleh sebuah tendangan Bi Sian yang mengenai perutnya.

Sementara itu, pertandingan anta­ra Koay Tojin melawan Hek-in Kui-bo berlangsung dengan seru dan ramai. Mu­la-mula, Koay Tojin kewalahan juga menghadapi hujan serangan dari nenek itu yang memang lihai dan berbahaya bu­kan main. Nenek itu selain memiliki ilmu silat tongkat yang aneh dan gerakannya mirip ular, juga tongkat itu sendiri mengandung hawa beracun, selain tenaga nenek keriputan itupun kuat dan kecepatan gerakannya juga membingung­kan. Akan tetapi begitu Koay Tojin me­ngeluarkan ilmu silat tongkat ciptaannya yang baru dan amat lihai, yang bahkan dipuji oleh suhengnya, yaitu Pek-sim Sian-su, yaitu Ta-kwi Tung-hoat (Ilmu Tongkat Pemukul Iblis), kini Hek-in Kui-bo menjadi repot bukan main. Ia selalu terdesak dan beberapa kali nya­ris terkena hantaman tongkat butut, maka ketika mendengar suara Pek Lan min­ta tolong, ia mempunyai alasan untuk melarikan diri. Ia meloncat ke belakang, tongkat ularnya menyambar dan mengait baju Pek Lan yang tiba-tiba merasa tubuhnya diterbangkan dan nenek itu melarikan diri cepat sekali sambil membawa tubuh Pek Lan.

Bi Sian masih mengepal kedua tangannya dan ia mengamangkan tinjunya ke arah Pek Lan yang dilarikan nenek itu. "Hemm, kalau tidak lari, tentu akan kupukuli sampai kapok perempuan jahat itu!"

"Ha-ha, Bi Sian, sudallah, mari kita pergi, jangan melayani nenek iblis yang mengerikan itu. Hihh....!" Koay Tojin bergidik. "Hayo pergi....!"

Akan tetapi pada saat itu, Bong Gan yang sejak tadi melihat segala yang terjadi dengan hati penuh kagum terha­dap anak perempuan itu dan kakek jem­bel, kini menjatuhkan diri di depan kaki Koay Tojin.

"Locianpwe yang mulia.... mohon kemurahan hati locianpwe untuk sudi menerima saya sebagai murid....!"

Kakek itu mengerutkan alisnya, memandang kepada anak itu dan menyeri­ngai. "Heh-heh, aku tidak sudi! Aku sudah mempunyai murid yang jauh lebih baik, ha-ha! Mari Bi Sian, kita pergi!" katanya sambil membalikkan tubuh mambelakangi Bong Gan dan melangkah pergi.

"Suhu, nanti dulu!" Bi Sian berkata sehingga kakek itu menahan langkah dan menoleh. Bi Sian mengamati Bong Gan yang masih berlutut dan anak laki-laki itu menangis sesenggukan, kelihatan­nya sedih bukan main.

"Siapa namamu?" Bi Sian bertanya.

"Nama saya Bong Gan...." jawab a­nak laki-laki itu sambil menahan ta­ngisnya dan memandang kepada Bi Sian dengan mata agak kemerahan dan penuh kedukaan.

"Kenapa engkau hendak dibunuh me­reka tadi?"

"Saya adalah seorang anak yatim piatu yang dipungut oleh keluarga har­tawan Coa di kota Ye-ceng," Bong Gan bercerita dengan suara yang memelas sekali. "Perempuan jahat tadi adalah se­lir ayah angkat saya. Pada suatu hari, ayah kehilangan barang-barang perhiasan berharga. Saya tahu bahwa yang men­curinya adalah perempuan tadi, akan tetapi ia berbalik menjatuhkan fitnah dan sebagian dari barang curiannya ia sembunyikan ke dalam kamar saya. Kare­na itu, ayah angkat saya marah dan ka­mi berdua diusir. Ketika kami tiba di sini, perempuan itu menyalahkan saya dan memukuli saya. Saya melawan dan muncul nenek iblis tadi yang membela perempuan jahat itu." Bong Gan yang pandai, membuat karangan yang masuk di akal ini secara tiba-tiba begitu sudah membuktikan bahwa dia memang seorang anak yang cerdik sekali. Setelah sele­sai bercerita, dia lalu menangis lagi.

"Nona, mohon belas kasihan nona dan guru nona.... sudilah menerima saya menjadi murid. Saya mau bekerja apa saja.... saya sudah tidak mempunyai seorang keluargapun, dan saya takut kalau.... perempuan jahat dan nenek iblis tadi datang lagi membunuh saya...."

"Sudahlah, Bi Sian. Hayo kita pergi, jangan layani anak cengeng itu!" Koay Tojin berkata tidak sabaran lagi.

"Nanti dulu, suhu," kata Bi Sian yang sudah tertarik sekali akan cerita Bong Gan dan ia merasa kasihan kepada anak itu. "Aku mau pergi kalau suhu juga nengajak dia ini!"

"Apa??" Koay Tojin terbelalak. "Untuk apa mengajak anak cengeng ini?"

"Locianpwe, mohon maaf sebanyaknya. Kalau perlu, saya dapat menjadi anak yang sama sekali tidak cengeng! Kalau locianpwe sudi menerima saya menjadi murid, biar menghadapi ancaman maut, saya tidak akan takut dan tidak a­kan menangis sama sekali!"

Ucapan itu bernada menantang dan Koay Tojin yang memiliki watak aneh i­tu sekali ini tertarik. "Ha-ha-ha-ha, benarkah itu? Engkau tidak akan takut, tidak akan menangis menghadapi ancaman maut?"

"Benar, locianpwe," kata Bong Gan, girang bahwa kakek jembel yang dia tahu amat lihai itu kini mau memperdulikannya.

"Aku ingin melihat buktinya!" berkata demikian, Koay Tojin lalu melem­parkan tongkatnya dan tongkat itu kini meluncur ke arah Bong Gan, dan mulai­lah tongkat itu memukuli dan mencambuki Bong Gan.

"Plak! Plak! Plak! Bukk!" Tongkat itu mengamuk, menghantami punggung dan pinggul Bong Gan. Anak itu terkejut bukan main, dan juga ngeri melihat ada tongkat dapat bergerak sendiri memukulinya. Dan pukulan-pukulan itu mendatangkan perasaan nyeri yang cukup he­bat, apalagi kalau pukulan itu menge­nai kepalanya. Dia menutupi kedua kepalanya dan kini punggungnya, pahanya, pinggul, kaki dan lengannya menjadi sasaran pukulan tongkat. Hampir saja Bong Gan berteriak kesakitan dan menjerit minta tolong. Akan tetapi, anak yang cerdik ini tahu benar bahwa dia sedang diuji, maka diapun menggigit bibir dan biarpun perasaan nyeri membuat dia terpelanting dan menggeliat-geliat di atas tanah di bawah hujan pukulan tongkat, namun tidak sedikitpun keluh­an keluar dari bibir yang digigitnya sendiri itu.

Bajunya sudah robek-robek dan ba­sah oleh keringat dan darah. Kulit punggungnya pecah-pecah berdarah. Akan tetapi dia tetap tidak mau mengeluh, bahkan setiap kali terpelanting, dia tergopoh bangkit dan mencoba untuk berlutut kembali ke arah kakek itu.

Melihat betapa tubuh Bong Gan sudah berlepotan darah, hati Bi Sian me­rasa tidak tega. "Cukup, suhu, cukup! Apakah suhu hendak memukulinya sampai mati?" teriaknya.

"Ha-ha-ha!" Koay Tojin tertawa bergelak dan di lain saat tongkat itu sudah kembali ke tangannya. Hatinya gembira karena melihat Bong Gan benar-benar memegang janji dan sama sekali tidak mengeluh. Diam-diam diapun mulai suka kepada bocah itu. "Mari kita per­gi, Bi Sian!" katanya dan sekali sam­bar, tangan Bi Sian sudah dipegangnya dan sekali melompat keduanya lenyap dari situ.

Tentu saja Bong Gan menjadi terkejut dan kecewa sekali. Dia sudah membiarkan tubuhnya dihajar babak belur dan berdarah-darah, sakitnya tidak kepa­lang dan kini kakek itu meninggalkan­nya begitu saja. Ingin dia menangis, ingin dia memaki. Akan tetapi dalam ke­palanya yang cerdik terdapat dugaan dan harapan bahwa kakek aneh itu tetap masih mengujinya! Dia tahu bahwa kakek itu aneh dan sakti, dan anak perempuan itu manis bukan main, juga amat baik kepadanya. Dia harus dapat menjadi mu­rid kakek itu. Kalau tidak, dia akan hidup sebatangkara dan selalu teran­cam bahaya. Dia ingin memiliki ilmu kepandaian yang tinggi agar dapat menja­ga diri. Dia harus berhasil menjadi murid kakek itu, atau kalau perlu dia a­kan mengorbankan nyawanya. Dia harus tahan uji! Dengan pikiran ini, Bong Gan terus berlutut menghadap ke arah tempat kakek tadi berdiri, dengan nekat dia berlutut terus sampai kedua kakinya kesemutan dan tidak merasa apa-apa lagi, dan rasa nyeri di tubuhnya makin menghebat karena sengatan sinar matahari. Dia bertahan terus, bahkan ketika matahari terbenam dan tempat i­tu mulai gelap dengan tibanya malam, dia tetap berlutut di tempat itu! Me­mang patut dipuji kekerasan hati anak ini. Dia tersiksa bukan main, tidak saja seluruh tubuh nyeri karena luka pukulan tongkat, juga tersiksa oleh hawa dingin yang menyengat tulang, dan di­tambah lagi perasaan ngeri karena di tepi hutan itu gelap dan sunyi. Kadang-kadang terdengar suara binatang dari dalam hutan dan mau tidak mau, seluruh bulu di tubuh Bong Gan meremang seram. Akhirnya, lewat tengah malam, dengan kenekatan yang masih bertahan, tubuh­nya yang tidak kuat lagi dan dia terguling dan pingsan!

Ketika Bong Gan siuman, dia mendapatkan dirinya rebah di atas tanah be­rumput tebal, di tepi sebuah sungai kecil yang jernih, di dalam sebuah hutan. Bagaikan mimpi dia melihat seorang anak perempuan yang manis sedang mengo­bati luka-luka di punggungnya dengan menempelkan daun-daun hijau yang lebar. Terasa dingin dan nyaman sekali. Agak­nya anak perempuan itu mengerjakan de­ngan kelembutan dan dia melihat anak itu memilin dan menggosok daun-daun ba­ru di antara kedua telapak tangannya sehingga daun itu menjadi lemas dan mengeluarkan air kehijauan. Kemudian da­un-daun itu ditempelkan di atas kulit yang terluka oleh pukulan tongkat. A­nak perempuan yang manis, anak perempuan yang berjasa membujuk gurunya untuk menerimanya sebagai murid!

"Terima kasih, kini sudah terasa nyaman...." katanya dan diapun mengenakan bajunya, dan melihat kakek aneh i­tu duduk pula di situ, memandang anak perempuan itu mengobatinya dengan si­kap acuh, Bong Gan cepat berlutut dan memberi hormat kepada kakek itu.

"Suhu, teecu (murid) menghaturkan terima kasih dan hormat...." sikapnya penuh hormat dan suaranya mantap.

Melihat suhunya masih melenggut seperti orang mengantuk, Bi Sian berseru, "Suhu ini bagaimana sih? Ini, mu­ridmu yang baru menghaturkan terima kasih dan hormat, kenapa suhu diam saja?"

Kakek yang melenggut itu membuka mata, memandang kepada Bong Gan dengan sikap acuh, kemudian berkata, "Heh, karena bujukan Bi Sian engkau menjadi muridku. Akan tetapi awas, kalau kulihat engkau malas dan tidak tekun atau ti­dak taat, engkau akan kuusir. Dan ka­lau kelak engkau menyeleweng, engkau akan kubunuh dengan tongkat ini!" Dia mengacungkan tongkatnya.

Dengan hati yang girang bukan ma­in Bong Gan memberi hormat dengan sem­bah sampai delapan kali kepada gurunya. "Suhu, teecu bersumpah untuk mentaati semua perintah suhu." Kemudian dia menghadap Bi Sian dan juga memberi hormat kepada anak perempuan itu. "Suci, saya menghaturkan banyak terima kasih atas budi kebaikan suci kepada saya, dan saya tidak akan melupakan budi ke­baikanmu itu...."

Bi Sian terbelalak. "Eh, eh, nan­ti dulu! Kenapa engkau menyebut aku suci (kakak seperguruan)?"

Bong Gan tersenyum. "Bukankah su­ci yang lebih dulu menjadi murid suhu?"

"Bukan begitu! Aku tidak mau ce­pat tua dengan disebut kakak! Coba se­karang kita lihat, siapa yang lebih tua di antara kita. Berapa umurmu tahun ini?"

"Tiga belas tahun."

"Nah, itu!" Bi Sian berteriak. "Aku baru sebelas tahun. Engkau lebih tua dua tahun, tidak boleh menyebut suci padaku. Aku tidak mau!"

"Habis, lalu bagaimana?"

"Karena engkau lebih tua, engkau menyebut sumoi padaku dan aku menyebutmu suheng (kakak seperguruan)."

Wajah Bong Gan menjadi merah, a­kan tetapi hatinya girang walaupun dia merasa kikuk. "Baiklah sumoi."

"Nah, begitu baru benar, suheng! Nama keluarga siapa sih? Apakah Bong?"

Bong Gan menggeleng kepalanya.

"Tadinya aku memakai nama keluarga Coa, akan tetapi karena aku telah diusir dan tidak diakui lagi sebagai anak, a­ku tidak mau memakainya. Ketika aku ditemukan dan masih kecil, aku hanya ta­hu bahwa namaku Bong Gan dan biarlah itu tetap menjadi namaku, tanpa nama keturunan atau boleh juga disebut nama keturunanku Bong."

Koay Tojin kelihatannya tidak mendengarkan percakapan mereka, dan andaikata dia mendengarkan pun, agaknya dia hanya acuh saja. Akan tetapi, lambat laun sikapnya yang acuh terhadap Bong Gan ini berubah saking pandainya Bong Gan membawa diri. Dia amat rajin dan amat memperhatikan keperluan suhunya dan sumoinya, dia ringan kaki dan ta­ngan, mengerjakan apa saja untuk keperluan mereka. Juga dia amat tekun dan rajin ketika mulai diajar dasar-dasar ilmu silat. Bahkan dia mau mengajarkan ilmu sastra yang lebih mendalam kepada Bi Sian sehingga sikapnya yang amat baik ini selain membuat Bi Sian menya­yangnya, juga Koay Tojin mau tidak mau mulai menyukainya.

Bahkan dengan adanya Bong Gan se­bagai murid Koay Tojin, lebih mudah bagi kakek itu untuk memegang janjinya kepada Bi Sian, yaitu anak perempuan ini tidak mau menjadi pengemis. Ada saja akal dari Bong Gan untuk mendapat­kan makanan bagi mereka bertiga tanpa mengemis. Dengan menjual hasil buruan, atau rempa-rempa yang amat berharga, Bong Gan bisa mendapatkan hasil untuk biaya hidup mereka.


***


Pek Lan menjatuhkan dirinya berlutut di depan nenek buruk dan tua itu ketika si nenek menurunkannya dari pondongan. Mereka berada di puncak sebuah bukit kecil yang sunyi.

"Terima kasih, nenek yang mulia. Nenek telah menyelamatkan saya, dan selanjutnya saya mohon petunjuk nenek a­pa yang harus saya lakukan karena hi­dup saya sebatangkara dan tidak mempunyai harapan lagi."

"Pek Lan, engkau berjodoh untuk menjadi muridku. Mulai sekarang, aku adalah gurumu. Kalau engkau tidak mau menjadi muridku, engkau akan kubunuh sekarang juga. Nah, engkau pilih mana?"

Diam-diam Pek Lan terkejut bukan main. Ia harus menjadi murid nenek i­blis ini dan kalau ia tidak mau ia a­kan dibunuh! Manusia macam apa nenek i­ni? Dan ia belum pernah mimpi berguru kepada seorang nenek iblis. Mau bela­jar apa dari nenek ini? Tidak sukar untuk memilih antara berguru kepada ne­nek itu atau mati.

"Tentu saja saya memilih berguru, nek."

"Hushhh! Kalau memilih berguru ke padaku, kenapa masih menyabut nenek? Sebut aku subo (ibu guru)!"

"Baik, subo. Saya akan mentaati semua perintah subo."

"Bagus! Memang syaratnya engkau harus mentaati semua perintahku. Perintah apa saja harus kautaati, tahu? Ka­lau tidak, engkau akan kupecat sebagai murid dan akan kubunuh!"

Pek Lan bergidik. Nenek ini sedi­kit-sedikit mengancam mau membunuhnya! Akan tetapi lalu timbul dalam benaknya bahwa kalau ia dapat memiliki ilmu kepandaian seperti nenek itu, ia akan mampu menghadapi siapapun juga, terma­suk nenek ini! Ia akan dapat menghajar semua orang yang tidak disukainya. Ma­ka bangkitlah semangatnya.

"Apapun yang subo perintahkan ke­pada teecu akan teecu laksanakan."

"Heh-heh-heh, bagus sekali. Seka­rang engkau harus melaksanakan tugas yang amat penting. Kita membutuhkan harta yang amat banyak agar kita dapat hidup tenteram dan berkecukupan. Kalau sudah begitu barulah engkau akan dapat belajar dengan baik."

"Bagaimana kita bisa mendapatkan harta yang banyak, subo?"

"Mari, ikut dengan aku ke kota besar Ho-tan di timur. Di sana terdapat benteng besar pasukan dan di kota itu terdapat seorang yang paling kaya raya yaitu Pangeran Cun Kak Ong yang menja­bat komandan atau panglima besar. Ba­nyak barang rampasan disimpan sendiri oleh pangeran itu dan kalau kita dapat memasuki gudang hartanya, tentu kita akan menjadi kaya raya!"

Pek Lan ikut bergembira dan iapun mengikuti subonya. Ia telah melihat kesaktian nenek itu dan ia percaya bahwa nenek itu akan mampu melaksanakan rencananya dengan baik. Mereka akan menjadi kaya raya dan hidup berkecukupan sehingga ia dapat mulai mempelajari ilmu-ilmu kesaktian dari nenek itu.

Pangeran Cun Kak Ong adalah seo­rang laki-laki tinggi besar berusia lima puluh tahun. Dia adalah seorang bangsawan, masih sanak keluarga Kerajaan Beng-tiauw. Pada masa itu, Kerajaan Beng-tiauw sudah mulai mengalami surut bukan hanya karena pemerintahannya mendapat gangguan para bajak laut, pemberontakan-pemberontakan dalam negeri, ancaman gerakan orang-orang Mancu di luar Tembok Besar, akan tetapi teruta­ma sekali karena para pembesarnya su­dah kehilangan kesetiaan mereka terha­dap tanah air dan bangsa, melainkan mementingkan kesenangan pribadi masing-masing sehingga sukar ditemukan seorang pembesar yang setia dan tidak me­lakukan korupsi besar-besaran.

Pangeran Cun Kak Ong juga seorang di antara para pembesar yang kegiatan­nya hanya membesarkan perut sendiri. Ketika dia diangkat menjadi panglima besar dan menjadi orang nomor satu di daerah Sin-kiang, dia menjadi semacam raja kecil. Hanya sedikit saja bagian hasil dari daerah itu disetorkan ke pusat. Selebihnya, yang terbanyak, masuk ke dalam gudang hartanya sendiri. Bangsawan ini memiliki kesukaan mengumpul­kan barang-barang kuno yang berharga, patung-patung emas, barang-barang an­tik dari batu giok, perhiasan-perhias­an dari intan atau mutiara, lukisan-lukisan yang mahal harganya. Dia seorang pembesar yang kaya raya dan hidupnya di kota besar Ho-tan seperti kehidupan seorang raja, dengan istananya yang megah dan siang malam dijaga oleh puluh­an orang perajurit.

Bukan hanya penjagaan di rumah seperti istana itu yang amat ketat, akan tetapi juga di istana itu terdapat ba­nyak rahasianya sehingga orang luar jangan harap dapat memasuki istana tanpa terancam jebakan-jebakan rahasia. Apalagi kalau ada maling masuk, jangan harap dia akan mampu menemukan kamar-ka­mar atau gudang-gudang rahasia di ba­wah tanah! Inilah sebabnya mengapa o­rang sakti seperti Hek-in Kui-bo ingin mempergunakan muridnya yang cantik je­lita untuk melaksanakan niatnya, yaitu mencuri harta dari pangeran itu.

Satu di antara kelemahan-kelemahan Pangeran Cun Kak Ong adalah wanita cantik! Di dalam istananya sudah terdapat belasan orang selir yang muda-muda dan cantik-cantik, dari bermacam suku bangsa. Ada gadis suku bangsa Uigur yang manis, bangsa Uzbek yang panas, bangsa Kirgiz yang cantik lembut, bangsa Hui yang pandai merayu, bahkan ada dari bangsa Tajik yang bermata kebiru­an dan berhidung mancung. Namun dia masih selalu membuka mata dan hidung le­bar-lebar setiap kali berjumpa dengan wanita cantik yang belum menjadi miliknya!

Pada pagi hari itu, ketika dia berkuda dari rumahnya menuju ke ben­teng, diiringkan oleh belasan orang pengawal, tiba-tiba dia menahan kudanya dan memberi isarat kepada pasukannya untuk berhenti. Semua perajurit ikut menengok ke kiri ke mana panglima itu menengok dan mereka semua menahan senyum, maklum apa yang menyebabkan panglima itu menahan kuda dan memberi isa­rat mereka agar berhenti. Kiranya di tepi jalan itu terdapat seorang wanita muda yang sedang menangis dan wanita yang masih amat muda itu, baru tujuh belas tahun usianya, amat cantik manis sehingga tidak mengherankan kalau panglima yang sudah terkenal mata keran­jang itu tertarik sekali. Pangeran itu turun dari atas kudanya dan sambil membusungkan dadanya dia melangkah ga­gah menghampiri gadis cantik yang se­dang memangis itu. Akan tetapi karena sejak beberapa tahun ini perutnya berkembang lebih cepat dari pada dadanya sehingga perutnya amat gendut, yang membusung bukan dadanya melainkan pe­rutnya menjadi semakin menonjol. Akan tetapi dia melangkah dengan lagak yang gagah, yakin akan kegagahan pakaiannya sebagai seorang panglima yang serba gemerlapan.

Beberapa orang yang tadinya juga tertarik dan mendekati gadis yang menangis itu, cepat mundur ketika melihat panglima besar itu menghampiri gadis itu. Yang tinggal dekat gadis itu hanya seorang nenek yang sudah tua sekali dan buruk rupa.

"Nona, siapakah engkau dan kenapa menangis di sini?" Pangeran Cun berta­nya dan hatinya semakin tertarik kare­na setelah dekat, dia mendapat kenyataan betapa gadis itu lebih cantik dari pada yang diduganya. Wajahnya manis sekali, kulitnya putih mulus dan ketika menangis, gadis itu menunduk dan dari atas dia dapat melihat celah-celah be­lahan dada dan nampaklah lereng sepa­sang bukit yang menantang.

Gadis itu tidak menjawab melain­kan menangis lebih sedih lagi, sampai sesenggukan dan menutupi mukanya dengan kedua tangan dan sehelai saputangan sutera. Nenek di dekatnya juga i­kut berlutut, akan tetapi tidak menge­luarkan suara.

"Nona ceritakanlah padaku. Jangan engkau khawatir, aku yang akan menolongmu dan menghukum orang yang membikin susah hatimu. Agaknya engkau bukan orang sini, nona. Dari manakah engkau?"

"Maaf, Taijin.... karena berduka maka tadi saya sukar sekali mengeluarkan suara.... saya memang bukan orang sini.... saya berasal dari sebuah dusun kecil di luar kota Ye-ceng. Nama saya Pek Lan dan saya.... saya, pengantin baru.... baru satu bulan menikah dan ketika saya diboyong ke dusun suami saya.... di tengah jalan kami dihadang perampok! Suami saya, semua keluarga saya.... melakukan perlawanan dan dalam kesempatan itu, saya berha­sil melarikan diri, dibantu oleh pela­yan tua kami yang setia ini. Ia gagu dan tuli, akan tetapi ia setia sekali.... karena itu, tolonglah kami, Taijin...."

Gadis itu bukan lain adalah Pek Lan, dan nenek yang diakuinya sebagai pelayan setia itu bukan lain adalah gurunya, Hek-in Kui-bo, iblis yang amat jahat dan kejam! Dan semua itu adalah siasat dan rencana si nenek untuk menundukkan hati dan memenangkan kepercayaan Pangeran Cun yang terkenal mata keranjang. Tepat seperti dugaan nenek ini yang dapat melihat betapa cantik menariknya muridnya, seketika Pangeran Cun jatuh hati! Apa lagi men­dengar bahwa gadis jelita itu adalah seorang pengantin baru yang baru satu bulan menikah dan kini berpisah dari suaminya! Menurut patut, kalau dia mau menolong, tentu dia akan mengerahkan pasukan untuk mencoba menyelamatkan sumi dan keluarga gadis ini. Akan tetapi tidak sama sekali, dia menolong de­ngan cara "menampung" Pek Lan, dan hal ini sudah pula diperhitungkan nenek Hek-in Kui-bo!

"Aduh kasihan....!" Pangeran itu berseru sambil melihat kemulusan gadis itu. "Jangan menangis, nona, dan jangan bersedih. Tentu saja kami suka menolongmu. Mari, mari ikut ke istana kami dan engkau a­kan segera melupakan malapetaka yang menimpa dirimu, he-he!"

Pek Lan yang bermain sandiwara demi memenuhi perintah gurunya, segera memberi hormat dan berkali-kali menghaturkan terima kasih, tidak lupa untuk menghadiahkan kerling memikat dan se­nyum kecil menantang, membuat hati pa­ngeran itu menjadi semakin tertarik dan seketika diapun membatalkan keper­giannya ke benteng, melainkan memutar pasukannya pulang ke istana sambil me­ngawal kereta yang cepat disediakan untuk Pek Lan dan "pelayannya"!

Tepat seperti diperhitungkan o­leh Hek-in Kui-bo, dalam waktu singkat sekali Pangeran Cun bertekuk lutut dan tergila-gila kepada selir barunya ini! Hek-in Kui-bo yang berpengalaman juga begitu bertemu dengan Pek Lan sudah tahu bahwa gadis itu bukan perawan, melainkan seorang wanita yang biarpun ma­sih muda namun sudah matang, dan bahwa dalam diri Pek Lan tersembunyi watak cabul dan pemikat.

Pek Lan mentang amat cerdik. Tentu saja iapun tidak punya rasa suka kepada Pangeran Cun. Biarpun dia seorang pangeran, bangsawan tinggi yang berke­dudukan tinggi dan kaya raya, akan te­tapi usianya sudah setengah abad le­bih, mukanya yang sudah keriputan itu coba ditutupi dengan watak pesolek, pakaian indah. Akan tetapi pakaiannya yang mewah itu tidak mampu menyembunyikan perutnya yang gendut luar biasa. Pek Lan terpaksa memejamkan mata agar tidak melihat perut yang seolah-olah akan meledak itu setiap kali sang pangeran mendekatinya. Akan tetapi, dia mempergunakan segala kecantikannya, gaya dan kepandaiannya untuk benar-benar meruntuhkan hati sang pangeran. Dalam keadaan terbuai kemesraan yang memuncak, Pangeran Cun Kak Ong mencurahkan selu­ruh kasih sayang dan kepercayaannya kepada selir baru ini sehingga dalam waktu dua minggu saja dia sudah membuka rahasia penyimpanan hartanya. Gudang di bawah tanah itu penuh alat rahasia dan dijaga oleh jagoan-jagoan yang di­datangkan dari kota raja dan memiliki ilmu silat tinggi!

Setelah mengorek rahasia ini, ce­pat Pek Lan memberitahu kepada gurunya yang menyamar sebagai pelayannya. "Su­bo, cepat bertindak. Aku sudah tidak tahan lagi didekati babi itu!" keluh Pek Lan yang terpaksa harus melayani pria yang tidak disukainya.

Nenek itu tertawa tanpa membuka mulut. "Jangan khawatir, malam ini ki­ta kerjakan! Akan tetapi, pekerjaan i­ni berbahaya sekali, oleh karena itu, sebaiknya kalau engkau tinggal saja di dalam kamarmu. Aku akan memancing mereka mengejar keluar, barulah aku akan mengambilmu dari kamarmu."

"Tapi...., tapi.... subo jangan lupa untuk mengajak teecu keluar dari neraka ini!"

Kembali nenek itu tertawa, "Anak goblok, kedudukanmu begitu baik kau bilang neraka?"

"Aih, subo. Siapa sih yang suka siang malam dalam pelukan babi itu? Dengkurnya saja membuat kepalaku sela­lu pening dan tidak dapat tidur barang sejampun. Seleranya seperti babi, aku jijik...."

"Jangan khawatir. Aku akan beker­ja cepat. Biarpun katanya tiga orang jagoan itu berilmu tinggi, akan tetapi aku tidak takut dan tentu aku akan da­pat merobohkan mereka," kata nenek itu setelah mencatat dalam ingatannya ten­tang jebakan-jebakan rahasia yang berhasil dikorek dari mulut Pangeran Cun.

Malam gelap tiba dan setelah lewat tengah malam, nenek Hek-in Kui-bo berkelebat keluar dari kamarnya sendi­ri di dekat kamar Pek Lan yang ketika itu sedang merasa tersiksa "menderita" dalam pelukan Pangeran Cun.

Ketika sang pangeran yang kelelahan sudah tidur mendengkur keras seperti dengkurnya seperti babi disembelih, Pek Lan perlahan-lahan melepaskan diri dari pelukan, lalu duduk di tepi pembaringan, melamun. Jantungnya berdebar tegang karena ia tahu bahwa saat itu gurunya sedang memasuki lorong bawah tanah untuk mengunjungi gudang harta yang dijaga ketat itu. Bagaimana kalau gurunya gagal? Apakah ia tidak akan tersangkut? Ia akah mempergunakan segala rayuan dan kecantikannya untuk me­nyelamatkan diri, membanjiri pangeran itu dengan segala kemesraan dan keha­ngatan. Setidaknya, ia tidak tertang­kap basah dan tidak ikut dengan guru­nya ke gudang harta itu! Ia berada da­lam pelukan sang pangeran ketika pencurian itu terjadi! Dengan memaksakan dirinya, Pek Lan kembali merebahkan diri dan mendekati Pangeran Cun Kak Ong. Pangeran itu bergerak dalam tidurnya dan lengannya yang gemuk dan berat itu me­rangkul, melintang di atas dada Pek Lan! Gadis itu sampai merasa sesak bernapas, akan tetapi ia mandah saja, hanya miringkan tubuhnya agar tidak sam­pai mati terhimpit!

Bagaikan bayangan setan, Hek-in Kui-bo berhasil menyelinap ke lorong bawah tanah. Di bawah tanah itu terdapat banyak kamar, di antaranya kamar atau gudang harta yang besar dan terjaga ketat. Belasan orang penjaga berke­liaran di sekitar gudang itu, dan di depan gudang terdapat sebuah kamar di mana tiga orang jagoan yang amat lihai tidur dan berjaga secara bergiliran. Yang terus melakukan perondaan adalah anak buah mereka yang jumlahnya ada selosin orang.

Dua orang penjaga meronda dan berjalan di belakang gudang itu, membawa sebuah lentera minyak. Tiba-tiba saja ada bayangan hitam berkelebat dan dua orang itu terbelalak, akan tetapi tidak mampu bergerak atau berteriak karena mereka sudah tertotok secara aneh sekali. Tentu saja yang menotoknya adalah Hek-in Kui-bo dan secepat kilat nenek ini sudah merampas lentera sebelum terlepas dan terjatuh. Sekali tiup, lentera itupun padam! Dan seperti ba­yangan setan, ia kembali bersembunyi dan mengintai.

Tak lama kemudian dua orang pen­jaga datang lagi membawa lentera dan tombak panjang. Mereka jelas mencari-cari dua orang kawannya tadi, dan begitu melihat dua orang kawan itu berdiri di belakang gudang, tak bergerak, mereka cepat lari menghampiri. Akan tetapi kembali ada bayangan hitam berkelebat dan di lain saat, dua orang inipun berdiri seperti patung tak bergerak, tom­bak dan lentera terampas dari tangan mereka! Semua ini terjadi dengan amat cepatnya dan kini empat orang itu dari jauh nampaknya seperti sedang merun­dingkan sesuatu, berdiri seperti pa­tung.

Dua orang berikutnya lebih curiga. Mereka melihat empat orang ka­wan mereka berdiri di belakang gudang dan seperti orang berunding, akan tetapi tanpa lentera dan tanpa tombak! Dan mereka itu tidak bergerak-gerak. Hal ini membuat mereka berdua bercuriga dan mereka tidak menghampiri, melainkan berseru memanggil empat orang kawan i­tu. Akan tetapi tidak ada jawaban dan selagi mereka hendak lari kembali ke depan gudang dan melapor, tiba-tiba merekapun roboh terpelanting dengan pelipis berlubang tertusuk ujung tongkat dan lentera mereka, tombak mereka te­rampas sebelum terbanting ke atas tanah. Kini bayangan hitam yang agak bungkuk itu, Hek-in Kui-bo, mengambil dua lentera terdahulu, membukanya dan menyiramkan minyak dari dua lentera i­tu ke tubuh empat orang yang ditotok­nya. Kemudian, sambil membuka totokan mereka iapun membakar empat orang pen­jaga itu! Tentu saja empat orang penjaga itu berteriak-teriak, menjerit-je­rit dan tubuh mereka terbakar! Mereka lari cerai berai sambil menjerit-jerit. Hal ini tentu saja mengejutkan kawan-kawan mereka, bahkan tiga orang jagoan itupun cepat keluar dari kamar mereka.

Empat orang yang terbakar itu la­ri cerai berai dan tidak dapat bicara kecuali menjerit-jerit, membuat tiga orang jagoan itu menjadi bingung mengejar ke sana-sini. Mereka lalu merobohkan empat orang yang berlarian-larian dan membakar beberapa bagian bangunan bawah tanah itu dengan tubuh mereka. Akan tetapi mereka tidak sempat lagi memberi penjelasan dan tewas oleh luka-luka bakar. Kemudian, tiga orang jago­an itu menemukan pula dua orang penjaga yang pelipisnya berlubang. Tentu saja mereka terkejut dan maklum bahwa ada orang jahat. Akan tetapi di mana? Mereka memeriksa semua bagian, tidak ada jejak kaki orang luar! Tentu saja mereka tidak memeriksa ke dalam gudang di mana Hek-in Kui-bo dengan santai memilih benda-benda yang paling berharga, tidak tergesa-gesa karena nenek ini maklum betapa perbuatannya itu membuat semua penjaga mencari-cari keluar bukan ke dalam gudang! Ia memasuki gudang itu dari jendela belakang yang dipasangi alat rahasia, akan tetapi, berkat kecerdikan muridnya, ia telah mengetahui rahasia alat itu dan telah melumpuhkannya. Setelah berhasil membuka jendela dan memasukinya tanpa tersentuh anak panah beracun yang dipasang di sana, ia menutup kembali daun jendela dan memasang lagi anak panah itu, kemudian ia memilih benda-benda yang paling berharga. Patung emas murni, benda dari batu giok, perhiasan-perhiasan kuno dari intan, mutiara dan lain permata mulia. Dikumpulkan semua benda yang merupakan harta yang membuat orang menjadi kaya raya itu ke dalam sebuah kantung kain yang sudah dipersiapkannya sebelumnya, kantung kain hitam yang tebal dan kuat, lalu dipanggulnya kain hitam yang kini penuh barang berharga di atas punggungnya yang agak bungkuk.

Dengan hati-hati ia mengintai ke­luar. Enam orang penjaga dan tiga o­rang jagoan itu masih sibuk memadamkan api yang membakar empat orang penjaga karena mereka tadi berlarlan menabarak sana-sini, ada beberapa tempat yang kebakaran pula. Mempergunakan kesempatan ini, Hek-in Kui-bo keluar dari dalam kamar melalui jendela pula, menutupkan lagi jendela itu dan iapun berkelebat menuju ke pintu lorong. Kalau ia mau, mengandalkan gin-kangnya yang tinggi, tentu ia dapat menyelinap keluar tanpa diketahui. Akan tetapi ia harus memba­wa muridnya keluar pula, dan hal ini tidak mudah. Ia harus memancing semua penjaga untuk mengejarnya keluar dari gedung itu, maka ia sengaja memberat­kan tubuhnya dan langkahnyapun terde­ngar oleh tiga orang jago.

"Heiiii, berhenti....!" Tiga o­rang jagoan itu berteriak, mencabut pedang dan mereka sudah mengejar. Memang benar keterangan yang diperoleh Pek Lan dari mulut Pangeran Cun. Tiga o­rang jagoan ini memiliki kepandaian yang hebat dan tubuh mereka meluncur cepat sekali mengejar tubuh berpakaian hitam yang bungkuk itu. Namun, Hek-in Kui-bo adalah seorang datuk sesat yang seperti iblis. Ia telah keluar dari lorong, masuk ke dalam taman gedung itu. Tiga orang jagoan terus mengejar dan melihat betapa bayangan hitam itu dapat bergerak amat cepatnya, mereka­pun berteriak memberi tanda kepada para rekan mereka yang berjaga di atas. Keadaan menjadi gaduh sekali ketika banyak penjaga berlarian ke sana-sini dan cuaca menjadi terang karena semua penjaga menyalakan lentera-lentera dan lampu-lampu gantung. Hek-in Kui-bo se­ngaja berkelebatan ke sana-sini untuk membikin kacau, kemudian ia sengaja memperlihatkan diri dan lari ke dalam kebun di samping gedung. Kebun atau taman ini amat luas dan semua penjaga, dipimpin oleh tiga orang jagoan dan para perwira, mereka mengejar ke sana. Hek-in Kui-bo sengaja menanti di tem­pat gelap dan ketika mereka semua da­tang menyerbu, ia mengamuk dengan tongkatnya. Beberapa orang penjaga roboh seketika, akan tetapi tiga orang jago­an itu memang lihai. Mereka bukan saja mampu menjaga diri dari amukan tongkat akan tetapi juga mampu membalas, walaupun bagi Hek-in Kui-bo, mereka itu ma­sih belum apa-apa, merupakan lawan-lawan yang lunak saja. Setelah merobohkan kurang lebih sepuluh orang, Hek-in Kui-bo meloncat ke atas pagar tembok dan menghilang dalam kegelapan malam. Tentu saja tiga orang jagoan dan para perwira melakukan pengejaran, diikuti pula oleh pasukan pengawal.

Mereka sama sekali tidak tahu be­tapa bayangan hitam itu bersembunyi dekat tembok dan begitu mereka semua berloncatan keluar, Hek-in Kui-bo mengam­bil jalan memutar dan sudah meloncat masuk kembali!

Pangeran Cun sudah mendengar keributan di luar, bahkan ada pengawal yang sudah melapor dari luar kamar. Pangeran itu dengan malas mengenakan pa­kaian, bersungut-sungut. "Pencuri itu minta mampus barangkali. Bagaimana mungkin dapat melakukan pencurian di gedungku ini yang dijaga ketat? Tentu sekarang sudah tertangkap!" Diapun membiarkan selir tercinta itu mengenakan pakaian, bahkan dia tidak sadar bahwa di sudut kamar terdapat buntalan pakaian yang cukup besar, pakaian yang se­jak tadi dipersiapkan oleh Pek Lan, menggunakan saat pangeran itu mendengkur pulas.

"Brakkk!" Tiba-tiba jendela itu berantakan dan tentu saja Pangeran Cun terkejut bukan main. Dia membalik dan melihat dengan mata terbelalak betapa nenek buruk rupa pelayan selirnya itu meloncat masuk, membawa buntalan hitam di punggungnya.

"Pek Lan, mari kita pergi!" kata nenek itu.

Pangeran Cun masih belum sadar, akan tetapi mendengar nenek itu hendak mengajak pergi selirnya, dia menjadi marah. "Keparat, mau apa kau? Pergi dari kamar ini!" Dan dia mencabut pedang yang tergantung di dinding kamar itu.

"Cerewet kau!" bentak nenek itu dan sekali tongkatnya bergerak, tubuh yang gendut itu telah terbanting roboh di atas lantai, tak mampu bergerak lagi karena tertotok oleh ujung tongkat secara aneh.

"Subo, kenapa tidak dibunuh saja babi ini?" kata Pek Lan sambil mengam­bil buntalan dari sudut kamar, bahkan ia lalu mengumpulkan perhiasan di atas meja. Perhiasan ini merupakan hadiah dari sang pangeran dan tadi ia harus melepaskannya semua agar tidak "mengganggu" pelayanannya kepada bangsawan itu.

"Ah, jangan, heh-heh! Bukankah dia yang membuat kita kaya raya? Mari kita pergi!" Nenek itu menyambar le­ngan muridnya dan membawanya "terbang" melalui jendela. Karena para penjaga sedang sibuk sendiri melakukan penge­jaran keluar tembok pagar gedung itu, dengan mudah guru dan murid ini meninggalkan gedung, menyelinap di kegelapan malam membawa buntalan di punggung me­sing-masing.

Biarpun Pek Lan selama dua minggu ini tersikea oleh Pangeran Cun yang memaksanya harus bersikap manis dan mesra, namun ia tidak merasa rugi. Pertama, ia telah menyenangkan hati gurunya dan kedua, selain ia sendiri mendapatkan pakaian-pakaian indah dan perhiasan mahal, gurunya berhasil mencuri banyak sekali bar­ang yang tak ternilai harganya, yang membuat mereka seketika menjadi kaya raya dan memungkinkan mereka hidup mewah dengan harta benda itu.

Beberapa bulan kemudian, di tepi Telaga Co-sa yang indah, berdiri sebu­ah rumah yang mungil dengan perkebunan yang amat luas. Nenek Hek-in Kui-bo telah membeli tanah yang amat luas di daerah telaga ini, membangun rumah dan hidup sebagai seorang nenek yang kaya raya, mempunyai beberapa orang pelayan, hidup bersama muridnya, dikagumi dan disegani para penduduk dusun sekitar­nya sebagai orang-orang kaya raya yang hidupnya menyendiri dan tidak mau ber­gaul rapat dengan para penghuni dusun. Dan mulai saat itu, Pek Lan yang tadi­nya merupakan seorang gadis manis le­mah lembut, mulai digembleng untuk menjadi seorang iblis betina seperti gurunya, dan ternyata gadis ini memiliki bakat yang baik sekali dalam ilmu si­lat!

Ang-in-kok atau Lembah Awan Merah merupakan sebutan bagi sebuah di anta­ra puncak-puncak Pegunungan Kun-lun-san. Bukit yang puncaknya disebut Ang-in-kok ini berada di ujung barat dan mungkin karena pemandangan di puncak ini waktu senja amatlah indahnya, di mana orang dapat menikmati keindahan ma­tahari terbenam di ufuk barat, membuat angkasa seperti kebakaran dan kemerah­an, maka puncak ini disebut Ang-in-kok. Letaknya jauh dari pusat Kun-lun-pai yang agak ke timur dari Pegunungan Kun-lun-san.

Ang-in-kok ini sunyi, tak pernah didatangi manusia karena untuk mendaki puncak ini tidaklah mudah. Orang harus melalui jurang yang curam dan pendaki­an yang tidak mungkin dilakukan orang biasa. Karena sunyi dan indah itulah maka tempat ini dipilih oleh Himalaya Sam Lojin dan supek mereka, yaitu Pek-sim Sian-su untuk menjadi tempat ting­gal sementara. Mereka berempat menggembleng Sie Liong dan karena pemuda remaja ini menjadi murid Pek-sim Sian-su, maka tiga orang kakek yang berasal da­ri Himalaya itu, tiga orang tokoh be­sar yang usianya masing-masing sudah tujuh puluh tahun lebih, terhitung sebagai para suheng (kakak seperguruan) dari Sie Liong! Namun, adalah tiga su­heng ini yang pertama-tama mendidik dan menggemblengnya. Karena tiga orang kakek ini yang merasa dirinya sudah a­mat tua dan tidak mampu lagi melakukan tugas penting yang membutuhkan kekuat­an dan ketahanan tubuh, dan mereka mengharapkan sute (adik seperguruan) mereka ini yang akan menjadi wakil me­reka, maka merekapun menggembleng anak itu dengan penuh kesungguhan, bahkan mereka lalu mengajarkan ilmu andalan dan simpanan masing-masing kepada Sie Liong.

Pek In Tosu mengajarkan ilmu simpanannya yang disebut Pek-in Sin-ciang (Tangan Sakti Awan Putih), pukulan yang menSandung tenaga sin-kang amat hebatnya sehingga kalau pukulan ini dipergunakan, maka dari kedua telapak tangan pemukulnya keluar uap putih. Pukulan ini bukan hanya kuat sekali dan angin pukulannya saja mampu merobohkan lawan, akan tetapi juga mampu menahan dan membuyarkan pukulan-pukulan bera­cun yang jahat dari orang-orang golongan hitam atau kaum sesat.

Orang ke dua dari Himalaya Sam Lojin, yaitu Swat Hwa Cinjin yang sela­lu tersenyum ramah itu, mengajarkan ilmu simpanannya yang dinamakan Swat-li­ong Sin-ciang (Tangan Sakti Naga Salju). Pukulan inipun mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat, dan kehebatan ilmu pukulan ini adalah terkandungnya hawa yang amat dingin dalam pukulannya, hawa dingin yang mampu membikin beku darah dalam tubuh orang yang terpukul, sehingga pukulan itu dinamakan Naga Salju!

Orang ke tiga dari Himalaya Sam Lojin, yaitu Hek Bin Tosu yang bermuka hitam, juga mewariskan ilmu simpanan­nya yang disebut Pay-san Sin-ciang (Tangan Sakti Menolak Gunung)! Pukulan i­ni, sesuai dengan namanya, mengandung tenaga raksasa yang seolah-olah dapat merobohkan gunung dengan telapaknya! Dan ketika dilatih ilmu ini, Sie Liong harus mampu merobohkan batang-batang pohon yang kecil sampai yang besar.

Selama lima tahun Himalaya Sam Lojin menggembleng Sie Liong dengan te­kun, anak itupun rajin bukan main. Ti­dak saja dia melakukan pekerjaan untuk melayani tiga orang suhengnya dan seo­rang suhunya, akan tetapi setiap ada waktu luang, dia selalu melatih diri dengan tekun. Hal ini amat menggembirakan hati tiga orang kakek itu. Apala­gi ketika mereka mendapat kenyataan betapa Sie Liong memang memiliki bakat yang luar biasa sekali. Tubuh bongkok itu ternyata memiliki darah yang bersih dan tulang yang kuat. Apa lagi otak­nya. Luar biasa! Selama lima tahun itu Sie Liong hampir tidak memikirkan hal lain kecuali latihan ilmu-ilmu silat tinggi. Hanya kadang-kadang saja dia turun dari puncak, pergi ke dusun untuk mencari bahan-bahan makanan yang dibutuhkan tiga orang kakek itu, dengan menukarnya dengan hasil-hasil yang bisa didapatkan di puncak, antara lain kulit-kulit binatang hutan, tan­duk-tanduk menjangan yang berkhasiat, akar-akar obat dan ramuan-ramuan lain yang banyak didapatkan di tempat itu atas petunjuk Pek-sim Sian-su yang ah­li dalam hal pengobatan.

Selama lima tahun itu, Pek-sim Sian-su jarang keluar dari dalam guha­nya. Dia duduk bersamadhi dan hanya kadang-kadang saja makan, atau kadang-kadang dia keluar melihat kemajuan yang dicapai murid barunya.

Setelah lewat lima tahun, yaitu waktu yang dia berikan kepada tiga o­rang murid keponakan untuk menggem­bleng anak itu, mulailah Pek-sin Sian-su sendiri menggembleng Sie Liong yang sudah berusia delapan belas tahun. Dia telah menjadi seorang pemuda yang sebetulnya bertubuh tinggi besar dan kokoh kuat, akan tetapi karena punggungnya bongkok, dia kelihatan pendek. Seorang pemuda cacat, bongkok dan agaknya hal ini membuat dia bersikap rendah diri.

Gemblengan yang dilakukan Pek-sim Sian-su merupakan penyempurnaan dari ilmu-ilmu yang telah dipelajari Sie Liong dari tiga orang suhengnya. Selain menyempurnakan ilmu-ilmu yang sudah dikuasainya, juga Pek-sim Sian-su mengajarkan latihan siu-lian untuk menghim­pun sin-kang yang menjadi semakin kuat.

Juga kekuatan batin yang membuat pemuda ini seolah-olah kebal terhadap serangan ilmu sihir. Dia diberi pelajaran ilmu tongkat yang diberi nama Thian-te Sin-tung (Tongkat Sakti Langit Bumi) dan ilmu pengobatan. Selama dua tahun lagi dia tekun mempelajari ilmu di bawah bimbingan gurunya, sedangkan tiga orang Himalaya Sam Lojin sudah meninggalkan tempat itu dan kembali ke tempat pertapaan masing-masing.

Setelah membimbing Sie Liong selama dua tahun, pada suatu hari Pek-sim Sian-su berkata kepada muridnya bahwa sudah tiba saatnya mereka untuk saling berpisah.

"Sie Liong, sekarang usiamu su­dah dua puluh tahun, sudah cukup dewasa dan sudah cakup pula ilmu-ilmu kaupelajari untuk kaupergunakan dalam hidupmu. Engkau tentu masih ingat apa maksud pinto dan para suhengmu mengajarkan semua ilmu itu kepadamu. Yaitu agar eng­kau dapat mewakili kami yang sudah terlalu tua ini untuk menegakkan kebenar­an dan keadilan di dalam kehidupan rakyat, membela yang benar dan menentang yang jahat. Selain itu, pinto memberi tugas kepadamu untuk melakukan penyelidikan ke Tibet. Engkau tentu masih ingat akan penyerbuan Tibet Ngo-houw i­tu. Kami semua merasa heran mengapa Dalai Lama mengutus mereka untuk memusuhi kami, padahal golongan kami yang dulu membela dia ketika dia hendak dicu­lik oleh para Lama. Selidikilah apa yang terjadi di sana dan kalau mungkin usahakan agar engkau dapat menghadap Dalai Lama dan menceritakan segala yang terjadi di sini dan minta kepada Dalai Lama agar menghentikan sikap permusuhan para Lama terhadap kami."

"Baik, suhu. Semua petunjuk dan perintah suhu dan tiga orang suheng, akan teecu taati. Dan teecu menghatur­kan terima kasih atas segala budi kebaikan suhu yang telah memberi bimbingen kepada teecu."

Pek-sim Sian-su lalu meninggalkan puncak itu dan kembali ke He-lan-san yang pernah menjadi tempat pertapaan­nya selama bertahun-tahun. Sie Liong juga akhirnya meninggalkan tempat itu, menuruni puncak dan dia langsung saja menuju ke dusun Tiong-cin, di dekat perbatasan utara yang cukup jauh. Dia sudah mendengar keterangan dari enci­nya tentang dusun tempat kelahirannya itu, di mana menurut encinya ayah ibu­nya telah tewas akibat penyakit menu­lar. Dia ingin mengunjungi makam orang tuanya dan bersembahyang di makam mereka.

Setelah melakukan perjalanan jauh yang susah payah, akhirnya berhasil juga Sie Liong memasuki dusun itu. Keti­ka dia mendapat keterangan yang meya­kinkan bahwa dusun itu adalah dusun Tiong-cin, jantungnya berdebar tegang. Betapa tidak? Tempat ini adalah tanah tumpah darahnya, tempat di mana ibunya melahirkannya! Kampung halaman ayah i­bunya yang telah meninggal dunia. Pen­duduk dusun itu melihat Sie Liong de­ngan pandang mata heran. Jarang ada o­rang luar memasuki dusun itu, dan ti­dak ada seorangpun yang pernah merasa kenal dengan pemuda bongkok ini.

Sie Liong juga tidak memperlihat­kan sikap yang mencurigakan bahkan dia mencari bagian yang sunyi dari du­sun itu, lalu ketika dia melihat seo­rang kakek memanggul cangkul menuju ke ladangnya, dia cepat menghampiri dan memberi hormat kepada orang tua itu.

"Maaf, lopek (paman tua). Boleh­kah saya bertanya sedikit kepadamu?"

Biarpun pemuda yang bongkok itu tidak menarik, akan tetapi sikapnya yang sopan dan kata-katanya yang tera­tur dan halus membuat kakek itu meng­hentikan langkahnya dan menghadapi pe­muda bongkok itu. Setelah mengamatinya beberapa lamanya, kakek itupun menja­wab.

"Hemm, tentu saja boleh, orang muda. Apakah yang kautanyakan?"

"Maaf, lopek. Saya ingin mengeta­hui di mana adanya makam dari suami isteri Sie Kian."

Kakek itu membelalakkan matanya dan kini memandang kepada Sie Liong penuh selidik. "Orang muda, engkau siapakah dan mengapa mencari makam suami isteri Sie Kian?"

Sie Liong tidak mau membuat dirinya menjadi perhatian orang, maka sambil lalu saja dia menjawab, "Saya masih sanak keluarga jauh dari mereka, lopek, dan saya kebetulan lewat di dusun ini, maka saya ingin berkunjung ke makam mereka untuk memberi hormat."

Kakek yang wajahnya sejak tadi nampak muram itu bersungut-sungut. "Hem, apa perlunya mengingat orang yang sudah mati? Paling banyak setahun sekali kuburannya ditengok, bahkan kuburan keluarga itu sudah bertahun-ta­hun tidak ada yang datang menengok! Benar kata orang bahwa kalau hendak berbakti kepada orang tua, berbaktilah selagi mereka masih hidup, karena apa sih artinya berbakti kalau orang tua sudah mati dan tidak lagi dapat merasakan nikmat kebaktian anak?"

Sebelum Sie Liong menjawab, terdengar teriakan orang. "Heiii, Lo Kwan, tunggu dulu....!"

Sie Liong menengok dan melihat tiga orang laki-laki tinggi besar datang berlari-lari dan melihat mereka, kakek berusia enam puluh tahun itu mengerut­kan alisnya dan nampak ketakutan. Sie Liong lalu melangkah ke samping, berdiri di pinggir untuk melihat apa yang dibicarakan tiga orang itu dengan ka­kek berwajah muram ini.

Setelah dekat, nampak bahwa tiga orang itu berusia kurang lebih tiga puluh tahun, bertubuh kuat dan di ping­gang masing-masing tergantung sebatang golok. Lagak dan pakaian mereka, juga golok itu, tidak menunjukkan bahwa me­reka adalah segolongan petani. Seorang di antara mereka yang hidungnya besar sekali, seperti baru saja disengat kalajengking, melangkah maju dan menudingkan telunjuknya kepada kakek itu, tidak memperdulikan pemuda bongkok yang berdiri di pinggiran.

"He, kakek Kwan! Apakah sudah tebal kulitmu, maka engkau berani melarikan diri dari rumah? Bukankah hari ini merupakan hari terakhir janjimu untuk membayar hutangmu kepada Bouw Loya? Hayo katakan, engkau hendak minggat ke mana?"

Kakek itu membungkuk dengan sikap takut-takut. "Aih, mana saya bera­ni melarikan diri? Kalian lihat sendi­ri, saya membawa cangkul, hendak bekerja di ladang. Tentang hutang itu.... ah, bagaimana lagi? Semua orang juga tahu bahwa panen sekali ini buruk sekali hasilnya karena hujan turun terlalu pagi, banyak merusak gandum yang belum tua benar. Terpaksa saya tidak mampu mengembalikan hutang saya kepada Bouw-chung-cu (kepala dusun Bouw). Harap sampaikan maaf saya kepada beliau dan tahun depan tentu akan saya bayar lunas."

"Enak saja buka mulut! Kalau sedang butuh, minta hutang merengek-rengek akan tetapi kalau disuruh mengem­balikan, ada saja alasannya! Tak tahu malu!" bentak si hidung besar.

Muka kakek yang muram itu berubah merah, agaknya dia merana penasaran sekali akan tetapi karena takut maka ti­dak leluasa mengeluarkan perasaan penasaran itu.

"Akan tetapi, selama berbulan-bulan ini saya selalu membayar bunganya, dan kalau dikumpulkan, bunga-bunga itu sudah hampir sama banyaknya dengan jumlah yang saya hutang!"

"Tentu saja kau harus membayar bunga. Memangnya yang yang kauhutang itu milik nenek moyangmu? Akan tetapi hu­tang itu menurut janji harus dikembalikan selama enam bulan dan sekarang su­dah delapan bulan. Hari ini adalah ha­ri terakhir, engkau harus membayarnya. Harus kukatakan, mergerti?"

Kakek itu menarik napas panjang.

"Bagaimana saya dapat membayarnya? Sa­ya tidak mempunyai uang dan saya ti­dak bisa mencari pinjaman kepada orang lain. Sungguh mati saya tidak bisa membayar sekarang, bukan tidak mau.... harap saya diberi waktu."

Si hidung besar menggeleng kepala dan hidungnya nampak menjadi lebih besar dan kemerahan. "Tidak, majikan ka­mi mengharuskan engkau membayar seka­rang juga. Sudahlah, kami akan pergi ke rumahmu dan akan mengambil apa saja yang berharga untuk kami sita!"

Kakek itu tersenyum sedih. "Ba­rang apa lagi? Semua sudah kami jual untuk membayar bunga kepada Bouw-chung-cu, dan sebagian untuk makan. Di rumah tidak ada lagi sepotongpun benda yang berharga."

"Hemm, kukira tidak demikian, o­rang tua! Ada bunga yang manis dan bu­nga itu cukup untuk membayar hutangmu kepada majikan kami!" Berkata demikian si hidung besar lalu membalikkan tubuh dan pergi bersama dua orang kawannya.

Kakek itu kelihatan pucat dan ketakutan. "Celaka.... celaka.... mereka akan membawa Siu Si! Celaka, ya Tuhan, apa yang dapat saya lakukan untuk menyelamatkan cucuku yang malang itu....?" Suaranya bercampur ta­ngis kebingungan.

"Lopek yang baik, siapakah itu Siu Si? Dan mengapa mereka hendak membawa­nya?"

Ditanya oleh pemuda bongkok itu, kakek itu yang sudah putus harapan, berkata, "Namaku Kwan Sun, hidupku ha­nya dengan cucuku Siu Si, gadis beru­sia tujuh belas tahun yang sudah yatim piatu. Memang sudah lama kepala dusun kami, Bouw Kun Hok, tertarik kepada cucuku dan beberapa kali dia ingin meng­ambil cucuku sebagai selir, akan teta­pi selalu kami tolak dengan halus. Dan agaknya, hutangku kepadanya yang akan membuat Siu Si celaka! Ahh, kalau saja mendiang Sie Kauwsu (Guru silat Sie) masih hidup, tentu tidak ada kepala dusun yang berani menekan rakyatnya...."

Ucapan terakhir ini membangkitkan semangat dalam hati Sie Liong. Ayahnya disebut sebagai seorang yang mencegah terjadinya kejahatan di dusun itu. A­yahnya sudah tidak ada, akan tetapi dia, puteranya, masih ada! Dia lalu memegang lengan kakek itu.

"Hayo, lopek, kenapa tinggal diam saja? Cucumu tidak boleh diganggu o­rang, aku akan membantumu!" Berkata demikian, Sie Liong menarik tangan kakek itu diajak berjalan cepat.

Kakek itu tetap ketakutan dan me­ragukan kemampuan pemuda bongkok ini untuk mengajaknya menentang tukang-tu­kang pukul yang ganas dan kejam itu. Akan tetapi, mengingat akan ancaman ba­haya bagi cucunya, diapun berlari-lari dan menjadi petunjuk jalan menuju ke rumahnya.

Di sepanjang jalan, banyak pendu­duk dusun yang hanya berani menjenguk dari pintu dan jendela dan mereka itu memandang dengan muka ketakutan dan gelisah sekali, "Awas, Lo Kwan, cucumu....!"

"Mereka ke sana...."

"Hati-hatilah, Lo Kwan, kepala dusun mengincar cucumu....!"

Dari sikap mereka itu, Sie Liong maklum bahwa semua penduduk berpihak kepada kakek yang she Kwan ini, akan tetapi mereka itu semua ketakutan dan tidak berani bicara terang-terangan, bahkan agaknya tidak berani keluar da­ri rumah masing-masing melihat ada ti­ga orang tukang pukul kepala dusun me­nuju ke rumah kakek Kwan!

Akhirnya mereka tiba di depan rumah kakek itu. Kakek Kwan Sun cepat mendekati rumahnya dan pada saat itu terdengar jerit tangis cucunya, dan seorang di antara tiga tukang pukul itu, yang berhidung besar, menyeret gadis itu keluar dari rumah memegangi pergelangan tangan kirinya. Sedangkan dua orang lagi mengobrak-abrik isi rumah. Ketika gadis berusia tujuh belas tahun yang manis itu, walaupun pakaiannya a­mat sederhana, melihat kakeknya, ia berteriak sambil menangis.

"Kong-kong, tolonglah aku....!" Ia meronta-ronta, akan tetapi hanya rasa nyeri pada pergelangan tangan saja yang didapatkan karena pegangan si hi­dung besar itu sungguh erat sekali.

Melihat cucunya meronta dan menaagis tanpa daya, kakek Kwan Sun lupa akan rasa takutnya. Dia tidak marah melihat barang-barang dalam rumahnya yang tidak berharga itu dirusak, akan tetapi melihat cucunya yang tersayang itu ditangkap, dia marah sekali.

"Lepaskan cucuku! Ia tidak berdosa! Mau apa engkau menangkap cucuku? Hayo lepaskan Siu Si....!" teriaknya sambil mendekati si hidung besar dan berusaha membebaskan cucunya. Akan te­tapi, kaki yang panjang dan besar itu menendang dan tubuh Kwan Sun terlempar dan terguling-guling. Si hidung besar tertawa.

"Ha-ha-ha, apakah kau bosan hidup? Gadis ini kujadikan sandera, dan kalau engkau ingin melihat dia bebas, bayarlah hutangmu pada majikan kami!" Dia memberi isyarat kepada dua orang kawannya yang sudah merasa puas meng­hancurkan pintu dan jendela rumah ke­cil itu, dan menyeret tubuh Kwan Siu Si yang meronta-ronta dan menangis melihat kakeknya ditendang roboh.

"Kawan, perlahan dulu!" Tiba-tiba Sie Liong sudah menghadang di depan si hidung besar. Sikapnya tenang, akan tetapi matanya mencorong. Melihat ada o­rang berani menghadangnya, si hidung benar memandang heran penuh perhatian karena dia tidak mengenal orang yang punggungnya bongkok ini.

"Siapa engkau dan mau apa kau menghadangku?" bentaknya marah.

"Sobat, urusan hutang pihutang uang tidak ada sangkut-pautnya dengan nona ini. Maka, kuharap engkau suka membebaskannya," kata Sie Liong dengan sikap masih tenang.

Marahlah si hidung besar. "Setan! Engkau tidak kenal siapa aku?" Dia me­nunjuk ke arah hidungnya yang besar. "Apa kau ingin mampus? Kalau aku ti­dak mau membebaskan gadis ini, engkau mau apa?"

Sie Liong mengerutkan alisnya.

"Sungguh engkau telah menyeleweng dari kebenaran. Kalau tidak kaubebaskan, terpaksa aku akan memaksamu membebaskannya."

"Hah??" Si hidung besar membelalakkan matanya yang besar dan hidungnya yang lebih besar lagi itu bergerak-gerak seperti hidung monyet mencium sesuatu yang aneh, "Kau.... kau.... setan bongkok ini sungguh lancang mulut!" Dia menoleh kepada dua orang ka­wannya dan membentak. "Hajar mampus setan bongkok ini!"

Dua orang temannya itu adalah o­rang yang pekerjaannya memang tukang memukul dan menyiksa orang. Tidak ada kesenangan yang lebih mengasikkan bagi mereka melebihi menghajar orang lain. Hal ini mendatangkan perasaan bangga karena mereka dapat memperlihatkan bahwa mereka lebih kuat, lebih pandai dan lebih berkuasa dari pada yang mereka pukuli, juga mendatangkan perasaan nikmat dalam hati mereka yang kejam. Selain itu, mendatangkan pula uang karena memang pekerjaan mereka sebagai tukang pukul dari kepala dusun Tiong-cin yang amat diandalkan oleh si kepala dusun. Apa lagi harus menghajar seorang pemu­da bongkok! Pekerjaan kecil yang amat mudah, pikir mereka.

Dengan lagak bagaikan jagoan-jagoan benar-benar, dua orang yang sombong itu menghampiri Sie Liong sambil menyeringai. Apalagi pemuda bongkok itu tidak bersenjata, juga tidak memperlihatkan sikap sebagai seorang ahli berkelahi, melainkan seorang pemuda bongkok sederhana saja.

"Sekali pukul bongkokmu itu akan pindah ke depan!" seorang di antara mereka mengejek.

"Tidak, biar kupukul sekali lagi, agar bongkoknya berubah menjadi dua, seperti seekor unta dari Mongol!" Orang ke dua memperoloknya. Namun, Sie Liong diam saja, bahkan sikapnya seperti mengacuhkan mereka, dan memang dia tahu bahwa dua orang itu hanyalah gen­tung-gentung kosong yang nyaring bunyinya namun tidak ada isinya.

Dua orang itu agaknya hendak ber­saing dan berlumba siapa yang akan le­bih dulu merobohkan Sie Liong, maka mereka pun menerjang dengan cepat dari kanan kiri, yang seorang menghantam ke arah kepala Sie Liong, orang ke dua menonjok ke arah dada pemuda bongkok itu.

Sie Liong melihat datangnya dua pukulan itu yang bagi dia tentu saja amat lambat datangnya. Dia seolah ti­dak melihat atau tidak mampu menghindar, akan tetapi begitu dua orang itu dekat dan pukulan mereka sudah hampir menyentuh sasaran, tiba-tiba dia me­ngembangkan kedua lengannya dan.... dua orang itu terlempar ke kanan kiri sampai beberapa meter jauhnya dan terbanting ke atas tanah sampai berdebuk suaranya dan debu mengebul ketika pan­tat mereka rerbanting keras ke atas tanah. Dua orang itu meringis dan tangan mereka mengelus pantat yang amat nyeri itu, akan tetapi perasaan malu dan ma­rah membuat mereka segera melupakan rasa nyeri itu. Mereka sudah meloncat bangun dan kini dengan gemas mereka su­dah mencabut golok dari pinggang ma­sing-masing. Sinar golok yang berkilauan membuat Kwan Sun dan cucunya, Kwan Siu Si, memandang dengan mata terbelalak penuh kengerian.

"Tuan-tuan.... jangan bunuh orang....!" kata Kwan Sun, ngeri membayangkan betapa pemuda bongkok yang menolongnya itu akan menjadi korban golok mereka. "Orang muda, pergilah, la­rilah....!"

Akan tetapi, tentu saja dua orang tukang pukul yang sudah marah sekali itu tidak memperdulikannya, dan Sie Li­ong menoleh kepada Kwan Sun. "Lopek yang baik, jangan khawatir. Mereka ini adalah orang-orang jahat yang mengan­dalkan kekerasan untuk menindas orang, mereka patut dihajar...." Baru saja dia bicara demikian, dua orang yang mempergunakan kesempatan selagi pemuda bongkok itu menoleh dan bicara kepada Kwan Sun, sudah menyerang dengan golok mereka dari kanan kiri!

Kwan Sun dan cucunya memejamkan kedua mata saking ngerinya, tidak ta­han melihat betapa tubuh pemuda bongkok itu akan menjadi korban bacokan dan roboh mandi darah. Akan tetapi, dengan tenang saja Sie Liong menggeser kakinya dan dua bacokan golok itu lu­put! Dan sebelum dua orang penyerang­nya sempat menarik kembali golok mereka, kembali Sie Liong mengembangkan ke dua lengannya.

"Plak! Plakkk!" Kini dua tubuh itu terlempar lagi seperti tadi, akan tetapi lebih keras sehingga mereka terpental dan terbanting keras sampai me­ngeluarkan bunyi "ngek! ngek!" dan me­reka kini tidak malu-malu lagi mengaduh-aduh sambil menggunakan kedua ta­ngan menekan-nekan pantat mereka yang seperti remuk rasanya. Mereka mencoba untuk bangkit duduk akan tetapi terguling lagi dan golok mereka entah le­nyap ke mana.

Kini si hidung besar terbelalak. Agaknya baru dia tahu bahwa pemuda bongkok itu lihai! Dia lalu menggunakan kelicikannya. Tangan kiri memegang pergelangan tangan Kwan Siu Si, dan tangan kanan mencabut golok lalu ditem­pelkan kepada leher gadis itu!

"Setan bongkok, mundur kau! Kalau tidak, akan kubunuh gadis ini!" ben­taknya.

Sie Liong menggelengkan kepalanya dan melangkah maju menghampiri. "Tidak, engkau tidak akan membunuh gadis itu!" katanya dan tiba-tiba tangannya bergerak ke depan dan biarpun jaraknya dengan orang itu masih ada dua meter, namun sambaran angin pukulannya menge­nai pundak kanan si hidung besar dan tanpa dapat dihindarkan lagi, si hi­dung besar yang tiba-tiba merasa le­ngannya tergetar dan kehilangan tenaga melepaskan goloknya. Dia terbelalak dan mukanya berubah pucat, akan tetapi pada saat itu, Sie Liong sudah melang­kah di depannya. Dia masih mencoba un­tuk menggerakkan tangan kanannya me­nyambut Sie Liong dangan pukulan. Akan tetapi, Sie Liong menangkap pergelang­an tangannya dan mencengkeram.

"Aduh.... aduhhh.... aughhhhh!" Si hidung besar menjerit-jerit seperti babi disembelih dan otomatis pegangannya pada pergelangan tangan Siu Si terlepas. Demikian nyeri rasa lengannya yang dicengkeram pemuda bongkok itu. Di lain saat, Sie Liong sudah mandorongnya dan tubuhnya terlempar jauh ke belakang, terbanting keras dan tidak dapat bergerak lagi karena dia sudah roboh pingsan!

Melihat ini, dua orang temannya cepat menghampirinya, lalu menggotong­nya dan tanpa menoleh lagi, mereka berdua lari lintang pukang menggotong si hidung besar yang pingsan.

Melihat kejadian ini, Kwan Sun dan cucunya cepat menjatuhkan diri di depan kaki Sie Liong.

"Taihiap.... mata kami buta, harap maafkan...." kata Kwan Sun. "Kami tidak tahu bahwa taihiap memiliki kepandaian tinggi dan telah menyelamatkan kami, akan tetapi.... harap taihiap cepat pergi dari sini.... kepala dusun Bouw tentu akan datang bersa­ma gerombolannya...."

Sie Liong tersenyum dan merasa suka kepada kakek itu. Biarpun dirinya sendiri dan cucunya terancam, kakek i­tu masih sempat mengkhawatirkan diri­nya dan tadipun menganjurkan agar dia melarikan diri agar tidak sampai cela­ka di tangan orang-orang jahat itu.

"Bangkitlah, lopek," katanya sam­bil menyentuh pundak itu dan menarik orang tua itu bangun. "Engkau juga, no­na. Sekarang, harap kalian kumpulkan penduduk dusun ke sini, terutama kaum prianya dan yang masih muda-muda, aku ingin bicara dengan mereka. Cepat lo­pek, sebelum kepala dusun jahat itu muncul!"

Tidak sukar pekerjaan ini karena tadipun, ketika pemuda bongkok itu menghajar tiga orang tukang pukul yang amat mereka takuti, banyak penduduk mengintai dan melihatnya. Mereka hampir tidak percaya bahwa ada seorang pemuda, bongkok pula, mampu mengalahkan mereka bertiga. Maka, tanpa diperintah, mere­ka sudah mengabarkan kepada orang-o­rang lain dan kini banyak orang berda­tangan ke rumah kakek Kwan Sun. Maka, ketika kakek itu minta kepada para penduduk agar datang ke situ karena pemu­da bongkok itu hendak bicara dengan mereka, sebentar saja tempat itu sudah penuh dengan para penghuni dusun, terutama para prianya yang masih muda. Bahkan yang tua-tuapun tidak ketinggalan. Melihat mereka, diam-diam Sie Li­ong merasa terharu. Inilah teman-teman dan para sahabat mendiang orang tuanya!

"Saudara-saudara," katanya dengan suara lantang, "kalian mempunyai seo­rang kepala dusun yang jahat dan yang mempunyai kaki tangan penjahat, kenapa diam saja dan tidak melawan?"

Semua orang saling pandang dan wajah mereka membayangkan ketakutan.

"Mana kami berani?" akhirnya seo­rang laki-laki muda menjawab.

"Andaikata Sie-kauwsu masih hi­dup, apakah mungkin ada kepala dusun yang jahat seperti itu di dusun ini?" tanya pula Sie Liong, sekali ini ditu­jukan kepada mereka yang tua-tua kare­na tentu saja yang masih muda tidak mengenal Sie Kauwsu.

Mendengar ini, beberapa orang tua segera menjawab. "Tidak mungkin! Dusun ini aman ketika Sie Kauwsu masih hi­dup!"

"Nah, ketahuilah paman sekalian. Aku bernama Sie Liong dan aku adalah putera Sie Kauwsu! Aku akan mewakili mendiang ayahku untuk menghajar kepala dusun itu, dan kuharap kalian semua mendukung dan membantuku!"

"Kami.... kami tidak berani...." beberapa orang berseru. "Kepala dusun Bouw mempunyai banyak tukang pukul yang lihai."

"Hemm, kalian lihat saja. Mereka itu hanya pandai menggertak, akan tetapi sama sekali tidak lihai. Apalagi jumlah kalian jauh lebih banyak. Kali­an tidak perlu turun tangan, lihat sa­ja aku akan menghajar mereka!" kata Sie Liong tanpa nada sombong, melain­kan nada penasaran mengapa begini ba­nyak pria di dusun orang tuanya itu mandah saja kehidupan mereka ditindas oleh seorang kepala dusun yang jahat.

Biarpun pemuda ini sudah berjanji akan menghajar kepala dusun Bouw dan anak buahnya, tetap saja para penduduk du­sun itu belum yakin benar. Memang pemuda ini tadi telah mengalahkan tiga o­rang tukang pukul lurah Bouw, akan te­tapi mampukah pemuda yang bongkok itu mengatasi Bouw-chung-cu dengan para jagoannya yang cukup banyak dan kejam? Maka, mereka tidak berani menyanggupi untuk membantu pemuda bongkok itu dan hanya berdiri bergerombol agak jauh.

"Yang kumaksudkan bukanlah agar kalian membantuku menghajar mereka, melainkan mendukung dan selanjutnya ber­sikap berani dan bersatu menghadapi kekejaman yang menindas kalian. Juga ka­lau pembesar tinggi datang, kalian ha­rus berani melaporkan kejahatan para pejabat di sini."

Orang-orang itu mengangguk dan merasa lega bahwa pemuda itu tidak minta mereka untuk membantu dengan perkelahian. Dengan demikian, andaikata pemuda itu gagal dan kalah, mereka tidak akan dipersalahkan oleh Bouw-chung-cu.

Tak lama kemudian, terdengar sua­ra banyak orang. Para penduduk dusun itu segera bersembunyi di balik rumah-rumah dan pohon-pohon, seperti kura-kura ketakutan dan menyembunyikan kepalanya di dalam rumahnya. Nampak lurah Bouw yang bertubuh gendut pendek itu diiringkan oleh lima belas orang yang bersikap gagah dan kasar, di antaranya tiga orang yang tadi dihajar oleh Sie Liong. Lurah Bouw ini memperoleh kedudukannya sebagai lurah Tiong-cin dengan jalan menyogok pembesar tinggi yang berwenang menentukan siapa lurah di dusun itu, dan dengan jalan mengancam mereka yang tidak setuju dia diangkat menjadi lurah, dengan bantuan belasan orang tukang pukulnya. Dia bukan orang berasal dari dusun Tiong-cin, dan baru tiga tahun saja menjadi lurah di situ, dia telah menjadi kaya raya dan hidupnya bagai seorang raja kecil. Ketika mendengar laporan tiga orang tukang pukulnya bahwa di dusunnya datang seorang pemuda bongkok yang berani menentang bahkan menghajar tiga orang tukang pukulnya, lurah Bouw menjadi marah bukan main. Dia sendiri adalah seorang ahli silat yang cukup pandai, dan dia segera mengumpulkan pembantunya yang berjumlah lima belas orang, membawa senjata lengkap mencari pemuda bongkok itu.

Sie Liong menanti kedatangan mereka dengan sikap tenang saja, sebalik­nya, melihat pemuda itu, tiga orang jagoan yang tadi menerima hajarannya se­gera menuding dan berseru, "Itulah si setan bongkok!"

Lurah Bouw mendangkol bukan main. Pemuda itu biasa saja, bahkan cacat, bongkok dan sama sekali tidak mengesankan sebagai seorang yang memiliki ilmu kepandaian. Dan tiga orang tukang pu­kulnya yang ditugaskan menyandera Kwan Siu Si yang membuatnya tergila-gila dan mengilar, dapat digagalkan pemuda itu! Maka begitu berhadapan dengan Sie Liong, lurah Bouw yang juga memegang sebatang golok seperti para anak buah­nya, menudingkan goloknya ke arah muka Sie Liong dan membentak marah.

"Engkau ini orang bongkok dari mana, berani datang ke dusun kami dan membikin kacau?"

Sie Liong mengangkat muka meman­dang wajah lurah itu, sinar matanya yang mencorong mengejutkan hati lurah itu, dan Sie Liong tersenyum. "Namaku Sie Liong dan aku adalah orang yang dilahirkan di dusun Tiong-cin ini, dan aku datang untuk menengok kuburan ayah ibuku. Tidak tahunya dusun ini telah berada dalam cengkeraman seekor serigala yang kejam! Engkau mengerahkan penjahat-penjahat untuk menindas penduduk dusun. Engkau tidak pantas menjadi lu­rah, dan aku mewakili ayahku, Sie Kian untuk menghajar kalian dan membersih­kan dusun kami ini dari srigala-sriga­la berwajah manusia yang berkeliaran di sini!"

Wajah lurah Bouw menjadi merah padam saking marahnya. Memang dia bukan orang berasal dari dusun ini, akan tetapi dia telah berhasil menjadi lurah dan hidup makmur di situ.

"Jahanam keparat, setan bongkok yang sombong!" Dia menoleh kepada para anak buahnya. "Pukul dia sampai mati!"

Lima belas orang itu memang sudah siap dengan senjata di tangan. Begitu mendengar komando ini, mereka serentak maju mengepung dan mengeroyok Sie Li­ong! Belasan senjata tajam berupa golok, pedang dan tombak, datang bagai­kan hujan ke arah tubuh Sie Liong. Orang-orang dusun yang mengintai dan menonton, menjadi pucat dan mereka mera­sa ngeri. Bahkan ada yang diam-diam sudah meninggalkan tempat itu bersembu­nyi di rumah sendiri saking takut ter­libat.

Akan tetapi, Sie Liong yang kini telah menjadi seorang pendekar sakti, tidak menjadi gugup menghadapi hujan senjata tajam itu. Tubuhnya membuat gerakan memutar dan kedua tangannya dikibaskan ke kanan kiri dan depan belakang. Akibatnya, beberapa batang senjata tajam terlempar karena pemegangnya merasa betapa ada tenaga yang dahsyat menyambar tangan mereka dan membuat lengan mereka menjadi seperti lumpuh! Akan tetapi mereka mengandalkan pengeroyokan banyak orang, maka yang lain masih terus menyerang, dan yang senjatanya terlepas, cepat memungut kembali senjata mereka dan menyerang semakin ganas. Kini, melihat betapa dalam segebrakan saja beberapa orang anak buahnya melepaskan senjata, lurah Bouw sendiri menjadi penasaran dan sambil me­ngeluarkan bentakan nyaring, diapun menyerang dengan mengangkat goloknya tinggi-tinggi, kemudian melakukan ba­cokan yang amat cepat dan kuat.

Hanya dengan miringkan tubuh, Sie Liong membuat bacakan itu luput dan lewat di dekat pundaknya, dan sebelum kepala dusun itu sempat merobah posisi­nya, tiba-tiba saja dia merasa tengkuknya diraba dan tubuhnya menjadi kaku! Di lain saat, Sie Liong telah mengang­kat tubuh lurah ini dan mempergunakan sebagai perisai atau sebagai senjata yang diputar-putar di atas kepalanya! Melihat ini, tentu saja para tukang pukul menjadi terkejut bukan main dan mereka menahan senjata mereka! Sie Liong terus maju dan kedua kakinya secara bergantian menendangi mereka dan beberapa orang pengeroyok kena ditendang sampai terlempar jauh dan terbanting jatuh dengan kerasnya ke atas tanah! Sebelum mereka dapat bangkit, tiba-tiba datang banyak orang yang memukuli mereka yang terbanting jatuh itu! Mereka yang memukuli ini adalah orang-orang dusun! Kiranya ketika para penghuni dusun melihat betapa pemuda bongkok itu benar-benar dapat mengatasi lurah Bouw dan anak buahnya, mereka menjadi bersemangat sehingga melihat beberapa orang tukang pukul yang mereka benci itu terlempar, mereka lalu mengeroyok dan memukulinya dengan tangan mereka!

Tentu saja tukang-tukang pukul yang sudah kehilangan senjata dan ma­sih pening karena terbanting keras, kini hanya mampu berkaok-kaok ketika di­keroyok dan dipukuli para penduduk dusun! Makin keras dia memaki dan mengancam, makin keras pula orang-orang itu memukulinya sehingga mukanya menjadi bengkak-bengkak dan tubuhpun babak bundas, pakaian mereka robek-robek!

Sie Liong tersenyum gembira meli­hat ulah para penduduk dusun itu. Dia telah berhasil membangkitkan semangat para penduduk dusun itu setelah sema­ngat mereka itu lenyap selama bertahun-tahun di bawah penindasan kepala dusun yang jahat itu. Maka diapun segera me­lemparkan tubuh kepala dusun Bouw yang jatuh berdebuk dan terguling-guling. Kepala dusun itu hanya dapat mengeluh karena kepalanya sudah pening sekali ketika tubuhnya diputar-putar, kini terbanting keras pula setelah totokan pada tengkuknya dibebaskan pemuda bongkok yang lihai itu. Dan diapun terke­jut ketika kini orang-orang dusun me­ngejarnya dan memukulinya.

"Hei....! Keparat.... ini aku, lurahmu....!" teriaknya, akan tetapi teriakannya hanya disambut dengan pu­kulan-pukulan para penduduk yang sudah melihat kesempatan untuk membalas den­dam bertahun-tahun itu. Lucunya, kini banyak pula wanita dusun yang keluar dan merekapun ikut pula memukuli kepa­la dusun dan anak buahnya dengan ga­gang-gagang sapu!

Sie Liong mengamuk, dan dalam waktu singkat saja, seluruh tukang pukul yang lima belas orang banyaknya sudah dia robohkan dan kini mereka semua, juga kepala dusun Bouw, berteriak-teriak dan mengaduh-aduh tanpa mampu melawan ketika orang-orang dusun, tua muda, laki perempuan, mengeroyok mereka dan me­mukuli mereka sampai seluruh muka mereka bengkak-bengkak!

Sampai beberapa lamanya Sie Liong membiarkan orang-orang dusun itu melampiaskan kemarahan dan sakit hati mereka, akan tetapi dia menjaga agar mere­ka tidak melakukan pembunuhan. Akhirnya, khawatir kalau-kalau kepala dusun Bouw dan anak buahnya akan mati konyol dia lalu berseru dengan suara nyaring.

"Cukup, saudara-saudara, cukup dan jangan memukul lagi!"

Teriakan yang nyaring ini ditaati seketika oleh para penghuni dusun yang kini penuh semangat itu. Dipimpin oleh seorang kakek yang bersemangat, mereka pun berseru, "Hidup putera mendiang Sie Kauwsu....!"

Sie Liong mengangkat kedua tangan ke atas memberi isarat agar mereka te­nang, lalu dia memeriksa keadaan enam belas orang musuh itu. Keadaan mereka sungguh menyedihkan, dan lebih dari setengah mati. Muka mereka bengkak-beng­kak dan bonyok-bonyok, bahkan kepala dusun Bouw tidak mempunyai hidung la­gi. Bukit hidungnya penyok dan hancur, ada yang matanya pecah, patah tulang dan sebagainya. Akan tetapi Sie Liong merasa bersukur bahwa tidak ada di an­tara enam belas orang itu yang tewas. Dia menghampiri lurah Bouw dan mengguncang pundaknya. Lurah itu mengeluh dan merintih, mencoba untuk membuka kedua matanya yang bengkak-bengkak, memandang kepada Sie Liong.

"Orang she Bouw, bagaimana seka­rang? Apakah engkau masih merasa penasaran dan hendak mempergunakan kekuasaanmu untuk menindas rakyat dusun Tiong-cin?"

Lurah Bouw sudah ketakutan setengah mati. Ketika tadi dipukuli rak­yat, dia yang tadinya memaki-maki dan mengancam, mulai menangis dan minta-minta ampun.

"Ampun.... ampunkan saya.... saya tidak berani lagi.... saya akan menjadi lurah yang baik...."

Akan tetapi mendengar ucapannya itu, semua penduduk dusun menolak ke­ras. "Tidak! Kami tidak mau dia menja­di lurah kami!"

Sie Liong tersenyum dan berkata kepada orang she Bouw itu. "Nah, eng­kau sudah mendengar sendiri. Kalau ti­dak ada aku di sini, engkau tentu te­lah mereka pukuli terus sampai mati. Orang she Bouw, sekarang lebih baik kalau engkau dan anak buahmu itu pergi dari dusun ini secepatnya. Kami pendu­duk Tiong-cin tidak membutuhkan engkau dan orang-orangmu, kami dapat mengatur diri sendiri. Aku akan melapor kepada pembesar atasanmu bahwa engkau tidak disuka rakyat dan bahwa engkau telah pergi, dan kami akan mencari pengganti seorang kepala dusun. Nah, sekarang engkau pergilah dan bawalah keluargamu, juga hartamu. Akan tetapi, gudang gan­dum dan padi harus kautinggalkan, karena itu milik rakyat yang kauperas!"

Semua penghuni dusun bersorak gegap gempita menyambut ucapan Sie Liong itu karena mereka semua merasa setuju sekali. Menghadapi semangat rakyat yang berkobar itu, Bouw Kun Hok, yaitu kepala dusun yang jahat itu, menjadi ngeri. Dengan susah payah dia lalu bersama anak buahnya, kembali ke rumahnya dan mengumpulkan keluarga mereka, mem­bawa harta mereka dan pada hari itu juga mereka pergi meninggalkan dusun Tiong-cin, diantar sorak-sorak para pen­duduk yang merasa lega sekali.

Setelah enam belas orang itu bersama keluarga mereka pergi, dengan dipimpin seorang kakek, yaitu kakek Kwan Sun sendiri, para penghuni dusun menjatuhkan diri berlutut di depan Sie Liong. Kini mereka semua keluar, terma­suk kanak-kanak dan wanita sehingga ratusan orang berlutut di depan Sie Li­ong.

"Sie-taihiap," kata Kwan Sun de­ngan suara nyaring, "kami seluruh penghuni dusun Tiong-cin menghaturkan terima kasih kepada taihiap yang telah membebaskan kami dari tekanan lurah Bouw. Sekarang kami mohon agar taihiap suka menjadi kepala dusun kami."

"Hidup Sie-taihiap....!"

"Kami setuju!"

"Akur! Sie-taihiap menjadi lurah kami!"

Melihat mereka itu berteriak-teriak, Sie Liong mengangkat kedua tangan ke atas dan hatinya terharu sekali. Selama ini, orang-orang hanya memandang kepadanya dengan ejekan, dengan olok-olok, ada yang dengan pandang mata ka­sihan. Dia seorang bongkok yang dipan­dang rendah, membuat dia merasa rendah diri. Akan tetapi sekarang, di dusun orang tuanya, di tempat kelahirannya, dia seperti dipuja-puja!

"Terima kasih atas kepercayaan cu-wi (anda sekalian)! Akan tetapi, aku masih mempunyai tugas yang amat panting dan tidak mungkin tinggal selamanya di sini. Karena itu, aku tidak dapat pula menjadi seorang lurah, apalagi mengingat bahwa aku tidak berpengalaman dan tidak berpengetahuan bagaimana memimpin rakyat dusun. Sebaiknya kalau sekarang cu-wi memilih sendiri seorang di antara cu-wi yang dapat dipercaya, kemudian mengangkatnya menjadi lurah baru."

Kembali terjadi kegaduhan ketika mereka mengajukan nama-nama calon, akan tetapi ternyata sebagian besar suara mereka memilih kakek Kwan Sun. Melihat ini, Sie Liong juga menyatakan persetujuannya.

"Kalian telah memilih dengan tepat. Kwan Lopek memang tepat untuk menjadi lurah kalian yang baru. Kuha­rap Kwan Lopek dapat menerimanya dan suka memimpin saudara-saudara ini!"

Kwan Sun bangkit dan mukanya agak merah karena merasa malu bahwa dia, seorang petani biasa, diangkat menjadi lurah. "Sie-taihiap, bukan saya meno­lak, akan tetapi bagaimana mungkin sa­ya menjadi lurah tanpa pengangkatan para pembesar yang berwajib di kota be­sar Wen-su?"

Semua orang menjadi bengong dan bingung karena apa yang diucapkan oleh kakek itu memang benar. Sie Liong mengangguk-angguk, karena diapun baru tahu akan hal itu sekarang. "Harap lopek jangan khawatir. Aku sendiri yang akan pergi ke kota Wen-su dan akan kutemui pejabat yang berwenang untuk itu, akan kuceritakan tentang keadaan di Tiong-cin ini, tentang kejahatan lurah Bouw dan tentang keputusan para penduduk mengangkat lopek sebagai lurah!" Semua orang bersorak gembira karena mereka semua yakin bahwa kalau Pendekar Bongkok yang muda itu turun tangan, pasti akan beres, seperti yang telah dibuktikan ketika dia menumpas lurah Bouw dan anak buahnya.

"Akan tetapi, taihiap. Bagaimana kalau orang she Bouw itu tidak mau me­nerima dan setelah taihiap pergi dari sini, dia akan datang bersama gerombolannya dan membalas dendam?" tanya seorang penduduk muda dan kembali semua orang bengong dan wajah mereka berubah ketakutan. Membayangkan balas dendam dari lurah Bouw dan gerombolannya, se­lagi Pendekar Bongkok, demikian mereka menjuluki Sie Liong, tidak berada lagi di dusun itu, membuat mereka mengeluarkan keringat dingin.

"Jangan takut! Kalau kalian sudah bersatu padu seperti tadi, lurah Bouw dan gerombolannya tidak akan mampu berbuat sesuatu! Kulihat tadi di antara cu-wi banyak pula yang kuat dan memi­liki gerakan silat. Bukankah mendiang ayahku dahulu adalah guru silat di si­ni dan disebut Sie Kauwsu? Siapakah di antara cu-wi yang pernah berguru kepada ayahku?"

Ternyata ada tujuh orang yang pernah menjadi murid Sie Kauwsu. Mereka sudah lama tidak pernah berlatih, akan tetapi ketika Sie Liong menyuruh mereka memperlihatkan gerakan silat, ternyata mereka cukup mahir.

"Aku akan melatih tujuh orang saudara ini dengan beberapa jurus silat pilihan, kemudian mereka akan melatih para muda di sini. Jumlah kalian ada ratusan orang, kalau bersatu padu, tentu tidak ada gerombolan penjahat yang banani main-main."

Semua orang setuju dan kakek Kwan Sun dipilih menjadi lurah yang baru, menempati bekas rumah lurah Bouw yang besar! Dan Sie Liong menjadi tamunya yang dihormati. Akan tetapi sebelum dia pergi ke rumah baru dari lurah Kwan lebih dahulu dia minta penjelasan dari Kwan Sun tentang orang tuanya.

"Seperti lopek mengetahui, saya datang untuk berkunjung ke makam ayah ibu saya di sini. Sekarang saya ingin pergi dulu berkunjung ke makam itu. Di manakah makam mereka, lopek?"

"Ah, mari kuantar sendiri, taihiap. Makam itu berada di pinggir dusun sebelah timur, tempat pemakaman pendu­duk kita." Lurah baru itu lalu mengan­tar Sie Liong menuju ke tanah kuburan yang sunyi itu.

Tak lama kemudian, Sie Liong sudah berlutut di depan tiga buah makam yang berdampingan. Makam yang sederhana sekali, den tidak terawat. Hal ini menunjukkan bahwa ayah ibunya tidak mempunyai sanak keluarga lagi di dusun itu. Setelah memberi hormat, diapun membersihkan rumput-rumput liar di ma­kam itu, dibantu oleh lurah Kwan.

"Ini makam Sie Kauwsu dan ini ma­kam isterinya. Aku sendiri ikut mengu­bur jenazah mereka, dan yang ini makam Kim Cu An, muridnya yang menjadi calon mantunya."

Sie Liong terkejut dan heran. "A­pakah suheng Kim Cu An Inipun tewas karena penyakit menular yang ganas itu, lopek?"

Kini lurah Kwan itu yang medangnya dengan mata terbelalak. "Penyakit menular? Apa maksudmu, taihiap?"

"Bukankah.... bukankah ayah ibu tewas karena penyakit menular?"

"Ah, dari mana taihiap mendengar berita itu! Sama sekali tidak begitu! Di sini memang pernah berjangkit penyakit menular, akan tetapi tidak berapa hebat dan yang jelas, ayah ibumu tidak tewas oleh penyakit menular, juga Kim Cu An ini tidak pula!"

Sie Liong terkejut bukan main, a­kan tetapi dia mampu menekan perasaan­nya sehingga tidak nampak pada wajah­nya. Dia mempersilakan kakek itu duduk di atas rumput, di depan makam ayah i­bunya dan suhengnya, lalu dengan lem­but dia berkata, "Kwan Lopek, sekarang aku minta tolong kepadamu. Ceritakan­lah dengan jelas apa yang telah terja­di pada ayah ibuku, dan bagaimana mereka itu tewas."

Kwan Sun mengangguk-angguk. "Men­diang ayahmu terkenal sebagai Sie Kauwsu, guru silat di dusun ini yang ga­gah perkasa dan kami semua menghormatinya. Dia mempunyai dua orang anak, yang pertama seorang gadis bernama Sie Lan Hong, ketika itu berusia lima belas tahun, dan anak ke dua adalah seorang anak laki-laki yang baru kurang lebih setahun usianya, bernama Sie Liong."

"Akulah anak itu, lopek."

Kakek itu mengangguk. "Ya, kami sudah menduganya, taihiap, walaupun tadinya kami ragu-ragu...." Dia meman­dang ke arah punggung Sie Liong. "Mendiang ayahmu mempunyai beberapa orang murid, dan yang menjadi murid utamanya adalah mendiang Kim Cu An yang ketika itu berusia kurang lebih dua puluh tahun dan sudah ditunangkan dengan puterinya yaitu Sie Lan Hong. Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, kami sedusun dikejutkan oleh keadaan di rumah orang tuamu. Sungguh mengerikan dan menyedihkan se­kali...." Kakek itu berhenti bercerita dan termenung.

"Lalu bagaimana, lopek? Apa yang telah terjadi di rumah orang tuaku?" Sie Liong mendesak karena dia sudah tidak sabar lagi dan ingin mendengar apa yang sebenarnya terjadi kepada ayah i­bunya.

Kwan Sun menghela napas panjang. "Akulah seorang di antara para tetang­ga yang pertama kali menyaksikan kea­daan itu. Kami mendapatkan ayahmu dan ibumu, juga Kim Cu An, dalam keadaan tewas terbunuh! Bukan hanya mereka bertiga, juga kami mendapatkan bahwa se­mua binatang peliharaan orang tuamu, anjing, kucing, ayam dan kuda, juga mati terbunuh."

"Ahhh! Apa yang telah terjadi de­ngan mereka, lopek? Siapa pembunuh me­reka?"

Kakek itu manggeleng kepalanya. "Kami tidak tahu apa yang terjadi de­ngan mereka dan siapa pembunuh mereka. Tidak ada tanda-tanda sama sekali! En­cimu, Sie Lan Hong dan engkau seudiri, tidak berada di sana, taihiap. Kami tidak tahu pula apa yang terjadi de­ngan taihiap dan enci taihiap itu. Barang-barang dalam rumah Sie Kauwsu tidak dicuri orang yang menjadi pembu­nuh itu. Dan barang-barang itu, rumah itu, sudah lama dirampas oleh lurah Bouw."

Sie Liong mengepal tinjunya. "Jangan-jangan lurah Bouw yang melakukan itu!"

Kakek Kwan menggeleng kepala. "Saya kira bukan, taihiap. Biarpun dia amat jahat, akan tetapi saya yakin dia tidak akan mampu mengalahkan ayahmu yang gagah. Saya kira, yang mengetahui siapa pembunubnya hanyalah taihiap sendiri. Akan tetapi ketika itu taihiap baru berusia setahun, akan tetapi encimu, Sie Lan Hong...."

"Lopek," Sie Liong memotong, "apakah di antara para penduduk dusun ini tidak ada yang kebetulan melihat orang asing malam itu di dusun ini, lopek?"

Kakek itu manggeleng kepala lagi.

"Tidak ada. Kalau ada, tentu dia su­dah bercerita kepada kami. Kami semua mencinta Sie Kauwsu dan kami semua me­rasa bersedih dan kehilangan."

Sie Liong mengerutkan alisnya, termenung. "Lopek, banyak terima kasih atas keteranganmu, dan aku tidak ingin lagi bicara tentang hal itu." Setelah berkata demikian, pemuda ini bersila di depan makam dan memejamkan ke­dua matanya, bersamadhi. Kakek Kwan tidak lagi berani mengganggunya.

Terjadi perang di dalam pikiran Sie Liong. Mengapa encinya bercerita lain? Mengapa encinya seperti hendak menutupi kematian ayah ibunya, dan me­ngatakan bahwa ayah ibunya tewas karena penyakit menular? Benarkah encinya tidak tahu akan peristiwa itu? Ataukah encinya sengaja membohonginya? Akan tetapi, bagaimana mungkin encinya berbohong kepadanya? Dia yakin benar betapa besar kasih sayang encinya kepadanya. Dia tidak mau membicarakan urusan itu lagi dengan Kwan Sun, karena khawatir kalau orang-orang mencurigai encinya. Bagaimanapun juga, memang segalanya menunjukkan bahwa encinya tentu tahu a­kan peristiwa itu dan tahu pula siapa pembunuh ayah ibunya! Hanya encinya yang tahu, dan dia pasti akan mende­ngarnya dari encinya. Dia akan bertanya kepada Sie Lan Hong, encinya.

Setelah merasa cukup melakukan sembahyang di depan makam itu, Sie Li­ong lalu mengikuti Kwan Sun yang menjadi lurah baru untuk pulang ke rumah baru lurah itu. Dia harus tinggal beberapa hari lamanya di dusun itu untuk me­latih beberapa jurus kepada bekas murid-murid ayahnya agar para penduduk dapat menyusun kekuatan untuk mengha­dapi ancaman orang-orang jahat seperti lurah Bouw.

Dengan penuh semangat para penduduk dusun itu, terutama mereka yang pernah belajar silat kepada Sie Kauwsu berlatih silat di bawah bimbingan Sie Liong selama satu minggu. Dan pada ma­lam terakhir, Sie Liong duduk bersila di dalam kamarnya di rumah lurah Kwan merenungkan nasibnya. Nasib yang lebih banyak pahitnya dari pada manisnya. Sejak kecil dia telah menderita banyak sekali kekecewaan. Baru setelah dia menjadi murid orang-orang sakti dan berlatih ilmu di puncak bukit, hidup­nya nampak indah dan berbahagia. Sekarang, begitu turun, dia mendengar berita kematian orang tuanya yang amat me­ngejutkan, yaitu bahwa ayah ibunya te­was karena dibunuh orang, sama sekali bukan karena penyakit. Ayah ibunya dan seisi rumah dibunuh, kecuali encinya dan dia! Apa artinya ini semua den me­ngapakah encinya harus berbohong kepa­danya? Dia harus mendengar penjelasan dari encinya. Pada keesokan harinya dia berpamit meninggalkan dusun Tiong-cin, tempat kelahirannya itu. Lurah Kwan terkejut mendengar bahwa pendekar itu hendak pergi meninggalkan dusun mereka.

"Sie Taihiap, kenapa engkau ter­gesa-gesa hendak meninggalkan kami? Harap taihiap menanti selama beberapa hari karena kami semua bermaksud untuk menjamu taihiap yang telah menyelamatkan semua saudara di dusun ini dari penindasan orang jahat. Selain itu, juga saya sendiri mempunyai urusan yang a­mat penting untuk diselesaikan kepada taihiap."

Sie Liong tersenyum. Dia memang memiliki rasa persaudaraan dekat sakali dengan para penghuni dusun Tiong-cin, tempat kelahirannya. Kalau para penduduk hendak menjamunya, sebagai semacam pesta perpisahan, tidak mungkin dia menolak. Dia tidak ingin mengecewakan hati mereka, dan pula, menunda be­berapa haripun apa salahnya? Biarpun hatinya ingin sekali mendengar dari encinya tentang kenatian orang tuanya, namun dia tidak tergesa-gesa.

"Baiklah, Kwan Lopek. Aku tidak berkeberatan untuk menunda dua hari lagi, akan tetapi jangan terlalu lama. Tentang urusanmu itu, apakah itu, lo­pek?"

"Sebelumnya maaf kalau pertanyaanku ini menyinggung karena terlalu pri­badi. Akan tetapi bolehkah aku mengetahui apakah engkau sudah menikah atau bertunangan, Sie Taihiap?"

Sie Liong tersenyum dan menggeleng kepalanya. Kalau saja dia tidak menerima penggemblengan ilmu-ilmu yang dalam, juga pengertian tentang kehidupan dari para gurunya, tentu pertanyaan itu akan menyinggung perasaannya. Dia seorang yang cacat, bagaimana berani memikirkan tentang perjodohan? Wanita mana yang mau didekati seorang laki-laki yang bongkok seperti dia? Yatim pi­atu, miskin, dan bongkok pula!

"Tidak, lopek. Aku masih hidup seorang diri."

Tiba-tiba wajah kakek itu berseri gembira sehingga Sie Liong menjadi he­ran. Bahkan kini kakek itu tertawa. "Ha-ha-ha, sungguh kebetulan sekali, taihiap. Kalau Tuhan menghendaki, dan kalau taihiap tidak merasa rendah, kami sekeluarga, bahkan seluruh penduduk dusun ini akan merasa berbahagia seka­li kalau taihiap sudi menjadi jodoh cucuku Kwan Siu Si. Ia juga sudah ya­tim piatu dan ia seorang anak yang amat baik, taihiap."

Wajah Sie Liong berubah merah. Siu Si? Hemm, gadis yang manis sekali itu! Memang dia sama sekali belum pernah berpikir tentang jodoh. Akan tetapi kalau benar gadis yang manis itu mau di­jodohkan dengan dia, sungguh hal itu merupakan suatu anugerah baginya. Ga­dis itu berwajah manis, bertubuh padat dan sehat, juga seorang gadis dari du­sun tempat kelahirannya sendiri.

"Bagaimana, Sie Taihiap? Maafkan kami kalau usulku tadi menyinggung pe­rasaanmu. Memang kami akui bahwa Siu Si seorang gadis dusun bodoh dan terlalu rendah apabila dibandingkan dengan taihiap."

"Ah, jangan berkata demikian, lopek! Sama sekali aku tidak mempunyai pikiran seperti itu. Bahkan aku merasa berterima kasih sekali. Akan tetapi karena aku sudah tidak mempunyai ayah i­bu, aku harus minta keputusan enci-ku dalam hal perjodohan. Maka, bersabarlah kalau aku belum dapat memberi ja­waban dan keputusan sekarang. Aku akan menyampaikan kepada enci dan minta keputusan enci."

"Tapi.... tapi, engkau sendiri tidak berkeberatan, taihiap?"

Sie Liong menggelengkan kepala.

Lurah Kwan menjadi girang bukan main. "Terima kasih, taihiap! Aku akan memberitahu kepada kawan-kawan agar sece­patnya mempersiapkan jamuan karena engkau akan pulang ke rumah encimu!"

Pada keesokan harinya, perjamuan makan untuk menghormati Sie Liong dan untuk menghaturkan selamat jalan diadakan di rumah Lurah Kwan. Semua penghu­ni dusun itu hadir, dan Sie Liong du­duk semeja dengan Lurah Kwan, dilayani oleh Siu Si sendiri. Gadis ini nampak malu-malu, karena ia sudah diberitahu oleh kakeknya tentang usaha kakeknya menjodohkannya dengan pendekar itu. Sie Liong melihat betapa gadis yang manis ini kelihatan canggung dan malu-malu, akan tetapi penglihatan Sie Liong yang tajam dapat menangkap bekas air mata dan mata yang agak kemerahan oleh ta­ngis, dan bahwa sikap ramah dan senyum di bibir yang mungil itu tidak wajar, seperti dipaksakan.

Lurah Kwan bangkit berdiri dan minta perhatian kepada semua orang, lalu dia membuat pengumuman bahwa dia telah menjodohkan Kwan Siu Si kepada pendekar Sie Liong! Tentu saja berita ini amat menggembirakan para penduduk du­sun itu dan mereka menyambutnya dengan sorakan dan tepuk tangan. Lurah Kwan mengangkat kedua lengan ke atas dan merekapun diam, wajah mereka berseri dan mereka mendengarkan penuh perhatian a­pa yang akan diucapkan oleh kepala du­sun baru itu.

"Perjodohan ini telah kami bicarakan dengan Sie-taihiap, dan diapun ti­dak berkeberatan. Akan tetapi jawaban dan keputusannya akan diberikan sete­lah dia menyampaikan hal itu kepada encinya yang kini tinggal di kota Sung-jan. Karena itu, dalam waktu dekat ini Sie-taihiap akan meninggalkan dusun kita dan pulang ke Sung-jan untuk minta persetujuan encinya."

Kembali orang-orang bersorak dan bertepuk tangan. Akan tetapi Sie Liong melihat betapa Siu Si, gadis yang tadi melayani mereka bahkan diajak makan bersama oleh kakeknya, diam-diam telah pergi meninggalkan meja dan keluar da­ri ruangan itu. Kwan Sun yang melihat hal itu hanya tertawa.

"Maafkan cucuku. Maklum, ia malu-malu," katanya dan Sie Liong juga tidak berkata sesuatu.

Malam itu, di dalam kamarnya, Sie Liong agak gelisah. Malam terakhir dia di rumah keluarga Kwan yang menjadi lurah baru, karena besok pagi-pagi dia akan pergi meninggalkan dusun itu. Akan tetapi bukan hal itu yang membuatnya tidak dapat tidur. Dia membayangkan keadaan sendiri, tentang ikatan jodoh itu. Bagaimana kalau encinya menyetujui ikatan jodoh itu? Kalau encinya tidak setuju, hal itu bukan yang digelisahkan. Kalau encinya tidak setuju, tinggal menyampaikan saja kepada Lurah Kwan dan ikatan itu tidak jadi. Dia hanya suka saja kepada Siu Si yang manis, apalagi gadis sedusun dengannya. Dia belum dapat merasakan, belum tahu dan belum mengerti apa itu yang dinamakan cinta antara pria dan wanita. Akan tetapi, bagaimana kalau encinya setuju? Apakah dia harus menikah dengan Siu Si? Lalu apa jadinya dengan dia? Dia tidak mempunyai rumah tinggal, tidak mempunyai pekerjaan yang menghasilkan sesuatu. Tinggal di rumah Lurah Kwan? Sebagai laki-laki, tentu hal ini merendahkan harga dirinya. Ikut enci­nya? Inipun tidak betul, mengingat a­kan sikap cihu-nya dan bahkan urusan kematian orang tuanya masih menjadi rahasia yang harus dia tanyakan kepada encinya. Dan Bi Sian.... Tiba-tiba Sie Liong tertegun dan termeung. Bi Sian! Terbayanglah wajah anak perempuan yang manis, manja dan galak itu, dan jan­tungnya berdebar. Mengapa timbul parasaan yang amat aneh ketika dia teri­ngat kepada Bi Sian? Uhh, anak itu tentu akan menggodanya setengah mati ka­lau mendengar bahwa dia hendak kawin! Tiba-tiba saja timbul penyesalan di dalam hatinya. Mengapa dia tergesa-gesa menerima usul lurah Kwan? Kini dia te­lah melangkah maju, tidak mungkin mundur lagi tanpa menyakiti hati keluarga Kwan.

Tiba-tiba Sie Liong bangkit duduk, memejamkan mata dan mengerahkan pende­ngarannya yang terlatih. Dia mendengar suara isak tangis tertahan!

Karena mengkhawatirkan terjadinya sesuatu yang tidak bares, apalagi dia menduga bahwa tangis itu agaknya suara tangis Siu Si di dalam kamarnya, de­ngan hati-hati Sie Liong membuka jendela kamarnya dan sekali berkelebat dia sudah berada di luar kamarnya, kemudi­an meloncat naik ke atas genteng dan mengintai ke dalam kamar gadis yang dicalonkan menjadi isterinya itu.

Benar saja. Siu Si duduk di atas pembaringan sambil menangis lirih. A­gaknya gadis itu menahan suara tangis­nya agar tidak kedengaran orang lain. Seorang wanita setengah tua duduk di dekat gadis itu dan menghiburnya.

"Bibi Liu, kau tidak perlu membujuk dan menghiburku! Percuma kong-kong menyuruh engkau menemaniku dan membu­jukku. Kong-kong sudah tahu bahwa aku telah lama bersahabat akrab dengan Sui-koko, dan semua orang tahu, engkau ju­ga tahu bahwa kami saling mencinta dan kami mengharapkan kelak menjadi suami isteri. Bahkan kong-kong, biarpun tidak secara resmi, menyetujui kalau Siu-koko kelak menjadi suamiku. Akan teta­pi kenapa tiba-tiba saja kong-kong menjodohkan aku dengan.... Si Bongkok itu?"

"Hushh, jangan berkata demikian, Siu Si. Dia adalah seorang pendekar sakti yang budiman...."

"Aku tidak perduli! Biar dia sak­ti seperti dewa sekalipun, aku tidak sudi, aku tidak suka padanya. Siapa mau dikawinkan dengan seorang yang bongkok dan buruk?" Siu Si menangis lagi.

"Hushh, kau tidak boleh berkata begitu, Siu Si. Sie-taihiap memang bongkok, akan tetapi dia tidaklah bu­ruk. Pula, dia telah menyelamatkan ki­ta semua, terutama engkau! Kalau tidak ada dia, bukankah engkau telah menjadi tawanan Lurah Bouw?"

"Tapi dia menolongku dengan pamrih! Buktinya, setelah menolongku, kenapa dia tidak pergi saja dan bahkan ingin menjadi suamiku? Aku tidak sudi.... tidak sudi menjadi isteri Si Bongkok! Aihh, aku mau minggat saja dengan Siu-koko...."

"Hushhh....!"

Wajah Sie Liong menjadi pucat, lalu merah kembali dan tanpa diketahui siapapun, dia sudah melayang turun kembali ke dalam kamarnya. Hatinya seper­ti ditusuk rasanya. Dia menyelamatkan dusun kelahirannya, menolong penduduk dengan hati yang jujur, menghindarkan Siu Si dari bahaya dengan sesungguhnya tanpa pamrih. Akan tetapi kini dia di­tuduh yang bukan-bukan. Dan gadis yang ditolongnya itu menyebutnya Si Bongkok dengan nada suara menghina dan penuh kebencian! Dan gadis yang amat memben­cinya itu akan menjadi isterinya? Ti­dak, tidak mungkin!

Dengan tubuh lemas dan jari ta­ngan agak gemetar Sie Liong lalu menu­lis sepucuk surat, pendek saja isinya.


Kwan Lopek,

Maafkan kepergianku tanpa pamit. Tentang perjodohanku itu, sebaiknya kita batalkan saja. Aku tidak mau terikat perjodohan dan aku bukan calon suami yang baik bagi cucumu.


Sie Liong.


Malam itu juga Sie Liong meninggalkan rumah Lurah Kwan, meninggalkan dusun Tiong-cin lalu keluar menuju ke barat. Menjelang pagi, ketika matahari mulai nampak mengintai dari balik cakrawala di timur, dia sudah tiba di puncak sebuah bukit. Dia duduk menghadap ke arah matahari yang baru tersembul, duduk memeluk kedua lututnya, tersenyum pahit dan kadang-kadang meraba punggungnya yang bongkok. Terngiang suara Siu Si di antara isaknya. "Siapa mau dikawinkan dengan seorang yang bongkok dan buruk? Aku tidak sudi men­jadi isteri Si Bongkok...."

Senyum yang menghias wajah Sie Liong menjadi pahit sekali. Ia mengepal tinjunya, wajahnya merah. Akan tetapi kepalan tinjunya terbuka kembali dan kepahitan senyumnya menipis. Kenapa dia harus marah? Memang dia bongkok, memang dia buruk, habis mengapa? Biar­lah dia berbahagia dengan kebongkokan­nya, dengan keburukannya. Bongkok dan buruk hanyalah tubuh. Dia bahkan harus berterima kasih kepada Siu Si. Seorang gadis yang hebat! Tidak mau menyerah begitu saja, berjiwa pemberontak dan berani menentang kesewenang-wenangan. Kakeknya memang sewenang-wenang! Kalau kakek Kwan itu sudah tahu bahwa cucu­nya saling mencinta dengan seorang pe­muda lain, kenapa mempunyai niat hen­dak menjodohkan cucunya itu dengan dia! Untuk membalas budi? Untuk mencari mu­ka? Atau untuk mengikat agar dia mau terus tinggal di dusun itu sehingga menjamin keamanan dan keselamatan pen­duduk? Yang jelas, niat itu sudah pas­ti berpamrih. Kalau tidak, tentu kakek Kwan tidak akan memutuskan ikatan ka­sih sayang antara cucunya dan pemuda lain. Ya, dia harus berterima kasih kepada Siu Si. Kalau gadis itu seperti para gadis lain yang lemah dan tidak berdaya, tidak menentang melainkan "terima nasib", bukankah dia akan memasuki sebuah perkawinan yang celaka? Iste­rinya akan merupakan orang yang sama sekali tidak mencintanya, bahkan mem­bencinya, dan hanya mau menjadi isterinya karena terpaksa!

"Terima kasih, Siu Si...." dia berbisik, lalu bangkit berdiri. Pagi itu indah sekali. Matahari muncul sebagai sebuah bola merah yang amat besar, dengan sinar redup cemerlang. Dia ter­senyum kepada matahari.

"Terima kasih, matahari, untuk pagi yang seindah ini...." dia kembali berbisik dan memandang matahari. Tidak lama, karena segera sinar matahari mulai menyilaukan dan tidak baik untuk kesehatan mata. Sie Liong membalikkan tubuh, lalu menuruni puncak bukit itu, senyumnya tidak lagi pahit, melainkan senyum cerah, menyongsong hari yang cerah.

"Terima kasih, Thian, untuk tubuh yang bongkok ini...." dia berbisik penuh rasa sukur. Bukankah tubuhnya itu pemberian Tuhan? Bongkok atau tidak, pemberian Tuhan adalah anugerah yang sempurna, dan patut disukuri. Biarlah semua orang tidak menyukainya dan menghinanya karena tubuhnya yang bongkok, dia tidak akan berkecil hati. Memang dia bongkok, tinggal orang lain mau menerimanya seperti apa adanya ataukah tidak. Dia memang bongkok dan dia ti­dak ingin menjadi tidak bongkok, kare­na keinginan seperti itulah yang menyengsarakan kehidupan manusia. Mengi­nginkan sesuatu yang tidak dimiliki­nya, menginginkan sesuatu yang lain dari yang pada yang ada. Tidak, dia ti­dak menginginkan apa-apa. Dia memang bongkok, seorang pemuda yang berbaha­gia.


***


"Liong-te....!" Sie Lan Hong menjerit dan merangkul pemuda bongkok yang muncul di depannya itu. Wanita i­tu merangkul dan menangis di dada adiknya. "Aih, Liong-te.... betapa girangnya hatiku melihatmu....!"

Sie Liong membiarkan encinya menangis dan menumpahkan semua peraaaan haru dan rindu, juga kebahagiaan hati melihat bahwa adik yang telah lama meng­hilang itu kini muncul dalam keadaan selamat dan telah menjadi seorang pemuda dewasa. Setelah mereda guncangan hatinya, Sie Lan Hong melepaskan rangkulannya.

"Enci, marilah kita duduk dan bi­cara," kata Sie Liong, "dan mana ci-hu (kakak ipar)?"

"Cihu-mu.... dia pergi, sebentar tentu akan kembali. Marilah, Liong-te, mari kita duduk di dalam."

Sambil bergandeng tangan mereka masuk. Diam-diam Sie Liong memperhati­kan segala yang nampak di situ. Encinya nampak kurus dan pucat, dan garis-garis duka membuat encinya nampak tua. Padahal kini usianya mendiri dua puluh tahun, berarti encinya baru tiga puluh empat tahun. Belum setua nampaknya! Tentu encinya hidup dalam kedukaan, pikirnya. Karena dia pergi? Dan rumah i­ni berbeda jauh dengan tujuh delapan tahun yang lalu. Cihu-nya yang berdagang rempa-rempa dapat dikatakan hidup makmur biarpun tidak terlalu kaya. Dahulu, prabot rumahmya cukup mewah dan keluarga encinya hidup berkecukupan. Akan tetapi sekarang sunguh berbeda sekali keadaannya. Pakaian yang dikena­kan encinya juga tidak seindah dulu. Di tububuya tidak pula nampak perhias­an mahal. Dan prabot rumah sudah ber­ganti semua, terganti prabot yang mu­rah dan buruk. Tentu saja hati Sie Liong diliputi perasaan khawatir sekali walaupun wajahnya tidak membayangkan sesuatu ketika dia duduk berhadapan dengan encinya. Keduanya saling pandang dan wajah wanita itu berseri melihat betapa adiknya, walaupun punggungnya masih bongkok, namun telah menjadi se­orang pemuda dewasa yang wajahnya gagah dan tubuhnya nampak sehat.

"Liong-te, selama ini engkau pergi ke mana saja?"

"Aku mempelajari ilmu silat, enci, berguru kepada orang-orang sakti dari Himalaya." Sie Liong menceritakan secara singkat tentang riwayatnya ketika belajar ilmu silat. Mendengar ini, en­cinya girang sekali.

"Ah, sukurlah, adikku. Dengan demikian, maka engkau kini tentu menjadi seorang pendekar yang tidak akan mengecewakan hati ayah dan ibu di alam baka...."

Sie Liong merasa heran. Biasanya dahulu encinya paling tidak suka membicarakan ayah dan ibu mereka yang sudah tiada.

"Enci Hong, kedatanganku ini untuk bertanya sesuatu kepadamu dan ha­rap sekali ini engkau tidak berbohong kepadaku."

Wanita itu terbelalak memandang kepadanya, mukanya segera berubah agak pucat dan sinar matanya membayangkan ketakutan. "Apa.... apakah yang ingin kautanyakan, adikku?"

"Apa yang telah terjadi dengan ayah dan ibu kita, enci?"

Wanita itu nampak semakin kaget. "Ayah dan ibu? Mereka.... mereka meninggal dunia...."

"Tak perlu membohong lagi, enci. Aku sudah pergi ke Tiong-cin dan di sana aku mendengar bahwa ayah dan ibu, dan juga suheng Kim Cu An, dua orang pelayan wanita, anjing, ayam dan kuda, semua dibunuh orang pada suatu malam. Nah, enci tidak perlu berbohong lagi!"

Sie Lan Hong menangis, lalu mengusap air matanya dan berkata, "Engkau maafkan aku, Liong-te. Memang dulu aku berbohong kepadamu agar tidak membuat engkau penasaran dan diracuni dendam. Memang pada malam jahanam itu keluarga ayah diserbu musuh. Ayah telah mengetahuinya, maka dia memaksa aku pergi me­ninggalkan rumah dan membawa engkau yang baru berusia sepuluh bulan. Ayah memaksaku, dan andaikata aku tidak pergi membawamu mengungsi, tentu kita berdua sudah menjadi korban pembunuhan pula...."

Sie Liong memandang wajah encinya dengan tajam dan penuh selidik. "Enci, di dusun kita itu tidak ada seorangpun mengetahui siapa pembasmi keluarga ki­ta. Apakah engkau tahu, enci? Siapakah musuh besar yang demikian kejam itu?"

Sie Lan Hong menangis lagi dan meng­geleng kepala keras-keras. "Tidak.... ah, aku tidak tahu.... aku tidak tahu.... aku mengajakmu melarikan diri, adikku. Aku tidak tihu siapa pembunuh itu...."

Melihat encinya menangis lagi, a­gaknya berduka mengingat akan kematian ayah ibu mereka yang mengerikan, Sie Liong tidak bertanya lagi. Jadi benar ayah ibunya, suhengnya, dua orang pelayan dan semua binatang peliharaan di rumah orang tuanya dibunuh orang. Tentu orang itu menyimpan dendam yang a­mat hebat maka melakukan perbuatan se­kejam itu.

Lalu dia teringat kepada Yauw Bi Sian. "Enci, aku tidak melihat Bi Si­an. Di manakah ia?"

Encinya kembali memperlihatkan wajah duka. "Ia juga pergi mempelajari ilmu. Ia bertemu dengan seorang sakti dan menjadi muridnya, lalu diajak per­gi oleh gurunya itu."

"Ahhh....!" Sie Liong kagum sekali mendengar ini. Anak yang bengal itu akhirnya belajar silat pada seorang sakti! "Siapakah nama gurunya, enci?"

"Namanya Koay Tojin...."

Sie Liong menahan debaran jantungnya. Koay Tojin? Kakek yang seperti gila namun yang amat sakti itu? Koay Tojin adalah sute dari Pek-sim Sian-su, gurunya sendiri!

"Kapan ia pulang, enci?" tanyanya, hatinya masih berdebar girang.

"Entah, menurut janjinya dahulu ketika pamit, agaknya sewaktu-waktu ia akan pulang."

"Enci yang baik, engkau kelihatan begini lesu, kurus dan sengsara. Juga aku melihat perubahan dalam rumah ini. Enci, apakah cihu gagal dalam usahanya dan menderita rugi? Apakah engkau sa­kit, enci?"

Ditanya demikian, Sie Lan Hong tiba-tiba menutupi muka dengan kedua ta­ngannya dan menangis sesenggukan. Se­dih sekali. Sie Liong terkejut. Dia mendiamkan saja encinya menangis tersedu-sedu. Setelah tangis itu mereda, Sie Liong memegang tangan encinya, digenggamnya tangan itu.

"Enci, engkau hanya mempunyai aku sebagai keluargamu. Percayalah kepada­ku dan ceritakan semuanya. Siapa tahu aku akan dapat meringankan beban penderitaan batinmu, enci."

Wanita itu menggeleng kepalanya. "Aih, memang nasibku buruk, adikku. Semenjak engkau pergi, lalu disusul Bi Sian juga pergi. Semenjak itu ah, cihu-mu berubah sama sekali. Dia dahu­lu begitu baik, begitu mencintaku, a­kan tetapi sudah beberapa tahun ini.... dia hampir setiap malam pergi. Dia berjudi sampai habis-habisan. Pekerjaan­nya tidak diurus sehingga bangkrut.... dan dia.... dia hanya berjudi dan pelesir saja...."

Sie Liong mengerutkan alianya. Cihu-nya itu sungguh semakin tua tidak mencari jalan terang! Akan tetapi, ba­gaimana dia dapat mcncampuri urusan rumah tangga encinya? Bagaimanapun juga, cihu-nya telah menyeleweng, dan hal i­tu perlu ditegur dan diingatkan.

Sie Liong teringat bahwa adiknya baru datang. Diusapnya air mata dan ia pun memaksa diri tersenyum. "Aih, eng­kau datang-datang kuajak bicara hal-hal yang tidak enak saja, Liong-te. Mari, engkau beristirahatlah. Akan kubersihkan kamarmu untukmu."

"Biar kubersihkan sendiri, enci. Akupun tidak akan lama sekali tinggal di sini."

"Liong-te, jangan begitu! Engkau baru pulang dan engkau mendatangkan kegembiraan di hatiku. Jangan tergesa-gesa pergi. Temanilah encimu yang kesepian ini, Liong-te. Ah, kita sudah tidak mempunyai pelayan, semua harus dikerjakan sendiri."

"Baiklah, enci. Aku akan tinggal selama beberapa hari sampai hilang rasa rindu kita." Diam-diam dia bermak­asud untuk membujuk agar cihu-nya kembali ke jalan benar. Kalau perlu dia a­kan menggunakan teguran keras!

Setelah jauh malam, baru nampak Yauw Sun Kok pulang menggedor pintu dalam keadaan mabok! Memang semenjak Bi Sian pergi, Yauw Sun Kok telah berubah sama sekali. Agaknya karena anaknya tidak ada dan dia merasa kesepian, maka kambuh pula penyakit lamanya. Dia merasa bosan dengan isterinya dan dia ber­pelesir di luaran, menjadi langganan rumah pelacuran dan rumah perjudian. Perdagangannya bangkrut karena tidak diurusnya sehingga perabot rumahpun yang berharga telah dijualnya untuk modal berjudi! Terhadap isterinya dia tidak perduli, bahkan pernah beberapa kali kalau isterinya mengomelinya, dia tidak segan turun tangan memukulinya.

Melihat encinya tergopoh-gopoh membuka pintu depan, Sie Liong juga ke luar dari dalam kamarnya. "Brakkkkkk!" Daun pintu didorong kuat-kuat dari lu­ar ketika kuncinya dibuka oleh encinya dari dalam dan tubuh Sie Lan Hong ter­dorong oleh daun pintu sampai terhu­yung dan hampir jatuh.

"Perempuan gila! Perempuan malas! Engkau sudah segan membuka pintu untuk suamimu, hah? Engkau sudah bosan mela­yani aku, atau engkau sudah mempunyai seorang pacar simpanan? Awas, kubunuh kau!" bentak Yauw Sun Kok sambil berjalan terhuyung menghampiri isterinya. Jelas bahwa dia mabok.

Karena diperlakukan kasar dan di­maki-maki di depan adiknya, Sie Lan Hong yang biasanya hanya menghadapi suaminya dengan cucuran air mata, kini tak dapat menahan kemarahannya.

"Sungguh bagus sekali sikapmu ini ya? Sejak pagi engkau pergi meninggal­kan rumah, pulang sudah malam dalam keadaan mabok, begitu mengetuk pintu se­gera kubuka, engkau malah memaki-maki aku!"

Sie Liong hampir tidak mengenal cihu-nya. Bukan hanya wataknya yang berubah, akan tetapi juga keadaan ba­dan orang itu berubah! Dulu cihu-nya tampan pesolek dan pakaiannya selalu rapi. Akan tetapi sekarang, rambutnya awut-awutan, pakaiannya kusut, matanya seperti orang mengantuk dan mulutnya cemberut. Cihu-nya itu seperti orang yang tidak percaya mendengar ucapan isterinya.

"Apa? Engkau hendak melawan, ya? Siapa yang mengajarmu melawan suami? Perempuan sial! Perempuan terkutuk! Engkau minta dihajar, ya?"

Yauw Sun Kok mengangkat tangan ke atas, siap memukul isterinya. Melihat betapa lengan itu terayun kuat, Sie Liong maklum bahwa kalau encinya terkena pukulan itu, bisa celaka. Sekali berkelebat tubuhnya sudah melompat de­kat dan dia menangkap pergelanggn tangan cihu-nya sambil berkata, "Harap jangan memukul!"

Yauw Sun Kok menoleh ke kanan. Ketika melihat bahwa ada seorang pemuda menangkap lengannya, kemarahannya me­muncak. Dia menarik tangannya dan memaki isterinya. "Bagus! Sungguh perempu­an tak bermalu, perempuan lacur! Jadi engkau benar-benar menyimpan seorang laki-laki di rumah, ya? Pantas, engkau berani melawan aku, suamimu!"

Dia maju dan hendak menyerang is­terinya. Akan tetapi Sie Liong sudah berdiri menghalang di depannya. "Cihu, lihatlah baik-baik siapa aku! Harap cihu jangan memukul enci dan mendakwa yang bukan-bukan!"

"Engkau pemuda kurang ajar berani main-main dengan isteriku? Ahh, engkau bongkok! Bongkok....?" Yauw Sun Kok membelalakkan kedua matanya seolah-o­lah tidak dapat melihat dengan jelas, lalu mendekatkan mukanya. "Engkau bongkok....? Benarkah engkau Sie Liong?"

"Benar, cihu. Aku Sie Liong."

"Sie Liong....? Ha-ha-ha....!" Yauw Sun Kok tertawa bergelak sambil mengamati pemuda bongkok itu. "Engkau sudah dewasa, akan tetapi masih cacat. Ha-ha-ha!" Dia tertawa-tawa seperti o­rang gila.

"Jangan bicara sembarangan. Dia bukan Sie Liong yang dulu lagi. Dia telah menjadi murid orang-orang sakti dan dia datang untuk mencari pembunuh ayah dan ibu kami," kata Sie Lan Hong.

Seketika Yauw Sun Kok berhenti tertawa dan dia memandang kepada Sie Liong dengan mata terbelalak. "Apa? Engkau....? Engkau handak mencari pembunuh ayah ibumu? Hemm, mau apa engkau mencarinya, Sie Liong? Apa kaukira setelah beberapa tahun ini engkau bela­jar sedikit ilmu silat lalu kaukira a­kan mampu melawan pembunuh itu? Huh, jangan sombong engkau! Aku sendiri yang memiliki kepandaian tinggi dan banyak pengalaman, masih tidak mampu me­nandingi pembunuh itu. Apalagi engkau?"

"Hemm, jadi cihu tahu siapa pembunuh ayah dan ibuku? Siapa dia itu, ci­hu?"

"Dia adalah Tibet Sin-mo (Iblis Sakti Tibet), tokoh Tibet yang amat sakti. Aku sendiri tidak mampu mencarinya. Apa lagi bocah cacat seperti eng­kau!"

Sie Liong mengerutkan alisnya. Cihu-nya ini memang telah berubah. Walau­pun dahulu juga cihu-nya tidak suka ke­padanyaa, akan tetapi sikapnya baik dan ramah. Sekarang sikapnya demikian ka­sar dan menghina. Teringat dia akan cerita encinya dan tadipun dia melihat betapa encinya akan dipukuli.

"Cihu! Tidak sepatutnya cihu ber­kata demikian. Cihu memuji-muji musuh, dan cihu tentu tidak bersungguh hati mencari pembunuh ayah ibu kami karena cihu tidak perduli! Dan sekarangpun cihu memperlihatkan sikap yang amat bu­ruk terhadap enci!"

"Apa? Kau anak kurang ajar.... Hemm, encimu sudah mengadu, ya....?"

"Cihu, tanpa pengaduan dari siapa pun juga, aku sudah melihat sikapmu tadi. Engkau mabok-mabokan, pulang malam marah-marah, bahkan mau memukul enci! Keadaan rumah tanggamu menjadi rusak, habis-habisan, karena kauhabiskan un­tuk berjudi! Cihu, engkau harus sadar bahwa engkau telah terseret ke dalam lumpur...."

"Tutup mulutmu, keparat!" Tiba-tiba Yauw Sun Kok menerjang dengan marah sekali, mengirim serangan kilat ke a­rah dada dan leher adik isterinya. Bi­arpun dia sedang mabok, akan tetapi karena memang dia seorang ahli silat yang pandai, serangannya ini masih amat berbahaya dan kalau hanya ahli silat bia­sa saja, masih akan sukar untuk dapat menghindarkan diri dari serangan Yauw Sun Kok itu. Akan tetapi, yang diserangnya adalah Sie Liong, biarpun seo­rang pemuda cacat, punggungnya bongkok namun dia murid tersayang dari Himala­ya Sam Lojin dan Pek-sim Sian-su manu­sia sakti dari He-lan-san itu.

Dengan mudah saja Sie Liong memi­ringkan tubuhnya dan menggunakan lengan kirinya untuk mendorong dari sam­ping dan tubuh Yauw Sun Kok terpelan­ting!

"Cihu, aku tidak mau dihina dan dipukul lagi!"

Melihat betapa akibat serangannya membuat dirinya terpelanting, Sun Kok marah sekali. Dia menyambar ke arah dinding di mana tergantung sebatang pedang hiasan. Biar dia mabok, gerakan­nya masih cepat sekali dan tahu-tahu pedang itu telah berada di tangan ka­nannya, terlolos dari sarungnya.

"Jangan....! Jangan berkelahi! Jangan pergunakan pedang....!" Sie Lan Hong berteriak ketakutan. Akan tetapi suaminya tidak memperdulikan jeritan­nya dan sudah menyerang Sie Liong de­ngan pedangnya. Pedang menyambar ganas ke arah leher pemuda itu. Sie Liong menekuk lutut sehingga pedang itu menyambar lewat berdesing di atas kepalanya. Akan tetapi dengan cepat, pedang yang menyambar itu telah membalik dan kini menusuk ke arah dadanya.

"Cihu, engkau sedang mabok!" bentak Sie Liong dan dia menggunakan ta­ngannya dari samping memukul pedang sambil mengerahkan tenaganya.

"Plakkk!" Pedang itu terpukul lepas dari tangan Yauw Sun Kok yang men­jadi terkejut bukan main. Namun dia masih sempat menendang dengan kakinya ke arah perut Sie Liong. Pemuda ini mak­lum betapa cihunya yang mabok itu ha­rus diberi hajaran agar sadar bahwa yang dihadapinya bukanlah anak bongkok dan lemah yang dahulu. Maka, dia sengaja menyambut tendangan kaki itu dengan pengerahan tenaga di perutnya.

"Dukkk!" keras sekali tendangan itu, namun akibatnya, bukan tubuh Sie Liong yang terjengkang. Pemuda itu ma­sih berdiri tegak, akan tetapi tubuh Yauw Sun Kok yang terjengkang dan terbanting cukup keras.

Dia bangkit duduk dengan mata terbelalak, dan pada saat itu, isterinya yang mengkhawatirkan kejadian atau perkelahlan yang lebih hebat, sudah berlutut di dekatnya. "Hemm, sudahlah. Engkau sedang mabok maka engkau menyerang adik kita sendiri. Hayo, mengasolah.... tidurlah...." Ia membantu suaminya bangkit berdiri dan memapahnya menuju ke kamar mereka. Sekali ini Yauw Sun Kok tidak membantah. Biarpun mabok, sebenarnya orang ini masih cukup sadar untuk melihat kenyataan yang membuatnya terkejut bukan main. Si Bongkok itu kini telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi! Sungguh berbahaya sekali. Dia merasa penasaran dan juga malu, maka dia meraza lebih aman menyembunyikan diri dan berlindung di balik kemabokannya, maka diapun pura-pura tidak ingat apa-apa lagi dan menurut saja ketika dipapah isterinya ke kamar. Setibanya di dalam kamarnya, langsung dia melempar tubuh ke atas pembaringan dan tak lama kemudian dia sudah tidur mendengkur.


***


Kakek jembel itu duduk di bawah pohon besar, nampak melenggut. Memang nyaman sekali pada siang hari yang amat panas itu duduk berteduh di bawah pohon yang rindang dan teduh. Angin semilir sejuk dan kakek itu mengantuk. Dia duduk bersandar batang pohon, tongkat bututnya menggeletak di dekat kakinya yang dijulurkan. Kakek jembel ini sudah tua sekali, hampir delapan puluh tahun usianya. Pakaiannya butut penuh tambalan. Tiba-tiba kedua matanya yang tadi tertutup seperti orang tidur, ki­ni terbuka dan dia tertawa-tawa seo­rang diri, lalu memejamkan kembali matanya. Orang-orang yang melihat keada­annya ini tentu akan menduga bahwa dia seorang jembel tua yang hidup sengsara dan berotak miring. Akan tetapi kalau ada tokoh kang-ouw lewat di situ dan melihat jembel tua ini, dia tentu akan terkejut setengah mati. Kakek tua ren­ta ini sesungguhnya bukanlah orang sembarangan. Dia adalah Koay Tojin, seo­rang yang terkenal memiliki kesaktian yang menggiriskan. Sepak terjangnya a­neh dan biarpun dia jarang bahkan ham­pir tidak pernah mencampuri urusan du­nia ramai, akan tetapi orang-orang kang-ouw ketakutan kalau bertemu de­ngannya. Hal ini adalah karena watak­nya yang aneh dan kadang-kadang ugal-ugalan dan celakalah orang yang sampai berhadapan dengan dia sebagai lawan!

Selagi kakek itu duduk melenggut, tiba-tiba nampak bayangan dua orang berkelebat dan di depan kakek itu kini nampak dua orang muda. Seorang gadis berusia delapan belas tahun dan seorang pemuda berusia hampir dua puluh tahun. Gadis itu cantik dan manis sekali, dengan sepasang mata yang jeli dan tajam mencorong, sikap yang jenaka dengan wajah selalu cerah ceria. Gadis manis i­nipun mengenakan pakaian tambal-tambalan, akan tetapi bukan sembarang tambalan! Biarpun pakaiannya tambal-tambalan, namun bersih dan semua tambalan i­tu terbuat dari kain yang baru! Sepatu kulitnya juga mengkilat baru, rambut­nya bersih licin, sama sekali tidak nampak kesan seorang pengemis! Pemuda itupun berwajah tampan, matanya mengandung kecerdikan dan mulutnya selalu terhias senyum yang manis sehingga mendatangkan kesan bahwa dia adalah seorang pemuda yang merendahkan orang la­in dan memandang diri sendiri terlam­pau tinggi.

Seperti telah kita ketahui, Koay Tojin mempunyai dua orang murid dan dua orang muda itulah muridnya. Gadis itu bukan lain adalah Yauw Bi Sian dan pemuda itu adalah Coa Bong Gan. Biar­pun Bi Sian lebih dahulu menjadi murid Koay Tojin, akan tetapi karena ia lebih muda, ia memaksa Bong Gan untuk menyebut sumoi (adik seperguruan wanita) kepadanya, dan ia sendiri menyebut Bong Gan suheng (kakak seperguruan pria).

"Suhu, nih teecu (murid) bawakan oleh-oleh untuk suhu! Bebek tim yang lunak dan bubur!" kata gadis itu sam­bil duduk di atas batu dekat suhunya sambil menyerahkan bungkunan makanan.

"Dan teecu bawakan arak Hang-ciu kesukaan suhu!" kata pula Bong Gan gembira menyerahkan seguci arak.

Kakek itu membuka matanya dan terkekeh, lalu menyeringai memandang kepada dua orang muridnya. "Heh-heh, kali­an adalah murid-murid yang baik. Kali­an tahu saja kesukaan orang tua. Heh-heh, tidak ada yang lebih enak untuk dimakan kecuali bubur dan bebek tim. Lunak dan gurih, tidak perlu mengguna­kan gigi untuk mengunyah, memudahkan mulutku yang sudah tak bergigi lagi, heh-heh. Dan arak Hang-ciu memang ha­rum dan keras! Ha-ha-ha!"

Dua orang murid itu tersenyum. Mereka tahu bahwa guru mereka berkelakar karena mereka baru kemarin dulu menyaksikan betapa guru mereka itu, dengan mulutnya tanpa gigi sebuahpun, masih kuat untuk menggigit daging kering yang amat keras dan mengunyahnya dengan ma­ta meram-melek! Dengan kekuatan sin-kang yang amat hebat, gusi dari guru mereka yang sudah tidak bergigi lagi itu dapat menjadi lebih kuat daripada gigi orang-orang muda!

Kakek itu makan minum tanpa memperdulikan dua orang muridnya yang duduk tak jauh di depannya. Akan tetapi, diam-diam Koay Tojin kadang-kadang melirik. Dia merasa senang sekali melihat Bi Sian. Dia amat sayang kepada muridnya ini yang ternyata selain memiliki bakat baik, juga gadis ini memiliki watak yang gagah perkasa dan baik. Sebaliknya, kakek ini merasa khawatir dan sangsi kepada muridnya yang pria. Watak Bong Gan sukar diselami walaupun pada lahirnya, dia juga seorang murid yang berbakat dan amat rajin, pandai mengambil hati. Akan tetapi ada sesuatu dalam pandang mata pemuda itu yang membuat kakek itu kadang-kadang curiga dan ragu-ragu. Pernah dia melihat betapa pandang mata pemuda itu ditujukan kepada sumoinya secara tidak wajar. Bukan memandang biasa, akan tetapi sinar mata pemuda itu penuh nafsu berahi, memandangi ke seluruh bagian tubuh Bi Sian seperti hendak melahapnya! Sungguh seorang murid yang ka­dang-kadang menimbulkan rasa khawatir di hatinya. Jangan-jangan dia telah keliru memilih murid, pikirnya. Akan te­tapi, dia sengaja sudah memberi pelajaran lebih pada Bi Sian sehingga ka­lau sampai terjadi apa-apa, gadis itu tidak akan kalah menghadapi dan mela­wan Bong Gan. Pernah dia ketika berdua saja dengan Bi Sian mengatakan bahwa ia harus berhati-hati terhadap suheng­nya. "Wataknya sukar diselami," demikian dia berkata, akan tetapi gadis itu hanya tersenyum saja. "Aih, suhu ini ada-ada saja. Bukankah suheng seorang pemuda dan murid yang amat baik?"

Setelah makan, Koay Tojin mengu­sap mulutnya dengan ujung lengan baju yang sudah butut. "Kebetulan kalian datang, memang aku bermaksud untuk memanggil kalian."

"Suhu, ada keperluan apakah?" Bi Sian bertanya sambil mendekati gurunya, sikapnya manja. Kakek itu tersenyum untuk menutupi rasa nyeri di dalam hati­nya. Dia merasa heran. Mengapa menda­dak saja hatinya begini aneh? Mengapa bayangan perpisahan dengan muridnya i­ni mendatangkan rasa sakit? Padahal selamanya belum pernah dia merasakan hal seperti ini! Akan tetapi kakek yang lihai ini segera dapat menemukan jawabannya. Sikap Bi Sian terlalu ba­ik, terlalu menyenangkan hatinya, sehingga gadis itu selama tujuh tahun menjadi muridnya, hidup di sampingnya, seolah-olah menjadi matahari yang me­nyinari hidupnya! Kesenangan dan kee­nakan memang selalu menimbulkan ikatan! Kalau sudah terikat, maka akan datang­lah duka karena kehilangan! Kalau ga­dis itu pergi, dibiarkan terpisah darinya, dia seolah-olah kehilangan matahari yang menerangi hidupnya yang sudah tua, membuat dia seperti dalam kegelapan! Kesenangan mendatangkan ikatan, dan ikatan menciptakan duka!

Itulah hidup. Ada suka pasti ada duka! Sudah menjadi imbangannya. Ada nikmat tentu ada derita. Dan melihat kenyataan ini, menghadapi kenyataan i­ni, menerima kenyataan ini secara wa­jar merupakan seni hidup itu sendiri.

"Bi Sian, dan kau juga Bong Gan, sekarang sudah tiba saatnya bagi kita untuk memenuhi janji. Janji antara aku dan kau, Bi Sian. Janji bahwa kita a­kan berkumpul sebagai guru dan murid selama tujuh tahun saja."

Gadis itu nampak terkejut! Selama ikut dengan gurunya, iapun merasakan lebih banyak senangnya dari pada susahnya. Hidup bebas seperti burung di u­dara. Tanpa dirasakannya, tahu-tahu kini sudah tujuh tahun ia mengikuti gurunya.

"Tapi, suhu....! Rasanya belum lama aku ikut suhu, dan aku masih i­ngin mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi!" bantahnya, terkejut karena tiba-tiba saja ia mendapat kenyataan bahwa ia harus berpisah dengan suhunya dan melihat pula kenyataan betapa be­ratnya hal itu kalau terjadi karena ia merasa sayang kepada suhunya yang su­dah tua itu!

Koay Tojin tertawa dan nampak mu­lutnya yang tanpa gigi itu. "Ha-ha-ha, Bi Sian, janji tetap janji yang harus dipegang teguh. Engkau bukan hanya berjanji kepadaku, akan tetapi juga kepa­da ayah ibumu yang tentu telah menanti-nanti penuh kerinduan. Tentang kepandaian, sampai berapa tiagginya? Berapa ukurannya? Apa yang kaupelajari selama ini sudah lebih dari pada cukup, Bi Sian. Tinggal terserah kepadamu untuk melatih diri. Dan engkau, Bong Gan, engkaupun sudah dewasa dan kepandaian­mu sudah cukup. Hanya berhati-hatilah, karena kepandaian silat seperti juga pedang, dapat dipergunakan untuk berbuat kebaikan akan tetapi juga dapat di­pergunakan untuk melaktikan kejahatan. Semua tergantung kepadamu."

Diingatkan kepada ayah ibunya, kedukaan bayangan berpisah dari gurunya agak menipis dari hati Bi Sian, tertu­tup oleh kegembiraan bayangan akan bertemu dengan ayah dan ibunya. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan ka­kek itu. Bong Gang juga berlutut di dekat sumoinya.

"Suhu, selama tujuh tahun ini, suhu telah melimpahkan banyak kebaikan dan kasih sayang kepada teecu. Teecu menghaturkan terima kasih, suhu dan entah bagaimana teecu akan dapat membalas budi kebaikan suhu. Sebaliknya, teecu sudah banyak menjengkelkan hati suhu, maka mohon suhu memaafkan teecu," kata Bi Sian dengan hati terharu, akan tetapi tidak setetespun air matanya tumpah. Ia memang pantang menangis, a­palagi setelah menjadi murid Koay Tojin.

Koay Tojin tersenyum. "Engkau a­nak baik. Kalau hendak membalas budi kepadaku, pergunakanlah semua kepandaian yang kauperoleh dariku itu dengan baik, tidak melakukan penyelewengan. Dengan demikian berarti engkau menjun­jung tinggi nama gurumu, sedangkan ka­lau engkau melakukan kejahatan dan me­nyeleweng, engkau akan menyeret nama gurumu ke dalam lumpur."

"Teecu juga menghaturkan banyak terima kasih, suhu. Teecu berjanji akan menjunjung tinggi nama suhu," kata Bong Gan.

Koay Tojin tersenyum saja dan me­mandang wajah murid pria ini dengan penuh keraguan. Dia tahu bahwa muridnya ini cerdik sekali, demikian cerdiknya sehingga dia tidak dapat menduga apa isi hatinya.

"Engkau berhati-hatilah, Bong Gan. Ingat bahwa musuh yang paling berbaha­ya, paling lihai dan paling sukar di­tundukkan adalah dirimu sendiri. Kare­na itu, sebelum menundukkan musuh, se­baiknya kalau menundukkan dulu diri sendiri."

Bong Gan tidak menjawab, hanya mengangguk-angguk.

"Sekarang, pergilah kalian sebe­lum timbul kedukaan dalam hatiku!" ka­ta Koay Tojin, lalu tangan kanannya menyambar tongkat di depannya dan dengan gerakan secepat kilat, tongkatnya itu sudah melakukan serangan totokan bertubi-tubi kepada dua orang muridnya yang berlutut di depannya. Dua orang muda itu terkejut sekali. Sambaran tongkat di tangan suhu mereka itu bukan main cepat dan dahsyatnya, maka keduanya segera melempar tubuh ke belakang sambil berjungkir balik beberapa kali. Mereka terhindar dari serangan kilat itu, dan melihat betapa kakek itu masih duduk bersandar batang pohon, memegangi tongkat sambil tertawa. Tahulah Bi Sian bahwa suhunya memang ingin segera melihat mereka pergi tanpa membiarkan kedukaan karena perpisahan itu memasuki hati. Maka iapun menjura dan berkata de­ngan suara dibuat nyaring gembira.

"Suhu, selamat tinggal! Mudah-mu­dahan suatu waktu kita akan dapat ber­jumpa kembali!"

"Ha-ha-ha, selamat jalan. Kita pasti akan bertemu kembali, kalau ti­dak di alam sini tentu di alam sana, heh-heh-heh!"

Bong Gan juga menjura dan kedua orang itu lalu melompat pergi dan dalam waktu singkat mereka sudah lenyap dari pandang mata. Kakek yang ditinggal se­orang diri itu nampak tertegun, mata­nya yang tua memandang ke arah lenyapnya dua bayangan itu, lalu dia menghe­la napas panjang berulang kali, lalu bangkit berdiri, dan melangkah perlahan pergi meninggalkan tempat itu, mengam­bil jurusan yang berlawanan dengan dua orang muridnya.

Dua orang itu berlari cepat, keluar dari dalam hutan itu dan ketika me­reka sudah berlari kurang lebih satu jam dan tiba di kaki bukit, Bi Sian menghentikan larinya. Biarpun tubuhnya terlatih baik, namun karena selama sa­tu jam itu ia berlari cepat sambil me­nahan getaran hatinya yang penuh haru, kini wajah dan lehernya basah oleh ke­ringat. Diambilnya saputangannya dan diusapnya keringat dari leher dan wajahnya. Bong Gan juga mongusap keri­ngatnya. Tidak seperti Bi Sian, pemuda ini mengenakan pakaian yang tidak ada tambalannya, walaupun dari kain murah dan bentuknya sederhana saja, tidak seperti pakaian Bi Sian yang penuh tam­balan namun semua tambalannya kain yang baru.

"Suheng, sekarang engkau hendak pergi ke manakah?" tanya Bi Sian.

Bong Gan menghela napas panjang, lalu duduk di atas sebuah batu besar di tepi jalan. Sebelum menjawab, dia menatap wajah sumoinya dengan tajam, juga dengan wajah yang membayangkan kedukaan. Betapa cantik manisnya sumoi­nya ini, pikirnya penuh kagum. Apakah dia harus berpisah dari gadis manis i­ni? Membayangkan perpisahannya dengan gadis yang telah menjadi sahabatnya dan saudara seperguruannya selama tu­juh tahun, hampir tak pernah mereka saling berpinah dan mengalami suka-duka bersama-sama, wajah yang tampan itu nampak diliputi kesedihan. Demikian jelas kedukaan itu sehingga nampak jelas oleh Bi Sian.

"Suheng, engkau pernah menceritakan riwayatmu kepadaku. Engkau sudah yatim piatu, tidak mempunyai keluarga sama sekali, tidak mempunyai handai taulan dan tidak mempunyai tempat tinggal. Oleh karena itulah maka aku sengaja bertanya kepadamu karena aku ingin tahu, ke mana engkau hendak pergi?"

"Justeru pertanyaanmu itulah yang membuat aku membungkam karena sukar bagiku untuk menjawabnya. Aku sendiri sejak tadi bertanya-tanya di dalam hati­ku kepada diriku sendiri, sumoi. Ke mana aku harus pergi? Aku tidak mempunyai tujuan sama sekali! Aku menjadi bingung setelah mendengar pertanyaanmu, sumoi."

Bi Sian memandang wajah suhenguya itu dengan hati kasihan. Selama ini, suhengnya telah membuktikan bahwa dia seorang pemuda yang amat baik, amat rajin dan juga bersikap sopan kepada gu­runya dan juga kepada dirinya. Tidak pernah memperlihatkan kekurang-ajaran sama sekali. Memang kadang-kadang suhengnya suka pergi meninggalkan ia dan suhunya, akan tetapi kepergiannya itu tentu hanya untuk mencari bahan makan­an untuk mereka. Kalau pulang, suheng­nya tentu membawa seekor rusa, atau beberapa ekor kelinci, ayam hutan, atau juga buah-buahan segar. Beberapa kali suhengnya pernah berpamit kepada suhu mereka untuk berjalan-jalan ke dusun atau kota, dan tidak pernah lancang me­ngajaknya. Diam-diam Bi Sian merasa suka sekali kepada pemuda ini, rasa suka yang bercampur rasa iba. Inikah cinta, beberapa kali ia suka bertanya kepada diri sendiri tanpa mendapat jawaban!

"Suheng, engkau ini bagaimanakah? Andaikata aku tidak mengajak engkau berhenti dan bertanya, lalu ongkau hendak ke mana?"

"Aku.... aku hanya akan mengikutimu, sumoi. Ke manapun engkau pergi.... tentu saja kalau.... kalau aku tidak terlalu mengganggumu."

Bi Sian tersenyum dan menggeleng kepalanya, mendadak mendapat sebuah pikiran yang dianggap amat bagus. "Tentu saja engkau tidak mengganggu, suheng. Bahkan kalau engkau suka, marilah eng­kau ikut bersamaku ke Sung-jan. Tempat tinggal orang tuaku itu merupakan kota yang cukup ramai, dan siapa tahu eng­kau dapat tinggal dan bekerja di sana. Ayahku seorang pedagang, mungkin dapat membantumu mencari pekerjaan."

Wajah yang diliputi kedukaan itu kini menjadi cerah dan berseri. Sepa­sang mata itu bersinar-sinar dan Bong Gan segera menjura ke arah sumoinya.

"Ah, sumoi, sungguh engkau berbu­di mulia sekali! Terima kasih atas ke­baikanmu, sumoi. Tentu saja aku suka sekali pergi bersamamu!"

Bi Sian membalas penghormatan su­hengnya dan tertawa. "Ihh, suheng ini! Engkau adalah suhengku dan lebih tua, mengapa memberi hormat kepadaku? Dan di antara kita saudara seperguruan, perlukah bersungkan-sungkan? Sudah se­pantasnya kalau kita saling bantu, bukan?"

Demikianlah, suheng dan sumoi ini melakukan perjalanan cepat menuju ke barat. Berkat adanya Bong Gan di sam­pingnya, di sepanjang perjalanan Bi Sian tidak menemui banyak gangguan. An­daikata ia melakukan perjalanan seo­rang diri, tentu akan banyak timbul gangguan, mengingat bahwa ia seorang gadis yang cantik manis dan melakukan perjalanan jauh seorang diri. Akan tetapi sikap Song Gan yang gagah membuat banyak orang menjadi jerih untuk meng­ganggu mereka. Padahal, tentu saja andaikata ada gangguan, Bi Sian sama se­kali tidak akan merasa gentar bahkan hal itu merupakan kesialan bagi si pengganggu yang tentu akan dihajar habis-habisan!

Ketika mereka pada suatu siang memasuki kota Sung-jan, keduanya langsung saja menuju ke rumah Bi Sian. Gadis ini nampak gembira sekali, wajahnya cerah berseri dan matanya berkilat-kilat ketika mereka tiba di depan rumah dan toko milik ayahnya. Akan tetapi ia merasa heran melihat betapa toko itu tertutup dan segera ia mengajak suhengnya memasuki pekarangan dan langsung menuju ke pintu depan.

Dua orang yang tadinya duduk di ruangan depan, bangkit berdiri den melihat Bi Sian, wanita itu menjerit.

"Bi Sian....!"

"Ibuuu....!" Dua orang wanita itu berlari saling tubruk dan di lain saat mereka telah berangkulan sambil memanggil berulang kali. Sie Lan Hong menangis dalam rangkulan puterinya, akan tetapi Bi Sian yang juga merasa terharu dan gembira, tidak menangis, akan tetapi menciumi kedua pipi ibunya dengan penuh kerinduan dan kasih sayang. Ia diam-diam merasa kasihan melihat wajah ibunya yang kurus dan agak pucat. Tak disangkanya bahwa dalam waktu tujuh tahun ibunya kini nampak tua sekali!

Sementara itu, ketika dua orang wanita itu berangkulan, Bong Gan hanya berdiri menonton dengan canggung. Juga Sie Liong, pemuda yang tadi sedang duduk bersama encinya, berdiri dan memandang dengan wajah berseri, akan tetapi juga berdiri canggung. Tentu saja hatinya girang bukan main melihat keponakannya yang dulu menjadi teman bermain yang akrab itu pulang dan kini telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan manis sekali. Diapun heran melihat keponakannya itu pulang bersama seorang pemuda yang tampan, yang kini juga berdiri dengan canggung. Mereka saling pandang sebentar saja, tidak tahu harus berbuat apa karena mereka belum diperkenalkan.

"Ibu.... ah, ibu.... kenapa ibu begini kurus? Mana ayah?"

Sie Lan Hong dapat menguasai keharuan hatinya dan teringat akan dua orang pemuda itu. "Ayahmu tidak berada di rumah, sedang keluar. Akan tetapi, mari kautemui dulu pamanmu...."

Bi Sian yang melepaskan pelukan ibunya, tiba-tiba memandang dan matanya terbelalak, mulutnya tersenyum dan hampir ia berteriak, "Paman Liong....!"

Sie Liong juga tersenyum. "Bi Sian, engkau sudah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik dan gagah!"

Bi Sian melangkah maju dan memegang tangan Sie Liong. Ia lupa bahwa ia kini telah menjadi seorang gadis dewasa dan pamannya itupun sudah menjadi seorang pemuda dewasa. Digenggamnya tangan pemuda itu.

"Paman Liong! Ah, tidak kusangka akan bertemu denganmu di sini! Dan engkau.... ah, engkau juga sudah menjadi seorang pemuda, paman! Engkau kelihatan gagah dan.... hemm...." Gadis itu melepaskan tangannya, mundur dan mengamati Sie Liong yang menjadi merah sekali mukanya.

"Dan.... bongkok!" sambungnya mendahului, daripada didahului gadis itu.

"Ah, itu aku sudah tahu. Akan tetapi engkau gagah dan tampan, paman!"

Sungguh! Bi Sian masih nakal seperti dulu, pikirnya gembira. Masih lincah jenaka dan suka menggoda orang akan tetapi dengan cara yang menyenangkan.

"Bi Sian, engkau masih seperti dulu! Suka menggoda pamanmu!" Sie Lan Hong juga tertawa dan ia sendiri terkejut. Agaknya sudah bertahun-tahun ia lupa untuk tertawa dan baru sekarang ia dapat tertawa kembali. Anaknya telah pulang!

"Oya, ibu, paman. Aku sampai lupa memperkenalkan. Dia ini adalah suhengku, namanya Bong Gan. Suheng, inilah ibuku dan ini pamanku Sie Liong."

Sejak tadi Bong Gan hanya menonton saja dan hatinya terasa panas dan tidak enak melihat keakraban antara sumoinya dan pemuda bongkok itu. Biarpun disebut paman, akan tetapi mereka itu sebaya dan juga hubungan mereka demikian akrab, tidak seperti paman dan keponakan. Seketika, timbul perasaan tidak suka kepada kedua orang itu. Akan tetapi karena dia diperkenalkan maka dia cepat memberi hormat dan bersoja dan sikapnya amat sopan santun.

"Ibu, mana ayah?"

"Sudah kukatakan, ayahmu sedang keluar rumah. Mari, mari kita bicara di dalam...." Ibu itu merangkul anaknya dan diajak masuk ke dalam rumah. Sie Liong mengkuti, akan tetapi Bong Gan merasa ragu-ragu, dan dia menjadi salah tingkah. Dia bukan anggauta keluarga, bagaimana berani ikut masuk? Akan tetapi agaknya Bi Sian dapat memaklumi keadaannya, maka iapun menoleh dan berkata kepadanya.

"Suheng, mari silakan masuk saja. Paman Liong, ajaklah suheng. Dia memang pemalu."

Sie Liong sejak tadi memperhatikan suheng dari keponakannya itu. Seorang pemuda yang tampan dan gagah, dan mengingat bahwa mereka berdua itu murid Koay Tojin, tidak dapat diragukan lagi bahwa kepandaian mereka tentu tinggi sekali. Akan tetapi, ada sesuatu pada wajah pemuda itu yang membuatnya ragu-ragu. Entah apanya, mungkin pandang matanya.

"Saudara Bong, silakan masuk," katanya dan Bong Gan menganguk.

"Terima kasih, terima kasih....!" Mereka berempatpun memasuki rumah itu. Seperti juga ketika untuk pertama kalinya Sie Liong masuk ke dalam rumah itu Bi Sian juga melihat perubahan besar di dalam rumahnya. Prabot-prabot rumahnya sudah berubah, sekarang jelek dan butut, tidak seperti dulu. Ibunya juga tidak mengenakan perhiasan sedikitpun, dan toko mereka sudah ditutup! Apa yang terjadi? Ia tidak berani langsung bertanya kepada ibunya karena di situ terdapat Bong Gan yang bagaimana juga adalah orang luar. Ia akan bertanya kepada ibunya kalau mereka hanya berdua, atau bertiga saja dengan pamannya.

Mereka berempat duduk menghadap meja besar di ruangan dalam. Bi Sian segera menceritakan pengalamannya ketika ia diambil murid Koay Tojin dan ia segera menceritakan tentang perbuatan Lu Ki Cong, putera Lu-ciangkun komandan pasukan keamanan di Sung-jan itu. "Coba ibu bayangkan, bukankah orang itu jahat sekali? Dia mempergunakan anak buahnya yang menyamar sebagai perampok dan menggangguku, kemudian dia muncul sebagai penolongku. Setelah para perampok palsu itu pergi, dia menggangguku! Untung muncul suhu! Dan dia datang lagi membawa perampok-perampok palsu itu dan mengeroyok suhu. Akan tetapi mereka dihajar oleh suhu! Aih, betapa senangku pada waktu itu! Apakah manusia jahat itu sekarang masih hidup, ibu?"

Sie Lan Hong menahan senyumnya.

"Hussssh, jangan berkata demikian, anakku. Memang dia jahat, akan tetapi tidak perlu hal itu diperpanjang. Dia masih hidup dan ayahmu masih mengharapkan perjodohan itu....."

Bi Sian bangkit berdiri dan mengepal tinjunya. "Apa? Dia masih berani melanjutkan ikatan jodoh itu? Biarlah, aku akan ke sana dan menghajarnya sendiri sampai dia minta ampun!"

"Jangan, Bi Sian! Baru saja engkau pulang, jangan membikin ribut di Sung-jan. Bagaimanapun juga, dia putera kepala pasukan keamanan di sini, dan kekuasaan ayahnya besar sekali. Kalau engkau memusuhi mereka secara terang-terangan begitu, bukankah akibatnya ayah dan ibumu yang akan menanggung?"

"Sumoi, apa yang ibumu katakan itu benar sekali. Engkau adalah penduduk kota ini, tidak baik memusuhi penguasa setempat. Kalau memang engkau ingin memberi hajaran padanya, serahkan saja kepadaku. Di sini aku tidak dikenal orang, maka tiada halangannya kalau aku yang pergi menemui dan menghajar orang yang berani menghinamu," kata Bong Gan dengan sikap gagah.

"Sudahlah Bi Sian. Aku tidak menghendaki ribut-ribut," kata Sie Lan Hong yang teringat akan keadaan suaminya. Baru menghadapi suaminya saja yang kini berubah demikian jahat, ia sudah berduka sekali. Apalagi ditambah urusan yang ditimbulkan karena pengamukan Bi Sian terhadap keluarga Lu-ciangkun. "Engkau baru pulang, Bi Sian. Tidak boleh terjadi hal-hal yang hanya akan mendatangkan keributan dan kekacauan."

Bi Sian masih merasa penasaran, lalu ia menoleh kepada Sie Liong. "Coba pertimbangkan, paman Liong. Bukankah sudah sepatutnya kalau manusia macam Lu Ki Cong itu kuberi hajaran keras? Dahulupun dia yang menghinamu. Hal itu masih boleh dilupakan karena engkau laki-laki. Akan tetapi penghinaannya terhadap diriku, sungguh membuat hati ini panas dan mendongkol saja."

Sie Liong tersenyum, akan tetapi dia lalu bersikap sungguh-sungguh dan memandang tajam kepada keponakannya itu. "Bi Sian, kurasa ibumu berkata benar. Tidak perlu mencari gara-gara dan permusuhan. Mengenai kejahatan Lu Ki Cong kepadamu, bukankah katamu tadi dia dan anak buahnya sudah mendapat hajaran keras dari suhumu? Nah, dengan demikian berarti sudah lunas, bukan? Kalau sekarang dia melakukan perbuatan jahat lagi, barulah pantas kau turun tangan menghajarnya. Kukira engkau cukup mengerti bahwa kepandaian yang dipelajari bukan untuk menimbulkan kekacauan, bahkan sebaliknya untuk memadamkan kekacauan. Bukankah begitu?"

Gadis itu memandang dengan mata terbelalak. "Ehhh? Kepandaian bukan untuk menimbulkan kekacauan melainkan untuk memadamkan kekacauan? Paman, aku pernah mendengar kalimat itu diucapkan suhu! Bukankah begitu, suheng?"

Song Gan mengangguk, akan tetapi dia memandang kepada Sie Liong dengan alis berkerut.

"Kalau begitu, suhumu adalah seorang yang bijaksana sekali, Bi Sian. Memang aku pernah menyaksikan kehebatannya dan mendengar bahwa beliau, yang berjuluk Koay Tojin, adalah seorang yang sakti dan bijaksana!"

"Paman Liong! Engkau.... engkau mengenal suhu?"

Sie Liong tersenyum lagi. "Mengenal sih tidak, akan tetapi aku pernah bertemu dengan beliau dan berhutang budi karena beliau pernah mengobati aku yang terluka oleh pukulan beracun."

"Kalau begitu, engkau tentu murid orang sakti pula, Paman Liong! Hayo ceritakan pengalamanmu. Siapa itu gurumu yang sakti?" tanya Bi Sian gembira sekali membayangkan bahwa pamannya yang disayangnya dan dikasihaninya itu kini telah menjadi seorang yang lihai!

"Aihh, Bi Sian. Aku yang cacat ini mana bisa mempelajari ilmu silat yang tinggi? Hanya kebetulan sekali bahwa aku mendengar dari ibumu tentang kepergianmu dibawa oleh seorang sakti bernama Koay Tojin, dan aku mengenal nama itu, karena dia.... dia itu masih terhitung paman guruku juga."

Baik Bi Sian maupun Bong Gan terkejut mendengar ini. "Apa?" gadis itu berseru. "Suhuku masih paman gurumu? Kalau begitu, siapakah gurumu? Ah, sekarang aku ingat....! Pernah suhu menyebut nama seorang yang katanya paling dia segani dan sayangi di dunia ini. Nama orang itu adalah.... Pek-sim Sian-su! Benarkah engkau muridnya?"

Sie Liong mengangguk. "Engkau memang cerdik dari dulu, Bi Sian. Akan tetapi, orang cacat seperti aku ini tidak dapat mempelajari banyak ilmu silat. Aku hanya banyak belajar tentang hidup."

"Ah, aku tidak percaya! Engkau tentu lihai sekali, paman! Sekali waktu engkau harus mengajarku ilmu silat!"

"Wah, mana aku berani? Melawanmu, dalam beberapa jurus saja aku tentu akan roboh!" kata Sie Liong dan suasana menjadi semakin gembira karena paman dan keponakan ini seolah-olah merasakan suasana di waktu mereka masih kanak-kanak dahulu.

Hanya Bong Gan yang diam saja. Dia sendiri memandang rendah dan tidak suka kepada pemuda bongkok itu. Pemuda bongkok itu kelihatan amat disuka dan dipuji oleh Bi Sian! Katakanlah pemuda itu sudah mempelajari ilmu dari seorang sakti, akan tetapi dengan punggungnya yang bongkok itu, bagaimana mungkin dia memperoleh ilmu yang tinggi? Bagaimana mampu menghimpun tenaga sakti kalau tulang punggungnya saja bengkok? Dia merasa tidak suka sekali, apalagi melihat betapa kadang-kadang sepasang mata pemuda bongkok itu mencorong dan memandang tajam kepadanya, seolah hendak menjenguk isi hatinya sehingga dia merasa ngeri sendiri! Masih baik bahwa pemuda bongkok itu paman dari Bi Sian, adik ibunya sehingga bukan merupakan seorang saingan dalam memperebutkan hati Bi Sian!

"Aih, kalian jangan main-main!" kata Sie Lan Hong. "Bi Sian, engkau ini baru saja pulang setelah pergi selama tujuh tahun, dan begitu datang engkau hendak menantang pamanmu? Ketahuilah, pamanmu inipun baru dua hari tiba di sini! Kedatangan kalian sungguh kebetulan sekali. Sekarang, kalian harus beristirahat dan kita saling melepas rindu dengan membicarakan pengalaman-pengalamanmu, bukan untuk saling hantam dan gebuk! Aih, aku ini mempunyai keluarga macam apa! Adik jagoan dan anak tukang pukul?"

Mereka tertawa, bahkan Bong Gan juga tersenyum mendengar ucapan itu. Pada saat itu, terdengar teriakan dari luar rumah. "Haii, mana dia isteriku yang baik dan adiknya yang gagah? Aku sudah pulang siang-siang dan tidak mabok, ha-ha-ha-ha!"

Laki-laki itu muncul di pintu. Mulutnya mengatakan tidak mabok, akan tetapi keadaannya yang terhuyung-huyung itu jelas membuktikan keadaan yang sebaliknya.

"Ayahhhhh....!" Bi Sian berseru, bukan seruan girang melainkan seruan kaget melihat keadaan ayahnya. Dahulu, ayahnya seorang pria yang tampan dan rapi, akan tetapi sekarang, nampak awut-awutan dan kotor!

Orang itu adalah Yauw Sun Kok. Mendengar panggilan itu, lenyaplah senyum menyeringai dan mengejek tadi dari bibirnya. Matanya terbuka lebar dan dia memandang kepada gadis yang sudah bangkit berdiri dan melangkah maju menghampirinya itu.

"Bi Sian.... kau.... kau Bi Sian....?"

"Ayah....!" Bi Sian lari menghampiri. "Kau kenapakah, ayah?"

Ayahnya merangkul puteri itu dan menangis! Bi Sian terkejut bukan main. Ayahnya menangis? Sungguh luar biasa sekali ini! Ayahnya yang demikian gagah perkasa, ayahnya yang jantan. Kini menangis?

"Ayah, tenanglah, ayah. Mari duduk...." Ia membimbing ayahnya dan membawa ayahnya duduk di kursi menghadapi meja. Hanya sebentar saja Sun Kok menangis. Dia sudah memandang kepada puterinya dengan mata merah. Lalu dia tertawa.

"Ha-ha-ha, engkau sudah pulang, Bi Sian? Engkau sudah mewarisi ilmu silat tinggi dari Koay Tojin? Bagus! Engkau harus mewakili ayahmu ini, engkau harus dapat mengalahkan Si Bongkok ini. Dia telah mengalahkan aku, Bi Sian...."

"Hemm, engkau telah mabok lagi. Mari, engkau perlu tidur....!" Sie Lan Hong membantu suaminya bangkit dan memapahnya ke dalam kamar. Yauw Sun Kok tidak membantah, hanya mengomel, "Kau harus pukul dia, Bi Sian, demi ayahmu, kaupukul bongkoknya, biar mampus....!"

Saking heran dan bingungnya, Bi Sian menjatuhkan diri duduk di atas kursi dan tidak dapat bicara apa-apa. Ia memandang kepada pamannya yang juga duduk sambil menundukkan mukanya. Pintu kamar itu tertutup setelah ayahnya dipapah ibunya masuk ke dalamnya dan suasana menjadi sunyi sekali, sunyi dan menegangkan.

"Paman Liong," akhirnya Bi Sian bicara dan biarpun suaranya perlahan, namun terdengar mengejutkan dan memecahkan kesunyian itu. "Engkau.... engkau benar telah mengalahkan ayah....?"

Sie Liong mengangkat mukanya, memandang kepada keponakannya itu, kemudian melirik ke arah Bong Gan. Bi Sian mengerti maksud lirikan itu, dan ia berkata, "Suheng adalah seperti keluarga sendiri, paman. Tidak ada salahnya bicara di depan dia!" Suaranya sudah terdengar kaku, tanda bahwa dia penasaran mendengar ayahnya dikalahkan Sie Liong, dan tentu ayahnya telah dipukul oleh pamannya itu.

Sie Liong mengangguk-angguk. "Aku tidak pernah mengalahkah dia, Bi Sian."

"Akan tetapi, ayah tadi mengatakan...."

"Kemarin dulu, ketika aku datang, aku melihat ayahmu hendak memukuli ibumu, dalam keadaan mabok. Terpaksa aku melindungi ibumu, bukan berarti melawan dan mengalahkan ayahmu. Aku hanya mengelak dan menangkis.... dan ayahmu mabok, dan pukulan-pukulan itu.... kalau mengenai ibumu, tentu akan berakibat parah! Kau tidak melihat keadaan mereka? Keadaan rumah ini! Aih, Bi Sian.... kesemuanya berubah....!"

Kembali dia melirik ke arah Bong Gan. Jelas bahwa dia merasa tidak enak sekali harus bicara lebih banyak di depan orang lain. Melihat ini, Bong Gan yang sejak tadi sudah merasa tidak enak dengan munculnya ayah Bi Sian yang seperti itu, lalu bangkit berdiri.

"Maafkan aku, sumoi. Sebaiknya kalau aku mencari rumah penginapan di kota. Besok aku akan datang berkunjung, sampaikan maafku kepada ayah den ibumu!"

Bi Sian hanya mengangguk. Hatinya dipenuhi hal lain, yaitu kenyataan tentang ayah dan ibunya. Dan dalam keadaan seperti itu, memang sebaiknya kalau suhengnya bermalam di rumah penginapan. "Baiklah, suheng. Maafkan kami."

Bong Gan pergi meninggalkan rumah itu. Setelah pemuda itu pergi, barulah Bi Sian duduk di dekat Sie Liong. Tadi ia memang marah sekali membayangkan bahwa pamannya telah memukul ayahnya, akan tetapi kini sudah hilang kemarahannya. Ia terlalu percaya kepada Sie Liong, tidak mungkin pamannya ini mau memukul ayahnya.

"Nah, sekarang ceritakanlah keadaan yang seaungguhnya, paman!" Bi Sian menuntut.

Sie Liong menarik napas panjang. "Sebenarnya, ibumu yang harus menceritakan kepadamu. Akan tetapi biarlah, akupun berkewajiban untuk memberitahukan semua kepadanu. Ketahuilah bahwa setelah kita berdua pergi, ayahmu telah berubah sama sekali. Setiap hari dia bergaul dengan orang-orang sesat, dia berjudi, mabok-mabokan, pelesir, menghamburkan uang sampai usaha dagangnya jatuh dan dia bangkrut. Bukan hanya itu, malah semua barang di rumah, prabot dan perhiasan ibumu, semua dijual untuk dihamburkan di medan perjudian dan pelesiran. Lebih lagi, dia mulai membenci ibumu dan suka memukuli ibumu."

"Ah, mana mungkin itu?"

"Aku sendiripun tidak akan percaya kalau tidak melihat sendiri. Kemarin dulu, dia tidak tahu bahwa aku telah datang, dia datang malam-malam dalam keadaan mabok dan hendak memukuli ibumu. Aku yang melihatnya lalu melindungi ibumu. Aku diserang, bukan main-main, diserang mati-matian dengan pedang. Aku hanya membela diri, sama sekali tidak memukulnya, melainkan merampas pedangnya. Engkau tentu tahu bahwa aku tidak akan berani melakukan hal seperti itu, Bi Sian."

"Aih, ayah....! Kenapa begitu. Ibuu.... ah, kasihan sekali, ibuku...." Bi Sian lalu meninggalkan Sie Liong dan iapun lari memasuki kamar ayah dan ibunya.

Melihat ini, Sie Liong juga meninggalkan ruangan itu dan pergi mencari hawa sejuk di belakang rumah. Hatinya lega karena Bi Sian tidak sampai salah paham dengan dia. Diam-diam dia merasa bangga dan kagum kepada keponakannya itu. Bi Sian telah menjadi seorang gadis seperti yang selalu dia bayangkan. Seorang gadis yang lincah jenaka, gagah perkasa, berkepandaian tinggi, juga bijaksana seperti sikapnya tadi ketika melihat ayahnya dan bertanya kepadanya. Tidak mudah dipengaruhi emosi.

Dan teringatlah dia kepada Bong Gan. Pemuda itu suheng Bi Sian? Sebagai suhengnya, tentu memiliki ilmu silat yang lebih tinggi! Memang, baru melihat sinar matanya saja mudah diduga bahwa pemuda itu tentu lihai sekali. Akan tetapi ada sesuatu pada pandang mata pemuda itu yang membuat hatinya merasa tidak enak.

Dia duduk di atas bangku di bawah pohon. Mengapa dia merasa tidak enak? Karena pemuda itu suheng Bi Sian dan kelihatan amat akrab dengan gadis itu sehingga Bi Sian mengajak pemuda itu pulang? Hendak diperkenalkan kepada ayah ibunya? Kalau benar begitu, mengapa dia harus merasa tidak enak? Sudah sepantasnya kalau Bi Sian saling mencinta dengan pemuda itu!

"Ah, tidak....!" Tiba-tiba dia bangkit dan mengepal tinju. Akan tetapi dia teringat dan sadar lagi, duduk kembali. Ih, engkau ini kenapa? Demikian dia memaki diri sendiri. Bi Sian seorang gadis yang cantik manis, dan suhengnya itupun seorang pemuda tampan. Keduanya sudah dewasa, sudah sepatutnya kalau saling jatuh cinta. Kenapa di hatinya, harus ikut ribut-ribut? Dia kan hanya pamannya, dan dia kan hanya seorang bongkok? "Yang tahu dirilah kau!" demikian dia memaki diri sendiri dan Sie Liong duduk termenung di kebun belakang itu sampai lama sekali.

***

Seorang pemuda memasuki rumah pelesir yang mewah itu. Pemuda itu tampan dan segera menarik perhatian para pelacur yang hendak memperebutkan perhatian pemuda itu. Maka, ketika pemuda itu duduk di dalam ruangan makan di depan, segera ada lima orang gadis pelacur menghampirinya, menyapanya dengan ramah dan tanpa diminta mereka segera duduk mengelilingi meja itu. Pakaian mereka yang tipis, muka mereka yang berbedak tebal, tubuh mereka yang menantang dan disiram minyak wangi, membuat pemuda itu tersenyum-senyum gembira. Pemuda itu bukan lain adalah Bong Gan! Sebetulnya, tidak aneh kalau kini dia kelihatan berada di dalam sebuah rumah pelacuran, walaupun selama ini dia amat pandai menyimpan rahasia. Semenjak dla melakukan perjinahan dengan Pek Lan, selir ayah angkatnya itu, dia sudah menjadi hamba nafsu berahi yang tidak ketulungan lagi! Akan tetapi, sebagai murid Koay Tojin dan yang selalu dekat dengan Bi Sian, dia pandai sekali menjaga diri sehingga di luarnya dia nampak alim bukan main, sopan dan tidak pernah kurang ajar. Akan tetapi, apabila dia memperoleh kesempatan, yaitu ketika melakukan perjalanan seorang diri untuk berbelanja bumbu atau memburu binatang, dia selalu mempergunakan kepandaiannya untuk memuaskan berahinya yang berkobar-kobar. Di luar dugaan Bi Sian dan Koay Tojin, setelah dewasa, Bong Gan sering sekali mengganggu wanita. Baik melalui ketampanannya, kepandaiannya, maupun dengan paksa! Banyak sudah isteri atau anak gadis orang menjadi korbannya, namun selalu dapat menjaga diri, menyembunyikan mukanya sehingga tidak ada yang mengenalnya. Wanita yang dirobohkannya dengan modal ketampannya, selalu adalah isteri orang yang tentu saja tidak akan membongkar rahasia busuknya sendiri. Juga, tempat pelacuran bukan tempat asing bagi Bong Gan karena kalau dia tidak mendapat korban, maka tempat pelacuranlah yang menjadi tempat dia melepaskan semua dorongan nafsu birahinya.

Kini dia berada di rumah pelacuran karena hatinya agak kesal. Dia terpaksa berpisah dari Bi Sian, bermalam di sebuah rumah penginapan dan malam itu, karena iseng, diapun keluar berjalan-jalan dan akhirhya masuk ke dalam sebuah rumah pelesir yang besar di kota Sung-jan. Bong Gan tidak kekurangan uang. Sebelum memasuki rumah penginapan tadi, dia sudah mempergunakan kepandaiannya untuk memasuki sebuah rumah gedung dan dari dalam rumah itu, tanpa diketahui siapapun, dia telah berhasil mencuri uang emas yang cukup banyak. Dengan kepandaian yang dia miliki, kejahatan seperti itu mudah saja dia lakukan.

Tak lama kemudian, dia sudah masuk ke dalam kamar ditemani oleh tiga orang gadis pelacur! Menjelang tengah malam, baru dia keluar dari dalam kamar itu dan bermaksud untuk kembali ke rumah penginapan. Besok pagi-pagi dia akan berkunjung ke rumah Bi Sian dan dia tidak ingin kurang tidur. Akan tetapi, baru saja dia keluar digandeng tiga orang gadis pelacur yang kelihatan amat mencintanya. Siapa orangnya takkan mencinta seorang pemuda yang tampan, jantan dan royal dengan uangnya? Apa lagi kalau perempuan itu seorang pelacur!

"Heiii, bukankah engkau suheng dari Bi Sian?" Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki menegurnya, Song Gan menoleh dan dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia mengenal pria yang menegurnya itu. Yauw Sun Kok, ayah Bi Sian! Kalau ada kilat menyambar kepalanya, belum tentu Bong Gan sekaget ketika dia bertemu dengan ayah Bi Sian di rumah pelacuran! Celaka, pikirnya, habislah namanya. Rusaklah dia di mata ayah Bi Sian dan tentu sumoinya itu juga akan mendengar dari ayahnya! Tentu sumoinya itu tidak akan sudi lagi berdekatan dengan dia kalau mendengar bahwa dia dilihat ayahnya di rumah pelacuran, dirangkul tiga orang pelacur. Dia cepat dapat memulihkan sikapnya, berpura-pura tidak mengenal Yauw Sun Kok dan melepaskan diri dari gandengan tiga orang pelacur, dia lalu keluar sambil berkata dengan suara dirobah.

"Anda salah lihat!"

Yaw Sun Kok belum mabok pada saat itu. Dia memang langganan rumah pelacuran ini dan kalau dia tidak berjudi, tentu dia berada di sini, main-main dengan gadis pelacur, atau sekedar mabok-mabokan. Ketika melihat pemuda yang digandeng tiga orang pelacur itu, dia segera mengenalnya dan menegurnya. Sebetulnya kekhawatiran Song Gan tidak beralasan. Orang yang sudah menjadi langganan rumah pelacuran seperti Yauw Sun Kok, tentu tidak akan memandang rendah kepada pria lain yang juga datang menghibur diri di tempat itu.

Yauw Sun Kok adalah seorang manusia yang jiwanya lemah, tertutup oleh nafsu-nafsunya sehingga jiwanya menjadi hamba dari nafsunya. Karena sejak kecil hidup sebagai orang sesat, di tengah-tengah orang yang bekerja sebagai perampok, penjudi dan penjahat-penjahat, akhirnya isterinya terbunuh oleh Sie Kian, dia menjadi sakit hati dan setelah memperdalam ilmu-ilmunya, dia berhasil membalas dendam, membasmi keluarga musuh besarnya itu. Akan tetapi dia tergila-gila kepada Sie Lan Hong dan membawa gadis remaja itu sebagai isterinya, juga membiarkan Sie Liong hidup atas permintaan Sie Lan Hong yang pada waktu itu amat dicintanya. Karena cintanya terhadap isteri yang baru inilah Yauw Sun Kok dapat merobah jalan hidupnya. Dia dapat mengekang nafsu-nafsunya, karena semua nafsunya telah dipuaskan oleh isteri yang dicintanya itu. Apalagi ketika Bi Sian terlahir. Sun Kok bahkan pernah menjadi suami dan ayah yang baik.

Akan tetapi, rasa takutnya akan menerima pembalasan dari Sie Liong membuat sifat jahatnya timbul dan dia bahkan telah membikin cacat adik isterinya itu. Setelah Sie Liong melarikan diri, dan juga puterinya dibawa orang sakti sebagai murid, dalam keadaan kesepian ini, nafsu-nafsu rendah yang tadinya mulai dapat dikekang, bermunculan kembali dan menguasai jiwa raga Sun Kok! Maka diapun kembali ke jalan lama membiarkan nafsunya meraja lela dan setiap hari hanya mengejar kesenangan belaka. Bahkan muncul pula watak kejamnya sehingga dia tidak segan memukuli isterinya yang dulu pernah amat disayangnya itu kalau isterinya dianggap menghalangi kesenangannya!

Segala macam nafsu tidak terpisahkan dari manusia. Sejak lahir memang kita sudah disertai nafsu-nafsu, karena sesungguhnya nafsu-nafsu merupakan pendorong bagi kita untuk dapat hidup di dunia ini. Nafsu adalah kemelekatan kita kepada kebutuhan hidup di dunia, kebutuhan badan. Kemelekatan pada benda, pada makanan, dan sebagainya. Akan tetapi, nafsu-nafsu ini setelah merasakan segala macam kesenangan melalui badan manusia, lalu ingin menguasai manusia, mencengkeram dan memperhamba manusia sehingga jiwa manusia yang murni terselubung oleh hawa nafsu, menjadi lemah dan tidak berdaya. Kalau jiwa yang menjadi penghubung antara manusia dengan Tuhannya itu terselubung, maka Kekuasaan Tuhan yang berada di dalam diri tidak dapat bekerja dengan sempurna. Maka nafsulah yang berkuasa, dan di dalam setiap gerak gerik kita, selalu nafsu yang menjadi pengemudinya!

Kalau keadaan kita manusia ini dapat diumpamakan sebuah kereta, lengkap dengan roda, kerangka, lampu, dan segala perlengkapan sebuah kereta, maka nafsu-nafsu adalah ibarat kuda-kuda yang menarik kereta ini! Jiwa kita seharusnya menjadi Sang Kusir, yang mengendalikan nafsu-nafsu atau kuda-kuda itu agar kereta dapat berjalan dengan baik. Tanpa adanya kuda-kuda itu, kereta tidak akan dapat berjalan atau bergerak maju. Akan tetapi kalau Sang Kusir tidak mampu menguasai kuda-kuda itu, dan sebaliknya kuda-kuda itu yang menguasai kereta, maka tentu kuda-kuda itu menjadi liar dan akan kabur, mungkin saja membawa seluruh kereta berikut Sang Kusir terjun ke dalam jurang! Demikian pula dengan nafsu. Kalau jiwa tidak tertutup kotoran, kalau jiwa tetap dekat dengan Tuhan, penuh penyerahan diri, penuh ketawakalan dan penuh keikhlasan membiarkan diri dibimbing kekuasaan Tuhan, maka jiwa akan selalu dapat menguasai nafsu-nafsu. Bukan berarti nafsu harus dimatikan, seperti kuda yang dibutuhkan untuk menarik kereta. Nafsu juga perlu untuk membuat kita hidup. Kita makan karena ada nafsu, kita berpakaian karena ada nafsu, kita melihat, mendengar dan mempergunakan panca indera dan dapat menikmati hidup karena ada nafsu. Nafsu bagaikan api. Kalau dikuasai, dapat amat bermanfaat bagi hidup, akan tetapi sebaliknya kalau menguasai kita, dapat membakar segala-galanya! Nafsu adalah seorang hamba yang amat baik, akan tetapi seorang majikan yang amat jahat!

Melihat Bong Gan bersikap tidak mengenalnya, hanya sebentar Yauw Sun Kok merasa heran. Akan tetapi tak lama kemudian dia sudah tenggelam ke dalam buaian arak dan lewat tengah malam, diapun berjalan pulang terhuyung-huyung dalam keadaan mabok.

Ketika Sun Kok melewati daerah yang sunyi, di mana tidak ada rumah di kanan kiri jalan, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam yang langsung menyerangnya dengan kepalan tangan. Serangan itu dahsyat sekali, mendatangkan angin pukulan yang keras. Bagaimanapun juga, Sun Kok adalah seorang yang sudah lama mempelajari ilmu silat dan tingkat kepandaiannya cukup tinggi. Dia mendengar suara angin serangan ini dan cepat dia mengelak sambil menggerakkan tangan kiri menangkis dan tangan kanannya membalas dengan cengkeraman ke arah pundak penyerangnya! Namun, penyerang itu lihai bukan main karena dengan amat mudahnya dia menghindarkan diri dari cengkeraman itu.

Saat itu dipergunakan Sun Kok yang cepat melompat ke belakang itu untuk mengamati penyerangnya. Cuaca gelap, akan tetapi dia melihat bayangan penyerangnya yang berpunggung bongkok!

"Sie Liong....!" teriaknya dengan suara penuh rasa ngeri. Memang sejak dahulu dia takut kepada adik isterinya, takut kalau sampai anak itu mengetahui bahwa dialah pembunuh orang tuanya. Kalau saja tidak melihat isterinya, sudah sejak dulu dia membunuh Sie Liong. Dan kini, apa yang ditakutinya terjadi. Sie Liong yang sudah dia bikin bongkok itu, masih berhasil mempelajari ilmu silat tinggi dan malam ini agaknya hendak membalas dendam dan menyerangnya! Maklum bahwa dia terancam maut, tangan Yauw Sun Kok bergerak dan tiga batang piauw beruntun menyambar ke arah tubuh orang bongkok itu. Namun, dengan sigapnya, lawannya itu berhasil mengelak dengan amat mudah. Sun Kok sudah mencabut pedangnya, pedang pusaka Pek-lian-kiam dan biarpun dia mabok, akan tetapi perasaan takut melenyapkan maboknya dan dia sudan mainkan pedangnya, menyerang dengan gesit.

Namun, sekali ini dia harus mengakui bahwa dia telah berhadapan dengan seorang lawan yang amat tangguh. Biarpun lawannya bertangan kosong, namun serangan-serangan pedangnya tidak pernah mampu menyentuh lawannya yang dapat bergerak secepat burung walet terbang. Kemudian, ketika dengan gugup dia membalik untuk mencari lawan yang tadi berkelebat lenyap ke arah belakangnya, tiba-tiba tangan kanannya menjadi lumpuh tertotok dan pedangnya berpindah tangan! Sebelum Sun Kok mampu menghindar, sinar pedang berkelebat dan pedang itu telah menembus dada dan jantungnya! Sun Kok roboh terjengkang, seketika tewas dengan dada ditembusi pedangnya sendiri!

Bayangan berpunggung bongkok itu lalu menyambar tubuh yang tak bernyawa lagi itu, menyeretnya menuju ke rumah Yauw Sun Kok. Dengan amat cekatan, dia melompat ke atas genteng dan selanjutnya berlompatan sehingga tidak ada orang melihatnya. Setelah berlompatan dari rumah ke rumah, dia lalu turun ke pekarangan belakang rumah Yauw Sun Kok. Ketika tiba di dekat sebuah jendela kamar di rumah itu, kakinya tersaruk sebuah benda yang mengeluarkan suara keras.

"Siapa itu?" terdengar bentakan suara wanira dari balik jendela. Bayangan itu tidak menjawab, menyeret mayat itu menjauhi jendela. Akan tetapi dia kurang cepat karena tiba-tiba daun jendela itu terbuka dari dalam dan Bi Sian masih sempat melihat seorang laki-laki berkedok dan berpunggung bongkok menyeret sesosok mayat ke dalam kebun.

"Paman Liong....?" Dia memanggil akan tetapi bayangan itu sudah lenyap ke dalam kegelapan malam. Bi Sian cepat meloncat keluar dari kamarnya dan melakukan pengejaran ke dalam kebun. Akan tetapi bayangan orang berpunggung bongkok itu lenyap dan ia menemukan sesosok tubuh menggeletak di atas tanah. Pada waktu itu, kebetulan sekali bulan sepotong yang sejak tadi tertutup awan hitam, terlepas dari cengkeraman awan dan menyinarkan cahayanya yang redup namun cukup terang bagi Bi Sian untuk mengenal wajah orang itu.

"A.... ayahhhhh....!" Ia menjerit dan cepat berlutut, memeriksa tubuh itu. Ayahnya, benar ayahnya, telah tewas dengan dada ditembusi sebatang pedang yang dikenalnya sebagai pedang pusaka milik ayahnya sendiri, Pek-lian-kiam!

Jeritan Bi Sian ini mengejutkan para pengnuni rumah itu. Ibunya terkejut dan berlari keluar. "Bi Sian, apa yang terjadi....?" tanyanya sambil berlari tersaruk-saruk ke dalam kebun.

"Ibu....! Ayah tewas terbunuh orang....!" Bi Sian berseru dan iapun melompat lalu berlari mencari-cari ke dalam kebun. Akan tetapi, ia tidak menemukan jejak orang yang tadi menyeret tubuh ayahnya, lalu ia mendexati rumah. Tiba-tiba ia melihat sesuatu. Cepat ia berjongkok den diambilnya benda itu. Sebuah topeng! Topeng yang tadi ia lihat dikenakan pembunuh ayahnya. Topeng hitam!

"Bi Sian, ada apakah ribut-ribut itu?" Mendengar suara Sie Liong, Bi Sian cepat menyimpan topeng itu ke dalam saku dalam bajunya. Ia memandang tajam kepada wajah Sie Liong. Biarpun remang-remang, ia melihat bahwa selarut itu pamannya ini belum tidur!

"Paman Liong, apakah engkau tidak mendengar sesuatu?" tanyanya sambil memandang tajam penuh selidik.

"Mendengar apa? Aku hanya mendengar teriakanmu memanggil ayahmu, lalu suara enci Lan Hong di belakang sini. Apakah yang telah terjadi?"

"Paman Liong, mari kaulihat sendiri!" katanya sambil menarik lengan pamannya itu. Lengan itu tidak memperlihatkan sesuatu, tidak gemetar, juga sikap pamannya tenang-tenang saja. Bi Sian ingin melihat bagaimana sikap pamannya kalau melihat cihu-nya menggeletak tewas.

Setelah tiba di tempat itu, dari jauh Sie Liong sudah mendengar ratap tangis encinya dan melihat cihu-nya menggeletak dengan pedang masih menancap di dada, dia terkejut bukan main.

"Enci Hong, apa.... apa yang telah terjadi? Siapa membunuh cihu?" Dia berlutut dan memeriksa. Tak salah lagi. Cihunya telah tewas, tewas seketika melihat pedang itu menembus dada. Melihat adiknya, Sie Lan Hong menangis semakin mengguguk sambil memeluk mayat suaminya.

"Liong-te.... bagaimanapun juga.... bagaimanapun jahatnya.... aku.... aku mencintanya....!" Wanita itu meratap dan menangis sejadinya.

Sejak tadi Bi Sian sudah memperhatikan sikap pamannya. Terlalu tenang, pikirnya. Terlalu tenang sehingga tidak wajar. Akan tetapi, mengapa ia masih meragukan kenyataan itu? Ia melihat dengan matanya sendiri. Orang yang menyeret mayat ayahnya itu berpunggung bongkok! Siapa lagi kalau bukan pamannya? Dan orang itu bertopeng hitam, topeng hitam yang ia temukan di luar kamar Sie Liong pula!

"Engkau pembunuh ayahku!" Tiba-tiba Bi Sian berteriak sambil melompat dekat Sie Liong, tangannya sudah menyambar sebatang ranting kayu dan kini digenggam di tangannya, telunjuk kirinya menuding ke arah muka Sie Liong.

Pemuda itu terkejut dan heran. "Apa....? Apa maksudmu, Bi Sian?" Dia bangkit berdiri.

"Maksudku, Sie Liong, engkaulah yang membunuh ayahku!"

"Ehh? Apa kau sudah gila? Enci, bagaimana ini? Bagaimana anakmu menuduh aku membunuh suamimu?"

Akan tetapi anehnya, Sie Lan Hong hanya menangis, tidak membantah sedikitpun juga. Memang, di dalam hatinya, Lan Hong juga menduga bahwa tentu adiknya itu yang telah membunuh suaminya, untuk membalaskan sakit hati orang tua mereka.

"Liong-te, kenapa engkau begitu kejam membunuhnya? Bagaimanapun juga, dia ayah Bi Sian, dia suamiku dan aku.... aku cinta padanya...."

Mendengar ratap tangis encinya ini, Sie Liong terbelalak dan merasa bagaikan disambar geledek di hari terang! Akan tetapi, Bi Sian yang juga mendengar ucapan ibunya, sudah mengeluarkan suara melengking panjang dan ia mengeluarkan topeng hitam itu, melemparkannya ke arah muka Sie Liong yang cepat menangkapnya. Melihat bahwa yang dilemparkan itu sebuah topeng hitam tipis, Sie Liong tidak tahu maksudnya. Akan tetapi pada saat itu, tongkat di tangan Bi Sian sudah menyambar dengan totokan-totokan maut ke arah muka, tenggorokan dan ulu hatinya. Tiga kali totokan bertubi yang kesemuanya amat berbahaya!

Tanpa disadarinya, Sie Liong menyimpan topeng itu ke dalam saku bajunya dan tubuhnya lalu dilempar ke belakang, berjungkir balik setiap kali ada ujung tongkat menyambar dan setelah tiga kali berjungkir balik, dia lalu memalangkan kedua lengannya seperti hendak menggunting kalau tongkat yang amat berbahaya itu menyambar lagi. Akan tetapi kini tongkat itu tidak menusuknya dari depan, melainkan menghantam dari kanan ke arah lambungnya!

Bukan main cepat dan kuatnya serangan Bi Sian. Kembali Sie Liong menghindar diri dengan loncatan ke atas. Celaka, pikirnya. Bi Sian, dan bahkan encinya sendiri, agaknya sudah yakin bahwa dia pembunuh cihu-nya! Agaknya membela diri dan menyangkal tidak ada gunanya pada saat keduanya sedang emosi itu, dan melawan serangan Bi Sian amat berbahaya. Gadis ini memiliki ilmu tongkat yang amat ganas dan lihai, dan teringat dia akan ilmu tongkat yang pernah dipertontonkan Koay Tojin.

"Kalian salah sangka....!" katanya dan ketika tongkat itu kembali menyambar dengan totokan maut ke arah pusarnya, Sie Liong melompat ke pinggir lalu kakinya menyambar untuk menendang pinggang Bi Sian dari samping. Dia mengerahkan tenaga sehingga angin tendangan itu menyambar keras. Bi Sian terkejut dan cepat melompat ke belakang. Inilah yang dikehendaki Sie Liong. Dia mempergunakan kesempatan selagi gadis itu melompat ke belakang, dia pun melompat jauh dan menghilang di dalam kegelapan malam!

"Pembunuh, hendak lari ke mana kau?" Bi Sian melompat dan melakukan pengejaran. Akan tetapi, Sie Liong dapat bergerak cepat sekali dan dia sudah tidak nampak bayangannya. Setelah mengejar ke sana-sini tanpa hasil, dengan hati kesal Bi Sian kembali ke dalam kebun. Ia menemukan ibunya masih menangisi mayat ayahnya.

"Aku tidak berhasil menyusul pembunuh keparat itu! Akan tetapi, ibu, aku akan mencarinya sampai dapat!"

"Sudahlah, Bi Sian. Yang terpenting sekarang mengurus jenazah ayahmu," kata Sie Lan Hong yang akhirnya dapat menguasai hatinya yang terguncang.

"Tapi, ibu, yang terpenting adalah menangkap pembunuh itu!"

"Hem, bagaimanapun juga, dia adalah pamanmu, adik ibumu."

"Apakah kalau adik ibu, lalu dia boleh membunuh ayah sesukanya? Apakah ibu sudah begitu membenci ayah karena ayah telah berubah selama ini?"

"Bi Sian....!" Sie Lan Hong menangis lagi dan Bi Sian segera menyadari kekeliruannya. Ia berlutut dan merangkul ibunya.

"Maafkan, ibu. Maafkan aku.... ah, kedukaan membuat aku bersikap kasar kepada ibu." Gadis itu lalu mengangkat jenazah ayahnya ke dalam rumah.

Para tetangga dan penduduk kota Sung-jan terkejut mendengar berita kematian Yauw Sun Kok yang kabarnya terbunuh orang semalam. Banyak orang menduga-duga siapa pembunuhnya. Yauw Sun Kok mereka kenal sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa, walaupun akhir-akhir ini menjadi gila judi dan suka bermain perempuan dan mabok-mabokan.

Sie Lan Hong menangis perlahan di dalam kamarnya. Ia tidak mau ditemani puterinya dan terpaksa Bi Sian duduk bersila di ruangan di mana jenazah ayahnya dibaringkan, ditemani beberapa orang pria tua tetangga mereka.

Ketika Lan Hong menangis lirih, tiba-tiba daun jendelanya terbuka dari luar. Begitu perlahan jendela itu terbuka dari luar sehingga Lan Hong tidak mendengar sesuatu. Baru ia terkejut ketika ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu adiknya telah berdiri di dalam kamar itu. Lan Hong memandang terbelalak kepada adiknya.

"Mau apa.... kau datang? Engkau sudah membunuhnya, tentu engkau sudah puas, bukan? Biarlah aku yang menderita.... hu-huh.... sejak dulu, aku yang menderita....!"

"Enci, dengarlah baik-baik. Aku tidak membunuhnya, enci. Aku tidak membunuh cihu....!"

Wanita itu menghentikan tangisnya lalu menarik napas panjang. "Sudahlah, Liong-te. Akupun tidak menyalahkanmu. Dulu akupun hendak membunuhnya dan sudah sepatutnya kalau aku atau engkau membunuhnya...."

"Enci.... apa.... apa maksudmu?" Sie Liong bertanya, hatinya berdebar tegang.

"Engkau tentu telah menduganya, maka engkau membunuhnya, bukan? Nah, baiklah, karena dia sudah mati, kuceritakan segalanya kepadamu. Memang, Yauw Sun Kok yang menjadi pembunuh ayah dan ibu kita, membunuh suheng Kim Cu An, dan dua orang pelayan keluarga kita dan semua binatang peliharaan kita."

Sedikit banyak memang sudah ada dugaan di dalam hati Sie Liong yang selalu dibantahnya sendiri karena bagaimana mungkin encinya menjadi isteri pembunuh ayah ibu mereka?

"Tapi.... tapi mengapa, enci?"

"Mendiang ayah kita pernah bentrok dengan Yauw Sun Kok ketika dia dan isterinya melakukan perampokan. Dia dahulu seorang perampok. Isterinya tewas di tangan mendiang ayah kita dan dia terluka. Dia lalu memperdalan ilmu silat dan pada malam hari itu, dia berhasil membasmi keluarga ayah kita."

"Tapi.... tapi, mengapa enci dan aku sendiri tidak dibunuhnya, dan mengapa pula enci menjadi isterinya....?"

"Itulah selalu aku yang menderita. Dia tertarik kepadaku. Dia hendak memperkosaku dan membunuh kita berdua kalau aku tidak mau menjadi isterinya. Terpaksa, untuk menyelamatkan engkau yang baru berusia sepuluh bulan, dan menyelamatkan nyawaku sendiri, aku menerima permintaannya. Aku menjadi isterinya dan engkau tidak dibunuhnya. Dan ternyata dia amat baik kepadaku dan kepadamu sampai terlahir Bi Sian dan aku.... aku.... anak durhaka dan tidak berbakti ini, aku jatuh cinta kepadanya, kepada suamiku sendiri dan kepada pembunuh ayah ibuku...." Sie Lan Hong tidak dapat menahan tangisnya lagi. Sie Liong mendengarkan dengan bengong. Die merasa kasihan sekali kepada encinya.

"Akan tetapi, aku tidak membunuhnya, enci."

"Sudahlah, siapa mau percaya. Dan aku sekarang tidak lagi menyalahkanmu, Liong-te. Sudah sepatutnya engkau membunuhnya dan...."

Tiba-tiba pintu kamar itu didorong terbuka dari luar dan Bi Sian meloncat masuk dengan mata terbelalak dan tangannya memegang sebatang pedang yaitu pedang Pek-lian-kiam yang telah membunuh ayahnya!

"Pembunuh keparat, berani engkau ke sini?" bentaknya dan secepat kilat Bi Sian menyerang dengan pedang itu. Tusukan kilat mengarah dada Sie Liong dan selain nampak kilatan pedang, juga terdengar bunyi mendesing saking cepat dan kuatnya pedang itu meluncur. Namun, dengan cepat Sie Liong menyambar kursi dan melempar kursi itu sebagai perisai. Terdengar suara nyaring dan kursi itu sudah patah-patah berantakan. Akan tetapi tubuh Sie Liong sudah meloncat ke jendela.

"Bi Sian, engkau keliru. Aku tidak membunuh ayahmu!" kata Sie Liong sebelum dia meloncat ke luar dan melenyapkan diri,

"Jahanam, jangan lari!" Bi Sian hendak mengejar, akan tetapi ibunya sudah menubruknya dan memegangi lengannya sambil menangis.

"Jangan, anakku. Jangan kejar dia....! Biarkan dia pergi....!" tangisnya.

Bi Sian mengerutkan alisnya. Menghela napas panjang. "Hemm, ibu melindungi seorang pembunuh, pembunuh suami ibu sendiri, walaupun pembunuh itu adik kandung ibu...." Ia melepaskan diri, akan tetapi tidak mengejar seperti yang diminta ibunya, melainkan dengan bersungut-sungut iapun kembali ke ruangan di mana jenazah ayahnya dibaringkan. Ibunya melempar diri di atas pembaringan dan menangis. Bagaimana ia tega untuk merusak hati anaknya dengan menceritakan semua perbuatan ayahnya? Tidak, ia tidak akan menceritakan semua peristiwa jahanam dahulu itu kepada Bi Sian agar gadis itu tidak tahu bahwa ayahnya seorang yang amat jahat. Tidak perlu ia tahu. Biarlah ia sendiri yang menderita, asalkan Bi Sian tidak menderita! Seperti dulu ia berkorban demi mempertahankan keselamatan Sie Liong, kini ia bersedia berkorban perasaan demi menjaga agar batin puterinya tidak sampai menderita kehancuran.

Pada keesokan harinya, para tetangga datang melayat dan pagi-pagi sekali Bong Gan sudah tiba di situ. Maksudnya untuk berkunjung kepada sumoinya. Tentu saja dia terkejut bukan main melihat peti mati di ruangan depan.

Bi Sian menyambutnya dengan wajah pucat dan mata merah, bekas tangis dan kurang tidur.

"Sumoi! Apa yang terjadi! Siapa yang meninggal dunia....?" tanyanya dengan penuh kekhawatiran.

"Yang meninggal dunia adalah ayahku, suheng...."

"Ahh....!" Pemuda itu terbelalak memandang ke arah peti mati. "Ayahmu? Tapi kemarin beliau masih segar bugar....!"

"Malam tadi.... dia meninggal...." Gadis itu memejamkan matanya, menahan diri agar tidak menangis di depan pemuda itu, apa lagi para tetangga mulai berdatangan melayat. Melihat Ini, Bong Gan lalu menghampiri meja sembahyang, memasang hio untuk memberi hormat kepada jenazah dalam peti. Kemudian dia menghampiri lagi sumoinya.

"Sumoi, kenapa ayahmu meninggal? Sakit apakah?"

"Mari kita masuk, suheng, aku mau bicara denganmu."

Bong Gan mengikuti sumoinya menuju ke ruangan dalam. Setelah berada berdua saja, gadis itu mempersilakan suhengnya duduk. "Suheng, ayahku malam tadi dibunuh orang....."

"Hah....??" Bong Gan meloncat bangkit berdiri dari kursinya, matanya terbelalak. "Dibunuh orang? Bagaimana.... siapa....?"

"Pembunuhnya adalah.... pamanku, adik ibu sendiri...."

"Ahh! Pemuda berpunggung.... bongkok bernama Sie Liong itu....?"

Bi Sian mengangguk, menarik napas panjang. "Benar, dialah yang membunuh ayahku."

"Kalau begitu, biar aku mencarinya dan menyeretnya ke depanmu, sumoi!" Bong Gan berseru sambil mengepal tinju, matanya terbelalak penuh kemarahan.

"Semalam aku sudah menyerang dan mengejarnya, namun tidak berhasil. Dia tidak boleh dipandang ringan, suheng. Agaknya dia telah memperoleh kepandaian yang hebat. Ingat, dia itu murid supek Pek-sim Sian-su yang menurut suhu memiliki kesaktian yang amat hebat. Karena itu, aku akan pergi mencarinya, suheng dan harap engkau suka membantuku. Kalau kita maju berdua, tentu dia akan dapat kita kalahkan."

"Aku siap siaga, sumoi! Tanpa kau minta sekalipun, aku memang akan mencarinya untuk membalaskan sakit hatimu ini!"

"Terima kasih, suheng. Hanya engkau seoranglah yang dapat kumintai bantuan, yang dapat kuharapkan. Nah, sekarang juga kita berangkat untuk mengejar dan mencari Sie Liong!"

"Ehh? Sekarang? Tidak menanti sampai selesai pemakaman ayahmu?"

"Tidak, kalau terlambat, dia akan pergi terlalu jauh. Aku sudah siap sedia, lihat, ini buntalan sebagai bekal perjalanan sudah kusiapkan. Mari, kita berangkat sekarang juga!"

Pemuda itu masih bingung karena kepergian itu demikian mendadak, walaupun hatinya merasa girang sekali bahwa dia akan berdua lagi dengan sumoinya, berdua melakukan perjalanan!

"Kau.... aku tidak berpamit kepada ibumu?"

Gadis itu menggeleng kepalanya dengan wajah duka. "Tidak, ibu melindungi adiknya, lebih baik aku tidak menemuinya sebelum aku dapat membalas dendam kepada pembunuh ayahku!" Berkata demikian, gadis itu lalu pergi, diikuti Bong Gan, keluar meninggalkan rumah itu dari pintu samping sehingga tidak kelihatan oleh para tetangga yang datang berlayat.

Ketika Sie Lan Hong mendengar bahwa puterinya lenyap bersama suhengnya, pergi tanpa pamit, iapun jatuh pingsan. Tidak kuat ia menahan pukulan batin yang bertubi-tubi itu. Yang terutama sekali memberatkan hati nyonya ini adalah karena ia dapat menduga ke mana perginya puterinya itu. Tentu ia hendak pergi mencari Sie Liong untuk menuntut balas dendam! Maka iapun merasa menyesal sekali mengapa ia tidak segera menceritakan saja sebab-sebab yang mendorong Sie Liong membunuh Yauw Sun Kok. Kalau ia sudah menceritakan, tentu Bi Sian akan mengerti dan dapat memaklumi mengapa pamannya itu membunuh ayahnya, karena memang ayahnya amatlah jahatnya!

Setelah suaminya tewas dan dimakamkan, Sie Lan Hong hidup seorang diri dalam keadaan sederhana. Ia berdagang dengan modal seadanya, dan setiap hari ia berprihatin, bersembahyang dan mohon kepada Tuhan Yang Maha Kasih untuk melindungi puterinya dan untuk mencegah agar puterinya jangan sampai membunuh Sie Liong. Kalau hal ini terjadi habislah hidupnya. Ia tidak akan berani melanjutkan lagi kehidupannya penuh dengan penyesalan kalau sampai puterinya membunuh Sie Liong. Ia tidak khawatir kalau puterinya akan terbunuh oleh Sie Liong. Ia sudah mengenal benar watak adiknya yang bongkok itu. Sampai bagaimanapun juga, Sie Liong tidak akan membunuh Bi Sian. Hal ini ia yakin sama yakinnya bahwa di dasar hatinya, adiknya itu amat mencinta dan menyayang Bi Sian.

***

Wanita itu berusia kurang lebih dua puluh empat tahun. Ia seorang wanita yang mempunyai daya tarik besar sekali. Wajahnya yang berbentuk lonjong itu berkulit putih mulus kemerahan. Matanya jeli dan kedua ujungnya meruncing dan kerlingannya dapat menarik hati pria seperti besi semberani menarik besi. Senyumnya manis sekali, dengan bibir yang lembut itu pandai bergerak-gerak penuh tantangan. Tubuhnya bagaikan bunga sedang mekar, dengan lekuk lengkung yang indah menggairahkan, tidak begitu disembunyikan karena pakaiannya yang ketat dengan jelas membayangkan keindahan bentuk tubuh itu. Dadanya padat, pinggangnya kecil, pinggulnya besar, langkahnya seperti seekor singa kelaparan. Pada lengan, kaki dan leher nampak ditumbuhi bulu lembut dan ini menambah daya tarik. Pakaiannya juga indah, dari sutera yang mahal.

Ketika wanita itu memasuki pintu gerbang kota Ho-tan, semua mata pria yang melihatnya, memandang dengan melotot. Bahkan ada yang matanya sampai mau meloncat keluar. Kalamenjing banyak pria bergerak naik turun, seperti orang kehausan melihat buah yang segar, ada yang lidahnya terjulur ke luar menjilat-jilat bibir sendiri, seperti kucing-kucing kelaparan melihat tikus yang montok. Pendeknya, jarang ada pria yang melewatkan penglihatan seindah itu begitu saja. Bahkan di antara mereka yang memang berwatak ceriwis dan nakal, tersenyum menyeringai, ada pula yang berdehem, ada yang memuji dengan suara. Bermacam-macamlah ulah para pria yang salah tingkah itu ketika melihat wanita yang menggiurkan ini, dan kalau saja sinar mata dapat menusuk seperti anak-anak panah, tentu tubuh wanita itu sudah penuh dengan luka!

Wanita itu bukan tidak sadar bahwa dirinya dijadikan tontonan ypng mengasikkan. Ia sadar sepenuhnya akan kecantikannya, dan ia tidak marah, bahkan bangga dan gembira sekali menjadi pusat perhatian dan pujian. Maka ia sengaja membuat lenggangnya semakin menggairahkan, pinggulnya yang montok itu seperti menari-nari, pinggangnya meliak-liuk seperti batang pohon yang tertiup angin, matanya mengerling ke kanan kiri dengan lembut namun tajam, dan bibirnya yang merah membasah itu bergerak-gerak mengarah senyum. Manis sekali!

Semua orang bertanya-tanya siapa gerangan wanita muda yang amat cantik itu. Kalau wanita penduduk biasa dari kota Ho-tan, kiranya tidak mungkin karena melihat pakaiannya yang indah dan mewah, tentu ia seorang wanita kaya raya, mungkin seorang puteri bangsawan. Kalau ia benar wanita bangsawan dari luar kota, mengapa datang hanya berjalan kaki saja? Tidak naik kereta? Wanita cantik itu penuh teka-teki, dan kalau ia lebih lama berada di kota itu, tentu segera akan ada orang yang berani mendekatinya untuk bertanya dan memperkenalkan diri. Terlalu cantik ia dibiarkan sendirian saja di tempat ramai itu. Seperti setangkai bunga, yang terlalu cantik dibiarkan tumbuh di hutan tanpa ada yang melindungi, seperti setangkai buah yang segar dan matang, tentu takkan lama bertahan tergantung di dahan pohon tanpa ada yang memetiknya.

Sudah mulai banyak pria tua muda yang diam-diam membayanginya! Senja telah mulai tua dan malam sudah menjelang masuk. Mereka yang membayanginya, merasa heran ketika melihat wanita cantik itu menuju ke sebuah kuil tua di pinggir kota. Padahal kuil tua itu sudah kosong dan tidak digunakan lagi, merupakan sebuah rumah tua yang ditakuti penduduk karena dikabarkan bahwa kuil itu sekarang menjadi tempat tinggal siluman-siluman! Hampir tidak ada orang berani memasuki, apalagi memasuki kuil, bahkan masuk ke halamannyapun jarang ada yang berani, setelah hari mulai gelap. Banyak orang mengabarkan bahwa kalau malam gelap, seringkali terdengar suara-suara aneh dari tempat yang angker itu!

Ketika mereka yang membayangi wanita itu melihat betapa si cantik itu melenggang lenggok memasuki pekarangan kuil, sudah banyak di antara mereka yang diam-diam menahan kaki mereka, lalu membalikkan tubuh dan pergi dengan bulu tengkuk meremang. Sebagian masih bertahan, diliputi keheranan mau apa seorang cantik seperti itu memasuki pekarangan kuil yang menyeramkan itu? Ketika mereka melihat bahwa wanita itu terus melangkah masuk ke dalam kuil yang gelap, kotor dan tua itu, semua orang membalikkan tubuh dan lari tunggang langgang! Tidak salah lagi, sudah pasti siluman yang mereka bayangi itu! Siluman yang suka menggoda pria, biasanya siluman rubah yang dapat merobah diri menjadi wanita cantik sekali. Kalau ada pria yang tertarik dan terpikat, akan dibawanya ke dalam kuil dan pada keesokan harinya, tentu pria itu ditemukan dalam keadaan mati konyol atau setidaknya tentu gila!

Kalau saja di antara mereka itu ada yang bernyali besar dan terus membayangi wanita itu masuk ke dalam kuil tentu dia akan menjadi semakin heran. Wanita itu setelah tiba di dalam kuil, tiba-tiba saja bergerak cepat sekali, tubuhnya sudah mencelat naik ke atas wuwungan rumah dan ia mengintai dari atas ke arah jalan yang menuju ke kuil. Dari atas, dalam cuaca yang sudah mulai gelap, ia dapat melihat mereka yang tadi membayanginya, satu demi satu meninggalkan jalan itu, bahkan ada yang lari pontang panting, kembali ke tengah kota. Wanita itu tersenyum geli, bibirnya yang menggairahkan itu berjebi mengejek, lalu tubuhnya melayang turun lagi setelah ia merasa yakin bahwa tidak ada seorangpun yang mengikutinya masuk ke dalam kuil.

"Hi-hik," ia tertawa lirih dan berbisik-bisik, "biarkan mereka mengira aku siluman. Memang aku siluman.... hi-hik, siluman aseli....!" Ia lalu melangkah masuk ke dalam ruangan belakang kuil itu, bagian yang masih agak utuh karena banyak bagian yang sudah rusak dan dindingnya retak-retak.

Ketika ia tiba di ruangan belakang dan membuka pintu sebuah kamar, orang itu tentu akan berseru keheranan dan ketakutan melihat betapa kamar yang diterangi oleh nyala api lilin itu merupakan sebuah kamar yang bersih, berbau harum dan sama sekali tidak pantas berada di dalam kuil tua yang kotor itu! Kamar ini cukup besar, terdapat sebuah pembaringan yang lebar sekali, cukup untuk tidur enam tujuh orang! Sebuah pembaringan yang diberi kasur tebal dan ditilami kain kapas yang berwarna merah muda, dengan kelambu besar berwarna ungu! Bantal-bantalnya bersih, dengan sarung yang disulam bunga-bunga dan burung, ada pula selimutnya yang merah dan tebal. Dan di kamar itu terdapat pula lima buah kursi dan sebuah meja dan di atas meja itu terdapat guci arak dan cawan lengkap, juga roti kering, manis-manisan, buah-buahan dan makanan-makanan kering! Sebuah kamar yang menyenangkan. Dan yang lebih mengherankan lagi dari pada semua itu adalah tiga orang pemuda yang usianya antara dua puluh sampai dua puluh lima tahun, kesemuanya hanya mengenakan pakaian dalam yang minim, tiga orang pemuda yang tampan dan dengan tubuh yang sehat dan mulus, mereka menyambut kedatangan wanita itu dengan uluran tangan penuh gairah berahi, dan dengan pandang mata penuh kasih sayang dan senyum memikat!

Ketika wanita itu mendekati pembaringan, tiga orang pemuda itu menyambutnya dengan rangkulan, ciuman-ciuman mesra dan belaian-belaian penuh gairah. Wanita cantik itu sampai kewalahan menghadapi penyambutan mesra tiga orang pria muda itu, ia tertawa cekikikan lalu melepaskan diri dan duduk di atas kursi, memandang mereka bertiga yang duduk di atas pembaringan. Ketiganya sama-sama tampan, ganteng, jantan dan menarik, pikirnya. Akan tetapi setelah bermain-main dengan mereka, berenang di dalam lautan kemesraan sampai lupa waktu dan lupa batas selama tiga hari tiga malam, ia telah mulai bosan!

Siapakah wanita cantik yang menggairahkan akan tetapi juga mengerikan itu? Ia bukan lain adalah Pek Lan! Tujuh tahun yang lalu, ketika ia berusia tujuh belas tahun, Pek Lan menjadi selir tersayang dari Coa Hun yang terkenal sebagai Coa-wangwe (Hartawan Coa), seorang yang ketika itu berusia sekitar lima puluh tahun dan merupakan orang terkaya di kota Ye-ceng. Akan tetapi, Pek Lan, keturunan Kirgiz dan Han itu, memiliki darah panari dan nafsu berahi yang besar sehingga ia tidak puas hanya melayani seorang suami yang usianya sudah setengah abad. Maka, melihat betapa putera angkat hartawan itu, biarpun baru berusia tiga belas tahun namun sudah cukup besar, ia merayu anak itu yang bukan lain adalah Bong Gan sehingga terjadilah hubungan gelap di antara mereka. Para selir dan pelayan yang merasa iri melihat Pek Lan menjadi selir terkasih, melihat hubungan itu dan mereka melaporkan kepada Coa-wangwe sehingga dua orang itu tertangkap basah, lalu diusir dari rumah keluarga Coa.

Seperti kita ketahui, Pek Lan bertemu dengan Hek-in Kui-bo, nenek iblis yang mengambilnya sebagai murid. Nenek ini bukan hanya mengajarkan ilmu-ilmu silat yang tinggi dan amat kejam, juga mewariskan pula wataknya yang amat jahat, kejam, licik dan tidak pantang segala macam perbuatan buruk atau kemaksiatan apapun! Maka bagi Pek Lan, tidak ada perbuatan jahat yang dipantangnya dan ia tumbuh semakin dewasa dan matang menjadi seorang wanita yang berwatak iblis! Juga nafsu berahinya semakin menjadi-jadi! Untuk memuaskan nafsunya ini, ia memilih pria yang disukanya, dirayu atau dipaksa untuk melayaninya sampai ia merasa puas dan kalau ia sudah merasa bosan, pria itu lalu diusir begitu saja, dan kalau banyak rewel bahkan dibunuhnya! Akan tetapi perbuatan ini ia lakukan di luar rumah subonya. Subonya memiliki sebuah rumah yang mewah di tepi telaga Go-sa dan mereka hidup sebagai orang kaya raya. Guru dan murid ini telah mencuri sejumlah harta dari gedung Pangeran Cun Kak Ong di kota Ho-tan, dan selama tujuh tahun terakhir ini, kalau mereka kekurangan uang, mudah saja bagi mereka untuk mengisi kembali gudang harta mereka. Seluruh tokoh sesat dari dunia hitam berlumba untuk menyerahkan sebagian dari hasil mereka kepada Hek-in Kui-bo yang mereka anggap sebagai datuk mereka. Dan selain itu, amat mudah bagi Pek Lan yang sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi untuk mengambil begitu saja dari gudang-gudang harta para hartawan atau bangsawan.

Setelah lewat tujuh tahun dan merasa bahwa dirinya sudah dibekali ilmu-ilmu yang hebat, Pek Lan teringat akan penghinaan yang pernah dideritanya di rumah keluarga Coa-wangwe di kota Ye-ceng. Oleh karena itu, ia berpamit dari subonya dan pergi ke kota itu, dengan maksud untuk membalas semua penghinaan yang pernah diterimanya, tentu saja berikut bunga-bunganya! Dan ketika ia tiba di kota Ye-ceng, ia melihat tiga orang pemuda yang dijumpainya dalam perjalaran. Tiga orang pemuda yang tampan, muda dan jantan. Perhatiannya segera tercurah kepada mereka, dan untuk sementara itu melupakan urusannya di Ye-ceng, sibuk memikat tiga orang pemuda itu. Tidak sukar baginya untuk menjatuhkan hati mereka, dengan kecantikannya dan kemontokan tubuhnya. Segera ia membawa pemuda-pemuda itu ke dalam kuil tua, di mana ia telah membuat sebuah kamar yang indah dan selama tiga hari tiga malam ia berenang dalam lautan kemesraan dan kenikmatan bersama mereka sampai ia merasa agak bosan. Dan setelah bosan, baru ia teringat kembali akan maksudnya semula datang ke kota Ye-ceng itu.

Ketika tiga orang pemuda yang sudah tergila-gila kepada wanita cantik itu membelai dan menciuminya, Pek Lan yang semula merasa bosan lalu melepaskan diri dan duduk di atas kursi, memandang kepada mereka bertiga sambil tertawa cekikikan.

"Sudahlah, aku malam ini tidak dapat main-main dengan kalian, karena mempunyai urusan penting. Kalian makan minum yang kenyang, istirahat baik-baik dan malam nanti, larut tengah malam, atau besok pagi-pagi, aku akan kembali ke sini dan kalian harus bersiap-siap untuk kita bertanding lagi...." Ia tertawa cekikikan seperti siluman dan tiga orang pemuda itupun tertawa gembira. Mereka tidak perduli apakah Pek Lan seorang manusia biasa, ataukah seorang dewi atau seorang siluman! Yang jelas, wanita itu telah menyenangkan hati mereka, memberi mereka kenikmatan yang selama hidup mereka belum pernah mereka rasakan.

Setelah bermain-main dan bersendau-gurau dengan tiga orang pemuda itu dan malam mulai gelap, Pek Lan melepaskan diri lagi dari tangan-tangan mereka, lalu sekali berkelebat iapun sudah lenyap dari dalam kamar itu! Tiga orang pemuda itu hanya dapat merasa heran dan kagum. Kalau sudah ditinggalkan begitu, ketiganya baru mulai merasa ngeri dan seram, menduga-duga siapa gerangan wanita cantik yang selama tiga hari tiga malam mengajak mereka berenang dalam lautan asmara itu.

Tubuh Pek Lan lenyap berubah menjadi bayangan yang gerakannya cepat sekali dan dalam waktu singkat, bayangan telah berada di atas genteng rumah gedung keluarga Coa. Kemudian, beberapa kali bayangan itu berkelebat dan melayang turun, dan ia sudah berada di dalam gedung yang amat luas itu. Di bawah sebuah lampu dinding di dekat taman, ia berhenti dan memandang ke sekeliling sambil tersenyum. Selama tujuh tahun ini, tidak banyak perubahan nampak di rumah itu masih tetap mewah dan indah. Rumah yang amat dikenalnya. Lalu ia mengingat-ingat. Ada tiga orang selir muda dan cantik yang menjadi saingannya dan yang dulu melaporkannya kepada Coa-wangwe. Di samping tiga orang selir itu, juga terdapat dua orang pelayan pria dan seorang tukang kebun pria. Sudah lama ia merencanakan cara ia membalas dendam, dan kini ia tersenyum sendiri. Senyum itu membuka sepasang bibirnya yang merah basah, dan memperlihatkan kilatan giginya yang putih berderet rapi. Cantik memang, akan tetapi juga mengerikan, karena sepasang matanya mencorong dan wajah yang cantik itu seperti wajah seorang siluman tulen!

Ia masih ingat di mana adanya kamar-kamar dari para selir dan para pelayan itu. Dengan amat mudahnya, ia membuka daun jendela sebuah kamar dan bagaikan seekor kucing saja, ia melompat ke dalam. Ia membuka kelambu pembaringan yang tertutup dan melihat seorang di antara musuh-musuhnya, yaitu selir yang tinggi semampai, tidur nyenyak seorang diri memeluk guling. Ia mengguncang pinggul wanita itu yang segera membuka matanya dan terbelalak melihat seorang wanita cantik yang asing di depan pembaringannya.

"Apa.... siapa kau....?" tanyanya gagap.

Pek Lan tersenyum manis. "Benarkah engkau sudah lupa kepadaku? Ingat tujuh tahun yang lalu...."

"Pek Lan....! Kau.... Pek Lan....?" selir itu berseru kaget akan tetapi pada saat itu, Pek Lan menggerakkan tangannya dan selir itu terkulai lemas dan tak mampu mengeluarkan suara. Matanya terbelalak ketakutan ketika Pek Lan menariknya, memanggulnya dan membawanya melompat keluar dari kamar melalui jendela yang daunnya ia tutupkan kembali. Ia membawa tubuh selir itu ke dalam Pondok Merah, yaitu sebuah bangunan mungil di tengah taman di mana biasanya Hartawan Coa menghibur diri, mendengarkan nyanyian dan melihat tarian yang dilakukan oleh para selirnya atau rombongan penari yang diundangnya. Karena malam itu Pondok Merah tidak dipergunakan, maka pintunya dikunci dari luar. Namun, dengan mudah Pek Lan mendorongnya terbuka dan ia membawa tubuh selir itu ke sebuah kamar di pondok itu dan melemparkan tubuh itu ke atas pembaringan. Selir itu hanya dapat terbelalak, tidak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya, akan tetapi ia ngeri melihat pandang mata Pek Lan yang mencorong seperti bukan mata manusia biasa itu!

Selir ke dua juga diseret ke dalam Pondok Merah dalam keadaan tertotok, lumpuh dan tidak mampu mengeluarkan suara oleh Pek Lan dan dilempar ke dalam kamar yang lain dalam pondok.

Ketika ia memasuki kamar selir ke tiga yang menjadi musuhnya, ternyata selir ini tidur dengan seorang anak perempuan berusia kurang lebih dua tahun. Kiranya selir ini telah mempunyai anak. Akan tetapi ia tidak perduli. Ia menotok selir ini dan juga menotok anak kecil itu agar jangan menangis dan menggagalkan rencananya, kemudian membawa pula selir ke tiga ini ke dalam Pondok Merah. Kebetulan pondok itu memiliki tiga buah kamar dan kini tiga orang selir itu telah berada di dalam kamar-kamar itu.

Kini Pek Lan menuju ke deretan kamar para pelayan. Iapun masih ingat di mana letak kamar dari para pelayan yang dianggapnya musuh. Seorang di antara mereka sudah mempunyai isteri yang juga bekerja di situ sebagai tukang cuci. Ia tidak perduli, dan seperti yang dilakukan kepada para selir tadi, iapun dengan mudah, seperti setan saja, memasuki kamar pelayan dan menotok mereka, lalu menyeret mereka menuju ke pondok di taman bunga. Isteri seorang di antara tiga pelayan pria itupun ditotoknya sehingga tidak mampu berkutik maupun berteriak. Pek Lan melempar-lemparkan tiga orang pelayan prla itu ke atas pembaringan di dalam tiga buah kamar. Mereka itu tumpang tindih di atas pembaringan tanpa dapat berterak, juga mereka hanya terbelalak saja ketakutan ketika Pek Lan merobek-robek pakaian mereka sehingga enam orang di dalam tiga kamar itu semua menjadi telanjang bulat.

Setelah membiarkan tiga pasang manusia itu dalam keadaan tanpa pakaian bertumpang tindih di atas pembaringan, Pek Lan tersenyum girang. Di bawah sinar lampu, wajahnya yang cantik manis itu nampak amat menyeramkan, menyeringai sepertl iblis betina. Matanya mencorong dan giginya berkilauan. Kemudian ia menyelinap ke belakang rumah pondok itu dan membakar bagian belakang rumah, lalu dipukulnya kentongan bambu membuat gaduh.

Sebentar saja, semua penghuni rumah gedung hartawan Coa menjadi gempar mendanger kentongan bertalu-talu dari belakang itu. Mereka cepat memasuki taman dan menjadi semakin geger melihat pondok di taman itu.

"Pondok Merah kebakaran!" demikian teriakan mereka dan semua orang lalu berusaha memadankan api yang membakar bagian belakang pondok itu dengan siraman air. Tiga pasang orang yang berada di dalam tiga kamar itu tentu saja mendengar semua keributan ini, namun mereka tidak mampu bergerak dan hanya menanti dengan hati tegang.

Akhirnya api itu padam dan dipimpin oleh Coa-wangwe sendiri, semua orang memasuki pondok mengadakan pemeriksaan dan apa yang mereka dapatkan? Tiga pasang orang yang saling tindih di atas pembaringan dalam tiga kamar itu, tanpa pakaian sama sekali! Tentu saja keadaan menjadi semakin geger. Semua orang tahu bahwa tiga orang selir Coa-wangwe secara tak tahu malu sekali telah mengadakan perjinaan dengan tiga orang pelayan pria dan agaknya mereka demikian asyiknya sehingga mereka tidak tahu bahwa pondok yang menjadi tempat pertemuan mereka itu terbakar bagian belakangnya!

Ketika tiga pasang orang itu tidak mampu bergerak, hanya memandang dengan ketakutan. Coa-wangwe tentu saja menganggap mereka itu pura-pura atau tidak mampu bergerak karena ketakutan. Dia tidak perduli dan menyuruh para pelayan menyeret enam orang itu turun dari pembaringan, lalu dalam keadaan masih telanjang bulat itu mereka diberi hukuman masing-masing dua puluh kali cambukan bagi para selir dan lima puluh kali cambukan bagi para pelayan pria.

Kulit punggung dan pinggul mereka sampai pecah-pecah berdarah. Setelah itu, mereka diusir, hanya membawa pakaian mereka saja, bahkan selir yang sudah mempunyai anak, tidak diperbolehkan membawa anaknya.

Setelah melampiaskan kemarahannya, marah bukan hanya karena selir-selirnya menyeleweng dengan para pelayan, melainkan karena nama baiknya tercemar dan seluruh penduduk Ye-ceng pasti akan segera mendengar peristiwa yang amat memalukan itu, Coa-wangwe memasuki kamarnya. Dia tidak memperbolehkan isterinya atau selir lain menemaninya karena dia ingin mengaso dan membiarkan hawa amarah mereda.

Akan tetapi ketika dia memasuki kamarnya yang besar dan mewah, menutupkan pintu karena dia tidak ingin diganggu, dan membalik hendak menuju ke pembaringannya, dia terbelalak dan mulutnya ternganga. Di atas pembaringannya itu telah rebah seorang wanita yang luar biasa cantiknya. Cantik manis, kulitnya yang putih mulus itu nampak karena pakaiannya setengah terbuka. Sepasang mata yang mengerling tajam, senyum yang semanis madu dan sikap yang menantang!

"Kau.... kau.... Pek Lan?" Coa-wangwe berseru heran dan juga terkejut. Biarpun wanita itu tidak semuda dulu lagi, namun ia telah menjadi seorang wanita yang matang, jauh lebih menarik daripada dulu ketika masih menjadi selirnya, ketika masih berusia tujuh belas tahun! Pek Lan yang rebah di pembaringannya, miring menghadap kepadanya itu adalah seorang wanita yang matang dan merangsang!

Pek Lan tersenyum. Manis! "Aih, Coa-wangwe, engkau masih ingat kepadaku? Sungguh menggembirakan!"

"Tentu saja aku masih ingat!" Hartawan itu mendekati pembaringan, lalu duduk di tepi pembaringan. "Siang melam aku ingat kepadamu, Pek Lan, wajahmu selalu terbayang dan aku amat rindu kepadamu, sayang. Setelah engkau pergi, barulah aku tahu betapa besar cintaku kepadamu...."

Tangan hartawan tua itu hendak meraih, akan tetapi wanita itu mengelak. "Hemm, kalau memang benar engkau begitu cinta kepadaku, kenapa tangkau mengusir aku? Sesungguhnya anak angkatmu itulah yang kurang ajar! Aku dipaksanya dan karena aku takut, dia itu anak angkatmu, terpaksa aku tidak dapat membantah. Kenapa engkau tidak melihat kenyataan itu? Engkau telah dihasut oleh tiga orang selirmu itu. Dan apa buktinya sekarang? Merekalah yang berjina, bahkan dengan para pelayan. Sungguh memalukan keluarga dan mencemarkan nama dan kehormatanmu!"

Hartawan Coa menghela napas panjang. "Salahku, aku begitu bodoh. Tapi, sekarang mereka telah kuhukum dan kuusir. Dan engkau, Pek Lan.... engkau begini cantik jelita.... aih, kulitmu begitu mulus, engkau lebih cantik manis daripada dahulu. Engkau kembali, sayang? Engkau akan kujadikan selir pertama, bukan, akan kuangkat menjadi isteri yang sah!" Kembali hartawan itu meraih. Ketika Pek Lan membiarkan dan tangan hartawan itu menyentuh lengannya yang berkulit lembut dan hangat, hartawan itu segera dirangsang nafsu berahi. Akan tetapi ketika dia hendak merangkul, Pek Lan melompat turun dari tempat tidur. Melihat wanita itu berdiri di lantai, Coa-wangwe menjadi semakin kagum. Tubuh itu demikian padat, menggiurkan, tidak lagi kekanak-kanakan seperti dahulu!

"Pek Lan....!"

"Cukup! Turunlah dan jangan merengek seperti itu. Aku datang bukan untuk itu. Aku tidak butuh cintamu, tidak butuh laki-laki macam engkau yang sudah tua dan berperut gendut berkepala botak itu!"

"Pek Lan....!"

"Dengar! Aku datang untuk menagih hutang! Engkau pernah mengusirku, tanpa memberi bekal. Padahal, aku telah menyerahkan diri kepadamu, menyerahkan kegadisanku dan mandah saja menjadi barang permainanmu, menjadi pemuas nafsumu. Sekarang, engkau harus membayar untuk itu semua! Aku akan mengambil semua hartamu yang kausimpan di dalam almari tebal ini!" Ia sudah hafal akan hal itu dan kini ia menghampiri sebuah almari hitam yang berdiri di sudut. Melihat dan mendengar ini, Coa-wangwe menjadi terkejut dan lenyaplah sudah nafsu berahinya, seperti awan tipis ditiup angin.

"Pek Lan, apa yang kaulakukan itu?" bentaknya marah. Tentu saja dia tidak merasa takut kepada bekas selirnya itu. Diapun melangkah lebar menghampiri Pek Lan dan menjulurkan tgngan untuk menangkap lengan wanita itu agar tidak menghampiri almari besi tempat hartanya tersimpan.

"Plakk! Dukk!" Dan hartawan Coa terjungkal. Lengannya yang tertangkis seperti patah rasanya, dan perut yang ditendang menjadi mulas.

"Aku datang hanya untuk mengambil hartamu, bukan mengambil nyawamu!" kata Pek Lan. "Akan tetapi kalau aku marah, nyawamu juga akan kuambil sekalian!"

Kini hartawan itu ketakutan dan dia lari ke arah pintu kamar. Pek Lan tidak memperdulikan dan ia sudah membuka almari tebal itu dengan mudah walaupun almari itu dikunci. Begitu terbuka, nampaklah bahwa almari itu dipenuhi perhiasan-perhiasan dari emas permata, juga bongkah-bongkah emas murni yang berkilauan.

"Tolong....! Perampok...., pembunuh....!" Coa-wangwe yang sudah keluar dari kamar itu menjerit-jerit. Pek Lan tidak perduli, enak-enak saja mengumpulkan emas dan perhiasan itu ke dalam sebuah kantung kain yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Lima orang jagoan yang menjadi tukang pukul, tukang tagih dan penjaga keamanan keluarga hartawan itu sudah dipanggil dari luar dan kini mereka berlima lari menuju ke kamar itu. Begitu mereka tiba di ambang pintu kamar, mereka bengong dan menoleh kepada Coa-wangwe. Di dalam kamar itu hanya terdapat seorang wanita cantik, sama sekali tidak nampak ada perampok. Bahkan wanita cantik itu memasukkan emas dari dalam almari ke dalam sebuah kantung.

"Maaf, loya, di mana perampoknya?"

"Mana ada pembunuh?"

Coo-wangwe menuding ke arah Pek Lan. "Ia itulah perampoknya! Lihat, ia mengambil semua hartaku, dan ia telah memukulku!" Dia meringis kesakitan, mengelus perutnya yang masih mulas.

Lima orang penjaga itu tentu saja menjadi bengong. Wanita cantik itu perampoknya? Dan kini, seorang di antara mereka yang paling lama bekerja di situ mengenal Pek Lan. "Bukankah.... bukankah engkau nona Pek Lan....?"

Pek Lan yang masih sibuk memasuk-masukkan barang berharga itu ke dalam kantung, menoleh dan tersenyum manis. "Hemm, engkau masih mengenalku? Bagus, untuk itu aku tidak akan membunuhmu!"

Coa-wangwe menjadi marah. "Untuk apa bercakap-cakap dengan wanita iblis itu? Tangkap ia dan belenggu kaki tangannya!"

Lima orang jagoan itu memasuki kamar dan mengepung Pek Lan dengan setengah lingkaran.

"Nona Pek Lan, lebih baik kalau engkau menyerah saja dan tidak melawan sehingga tidak perlu kami mempergunakan kekerasan," kata penjaga yang sudah mengenalnya itu. Dia merasa sayang kalau harus mempergunakan kekerasan terhadap wanita yang luar biasa cantik manisnya itu.

Kantung itu sudah penuh dan biarpun almari itu masih belum terkuras semua, namun sebagian besar perhiasan yang termahal sudah berpindah tempat. Pek Lan mengikat mulut kantong dan dengan kain sutera yang sudah dibawanya, digendongnya kantung yang cukup berat itu di punggung, lalu ia menghadapi lima orang penjaga sambil tersenyum.

"Majulah dan turuti majikan kalian kalau kalian ingin merasakan kematian!"

Tentu saja lima orang penjaga itu tidak takut. Ancaman itu hanya keluar dari mulut seorang wanita cantik yang dahulunya adalah selir majikan mereka! Seorang wanita muda cantik yang lemah lembut dan berkulit halus mulus seperti itu, tentu saja tidak menakutkan! Empat orang penjaga tidak sabar lagi dan mereka memang sudah ingin sekali segera menangkap dan merangkul wanita cantik itu, maka merekapun menyerbu dan seperti hendak berebut dulu menerkam Pek Lan. Wanita ini tersenyum, tubuhnya berkelebat, kaki tangannya bergerak dan lima orang penjaga itupun terjengkang! Entah apa yang dilakukan, tidak dapat dilihat oleh lima orang itu saking cepatnya gerakan kaki tangan Pek Lan. Tahu-tahu lima orang itu merasa dada atau perut mereka terpukul atau tertendang, keras sekali, membuat mereka terjengkang. Coa-wangwe dan para selir dan pelayan yang berada di luar kamar, mundur ketakutan melihat betapa lima orang penjaga itu terjengkang dan terbanting.

"Tangkap ia! Bunuh!" Coa-wangwe memberi semangat kepada lima orang penjaganya yang sudah bangkit kembali. Dia merasa khawatir sekali melihat betapa hampir semua hartanya diambil oleh Pek Lan. Lima orang penjaga itu menjadi malu sekali. Dalam segebrakan mereka telah dirobohkan oleh seorang wanita muda yang cantik! Mereka kini mencabut senjata golok dari pinggang dan dengan sikap mengancam mereka mengepung lagi dari depan.

Melihat ini, Pek Lan tersenyum. "Kalau kalian berani menyerangku dengan golok itu, kalian akan mampus!"

Akan tetapi, lima orang penjaga itu sudah terlalu marah dan karena mereka memegang senjata, pula mereka berlima, tentu saja mereka tidak gentar menghadapi Pek Lan yang bertangan kosong, walaupun mereka tahu bahwa wanita itu lihai sekali. Sambil mengeluarkan bentakan nyaring, merekapun menerjang, golok mereka gemerlapan tertimpa sinar lampu dan lima batang golok sudah menyambar-nyambar ke arah Pek Lan.

Akan tetapi, dengan tenang sekali Pek Lan berloncatan. Tubuhnya bagaikan berubah menjadi bayangan yang menyelinap di antara gulungan sinar golok. Anehnya, tak pernah ada golok yang mampu menyentuhnya. Tiba-tiba, penjaga yang mengenal Pek Lan tadi mengaduh dan diapun roboh, goloknya sudah berpindah ke tangan Pek Lan!

Empat orang penjaga lain mempercepat gerakan serangan mereka. Akan tetapi, Pek Lan menggerakkan goloknya, dengan gerakan memutar sehingga nampak sinar panjang golok itu menyambar ke arah empat orang lawannya dan terdengar mereka itu menjerit dan seorang demi seorang roboh berkelojotan dengan leher hampir putus! Darah bercucuran membanjiri lantai. Pek Lan memandang kepada penjaga yang mengenalnya tadi, yang dirobohkannya dengan tendangan dan dirampas goloknya dan iapun tersenyum.

"Aku sudah berjanji tidak akan membunuhmu!" katanya, akan tetapi goloknya bergerak dan orang itupun menjerit karena pundaknya terbacok golok sehingga terluka parah. Akan tetapi, betapapun parahnya, dia tidak akan mati.

Pek Lan meloncat keluar kamar. Semua selir dan pelayan lari ketakutan. Coa-wangwe juga melarikan diri, akan tetapi suara halus terdengar membentak di belakangnya.

"Engkau hendak mencelakai aku, maka patut dihukum!" Goloknya menyambar dan hartawan itu menjerit-jerit sambil memegangi kepala dengan kedua tangan.

Dua buah daun telinganya telah buntung terbabat golok. Pek Lan tertawa, membuang goloknya lalu melompat keluar, menghilang dalam kegelapan malam.

Peristiwa itu tentu saja cepat sekali tersiar dan dalam waktu beberapa hari saja, hampir seluruh penduduk koto Ye-ceng telah mendengar akan peristiwa hebat yang menimpa keluarga Coa. Bukan hanya orang suka sekali membicarakan malapetaka yang menimpa keluarga Coa, juga membicarakan aib yang mencemarkan nama dan kehormatan hartawan itu, dan yang paling menggegerkan orang adalah berita tentang Pek Lan yang kini menjadi seorang wanita cantik yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali dan juga berwatak amat kejam.

Peristiwa lain yang amat menggemparkan adalah ditemukannya tiga orang pria muda yang sudah menjadi mayat di dalam sebuah kuil tua. Mereka tewas dalam keadaan yang amat aneh, yaitu berada di atas pembaringan di dalam kuil tua itu, hampir tanpa pakaian, dan kepala mereka retak seperti telah dipukul dengan benda keras. Tak seorangpun menduga bahwa mereka ini, tiga orang pemuda tampan, juga tewas di tangan Pek Lan, dan tangan lembut halus itulah yang telah membikin retak kepala mereka dengan tamparan yang amat ampuh! Pek Lan membunuh tiga orang muda itu karena mereka itu dianggap akan dapat membocorkan rahasianya!

Maka muncullah di dunia kang-ouw seorang iblis betina yang amat berbahaya, bahkan lebih berbahaya dari pada Hek-in Kui-bo, guru Pek Lan di waktu masih muda. Biarpun Hek-in Kui-bo dahulu juga seorang wanita gila laki-laki, pengumbar nafsu jahat, namun dibandingkan Pek Lan, ia masih kalah sedikit. Pek Lan, di samping ilmu kepandaiannya yang tinggi, dan perasaan bencinya kepada semua orang yang dianggap merugikan, juga memiliki kecantikan yang amat menarik. Dengan senjata ini, mudah saja baginya untuk menjatuhkan hati setiap orang pria yang akan dijadikan korbannya.

Wanita itu memang manis. Seorang wanita petani yang rajin. Agaknya karena sudah terbiasa bakerja keras di sawah ladang, maka wanita itu memiliki tubuh yang padat dan sehat kuat, pinggangnya ramping pinggulnya besar, tubuhnya tegak. Biarpun kulit kaki tangan, leher dan mukanya agak kecoklatan karena sinar matahari, namun coklat yang sehat dan kulit itu tetap halus mulus. Wajahnya yang manis tidak berkurang karenanya, bahkan nampak lebih manis karena mengandung kewajaran tanpa alat rias. Usianya masih muda, paling banyak dua puluh lina tahun.

Wanita petani ini sedang sibuk mencabuti rumput dan tumbuh-tumbuhan liar di antara tanaman gandum. Ia menggunakan caugkul atau kadang-kadang juga sebuah arit dan ia bekerja dengan asyik sekali. Sungguh merupakan penglihatan yang mengagumkan. Wanita itu kadang-kadang membungkuk, dan kedua tangannya bergerak dengan cekatan, bantuk tubuhnya indah ketika membungkuk dan kadang juga berdiri tegak untuk membuang segenggam rumput keluar ladangnya. Celana kakinya digulung sampai ke lutut dan kaki itu terbenam ke tanah berlumpur sebatas betis, sehingga kulit kaki antara betis dan lutut nampak putih mulus, jauh berbeda dengan kulit tubuh yang terbuka dan terbakar matahari.

Wanita itu bekerja dengan sangat tekun dan asyik sehingga iapun sama sekali tidak melihat bahwa seorang pria yang tadinya berjalan di jalan raya tak jauh dari ladangnya, kini berhenti dan sampai lama orang itu memandang kepadanya dengan kagum. Pria itu adalah seorang pemuda yang mudah sekali dikenal, karena punggungnya bongkok, di bawah tengkuk terdapat sebuah daging menonjol besar. Dia adalah Sie Liong!

Setelah beberapa saat seperti terpesona menyaksikan pemandangan indah itu, bukan hanya kemanisan wanita petani, melainkan keseluruhan tamasya alam yang melatarbelakangi bentuk tubuh wanita itu, Sie Liong sadar bahwa amat tidak sopan kalau memandangi seorang wanita seperti itu. Akan tetapi, pemandangan itu amat indah sehingga seolah-olah menahannya untuk tinggal lebih lama di tempat sunyi itu. Latar belakang ladang itu merupakan pegunungan yang hijau dan ladang di belakang wanita itu amat luasnya, juga kehijauan dengan tanaman gandum. Sunyi. Hanya di kejauhan nampak beberapa orang wanita atau pria yang juga membersihkan ladang mereka seperti yang dilakukan wanita itu. Hawa udara amat segar, matahari amat cerah, dan duduk di bawah lindungan pohon besar itu sungguh teduh dan nyaman. Sie Liong duduk di bawah pohon di tepi jalan, dan kesunyian itu membuat dia melamun. Terkenanglah dia kepada semua peristiwa yang menimpa dirinya, yang baru lalu.

Terkenang dia akan kunjungannya kepada encinya, pertemuannya dengan encinya, cihu-nya, kemudian dengan Yauw Bi Sian. Kemudian betapa cihu-nya yang kini berubah sama sekali wataknya itu dibunuh orang, dan menurut Bi Sian, pembunuhnya adalah dia! Padahal, dia sama sekali tidak melakukan perbuatan itu! Bahkan encinya sendiripun menyangka dia yang menjadi pembunuh untuk membalas dendam kematian orang tuanya. Kiranya cihu-nya itu yang telah membunuh ayah dan ibunya, juga suhengnya dan seorang pelayan, juga semua binatang peliharaan orang tuanya. Jelaslah bahwa cihu-nya itu mendendam kepada orang tuanya, amat membenci orang tuanya. Dia sendiripun tentu telah dibunuh cihu-nya itu kalau tidak ada encinya, Sie Lan Hong.

"Enci Hong, sungguh kasihan engkau...." Sampai di sini Sie Liong mengeluh dalam hatinya. Dia dapat membayangkan betapa sengsara keadaan encinya ketika pembunuhan atas keluarga mereka itu terjadi! Untuk menyelamatkan dirinya, seorang adik yang ketika itu masih kecil, baru berusia sepuluh bulan, maka encinya itu telah mengorbankan dirinya! Ia menyerahkan dirinya kepada si pembunuh kejam itu, demi menyelamatkan diri adiknya. Dan akhirnya, encinya itu bahkan menjadi isteri pembunuh. Mereka saling mencinta! Dan diapun selamat, tidak ikut dibunuh!

Tidaklah aneh kalau encinya menuduh dia yang telah membunuh Yauw Sun Kok. Bukankah sudah sepatutnya kalau dia membunuh orang yang telah membasmi keluarga orang tuanya itu? Apalagi di sana ada Bi Sian yang dengan sungguh mengatakan bahwa gadis itu telah melihat dia pada malam pembunuhan terjadi. Melihat dia, bongkoknya, bertopeng dan kemudidn topeng itu ditemukan pula oleh Bi Sian, di luar kamarnya.

Sungguh aneh sekali! Siapa yang membunuh Yauw Sun Kok? Dan mengapa pula pembunuh itu agaknya menyamar sebagai dirinya, untuk menjatuhkan fitnah kepadanya? Padahal, dia tidak pernah mempunyai musuh di kota Sung-jan, kecuali.... cihunya, tentu saja.

Tadinya dia merasa penasaran dan hendak melakukan penyelidikan untuk dapat membongkar rahasia pembunuhan itu, untuk membuktikan bahwa dia bukan pembunuhnya. Akan tetapi kemudian ketika dia menemui encinya, Sie Lan Hong, encinya itu membuka rahasia yang selama itu dipedamnya, yaitu bahwa cihu-nya itulah orang yang telah membunuh ayah dan ibunya. Tentu saja dia terkejut bukan main, dan mendengar bahwa cihu-nya sejahat itu, diapun kehilangan semangat untuk mencari pembunuh cihu-nya. Biarlah dia dibunuh orang, memang itu setimpal dengan kejahatannya. Dan diapun tahu bahwa Bi Sian amat membencinya, sakit hati kepadanya. Kalau dia tidak cepat-cepat melarikan diri, tentu gadis itu akan menyerangnya dan memaksanya mengadu nyawa. Dan dia sama sekali tidak menghendaki hal itu terjadi. Dia cinta Bi Sian! Dia telah jatuh cinta kepada gadis itu, kepada keponakannya sendiri! Bahkan dia telah mencintanya sejak mereka masih sama-sama kecil. Kenyataan inilah yang membuat hati pemuda bongkok itu merasa lebih ngeri lagi, maka diapun melarikann diri, menjauhkan diri seperti orang ketakutan.

Sie Liong menghela napas ketika lamunannya membawa dia teringat kepada Bi Sian. Wajah yang manis dan jenaka itu terbayang di depan matanya, dan dia pun tersenyum. Segala yang ada pada Bi Sian menyenangkan hatinya, mendatangkan perasaan gembira. Dia harus pergi jauh. Dia akan pergi ke Tibet, untuk memenuhi pesan para gurunya, yaitu melakukan penyelidikan tentang Lima Harimau Tibet yang mengaku sebagai utusan Dalai Lama dan yang berusaha keras untuk membasmi para pendeta, terutama para tosu yang melarikan diri dari Himalaya, seperti Himalaya Sam Lojin yang menjadi gurunya, juga Pek-sim Sian-su, supek dan gurunya yang juga menjadi gurunya sendiri. Dia harus dapat menunaikan kewajiban ini dengan berhasil, mampu menjernihkan suasana dan mencari sebab yang mendorong para pendeta Lama di Tibet memusuhi para tosu di Himalaya. Memang merupakan pekerjaan yang besar dan amat sukar, bahkan amat berbahaya, namun dia sudah mengambil keputusan untuk melaksanakan tugas itu sampai berhasil atau dia boleh mempertaruhkan nyawanya. Semua itu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan budi besar yang telah diterimanya dari para gurunya. Kalau tidak ada mereka, dia hanyalah seorang pemuda bongkok yang tidak berdaya dan tidak ada manfaatnya, tidak ada artinya hidup di dunia, hanya menjadi bahan cemoohan belaka.

Alangkah cantiknya wanita petani itu, pikirnya. Dan alangkah bahagianya orang yang menjadi suaminya. Pasti ia sudah bersuami, pikirnya. Mengapa wanita itu bekerja seorang diri? Mana suaminya? Betapa akan menyenangkan hati kalau suaminya juga ikut pula bekerja. Pekerjaan akan terasa ringan. Ah, betapa bahagianya wanita itu dan suaminya! Sie Liong meraza heran mengapa hal-hal yang sekecil ini membuat dia membuka mata bahwa kebahagiaan sebenarnya berada dalam diri apa saja, setiap orang dapat menikmati kebahagiaan hidupnya apabila dia tidak memikirkan hal-hal lain, tidak menginginkan hal-hal lain. Apabila orang menyadari betapa berlimpahnya kemurahan Tuhan Yang Maha Kasih, apabila dia menyerahkan segalanya kepada Tuhan, maka akan naspak bahwa hidup ini sesungguhnya merupakan nikmat pemberian dan anugerah Tuhan yang tak terlukiskan besarnya. Babkan bernapaspun mendatangkan kenikmatan dan kebahagiaan, belum lagi makan, minum dan segala kegiatan lain. Duduk melamun di bawah pohon itupun mengandung kenikmatan tersendiri!

"Ya Tuhan, terima kasih atas segala rahmat-Mu...." Sie Liong berbisik dan wajahnya kini cerah sekali, senyum menghias bibirnya. Pada saat itu, lupalah dia akan segala hal, akan encinya, Bi Sian, pembunuhan atas diri cihu-nya, bahkan dia lupa akan bongkoknya! Semua begitu indah kalau pikiran tidak dikacaukan oleh ingatan akan hal-hal yang dianggap tidak menguntungkan dan tidak menyenangkan "aku".

Akan tetapi, tiba-tiba perhatiannya tertarik kepada tujuh orang yang datang dari jauh menuju ke tempat itu. Mereka itu tujuh orang laki-laki yang agaknya hendak pergi ke dusun para petani, dan melihat sikap mereka, diam-diam Sie Liong mengerutkan alisnya. Mereka itu jelas bukan petani. Cara mereka berjalan melenggang, pakaian dan sikap mereka, bahkan melihat gagang golok dan pedang tersembul di balik pundak mereka. Jelas bahwa mereka itu adalah golongan orang-orang persilatan, atau orang kang-ouw. Mungkinkah ada orang-orang kang-ouw tinggal di dusun itu? Ataukah mereka itu pendatang dari luar?

Kekhawatirannya terbukti ketika dia melihat beberapa orang petani, laki-laki dan perempuan, melarikan diri meninggalkan sawah ladang mereka. Semua petani yang tadi bekerja di ladang, melarikan diri begitu melihat tujuh orang laki-laki itu. Kecuali wanita yang tadi membangkitkan kekaguman hati Sie Liong. Ia sedang asyik mencabuti rumput, dengan membungkuk membelakangi jalan sehingga ia tidak melihat kedatangan tujuh orang laki-laki itu.

Sie Liong siap siaga, akan tetapi dia masih duduk di bawah pohon. Dengan duduk seperti itu, dia memang agak terserabunyi oleh semak alang-alang yang tumbuh di tepi selokan dekat ladang. Namun, dia memandang penuh perhatian. Kini, tidak ada lagi petani yang bakerja di ladang yang luas itu kecuali wanita tadi.

Tepat seperti yang dikhawatirkan, tujuh orang laki-laki itu berhenti melangkah ketika tiba di dekat ladang di mana wanita itu masih bekerja. Wanita itu menungging dengan pinggul ke arah mereka, tidak menyadari bahwa cara ia berdiri dan bekerja ini seolah memamerkan pinggulnya yang bulat dan besar itu, tidak tahu bahwa ada tujuh orang kasar sedang menikmati pandangan yang mengagumkan mereka itu. Dan seorang di antara mereka, yang mukanya penuh brewok dan agaknya menjadi pemimpin mereka, tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, sungguh indah sekali tubuh itu! Coba kulihat bagaimana wajahnya!"

Dia mengambil sebuah batu dan melempar batu itu dengan keras ke arah tanah lumpur dekat wanita itu. Air lumpur memercik dan mengotori paknian wanita itu yang agaknya baru sadar dan iapun cepat meluruskan tubuh, membalikkan kepala memandang. Matanya terbelalak dan mulutnya ternganga ketika ia melihat tujuh orang itu. Ia menoleh ke kanan kiri dan baru sekarang ia tidak melihat adanya mereka yang tadi bekerja di ladang. Wanita itu kini terbelalak, mukanya pucat sekali dan matanya mengingatkan Sie Liong kepada mata seekor kelinci kalau ditangkapnya. Liar ketakutan!

"Ha-ha-ha, cantik! Manis sekali, dan perempuan dusun tentu sehat dan segar, ha-ha-ha!" Si brewok itu dengan langkah lebar lalu menghampiri tepi ladang, berdiri di tepi sambil menjulurkan tangan ke arah wanita itu.

"Manis, ke sinilah dan bersihkan kaki tanganmu. Mari engkau ikut dengan kami, ha-ha-ha!"

Wanita itu agaknya, seperti para petani lainnya, sudah tahu siapa adanya tujuh orang laki-laki itu. Dengan tubuh menggigil dan muka pucat ia hanya menggeleng kepala tanda ia tidak mau, akan tetapi tidak ada suara keluar dari mulut yang gemetar itu.

"Ahh, manis, jangan malu-malu. Nanti kalau kami mendapatkan sumbangan yang cukup banyak dari dusun-dusun, tentu aku tidak akan melupakanmu dan akan memberi hadiah yang besar kepadamu. Hayolah, senangkan dan hibur hati kami yang sedang kesepian ini, manis. Ha-ha-ha!" Enam orang lainnya yang menunggu di tepi jalan ikut pula tertawa. Mereka semua senang melihat wanita petani yang berwajah manis dan bertubuh padat itu.

Wanita itu tidak berani berkutik, berdiri menggigil dan terus saja menggeleng kepala tanda bahwa ia tidak sudi memenuhi permintaan si brewok itu.

Si brewok kini membelalakkan matanya lebar-lebar. "Apa? Engkau berani menolak perintah Tiat-jiauw Jit-eng (Tujuh Garuda Bercakar Besi)?" Dia memukulkan kepalan kanannya pada telapak tangan kiri sehingga mengeluarkan bunyi keras. "Apa engkau sudah bosan hidup dan memilih mampus? Sebelum mampus pun kau tidak akan lepas dari tangan kami! Apa kau lebih suka diperkosa sampai mati daripada melayani kami dangan manis?"

Wanita itu menjadi semakin pucat dan tiba-tiba kakinya yang menggigil tidak manpu lagi menahan tubuhnya. Ia jatuh berlutut di atas lumpur! Dan ia memberi hormat kepada si brewok itu.

"Ampunkan saya.... saya sudah bersuami...., ampunkan saya...."

"Ha-ha-ha, lebih baik lagi! Kalau engkau sudah bersuami, lalu apa sukarnya melayani kami? Hayo, ke sinilah!" Si brewok kembali menjulurkan tangannya ke arah wanita itu.

"Tidak.... tidak.... tidak!" Wanita itu menjerit histeris lalu menangis.

Marahlah si brewok. Agaknya dia tidak mau turun ke lumpur karena sepatunya masih baru. Dia menengok dan memerintahkan anak buahnya. "Turun dan seret ia ke mari!"

Seorang di antara mereka, yang termuda, berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun sedangkan yang lain antara empat puluh lima tahun, segera melangkah maju dengan sikap gagah. Orang ini mukanya kecil sempit dan panjang, kepucatan seperti orang berpenyakitan, matanya sipit dan hidungnya pesek. Dia menyeringai ketika dia turun ke ladang menghampiri wanita itu yang bangkit berdiri dan mencoba untuk melarikan diri menjauhi orang itu. Ia adalah seorang wanita, akan tetapi sejak kecil ia bekerja di sawah ladang. Tubuhnya kuat sekali dan ia sudah terbiasa di lumpur, maka ia dapat berlari cepat. Berbeda dengan laki-laki yang mengejarnya. Biarpun dia seorang kasar yang memiliki kekuatan dan kepandaian, akan tetapi belum pernah dia berjalan di dalam lumpur, apalagi dia bersepatu, tidak seperti wanita petani itu yang bertelanjang kaki. Maka, sukarlah baginya untuk menangkap wanita itu! Kawan-kawannya menjadi gembira dan merekapun mengepung ladang itu, menghadang wanita yang hendak melarikan diri.

Wanita itu menjadi semakin ketakutan. Hanya pinggir yang dihalangi solokan itulah yang tidak dihadang penjahat, maka iapun lari ke situ dan meloncat ke dalam solokan, terus mendaki, dikejar oleh tujuh orang itu yang tertawa-tawa dan membuat gerakan menakut-nakuti. Mereka itu memperoleh hiburan, seperti tujuh ekor kucing mempermainkan seekor tikus sebelum menerkan dan mengganyangnya. Kebetulan sekali wanita itu melihat Sie Liong yang duduk di bawah pohon, maka iapun lari ke arah pohon itu, lalu menubruk Sie Liong yang masih duduk bersila. Sie Liong merasa betapa wanita itu merangkulnya, dan karena pakaian wanita itu penuh lumpur, maka pakaiannya sendiripun terkena lumpur. Dia merasa betapa dada yang menempel pada pundaknya itu berdebar dan bergelombang, dan betapa napas itu terengah-engah.

"Tolonglah.... tolonglah saya.... aduh, lebih baik saya mati daripada tertawan mereka.... tolonglah saya...."

"Enci yang baik, tenanglah dan duduklah di belakangku. Biar aku yang akan menghadapi mereka." kata Sie Liong.

Kini tujuh orang itu sudah tiba di bawah pohon. Si brewok marah sekali melihat wanita itu berlutut di belakang seorang laki-laki yang duduk barsila. Dia tidak perduli apakah pria itu suami si wanita. Baginya, tidak perduli wanita itu bersuami atau tidak, kalau sudah dikehendakinya, harus diserahkan kepadanya!

"Heiii, siapa engkau?"

Mendengar bentakan yang nadanya amat congkak ini, Sie Liong lalu bangkit berdiri. "Namaku Sie Liong. Aku melihat betapa kalian mengganggu wanita ini. Apakah kalian tidak malu? Kalian ini tujuh orang laki-laki pengecut yang suka mengganggu wanita yang tak berdaya. Pergilah kalian dari sini sebelum aku muak melihat tingkah kalian yang tidak senonoh seperti binatang itu!" Sie Liong memang marah sekali melihat perbuatan mereka tadi.

Tujuh orang itu terbelalak. Keheranan melampaui kemarahan mereka sehingga mereka saling pandang. Ada seorang pemuda biasa, bongkok pula, berani bicara seperti itu kepada mereka? Sungguh aneh, aneh sekali sehingga mereka lupa akan kemarahan mereka, bahkan mereka mulai tertawa-tawa.

"Heh-heh, apakah engkau seorang pendekar?" tanya si brewok untuk mengejek.

"Seorang pendekar yang bongkok! Pendekar Bongkok! Ha-ha-ha!"

"Awas kau, Pendekar Bongkok. Kupenggal punukmu untuk kubuat menjadi punuk panggang, baru tahu rasa kau!"

Si brewok melangkah maju selangkah. "Hei, Sie Liong, apakah engkau sudah buta, ataukah memang tuli? Andaikata engkau tidak mengenal kami, tentu sudah mendengar akan nama besar Tiat-jiauw Jit-eng!"

Sie Liong tersenyum. "Tujuh Garuda Cakar Besi atau Tujuh Garuda Cakar Tahu aku tidak perduli."

"Wah, pemuda bongkok ini memang sudah bosan hidup!" kata si brewok sambil memberi isarat kepada anak buahnya yang termuda, yang tadi mengejar-ngejar wanita itu tanpa hasil. Si mata sipit hidung pesek ini, yang tadi merasa penasaran dan rugi karena tidak mampu menerkam si manis, kini melangkah maju, lenggangnya dibuat-buat seperti seorang jagoan aseli yang tidak pernah terkalahkan. Dia melenggang seperti layangan yang tak seimbang, condang ke kanan dan ke kiri, kepalanya ditegakkan, dadanya dibusungkan. Akan tetapi, karena dadanya memang tipis dan perutnya besar, maka yang menjadi busung bukan dadanya melainkan perutnya!

"Heiii, orang muda yang tolol! Engkau ini masih muda, lemah dan bongkok pula, apa engkau tidak tahu diri? Engkau berani menentang kami, hanya untuk membela seorang perempuan dusun? Apamukah perempuan itu?" tanyanya dan suaranya dibesar-besarkan agar berwibawa, akan tetapi karena suaranya memang kecil parau seperti suara seorang penderita batuk kering, maka tetap saja suara yang keluar sama sekali tidak berwibawa, malah lucu.

Biarpun di dalam hatinya Sie Liong merasa marah sekali, namun dia tetap tenang dan sabar. "Enci ini adalah kerabat yang paling dekat karena ia termasuk orang yang lemah tertindas, membutuhkan bantuan. Dan kalian adalah orang-orang jahat, manusia-manusia berwatak iblis yang patut ditentang!"

Si mata sipit hidung pesek mengerutkan alisnya dan membentak marah.

"Wahhh, engkau ini pemuda kurang ajar, aku yang akan menghajarmu, kusiksa sampai mampus!" Setelah berkata demikian, diapun menyerang. Biarpun tubuhnya kerempeng dan dia kelihatan berpenyakitan, ternyata si mata sipit hidung pesek ini mampu bergerak dengan cepat sekali dan sambaran tangan kanannya ketika menjotos ke arah muka Sie Liong mengandung tenaga yang terlatih.

"Wuuuuuttt....!" Tonjokan dengan tangan terkepal itu menyambar ke arah pipi kiri Sie Liong. Akan tetapi pemuda bongkok ini tenang saja, seolah-olah tidak tahu bahwa dia diserang dengan tonjokan yang akan dapat membuat pipinya bengkak dan giginya rontok! Baru setelah kepalan itu hanya terpisah satu sentimeter saja dari pipinya, secepat kilat dia menarik kepala ke belakang, tangan kiri menyambar, menangkap lengan kanan lawan dan diapun mendorong, menambahkan tenaga dorongan pukulan itu dengan tenaganya sendiri sehingga kepalan kanan si sipit pesek itu meluncur terus dan melingkar ke arah pipi kirinya sendiri.

"Desss...! Aughhhh....!" Beberapa buah gigi berlompatan keluar dari mulutnya yang terbuka, dan hidungnya berdarah karena kepalan tangan kanannya tadi dengan kuat sekali telah menghantam ke arah mukanya sendiri!

"Auhh.... auhh.... auhhh....!" Dia mengerang kesakitan, tidak mampu berkata "aduh" karena mulutnya terasa seperti remuk. Dia membungkuk-bungkuk dan kedua tangan dengan sibuknya memegang-megang dan meraba-raba mulut dan hidung.

Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, mukanya hitam dan kulit muka itu kaku seperti punggung buaya, agaknya muka itu memang rusak oleh penyakit kulit yang hebat. Di antara tujuh orang gerombolan itu, dia terkenal sebagai seorang yang memiliki tenaga besar, dan juga wataknya amat sombong karena memang sulit mencari orang yang mampu mengalahkan raksasa muka hitam ini. Agaknya dia masih terlalu mengandalkan kehebatan diri sendiri sehingga melihat Sie Liong mengalahkan kawannya, dia masih juga memandang rendah pemuda bongkok itu dan agaknya dia menganggap bahwa kekalahan si mata sipit hidung pesek itu tadi hanya karena kebodohannya sendiri, bukan karena kelihaian pemuda bongkok. Bahkan dia merasa terlalu tinggi untuk berkelahi melawan seorang pemuda bongkok, maka dia ingin mengalahkan pemuda itu dengan wibawanya saja.

"Heii, bocah ingusan! Lekas engkau berlutut dan memanggil engkong (kakek) kepadaku, baru aku akan mengampunimu! Cepat....!" Sepasang matanya yang hitam dan mencorong itu melotot galak.

"Engkongku sudah mati, dan seingatku, dia tidak seburuk engkau." kata Sie Liong dengan sikap tenang.

"Kalau begitu, aku akan memaksamu berlutut!" bentak si raksasa muka hitan dan diapun sudah menyerang dengan kedua tangannya mencengkeram ke arah kepala dan dada Sie Liong. Ketika pemuda ini menarik diri ke belakang, tiba-tiba kaki kanan raksasa itu menendang ke arah lututnya. Kalau sasaran tendangan itu terkena, tentu Sie Liong akan benar-benar diharuskan berlutut karena tendangan itu kuat bukan main. Namun, tentu saja Sie Liong yang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi, dapat melihat gerakan serangan ini dengan jelas, maka mudah saja baginya untuk mendahului lawan. Sebelum kaki yang menendang itu sampai ke tubuhnya, dia merendahkan diri, menggeser kaki ke kiri dan dari samping tangannya monotok ke arah lutut kanan itu.

"Tukkk!" Seketika kaki yang besar itu terasa lumpuh dan tanpa dapat dicegah lagi raksana muka hitam itu jatuh berlutut di atas kaki kanan dan kebetulan dia jatuh berlutut di depan Sie Liong! Pemuda itu tersenyum dan berkata dengan suara mengejek.

"Aku bukan engkongmu, tidak perlu engkau berlutut memberi hormat!"

Tentu saja ucapannya ini membuat raksas muka hitam itu menjadi marah sekali. Dia melompat berdiri, akan tetapi kembali terguling karena kakinya masih terasa lumpuh. Melihat ini, kawan-kawannya menjadi marah akan tetapi sekaligus maklum bahwa pemuda bongkok itu benar-benar seorang pendekar yang amat lihai! Maka, tanpa banyak cakap lagi mereka mencabut senjata golok atau pedang dari punggung mereka dan di lain saat, Sie Liong telah dikepung tujuh orang yang memegang senjata tajam. Melihat ini, wanita itu menangis ketakutan.

"Jangan bunuh dia.... ahh, jangan bunuh dia yang tidak berdosa...." ratapnya sambil menangis.

Mendengar ini, si brewok tertawa, "Ha-ha-ha, jadi engkau mau ikut denganku secara sukarela kalau kami lepaskan bocah bongkok ini?"

"Tidak, tidak.... kalian bunuhlah aku, akan tetapi.... jangan bunuh dia yang tidak berdosa...."

"Enci, tenanglah. Mereka tidak akan mampu membunuhku atau membunuhmu!" kata Sie Liong kepada wanita itu, hatinya terasa gembira sekali karena ternyata wanita dusun yang ditolongnya itu adalah seorang wanita yang hebat! Berani mengorbankan nyawa untuk mempertahankan kehormatan, juga amat baik budi sehingga tidak tega melihat dia dikepung dan diancam bunuh oleh para penjahat itu.

Kini tujuh orang penjahat itu sudah menggerakkan senjata mereka dan serentak mereka menyerang. Namun, baru mereka menyerang dua tiga jurus tubuh pemuda bongkok itu sudah lenyap, berubah menjadi bayangan yang dengan cepatnya menyelinap di antara sambaran senjata mereka. Mereka merasa terkejut, akan tetapi juga penasaran dan mereka terus mengarahkan senjata mereka, menyerang bayangan yang amat gesit itu. Akan tetapi, tiba-tiba bayangan itu lenyap dan tahu-tahu pemuda bongkok itu sudah menyerang dari atas, bagaikan seekor naga dari angkasa saja! Dan sekali kaki tangannya bergerak, empat orang jatuh tersungkur seperti disambar petir dari atas! Tiga orang penjahat lainnya terkejut sekali, namun merekapun hanya diberi kesempatan untuk bengong sejenak karena tiba-tiba saja merekapun terjungkal roboh oleh tamparan tamparan tangan Sie Liong yang ampuh bukan main itu.

Tujuh orang itu baru sekarang me­rasa jerih. Mereka bertujuh, yang memegang senjata, roboh dalam beberapa gebrakan saja melawan pemuda bongkok i­tu! Tamparan yang hanya sekali itu sa­ja sudah membuat mereka roboh dan bagian badan yang dipukul terasa seperti remuk! Si brewok, pimpinan mereka dan merupakan orang yang paling tangguh, dapat lebih dulu bangkit dan dia sudah siap untuk melarikan diri meninggalkan teman-temannya. Akan tetapi dengan beberapa langkah saja, Sie Liong sudah dapat menangkap pundaknya. Tekanan ta­ngan Sie Liong pada pundak itu membuat si brewok menggigil saking nyerinya dan diapun jatuh berlutut. Pundak yang dicengkeram pemuda bongkok itu seperti dibakar atau dicengkeram kaitan baja membara saja, panas dan perih, nyeri sekali, terasa menusuk-nusuk sampai ke tulang.

"Ampun, taihiap.... ampun, saya mengaku kalah!"

"Hemm, aku tidak membutuhkan pe­ngakuan kalah darimu! Aku tidak membu­tuhkan kemenangan. Akan tetapi aku minta agar kalian suka sadar dari kelaku­an jahat kalian dan bertobat!"

"Ampun, taihiap,.... saya bertobat....!"

"Hemm, siapa percaya omongan o­rang jahat macam engkau?"

"Saya bersumpah takkan melakukan kejahatan lagi, taihiap, akan tetapi saya akan bekerja seperti dahulu, yai­tu memburu binatang hutan. Dahulunya kami adalah pemburu-pemburu, karena tertarik penghasilan besar lalu mulai merampok orang yang lewat di hutan...."

"Benar, engkau bertobat dan hen­dak kembali ke jalan benar?" tanya Sie Liong. "Aku tetap tidak percaya kalau engkau dan teman-temanmu tidak memper­lihatkan buktinya. Sumpah mulut saja tidak ada artinya." Dia lalu mengger­tak, "Atau aku akan membiarkan kalian mati tersiksa dengan memberi pukulan mematikan?"

Kini dia melepaskan cengkeraman­nya dan seketika si brewok tidak mera­sa nyeri lagi. Dia makin yakin bahwa pendekar muda yang bongkok itu betul-betul lihai.

"Taihiap, kami bersumpah dan ini­lah buktinya!" Dia menyambar goloknya yang tadi terlempar, membuka sepatu kirinya dan sekali bacok, lima buah jari kaki kirinya buntung! Darah mengalir deras dari kaki yang buntung jari-jarinya itu. Diam-diam Sie Liong terkejut, akan tetapi juga girang karena dia maklum bahwa si brewok itu bersungguh-sungguh!

"Hayo kalian buntungi jari kaki kiri masing-masing seperti aku, siapa yang tidak mau, aku yang akan membun­tunginya sendiri. Mulai saat ini, kita tidak akan merampok manusia lagi, melainkan memburu binatang seperti dulu lagi!"

Enam orang anak buahnya melihat bahwa pimpinan mereka sungguh-sungguh dan merekapun jerih terhadap Pendekar Bongkok, demikian mereka menyebut Sie Liong, maka merekapun mengambil senja­ta masing-masing yang tadi terlempar, lalu membabat buntung jari kaki kiri mereka. Melihat ini, wanita dusun itu menutupi muka karena merasa ngeri.

Sie Liong lalu menghampiri mereka seorang demi seorang, menotok kaki ki­ri mereka di atas bagian yang terluka, mengeluarkan obat bubuk putih yang ditaburkan pada luka di kaki. Seketika, tujuh orang itu merasa betapa kenyeri­an jari yang dibuntungi itu lenyap, dan luka-luka itupun cepat menjadi ke­ring. Mereka menjadi semakin kagum. Kiranya Pendekar Bongkok ini selain amat lihai ilmu silatnya, juga pandai ilmu pengobatan. Hal ini sebetulnya tidak­lah mengherankan kalau diketahui bahwa seorang di antara orang-orang sakti yang menggembleng Sie Liong adalah Pek-sim Sian-su, seorang sakti yang pandai dalam ilmu pengobatan pula.

"Ingat akan sumpahmu sendiri," kata Sie Liong ketika mereka semua sudah berdiri dan siap untuk pergi. "Kalau kelak kalian tetap menjadi penjahat dan mengganggu orang lain, dan aku mendengarnya, pasti akan kucari kalian sampai dapat dan bukan hanya jari kaki kalian saja yang harus dipotong. Sela­in itu, aku akan membangkitkan sema­ngat para penduduk dusun agar mereka bersatu padu dan hendak kulihat, ka­lau ratusan orang dusun itu bersatu padu melawan kalian, apa yang dapat kalian lakukan terhadap mereka!"

Diam-diam si brewok dan teman-te­mannya merasa ngeri. Bukan saja mereka ngeri terhadap kesaktian Pendekar Bongkok, akan tetapi juga ngeri kalau be­nar penduduk dusun sampai bangkit menentang mereka, maka tentu mereka akan dikeroyok ratusan orang dan akan dihancur lumatkan oleh mereka yang mendendam kepada mereka. Kalau biasanya mereka itu dapat merajalela adalah karena me­reka menang gertakan dan para penduduk dusun itu belum apa-apa sudah ketakut­an lebih dulu, melarikan diri bersem­bunyi daripada melakukan perlawanan berpadu.

Tujuh orang itu, dipimpin oleh Si Brewok, menghaturkan terima kasih kepada Sie Liong, kemudian mereka pergi meninggalkan tempat itu, tidak jadi mengganggu wanita petani atau dusun di de­kat ladang itu. Setelah mereka pergi, Sie Liong menghampiri wanita dusun itu dan dengan senyum kagum dia berkata sambil berlutut di dekat wanita yang masih duduk di atas rumput dengan wa­jah masih diliputi ketegangan itu.

"Untung bahwa engkau tabah sekali menghadapi mereka, enci...." katanya.

Wanita iru mengangkat muka, memandang kepadanya dan kembali air matanya menetes-netes turun ke atas pipinya. Mulut wanita itu berkemak-kemik, namun tidak ada suara yang keluar, akhirnya, ia mengeluarkan jerit kecil dan merangkulkan kedua lengannya pada pundak dan leher Sie Liong sambil menangis! Pemu­da bongkok itu terkejut, akan tetapi mendiamkannya saja dan tersenyum ketika dia merasa kehangatan air mata menembus bajunya karena wanita itu mena­ngis di atas dadanya. Bahkan diapun lalu merangkul dan menepuk-nepuk pundak wanita itu dengan lembut.

"Tenanglah, enci, bahaya sudah lewat sekarang," hiburnya.

Wanita itu bahkan mempererat rangkulannya dan terdengar bisikan dari mulut yang disembunyikan di dadanya itu lirih. "Adik yang baik, ahh.... taihiap yang gagah perkasa, engkau telah menyelamatkan diriku.... terima kasih, taihiap, terima kasih...." Suaranya mengandung isak dan tubuhnya gemetar, seolah-olah ia teringat akan peristiwa tadi dan membayangkan betapa akan nge­rinya kalau ia sampai terjatuh ke tangan tujuh orang itu.

"Sudahlah, enci. Sudah semestinya aku melindungimu, dan aku kagum sekali melihat ketabahanmu tadi. Lepaskanlah rangkulanmu, lihat, di sana datang orang-orang dusun."

Mendengar ini, wanita itu melepaskan rangkulannya dan dengan wajah ma­sih basah air mata, ia menoleh ke kiri dan benar saja, dari arah dusun, da­tang berlari-larian banyak sekali pen­duduk dusun ke tempat itu. Dan di ta­ngan mereka terpegang segala macam a­lat pertanian yang agaknya kini hendak dijadikan senjata.

Sie Liong merasa tegang dan juga malu. Dia tahu bahwa mereka yang berlari dan datang itu tadi melihat betapa dia dan wanita itu berpelukan-pelukan! Untuk menghilangkan rasa sungkan dan tidak enak itu, Sie Liong lalu bangkit dan memuguti potongan jari-jari kaki itu, dan mengumpulkannya di atas sehelai kain saputangan. Melihat ini, wanita dusun itu bergidik.

"Taihiap, untuk apakah kau.... mengumpulkan benda-benda mengerikan itu?"

"Aku akan menguburnya, enci." kata Sie Liong sambil memunguti terus.

Tak lama kemudian, rombongan orang dusun itu tiba di situ. Seorang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun yang memegang sebatang tong­kat panjang moloncat maju menghampiri wanita itu.

"Kui Hwa, apa yang telah terjadi?" tanyanya, suaranya mengandung kemarahan.

Wanita dusun itu menangis dan lari menghampiri laki-laki itu. "Aku.... aku hampir saja celaka....!" serunya sambil menangis dan ia handak merangkul laki-laki yang ternyata adalah suaminya itu. Akan tetapi, liki-laki itu mendorongnya sehingga ia terpelanting.

"Jangan sentuh aku! Engkau perempuan tak tahu malu!"

Wanita dusun yang bernama Kui Hwa itu terbelalak. Saking kaget dan herannya, ia tidak merasakan kenyerian punggungnya ketika terpelanting oleh dorongan suaminya.

"Apa.... apa maksudmu....?" tanyanya dangan heran, dan lebih heran lagi ia ketika melihat betapa orang-orang lain, para pria di dusunnya, para tetangganya memandang kepadanya dangan sinar mata mencemoohkan dan agaknya membenarkan sikap suaminya itu!

"Maksudku kautanyakan! Maksudmulah yang ingin sekali kuketahui! Apa yang telah terjadi di sini?" Suaminya itu dangan berang melirik ke arah Sie Liong yang sudah selesai mengumpulkan potongan jari-jari kaki tadi dan kini berdiri di situ dangan muka ditunduk­kan, potongan jari-jari kaki tadi berada dalam buntalan kain saputangan.

"Suamiku, apakah engkau tidak mendangar dari para tetangga kita tadi? Mereka, Tiat-jiauw Jit-eng itu datang lagi!" kata si isteri yang masih terheran-heran melihat sikap suaminya.

"Tentu saja kami semua mendangar. Lalu di mana mereka dan apa yang telah terjadi di sini?" kembali dia menoleh ke arah Sie Liong dangan wajah merah saking marahnya.

"Mereka telah dikalahkan oleh taihiap ini, mereka telah melarikan diri dan aku.... aku diselamatkan oleh taihiap ini!" kata si isteri dangan suara gembira dan bangga.

"Bohong!" Tiba-tiba sang suami membentak dan isteri itu kembali terkejut sekali, dan kini Sie Liong mengangkat mukanya, memandang kepada suami itu dengan sinar mata mencorong. Akan tetapi, dia bersikap sabar karena dia dapat menduga apa yang menjadi sebab sang suami itu bersikap seburuk itu dan mengapa pula orang-orang dusun itu berdiri saja, agaknya membenarkan sikap suami itu.

"Suamiku, kenapa engkau mengatakan bohong? Pendekar muda ini yang bernama Sie Liong, dia yang telah menyelamatkan aku dari gangguan mereka, bahkan pendekar perkasa ini yang memaksa mereka untuk meninggalkan pekerjaan jahat mereka, dan mereka bersumpah dangan membuntungi jari-jari kaki mereka sebelum pergi dari sini. Aih, suamiku, pendekar muda ini sungguh perkasa dan kita sedusun patut berterima kasih kepadanya...."

"Cukup! Kui Hwa, jangan mengira bahwa kami semua adalah orang-orang buta dan bodoh, mudah saja kautipu dengan kata-katamu itu! Kami melihat betapa engkau bercumbu dan berjina dengan dia...."

"Diam....!" Kui Hwa yang lemah lembut itu kini membentak, dan ia berdiri bagaikan seekor singa kelaparan atau seekor betina membela anaknya. "Jangan engkau berani mengeluarkan ucapan kotor itu! Pendekar ini menyelamatkan aku, bahkan menyelamatkan orang sedusun dan kalian berani menuduhnya berbuat yang bukan-bukan?"

"Phuhh!" Suami itu meludah. "Mataku belum buta, aku melihat betapa kalian tadi berpelukan dan berciuman!"

"Engkau yang bohong! Engkau yang kotor dan memang kalian bodoh! Aku memang merangkulnya sambil menangis, terharu dan menghaturkan terima kasih, dan dia menghiburku, sama sekali kami tidak berciuman.... aihh, agaknya memang matamu telah buta! Taihiap ini menundukkan tujuh orang gerombolan penjahat itu, membuat mereka taluk dan bertobat, bahkan mereka telah membuntungi jari-jari kaki sambil bersumpah dan kalian...."

"Sudah! Siapa percaya obrolanmu? Engkau memang perempuan tak tahu malu, mungkin dia ini anggauta bahkan pemimpin perampok! Dan engkau sudah tergila-gila kepada laki-laki bongkok ini! Sungguh tak tahu malu!" Berkata demikian, laki-laki yang sedang diamuk cemburu itu lalu mengangkat tongkat kayunya dan menghantamkan tongkat kayunya kepada Sie Liong!

Pendekar ini berdiri bengong. Sungguh tak disangkanya sama sekali bahwa cemburu dapat membuat orang men­jadi seperti gila! Saking herannya, ketika suami itu memukul dengan tongkat kayu, diapun diam saja, tidak bergerak seperti patung dan pada saat kayu itu menghantam kepalanya, barulah dia mengerahkan sin-kang untuk melindungi kepala yang dipukul itu.

"Krakkk!" Tongkat kayu itu patah-patah ketika bertemu dangan kepala Sie Liong.

"Ahh....!" Suami wanita dusun itu terbelalak dan mukanya pucat memandang kepada tongkat yang tinggal sepotong pendek di tangannya, sedangkan tongkat yang kuat itu telah patah men­jadi tiga potong! Kepala orang bongkok itu melebihi besi kerasnya!

Sie Liong mengangkat muka memandang kepada suami itu dangan sinar ma­ta mencorong. "Hemm, engkau memang o­rang bodoh, keras kepala, dan memang sepatutnya kalau matamu buta! Engkau tidak patut menjadi suami dari seorang isteri yang begini baik hati, tabah dan berani mempertaruhkan nyawa untuk menjaga kehormatannya. Engkau pantasnya menjadi suami seekor kambing atau seekor monyet! Huh, menjemukan sekali!" katanya dan diapun melemparkan buntalan itu ke atas tanah, kemudian berpaling kepada wanita dusun sambil memberi hormat.

"Enci, maafkan kalau aku hanya membikin engkau menjadi ribut dangan suamimu. Selamat tinggal, enci, semoga Tuhan akan menyadarkan suamimu ini!" Dan sekali berkelebat, Sie Liong lenyap dari depan mereka, membuat suami wanita itu dan para penduduk dusun terkejut dan melongo.

Suami itupun terkejut dan dia menjadi ketakutan. "Apakah dia.... dia itu tadi.... setan....?" tanyanya kepada isterinya.

Isterinya menjadi gemas sekali. Tangannya bergerak manampar. "Plakkk!" pipi suami itu telah ditamparnya!

"Laki-laki yang tolol, gila oleh cemburu buta! Masih berani engkau me­ngatakan bahwa pendekar sakti itu setan? Engkau inilah yang setan! Kalian tidak percaya akan ceritaku tadi, ya? Kalian semua mengira bahwa aku telah berjina dangan dia karena kalian melihat dari jauh betapa kami saling be­rangkulan? Ohhhh, memang kalian ini o­rang-orang bodoh! Dangar baik-baik. Tujuh orang penjahat itu datang ke sini. Aku tidak tahu bahwa mereka datang ma­ka aku tidak sempat lari seperti yang lain. Dan mereka itu mengejar-ngejar­ku, hendak menangkapku dan tentu saja, dengan niat yang amat kotor dan hina! Dan aku melihat pendekar itu duduk seorang diri di bawah pohon. Tadinya aku tidak tahu bahwa dia pendekar, akan tetapi dalam keadaan ketakutan setengah mati itu, aku lari padanya dan mohon tolong. Siapa saja akan kumintai to­long dalam keadaan hampir mati ketakutan seperti itu. Dan dia bangkit, dia mengalahkan semua penjahat, memaksa mereka itu bertobat, dan mereka mem­buntungi jari-jari kaki kiri mereka untuk tanda bertobat. Dan kalian tidak percaya? Dan engkau, engkau sudah gi­la, engkau malah mencemburui kami dan engkau malah menghina pendekar itu? Masih untung hanya tongkatmu yang dipa­tahkan, bukan lehermu! Kalau kalian tidak percaya, lihat ini buktinya!" Dia memunguti jari-jari kaki itu untuk di­kuburkan. "Nah, makanlah ini!" Wanita itu lalu melemparkan buntalan itu ke a­rah suaminya, setelah membuka ikatan­nya. Dan potongan-potongan jari kaki, sebanyak tiga puluh lima potong, berhamburan mengenai muka dan leher suaminya.

Si suami tentu saja bergidik nge­ri juga para penduduk dusun merasa ngeri ketika mereka melihat bukti itu. Jari-jari kaki yang masih berlumuran darah! Sementara itu, Kui Hwa sudah berlari pulang sambil menangis.

Barulah suami itu merasa menyesal dan percaya sepenuhnya akan keterangan isterinya. Kini dia dapat membayangkan betapa takutnya isterinya tadi ketika dikejar-kejar tujuh orang penjahat ke­ji itu, tanpa ada orang yang dapat me­nolongnya. Kemudian muncul pendekar bongkok itu yang mengalahkan semua penjahat, yang berarti telah menyelamat­kan isterinya itu dari malapetaka yang lebih mengerikan dari pada maut. Maka, kalau dalam keadaan penuh rasa syukur dan keharuan itu isterinya merangkul penolongnya dan manangis di dadanya, apakah yang aneh dalam hal itu? Juga pendekar itu bukan golongan pemuda yang terlalu menarik hati wanita, dan isterinya tak mungkin tertarik kepada seorang yang tubuhnya bongkok seporti itu!

"Kui Hwa, tunggulah....!" Dia barteriak berlari-lari mengejar isterinya, di dalam hatinya yang penuh penyesalan itu kini penuh dangan harapan agar isterinya suka memaafkannya. Sementara itu, para penduduk dusun yang lain segera mengumpulkan jari-ja­ri kaki itu dan menguburnya dengan ha­ti penuh rasa syukur bahwa kini Tiat-jiauw Jit-eng yang selama beberapa bu­lan lalu mengganas di sekitar daerah i­tu, kini telah bertobat dan berarti meraka tidak akan lagi diganggu oleh me­reka yang amat jahat itu. Dan semua i­ni berkat jasa Pendekar Bongkok, nama yang takkan pernah mereka lupakan dan yang semenjak terjadinya peristiwa itu menjadi buah bibir mereka sehingga na­ma julukan pendekar baru ini mulai terkenal.

Sie Liong melarikan diri mening­galkan ladang dusun itu dangan senyum pahit di bibirnya. Dia memang sudah memaklumi banar-benar keadaan dirinya, sudah diterimanya keadaan dirinya se­perti apa adanya. Memang dia berpunuk, dia bongkok dan itu merupakan sebuah kenyataan yang takkan dapat dirobah. Titik. Dia tidak akan lagi mengeluh, tidak lagi memperhatinkan keadaan tubuhnya yang telah menjadi pemberian Tuhan dan yang diterimanya dangan penuh kepasrahan dan rasa syukur. Akan teta­pi, kalau terjadi peristiwa seperti di sawah ladang tadi, bagaimanapun juga hatinya terasa seperti ditusuk. Dia berniat baik. Dia menyelamatkan wanita dusun itu, bahkan dia menundukkan ge­rombolan jahat yang berarti juga meng­hindarkan dusun dari gangguan orang jahat. Dia melakukan hal itu tanpa pa­mrih, tidak minta imbalan apapun. Akan tetapi, dia malah didakwa melakukan hal yang rendah, didakwa berjina dengan wanita petani itu! Sungguh menya­kitkan hati memang. Bongkoknya terbawa-bawa pula, bahkan mungkin bongkoknya itulah yang menimbulkan kecurigaan para penduduk dusun, yang mendatangkan kesan buruk dan membuat dia condong nampak sebagai orang yang jahat!

"Biarlah," dia mengeluarkan kata-kata ini melalui mulutnya, dengan agak keras untuk melunakkan hatinya yang menjadi keras dan panas. "Biarlah mereka mengatakan apapun juga! Yang penting, aku yakin benar bahwa aku tidak melakukan hal yang buruk, dan Tuhan mengeta­hui, Tuhan melihat dan Tuhan yang tak­kan dapat ditipu oleh kebongkokan tu­buhku!" Pikiran ini diucapkannya keras-keras dan akhirnya hatinya menjadi di­ngin dan lunak kembali.

Si-aku adalah hasil dari akal pikiran dan rasa perasaan bahwa "aku a­da", bahwa di dalam jasmani ini yang meliputi juga akal pikiran dan perasa­an, terdapat "sesuatu" yang membuat jasmani ini hidup. Namun, karena rasa diri ada ini dinyatakan melalui perasaan hati dan akal pikiran, maka rasa diri ini terbungkus oleh nafsu. Perasaan hati dan akal pikiran tidak pernah da­pat terpisah dari pengaruh daya-daya rendah, yaitu keduniawian yang timbul dari kebendaan yang kita butuhkan dalam kehidupan, makanan dan hubungan antar manusia. Daya-daya rendah inilah yang menyerap ke dalam perasaan hati dan akal pikiran sehingga perasaan di­ri ada atau si-aku inipun mengandung nafsu-nafsu. Oleh karena itu, sesuai dangan sifatnya, nafsu yang sudah memperhamba si-aku tadi, membuat si-aku selalu ingin enak sendiri, ingin me­nang sendiri, ingin bahagia sendiri, ingin benar sendiri. Pendeknya, segala sesuatu di dunia ini, yang nampak maupun yang tidak nampak, oleh si-aku yang penuh nafsu diharapkan untuk kepentingan dirinya.

Betapapun pandainya manusia berusaha, dengan segala reka usaha dan ikhtiar untuk melepaskan cengkeraman daya-daya rendah yang membentuk nafsu, nanun jarang sekali ada yang berhasil. Sebagian besar menemui kegagalan dan mendapatkan bahwa semua usaha itu akhirnya hanya membawa dirinya ke dalam alam kekosongan belaka. Hal ini adalah karena usaha dan ikhtiar itupun merupakan pekerjaan akal pikiran belaka, dan karenanya diboncengi pula oleh daya-daya rendah itu! Jadi, tidak mungkin da­ya-daya rendah melanyapkan dirinya sendiri, tidak mungkin mengesampingkan pikiran dangan berpikir! Kiranya, satu-satuaya jalan bagi kita hanyalah penyerahan kepada Yang Maha Kasih, Yang Maha Kuasa. Tuhan pencipta segala yang ada dan tidak ada, yang nampak dan ti­dak nampak. Karena kekuasaan Tuhan meliputi di dalam dan di luar diri kita, maka kiranya hanya kekuasaan Tuhan sa­jalah yang akan mampu menolong kita, yang akan mampu mengatur agar pengaruh nafsu daya rendah tidak lagi mencengkeram hati dan akal pikir sehingga saga­la sepak terjang kita dalam hidup, ti­dak lagi dikemudikan oleh nafsu daya rendah, melainkan dikemudikan atau dibimbing oleh kekuasaan Tuhan!

Setelah Sie Liong dangan penuh kepasrahan menyerahkan segalanya kepada Tuhan, menerima segala keadaan dan segala peristiwa sebagai hal-hal yang sudah dikehendaki Tuhan, maka sedikit banyak diapun dapat mengatasi segala penderitaan yang mungkin timbul karena keadaannya atau karena peristiwa itu sendiri. Orang yang sudah pasrah kepada Tuhan dangan sepenuh hatinya, dangan keikhlasan dan kerelaan, penuh pasrah, sudah pasti takkan merasa penasaran, tidak akan merasa kecewa dan selalu di dalam hatinya terkandung rasa sukur dan terima kasih kepada kekuasaan Tuhan. Makin dihayati kepasrahan ini, semakin membuka matanya betapa kekuasaan Tuhan amatlah hebatnya, tak terukur dan menyusur ke dalam segala benda, bergerak tiada hentinya, nampak kadang-kadang kacau namun sebenarnya mengan­dung ketertiban yang mujijat, tak per­nah keliru, dan mengandung keadilan yang setepat-tepatnya walaupun kadang-kadang berada di luar pengetahuan akal pikiran manusia.

Tentu akan timbul bantahan. Ape­kah kalau begitu, hidup ini hanya diisi dengan kepasrahan belaka kepada kekuaaaan Tuhan? Bukankah kalau begitu maka hidup akan menjadi kosong dan mandeg, tidak ada semangat lagi untuk mencapai apa jang dinamakan kemajuan? Sa­lah pengetian ini harus diperbincang­kan karena memang mengandung bahaya! Arti panrah bukan berarti kita lalu membonceng kekuasaan Tuhan begitu saja lalu kita tertidur dan masa bodoh! Sama sekali tidak! Tuhan menciptakan kita sebagai mahluk bergerak, beranggauta badan lengkap, berakal pikir, maka semua itu harus kita pergunakan. Hal itu merupakan suatu kewajiban! Kita tidak benar sama sekali kalau mempersekutu kekuasaan Tuhan. Biar kekuasaan Tuhan bekerja dan kita enak-enakan, bermalas-malasan. Ini merupakan akal-akalan dari si-akal pikir yang dikuasai nafsu rendah! Kita bekerja, kita berusaha, kita berikhtiar dalam segala bidang. Namun, harus selalu kita ingat bahwa apapun jadinya, apapun hasilnya, apapun akibatnya dari setiap usaha ki­ta, berada di tangan Tuhan! Tubanlah yang menentukan pada akhirnya dan kalau kita menerima dangan pasrah, dengan penuh kepercayaan bahwa Tuhan tak akan pernah keliru mengatur, maka hasil atau akibat apapun yang kita terima, akan kita terima dangan hati terbuka, penuh kepasrahan pula, penuh rasa su­kur!

Kebahagiaan tak mungkin dicari, tak mungkin dikejar dangan usaha akal pikiran! Akal pikiran yang digerakkan nafsu selalu hanya membutuhkan KESENANGAN, dan kesenangan sama sekali bu­kanlah kebahagiaan, karena kesenangan itu pendek sekali umurnya. Kesenangan segera digilir dangan kesusahan, kepuasan diikuti kekecewaan. Kebahagiaan hanyalah suatu keadaan di mana perasa­an hati dan akal pikiran tidak lagi menguasai jiwa, kebahagiaan adalah keadaan jiwa yang sudah bersatu dangan Tu­han, seperti setetes air yang sudah kembali ke samudera! Tidak butuh apa-apa lagi karena segalanya sudah terca­kup di dalamnya! Dan semua ini hanya­lah kekuasaan Tuhan yang mampu menga­turnya, dan kita, dengan segala per­lengkapan kita, termasuk nafsu-nafsu daya rendah, hanya mampu MENYEBAR dengan PASRAH. Titik.

Sie Liong melanjutkan perjalanannya dan kini dia sudah melupakan sama sekali peristiwa yang menimpa dirinya di ladang itu. Memang sebaiknya kalau pikiran ini kita pergunakan untuk bekerja, berarti untuk memikirkan apa yang kita kerjakan sekarang dan setiap saat, bukan dipergunakan untuk mengenang hal-hal yang sudah lalu! Dia akan pergi. ke Tibet, dan kini dia sudah menuruni bukit terakhir dari deretan pegunungan Kun-lun-san yang panjang itu.

Dia berhanti di atas puncak bukit terakhir tadi, dan dari situ dia meli­hat ke selatan. Di sanalah terdapat propinsi Tibet! Dan kini dia telah ti­ba di perbatasan tiga propinsi besar. Di utara adalah Propinsi Sin-kiang. Di timur Propinsi Cing-hai, dan di sela­tan adalah Tibet, negara yang dikuasai para pendeta Lama itu.

Dia menuruni bukit dan menuju ke sebuah dusun yang tadi dilihatnya dari bukit itu. Daerah itu merupakan daerah yang tandus dan luas sekali, jarang terdapat dusun, maka kalau melihat sebuah dusun, maka hal itu merupakan hal yang menggembirakan bagi seorang pengelana di daerah itu. Mungkin berhari-hari dia tidak akan bertemu dusun, dan hari ini, matahari telah condong jauh ke barat. Sebentar lagi tentu akan ge­lap dan lebih baik melewatkan malam di dalam dusun yang hangat di mana dia dapat memperoleh makanan dan minuman da­ripada bermalam di daerah terbuka yang asing baginya.

Dusun itu cukup besar dikurung pagar tanah liat yang dibangun seperti tembok. Di dalam dusun itu tinggal penduduk yang jumlahnya tidak kurang dari lima ratus keluarga! Pekerjaan mere­ka bercocok tanam dan berburu, ada pu­la yang mengusahakan peternakan kam­bing. Dan melihat keadaan bangunan rumah yang cukup baik itu, Sie Liong dapat mengambil kesimpulan bahwa pengha­silan penduduk itu cukup untuk sandang pangan, bahkan berlebihan. Di situ terdapat pula beberapa buah warung makan, bahkan terdapat pula sebuah rumah penginapan! Kiranya dusun ini ada pula pengunjungnya dari luar kota pikirnya. Memang demikianlah, banyak dusun di daerah itu manyediakan rumah penginapan, karena mereka maklum bahwa para peda­gang dan pengelana yang lewat di dusun, dan kemalaman, tentu akan mencari rumah penginapan, mengingat bahwa du­sun berikutnya amatlah jauhnya! Dan banyak pula yang membuka tempat menjual barang-barang keperluan sehari-hari.

Sie Liong segera menyewa sebuah kamar di rumah penginapan itu. Berun­tung bahwa dia tidak terlambat, karena pada hari itu, banyak tamu luar kota bermalam di dusun itu. Kepala dusun itu mengadakan perayaan pesta pernikah­an puteranya! Dan tentu saja dia me­ngundang relasi dan sahabatnya dari luar dusun.

Setelah mandi dan makan malam, Sie Liong keluar dari kamarnya yang kecil dan berjalan-jalan di dalam dusun itu. Keadaan dusun itu tidak seperti biasanya. Kini ramai sekali. Hal ini adalah karena adanya pesta perayaan pernikahan di rumah kepala dusun. Boleh dibilang bahwa seluruh penduduk dusun ikut pula berpesta, atau setidak­nya, ikut bergembira dengan memasang lampu gantung di depan rumah masing-masing sehingga keadaan di luar rumah kini terang dan gembira, tidak seperti biasa. Juga sebagian basar penduduk keluar dari rumah mereka untuk menyaksi­kan pemboyongan mempelai wanita yang kabarnya akan diambil malam hari itu. Mempelai wanita adalah seorang gadis yang rumahnya di sudut dusun, dan pe­ngambilan mempelai itu dilakukan malam hari, diarak dan diikuti rombongan pe­nari dan penabuh gamelan. Pengantinnya akan naik joli yang digotong empat o­rang, sedangkan mempelai prianya akan menunggang kuda. Sie Liong mendengar keterangan ini dari pengurus rumah pe­nginapan dan diapun dengan gembira ki­ni berjalan-jalan sebelum nanti ikut nonton arak-arakan pengantin puteri yang diboyong ke rumah mempelai pria.

Tanpa disengaja, Sie Liong berja­lan‑jalan menuju ke barat dan tak la­ma kemudian tibalah dia di sudut dusun itu dan berada di luar rumah kediaman pengantin wanita! Rumah itupun dihias meriah, penuh daun-daunan dan bunga-bunga, di antaranya hiasan kertas dan kain berwarna-warni, dan dipasang banyak lampu gantung yang dihias kertas-ker­tas merah. Suasana di rumah itu meriah sekali, dan nampak banyak orang sedang sibuk mempersiapkan joli dan semua peralatan upacara pernikahan. Melihat ke­adaan rumah itu, tanpa diberitahupun Sie Liong dapat menduga bahwa tentu di situ tempat tinggal pengantin wanita. Karena di luar pekarangan rumah itu terdapat banyak orang yang nonton, terutama anak-anak, Sie Liong menggabung dengan mereka, berdiri di antara para penonton. Sebagian dari para penonton itu berpakaian jembel dan barulah Sie Liong tahu bahwa dia berdiri di antara para pengemis dan kanak-kanak ketika dari dalam keluar seorang yang membawa keranjang berisi makanan lalu orang itu membagi-bagikan makanan kepada mereka. Karena dia berada di antara mereka, diapun kebagian sepotong kueh mangkok! Hemm, dia disangka seorang jembel pula, pikirnya sambil tersenyum. Dia tidak merasa sakit hati. Memang pakai­annya lusuh, apalagi punggunguya bongkok. Bukankah di antara para pengemis terdapat banyak orang yang cacat dan tidak sempurna keadaan tubuhnya? Disangka pengemis bukanlah suatu hal yang buruk, asal jangan disangka penjahat seperti dialaminya di ladang dusun itu! Maka, seperti yang lain, diapun makan kueh mangkok itu dengan gembira.

Tiba-tiba dia melihat seorang pemuda yang baru datang manyelinap pula di antara para penonton. Dia merasa curiga. Pemuda itu jelas bukan pengemis dan melihat pakaiannya, tentu dia seo­rang petani. Seorang pemuda tani yang bertubuh sehat dan berwajah jujur, akan tetapi pada saat itu wajahnya mem­bayangkan kemarahan dan penasaran, bahkan masih ada bakas air mata pada ke­dua pipinya.

Pada saat itu, para penonton di luar halaman itu berdesakan untuk da­pat melihat lebih jelas ke dalam rumah karena agaknya ada upacara penghormat­an mempelai puteri kepada ayah ibunya sebelum ia diboyong ke rumah calon suaminya. Upacara itu diadakan di ruangan depan, di depan meja sembahyang. Ketika mempelai wanita yang berpakaian in­dah mariah itu muncul dari dalam, menuju ke ruangan depan yang nampak dari luar, dituntun oleh dua orang nenek yang agaknya menjadi pengatur upacara itu. Karena pakaian yang longgar dan banyak hiasannya itu, juga karena muka itu tertutup tirai, maka Sie Liong tidak dapat melihat wajah pengantin itu, hanya dapat diduga bahwa ia seorang gadis yang bertubuh ramping.

Ketika gadis yang menjadi pengan­tin itu dituntun ke depan ayah ibunya yang sudah duduk berjajar di atas kur­si, terdangar ia terisak menangis dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki mereka. Dua orang nenek itu terke­jut dan hendak menuntunnya agar ia berhati-hati dengan pakaiannya, akan tetapi mereka tidak kuasa menahan gadis pengantin itu yang sudah menangis tersedu-sedu. Terdengar ucapannya di antara sedu sedannya, "Ayah.... ibu.... aku tidak mau kawin.... aku tidak mau menikah dengan.... anak kepala dusun itu...."

Tentu saja semua orang yang berada di ruangan itu terkejut. Ayah dan ibu mempelai saling pandang dan ibunya lalu merangkulnya, menghiburnya dengan bisikan-bisikan lembut. Akan tetapi, mempelai wanita itu meronta-ronta dan tangisnya semakin menjadi-jadi.

"Lian-ji....! Hentikan tangismu itu! Jangan kau membikin malu orang tuamu!" Ayahnya menghardik dan bentakan ini membuat pangantin wanita itu ber­henti meronta, akan tetapi masih tetap menangis terisak-isak.

"Bawa ia masuk ke dalam kamarnya dan usahakan agar ia tidak menangis lagi! Anak sialan....!" Sang ayah marah-marah dan dua orang nenek itu lalu membawa pengantin wanita bangkit berdiri untuk membawanya kembali ke kamar.

Pada saat itu, terdangar teriakan dari luar. "Penasaran....! Sungguh tidak adil dan sewenang-wenang....!"

Dan pemuda petani yang tadi menimbulkan kecurigaan hati Sie Liong, nampak meninggalkan kelompok penonton dan berlari memasuki halaman, terus ke ruang­an depan itu. Semua orang terkejut dan juga ayah ibu mempelai wanita meman­dang dengan mata terbelalak.

"Lian-moi....!" Pemuda itu memanggil.

Mempelai wanita itu meronta dan membalikkan tubuhnya. Melihat pemuda itu, iapun berseru, "Kiong-koko....!"

Dan iapun menangis, masih berdirt karena dipegang erat-erat kedua lengannya oleh kedua orang nenek itu.

"Un Kiong? Mau apa engkau? Berani engkau datang ke sini membikin kacau? Kami tidak mengundangmu!" bentak ayah mempelai wanita itu dengan marah sekali.

"Saya datang untuk mohon keadilan! Sungguh penasaran sekali....!" Akan tetapi, tuan rumah sudah memerintahkan beberapa orang anggauta keluarga yang hadir dan merasa tidak senang dengan perbuatan pemuda itu, dan mere­ka kini menyerang pemuda yang tadinya sudah menjatuhkan diri berlutut itu.

"Pergilah! Pergi dan jangan da­tang lagi!" bentak tuan rumah setelah pemuda itu terjengkang dan bergulingan oleh beberapa pukulan dan tendangan. Akan tetapi pemuda bernama Un Kiong itu tetap bangkit dan berlutut lagi.

"Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum mendapat keadilan! Biar kalian m­emukuli aku sampai mati, aku tidak akan pergi!" teriaknya marah. Sementara itu mempelai wanita beberapa kali memanggil namanya. "Kiong-koko....!" akan tetapi ia sudah ditarik oleh dua orang nenek, dibantu ibu mempelai dan dise­ret masuk ke dalam kamar.

Mendengar kenekatan pemuda itu, para keluarga laki-laki itu menjadi marah, bahkan kini ayah mempelai ikut pula memukuli pemuda yang masih nekat berlutut. Melihat ini, Sie Liong cepat melompat ke dalam. Begitu dia bergerak menangkis tendengan dan pukulan itu, beberapa orang terjengkang dan roboh sendiri karena serangan mereka tertangkis sedemikian kuatnya, dan Sie Liong sudah mengangkat bangun tubuh pemuda itu yang sudah babak belur dan bengkak matang biru.

Melihat munculnya seorang pemuda bongkok yang membela Un Kiong, semua orang terkejut. Seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi besar dan pandai silat, merasa penasaran dan dia lalu menerjang ke depan, menghantam ke arah dada Sie Liong sambil membentak, "Mau apa kau mencampuri urusan kami?"

"Dukkk!" Kepalan tangannya yang besar itu tepat mengenai dada Sie Liong akan tetapi akibatnya sungguh membuat orang terbelalak. Bukan Sie Liong yang roboh melainkan pemukulnya sendiri yang mengaduh-aduh sambil memegangi perge­langan tangannya yang menjadi salah urat! Dia membungkuk dan menyeringai kesakitan, mengeluh. Melihat itu, tentu saja semua orang menjadi jerih dan ti­dak ada lagi yang berani menghalangi ketika Sie Liong memapah pemuda itu keluar dari situ. Ketika tiba di luar rumah dan melihat betapa banyak orang mengikutinya, yaitu mereka yang tadi nonton dan agaknya mereka ingin tahu ke mana dia membawa pemuda yang dipukuli itu, Sie Liong lalu memanggul pemuda itu dan berlari cepat sehingga seben­tar saja dia sudah menghilang dari kejaran para penonton.

Sie Liong membawa pemuda itu ke luar dusun dan dia baru berhenti setelah tiba di tempat sunyi di luar dusun itu. Mereka berdiri di bawah sinar bulan dan berkali-kali pemuda itu menghela napas penuh penyesalan. Dia tahu bahwa pemuda bongkok ini bukan orang sembarangan. Dia melihat ketika pemuda itu membawanya keluar dari dalam rumah mempelai wanita, dan terutama sekali cara pemuda itu memanggulnya dan membawanya lari secepat terbang.

"Taihiap, kenapa engkau monolongku? Mengapa engkau membawaku pergi dari sana?"

Sie Liong tersenyum. Orang ini telah diselamatkan dari keadaan yang le­bih parah lagi, mungkin dia akan mati dipukuli orang, dan pemuda ini tidak berterima kasih bahkan menyesal!

"Akan tetapi, kenapa engkau begi­tu nekat, membiarkan dirimu dipukuli orang? Kalau ttdak kularikan, mungkin engkau akan dipukuli sampai mati!"

"Biar saja! Biar aku dipukuli sampai mati agar Lian-moi melihat bukti cintaku kepadanya!"

"Wah, sungguh aneh. Coba caritakan, apa yang sesungguhnya telah terjadi? Siapa tahu, mungkin saja aku akan dapat menolongmu."

Pemuda itu menjatuhkan diri duduk di atas tanah berumput. Sie Liong juga duduk dan pemuda itu bercerita. Sejak kecil Un Kiong telah ditunangkan dengan Sui Lian, gadis itu. Bahkan Un Kiong sudah seringkali menyumbangkan te­naganya bekerja di sawah ladang tunang­annya. Pernikahan antara mereka ting­gal menanti hari, bulan dan tahun yang baik saja. Akan tetapi, secara tiba-tiba, orang tua Sui Lian mengumumkan bahwa pertunangan itu diputuskan, dibatalkan dan tahu-tahu, sebulan kemudian Sui Lian dinikahkan dengan putera kepala dusun itu!

"Kepala dusun itu orang baru, be­lum setahun dia diangkat menjadi kepa­la dusun dan bertugas di sini. Jelas­lah, dibatalkannya pertunanganku itu disebabkan oleh kehadiran putera kepa­la dusun itu. Seorang pemuda brengsek, pengejar perempuan, sombong dan tidak ada gunanya! Tadinya aku sudah meneri­ma nasib, aku tidak berdaya. Tadi aku hanya ingin melihat, bersama para penonton, ingin melihat bekas tunanganku yang sejak diputuskannya ikatan jodoh itu tidak pernah kulihat lagi. Akan tetapi, melihat ia menangis, mendengar ucapannya bahwa ia tidak mau dikawinkan dengan orang lain, aku tidak dapat menahan hatiku. Dan ia.... ah, ia masih sempat memanggilku, dan ia.... ia begitu bersedih....! Karena itu, aku ingin mati saja, biar mereka pukuli, biar aku mati di depan Lian-moi un­tuk membuktikan cinta kasihku kepada­nya!"

Sie Liong tersenyum. "Membuktikan cinta kasih dengan membiarkan diri mati dipukuli orang? Hemm, itu bukan ca­ra membuktikan cinta kasih yang baik! Kalau engkau mati dipukuli, apakah tu­nanganmu itu akan merasa gembira? Apa­kah perbuatanmu itu akan dapat membebaskan ia dari cengkeraman orang yang dipaksakan menjadi suminya?"

Un Kiong menjadi bengong, lalu dia berulang-ulang menggeleng kepala dan menghela napas. "Lalu apa yang dapat kulakukan, taihiap?"

"Engkau pulanglah dan biar aku yang akan membantumu. Aku akan membatalkan pernikahan paksaan itu dan akan mengantarkan mempelai wanita ke rumah­mu. Engkau bersiap-siaplah, besok si­ang mempelai wanita akan kuantarkan ke rumahmu dan harus kausambut ia sebagai mempelaimu."

"Tapi.... tapi.... tentu mereka akan marah. Aku akan ditangkap dan bahkan orang tuaku akan masuk tahanan dan dihukum!"

"Jangan khawatir. Aku yang ber­tanggung jawab, dan jangan takut. Aku akan menangani urusan ini sampai tuntas dan andaikata engkau ditawan, aku yang akan membebaskanmu."

Karena dia sendiri sudah tak ber­daya dan hampir putus asa, Un Kiong menaruhkan seluruh harapannya kepada pendekar yang bongkok itu, maka dia sege­ra menjatuhkan diri berlutut di depan Sie Liong. "Taihiap, sebelumnya saya menghaturkan terima kasih. Sebelum sa­ya pulang, mohon tahu nama besar taihiap, agar dapat kuceritakan kepada o­rang-tuaku."

Sie Liong menggelong kepala. "Na­maku tidak ada artinya, sobat. Kuberi­tahupun engkau tidak akan mengenalnya. Aku hanya kebetulan lewat saja di sini, dam aku selalu gatal tangan, ingin membereskan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Pulanglah dan tunggulah sampai besok."

Un Kiong memberi hormat, lalu dia pun pergi, kembali ke dusun dan pulang ke rumahnya. Dia disambut dengan omelan ayah ibunya yang sudah mendengar beritanya bahwa putera mereka membikin ribut di rumah mempelai wanita sehing­ga dipukuli keluarga mempelai wanita. Ketika Un Kiong menceritakan tentang Pendekar Bongkok yang menolongaya, dan tentang janji pendekar itu, ayah ibunya menjadi semakin tegang dan gelisah.

Sementara itu, Sui Lan telah di­paksa untuk menerina rombongan pengan­tin pria yang malam itu datang untuk menjemput mempelai puteri. Mempelai wanita masih menangis terus, akan tetapi karena ia memakai kerudung, dan karena memang sudah lajim mempelai wanita se­lalu menangis ketika dinikahkan, maka ia tidak menarik banyak perhatian. Mempelai wanita dituntun naik ke dalam joli yang dihias indah dan dipikul empat orang, sedangkan mempelai prianya me­nunggang seekor kuda yang besar. Mempelai pria ini nampak tampan dan gagah dalam pakaiannya yang indah dan beraneka warna. Dia tersenyum-senyum penuh lagak ketika menaiki kudanya, dibantu oleh beberapa orang. Petasan dibakar dan bunyi musik mengiringi pasangan mempelai yang akan meninggalkan rumah mempelai wanita itu.

Pada saat itu, muncul seorang pemuda bongkok di depan rombougan yang sudah siap untuk berangkat! Pemuda ini bukan lain adalah Sie Liong, Si Pendekar Bongkok!

"Berhenti!" bentak Sie Liong yang berdiri di tengah jalan. "Pernikahan ini salah tempat! Mempelai prianya bu­kan orang itu!" Dia menuding ke arah pemuda yang menunggang kuda dengan congkaknya.

Tujuh orang pengawal yang bertugas mengawal mempelai pria menjemput mempelai wanita, segera berlari menghampiri dan mereka memandang kepada Sie Liong dengan alis berkerut dan pandang mata marah. Akan tetapi, keluarga mempelai wanita yang mengenal pemuda bongkok itu menjadi gelisah.

Komandan pasukan pengawal yang hanya tujuh orang itu, seorang beruasia empat puluh tahun lebih yang kumisnya melintang kaku, maju dan menghadapi Sie Liong.

"Heii, apakah engkau ini orang gila? Siapakah engkau dan apa artinya perbuatanmu ini?" Kini semua orang su­dah datang ke tempat itu, menonton dari jarak yang aman sedangkan tujuh orang pengawal itu menghadapi Sie Liong yang bersikap tenang saja.

"Aku hanya seorang bongkok yang kebetulan lewat di dusun ini. Aku melihat peristiva yang membuat hatiku penasaran. Mempelai wanita yang bernama Sui Lian ini sudah mempunyai seorang tunangan sejak kecil yang bernana Un Kiong. Seluruh penduduk dusun ini ten­tu sudah mengetahui akan hal itu. Akan tetapi, secara mendadak partunangan i­tu dibatalkan sepihak dan Sui Lien dijodohkan dengan putera kepala dusun. Sungguh tidak adil sekali, apalagi karena mempelai wanita tidak suka menja­di isteri putera kepala dusun!"

"Eh, sungguh engkau telah menjadi gila! Pernikahan ini dilangsungkan se­cara sah dan menurut peraturan yang benar sebagai lanjutan dari pinangan yang diterima. Hayo engkau ini orang bongkok gila pergi dari sini daripada harus kami hajar!"

"Kalianlah yang harus pergi, juga mempelai pria itu. Pulang saja dan ka­takan kepada kepala dusun bahwa perni­kahan ini dibatalkan!"

"Kurang ajar!" Tujuh orang penga­wal itu dengan marah lalu menyerang dari sekeliling Sie Liong. Akan tetapi, sekali menggerakkan tubuhnya berputar, tujuh orang itu disapu roboh semua seperti tujuh helai daun kering saja! Tentu saja mereka terkejut dan mencabut senjata masing-masing.

"Sudahlah. Kalian hanya petugas dan tidak bersalah. Yang bersalah da­lam hal ini adalah orang tua mempelai wanita dan juga kepala dusun! Sebaik­nya kepala dusun itu disuruh ke sini dan kita rundingkan bersama dengan o­rang tua mempelai wanita. Urusan ini dapat diselesaikan dengan cara damai!" kata Sie Liong yang sabetulnya tidak ingin mempergunakan kekerasan.

"Orang gila ini sungguh kurang a­jar! Tangkap dia atau bunuh kalau melawan!" kini mempelai pria yang masih menunggang kuda itu membentak marah. Tentu saja dia marah dan merasa malu sekali bahwa upacara pejemputan mempelai wanita itu diganggu oleh seorang laki-laki bongkok yang agaknya gila!

Tujuh orang pengawal itu sudah menyerang dengan senjata mereka. Sie Liong hanya mengelak dan langkah-langkah dan loncatan kecil. Semua sambaran senjata tidak ada yang mampu menyentuh tubuhnya. Dia tidak ingin melukai mereka yang mengeroyoknya karena mereka bukanlah orang-orang jahat melainkan hanya orang-orang yang melaksanakan tugas mengawal mempelai. Diapun mengeluarkan bentakan nyaring, tangannya bergerak cepat dan mengeluarkan angin pukulan yang dahsyat, dan senjata di tangan tujuh orang itu beterbangan dan terlepas dari tangan para pemegangnya. Tentu saja tujuh orang itu terkejut sekali, juga jerih karena kini baru mereka maklum bahwa mereka menghadapi seorang muda yang aneh dan sakti.

Mempelai pria yang melihat betapa tujuh orang pengawalnya sama sekali tidak melawan orang bongkok itu, menjadi ketakutan dan diapun melarikan kudanya sambil berteriak, "Mari kita lapor ke­pada ayah!" Para pengikutnya lalu malarikan diri meninggalkan tempat itu.

Ayah dari mempelai wanita yang melihat terjadinya peristiwa ini, merasa khawatir, juga penanaran sekali. Akan tetapi diapun sudah maklum akan kehe­batan orang bongkok itu, maka dia menghampirl lalu memberi hormat.

"Taihiap, apa maksudnya taihiap melakukan semua ini? Taihiap, hanya a­kan mendatangkan malapetaka kepada ke­luarga kami!"

"Hmm, semua ini adalah akibat dari kesalahan keluarga mendiri, paman, Mari kita masuk dan bicara di dalam. Akulah yang bertanggung jawab terhadap akibat dari perbuatanku tadi.

Joli pengantin diangkut lagi memasuki rumah itu dan para pengiringnya juga masuk. Tidak ada yang berani mem­bantah Pendekar Bongkok, karena mereka kini semakin yakin bahwa pemuda boug­kok ini seorang pandekar yang sakti. Agaknya dari dalam jolinya, Sui Lian mendengarkan semua yang terjadi di luar. Ketika ia dituntun keluar dari joli untuk kembali ke kamarnya, tiba-ti­ba ia berlutut menghadap Sie Liong dan jelas terdangar suaranya, "Taihiap, saya berterima kasih sekali kepadamu!" Dua orang nenek dan ibunya, mengangkatnya bangun dan membawanya masuk ke dalam kamar.

Sementara itu, ayah Sui Lian lalu mengajak Sie Liong duduk menghadapi meja. Keluarganya lalu keluar dan minta kepada para penonton untuk pergi dan jangan berkerumun di depan rumah. Para penonton bubaran dan sebentar saja pe­ristiwa itu telah menjadi berita baru yang menegangkan seluruh penduduk du­sun itu. Un Kiong dan orang tuanya mendengar pula dan mereka menanti dengan jantung berdebar tegang. Un Kiong sen­diri diam-diam merasa girang dan tim­bul harapan baru dalam hatinya. Ternyata Pendekar Bongkok tidak membohongi­nya dan telah mencegah terjadinya pem­boyongan pengantin wanita! Tentu saja semalam itu dia sama sekali tidak dapat tidur sekejap matapun dan kalau saja tidak ingin mentaati perintah Pendekar Bongkok agar dia menanti saja di rumah, ingin dia pergi untuk melihat sendiri apa yang terjadi selanjutnya di rumah Sui Lian, bekas tunangannya.

"Paman, benarkah bahwa sejak kecil puterimu telah dipertunangkan dengan seorang pemuda bernama Un Kiong dari dusun ini juga?" Sie Liong berta­nya dan memandang tajam kepada tuan rumah yang kini didampingi isterinya.

Petani itu mengangguk. "Benar taihiap. Akan tetapi pertalian jodoh itu telah diputuskan, telah dibatalkan, maka Un Kiong tidak berhak untuk datang ke sini dan membikin ribut...."

"Akan tetapi mengapa, paman? Apa­kah kenalahan Un Kiong maka pertunang­an itu dibatalkan? Padahal, pertunangan itu telah berlangsung bertahun-ta­hun, sejak keduanya masih kanak-kanak!"

Ayah dan ibu Sui Lian saling memandang dan orang tua itu tidak mampu menjawab. Karena memang calon mantunya i­tu tidak mempunyai kesalahan apapun!

"Hemm, aku tahu, paman. Tentu karena datang pinangan dari kepala dusun. Maka engkau membatalkan ikatan perjodohan itu agar angkau dapat menerima lamaran kepala dusun, bukan?"

Orang tua itu mengangkat muka me­mandang kepada Pendekar Bongkok, lalu mengangguk membenarkan.

"Nah, aku ingin tahu sekarang. Kenapa kaulakukan hal itu? Kalau puteri­mu sudah bertunangan dengan Un Kiong, seharusnya kautolak saja lamaran kepa­la dusun dan berkata terus terang bahwa puterimu sudah mempunyai calon sua­mi."

"Ah, taihiap, mana kami berani melakukan hal itu? Kepala dusun itu baru saja menjadi kepala dusun di sini. Kami tidak berani menolak pinangan dan selain itu, tentu saja kami lebih suka melihat anak kami menjadi mantu kepala dusun karena ia akan dapat hidup mulia, terhormat, kaya raya dan...."

"Dan yang terpenting, paman dan bibi akan ikut pula naik derajatnya sebagai besan kepala dusun, begitukah?" Sie Liong menyambung dan suami isteri itu tersipu.

"Paman dan bibi, apakah ji-wi (kalian) menyayang puterimu?"

"Tentu saja!" jawab kedua orang tua itu.

"Kalau ji-wi menyayangnya, mengapa ji-wi memperlakukannya sebagai ba­rang dagangan saja? Siapa yang berani menawar lebih tinggi akan mendapatkan­nya? Ia bukan benda, bukan pula bina­tang, melainkan seorang manusia yang berperasaan. Ia berhak manentukan pilihannya sendiri. Ji-wi melihat sendiri betapa ia bersedih dan tidak suka menjadi isteri putera kepala dusun, a­kan tetapi ji-wi memaksanya! Benarkah perbuatan itu?"

Dua orang tua itu menunduk. "Kami.... kami melakukan hal itu demi kebahagiaannya, taihiap. Ia akan menjadi wanita terhormat di dusun ini dan hi­dup barkecukupan...."

"Itukah ukuran bahagia? Berbaha­giakah seekor burung dalam sangkar, walaupun sangkar itu terbuat dari emas? Ji-wi keliru, seyogianya menanyakan pendapat puteri ji-wi. Sungguh ti­dak adil kalau membatalkan pertunangan itu begitu saja, secara sepihak, se­dangkan kedua orang muda itu sudah sa­ling menyayang."

"Tapi, tapi kami tidak berani menolak.... dan sekarang.... perjodohan itu sudah ditentukan, dan taihiap.... ah, apa yang harus kami lakukan sekarang? Kami takut akan tindakan kepala dusun yang tentu akan marah sekali...." Suami isteri itu meratap dan ketakutan.

"Itu tanggung jawabku. Yang pen­ting, ji-wi mengakui kesalahan ji-wi dan bersedia untuk menyambung kembali ikatan jodoh antara Sui Lian dan Un Kiong."

Suami isteri itu saling pandang dan mereka menarik napas panjang. "Baiklah, taihiap. Kini kami dapat melihat kesalahan kami yang hendak mengorbankan perasaan hati anak kami dengan kemewahan keadaan lahiriah. Kami bersedia menyambung kembali perjodohan itu asal taihiap dapat membersakan urusan kemarahan dari pihak kepala dusun."

"Jangan khawatir. Nah, itu agaknya mereka datang," kata Sie Liong dengan hati lega dan diapun bangkit berdiri lalu keluar dari ruangan itu, berdiri di serambi depan. Masih terdapat penonton, akan tetapi mereka itu berdiri agak jauh, di tempat aman, bukan seperti tadi di luar pintu pagar. Dia me­lihat munculnya dua orang laki-laki yang sikapnya gagah, yang diiringkan oleh tujuh orang pengawal tadi. Agakaya pihak kepala dusun telah mengutus dua orang jagoan untuk menghadapinya.

Ketika mereka memasuki pekarangan dan langsung menghampiri Sie Liong yang berdiri di kaki tangga serambl depan, Sie Liong mengamati mereka dengan penuh perhatian. Dua orang yang sikapnya gagah sekali. Yang seorang bertubuh tinggi besar dengan muka persegi, jantan dan gagah, sedangkan orang ke dua bertubuh sedang, mukanya bulat dan muka itu dipenuhi brewok lebat yang rapi. Keduanya berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun, dan di balik pun­dak mereka nampak gagang pedang. Dua orang yang gagah. Sie Liong mengerutkan alisnya karena dia merasa seperti per­nah bertemu dengan mereka.

Seorang di antara dua orang gagah itu, yang tinggi besar, setelah meman­dang tajam kepada Sie Liong, lalu menegur, suaranya keras dan berwibawa, suara yang gagah. "Apakah engkau orangnya yang tadi menghalangi pemboyongan pengantin wanita oleh pengantin pria?"

Sie Liong menghadapi mereka dengan tenang. Dia belum mendangar akan kejahatan kepala dusun dan pernikahan itu berjalan seperti lajimnya. Kepala dusun sama sekali tidak memaksakan kehendaknya, karena itu dia tahu bahwa dia bukan menghadapi golongan yang jahat. Semua keributan itu timbul hanya karena salah pengertian, karena kele­mahan orang tua Sui Lian.

"Benar sekali, akulah yang tadi menghalangi pemboyongan yang tidak te­pat itu."

Dua orang gagah itu mengerutkan alisnya. "Pemboyongan tidak tepat? Apa­nya yang tidak tepat? Dangar, sobat yang sombong. Kami berdua adalah tamu dalam pasta itu dan sudah bertahun-tahun kami mengenal kepala dusun sebagai orang yang berwatak baik. Dia meraya­kan pernikahan puteranya dengan gadis dusun di sini, apa salahnya itu?"

"Mungkin dia tidak bersalah, akan tetapi sayang, yang dilamarnya itu adalah seorang gadis yang sudah mempunyai calon suami dan ikatan jodoh itu sudah berjalan sejak keduanya masih kecil. Tiba-tiba saja ikatan jodoh itu dibatalkan karena anak perempuan itu hendak dikawinkan dengan putera kepala daerah! Nah, bukankah hal itu merupakan suatu paksaan yang merugikan pihak calon suami?"

Kembali dua orang itu saling pan­dang dan kini si brewok yang berkata dengan suara lantang. "Semua itu merupakan urusan pribadi keluarga pengan­tin puteri, dan tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga kepala dusun. Pi­nangan sudah diterima dan pernikahan dilangsungkan, siapapun tidak berhak untuk menghalangi!"

"Maaf, akan tetapi aku berpihak kepada keluarga colon suami yang disia-siakan, maka aku yang menghalangi di­lanjutkannya pernikahan paksaan ini. Harap ji-wi suka kembali saja dan min­ta kepada kepala dusun untuk datang ke sini agar urusan ini dapat kita bicarakan dengan penuh kebijakan!"

"Hemm, tidak percuma kalau saha­bat kami kepala dusun itu memberi kepercayaan kepada kami untuk menghadapi pengacau! Engkau seorang pengacau, ma­ka mari ikut dengan kami menghadap ke­pala dusun! Kalau engkau menyerah baik-baik, kami tidak ingin menggunakan kekerasan." kata si tinggi besar.

"Kalau aku tidak mau?"

"Ji-wi taihiap, biar kami kero­yok saja dia!" teriak si kumis melin­tang yang memimpin para pengawal tadi. Tujuh orang itu agaknya kini berbesar hati karena hadirnya dua orang gagah itu, lupa bahwa tadi mereka sama sekali tidak berdaya menghadapi si bongkok. Akan tetapi, melihat mereka sudah bergerak hendak mengeroyok, dua orang gagah itu mengembangkan dua lengan dan mencegah mereka maju.

"Jangan kalian bergerak. Biarkan kami yang menghadapinya!" kata si tinggi besar dan tujuh orang pengawal itu­pun mundur kembali. Tadi mereka hendak maju hanya untuk menebus rasa malu, sesungguhnya mereka jerih maka kini dilarang maju, mereka diam-diam merasa lega.

"Sute, biarkan aku yang mencoba kelihaian orang sombong ini!" kata si tinggi besar yang segera melangkah maju. "Sobat, engkau sungguh tinggi ha­ti, handak mencampuri urusan pribadi keluarga orang lain. Agaknya engkau hendak mempergunakan kepandaian untuk melakukan kekerasan dan hendak merampas mempelai wanita itu!"

Sie Liong tersenyum. "Hemm, kalau aku bermaksud demikian, apa perlunya aku berada di sini menanti datangnya jagoan-jagoan dari kepala dusun? Tentu sudah kuculik dan kularikan mempelai wanita. Tidak, dugaanmu itu menyele­weng jauh, sobat. Aku hanya ingin membenarkan yang salah, tidak ada pamrih lain."

"Dan engkau akan mempertahankan pendirianmu itu dengan kekuatan dan ilmu silatmu?"

"Kalau perlu...."

"Bagus! Ingin kulihat sampai di mana kelihaianmu maka engkau sesombong ini!" bentak si tinggi besar itu dan dia membentak nyaring, "Lihat serang­an!"

Sikap itu saja membuktikan bahwa dia memang seorang gagah, seorang pen­dekar yang memberi peringatan sebelum melakukan serangan. Pukulannya amat kuat, mendatangkan angin pukulan yang menyambar dahsyat, juga datanguya cepat sekali. Melihat serangan ini, tahulah Sie Liong bahwa dia berhadapan dengan lawan yang "berisi", bukan sekedar tu­kang pukul yang besar suaranya saja. Maka, diapun dengan hati-hati mengelak ke kiri, lalu dari kiri tangannya me­nyambar ke kanan depan, membalas dengan totokan ke arah lambung kanan yang terbuka. Namun, lawannya sudah menarik tangan, menekuk lengan dan memutar tubuh ke kanan sambil menangkis keras. Agaknya, si tinggi besar ini hen­dak mencoba tenaga lawan, maka ketika menangkis totokan itu, dia mengerahkan sin-kang.

"Dukkk!" Dua lengan bertemu keras sekali dan akibatnya, si tinggi besar mengeluarkan seruan kaget. Dia merasa betapa lengannya nyeri, tulangnya se­perti akan patah dan lengan kanan itu lumpuh dalam satu dua detik. Dia cepat meloncat mundur dan memandang lawan dengan sinar mata tajam, maklum bahwa si bongkok ini benar-benar hebat! Maka diapun lalu menerjang dengan cepat, bagaikan serangan badai, kaki tangan­nya bergerak cepat dan setiap pukulan dan tamparannya dilakukan dengan pengerahan tenaga. Namun, dengan te­nang Sie Liong selalu manghindarkan diri, dengan langkah-langkahnya yang teratur.

"Hyaattttt....!" Kini lawannya menyerang dengan lebih dahsyat lagi. Setiap pukulan telapak tangannya me­ngandung tenaga dahsyat yang panas!

Sie Liong maklum bahwa lawannya mempergunakan semacam sin-kang yang hebat, maka diapun segera mengerahkan sin-kangnya dan memainkan ilmu silat Swat-liong-ciang (Silat Naga Salju). Ketika tangan mereka bertemu dalam benturan dahsyat, orang tinggi besar itu terhuyung ke belakang dan dia terbela­lak, tubuhnya menggigil kedinginan! Memang, Swat-liong-ciang itu merupakan ilmu silat ampuh yang mengeluarkan ha­wa dingin dan ilmu ini diperoleh Sie Liong dari seorang di antara guru-gurunya, yaitu Swat Hwa Cinjin, seorang di antara Himalaya Sam Lojin.

Melihat suhengnya terhuyung dengan tubuh menggigil dan muka pucat, si brewok menerjang dahsyat sambil membentak, "Lihat seranganku!"

Kedua tangan itu bergerak cepat, merupakan dua cakar yang mencengkeram ke bagian-bagian lemah dari tubuh Sie Liong. Serangannya bertubi-tubi dan ternyata sang sute ini tidak kalah li­hainya dibanding sang suheng! Sie Liong maklum bahwa ilmu silat yang dimainkan itu semacam ilmu yang meniru ge­rakan harimau, maka dahsyat sekali dan melihat kuatnya sambaran angin pukulan tentu cakar istimewa dari tangan orang itu, walaupun tidak berkuku panjang, tidak kalah berbahayanya dari pada ca­kar seekor harimau! Diapun cepat berloncatan mengelak dan kini dia memain­kan ilmu silat Pek-in Sin-ciang (Silat Sakti Awan Putih) dan begitu dia mengerahkan tenaga sin-kang, dari telapak kedua tangannya berkepul uap putih dan semua cakaran lawan dapat ditangkisnya dengan tepat. Diapun membalas dengan dorongan-dorongan telapak tangannya dan akhirnya, lawan yang brewok itupun terhuyung-huyung ke belakang, tidak kuat manahan hawa yang amat kuat menyam­bar dari kedua tangan Sie Liong.

Kini, dua orang gagah itu melon­cat mundur dan mereka berdua mencabut pedang dari punggung! Mereka maklum bahwa dengan tangan kosong mereka tidak akan mampu mengalahkan orang bong­kok itu, maka mereka mencabut senjata!

"Sobat, ternyata engkau benar a­mat lihai. Nah, keluarkan senjatamu, mari kita bermain-main sebentar dengan senjata!" tantang si tinggi besar dengan sikap gagah.

Sie Liong menjura kepada mereka. "Mana aku berani? Aku tidak pernan bermain-main dengan senjata, dan aku ti­dak akan pernah mau mangangkat senjata untuk melawan pendekar-pendekar dari Kun-lun-pai yang gagah perkasa, karena aku tahu benar bahwa para pendekar Kun-lun-pai selalu membela yang benar dan tidak pernah melakukan kejahatan!"

Dua orang itu terbelalak. "Engkau.... mengenal kami? Siapakah engkau sebenarnya?" tanya si tinggi besar. Mereka memang benar murid-murid Kun-lun-pai, yang tinggi basar bernama Ciang Sun, sedangkan sutenya yang brewokan, bernama Kok Han.

"Tentu saja aku mengenal ji-wi, bahkan kurang lebih tujuh delapan tahun yang lalu kita pernah saling berjumpa. Ketika itu, ji-wi berusaha menolong seorang tosu tua yang diseret oleh dua orang pendeta Lama, akan teta­pi ji-wi tertotok roboh. Nah, di tem­pat itulah kita saling berjumpa!"

"Ahh....!" Dua orang pendekar Kun-lun-pai itu berseru kemudian saling pandang. "Engkau.... engkau bocah bongkok yang terpukul oleh pendekar Lama itu....? Tapi.... tapi kami sangka engkau sudah mati....!"

Sie Liong tersenyum dan mengge­leng kepalanya. "Tidak mati, aku tertolong oleh Himalaya Sam Lojin yang menjadi guru-guruku...."

"Ahhh....! Kiranya saudara adalah murid lima orang kakek sakti itu? Pantas begini lihai! Akan tetapi, mengapa.... eh, tentang urusan pengantin itu...." Dua prang pendekar Kun-lun-pai itu menjadi gugup karena mere­ka tadi memandang rendah.

"Harap ji-wi tenang-tenang saja. Sungguh, tentu ji-wi percaya bahwa aku tidak akan melakukan perbuatan yang jahat, bukan? Ketahuilah, aku bertemu dengan pemuda yang sejak kecil menjadi tunangan gadis yang kini menjadi pe­ngantin. Sejak kecil bertunangan lalu tiba-tiba dibikin putus dan tunangan­nya tahu-tahu akan dinikahkan dengan putera kepala dusun! Bukankah hal itu sama sekali tidak adil? Juga pengantin wanita kulihat sendiri tidak mau dijodohkan dengan anak kepala dusun, akan tetapi kedua orang tuanya yang agaknya mata duitan dan mata kedudukan, memaksanya. Itulah sebabnya aku turun tangan...."

"Ah, kalau begitu, lain lagi urusannya!" kata Kok Han. "Sungguh heran, kenapa bisa terjadi demikian? Padahal kepala dusun itu telah lama kami kenal sebagai orang yang baik dan bijaksana."

"Mungkin dia tidak tahu," kata Sie Liong. "Dia hanya tahu meminang, diterina dan merayakan pernikahan puteranya. Karena itu, sebaiknya kalau dia diajak berunding, sukur kalau dia mau datang ke tempat ini agar perundingan dapat diadakan bersama orang tua mempelai puteri. Tentu ji-wi sekarang sudah tahu akan duduknya perkara dan suka membantu agar peristiwa ini dapat diselesaikan dengan baik."

Dua orang pendekar Kun-lun-pal itu tentu saja menyetujui usul Sie Liong. "Baik, kami yang akan menjelaskan kepada keluarga Sun, dan kami akan membujuk kepala dusun Sun agar suka datang ke sini."

"Terima kasih, ji-wi memang bijaksana. Aku menunggu di sini," kata Sie Liong. Dua orang pendekar Kun-lun-pai itu segera pergi dan mereka merasa bersukur bahwa mereka tidak usah kehilangan muka, tidak sampai dirobohkan oleh Pendekar Bongkok. Mereka kini tahu bahwa kalau lawan tadi menghendaki, me­reka tentu saja sudah roboh, bahkan mungkin tewas. Dan mereka kini tidak ragu-ragu lagi akan kebenaran apa yang dilakukan oleh Pendekar Bongkok.

Benar saja seperti dugaan Sie Liong, kepala dusun Sun tak lama kemudi­an datang ke rumah calon besan itu, ditemani oleh dua orang pendekar Kun-lun-pai. Mereka lalu disambut dan dipersilakan duduk di ruangan dalam di mana mereka mengadakan pembicaraan. Yang hadir hanyalah suami isteri orang tua Sui Lian, kepala dusun Sun, Sie Liong dan juga dua orang pendekar itu, Ciang Sun dan Kok Han.

Dengan jelas Sie Liong lalu menceritakan tentang pemutusan pertalian jodoh antara Sui Lian dan Un Kiong, yang didengarkan oleh kepala dusun Sun dengan alis berkerut. Sie Liong lalu me­lanjutkan ceritanya.

"Hendaknya jung-cu (lurah) ketahui bahwa pertunangan kedua orang muda itu sudah diketahui oleh seluruh penduduk dusun ini, dilakukan semenjak ke­duanya masih kanak-kanak. Kalau tiba-tiba pertunangan itu dibikin putus secara sepihak, kemudian gadis itu dinikahkan dengan anakmu, bukankah penduduk akan menganggap bahwa jung-cu sewenang-wenang, mempergunakan kekuasaannya untuk merampas tunangan orang? Kalau jung-cu ingin disuka oleh seluruh penduduk dusun, ingin menjadi seorang kepaia dusun yang bijaksana, kiranya tentu tidak ingin merampas tunangan orang dan memaksa gadis itu menikah dengan puteramu."

Kepala dusun Sun memandang kepada tuan rumah, yaitu ayah dari Sui Lian. "Akan tetapi, kalau memang Sui Lian sudah mempunyai tunangan, kenapa pi­nangan kami diterima?"

Sie Liong menoleh kepada tuan rumah dan isterinya, lalu berkata dengan tenang, "Kiranya paman dan bibi ini akan dapat menjawab pertanyaan itu dan sekaranglah saatnya semua orang berterus terang dan meluruskan yang bengkok, membenarkan yang salah!"

Wajah tuan dan nyonya rumah menjadi agak pucat dan dengan suara gemetar, ayah Sui Lian lalu berkata, "Mohon ampun kepada jung-cu.... ketika jung-cu mengajukan pinangan, kami.... kami merasa terhormat dan berbahagia sekali, kami tidak berani menolak dan tidak berani menceritakan tentang pertunangan itu.... dan kami merasa bangga kalau menjadi besan jung-cu, maka kami diam saja dan...."

"Brakkk!" kepala dusun Sun menggebrak meja dengan kedua tangannya, dan mukanya menjadi merah sekali. "Kalian kira aku ini orang macam apa? Seorang pembesar yang mengandalkan kekuasaan­nya memaksakan kehendaknya kepada rak­yat? Sungguh, itu namanya memandang rendah kepada kami!"

"Ampunkan kami.... jung-cu....!" tuan dan nyonya rumah menjadi ketakut­an.

Kepala dusun itu menarik napas panjang. "Sudahlah, gara-gara sikap kalian yang keliru, yang gila kehormatan dan kedudukan, kalian telah membuat kami sekeluarga menjadi malu saja. Semua tamu sudah datang dan semua peralatan upacara pernikahan telah disiapkan, bagaimana mungkin pernikahan dibatalkan? Kami akan menjadi buah cemoohan dan tertawaan orang saja! Siapa nama tu­nangan Sui Lian itu?"

"Namanya Un Kiong...."

"Di mana dia? Panggil dia ke sini!"

Sie Liong bangkit. "Biarlah aku yang memanggil dia ke sini." Dan seka­li berkelebat, pemuda bongkok inipun lenyap dari situ. Tak lama kemudian dia sudah datang lagi bersama Un Ki­ong. Pemuda ini agak pucat. Bagaimana­pun juga, dia ketakutan.

Akan tetapi, kepala dusun Sun bersikap tenang. "Un Kiong, mulai saat i­ni, engkau kuanggap sebagai anak ang­katku dan besok engkau akan kunikahkan dengan Sui Lian. Sukakah engkau?"

Un Kiong menjatuhkan diri berlu­tut di depan "ayah angkatnya" dan ha­nya mampu menangis saking gembiranya. Sie Liong bertemu pandang dengan dua orang pendekar Kun-lun-pai dan mereka tersenyum, kagum akan hasil pekerjaan Pendekar Bongkok.

Pada keesokan harinya, pesta per­nikahan tetap dirayakan di rumah kepa­la dusun, hanya saja, yang menikah bu­kanlah putera kandungnya, melainkan "putera angkatnya". Puteranya sendiri disuruhnya pergi ke kota di selatan, untuk menghindarkan pergunjingan o­rang.

Ketika sepasang mempelai diperte­mukan, Sie Liong dan dua orang pende­kar Kun-lun-pai mendapat kursi kehor­matan. Dan dua orang mempelai itu tan­pa diperintah, langsung saja mengham­piri Sie Liong dan keduanya menjatuh­kan dirinya berlutut di depan pemuda bongkok itu.

"Wah.... jangan....! Tidak perlu begini....!" katanya den sekali berkelebat, Pendekar Bongkok sudah lenyap da­ri tempat itu, bahkan dari dusun itu yang ditinggalkannya cepat-cepat.

Peristiwa ini bukan hanya mengun­tungkan dua orang muda yang sudah sa­ling mencinta itu, akan tetapi juga mondatangkan keuntungan benar kepada kepala dusun Sun. Perbuatannya itu mendatangkan perasaan hormat dan suka se­kali dalam hati para penduduk dusun i­tu sehingga dia menjadi seorang kepala dusun yang dihormati, disuka dan dita­ati sehingga dia selalu dipilih, menjadi kepala dusun selama hidupnya!

Sie Liong sendiri melanjutkan perjalanan dengan wajah cerah. Mulutnya selalu tersenyum. Girang bukan main rasa hatinya bahwa dia telah berhasil menyambung perjodohan yang putus itu! Dia dapat membayangkan betapa bahagia­nya sepasang orang muda itu! Akan tetapi diapun melihat bahwa kesenangan yang dinikmati sepasang orang muda itu tidaklah kekal adanya. Seperti juga keadaan udara, kehidupan manusia tidak selamanya diterangi sinar matahari. Banyak sekali awan hitam berarak di ang­kasa, sewaktu-waktu dapat mengurangi kecerahan matahari, bahkan menggelap­kannya sama sekali. Akan tetapi, itu soal nanti! Yang penting, sekarang mereka berbahagia dan diapun merasa ber­bahagia karena perbuatannya telah ber­hasil membahagiakan orang lain!

Dusun Ngomaima biasanya tenteram. Keributan hanya kadang-kadang saja terjadi, itupun kalau dusun itu kedatang­an banyak tamu pedagang yang membawa pasukan pengawal masing-masing. Para anggauta pasukan pengawal inilah yang suka membikin ribut. Mereka bermabok-mabokan di dusun itu dan seringkali terjadi pertengkaran di antara para pasukan pengawal. Juga kadang-kadang me­reka itu hendak memaksakan kehendak mereka kalau melihat wanita cantik. Akan tetapi, Gumo Cali selalu dapat mereda­kan keributan yang timbul.

Maka, amatlah aneh rasanya bagi para pendatang ketika selama beberapa pekan, dusun Ngomaima sama sekali berubah keadaannya. Terutama sekali di waktu malam. Dusun itu sunyi sekali, dan hampir semua penghuni tidak berani ke­luar dari rumah mereka begitu matahari sudah menyelam. Di sana sini para penghuni pria melakukan penjagaan dan pe­rondaan, dan pekerjaan inipun dilaku­kan dalam suasana penuh ketakutan. Hal ini amat menarik hati para pendatang dan beberapa orang kepala pasukan pangawal yang merasa diri mereka kuat, bertanya. Setelah mereka mendapatkan keterangan bahwa dusun itu sejak beberapa pekan telah diganggu oleh munculnya siluman yang pada malam hari menculik gadis-gadis tercantik, mereka lalu bang­kit dan mempergunakan pasukan mereka untuk mencoba menangkap siluman. Namun usaha mereka semua gagal, seperti juga usaha Gumo Cali sendiri. Banyak sudah anak buah Gumo Cali roboh dan menderita luka-luka, juga kini para jagoan dari pasukan pengawal juga banyak yang luka, bahkan ada yang tewas ketika me­reka berusaha untuk menangkap "silu­man" itu. Banyak jagoan merasa gentar karena siluman itu kabarnya memiliki kesaktian yang luar biasa, yang tidak mungkin dilawan dengan ilmu silat bia­sa saja. Maka, setelah banyak jagoan diantara para pengawal mancoba-coba untuk mengadu kepandaian dengan siluman itu dan gagal, bahkan banyak yang ro­boh terluka, bahkan ada yang tewas, tidak ada lagi yang berani mencoba-coba!

Sudah ada tiga orang gadis cantik yang lenyap tanpa meninggalkan jejak, lenyap begitu saja dari kamar di rumah orang tua mereka! Siluman itu selalu beraksi pada malam hari dan hebatnya, sebelum malam hari dia datang, pada siang harinya dia lebih dahulu memberi tanda cairan merah yang dioleskan pada pintu rumah calon korbannya. Ketika Gumo Cali sendiri melakukan pemeriksaan, ternyata cairan merah itu adalah da­rah! Dan malamnya, biarpun sudah dija­ga ketat, tetap saja siluman itu da­tang, merobohkan siapa saja yang mencoba untuk menghalanginya, kemudian men­culik gadis yang dipilihnya! Menurut keterangan mereka yang pernah diroboh­kannya, siluman itu datang dan pergi sebagai bayangan saja, tidak kelihatan jelas orangnya kalau memang dia manu­sia, tidak nampak jelas mukanya, dan bayangannya selalu berwarna merah. Ma­ka, siluman itupun terkenal dengan se­butan siluman merah!

Keadaan dusun Ngomaima menjadi semakin geger ketika pada suatu siang, ada lagi coretan merah pada sebuah da­un pintu. Betapa penduduk tidak akan geger kalau coretan itu sekali ini terdapat pada daun pintu rumah Gumo Cali sendiri? Ketua mereka, kepala dusun dan pemimpin mereka, yang ditakuti se­mua orang, kini hendak diganggu oleh siluman itu! Dan coretan itu bukan ha­nya satu, melainkan dua! Ini berarti bahwa yang akan diculik adalah dua o­rang gadis, dan memang Gumo Cali memi­liki dua orang anak perempuan yang cantik manis, berusia empat belas dan enam belas tahun!

Gumo Cali menjadi panik! Usaha penjagaan ketat dengan para jagoan ti­dak menenteramkan hatinya karena sudah terbukti berulang kali betapa para ja­goan itu tidak ada yang mampu menan­dingi kesaktian siluman itu, maka ja­lan keduapun diambilnya, jalan dari mereka yang masih tebal kepercayannya a­kan tahyul, yaitu mengundang seorang dukun!

"Untuk mengusir siluman tidak mungkin dipergunakan kekuatan otot," demikian katanya kepada isterinya yang terus menerus menangis, juga kedua pu­terinya yang menangis ketakutan, "akan tetapi harus dengan kekuatan sihir, dan yang akan mampu mengusirnya dan menyelamatkan dua orang anak kita hanya­lah seorang dukun."

Di daerah Ngomaima terdapat seo­rang dukun yang cukup terkenal. Dia selalu dipanggil kalau ada orang hendak membangun rumah, kalau ada orang mati, bahkan kalau ada yang sakit, diapun diundang untuk mangobati dengan cara yang aneh. Dia juga seorang peranakan Tibet Han, memiliki nama Han yaitu Bong Ciat dan selalu minta disebut Bong Sian-jin, seolah-olah dia adalah seorang manusia dewa!

Bong Sian-jin diundang dan dengan gaya seorang dukun sejati yang penuh dengan ilmu sihir, dukun ini datang dan penampilannya memang mengesankan sekali. Pakaiannyapun aneh, merupakan jubah pendeta yang lebar dan lengannya longgar, akan tetapi kalau jubah pendeta itu biasanya sederhana berwarna po­los putih atau kuning, jubah yang dipakai dukun ini kembang-kembang dan berwarna-warni! Juga dia pesolek sekali, karena selain pakaiannya licin dan se­patunya baru, juga rambutnya tersisir licin berminyak, dan hebatnya, kalau orang berada dua tiga meter saja dari­nya, orang itu akan mencium bau mi­nyak yang sangat wangi! Usia Bong Sian-jin ini kurang lebih empat puluh tahun, dengan kumis kecil panjang berjuntai ke bawah, bersambung dengan jenggotnya yang juga jarang. Matanya yang amat sipit itu sukar dikatakan melek atau me­ram, hidungnya besar dan mulutnya ke­cil selalu tersenyum mengejek. Di punggungnya terdapat sebatang pedang, ta­ngan kanannya memegang sebuah kebutan berbulu putih dan tangan kirinya meme­gang sebuah kipas yang dikebut-kebut­kan ke arah lehernya ketika dia mama­suki rumah Gumo Cali dengan lenggang dibuat-buat!

Gumo Cali dan isterinya cepat me­nyambut dengan sikap hormat, dan begi­tu melihat tuan rumah, tiba-tiba dukun itu berhenti melangkah, hidungnya mengembang-kempis, mendengus dan mencium-cium, matanya yang sipit itu melirik ke kanan kiri, lalu mulutnya mengeluarkan keluhan panjang, "Hayaaaaaaa....!" dan diapun mengangguk-angguk.

Melihat ini, Gumo Cali cepat mem­beri hormat dan bertanya, "Sian-jin, apakah yang engkau ketahui? Katakan kepada kami!"

"Aih, penuh hawa siluman di sini! Harus disingkirkan dulu hawa siluman ini, kalau tidak, akan meracuni semua penghuni rumah!" Diapun mengeluarkan sebungkus hioswa (dupa biting) dari kantung jubahnya yang lebar, mengeluarkan beberapa batang dupa dan menyala­kannya. Asap yang mengeluarkan bau ha­rum segera memenuhi ruangan depan itu. Mulut si dukun berkemak-kemik membaca mantram, kemudian terdengar dia berka­ta sambil mengacung-acungkan hio itu ke empat penjuru. "Yang datang dari u­tara, kembalilah ke utara, yang datang dari timur, kembalilah ke timur, yang datang dari selatan kembalilah ke selatan dan yang datang dari barat kembalilah ke barat. Jangan ganggu rumah ini, melainkan kumpulkan semua kawanmu un­tuk membantu aku mengusir siluman me­rah!" Dia lalu mengeluarkan gerengan-gerengan aneh yang pantasnya hanya ke­luar dari leher binatang buas. Tentu saja sikap dan perbuatannya yang aneh ini mengesankan sekali dan hati Gumo Cali dan isterinya sudah mulai merasa lega. Tentu dukun sakti ini akan mam­pu mengusir siluman merah dan menyela­matkan puteri-puteri mereka.

Bagaikan orang yang sedang kemasukan dan bukan kehendaknya sendiri, tanpa permisi lagi Bong Sian-jin memasuki rumah, mengacung-acungkan hio yang masih berasap itu, mengelilingi seluruh ruangan di rumah itu. Kemudian dia bertanya, "Di mana kamar dua orang gadis itu?"

Diam-diam Gumo Cali menjadi semakin gembira. Kiranya dukun ini sudah tahu bahwa dua orang gadisnya itulah yang diancam oleh siluman merah!

"Di sana, Sian-jin, di sudut itu...." jawabnya cepat.

"Bawa aku ke sana, dan suruh dua orang gadismu itu menemuiku, akan kulihat apakah mereka sudah terkena hawa siluman ataukah belum!"

Dengan senang hati ayah dan ibu itu lalu mengajak Bong Sian-jin memasuki sebuah kamar yang cukup besar. Di situ terdapat sebuah pembaringan yang lebar, yaitu pembaringan dari kakak beradik itu. Mere­ka yang tadinya bersembunyi di tempat lain, segera dipanggil dan dua orang gadis yang cantik manis itu kini berdiri dengan muka pucat di depan Bong Si­an-jin yang memandang kepada mereka dengan mata seperti terpejam! Namun, di balik pelupuk mata yang tertutup itu mengintai sepasang mata yang tajam, sinar mata yang menjelajahi seluruh tu­buh kedua orang gadis itu dari kepala sampai ke kaki dan mata itu bersinar­ gairah!

Tiba-tiba Bong Sian-jin mengeluarkan seruan, "Uhhhh....!" dan diapun terhuyung ke belakang. "Sungguh celaka....!"

"Ada apakah, Sian-jin....?" tanya Gumo Cali cepat dan wajahnya geli­sah sekali.

"Celaka, mereka ini sudah diselu­bungi hawa siluman yang amat kuat!"

Ibu kedua orang anak itu menjerit ketakutan dan dua orang anak perempuan itupun menangis dan tubuh mereka meng­gigil.

"Aduh.... lalu bagaimana baiknya, Sian-jin? Tolonglah anak-anakku, tolonglah kami.... apapun yang kauminta akan kami laksanakan untuk membalas budi kebaikanmu.... tolonglah...." kata kepala dusun itu cemas dan keli­hatan ketakutan, sungguh tidak sesuai dengan kegagahannya sebagai seorang jagoan nomor satu di dusun Ngomaima itu. Ketahyulan dapat membuat orang yang bagaimana perkasapun menjadi seorang pengecut dan penakut.

"Jangan khawatir heh-heh, jangan khawatir. Selama masih ada Bong Sian-jin, jangan khawatir....! Akan tetapi, dua orang nona ini perlu dibersihkan dari hawa siluman. Aku akan membersihkan mereka dan semua orang tidak boleh mendekati kamar ini, karena ka­lau sampai ada yang terkena hawa silu­man, aku akan menjadi repot saja. Biarkan mereka di kamar ini, aku akan membersihkan dan menjaga, kalau siluman datang, akan kuusir dia.... heh-heh, jangan khawatir, ada Bong Sian-jin, heh-heh-heh!"

"Baik, baik.... ah, terima kasih sebelumnya, Sian-jin. Dan apa.... apa syaratnya, apa yang perlu kami persiapkan?"

"Mudah saja. Seember besar air yang diberi air kembang yang harum, dan dupa harum harus dibakar di sudut kamar. Sediakan saja seember air itu, aku sendiri yang akan mempersiapkan segalanya, angkat ember ke dalam kamar i­ni, lalu tinggalkan kamar ini, jangan ada yang berada di luar kamar. Kalau aku belum memanggil, jangan ada yang berani mendekat kalau ingin selamat dan bebas dari hawa siluman!"

Mendengar ini, seluruh penghuni rumah menjadi ngeri dan ketakutan. Se­gera seember air harum itu diangkat masuk ke dalam kamar. Ibu kedua orang gadis itu merangkul mereka dan berkata, "Jangan kalian takut, ada Bong Sian-jin yang sakti di sini. Kalian akan dibersihkan dan dibebaskan dari.... siluman...." Dua orang gadis yang ketakutan itu merasa tidak berdaya dan hanya mengangguk. Bagi mereka, sikap dukun itu saja sudah sama mengerikan seperti berita tentang siluman, terutama sekali sepasang mata yang selalu terpejam akan tetapi ada sinar mata di balik garis mata sipit itu yang meman­dang kepada mereka secara mengerikan! Juga mulut kecil yang tersenyum-senyum itu, hidung besar yang cupingnya kem­bang kempis, sungguh membuat dua orang gadis itu menjadi semakin ketakutan. Akan tetapi, karena dukun ini katanya hendak menyelamatkan mereka dari ceng­keraman siluman merah, maka merekapun pasrah!

Setelah melihat betapa dengan pe­nuh semangat kepala dusun Gumo Cali mengusiri semua orang agar menjauhi ka­mar dan sama sekali tidak boleh mende­kat, dan semua orang kini telah pergi, dukun itu lalu menutupkan daun pintu kamar itu, memalangnya dari dalam dan sambil menyeringai diapun menghadapi kedua orang gadis remaja yang masih gemetar ketakutan itu.

Ketahyulan adalah suatu kebodoh­an. Suatu kepercayaan akan adanya roh jahat atau setan iblis yang suka mun­cul dan mengganggu manusia secara jas­maniah. Ketahyulan merupakan kebodohan yang amat berbahaya dan muncul karena kekurang-kuatan iman terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia yang sudah menyerahkan seluruh hidupnya, seluruh jiwa raganya kepada Tuhan, tentu tidak akan mudah termakan tahyul, atau dengan lain kata, tentu tidak akan takut ter­hadap gangguan iblis karena yakin bah­wa Tuhan akan melindungi setiap orang manusia yang pasrah kepada Tuhan terhadap segala macam iblis. Orang yang tahyul bukanlah berarti orang yang tidak percaya akan adanya roh jahat dan ib­lis. Melainkan orang yang tidak takut terhadap iblis, tidak memuja saking takutnya. Orang yang tahyul condong un­tuk memuja iblis, setidaknya menghor­matinya dan tunduk. Inilah bedanya. Yang tidak tahyul menghadapi godaan iblis dengan penyerahan dan iman kepada Tuhan, sebaliknya yang tahyul mengha­dapi godaan iblis dengan usaha menyenangkan hati iblis agar tidak mengganggunya, dengan memberi persembahan dan sebagainya.

Rasa takut timbul dari pikiran yang membayangkan hal-hal yang belum nyata dan belum ada. Membayangkan ke­mungkinan-kemungkinan yang lebih buruk akan menimpa dirinya, maka timbullah rasa takut. Rasa takut timbul dari pi­kiran yang mengingat pengalaman lampau, masa lalu, dan membayangkan kemungkin­an buruk masa depan. Orang yang hidup di saat ini, dengan penuh kewaspadaan, dilandasi iman dan penyerahan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, tidak pernah merasa takut. Pikiran kita merupakan a­lat hidup yang teramat penting, yaitu untuk mempergunakan akal budi demi ke­selamatan dan kesejahteraan kehidupan lahiriah. Sebaliknya akan menjadi sua­tu kekuasaan yang amat berbahaya kalau kita membiarkan pikiran yang bergeli­mang nafsu itu menguasai jiwa.

Setelah berada bertiga saja de­ngan dua orang gadis remaja yang can­tik, segar dan ranum itu, semakin bergeloralah gairah berahi dalam hati dukun Bong yang sejak tadi telah bangkit begitu dia melihat dua orang gadis re­maja yang diserahkan ke dalam kekuasa­annya itu. Dia melihat kesempatan yang amat baik terbuka baginya. Dia memang sudah mendengar akan adanya siluman merah yang suka menculik gadis-gadis cantik. Dan dia tidak takut menghadapi siluman. Sudah dipersiapkannya senjata ampuh untuk melawan setan, yang dibawanya dan disimpannya dalam saku jubah­nya, yaitu darah anjing yang sudah di­keringkan dan dijadikan bubuk hitam, dan pedang pusakanya yang sudah diberi mantram, sebatang pedang terbuat dari pada akar kayu pengusir setan. Dia ti­dak takut, bahkan dia akan memperguna­kan nama iblis itu untuk melaksanakan hasratnya yang berkobar-kobar. Dia a­kan memetik dua tangkai bunga yang se­dang mulai mekar itu, menikmati mere­ka, dan pertanggungan-jawabnya akan dia timpakan kepada siluman merah! Ya, semua orang akan percaya kepadanya!

"Heh-heh-hah, anak-anak manis, kalian sudah dikotori hawa siluman, tanpa dibersihkan, kalian akan jatuh sa­kit dan akhirnya mati dalam keadaan tersiksa. Maukah kalian kubersihkan dari hawa siluman?"

"Mau, Sian-jin, tentu saja kami mau...." kata gadis tertua dengan suara gemetar.

"Kalau kalian mau, ingat. Apa yang terjadi di sini, jangan sekali-kali kalian ceritakan kepada orang lain, kepada orang tuamupun tidak boleh. Ka­lau kalian ceritakan, maka hawa silu­man itu akan datang menguasai diri ka­lian kembali. Turut saja apa yang kulakukan terhadap kalian, karena itulah cara pengobatannya. Nah, sekarang, tanggalkan semua pakaian dan kalian akan kumandikan dalam ember ini. Laku­kan sekarang!"

Dukun lepus yang menjadi hamba nafsunya sendiri itu kini tersenyum-senyum dan sepasang mata yang tersembu­nyi di balik pelupuk mata yang sipit itu semakin mencorong penuh nafsu ketika dia melihat dua orang gadis remaja itu, dengan malu-malu dan takut-takut, menanggalkan pakaian mereka satu demi satu di hadapannya sampai mereka telanjang bulat sama sekali. Kemudian, sam­bil menyeringai penuh nafsu, dukun itu lalu menuntun mereka berdua masuk ke dalam ember terisi air kembang yang harum, dan dengan nafsu semakin berkobar, kedua tangannya memandikan dua o­rang gadis remaja itu, jari-jari ta­ngannya dengan penuh nafsu menggera­yangi dan meraba-raba, membelai-belai, pura-pura membersihkan tubuh mereka.

Bagaikan orang yang sedang kemasukan dan bukan kehendaknya sendiri, tanpa permisi lagi Bong Sian-jin memasuki rumah, mengacung-acungkan hio yang masih berasap itu, mengelilingi seluruh ruangan di rumah itu. Kemudian dia bertanya, "Di mana kamar dua orang gadis itu?"

Diam-diam Gumo Cali menjadi semakin gembira. Kiranya dukun ini sudah tahu bahwa dua orang gadisnya itulah yang diancam oleh siluman merah!

"Di sana, Sian-jin, di sudut itu...." jawabnya cepat.

"Bawa aku ke sana, dan suruh dua orang gadismu itu menemuiku, akan kulihat apakah mereka sudah terkena hawa siluman ataukah belum!"

Dengan senang hati ayah dan ibu itu lalu mengajak Bong Sian-jin memasuki sebuah kamar yang cukup besar. Di situ terdapat sebuah pembaringan yang lebar, yaitu pembaringan dari kakak beradik itu. Mere­ka yang tadinya bersembunyi di tempat lain, segera dipanggil dan dua orang gadis yang cantik manis itu kini berdiri dengan muka pucat di depan Bong Si­an-jin yang memandang kepada mereka dengan mata seperti terpejam! Namun, di balik pelupuk mata yang tertutup itu mengintai sepasang mata yang tajam, sinar mata yang menjelajahi seluruh tu­buh kedua orang gadis itu dari kepala sampai ke kaki dan mata itu bersinar­ gairah!

Tiba-tiba Bong Sian-jin mengeluarkan seruan, "Uhhhh....!" dan diapun terhuyung ke belakang. "Sungguh celaka....!"

"Ada apakah, Sian-jin....?" tanya Gumo Cali cepat dan wajahnya geli­sah sekali.

"Celaka, mereka ini sudah diselu­bungi hawa siluman yang amat kuat!"

Ibu kedua orang anak itu menjerit ketakutan dan dua orang anak perempuan itupun menangis dan tubuh mereka meng­gigil.

"Aduh.... lalu bagaimana baiknya, Sian-jin? Tolonglah anak-anakku, tolonglah kami.... apapun yang kauminta akan kami laksanakan untuk membalas budi kebaikanmu.... tolonglah...." kata kepala dusun itu cemas dan keli­hatan ketakutan, sungguh tidak sesuai dengan kegagahannya sebagai seorang jagoan nomor satu di dusun Ngomaima itu. Ketahyulan dapat membuat orang yang bagaimana perkasapun menjadi seorang pengecut dan penakut.

"Jangan khawatir heh-heh, jangan khawatir. Selama masih ada Bong Sian-jin, jangan khawatir....! Akan tetapi, dua orang nona ini perlu dibersihkan dari hawa siluman. Aku akan membersihkan mereka dan semua orang tidak boleh mendekati kamar ini, karena ka­lau sampai ada yang terkena hawa silu­man, aku akan menjadi repot saja. Biarkan mereka di kamar ini, aku akan membersihkan dan menjaga, kalau siluman datang, akan kuusir dia.... heh-heh, jangan khawatir, ada Bong Sian-jin, heh-heh-heh!"

"Baik, baik.... ah, terima kasih sebelumnya, Sian-jin. Dan apa.... apa syaratnya, apa yang perlu kami persiapkan?"

"Mudah saja. Seember besar air yang diberi air kembang yang harum, dan dupa harum harus dibakar di sudut kamar. Sediakan saja seember air itu, aku sendiri yang akan mempersiapkan segalanya, angkat ember ke dalam kamar i­ni, lalu tinggalkan kamar ini, jangan ada yang berada di luar kamar. Kalau aku belum memanggil, jangan ada yang berani mendekat kalau ingin selamat dan bebas dari hawa siluman!"

Mendengar ini, seluruh penghuni rumah menjadi ngeri dan ketakutan. Se­gera seember air harum itu diangkat masuk ke dalam kamar. Ibu kedua orang gadis itu merangkul mereka dan berkata, "Jangan kalian takut, ada Bong Sian-jin yang sakti di sini. Kalian akan dibersihkan dan dibebaskan dari.... siluman...." Dua orang gadis yang ketakutan itu merasa tidak berdaya dan hanya mengangguk. Bagi mereka, sikap dukun itu saja sudah sama mengerikan seperti berita tentang siluman, terutama sekali sepasang mata yang selalu terpejam akan tetapi ada sinar mata di balik garis mata sipit itu yang meman­dang kepada mereka secara mengerikan! Juga mulut kecil yang tersenyum-senyum itu, hidung besar yang cupingnya kem­bang kempis, sungguh membuat dua orang gadis itu menjadi semakin ketakutan. Akan tetapi, karena dukun ini katanya hendak menyelamatkan mereka dari ceng­keraman siluman merah, maka merekapun pasrah!

Setelah melihat betapa dengan pe­nuh semangat kepala dusun Gumo Cali mengusiri semua orang agar menjauhi ka­mar dan sama sekali tidak boleh mende­kat, dan semua orang kini telah pergi, dukun itu lalu menutupkan daun pintu kamar itu, memalangnya dari dalam dan sambil menyeringai diapun menghadapi kedua orang gadis remaja yang masih gemetar ketakutan itu.

Ketahyulan adalah suatu kebodoh­an. Suatu kepercayaan akan adanya roh jahat atau setan iblis yang suka mun­cul dan mengganggu manusia secara jas­maniah. Ketahyulan merupakan kebodohan yang amat berbahaya dan muncul karena kekurang-kuatan iman terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia yang sudah menyerahkan seluruh hidupnya, seluruh jiwa raganya kepada Tuhan, tentu tidak akan mudah termakan tahyul, atau dengan lain kata, tentu tidak akan takut ter­hadap gangguan iblis karena yakin bah­wa Tuhan akan melindungi setiap orang manusia yang pasrah kepada Tuhan terhadap segala macam iblis. Orang yang tahyul bukanlah berarti orang yang tidak percaya akan adanya roh jahat dan ib­lis. Melainkan orang yang tidak takut terhadap iblis, tidak memuja saking takutnya. Orang yang tahyul condong un­tuk memuja iblis, setidaknya menghor­matinya dan tunduk. Inilah bedanya. Yang tidak tahyul menghadapi godaan iblis dengan penyerahan dan iman kepada Tuhan, sebaliknya yang tahyul mengha­dapi godaan iblis dengan usaha menyenangkan hati iblis agar tidak mengganggunya, dengan memberi persembahan dan sebagainya.

Rasa takut timbul dari pikiran yang membayangkan hal-hal yang belum nyata dan belum ada. Membayangkan ke­mungkinan-kemungkinan yang lebih buruk akan menimpa dirinya, maka timbullah rasa takut. Rasa takut timbul dari pi­kiran yang mengingat pengalaman lampau, masa lalu, dan membayangkan kemungkin­an buruk masa depan. Orang yang hidup di saat ini, dengan penuh kewaspadaan, dilandasi iman dan penyerahan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, tidak pernah merasa takut. Pikiran kita merupakan a­lat hidup yang teramat penting, yaitu untuk mempergunakan akal budi demi ke­selamatan dan kesejahteraan kehidupan lahiriah. Sebaliknya akan menjadi sua­tu kekuasaan yang amat berbahaya kalau kita membiarkan pikiran yang bergeli­mang nafsu itu menguasai jiwa.

Setelah berada bertiga saja de­ngan dua orang gadis remaja yang can­tik, segar dan ranum itu, semakin bergeloralah gairah berahi dalam hati dukun Bong yang sejak tadi telah bangkit begitu dia melihat dua orang gadis re­maja yang diserahkan ke dalam kekuasa­annya itu. Dia melihat kesempatan yang amat baik terbuka baginya. Dia memang sudah mendengar akan adanya siluman merah yang suka menculik gadis-gadis cantik. Dan dia tidak takut menghadapi siluman. Sudah dipersiapkannya senjata ampuh untuk melawan setan, yang dibawanya dan disimpannya dalam saku jubah­nya, yaitu darah anjing yang sudah di­keringkan dan dijadikan bubuk hitam, dan pedang pusakanya yang sudah diberi mantram, sebatang pedang terbuat dari pada akar kayu pengusir setan. Dia ti­dak takut, bahkan dia akan memperguna­kan nama iblis itu untuk melaksanakan hasratnya yang berkobar-kobar. Dia a­kan memetik dua tangkai bunga yang se­dang mulai mekar itu, menikmati mere­ka, dan pertanggungan-jawabnya akan dia timpakan kepada siluman merah! Ya, semua orang akan percaya kepadanya!

"Heh-heh-hah, anak-anak manis, kalian sudah dikotori hawa siluman, tanpa dibersihkan, kalian akan jatuh sa­kit dan akhirnya mati dalam keadaan tersiksa. Maukah kalian kubersihkan dari hawa siluman?"

"Mau, Sian-jin, tentu saja kami mau...." kata gadis tertua dengan suara gemetar.

"Kalau kalian mau, ingat. Apa yang terjadi di sini, jangan sekali-kali kalian ceritakan kepada orang lain, kepada orang tuamupun tidak boleh. Ka­lau kalian ceritakan, maka hawa silu­man itu akan datang menguasai diri ka­lian kembali. Turut saja apa yang kulakukan terhadap kalian, karena itulah cara pengobatannya. Nah, sekarang, tanggalkan semua pakaian dan kalian akan kumandikan dalam ember ini. Laku­kan sekarang!"

Dukun lepus yang menjadi hamba nafsunya sendiri itu kini tersenyum-senyum dan sepasang mata yang tersembu­nyi di balik pelupuk mata yang sipit itu semakin mencorong penuh nafsu ketika dia melihat dua orang gadis remaja itu, dengan malu-malu dan takut-takut, menanggalkan pakaian mereka satu demi satu di hadapannya sampai mereka telanjang bulat sama sekali. Kemudian, sam­bil menyeringai penuh nafsu, dukun itu lalu menuntun mereka berdua masuk ke dalam ember terisi air kembang yang harum, dan dengan nafsu semakin berkobar, kedua tangannya memandikan dua o­rang gadis remaja itu, jari-jari ta­ngannya dengan penuh nafsu menggera­yangi dan meraba-raba, membelai-belai, pura-pura membersihkan tubuh mereka.

Biarpun nafsu berahinya sudah me­muncak, namun dukun yang cerdik ini tidak bodoh. Dia cerdik sekali dan dia menahan dirinya agar tidak tergesa-ge­sa melakukan niatnya yang terakhir terhadap dua orang gadis remaja itu. Setelah merasa puas membelai tubuh mereka dengan dalih memandikan mereka, diapun menyuruh mereka keluar dari ember man­di, mengeringkan tubuh yang basah itu dengan kain, kemudian memerintahkan mereka berbaring di atas tempat tidur dan menutupi tubuh telanjang mereka dengan selimut. Dia melarang mereka mengenakan pakaian kembali, dengan alasan bahwa semua pakaian mereka sudah ternoda oleh hawa siluman.

Setelah kedua orang gadis itu merebahkan diri bersembunyi ke dalam se­limut, Bong Sian-jin lalu duduk bersi­la dengan santainya di tepi pembaring­an, pura-pura bersamadhi sambil menan­ti datangnya malam. Hari telah mulai senja dan sebentar lagi malam tiba. Dukun itu hendak menanti datangnya malam agar apa yang akan dilakukannya itu dapat kelak dia timpakan kepada siluman merah! Diapun sudah siap dengan pedang kayu yang sudah diletakkannya di atas pangkuannya, dan mempersiapkan pula bubuk darah anjing di dalam sebuah bo­tol.

Malampun tiba. Dukun Bong menyalakan dua batang lilin di atas meja se­hingga dalam kamar itu remang-remang namun cukup terang. Sampai jauh malam, tidak terjadi sesuatu di dalam kamar itu. Dua orang gadis yang tadinya bica­ra berbisik-bisik, kini berdiam diri, menanti dengan ketakutan. Setiap ada suara sedikit saja di luar kamar, mem­buat mereka saling rangkul dengan tubuh gemetar. Namun, hati mereka merasa lega melihat dukun itu masih duduk bersila seperti arca dan mereka yakin bahwa dukun itu tentu akan mampu menolong mereka. Apa yang dilakukan dukun itu tadi, ketika memandikan mereka membuat mereka merasa kikuk dan malu, akan tetapi mereka tidak menyangka buruk dan menganggap bahwa dukun itu memang sungguh-sungguh "membersihkan" mereka. Me­reka masih terlalu hijau untuk berpra­sangka yang bukan-bukan.

Sementara itu, dukun Bong menjadi tidak sabar lagi. Siluman yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang, sedangkan dia hampir hangus terbakar nafsu berahinya. Kalau siluman itu muncul dan dia sudah mengusirnya, baru dia akan menikmati "imbalan jasanya". Dia menoleh, memandang kepada dua orang gadis itu. Selimut itu agak tersingkap dan memperlihatkan sebagian dada mereka. Bong Ciat tidak dapat lagi menahan dirinya. Dia menyeringai kepada mereka.

"Kalian takut?"

Ditanya demikian, tentu saja dua orang gadis itu mengangguk membenarkan. Mereka memang merasa takut sekali, bahkan merasa ngeri. "Heh-heh, jangan ta­kut, ada aku di sini. Biar kutemani kalian tidur agar kalian merasa aman dan tidak takut lagi." Berkata demikian, dukun yang tak tahu malu itu lalu mu­lai mencopoti pakaiannya satu demi sa­tu. Melihat ini, dua orang gadis rema­ja itu tersipu-sipu. Mereka merasa le­ga karena dukun itu hendak menemani mereka tidur sehingga mereka akan merasa aman sekali, akan tetapi juga mereka merasa malu bukan main melihat betapa Bong Sian-jin menanggalkan pakaiannya. Melihat mereka tersipu-sipu, Bong Sian-jin tersenyum.

"Heh-heh, kalian tidak usah malu-malu...." Dan diapun membungkuk, mencium pipi mereka bergantian, membuat kedua orang gadis remaja itu menggeli­at dan semakin tersipu.

Nafsu berahi sudah memuncak dan Bong Sian-jin sudah tidak kuasa menahan diri lagi. Akan tetapi baru saja dia menyingkap selimut yang menutup tubuh kedua orang gadis remaja untuk menyelinap rebah di antara mereka, tiba-tiba api lilin bergoyang dan dua orang gadis itu menahan jerit mereka. Bong Sian-jin cepat menoleh, dan sepasang mata yang biasanya sipit itu terbelalak agak lebar. Entah dari mana datangnya, di dalam kamar itu telah berdiri seorang "iblis" yang aneh. Pakaiannya serba merah, dan mukanya mengenakan topeng merah pula. Akan tetapi, dia berdiri di situ, diam seperti patung, tidak bergerak dan tidak mengeluarkan sepatahpun kata atau suara apapun. Hanya sebentar dukun Bong tertegun. Dia segera ingat akan senjata-senjatanya. Lupa bahwa tubuhnya hampir telanjang bulat, hanya mengenakan cawat saja, dia lalu menyambar pedangnya dan botol atau guci kecil, lalu melompat turun. Pedang kayu itu diangkatnya ke atas, dan dia membuka tutup guci kecil, lalu mulutnya berkemak-kemik membaca mantram, lalu dia berseru.

"Iblis siluman jadi-jadian, pergilah engkau dari sini sebelum aku membinasakanmu!"

Melihat betapa "iblis" itu tidak bergerak dari tempatnya, dan hanya ma­ta di balik kedok itu yang mencorong menyeramkan, Bong Sian-jin lalu menggerakkan tangan kirinya dan debu hitam keluar dari dalam guci, melayang ke a­rah siluman merah itu. Namun, siluman merah itu tetap tidak bergerak. Meli­hat ini, dukun Bong lalu menggerakkan pedang kayunya, dipukulkan ke arah ke­pala siluman merah itu. Dia penuh keberanian dan keyakinan akan mampu menga­lahkan siluman, karena biasanya, bubuk darah anjing dan pedang kayunya, ditambah mantram-matramnya, manjur sekali untuk menakut-nakuti segala macam se­tan dan siluman.

Akan tetapi, siluman merah itu a­gaknya lain lagi. Begitu dukun Bong menyerang, diapun sama sekali tidak me­ngelak sehingga pedang kayu itu tepat mengenai kepalanya.

"Takkk!" Pedang itu seperti mengenai kepala dari besi saja, dan hampir terlepas dari tangan dukun Bong yang merasa telapak tangannya panas dan nyeri. Sebelum dia sempat berbuat sesua­tu, siluman itu telah menggerakkan ta­ngan kanannya dan pedang kayu itu te­lah dirampasnya! Dukun Bong terbelalak. Tidak percaya dia bahwa ada silu­man yang dapat menahan serangan pedang kayunya itu tanpa terluka sedikitpun!

"Kau.... kau.... bukan siluman....!" serunya, akan tetapi pada saat itu, siluman merah telah menusuk­kan pedang kayu yang dirampasnya, mengenai leher dukun Bong dan leher itu­pun tembus! Tubuh dukun itu terjeng­kang dan roboh di atas lantai, berkelojotan dan dari lehernya terdengar sua­ra mengorok.

Siluman merah tidak memperdulikannya lagi, menghampiri pembaringan dan memandang ke arah dua orang gadis yang sudah saling berangkulan dengan tubuh menggigil ketakutan itu. Dia mengang­guk-angguk, tangan kirinya bergerak dua kali menotok ke arah tubuh kakak beradik itu yang seketika menjadi le­mas dan tidak mampu bergerak lagi. Di­gulungnya dua tubuh gadis remaja itu ke dalam selimut dan siluman merah itu memanggul gulungan selimut, melompat keluar dari dalam kamar melalui jende­la yang dibukanya dan sebentar saja lenyap. Gerakannya gesit bukan main dan ketika dia melompat keluar kamar, dia seperti seekor burung garuda terbang saja.

Dukun Bong yang ditinggal di ka­mar itu, berusaha menjerit, akan teta­pi yang keluar dari mulutnya hanya suara mengorok yang cukup keras. Suara i­nilah yang memaksa Gumo Cali dan iste­rinya datang, diikuti para jagoan. Dia memanggil-manggil dari luar pintu, a­kan tetapi tidak ada jawaban, baik dari kedua orang anaknya maupun dari du­kun Bong, dan yang terdengar dari luar hanyalah suara mengorok aneh itu. Dengan memberanikan hatinya, Gumo Cali lalu mendobrak pintu. Daun pintu roboh dan mereka berhamburan masuk, hanya untuk menemukan dukun Bong berkelojotan sekarat dalan keadaan hampir telanjang bulat dan lehernya tertembus pedang kayunya sendiri, sedangkan dua orang gadis remaja itu lenyap bersama selimut, dan pakaian mereka masih lengkap nam­pak tertumpuk di atas tempat tidur. Jadi mereka itu telah lenyap dalam keadaan tanpa pakaian sama sekali, mungkin terbungkus selimut yang lenyap.

Gegerlah seisi rumah. Biarpun me­rasa ketakutan karena siluman merah telah menggondol kedua orang anaknya se­dangkan dukun Bong sendiri sekarat hampir tewas, Gumo Cali mengerahkan seluruh pembantunya untuk mencari kedua o­rang anaknya. Namun, jejak merekapun tidak dapat ditemukan sehingga keluar­ga kepala dusun itu menjadi panik, bi­ngung dan berduka.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sie Liong memasuki dusun Ngomaima. Dia merasa heran sekali melihat betapa dusun yang nampaknya maju itu, dengan banyak rumah-rumah yang bangunan­nya sudah kokoh dan ditembok bahkan jalan rayanya juga sudah baik sekali, di kanan kiri jalan raya, terdapat toko-toko, kedai dan bahkan rumah penginapan, pada pagi hari itu nampak sunyi bukan main. Hampir tidak nampak ada orang di jalan raya, bahkan rumah-rumah masih ditutup pintu dan jendelanya, dan ha­nya ada satu dua orang laki-laki yang menjengukkan kepalanya keluar jendela atau pintu, akan tetapi cepat lenyap pula begitu melihat dia. Apakah yang telah terjadi, pikirnya. Apakah orang-orang dusun ini demikian malasnya se­hingga pagi hari itu masih enak-enak tidur? Padahal, sinar matahari telah mengusir kegelapan malam. Dia tidak tahu bahwa seluruh penghuni dusun sudah mendengar belaka akan keributan yang terjadi di rumah kepala dusun Gumo Ca­li, mendengar betapa dukun Bong terbu­nuh dan dua orang gadis puteri kepala dusun itu diculik siluman merah! Tentu saja semua orang menjadi ngeri dan pagi itu, dusun Ngomaima seperti dusun mati. Bahkan ada beberapa kelompok keluarga kaya yang malam tadi sudah mem­persiapkan segalanya untuk melarikan diri mengungsi jauh dari dusun yang sedang diamuk siluman merah itu.

Melihat betapa orang-orang yang tadinya memandang kepadanya lalu cepat bersembunyi, Si Pendekar Bongkok tersenyum pahit. Semua pengalaman yang te­lah dirasakannya membuat dia merasa rendah diri dan sikap penghuni dusun itu dianggapnya bahwa mereka takut melihat keadaan dirinya, melihat tubuh­nya yang bongkok. Namun, hanya seben­tar saja perasaan pahit itu, karena dia kini sudah mulai terbiasa dan dia menelan kenyataan itu sebagai suatu kenyataan yang tidak dapat dia merobah­nya. Biarlah, dia termenung, aku sadar akan keburukanku. Jauh lebih baik me­nyadari kekurangan dan keburukan diri sendiri tanpa keluhan dan sakit hati daripada menganggap diri sendiri yang terbaik dan tanpa cacat. Keadaan diri­nya adalah suatu kenyataan, dan menerima kenyataan hidup, betapapun pahitnya si-aku menilai, merupakan suatu kebi­jaksanaan kalau dia menyerahkan kembali kepada Tuhan karena, bukankah segala kenyataan itu baru dapat terjadi kalau dikehendaki oleh Tuhan? Dan menga­pa Tuhan berkehendak demikian, merupa­kan rahasia yang takkan terjangkau oleh akal pikiran manusia yang selalu mendasarkan penilaian atas untung-rugi yang diperhitungkannya.

Tanpa dia sengaja, ketika Sie Liong melangkah, kakinya membawanya lewat depan rumah kepala dusun Gumo Cali. Maksud hatinya memang hanya ingin melihat-lihat dusun itu sebelum menentukan apakah dia bermalam di situ ataukah melanjutkan perjalanannya ke selatan, menuju ke pegunungan Nyaingentangla sebelah utara Tibet karena menurut pesan Himalaya Sam Lojin dan juga Pek-sim Sian-su, di pegunungan itu dia akan dapat memulai dengan penyelidikannya tentang para pendeta Lama yang memusuhi para tosu dan pertapa yang telah melarikan diri dari pegunungan Himalaya dan masih terus dikejar-kejar. Menurut penuturan para gurunya itu, Lima Harimau Tibet berasal dari pegunungan Nyaingentangla di mana mereka mempunyai sebuah kuil dan di situ mereka dahulu bertapa.

Ketika dia tiba di depan rumah kepala dusun Gumo Cali, tiba-tiba saja terdengar teriakan-teriakan orang dan bermunculanlah sedikitnya dua puluh o­rang yang mengepungnya dan dengan sen­jata di tangan.

"Siluman! Siluman!"

"Hajar dia!"

"Siluman, kembalikan dua orang nona kami!"

"Kepung dia, jangan sampai lolos!"

Dan dua puluh orang lebih itu se­rentak menyerangnya dengan senjata me­reka! Tentu saja Sie Liong terkejut bukan main. Apalagi setelah dia melihat betapa teriakan-teriakan itu sambung menyambung dan sebantar saja pengepungnya mendekati jumlah seratus orang!

"Heii, tahan dulu!" teriaknya dan dia menggunakan kedua lengannya untuk menangkisi semua serangan yang menimpa dirinya. Karena di antara mereka itu banyak yang mempergunakan senjata ta­jam, maka biarpun tubuhnya dilindungi kekebalan sehingga kulitnya tidak sam­pai terobek, namun tentu saja pakaian­nya tidak kebal dan mulailah pakaian­nya robek-robek.

"Hei, tahan dulu dan mari kita bicara!" bentaknya lagi.

Akan tetapi ketika semua orang melihat betapa senjata mereka tidak da­pat melukai orang bongkok itu, dan ha­nya pakaiannya saja yang robek-robek mereka menjadi semakin yakin bahwa yang mereka keroyok adalah seorang si­luman atau iblis, maka semakin ramai­lah mereka mengeroyok dengan nekat wa­laupun senjata mereka membalik dan ta­ngan mereka terasa panas dan nyeri.

Melihat kenyataan bahwa semua o­rang menjadi semakin marah dan semakin nekat menyerangnya, Sie Liong merasa kewalahan. Kalau dilanjutkan, tentu dia akan telanjang bulat karena pakai­annya tentu akan hancur. Dia tidak mau membalas, karena sekali pandang saja dia maklum bahwa mereka yang mengero­yoknya itu bukanlah penjahat, melain­kan penduduk dusun yang sedang marah, dan tentu dia disangka orang yang me­nyebabkan kemarahan mereka itu. Tadi dia mendengar mereka memakinya sebagai siluman. Tentu para penghuni dusun ini sedang memusuhi siluman dan dialah yang dikira siluman itu! Sungguh sial, sekali ini dia disangka siluman! Meli­hat serangan bertubi-tubi, dia lalu melompat dan tubuhnya melayang ke atas genteng rumah kepala dusun Gumo Cali. Melihat ini, semua orang menahan napas dan memandang dengan wajah membayang­kan bermacam perasaan. Ada ngeri, ada takut, akap tetapi ada pula kemarahan yang membuat mereka nekat, apalagi karena yang maju ada ratusan orang se­hingga mendatangkan keberanian yang besar.

Gumo Cali mendapat hati ketika melihat siluman itu tidak merobohkan seorang di antara mereka, bahkan seperti hendak melarikan diri. Maka diapun menuding ke atas dan membentak dengas suara garang, "Siluman jahat, hayo kembalikan dua orang anak gadis kami, kalau tidak, sampai ke manapun kaki orang sedusun akan mengejarmu dan membinanakanmu!"

"Nanti dulu!" Sie Liong berseru dan nada suaranya marah karena hati siapa tidak menjadi dangkol kalau tanpa hujan tanpa angin tiba-tiba saja dia dituduh sebagai siluman yang meuculik dua orang gadis orang! "Kalian ini e­nak saja menuduh orang yang bukan-bu­kan! Siapa bilang aku siluman? Apa buktinya bahwa aku ini siluman yang suka nyolong gadis orang?"

Mondengar ini, Gumo Cali terte­gun. Sikap orang di atas itu memang bukan seperti siluman! Dia meragu, akan tetapi orang-orang yang berada di ba­wah itu masih yakin bahwa mereka berhadapan dengan miluman.

"Engkau tidak seperti manusia biasa! Punggungmu berpunuk!"

"Engkau kebal dan tidak tidak terluka oleh hujan senjata kami!"

"Siluman memang bisa pian-hoa (salin rupa)!"

"Dia berpunuk, tentu siluman on­ta!"

Wajah Sie Liong menjadi merah ka­rena hatinya dangkol bukan main. Dia disangka siluman onta karena berpunuk. Sialan!

"Heii, kalian ini memang orang-o­rang tolol dan kejam! Andaikata aku siluman sungguh, tentu akan kuhajar kalian yang bermulut lancang ini! Aku ini manusia biasa, dan memang aku cacat berpunuk. Tidak bolehkah orang memiliki cacat berpunuk? Andaikata di antara kalian tidak ada yang cacat berpunuk, tentu ada yang memiliki cacat lain, a­pakah yang pincang, yang buntung, yang buta, yang tuli, mereka itu juga dianggap siluman? Aku manuasia biasa dan ka­lau aku tidak terluka oleh senjata ka­lian, sungguh untung bahwa aku memiliki sedikit kepandaian, kalau tidak, tentu tubuhku ini sudah menjadi bakso dan yang lebih hebat lagi, kalian men­jadi manusia-manusia binatang yang kejam, mengeroyok dan membunuh orang yang tidak bersalah, dan kalian akan dikutuk sampai tujuh turunan!" Sie Li­ong bukan orang yang pandai bicara, sekarang ini karena terdorong rasa dang­kol, maka dapat juga dia bicara agak panjang.

Melihat sikap dan mendengar ucap­an ini, terkejutlah Gumo Cali. Dia sendiri sedikit banyak sudah tahu bahwa di dunia ini terdapat banyak orang yang sakti dan berilmu tinggi, yang memiliki bentuk badan aneh-aneh, dan wa­tak yang aneh-aneh pula. Timbullah harapannya bahwa mungkin orang muda ber­punuk ini adalah seorang pendekar yang melakukan perantauan dan siapa tahu pendekar ini akan dapat menolongnya dan menyelamatkan dua orang anaknya. Oleh karena itu, diapun segera berteri­ak memberi isarat kepada semua orang untuk tenang.

Setelah semua orang tidak mengeluarkan suara, diapun menghadap ke arah pemuda berpunuk yang masih berdiri di atas genteng itu, lalu memberi hormat dan berkata, suaranya nyaring. "Kalau memang engkau seorang manusia dan seo­rang pendekar, harap suka maafkan kami yang sedang panik oleh adanya siluman yang mengacau dusun kami. Akan tetapi, bagaimana kami akan dapat percaya bah­wa taihiap bukan siluman? Hanya kalau taihiap sudi membantu kami menangkap siluman atau setidaknya menyelamatkan dua orang gadis kami yang diculik olehnya, kami percaya bahwa taihiap seo­rang pendekar, bukan siluman!"

"Semua sudah ada enam orang gadis yang diculik!" teriak seseorang yang juga merasa kehilangan seorang anak gadisnya yang lebih dulu diculik siluman.

Biarpun kemarahannya mereda, na­mun hati Sie Liong masih mendangkol.

"Hemm, kalian tidak berhak untuk menekan aku agar suka menolong kalian. Kalau memang ada kejahatan terjadi di sini, tanpa dimintapun aku akan turun tangan menentang kejahatan! Sepatutnya kalian menerima aku sebagai seorang tamu atau sahabat dan kita dapat berunding tentang kejahatan yang terjadi, bukan membabi-buta mengeroyok seorang pendatang yang sama sekali tidak berdosa!"

Mendengar ini, Gumo Cali merasa menyesal sekali, akan tetapi juga gi­rang dan menemukan harapan baru. Maka, demi kedua orang anaknya, tanpa ragu-ragu lagi diapun berlutut menghadap ke arah pemuda berpunuk itu. "Taihiap, maafkan kami. Aku Gumo Cali sebagai kepala dusun mewakili seluruh penghuni mohon maaf kepadamu."

Lenyaplah sama sekali kemarahan dari hati Sie Liong. Memang dia bukan seorang pemarah. Dia melayang turun bagaikan seekor naga, dipandang oleh se­mua orang yang menjadi kagum sekali. Dia turun ke depan kepala dusun itu dan sedikitpun kakinya tidak mengeluarkan suara ketika tiba di atas tanah, dan dengan ramah Sie Liong lalu meng­angkat bangun kepala dusun itu.

"Namaku Sie Liong dan aku seorang perantau yang kebetulan lewat di sini. Tadi aku sudah merasa heran sekali ketika memasuki dusun ini yang cukup besar, akan tetapi mengapa begini sepi. Tidak tahunya ada penjahat yang membi­kin kacau di dusun ini?"

"Bukan penjahat, taihiap, melainkan.... siluman.... siluman merah!" kata kepala dusun itu dan ketika dia bicara, dia memandang ke kanan kiri kelihatan takut sekali.

"Eh? Siluman?" Sie Liong mengerutkan alisnya. "Dan tentang gadis-gadis tadi? Apakah siluman itu menculik ga­dis?"

"Taihiap, marilah bicara di dalam. Dan kami perlu mengganti pakaian taihiap yang robek-robek itu." Gumo Cali mempersilakan Sie Liong masuk ke dalam rumahnya.

Sie Liong mengangguk dan kepala dusun menyuruh semua orang bubaran dan pulang ke rumah masing-masing. Ketika tiba di ruangan depan, Sie Liong mera­sa heran melihat sebuah peti mati yang depannya masih dipasangi lilin dan alat sembahyang.

"Siapa yang mati?" tanyanya, tidak lupa untuk memberi hormat ke arah peti mati sebagaimana patutnya.

"Itu adalah Bong Sian-jin yang tewas semalam...." kata Gumo Cali dengan suara berbisik, kelihatan ketakutan.

Mendengar nama "Sian-jin", Sie Liong menjadi agak terkejut juga. "Siapakah dia dan mengapa tewas di sini? Apakah keluargamu?"

"Bukan, dia adalah dukun yang ka­mi undang untuk mengusir siluman dan melindungi dua orang gadis kami, akan tetapi, dia malah terbunuh oleh siluman dan dua orang gadis kami tetap saja diculik...." Tuan rumah lalu mengajak Sie Liong duduk di ruangan da­lam. Setelah berganti pakaian, bukan pemberian tuan tumah, melainkan pakai­annya sendiri yang diambilnya dari buntalan yang dibawa dan diikat di pungungungnya, Sie Liong lalu mendengarkan keterangan Gumo Cali tentang segala hal yang telah terjadi semalam. Isteri tuan rumah ikut mendengarkan sambil menangis. Setelah selesai menceritakan hilangnya dua orang puteri mereka dan tewasnya Bong Sian-jin, suami isteri itu lalu berlutut di depan Sie Liong.

"Taihiap, kasihanilah kami, kasihanilah dua orang puteri kami. Mereka itu masih kanak-kanak, baru berusia empat belas dan enam belas tahun, dapatkanlah kembali mereka, taihiap...." Suami isteri itu tidak malu-malu menang­ngis di depan Sie Liong. Pemuda ini mengangkat bangun mereka.

"Harap paman dan bibi suka bersi­kap tenang. Aku yakin bahwa kejahatan ini bukan perbuatan siluman, melainkan manusia biasa yang menyamar sebagai siluman. Aku mendengar tadi bahwa penja­hat itu telah menculik banyak gadis, bukan puteri-puteri paman saja. Benarkah?"

"Memang demikianlah. Sudah kurang lebih dua tiga pekan ini.... siluman.... eh, penjahat itu menculik gadis-gadis cantik. Kabarnya malah dari dusun lain juga ada yang hilang, dan dari dusun sini saja ada enam orang gadis yang sudah diculik."

"Dan semua juga terjadi seperti yang terjadi di sini semalam? Sebelum menculik pada malam hari, pada siang harinya dia memberi tanda dengan olesan darah kepada daun pintu rumah yang ada gadis calon korban?"

Gumo Cali mengangguk. "Begitulah. Karena siangnya sudah diberi tanda, malamnya kami selalu mengadakan persiap­an dan penjagaan. Bahkan beberapa o­rang jagoan dari para pasukan pengawal barang yang membantu kami, jatuh menjadi korban, terluka dan ada pula yang tewas. Iblis itu amat jahat dan lihai, bukan tandingan manusia. Karena itulah kami mengundang Bong Sian-jin untuk melawannya dengan ilmu sihir. Akan teta­pi, ternyata Bong Sian-jin malah tewas dan kedua orang anak kami diculiknya."

"Hemm, kurasa dia itu bukan iblis bukan siluman, melainkan seorang manu­sia jahat yang sombong. Aku akan mela­kukan penyelidikan dan mudah-mudahan saja kesombongannya terulang kembali dan dia akan memberi tanda kepada sebuah rumah yang akan didatanginya, sehingga aku akan siap menghadapinya."

Sie Liong lalu melakukan penyelidikan ke dalam kamar dua orang gadis puteri kepala dusun. Melihat ember air kembang dan pakaian dua orang gadis itu, dia mengerutkan alisnya dan diam-diam dia merasa curiga kepada dukun Bong. Apalagi ketika mendengar dari Gumo Cali bahwa dukun Bong hendak "membersihkan" hawa siluman dengan memandikan dua orang gadis itu, dalam kamar tanpa disaksikan siapapun, kecurigaannya bertambah. Dia menduga bahwa dukun Bong tentulah seorang dukun cabul yang mempergunakan kesempatan itu untuk mencabuli dua orang gadis remaja yang cantik. Akan tetapi karena dukun itu sudah berada dalam peti mati tanpa nyawa lagi, diapun tidak dapat menyelidikinya, hanya menduga-duga bagaimana macamnya penjahat tukang menculik gadis yang membunuh dukun cabul itu. Menurut keterangan kepala dusun, dukun itu dibunuh dengan pedang kayunya sendiri. Kalau penjahat itu mampu menusuk leher dukun Bong dengan pedang kayu sehingga tembus, dapat diketahui bahwa tentu penjahat itu memiliki tenaga sin-kang yang cukup kuat. Dari dalam kamar, dia membuka jendela dan melompat ke luar, terus melompat ke atas. Gumo Cali me­mandang dengan penuh kagum dan dia ma­kin girang, makin besar harapannya bahwa pemuda bongkok inilah yang agaknya akan mampu menolong dua orang anaknya.

Sie Liong melakukan penyelidikan ke atas genteng. Ada beberapa buah genteng pecah terinjak. Agaknya ketika penjahat itu memanggul dua orang ga­dis, maka berat tubuhnya bertambah dan karenanya maka genteng itu pecah terinjak. Dan dari pecahan genteng-genteng itu dia dapat menduga bahwa si penja­hat tentu lari menuju ke selatan. Dari atas genteng itu, dia memandang ke selatan dan nampaklah sebuah bukit kehi­taman menjulang tinggi, sebagian tersinar cahaya matahari, namun tetap nam­pak menghitam tanda bahwa di situ ter­dapat hutan yang lebat.

"Bukit di selatan itu, bukit apa­kah?" tanyanya sambil lalu setelah dia melompat turun kembali.

"Bukit yang mana? Ada banyak bu­kit di selatan...."

"Yang nampak hitam, penuh hutan."

"Ah, itu bukit Onta namanya. Di bagian tengah ada...." Kepala dusun tidak melanjutkan kata-katanya dan memandang ke arah punuk di punggung Sie Liong.

"Ada punuknya maksudmu? Hemm, bu­kit Onta...."

"Ada apakah di sana, taihiap?" Gumo Cali tidak berani menyebut onta, takut menyinggung hati pendekar bongkok itu yang tadi dimaki siluman onta oleh seorang penduduk dusun.

"Tidak ada apa-apa. Kita tunggu saja sampai ada tanda dari penjahat i­tu. Sekarang aku akan mencari kamar di rumah penginapan."

"Taihiap, bermalamlah saja di sini. Kamar anak-anak.... bekas kamar merekapun kosong, boleh untuk sementara taihiap tempati...."

Sie Liong maklum bahwa tuan rumah masih panik dan ketakutan, dan dia hendak ditahan untuk meredakan rasa takut mereka. Dia merasa tidak leluasa kalau bermalam di situ, maka dia menggeleng kepala. "Tidak, sebaiknya kehadiranku tidak terlalu monyolok. Biar aku di rumah penginapan saja,"

"Tunggulah, taihiap. Biar aku me­nyuruh seseorang untuk memesan kamar terbaik untuk taihiap, sementara itu, mari terimalah hidangan yang kami berikan untuk taihiap, sebagai sarapan pa­gi."

Sie Liong merana tidak enak untuk menolak. Mereka lalu bersama-sama ma­kan pagi, dan setelah selesai makan pagi, Sie Liong diantar oleh kepala du­sun sendiri pergi ke rumah penginapan di mana telah disediakan kamar terbaik untuknya.

Belum juga tengah hari, kepala du­sun sudah torgopoh-gopoh datang dan mengetuk daun pintu kamarnya. Sie Liong sedang beristirahat dan dibukanya daun pintu. Dia heran melihat kepala dusun nampak gugup dan mukanya pucat.

"Taihiap.... taihiap.... dia.... dia datang...."

"Datang? Ke mana maksudmu, paman?"

"Dia.... memberi tanda darah pa­da pintu rumah Gulamar, saudagar kaya yang memiliki seorang gadis yang cantik. Sebentar malam...."

"Bagus dan tenanglah, paman. Pen­jahat itu memang sombong bukan main. Mari kautunjukkan kepadaku di mana ru­mah yang mendapat tanda ancaman itu."

Keluarga Gulamar menyambut keda­tangan kepala dusun itu dengan hati cemas dan putus asa. Tidak ada jagoan yang berani menjaga keselamatan puterinya, biar dia berani membayar berapa banyakpun dan biar dia sudah mendengar akan pendekar muda yang bongkok, yang katanya amat lihai dan sanggup melawan siluman merah, namun dia masih ragu-ragu dan bahkan sudah mempersiapkan rombongan onta dan kuda untuk melarikan anaknya mengungsi ke tempat lain.

Ketika mendengar keterangan bahwa hartawan itu hendak membawa puterinya pergi mengungsi, Sie Liong menyatakan ketidak-setujuannya.

"Cara itu tidak menjamin keselamatan bahkan berbahaya sekali, paman," katanya. "Penjahat itu akan lebih mu­dah menculik puterimu dalam perjalanan mengungsi itu."

"Tapi dia.... dia siluman, hanya keluar di waktu malam.... kami akan melarikan puteri kami siang ini juga."

Sie Liong menggeleng kepalanya.

"Bukan, dia bukan siluman, melainkan manusia biasa yang amat jahat. Kalau malam ini dia datang untuk menculik puterimu, aku yang akan menghadapinya."

Gulamar nampak ragu-ragu dan bingung. Dia memandang kepada kepala du­sun Gumo Cali. "Bagaimana baiknya.... kami khawatir sekali, kalau tidak dilarikan, nanti anakku...."

"Tenangkan hatimu, saudagar Gulamar. Taihiap ini adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan dia sudah berjanji sanggup me­nalukkan siluman itu. Sebaiknya kalau engkau menurut nasihatnya. Taihiap, bagaimana sebaiknya diatur untuk meng­hadapi penjahat siluman itu kalau malam nanti dia datang?"

Sie Liong lalu mengadakan perun­dingan dengan tuan rumah, disaksikan oleh kepala dusun. "Sembunyikan gadis itu di dalam kamar lain yang dekat de­ngan kamarnya sendiri agar aku dapat selalu mengamatinya, dan aku sendiri akan tinggal di dalam kamar puterimu menanti munculnya penjahat itu."

"Taihiap, apakah engkau membutuhkan bantuan?"

Sie Liong mengangguk. "Mereka yang pagi tadi mengepungku, mereka adalah penduduk yang marah kepada siluman dan mereka penuh keberanian walaupun mungkin tidak memiliki kepandaian. Biarlah mereka itu yang membantuku, mengadakan pengepungan pada rumah ini, akan tetapi bersembunyi dan jangan ada yang keluar sebelum penjahat itu datang dan aku berusaha menangkapnya. Kalau sudah terdengar ribut-ribut atau melihat aku berkelahi melawan penjahat itu, baru mereka boleh keluar dan masing-masing membawa obor untuk menerangi tempat ini."

Kepala dusun Gumo Cali menyanggupi dan diapun segera pergi melakukan persiapan dan memberitahu kepada penduduk bahwa malam itu, Pendekar Bongkok akan menangkap siluman merah, dan diharap agar penduduk suka membantunya. Para penduduk yang berhati tabah dan sudah lama merasa penasaran dan marah kepada siluman merah yang mengganggu keamanan di dusun mereka, segera menyambut ajakan ini dengan penuh sema­ngat. Mereka tadi sudah melihat sendi­ri kelihaian Pendekar Bongkok yang ke­bal dan dapat "terbang" ke atas gen­teng.


***


Malam yang menyeramkan. Sejak ma­tahari tenggelam, tidak ada penduduk berani keluar dari rumah mereka, apalagi yang wanita. Semua penduduk sudah mendengar bahwa malam itu siluman me­rah akan muncul, akan menculik gadis cantik puteri saudagar Gulamar! Mereka yang siap membantu Pendekar Bongkok, sejak sore sudah siap di tempat persembunyian mereka mengepung rumah saudagar itu, siap dengan obor yang tinggal dinyalakan dan segala macam senjata yang mereka miliki.

Malam itu sungguh menakutkan. Pa­dahal, malam itu juga malam yang bia­sa saja seperti pada malam-malam yang lain. Kalau pikiran mulai berceloteh, membayangkan hal-hal mengerikan yang mungkin menimpa diri, maka rasa takut­pun timbul dan kalau orang sudah keta­kutan, maka malam yang gelap dapat nampak menyeramkan. Orang takut akan se­tan karena dia pernah mendencar ten­tang setan. Pikirannya sudah kemasukan bayangan setan yang didengarnya dari orang lain, dan pikiran itulah yang me­ngada-ada, mereka-reka, membayangkan hal-hal mengerikan. Andaikata dia tidak pernah mendengar tentang setan, tidak mungkin dia dapat merasa takut. Seorang anak kecil yang belum pernah mendengar tentang setan, dia tidak akan takut berada di tempat yang bagaimana­pun juga, karena pikirannya tidak per­nah dapat membayangkan hal yang belum diketahuinya. Akan tetapi, sekali dia sudah mendengar cerita tentang setan, maka pikirannya mereka-reka, memba­yangkan dan diapun menjadi takut.

Pikiran merupakan sebuah gudang dimana kita menyimpan hal-hal yang kita ketahui melalui pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain, melalui bacaan, penuturan dan sebagainya. Tentu saja kita tidak mungkin dapat menemukan sesuatu yang berada di luar gudang, yang kita temukan hanyalah barang-barang timbunan dalam gudang itu.

Pikiran hanya merupakan alat pelengkap hidup, bagaikan amat perekam. Kita hanya mampu memutar kembali sagala yang pernah kita rekam melalui alat itu, tidak mungkin kita dapat menemukan hal-hal yang tidak pernah direkam. Oleh karena itu, betapapun cerdik pandainya pikiran, betapapun lincah dan liciknya, gerakannya hanyalah berputar-putar di dalam lingkaran gudang itu saja. Sia-sialah mengharapkan untuk menemukan sesuatu melalui pikiran, sesuatu yang baru, yang belum terekam, belum pernah tertimbun di dalam gudang ingatan

Malam itu amat sunyi, namun, sesuai dengan perintah kepala dusun Gumo Cali, semua penghuni rumah yang berdekatan di sekitar rumah saudagar Gulamar memasang lampu penerangan di luar rumah mereka sehingga daerah sekitar itu tidaklah begitu gelap.

Gadis yang diincar oleh siluman itu berada di dalam kamar ibunya, dijaga oleh ayah ibunya. Mereka bertiga sejak sore tadi sudah dicekam ketakutan hebat, terutama gadis itu sendiri yang wajahnya menjadi pucat, matanya yang indah itu seperti mata kelinci melihat harimau, dan setiap suara sedikit saja cukup untuk membuat ia melonjak kaget. Mereka bertiga berdekapan di atas pem­baringan ketika malam semakin larut, tak mungkin dapat memejamkan mata, ma­kin lama semakin gelisah walaupun mereka semua yakin bahwa Pendekar Bongkok berada seorang diri di dalam kamar sebelah dan baliwa di sekeliling rumah tidak kurang dari seratus orang laki-laki penduduk dusun Ngomaima yang siap untuk membantu Pen­dekar Bongkok menangkap siluman yang hendak menculik puteri saudagar itu.

Sie Liong sendiri tenang-tenang saja berada di dalam kamar gadis itu. Sebuah kamar yang cukup besar, dengan perabot-perabot kamar yang indah, kamar yang bersih dan berbau harum. Dia ti­dak mau duduk atau rebah di atas tem­pat tidur gadis itu, dan karena lantai kamar itu ditilami permadani tebal yang bersih dan lunak, diapun duduk bersila di atas lantai, memusatkan perhatian sehingga pendengarannya dapat mengetahui keadaan di luar kamar seka­lipun. Dalam persiapannya menghadapi siluman yang diduganya tentu hanya se­orang penjahat yang sombong dan lihai itu, dia tidak bersenjata. Akan teta­pi, melihat sebuah payung di dalam ka­mar itu, tergantung di sudut, dia tahu bahwa kalau perlu, payung itu dapat menjadi sebuah senjata yang amat baik baginya.

Menjelang tengah malam suasana semakin sunyi. Yang terdengar dari dalam kamar itu hanyalah suara jengkerik dan belalang dan serangga malam lainnya yang mengeluarkan bunyi beraneka ra­gam, halus dan amat merdu, bunyi kehi­dupan malam yang penuh rahasia karena gelap. Tiba-tiba ada suara tak wajar tertangkap oleh pendengaran Sie Liong. Suara jejak kaki di atas genteng. Dia datang, pikirnya dan tak dapat dihin­darkan lagi, jantung dalam dadanya berdetak lebih kencang daripada biasanya. Tanpa mengeluarkan suara, Sie Liong bangkit dan menghampiri sudut kamar, menyambar payung yang gagangnya pan­jang melengkung itu, lalu menanti, me­nempelkan tubuhnya di sudut dinding, matanya menatap ke arah jendela, pin­tu, dan langit-langit berganti-ganti karena dia tahu bahwa dari tiga jurus­an itulah si penjahat dapat memasuki kamar.

Dengan pendengarannya Sie Liong mencoba untuk mengikuti gerakan penja­hat yang berada di atas rumah itu. Ti­dak mudah baginya karena penjahat itu memiliki gerakan yang ringan sekali. Kedua kakinya hampir tidak menimbulkan suara, seperti kaki kucing saja. Namun dia tahu bahwa penjahat itu kini telah turun dan mendekati kamar itu. Dia ha­rus menarik napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang berdetak ken­cang karena tegang.

"Krekk....!" Terdengar sedikit suara dan daun jendela itupun terbuka, palangnya patah karena dorongan yang amat kuat dari luar. Dan begitu daun jendela terbuka, nampak bayangan merah berkelebat dari luar. Demikian ringan dan cepat gerakan bayangan itu sehing­ga Sie Liong diam-diam merasa terkejut dan kagum. Kiranya memang bukan lawan biasa, pikirnya dan diapun waspada. O­rang yang mampu bergerak seperti ini tidak boleh dipandang ringan, pikirnya.

Dengan penuh perhatian Sie Liong yang berdiri di sudut kamar mengamati sosok tubuh itu. Tubuh yang ramping kecil sehingga nampak kurus, dengan pa­kaian serba merah dan dari samping nampak wajahnya juga tertutup topeng merah. Di punggungnya tergantung sebatang pedang. Bukan siluman, melainkan manusia bertopeng seperti yang sudah diduganya. Akan tetapi, manusia yang memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang cukup hebat.

Si topeng merah itu menghampiri pembaringan, menyingkap kelambu dan melepaskan kembali ketika melihat bahwa pembaringan itu kosong. Dikepalnya ta­ngan itu sebagai tanda bahwa ia marah, dan pada saat itu, Sie Liong memben­tak.

"Penjahat sombong dan keji! Menyerahlah engkau!" Sambil membentak demi­kian, Sie Liong sudah menerjang maju dan tangan kirinya mencengkeram ke a­rah lengan orang untuk menangkapnya. Bukan sembarang cengkeraman belaka ka­rena ini merupakan satu jurus dari Pek-in Sin-ciang, dan biarpun pada saat i­tu tangannya belum mengeluarkan uap putih, namun sudah mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat dan cengkeraman i­tu cepat sekali, sukar untuk dihindar­kan lawan.

Akan tetapi, si topeng merah itu ternyata cekatan sekali. Melihat le­ngannya akan dicengkeram, dia membuat gerakan memutar lengan itu dan sekali­gus dihantamkan ke atas untuk menang­kis dan dengan kuatnya lengannya yang kecil menangkis dengan pengerahan tenaga sin-kang.

"Dukk!" Dua lengan bertemu dan si topeng merah itu mendengus marah.

"Ihhh!" Dan kini tangan kirinya bergerak mengadakan serangan tusukan dengan dua jari tangan ke arah mata Sie Liong. Demikian cepatnya gerakan itu dan tangan kirinya itu seperti sebatang pedang menusuk saja! Sie Liong maklum bahwa lawannya memang tangguh, maka diapun cepat mengerahkan tenaga, melepaskan payungnya aan menangkis ta­ngan kiri lawan yang menusuk itu dari samping.

"Plakkk!"

"Ehhh....!" Kini si topeng merah itu agak terhuyung dan agaknya baru dia menyadari bahwa orang bongkok ini amat lihai, maka tanpa banyak cakap lagi tubuhnya lalu meluncur keluar ka­mar melalui jendela dengan kecepatan luar biasa.

"Penjahat keji, hendak lari ke mana kau?" Sie Liong membentak dan sengaja dia mengeluarkan suara nyaring agar terdengar oleh semua orang yang menge­pung rumah itu sambil bersembunyi. Te­riakannya ini nyaring sekali dan mak­sudnya berhasil, karena terdengar oleh semua pengepung yang langsung menyala­kan obor dan mengangkat obor itu ting­gi-tinggi dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan memegang senjata mereka. Sie Liong melihat bayangan merah berkelebat ke atas genteng. Maka diapun ce­pat mengejar sambil memegang payung­nya.

Ketika tiba di atas wuwungan yang agak lebar den datar, lebarnya tidak kurang dari setengah meter, si bayang­an merah itu yang tahu bahwa ia dike­jar, lalu membalik dan pedangnya suaah menyambut Sie Liong dengan tusukan kilat. Sie Liong melihat sinar pedang meluncur cepat, maka diapun segera menangkis dengan payungnya. Sepasang ma­ta di balik topeng itu berkilat seper­ti mentertawakan karena jangankan ha­nya payung, biar senjata terbuat dari baja yang kuatpun akan patah bertemu dengan pedangnya. Maka diapun sudah siap untuk melanjutkan serangan kalau payung itu terbabat patah.

"Trangg!" Bunga api berpijar dan si bayangan merah itu mengeluarkan se­ruang kaget. Payung itu tidak patah, bahkan ia merasa telapak tangannya pa­nas.

"Hei, setan bongkok! Siapakah engkau dan mengapa mencampuri urusanku?" bentaknya.

Sie Liong tertegun. Kiranya silu­man ini seorang wanita yang suaranya nyaring merdu! Pantas saja mata yang berada di balik topeng itu demikian jeli, dan tubuh itu demikian langsing dan padat, juga nampak kurus. Kiranya wanita! Mengapa ada wanita menculiki gadis-gadis cantik? Sungguh aneh sekali!

"Kiranya siluman merah adalah seorang wanita! Sungguh engkau jahat se­kali! Untuk apa engkau menculiki gadis-gadis itu? Hayo kembalikan atau aku tidak akan mengampunimu!"

"Setan bongkok sombong! Engkau sudah bosan hidup!" bentak siluman itu dan kini ia menyerang dengan tangan kirinya. Semacam uap hitam menyambar ke arah Sie Liong dan uap hitam ini me­ngandung tenaga dorongan yang amat ku­at. Sie Liong menyambut dengan dorong­an tangan kiri pula, sambil mengerah­kan tenaga Pek-in Sin-ciang. Uap putih keluar dari telapak tangan kirinya bertemu dengan uap hitam dan kembali wanita bertopeng itu mengeluh dan ter­dorong dua langkah ke belakang.

"Mampuslah!" Tangan kirinya bargerak dan sinar-sinar hitam lembut me­nyambar ke arah tubuh Sie Liong, mengarah leher, dada dan pusar! Itulah ja­rum-jarum hitam beracun yang menyambar dari jarak dekat! Sie Liong menggerak­kan payungnya yang terbuka dan sekali diputar, payung itu menangkis semua jarum yang bertebaran jatuh menimpa genteng, mengeluarkan suara nyaring lem­but yang hanya dapat terdengar oleh Sie Liong. Akan tetapi ketika dia me­mandang dari balik payungnya, bayangan merah itu telah meloncat turun. Ribut­lah para penduduk menyambutnya dengan pengeroyokan, akan tetapi mereka sege­ra cerai berai ketika dua orang di an­tara mereka roboh mandi darah terbabat pedang dan beberapa kali loncatan saja, si bayangan merah telah lenyap dari situ. Ketika semua orang memandang, ternyata Pendekar Bongkok yang tadi berada di atas genteng rumah juga sudah lenyap.

Ke mana perginya Sie Liong? Dia tadi melihat berkelebatnya bayangan merah itu ke arah selatan, maka diam-di­am diapun lalu meloncat dan melakukan pengejaran. Akan tetapi, malam gelap menjadi penghalang dan wanita berpakaian merah itu lenyap ditelan kegelapan malam dan arah yang diambilnya adalah selatan, ke arah bukit yang menjulang tinggi itu, Bukit Onta! Karena tidak mungkin mengejar seorang lawan yang demikian lihai dan berbahaynya di malam gelap, Sie Liong lalu berlari kembali ke dalam dusun Ngomaima, kembali ke rumah saudagar Gulamar di mana penduduk masih berkumpul dan mereka itu ramai membicarakan apa yang mereka lihat di atas rumah tadi, perkelahian antara Pendekar Bongkok dan Siluman Merah. Ketika melihat munculnya pemuda bongkok itu, para penduduk yang dipimpin oleh kepala dusun Gumo Cali menyambutnya dengan sorak sorai penuh kegembiraan.

"Hidup Sie Taihiap....!"

Bahkan ada yang berteriak, "Hidup Pendekar Bongkok!" Namun sebutan bong­kok itu kini nadanya bukan menghina a­tau mengejek, melainkan memuji.

Sie Liong merasa kecewa bahwa dia tidak berhasil menangkap penjahat itu, maka dia mengangkat kedua tangan ke a­tas dan berkata, "Harap saudara sekalian pulang ke rumah masing-masing. Ketahuilah bahwa siluman merah itu bukan setan, melainkan seorang manusia yang amat lihai dan ia seorang penjahat wa­nita. Sayang bahwa aku tidak berhasil menangkapnya dan selama belum tertangkap, bahaya masih selalu ada. Maka ha­rap saudara sekalian suka bekerja sama dan bersatu seperti sekarang ini. Ka­lau saudara sedusun bersatu melawan­nya, tentu ia tidak akan dapat menga­cau lagi."

Orang-orang bubaran. Walaupun pendekar itu tidak berhasil menangkap si­luman merah, akan tetapi jelas bahwa siluman itu takut kepadanya. Buktinya siluman itu melarikan diri dan sekali ini ia tidak berhasil menculik gadis puteri saudagar Gulamar. Ada sebuah hal yang sukar dapat mereka percaya. Kalau berita bahwa siluman itu adalah seorang manusia lihai dan jahat, dapat mereka terima. Akan tetapi seorang wa­nita? Sukar membayangkan seorang wani­ta selihai itu dan pula apa urusannya wanita menculik gadis-gadis cantik?

Tentu saja Gulamar, isterinya dan puterinya merasa berterima kasih seka­li kepada Pendekar Bongkok Sie Liong. Walaupun siluman itu tidak tertangkap, namun gadis itu capat diselamatkan.

Namun, Sie Liong sama sekali tidak merasa puas. Dia bahkan semakin penasaran. Dia harus dapat membongkar rahasia wanita bertopeng merah itu. Me­ngapa menculiki gadis-gadis cantik, dan ke mana ia membawa gadis-gadis i­tu? Ia harus dapat menemukan sarangnya, menolong para gadis yang sudah diculi­k, karena kalau penjahat aneh itu belum dapat dikalahkan, tentu dusun itu masih selalu terancam bahaya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sie Liong sudah keluar dari dusun dan melakukan perjalanan seorang diri menuju ke selatan. Bukit Onta nampak masih menghitam karena sinar matahari pagi itu masih lemah. Dia tahu bahwa ia mencari-cari dalam gelap, hanya menduga bahwa bukit itulah yang sepatutnya menjadi sarang penjahat yang­ menyamar siluman. Bukit Onta itu tidak begitu jauh dari dusun Ngomaima, merupakan bukit yang penuh dengan hutan lebat dan menurut keterangan yang diperolehnya, jarang ada pemburu berani memasuki hutan itu yang menurut kabar tahyul merupakan sarang iblis! Cocok dengan penjahat yang menyamar sebagai siluman. Maka, begitu melihat bukit i­tu dan mendengar keterangan tentang tempat itu, dia sudah menduga bahwa di situlah tempat siluman itu bersembunyi di waktu siang dan bergerak memasuki dusun di waktu malam.

Dugaan Sie Liong memang tepat sekali. Tidak begitu jauh di lerang bu­kit itu, dalam sebuah hutan, terdapat bangunan kayu yang masih nampak baru, cukup besar dan bangunan itu tersembu­nyi di antara pohon-pohon raksasa se­hingga tidak akan nampak dari luar hu­tan. Bangunan itu belum lama didirikan orang-orang secara diam-diam, baru ku­rang lebih sebulan. Dan semenjak tiga pekan, kadang-kadang terdengar suara isak tangis tertahan disusul hardikan yang menghentikan isak tangis wanita itu dari dalam rumah.

Kiranya hampir setiap malam, siluman merah atau wanita yang memakai pakaian dan topeng merah membawa seorang gadis culikan ke rumah itu dan kini, di rumah itu telah terkumpul sembilan orang gadis-gadis muda dan cantik, di antara mereka terdapat pula dua orang kakak beradik puteri dari Gumo Cali, kepala dusun Ngomaima. Mereka dikumpulkan dalam sebuah ruangan besar di te­ngah bangunan itu. Karena mereka sela­lu dihardik dan diancam kalau menangis maka mereka yang dilanda duka dan ketakutan, hanya terisak kecil saja. Yang lain sudah pasrah, agak besar pu­la hati mereka melihat banyaknya teman senasib, dan selama mereka ditawan i­tu, mereka tidak pernah menerima perlakuan buruk, tidak pernah diganggu dan diberi hidangan yang cukup baik. Hanya mereka tidak pernah tahu mengapa mere­ka diculik dan ditawan di dalam hutan itu.

Pada malam hari tadi, ketika siluman merah gagal menculik puteri sauda­gar Gulamar karena adanya Pendekar Bongkok, ia langsung saja berlari karena tidak ingin dikejar pendekar yang lihai itu dan biarpun hatinya merasa penasaran sekali karena ia belum mera­sa kalah dan belum benar-benar mengadu ilmu dengan pemuda bongkok, namun ia tidak berani mengambil resiko melawan pendekar Bongkok yang selain amat li­hai, juga dibantu oleh ratusan orang penduduk Ngomaima itu.

Malam itu, ketika ia kembali ke rumah dalam hutan di lereng Bukit Onta dengan tangan kosong, ia disambut te­guran tak puas di dalam ruangan di ru­mah itu. Mereka semua ada lima orang yang duduk mengelilingi sebuah meja. Seorang kakek yang usianya kurang le­bih enam puluh tahun, kepalanya gundul dan wajahnya nampak masih muda, pada jubahnya di bagian dada terdapat sebu­ah lukisan teratai putih pada dasar hitam. Biarpun dia mengenakan jubah pen­deta dan kepalanya dicukur licin, na­mun sikapnya berbeda dengan para hwesio (pendeta Budha). Para hwesio bersikap alim dan tenang, sebaliknya kakek ini memiliki sinar mata yang tajam dan liar, wajahnya penuh dengan kelicikan dan mulutnya membayangkan kerakusan dan kekejaman. Namun harus diakui bah­wa dia memiliki wajah yang nampak muda dan tampan, tubuhnya tinggi besar dan sikapnya berwibawa. Di sampingnya du­duk pula tiga orang laki-laki yang berusia antara empat puluh sampai lima pu­luh tahun, semua memakai pakaian ring­kas dan di punggung mereka terselip siang-to (sepasang golok) yang mengkilap tajam, sikap mereka juga angkuh dan jagoan. Orang ke lima adalah siluman me­rah sendiri dan kini ia sudah menang­galkan topengnya. Kalau Sie Liong meli atnya, dan juga para penduduk dusun Ngomaima melihatnya, mereka semua ten­tu akan terkejut dan terheran-heran. Kiranya yang mereka namakan siluman merah itu adalah seorang wanita muda yang cantik jelita dan manis sekali!

Usianya tidak akan lebih dari dua puluh tahun, wajahnya bulat telur dan manis sekali, kulit muka dan lehernya putih mulus. Wanita cantik manis yang amat lihai ini bukan lain adalah Pek Lan!

Seperti kita ketahui, Pek Lan te­lah berhasil membalas dendamnya terha­dap para selir dari Hartawan Coa di kota Ye-ceng dan membawa pula banyak harta milik hartawan Coa. Dengan hati amat puas ia meninggalkan kota Ye-ceng dan bermaksud untuk pulang ke tempat tinggal gurunya, yaitu Hek-in Kui-bo yang kini tinggal di tepi telaga Gose sebagai seorang yang kaya raya.

Akan tetapi setibanya di rumah subonya (ibu gurunya), ternyata Hek-in Kui-bo sedang kedatangan seorang tamu yang oleh subonya diperkenalkan kepadanya sebagai Thai-yang Suhu, seorang tokoh Pek-lian-kauw (Perkumpulan Agama Teratai Putih).

"Pek Lan, Thai-yang Suhu ini adalah seorang sahabat baikku dan dia memiliki ilmu silat yang tinggi dan juga ilmu sihir yang hebat. Thai-yang Suhu, inilah muridku yang kuceritakan kepadamu tadi, namanya Pek Lan."

Sepasang mata pria berjubah pendeta dan berkepala gundul yang ditutup sebuah topi hwesio itu menjelajahi wajah dan tubuh Pek Lan dengan penuh perhatian, lalu dia mengangguk-angguk. "Kui-bo, muridmu ini sungguh hebat, cantik manis dan juga lincah. Tidak tahu entah sampai di mana engkau menggemblengnya."

"Hemm, ia sudah hampir mewarisi seluruh kepandaianku. Engkau cobalah ia, Thai-yang. Pek Lan, jangan sungkan-sungkan, perlihatkan kepandaianmu kepada pamanmu Thai-yang Suhu!"

Wajah dan sikap pria berjubah pendeta itu sudah menarik perhatian Pek Lan, maka mendengar kata-kata subonya, iapun lalu meloncat ke tengah ruangan dan memberi hormat ke arah Thai-yang Suhu. "Paman, silakan!"

Thai-yang Suhu tertawa bergelak dan ternyata giginya masih berderet rapi. "Bagus, engkau seorang keponakanku yang mengagumkan." katanya sambil bangkit pula berdiri, lalu menghampiri Pek Lan. "Pek Lan, aku ingin menguji kepandaianmu, ingin pinceng (aku) melihat apakah benar engkau cukup berharga un­tuk mewakili subo-mu membantu pekerja­an kami yang besar. Awas serangan!" Pendeta Pek-lian-kauw itu sudah menye­rang, pukulannya mengandung tenaga sin-kang besar dan juga gerakannya cepat sekali. Namun, tidak terlalu cepat ba­gi Pek Lan yang dengan mudah sudah me­ngelak ke samping sehingga pukulan itu mengenai tempat kosong. Thai-yang Suhu menyusulkan serangan yang lebih hebat, dengan tamparan tangan kiri ke arah pelipis kanan gadis itu. Tamparannya mendatangkan angin pukulan yang dahsyat dan serangan ini diikuti pula oleh cengkeraman tangan kanan ke arah dada Pek Lan. Sungguh merupakan serangan yang berbahaya. Namun, dengan tenang saja Pek Lan meloncat ke belakang, kemudian iapun membalas dengan serangan bertubi. Ia mengerahkan tenaga sin-kang yang dipelajarinya dari Hek-in Kui-bo dan dari kedua telapak tangannya mengepul uap hitam!

"Bagus, ia sudah pandai Hek-in Tok-ciang (Tangan Beracun Awan Hitam), ha-ha!" kata Thai-yang Suhu, akan tetapi biarpun mulutnya tertawa, dia sibuk sekali menghadapi rangkaian serangan yang hebat dari gadis itu sehingga dia harus melindungi dirinya dengan elakan dan tangkisan karena biarpun yang menyerangnya hanya seorang wanita muda, namun serangan dahsyat itu dapat membahayakan dirinya. Gadis itupun tidak mau memberi hati dan ia menyerang semakin gencar sehingga pendeta itu harus mengakui akan kelihaian Pek Lan. Dia lalu mengeluarkan bentakan nyaring dan tiba-tiba saja pendeta itu lenyap dari pandang mata Pek Lan, berubah menjadi asap hitam! Selagi ia kebingungan, pinggulnya ada yang mencolek dari belakang.

"Pek Lan, pinceng di sini!"

Pek Lan terkejut dan juga mendongkol atas kegenitan sahabat subonya i­tu, ia membalik dan kakinya mencuat dalam tendangan kilat. Hampir saja Thai-yang Suhu terkena tendangan itu. Un­tung dia cepat menarik tangannya dan mengelak dan sebelum Pek Lan melanjut­kan serangannya, kembali dia berubah menjadi asap hitam dan lenyap.

"Wah, kalau paman menggunakan il­mu siluman begini, aku mengaku kalah!" teriak Pek Lan yang tidak ingin lagi tangan paman yang nakal itu mencolak-colek tubuhnya.

Asap hitam menghilang dan Thai-yang Suhu kelihatan kembali. "Ha-ha-ha engkau sungguh hebat, Pek Lan, mampu mendesak pinceng. Akan tetapi, lihat baik-baik, pinceng telah menjadi raksasa, apakah engkau masih berani melawan?"

Pek Lan memandang dan ia terbela­lak karena melihat pendeta itu kini benar saja telah berubah menjadi tinggi sekali, sehingga ia sendiri hanya se­tinggi lututnya! Tentu saja ia menjadi gentar dan ia memberi hormat sambil berkata, "Aku tidak berani...."

That Yang Suhu tertawa dan dia kembali menjadi normal. Terdengar Hek-in Kui-bo terkekeh. "Thai-yang, engkau seperti anak kecil saja, menakut-nakuti muridku. Nah, Pek Lan, kaulihat, dia pandai sekali ilmu sihir! Dia datang untuk mohon bantuanku, akan tetapi ka­rena aku sudah tua, aku wakilkan pada­mu."

Pek Lan mangerutkan alisnya, me­nyesal mengapa subonya menyanggupi untuk membantu pendeta ini, bahkan sudah mengambil keputusan untuk menyuruh ia mewakilinya. Kalau subonya yang meme­rintahkan, tentu saja ia tidak dapat menolak lagi.

"Bantuan yang bagaimana, Subo? A­pakah yang harus kulakukan?"

"Ha-ha-ha, tidak berat dan tidak sukar, Pek Lan, apa lagi untukmu yang memiliki tenaga hebat, kecepatan kilat dan kepandaian setinggi langit! Bahkan pinceng lihat hanya engkaulah yang a­kan mampu melaksanakan tugas ini seba­iknya. Tugas yang mudah sekali. Kami dari Pek-lian-kauw membutuhkan penambah­an pelayan, yaitu gadis-gadis remaja dari dusun-dusun sebanyak lima belas o­rang. Kita akan memilih dari dusun-du­sun dimana ada gadis remaja yang bersih dan cantik, dan engkau bertugas untuk menculik mereka itu seorang demi seorang."

Pek Lan mengerutkan alisnya. Me­mang bukan tugas yang sukar, akan tetapi hatinya merasa tidak puas mengapa ia yang ditunjuk untuk membantu pende­ta ini.

"Akan tetapi, mengapa mesti aku....?" bantahnya.

"Pek Lan, aku pernah berhutang budi kepada Thai-yang Suhu ini, dan sekarang ada kesempatan bagiku untuk membalasnya. Aku sudah menyanggupinya dan aku sudah menunjuk engkau untuk mewakili aku. Apakah engkau akan mengata­kan bahwa engkau tidak sanggup mewakiliku?" Guru itu mendesak sedemikian rupa, sehingga tidak ada kesempatan bagi Pek Lan untuk mengelak lagi. Akan tetapi, ia teringat akan ilmu aneh dari pende­ta itu tadi. Menghadapi ilmu aneh se­perti itu, apa artinya ilmu silatnya? Tiba-tiba ia mendapatkan akal.

"Paman Thai-yang Suhu, aku sang­gup untuk membantumu sampai berhasil baik, akan tetapi untuk itu ada syaratnya yang kuharap paman akan dapat memenuhinya."

"Ha-ha-ha, anak manis, apakah syaratmu itu? Hadiah apa yang kauminta?"

"Aku mau mewakill subo membantu paman sampai berhasil mengumpulkan lima belas orang gadis dusun yang dibutuhkan Pek-lian-kauw, akan tetapi dengan imbalan bahwa paman akan mengajarkan ilmu sihir yang aneh kepadaku."

Mendengar permintaan ini, sepa­sang mata Thai-yang Suhu terbelalak, akan tetapi sepasang mata itu lalu men­jelajahi wajah dan tubuh Pek Lan, dan diapun tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, Kui-bo. Muridmu ini memang cerdik dan menyenangkan sekali. Permintaanmu itu memang sudah pantas! Dan pinceng bu­kanlah seorang yang pelit, apalagi terhadap seorang gadis cantik manis yang cerdik seperti engkau, masih keponakanku sendiri pula dan yang akan membantu pinceng. Ha-ha-ha, memang hidup ini harus meminta dan memberi, pinceng akan mengajarkan beberapa macam ilmu sihir kepadamu, Pek Lan, asalkan eng­kau suka mentaati segala perintahku, memenuhi segala permintaanku. Bagaimana, sanggupkah engkau?"

Pek Lan yang merasa girang sekali mendengar bahwa ia akan menerima pelajaran ilmu sihir, tanpa ragu lagi men­jawab, "Tentu saja aku sanggup, Paman Thai-yang Suhu!"

"Ho-ho-ho, sekali ini engkau ter­jebak oleh pamanmu yang selain lihai juga amat cerdik, Pek Lan! Engkau berjanji akan memenuhi semua permintaan­nya! Engkau lupa bahwa engkau seorang wanita muda yang amat cantik jelita dan menarik, sedangkan Thai-yang Suhu ini adalah seorang laki-laki yang hatinya masih muda dan dulu dia amat tam­pan, digilai banyak wanita. Ha-ha-hi-hik!"

Mendengar ucapan subonya, Pek Lan memandang kepada pria gundul yang me­mang tampan itu, dan wajahnya berubah kemerahan. Tentu saja ia mengerti apa maksud subonya, akan tetapi kalau be­nar tokoh Pek-lian-kauw itu menghendaki apa yang dimaksudkan subonya, iapun tidak berkeberatan!

Kalau burung berkelompok karena persamaan bulunya, manusia berkelompok karena persamaan selera dan cara hidupnya. Kalau sekelompok orang sama-sama menjadi hamba nafsu, tentu mereka da­pat menjadi akrab dan bersahabat. Kegemaran mereka sejalan dan sama, yaitu pemuasan nafsu dan pengejar kesenang­an. Celakah orang yang hidup sebagai hamba nafsunya sendiri, tanpa menyadari bahwa nafsu yang menyuguhkan segala macam kesenangan itu sesungguhnya merupakan musuh yang paling jahat, yang a­kan dapat menyeret para hambanya ke dalam lembah duka dan kesengsaraan. Ke­nyataan ini bukan berarti bahwa nafsu adalah sesuatu yang amat buruk dan ha­rus dilenyapkan dari diri kita. Sama sekali tidak! Nafsu sudah ada semenjak kita lahir. Nafsu, karena itu, juga merupakan anugerah Tuhan. Tuhan telah mengikutkan nafsu kepada kita sejak la­hir, seperti juga mengikutkan hati, perasaan, pikiran dan semua anggauta ba­dan kita. Seperti juga yang lain itu, nafsu hanya merupakan pelengkap, meru­pakan alat, bahkan alat hidup yang penting sekali. Tanpa adanya nafsu, kita tidak mungkin dapat hidup. Nafsulah yang membuat kita bergairah, untuk bekerja, untuk makan, untuk minum, bahkan dalam setiap panca indera kita, nafsu mendatangkan kenikmatan dalam mendengar, melihat, mencium dan sebagainya. Nafsu pula yang mendorong manusia untuk saling menghubungi lawan jenisnya sehingga manusia dapat berkembang biak. Sesungguhnyalah, nafsu merupakan alat yang teramat penting dan baik, nafsu merupakan hamba yang amat setia dan berguna. Akan tetapi, daya-daya rendah kebendaan, yaitu ikatan kita dengan segala macam benda ciptaan manusia sendiri, daya rendah tumbuh-tumbuhan dan hewam yang memasuki tubuh kita melalui makanan, daya rendah jasmani yang menimbulkan ikatan antar manusia dalam hubungannya, semua itu saling berlomba melalui nafsu untuk menjadi majikan atas diri manusia. Dan nafsu yang dapat menjadi hamba paling baik itu, sekali dibiarkan menjadi majikan, akan memperbudak kita. Jiwa yang merupakan unsur paling murni di dalam diri, tertutup dan tidak berdaya sehingga diri sepenuhnya dikuasai oleh nafsu. Setiap pikiran, kata-kata dan per­buatan kita bergelimang nafsu! Dan be­tapapun manusia berusaha untuk member­sihkan diri dari nafsu, untuk membebaskan diri dari cengkeraman nafsu yang memperbudak kita, semua usaha itu akan sia-sia dan gagal. Karena usaha itu a­dalah hasil dari pikiran yang sudah bergelimang nafsu pula. Tidak mungkin pikiran yang bergelimang nafsu ini membersihkan pikiran sendiri dari nafsu. Usaha itu masih berputar di dalam lingkaran yang dikuasai nafsu. Hanya kekuasaan yang berada di luar lingkaran itu sajalah yang akan mampu membebaskan kita. Dan kekuasaan itu adalah kekuasaan mutlak, yaitu kekuasaan Tuhan! Karena nafsu merupakan ciptaan Tuhan, maka kekuasaan-Nya sajalah yang akan mampu me­ngatur, akan mampu membersihkan jiwa dari gelimangan nafsu, dan akan mampu membuat nafsu menduduki tempat yang semestinya, yaitu sebagai alat hidup ma­nusia, bagaikan kuda penarik yang ji­nak dan penurut, bukan liar dan binal! Dan kekuasaan Tuhan pasti akan bekerja selama kita tidak mengagungkan diri sendiri yang sesungguhnya rendah, me­nyombongkan kekuatan sendiri yang sesungguhnya lemah. Kekuasaan Tuhan akan bekerja kalau kita mawas diri, melihat kenyataan betapa kecil kita ini di ha­dapan kekuasaan Tuhan, kalau kita ren­dah hati lahir batin dan menyerah kepada Tuhan dengan ikhlas, tawakal dan sabar.

Demikianlah, semenjak saat itu, Pek Lan membantu Thai-yang Suhu, to­koh Pek-lian-kauw itu dan dengan ilmu­nya yang tinggi, Pek Lan membantu pen­deta palsu itu menculiki gadis-gadis cantik dari dusun-dusun. Di samping i­tu, Pek Lan menerima pula petunjuk dan pelajaran dari Thai-yang Suhu yang memenuhi janjinya, mengajarkan ilmu sihir kepada wanita cantik itu. Sebalik­nya, Pek Lan juga tidak melanggar janjinya dan dengan penuh kemesraan dan kepasrahan iapun menyerahkan dirinya melayani semua gairah nafsu tokoh Pek-lian-kauw itu. Bahkan iapun merasa pu­as dan senang karena ternyata pria yang sudah berusia enam puluh tahun itu perkasa, bahkan tidak kalah oleh yang muda-muda.

"Sungguh aku merasa heran sekali, Pek Lan. Engkau gagal karena dihalangi oleh seorang pemuda yang bertubuh ca­cat, yang bongkok? Sungguh penasaran dan memalukan sekali!" Demikian berka­li-kali Thai-yang Suhu menegur pembantunya, juga kekasihnya itu. Pek Lan mengerutkan alisnya dan mulutnya yang berbibir merah basah tanpa gincu itu cemberut.

"Hemm, mencela memang mudah! Aku bukan mengatakan bahwa aku kalah oleh setan bongkok itu, akan tetapi aku ha­nya mengatakan bahwa dia memang lihai sekali. Aku terpaksa melarikan diri bukan karena takut melawannya. Kami be­lum berkelahi sungguh-sungguh. Akan tetapi, bagaimana aku akan bertindak ne­kat kalau ratusan orang penduduk bera­da di belakangnya?"

Thai-yang Suhu mengerutkan alis­nya pula. "Hemm, tentu si bongkok itu pula yang mengerahkan penduduk. Dan selama dia berada di sana dan menghasut penduduk untuk melawan kita, maka ten­tu akan sukar bagi kita untuk memenuhi jumlah gadis yang kita butuhkan. Sudah ada sembilan orang dan tinggal enam lagi saja, eh, tiba-tiba muncul setan bongkok itu. Kita harus melenyapkan perintang itu."

"Benar sekali, kalau si bongkok itu kita bunuh, tentu hati para pendu­duk menjadi gentar lagi dan mereka ti­dak akan berani lagi menentang kita," kata seorang di antara Tibet Sam Sinto (Tiga Golok Sakti Tibet) itu. Dua orang saudaranya mengangguk-angguk.

Pek Lan yang merasa panas hatinya karena ditegur Thai-yang Suhu tadi, mendengar ucapan Tibet Sam Sinto sege­ra bangkit dan bertolak pinggang, lalu berkata dengan suara lantang, "Sam Sinto, biar kalian bertiga yang menghadapi penduduk yang banyak akan tetapi le­mah itu, dan biar aku yang akan menan­dingi si bongkok sampai dia mampus di tanganku!"

Tibet Sam Sinto tidak berani memandang rendah kepada wanita muda yang cantik manis itu karena mereka maklum betapa lihainya Pek Lan, mereka hanya mengangguk dan seorang di antara mere­ka berkata singkat, "Jangan khawatir, nona. Kami akan membasmi penduduk yang berani menentang kita!"

"Hemm, kalian tidak boleh menuruti hati marah saja. Semua harus diatur dengan cermat agar jangan sampai ga­gal. Aku tidak biasa bekerja secara serampangan saja, harus menggunakan sia­sat yang matang," kata Thai-yang Suhu.

Pada saat itu, seorang anak buah mereka muncul. Anak buah ini tadi te­lah menerima tugas untuk menyelidiki keadaan dalam dusun Ngomaima, terutama sekali menyelidiki tentang si bongkok.

"Bagaimana hasil penyelidikanmu?" tanya Thai-yang Suhu. Anak buah ini juga seorang anggauta Pek-lian-kauw yang terkenal cerdik dan juga memiliki gin-kang yang membuat dia mampu berla­ri cepat dan bergerak dengan gesit.

Setelah memberi hormat, anak buah itu lalu bercerita. "TIdak ada yang mengetahui siapa nama si bongkok itu, Lo suhu. Orang menyebut dia Pendekar Bongkok, dan tak seorangpun mau mengaku ketika saya mencoba bertanya siapa nama­nya dan bagaimana riwayatnya. Yang je­las, dia bukan penduduk daerah ini, melainkan datang dari timur."

"Di mana dia sekarang dan bagaimana keadaan para penduduk dusun Ngomai­ma?" tanya pula Thai-yang Suhu tak sa­bar.

"Dia masih bermalam di rumah pe­nginapan, akan tetapi penduduk kini melakukan penjagaan ketat dan puluhan o­rang melakukan penjagaan secara bergi­liran."

"Hemm, aku tidak takut! Mari kita sekarang juga mencari si bongkok itu di rumah penginapan!" kata Pek Lan ge­mas.

"Tidak," bantah Thai-yang Suhu. "Sudah kukatakan, semua harus menggunakan rencana siasat. Jangan sampai kita memperlihatkan kelemahan seolah-olah takut kepada si bongkok dan para penduduk. Pek Lan, besok siang kita usaha­kan untuk memberi tanda merah lagi pa­da pintu rumah Gulamar, dan malam harinya, engkau culik puterinya!"

"Tapi, kalau mereka tahu, tentu mereka mengatur jebakan," bantah Pek Lan.

"Ha-ha-ha, justeru itu yang kuhen­daki. Biarlah mereka mengatur jebakan untukmu, akan tetapi mereka tidak tahu bahwa di belakangmu ada kami! Tibet Sam Sinto yang akan mengahadapi orang-orang dusun bodoh itu, dan engkau men­culik gadis itu. Kalau si bongkok mun­cul, kita hadapi berdua, dan jangan khawatir, aku melindungimu, Pek Lan."

Wanita muda itu mengangguk-angguk dan hatinyapun merasa tenang. Kalau Thai-yang Suhu membantunya menghadapi si bongkok, ia hampir yakin bahwa mereka tentu akan mampu merobohkan Pende­kar Bongkok itu. Malam itu, Pek Lan berusaha keras untuk menyenangkan hati Thai-yang Suhu, sebagian untuk menebus kekurangannya karena kegagalan mencu­lik puteri Gulamar, ke dua karena pendeta Pek-lian-kauw itu besok akan mem­bantunya. Untuk memberi tanda darah kepada pintu keluarga hartawan itu, diserahkan kepada anak buah yang cekatan dan pandai menyamar.


***


Sie Liong berjalan dengan tenang mendaki bukit Onta yang penuh dengan hutan itu. Biarpun belum yakin karena belum mendapatkan bukti, namun dia menduga keras bahwa tentu siluman yang suka menculik gadis itu bersembunyi di tempat yang ditakuti orang ini. Sebuah tempat persembunyian yang baik. Akan tetapi, siluman itu seorang wanita, dan mengapa ada wanita menculiki gadis gadis cantik? Tentu wanita siluman itu tidak sendiri dan mungkin terdapat banyak kawannya yang tentu saja berbaha­ya. Maka, biarpun dia melangkah te­nang, dia tak pernah lengah sedetikpun. Mata dan telinganya menyelidiki keada­an di sekelilingnya.

Sikapnya yang amat hati-hati itu tidak menolongnya. Semenjak dia menda­ki Bukit Onta, setiap gerakannya sudah diikuti oleh banyak pasang mata. Dia tidak tahu bahwa pendakiannya tadi ke­lihatan oleh anak buah Thai-yang Suhu yang segera melapor kepada perdeta Pek-lian-kauw itu. Mendengar bahwa Pende­kar Bongkok sudah datang berkunjung dan mendaki bukit, tentu saja hal ini tidak pernah disangka oleh Thai-yang Suhu yang cepat mempersiapkan diri. Dia berunding dengan Pek Lan dan Tibet Sam Sinto, mengatur siasat. Thai-yang Su­hu, biarpun nampaknya seperti seorang pendeta, namun dia adalah pendeta dari aliran kebatinan yang sesat, oleh karena itu, dia tidak segan atau malu selalu bersikap curang. Kalau dia gagah, tentu dijumpainya Pendekar Bongkok a­gar mereka dapat bertanding secara ga­gah pula. Tidak, dia tidak ingin mengalami kerugian dan segalanya diperhi­tungkan demi keuntungan pihaknya. Dia belum mengenal siapa Pendekar Bongkok, dari aliran mana dan bagaimana tingkat ilmu kepandaiannya. Kalau memang Pendekar Bongkok pandai, mengapa tidak diu­sahakan dulu agar suka membantu dan bekerja sama dengan Pek-lian-kauw? Kalau semua usaha itu gagal, baru terpaksa dibunuh!

Sie Liong menurutkan jalan seta­pak yang ditemukannya dalam hutan itu. Ketika membelok di bagian tengah hu­tan, pada jalan menurun, tiba-tiba sa­ja dia dihadapkan dengan sebuah telaga kecil yang amat indah dan amat jernih airnya. Ada air terjun tak jauh dari situ, dan airnya membuat sungai kecil memasuki telaga. Dari tempat dia berdiri, dia melihat pemandangan yang amat indah. Tak disangkanya bahwa di bukit yang sunyi dan penuh hutan, yang dita­kuti orang itu, terdapat tempat yang demikian indahnya. Dia lalu menuruni jalan setapak itu, menghampiri telaga.

Terpesona dia berdiri di tepi te­laga. Air telaga demikian jernih, ba­gaikan kaca yang berada di depan kaki­nya demikian jernihnya sehingga dia dapat melihat batu-batu di dasarnya, juga melihat beberapa ekor ikan hilir mudik. Di sebelah sana, di mana permu­kaan air digelapi bayang-bayang pohon, air itu seperti menelan semua peman­dangan di atasnya. Pohon, daun-daun, awan dan sinar matahari, semua tengge­lam dan nampak sedemiktan jelasnya se­hingga setiap helai daun pohon itupun nampak. Tidak ada angin menggerakkan daun pohon, agaknya angin sudah ditangkis oleh pohon-pohon besar di sekeli­ling telaga itu.

Suara air membuat dia menoleh ke kiri dan untuk kedua kalinya dia terpesona! Kalau tadi dia terpesona oleh ke indahan telaga itu, kini dia terpesona oleh suatu keindahan yang lain lagi, keindahan wajah dan tubuh seorang wanita! Wanita itu masih muda, tidak lebih dari dua puluh empat tahun usianya. Wa­jahnya cantik manis dengan bentuk bu­lat telur, dan gadis itu bertelanjang bulat sama sekali, tidak ada sehelai benangpun menutupi tubuhnya yang masak dan padat. Kulitnya demikian putih mulus dan karena dia tidak berdiri terlalu jauh, dan kebetulan sinar matahari menimpa tubuh telanjang itu, Sie Liong dapat melihat bulu-bulu halus lembut pada lengan dan kaki gadis itu, yang membuat ia menjadi semakin menarik. Gadis itu duduk di atas batu dan dia me­lihatnya dari samping. Dengan kedua kakinya, gadis itu menendang-nendang air dan itulah bunyi air yang tadi menarik perhatiannya. Agaknya gadis itu tidak melihatnya, dan sedang asyik sendiri.

Dari keadaan terpesona, Sie Liong kini menjadi tersipu, merasa betapa dia telah bersikap tidak sepatutnya, melihat seorang gadis bertelanjang bulat seperti itu. Wajahnya berubah merah dan diapun cepat membuang muka, bahkan lalu berdiri membelakangi gadis itu, kemudian melangkah pergi.

"Heiii....!" Tiba-tiba Sie Liong mendengar suara gadis itu, disusul suara tubuh jatuh ke air. Karena ingin tahu apa yang terjadi, Sie Liong mena­han kakinya dan membalik, memamdang. Gadis itu agaknya tadi melihat dia dan terkejut lalu terjun ke air di dekat batu yang tadi didudukinya. Kini gadis itu berdiri sepinggang dalam air, dan nampak dadanya yang berbentuk indah.

"Heii, siapakah engkau? Apakah engkau hendak mandi? Marilah, kita bo­leh mandi bersama. Di sini tidak ada orang lain!"

Kedua pipi Sle Liong menjadi semakin merah dan dia mengerutkan alisnya, lalu cepat membalikkan tubuh lagi, ti­dak mau memandang dada indah dan wajah manis itu terlalu lama, bahkan dia la­lu pergi tanpa banyak bicara lagi. Ga­dis itu sungguh tidak tahu malu, pikirnya. Tidak bersusila, sudah tidak malu dilihat pria dalam keadaan bertelan­jang, bahkan mengajak mandi bersama! Seperti bukan seorang wanita biasa! Pantasnya wanita itu siluman! Siluman Merah! Sie Liong merasa betapa jantungnya berdebar dan dia memperlambat langkahnya.

Kini terdengar gadis itu kembali bicara, dan nada suaranya amat menye­sal penuh teguran. "Engkau ini orang macam apakah? Disapa baik-baik tidak mau menjawab! Selama hidupku belum pernah aku bertemu seorang manusia sesombong engkau! Aku ingin sekali bicara denganmu, dan siapa tahu, aku dapat memberi keterangan padamu! Bukankah engkau mencari seseorang di sini?"

Mendengar ucapan ini, kembali untuk ke dua kalinya Sie Liong menahan langkahnya, akan tetapi dia tidak mau menoleh atau membalikkan tubuhnya. Mungkin saja gadis ini siluman merah yang juga seorang wanita, pikirnya, walaupun dugaan ini dia bantah sendiri. Tak mungkin! Siluman merah itu orang berilmu tinggi, dan yang di belakangnya ini hanya seorang gadis muda yang cantik manis, sukar dipercaya kalau memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dan andaikata bukan siluman aerah, siapa tahu gadis ini dapat memberi keterangan di mana tempat persembunyian siluman merah.

"Aku bukan orang sombong. Kalau engkau berpakaian dengan sopan, tentu aku akan suka bicara dengan nona. Engkau berpakaianlah lebih dulu!"

"Hi-hi-hik!" Gadis itu tertawa, suara ketawanya merdu, tidak dibuat-buat dan bebas lepas. "Kiranya engkau seorang yang sopan santun, ya? Bersusila tinggi, ya? Apa sih salahnya bertelan­jang bulat? Bukankah ketika engkau dan aku terlahir, kita juga bertelanjang bulat? Bukankah manusia baru kelihatan keasliannya dan keindahan tubuhnya ka­lau bertelanjang bulat? Baiklah, aku akan berpakaian dulu. Awas, jangan me­ngintai kau, seperti kebanyakan laki-laki, mulutnya bersopan-sopan, akan tetapi matanya mencuri-curi, hi-hi-hi!"

Sie Liong merasa mendongkol juga.

Gadis ini aneh sekali, akan tetapi e­jekannya tadi memang mengena! Dia men­dengar suara berkeresekan, dan biarpun matanya tidak melihat, namun pendengarannya yang tajam terlatih dapat membu­at dia tahu bahwa gadis itu memang be­nar kini sedang mengenakan pakaian.

"Nah, aku sudah selesai berpakaian. Kaulihat, apakah aku lebih baik kalau berpakaian dari pada kalau berte­lanjang? Lihat baik-baik!"

Karena dari pendengarannya tadi dia sudah yakin bahga gadis itu kini sudah berpakaian, Sie Liong lalu membalikkan tubuhnya. Gadis itu memang can­tik menarik bukan main. Sayang pandang matanya dan senyumnya, walaupun manis dan amat memikat, mengandung kegenitan dan kecabulan! GadiS itu tersenyum.

"Engkau orang aneh, tubuhmu juga aneh, akan tetapi wajahmu tampan dan engkau nampak begitu kuat! Hemm, aku ingin sekali bicara denganmu!" Berkata demikian, gadis itu lalu melangkah da­ri batu ke batu untuk menuju ke tepi di mana Sie Liong berdiri. Gadis itu melangkah dengan agak sukar dan hal i­ni saja membuktikan bahwa ia tidak pandai silat, atau andaikata bisapun kepandaiannya tentu masih rendah sekali.

Ketika dari batu terakhir ia me­lompat ke tanah yang jaraknya hanya satu meter dan agaknya lebih tinggi dari batu itu, ia meloncat dengan kaku dan tak dapat dicegah lagi, kakinya terpe­leset dan iapun jatuh miring di atas tanah.

"Aduhhhh.... aduh, kakiku.... sakit....!" Gadis itu mengeluh dan berusaha untuk bangkit duduk, akan tetapi tidak dapat dan ia mencoba untuk menyentuk kakinya di tumit, juga tidak dapat.

Sie Liong mengerutkan alisnya. Sejak tadi dia waspada. Gadis ini demikian muda dan cantik, dan berada seorang diri saja di tempat yang sunyi dan li­ar ini. Padahal, para penduduk, biar pemburu yang gagah berani sekalipun, tidak berani mendaki Bukit Onta ini. Hal ini saja membuktikan bahwa gadis ini tentu memiliki sesuatu yang membu­at ia berani berada seorang diri di tempat berbahaya ini. Dan tadi, dia menduga bahwa gadis itu agaknya hendak merayunya lewat tubuhnya yang menggairahkan, dan lewat kegenitannya yang mengajak mandi bersama. Ketika rayuan i­tu tidak mendapat tanggapon, gadis ini mungkin saja sengaja membuat dirinya jatuh agar dia mau menolongnya. Dalam keadaan seperti itu, tentu saja dia dapat lengah.

"Aduh, tolong....! Apakah selain sombong, engkau juga begitu kejam se­hingga tidak mau menolong seorang wanita yang terjatuh dan terkilir kakinya? Aduhh....!" Gadis itu kini menjulurkan lengan kirinya ke arah Sie Liong, minta bantuan agar pemuda itu suka me­nolongnya bangkit.

Sie Liong tersenyum, lalu menghampiri dan menggunakan tangan kanan un­tuk memegang tangan kiri yang dijulur­kan itu. Dia kelihatan sama sekali ti­dak menaruh curiga dan seperti orang yang benar hendak membantu gadis itu bangkit duduk. Lunak dan hangat terasa olehnya ketika tangannya bersentuhan dengan telapak tangan yang putih mulus itu. Gadis itu lalu bangkit duduk, bahkan sambil masih berpegang kepada tangan Sie Liong, ia berdiri, agak terhuyung dan di lain saat ia sudah merang­kul leher Sie Liong dan merapatkan pi­pinya di dada Pendekar Bongkok!

Sie Liong mencium bau yang harum keluar dari rambut dan leher gadis i­tu. Jantungnya berdebar dan tubuhnya tergetar karena betapapun juga, darah mudanya bergolak ketika tubuh yang ha­ngat itu merapat pada tubuhnya. Akan tetapi, dia segera teringat bahwa hal itu tidak selayaknya, maka diapun me­langkah mundur merenggangkan diri sam­bil melepaskan tangan gadis itu, juga melepaskan lengan yang merangkul lehernya. Dan pada saat itu, tiba-tiba sekali, dari jarak yang amat dekat, gadis itu menggerakkan tangannya, dengan jari-jari terbuka, tangan itu menotok ke arah perut Sie Liong! Dahsyat bukan main serangan ini dan jari-jari tangan itu sudah terisi tenaga dalam yang amat jahat, karena telapak tangan itu beru­bah menghitam. Gadis itu telah memper­gunakan pukulan maut!

"Huhh....!" Sie Liong dapat mengelak sambil menangkis dari samping.

"Hyaatt....!" Pek Lan, gadis cantik itu, menyusulkan cengkeraman ke arah leher, namun kembali Sie Liong dapat mengelak dengan melangkah mundur dan menangkis lengan yang bergerak ke arah lehernya. Pek Lan merasa penasaran sekali, kakinya bergerak menendang ke arah bawah pusar lawan!

"Hemm, keji sekali....!" Pendekar Bongkok berseru dan tubuhnya mela­yang ke belakang. Tendangan itupun luput!

Sie Liong berdiri dan bertolak pinggang, tersenyum pahit, lalu berka­ta dengan nada suara mengejek. "Bagus sekali, kiranya selain kejam dan mela­kukan kejahatan aneh menculiki gadis-gadis, engkau juga masih pandai melakukan perbuatan curang!"

Pek Lan memandang dengan mata terbelalak. Tak disangkanya bahwa Pende­kar Bongkok sedemiktan lihainya. Bukan hanya tidak dapat dirayunya, juga ti­dak mudah ditipu dengan pura-pura ja­tuh tadi. Dan dia hanya seorang pemuda yang tubuhnya cacat, bongkok dan nampaknya lemah!

"Bagaimana.... kau bisa tahu?" tanyanya, menahan rasa penasaran dan kemarahan saking herannya.

"Engkau seorang gadis muda berada seorang diri di tempat seperti ini membuktikan bahwa engkau tentulah seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian. Pakaianmu demikian mewah, hal ini membuktikan bahwa engkau tentu bukan pendatang dari luar hutan, melainkan mempunyai tempat tinggal di dalam hutan. Dan siluman merah yang bertemu dengan aku semalam seorang wanita yang memiliki ilmu silat tinggi. Ketika engkau gagal menggunakan siasat menjatuhkan kelemahanku sebagai pria, engkau lalu berpura-pura jatuh. Aku sudah curiga dan siap siaga, maka beberapa seranganmu yang masih mentah itu tentu saja dapat kuhindarkan."

"Jahanam sombong, sekarang juga engkau akan mampus di tanganku!" Berteriak demikian, Pek Lan lalu menerjang dengan gerakan cepat, kedua tangannya melakukan serangan bertubi-tubi. Meli­hat betapa kedua telapak tangan gadis itu berubah menghitam, maklumlah Sie Liong bahwa dia menghadapi seorang gadis golongan sesat yang menguasai ilmu sesat pula. Diam-diam dia menyayangkan sekali bahwa seorang gadis muda yang begini cantik ternyata menjadi seorang wanita sesat yang genit, cabul dan ju­ga amat jahat. Maka, diapun cepat me­ngerahkan sin-kangnya dan sambil mengelak atau kadang-kadang menangkis, dia­pun membalas dengan tamparan-tamparan tangan yang amat mantap dan dahsyat.

Setelah mereka saling serang selama belasan jurus, terkejutlah Pek Lan. Bukan saja semua serangannya yang dah­syat itu tak pernah berhasil, bahkan kalau pemuda bongkok itu menangkis, dia merasa betapa lengannya nyeri, tu­langnya serasa retak dan tubuhnya ter­getar hebat! Dan kalau pemuda itu mem­balas, angin pukulannya menyambar se­perti angin badai yang membuat ia semakin gentar saja. Tidak berani ia me­nangkis, tidak berani mengadu tenaga karena ia tahu bahwa tenaga sin-kangnya kalah kuat. Juga penggunaan hawa bera­cun agaknya tidak ada gunanya karena kedua tangan pemuda itu dilindungi se­macam uap putih yang membuat uap hitam dari telapak tangannya membuyar bahkan membalik! Ia tidak tahu bahwa pemuda lawannya itu memiliki ilmu Pek-in Sin-ciang (Tangan Sakti Awan Putih) yang jauh lebih tinggi tingkatnya daripada ilmunya yang disebut Hek-in Tok-ciang (Tangan Beracun Awan Hitam).

Teringatlah Pek Lan akan ilmu si­hir yang diajarkan oleh Thai-yang Suhu kepadanya, maka diam-diam, sambil si­buk mengelak berloncatan untuk menghindarkan hujan tamparan dari Sie Liong, ia berkemak-kemik membaca mantera, pandang matanya bagaikan dua ujung pedang yang disatukan seperti menembus dahi Pendekar Bongkok di antara alisnya, kemudian tiba-tiba ia membentak nyaring.

"Pendekar Bongkok, menyerah dan berlututlah engkau!"

Sie Liong terkejut sekali, ketika merasa betapa ada tenaga luar biasa yang seolah-olah memaksanya untuk me­nyerah dan berlutut. Akan tetapi dia adalah seorang pemuda gemblengan yang sudah menerima banyak petunjuk dari Pek-sim Sian-su, bagaimana menghadapi ilmu-ilmu sihir dari kaum sesat. Dia­pun cepat menahan napas mengerahkan khi-kang dan pengaruh yang memaksanya itu buyar. Akan tetapi dia menahan se­nyum dan pura-pura menjatuhkan diri berlutut seolah-olah dia terpengaruh oleh sihir yang dilakukan gadis itu!

Melihat lawannya benar-benar ber­lutut, Pek Lan girang bukan main akan hasil ilmu sihirnya itu. Ia tahu bahwa lawannya ini amat berbahaya, dan tidak mudah ditundukkan dengan pengaruh ke­cantikan wajah dan keindahan tubuhnya, maka baginya tidak ada gunanya, bahkan membahayakan saja. Maka iapun lalu me­nubruk ke depan dan kedua tangannya, dengan jari-jari membentuk cakar hari­mau, menyambar ke arah ubun-ubun kepa­la Pendekar Bongkok.

"Haiiiittt....!" Pendekar Bongkok tiba-tiba membentak, kedua tangannya mendorong ke depan dan bagaikan sebuah layang-layang yang putus talinya, tu­buh Pek Lan melayang ke belakang lalu terbanting jatuh! Untung bahwa Pende­kar Bongkok tidak bermaksud membunuhnya, maka Pek Lan tidak tewas, bahkan tidak terluka parah, hanya terbanting keras, membuat pinggulnya yang montok itu terasa nyeri bukan main. Ia melon­cat bangun, menggosok-gosok pinggul yang tadi terbanting sambil meringis kesakitan. Akan tetapi, kemarahannya memuncak dan tanpa banyak cakap lagi, iapun sudah mencabut pedangnya dan sambil mengeluarkan lengkingan panjang, ia menyerang Pendekar Bongkok dengan pedangnya.

Kalau saja Sie Liong menghendaki, pukulan dahsyat Pay-san-ciang (Tangan Menolak Gunung) tadi sudah cukup untuk membunuh Pek Lan. Akan tetapi, dia ti­dak bermaksud membunuh orang. Bagaima­napun juga, siluman merah itu belum diketahui apa sebenarnya yang menjadi latar belakang perbuatannya menculik ga­dis-gadis itu. Kini, melihat betapa wanita itu menjadi semakin nekat dan me­nyerangnya dengan pedang, dengan perma­inan pedang yang cukup berbahaya, dia­pun mempergunakan kelincahan gerakan tubuhnya, mengelak sambil berloncatan dan berkali-kali tubuhnya berkelebatan di sekeliling lawannya, membuat gadis itu menjadi bingung dan pening. Ia me­rasa seolah melawan bayangan saja, de­mikian cepatnya gerakan Pendekar Bong­kok.

"Hentikan seranganmu, atau terpaksa aku akan merobohkanmu. Kembalikan semua gadis yang telah kauculik, dan aku akan memaafkanmu!" Pendekar Bong­kok berseru beberapa kali, namun seba­gai jawabannya, Pek Lan menyerang semakin ganas saja.

Sie Liong menjadi marah. Gadis ini terlalu ganas dan berhati kejam, kalau tidak diberi hajaran keras tentu tidak akan mau tunduk. Ketika pedang itu untuk ke sekian kalinya meluncur ke arah dadanya, Pendekar Bongkok me­ngelak dengan miringkan tubuh dan menarik tubuh atas ke belakang, lalu ta­ngannya dengan cepat sekali menotok ke atas pundak kanan Pek Lan.

"Tukkk!" Pek Lan merasa lengannya lumpuh dan pedang itu terlepas dari pegangannya, akan tetapi dengan gerakan memutar, ia menubruk ke arah Pendekar Bongkok dan tanpa malu-malu lagi tangannya yang membentuk cakar itu men­cengkeram ke arah bawah pusar pemuda bongkok itu!

"Ihh....!" Sie Liong meloncat ke belakang dan mukanya berubah merah. Wanita ini sungguh tidak tahu malu sa­ma sekali! Dia melompat ke belakang bukan karena takut melainkan karena malu. Namun baru dia tahu bahwa serangan mencengkeram ke arah bawah pusarnya tadi hanya merupakan gertakan saja karena kini Pek Lan sudah menyambar kembali pedangnya yang tadi terlepas. Serangan itu dipergunakan hanya untuk dapat me­rampas kembali pedang yang sudah lepas dari tangan. Wanita itu kini maklum benar bahwa Pendekar Bongkok sungguh a­mat lihai. Namun, ia masih merasa penasaran, apalagi mengingat bahwa ada teman-temannya yang tentu akan membantu­nya.

Benar saja, ketika ia menerjang lagi, tiba-tiba bermunculan tiga orang Tibet Sam Sinto yang sejak tadi hanya mengintai sambil menonton saja dan ba­ru mereka muncul dan membantu Pek Lan setelah menerima perintah dari Thai-yang Suhu. Tokoh Pek-lian-kauw ini ti­dak segera memberi perintah membantu Pek Lan karena dia ingin memperhatikan gerakan ilmu silat Pendekar Bongkok dan untuk mengujinya sampai di mana kelihaian pemuda bongkok itu. Diam-diam dia terkejut juga menyaksikan kelihai­an Pendekar Bongkok yang membuat Pek Lan tidak berdaya. Setelah gadis itu terdesak hebat dan terancam bahaya, barulah dia memberi isarat kepada Tibet Sam Sinto untuk maju membantu.


Melihat munculnya tiga orang laki-laki tinggi besar yang masing-masing memegang sebatang golok melengkung dan gerakan mereka aneh, Sie Liong dapat menduga bahwa mereka tentulah jagoan-jagoan dari Tibet. Hal ini dapat diketahuinya dari gaya gerakan tubuh mereka. Dia sudah banyak mendengar dari para gurunya, yaitu Himalaya Saw Lojin dan juga Pek-sim Sian-su tentang ilmu silat Tibet yang bercampur dengan gaya silat gulat, semacam ilmu silat yang mengandalkan cengkeraman, tangkapan, dan bantingan.

Akan tetapi, perhatian Sie Liong bukan sepenuhnya kepada tiga orang ini. Dia menduga bahwa tentu masih ada musuh lain yang bersembunyi seperti tiga orang tinggi besar tadi yang bersembunyi di balik semak-semak. Dia tadi tidak mendengar kedatangan mereka, hal itu hanya berarti bahwa sejak tadi mereka memang berada di situ, bersembunyi. Dia telah terjebak! Semua siasat yang dilakukan wanita cantik itu merupakan siasat mereka. Mungkin sejak dia mendaki Bukit Onta, gerak-geriknya tentu telah diikuti pihak musuh. Ketika mendengar bunyi berkeresek di atas pohon besar, tiba-tiba Sie Liong mengeluarkan lengkingan panjang dan sebelum Pek Lan dan Tibet Sam Sinto sempat menyerangnya, tubuhnya sudah melayang naik ke arah pohon di mana dia tadi mendengar daun berkeresekan.

Melihat bayangan manusia di dalam pohon itu, Sie Liong meloncat sambil menyerang dengan dorongan telapak ta­ngannya. Orang itu ternyata seorang kakek tinggi besar pula yang berkepala gundul dan berpakaian pendeta. Melihat Sie Liong meloncat ke atas pohon dan menyerangnya, kakek itu yang bukan la­in adalah Thai-yang Suhu, menjadi terkejut dan cepat menangkis.

"Dukk!" Keduanya terdorong keras dan terpaksa keduanya melompat turun dari atas dahan pohon. Ketika tubuhnya terdorong dan terpaksa meloncat turun, tangannya menyambar sebatang ranting sebesar lengannya dan ranting itu pa­tah dan terbawa turun. Lega rasa hati Sie Liong setelah dia memperoleh senjata itu, sebatang ranting yang panjang­nya satu setengah meter, cukup kuat dan lentur. Di lain pihak, Thai-yang Suhu terkejut setengah mati. Tadi ketika dia menangkis, ia mengerahkan seluruh tenaga sin-kangnya. Biarpun pemuda bongkok itu terpaksa meloncat turun, dia sendiripun harus meloncat turun karena tubuhnya terpental dan seluruh lengan­nya yang menangkis tadi terasa dingin sekali! Dia tidak tahu bahwa pemuda i­tu tadi mengerahkan ilmu Swat-liong-ciang (Ikmu Silat Naga Salju) yang membuat kedua lengannya dipenuhi sin-kang yang dingin sekali.

Kini Sie Liong berdiri di tengah, dikepung oleh lima orang itu. Melihat keadaan kakek pendeta itu, Sie Liong segera mengenal gambar teratai putih, dia tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang tokoh Pek-lian-kauw, dan me­ngertilah dia kini mengapa gadis can­tik itu menculiki gadis-gadis dusun yang cantik. Dia sudah sering mende­ngar tentang sepak terjang aliran aga­ma sesat Pek-lian-kauw yang bersembu­nyi di balik kedok perjuangan membela rakyat! Sebuah perkumpulan di mana o­rang-orangnya mempelajari ilmu silat dan ilmu sihir, dan di mana seringkali terjadi kecabulan karena orang-orang Pek-lian-kauw merupakan hamba nafsu, terutama sekali nufsu berahi. Dia se­ring kali mendengar bahwa Pek-lian-kauw mempunyai banyak murid atau anak buah wanita-wanita muda yang cantik. Tentu perawan-perawan dusun itu akan dijadikan anak buah, bukan saja membantu kekuatan Pek-lian-kauw, akan tetapi mereka dijadikan tenaga hiburan bagi para pimpinan Pek-lian-kauw!

"Hemm, kiranya Pek-lian-kauw yang berdiri di belakang penculikan para gadis itu!" kata Sie Liong sambil berdi­ri tegak dengan kedua kaki terpentang, tongkat ranting pohon itu berada di tangannya dan berdiri di depannya, de­ngan daun-daun yang masih memenuhi ranting kecil yang mencuat ke kanan kiri.

Thai-yang Suhu yang kini tidak berani memandang rendah lawannya, segera melangkah maju, sepasang pedang sudah dicabutnya dari balik jubah. Dia menu­dingkan pedang kiri ke arah muka Sie Liong dan terdengar suaranya yang ber­wibawa.

"Orang muda, siapakah engkau se­sungguhnya? Selamanya belum pernah ka­mi mendengar tentang seorang yang disebut Pendekar Bongkok, dan mengapa pula memusuhi kami dan menghalangi pekerja­an kami! Bicaralah, orang muda. Pin­ceng adalah Thai-yang Suhu, mereka ini adalah Tibet Sam Sinto, dan nona itu adalah nona Pek Lan, murid terkasih da­ri Hek-in Kui-bo. Nah, engkau lihat, engkau berhadapan dengan lima orang yang memiliki nama besar di dunia kang-ouw, oleh karena itu, sungguh tidak bijaksana bagimu kalau engkau memusuhi kami. Bukankah lebih baik kalau kita bekerja sama?"

Mendengar ucapan itu, Sie Liong mengerutkan alisnya dan sepasang mata­nya mencorong penuh kemarahan. Tokoh sesat ini menawarkan kerja sama dengan dia, berarti mengajak dia menjadi seorang penjahat!

"Thai-yang Suhu, engkau seorang yang berpakaian pendeta, akan tetapi ternyata kependetaanmu itu hanya kedok saja, seperti srigala berkedok domba. Aku bernama Sie Liong, tentang nama julukan itu, terserah yang menyebutku. Memang aku tidak mempunyai permusuhan dengan kalian, akan tetapi aku adalah musuh besar dari semua perbuatan jahat! Kalian telah menculik sembilan orang gadis-gadis dusun. Nah, kalau kalian tidak menghendaki pertentangan dengan aku, kalau menghendaki kerjasama, bebaskanlah sembilan orang gadis itu, dan akupun tidak akan mengganggu kalian lagi, kecuali kalau lain kali aku melihat kalian melakukan kejahatan lagi!"

"Bocah bongkok keparat sombong! Toasuhu, kenapa banyak bicara dengan bocah sombong ini? Biar kami habiskan dia!" bentak seorang di antara Tibet Sam Sinto dan mereka bertiga sudah ma­rah sekali, sudah siap dengan golok mereka.

Akan tetapi Thai-yang Suhu membe­ri isarat agar para pembantunya itu jangan bergerak dulu. Lalu dia merogoh sesuatu dari dalam saku jubahnya, me­lontarkan benda sebesar kepalan tangan ke atas, ke arah Pendekar Bongkok sam­bil membentak lebih dulu dengan suara parau.

"Orang she Sie, lihat apakah engkau mampu menandingi seekor naga berapi!"

Sungguh hebat! Benda yang dilon­tarkan tadi seketika berubah menjadi asap hitam dan dari dalam asap hitam itu muncullah seekor naga menyemburkan api, bahkan tubuhnya juga bernyala. Naga itu terbang ke atas lalu dari atas menyambar turun ke arah tubuh Sie Liong!

Namun, Pendekar Bongkok ini yang tadinya juga terkejut, cepat menahan napas den mengerahkan tenaga khi-kang, lalu mengangkat tangan kirinya ke atas. "Kekuasaan iblis takkan pernah mampu mengalahkan kekuasaan Tuhan lewat manusia!" Dan tangan kirinya itupun dengan pengerahan sin-kang Pek-in Sin-ciang yang membuat tangan kiri mengeluarkan uap putih, mendorong ke arah naga api. Terdengar suara keras dan naga itupun lenyap, dan nampak benda sekepal tadi runtuh ke depan kaki Thai-yang Suhu. Ternyata benda itu adalah sebuah teng­korak manusia yang amat kecil, seperti tengkorak bayi saja!

Thai-yang Suhu terbelalak, menyam­bar benda itu dan mengantunginya lagi, akan tetapi pada saat dia mengambil benda itu, tengkorak kecil itu hancur berkeping-keping. Ternyata benda yang tadi berubah menjadi naga itu tidak kuat menahan pukulan jarak jauh Pendekar Bongkok dan sudah retak-retak maka ke­tika dipungut oleh pemiliknya, hancur berantakan.

Thai-yang Suhu mengeluarkan teriakan marah dan diapun menggerakkan sepa­sang pedangnya, menyerang ke arah Pen­dekar Bongkok. Pada saat itu, Pek Lan juga menggerakkan pedangnya, berbareng dengan Tibet Sam Sinto yang sudah pula menggerakkan golok mereka.

Sie Liong mengeluarkan teriakan melengking dan menggerakkan ranting di tangannya. Sekali memutar ranting itu, nampak banyak sekali sinar hijau beterbangan menyerang ke arah lima orang pengeroyoknya! Lima orang itu yang sudah siap menyerang, bahkan sudah menggerakkan senjata, terkejut ketika tiba-tiba melihat sinar-sinar hijau menyambar ke arah mereka. Cepat mereka menggerakkan senjata yang diputar di depan tubuh untuk menangkis karena mereka mengira bahwa Pendekar Bongkok mempergunakan senjata rahasia. Ketika sinar-sinar hijau itu runtuh, ternyata "senjata rahasia" itu adalah daun-daun yang tadi menempel pada ranting. Kini di tangan Pendekar Bongkok hanya tinggal seba­tang tongkat. Melihat betapa pemuda bongkok itu dapat mempergunakan daun-daun sebagai senjata rahasia yang mereka rasakan amat kuat dan berbahaya, lima orang itu terkejut dan makin maklum bahwa Pendekar Bongkok ini, biar masih muda dan cacat tubuhnya, ternyata benar-benar memiliki kesaktian. Maka, tanpa banyak cakap lagi merekapun segera mengepung dan mengeroyok!

Menghadapi pengeroyokan lima o­rang yang semua memiliki kepandaian tinggi, Sie Liong lalu memutar tongkatnya dan dia sudah memainkan Thian-te Sin-tung (Tongkat Sakti Langit Bumi). Ilmu ini adalah ilmu tongkat yang dipelajari dari Pek-sim Sian-su. Suatu ilmu yang dahsyat bukan main. Ketika senjata yang hanya merupakan sebatang ranting yang menjadi tongkat itu diputar oleh Sie Liong, maka anginpun menyambar-nyambar dahsyat bagaikan badai, dan nampak gulungan sinar hijau yang amat panjang. Dari gulungan sinar hijau itu mencuat ujung-ujung tongkat yang bagaikan kilat cepatnya menyambar-nyambar ke arah lima orang pengeroyoknya.

Sekarang tahulah Thai-yang Suhu mengapa Pek Lan kewalahan menghadapi pemuda bongkok ini. Kiranya Pendekar Bongkok ini memang memiliki kepandaian yang amat hebat! Biarpun dia sendiri maju dibantu Pek Lan dan tiga orang Tibet Sam Sinto, tetap saja mereka berlima sama sekali tidak mampu mendesak, bahkan mereka yang kewalahan menghadapi tongkat sederhana yang dimainkan secara luar biasa itu. Tongkat di tangan Pendekar Bongkok itu selain luar biasa cepatnya, juga mengandung tenaga kasar dan halus secara bergantian, dan seti­ap gerakan ujung tongkat itu mengeluarkan suara bersiutan di antara angin yang kuat sekali.

Thai-yang suhu adalah seorang to­koh Pek-lian-kauw yang kedudukannya sudah tinggi. Dia memiliki ilmu pedang yang amat lihai di samping ilmu sihir­nya, dan selama ini, belum pernah ada yang mampu menandingi ilmu sepasang pedangnya. Kini, karena mengeroyok, ten­tu saja dia tidak dapat memainkan sepasang pedangnya dengan leluasa. Maka, diapun membentak agar para pembantunya minggir.

"Minggir semua, biar pinceng sendiri menghadapi Pendekar Bongkok!" bentaknya. Mendengar ini, Pek Lan den Ti­bet Sam Sinto berloncatan keluar dari gelanggang pertempuran sehingga pende­ta gundul tinggi besar itu kini berha­dapan sendirian saja dengan Sie Liong. Sie Liong juga menghentikan gerakan tongkatnya dan berdiri menghadapi pendeta itu sambil memandang tajam.

"Thai-yang Suhu, sudah kukatakan bahwa aku tidak ingin bermusuhan de­ngan siapapun juga. Yang kutentang adalah perbuatan jahat, bukan orangnya. Oleh karena itu, kalau kalian membebas­kan gadis-gadis yang telah kalian ta­wan dan mereka dalam keadaan selamat dan tidak terganggu, maka akupun akan menyuruh mereka pulang ke rumah masing-masing dan tidak akan memusuhi kalian, asal saja kalian tidak mengulang perbuatan jahat itu."

"Pendekar Bongkok, kaukira pinceng takut padamu? Pinceng sengaja menyuruh kawan-kawan pinceng minggir agar pinceng dapat menghadapimu dengan leluasa. Akan tetapi, katakanlah dulu siapa guru-gurumu agar pinceng tahu siapa yang pinceng lawan!"

"Hemm, Thai-yang Suhu, ketahuilah bahwa guru-guruku adalah Hinalaya Sam Lojin dan Pek-sim Sian-su," jawab Sie Liong sejujurnya.

"Wah! Kiranya murid para tosu pe­larian dari Himalaya!" seorang di antara Tibet Sam Sinto berseru. Sebagai tokoh-tokoh Tibet, tentu saja mereka mendengar akan hal itu.

Juga Thai-yang Suhu sudah pernah mendengar nama-nama yang disebutkan Pendekar Bongkok. Nama Himalaya Sam Lojin tidak mengejutkan hatinya karena kepandaian tiga orang kakek dari Hima­laya itu tidak lebih dari tingkatnya sendiri. Akan tetapi disebutnya Pek-sim Sian-su membuat dia terkejut. Pantas saja pemuda bongkok ini tidak saja lihai ilmu silatnya, akan tetapi juga mampu menangkis ilmu sihirnya, bahkan telah menghancurkan jimatnya, yaitu tengkorak kecil tadi. Betapapun juga, Thai-yang Suhu yang terlalu mengandalkan kepandaian dan kekuatan sendiri, tidak merasa jerih.

"Bagus, sekarang bersiaplah eng­kau untuk mampus!" Berkata demikian, tokoh Pek-lian-kauw itu menodongkan pedang di tangan kirinya ke arah Sie Li­ong. Pendekar Bongkok bersikap waspada karena dia sudah mendengar akan kecu­rangan para tokoh Pek-lian-kauw. Begi­tu dari gagang pedang itu menyambar sinar-sinar hitam yang lembut, dia sudah cepat memutar tongkatnya dan semua ja­rum hitam yang meluncur keluar dari gagang pedang itu runtuh.

"Pendeta palsu yang licik dan cu­rang!" bentak Sie Liong dan diapun membalas dengan serangan tongkatnya yang menyambar dengan dahsyatnya dari kanan ke kiri, mengarah pinggang lawan. Thai-yang Suhu meloncat ke belakang, pedang kanan menyambar dari atas ke arah kepala Sie Liong sedangkan pedang kiri me­nangkis ujung tongkat. Sie Liong mengelak dan memutar tongkat, membalas de­ngan serangan yang tak kalah dahsyat­nya. Terjadilah perkelahian yang amat seru dan mati-matian. Sepasang pedang yang dimainkan oleh Thai-yang Suhu berubah menjadi dua gulungan sinar putih yang menyilaukan mata. Akan tetapi dua gulungan sinar itu seringkali goyah dan patah oleh sinar tongkat yang kehijauan, yang bergulung panjang seperti seekor naga hijau yang bermain di ang­kasa. Ilmu tongkat Thian-te sin-tung yang dimainkan Pendekar Bongkok merupakan ilmu tingkat tinggi dan tak dapat dilawan oleh ilmu pedang pasangan yang dimainkan pendeta Pek-lian-kauw itu. Pula, pendeta itu kalah cepat gerakannya dibandingkan Sie Liong, bahkan dalam hal tenaga sin-kang, pendeta itu juga kalah kuat. Kelebihan Thai-yang Suhu hanyalah dalam pengalaman bertanding sa­ja, dan di samping itu, Sie Liong ber­sikap hati-hati sekali, karena dia ta­hu bahwa lengah sedikit saja dia dapat celaka di tangan lawan yang licik dan curang ini. Kehati-hatian inilah yang membuat Sie Liong tidak berani terlalu mendesak dan hal ini membuat lawannya mampu mengadakan perlawanan yang cukup seru dan perkelahian itu nampaknya seru dan ramai.

Betapapun juga, Pek Lan dan Tibet Sam Sinto yang sudah memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi, mampu mengikuti jalannya pertandingan dan mereka tahu bahwa kalau tidak dibantu, akan sukar sekali bagi Thai-yang Suhu untuk dapat mengalahkan Pendekar Bongkok. Oleh karena itu Pek Lan memberi isyarat kepada tiga orang jagoan Tibet itu dan mereka berempat lalu berloncatan memasuki gelangang perkelahian dan mengeroyok lagi. Sekali ini, Thai-yang Suhu diam saja karena diapun mengerti bahwa kalau dia nekat melawan sendiri, jelas bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan Pendekar Bongkok.

Di lain pihak, Sie Liong sama sekali tidak merasa gentar menghadapi pengeroyokan lima orang itu. Bahkan dia dapat mainkan tongkatnya lebih leluasa lagi. Dia tahu bahwa di antara para pengeroyoknya, yang amat lihai adalah Thai-yang Suhu dan Pek Lan. Akan tetapi karena di situ terdapat tiga orang Tibet Sam Sinto, maka permainan kedua orang lawan lihai ini bahkan menjadi terhalang dan mereka berdua itu tidak dapat menyerang sepenuhnya, terhalang oleh gerakan tiga orang jagoan Tibet itu. Hal ini membuat Sie Liong semakin hebat gerakannya dan diapun tidak takut lagi bahwa dua orang lawan yang curang itu akan dapat mempergunakan senjata rahasia, mengingat bahwa di situ terdapat pula Tibet Sam Sinto yang ikut mengeroyok sehingga kalau ada yang mempergunakan senjata rahasia, hal itu dapat membahayakan kawan sendiri. Hal ini, sama sekali tak disangkanya, memang benar telah terjadi. Ketika itu, dia merasakan betapa yang sungguh berbahaya di antara serangan lima orang itu adalah serangan Pek Lan, wanita cantik yang pernah dilawannya sebagai siluman merah itu. Pedang wanita itu menyambar-nyambar ganas, dibantu pula oleh dorongan tangan kirinya yang melakukan pukulan atau tamparan Hek-in Tok-ciang, dan dari telapak tangan kirinya itu keluar uap hitam. Karena itu, dia berpikir untuk lebih dulu melumpuhkan perlawanan wanita ini. Dia memutar tongkatnya secara aneh dan segera me­ngerahkan daya serangan tongkatnya ke­pada Pek Lan.

"Trang....! Trangggg....!" Bunga api berpijar ketika dua kali pe­dang di tangan Pek Lan bertemu dengan ujung tongkat yang mendesaknya.

"Ihhh....!" Pek Lan mengeluarkan seruan kaget dan marah karena tenaga yang keluar dari tongkat itu sedemikian kuatnya sehingga ia terdorong ke belakang dan tangan yang memegang pe­dang tergetar hebat, hampir saja pe­dangnya terlepas dari pegangan. Untung bahwa Thai-yang Suhu segera menghujani Pendekar Bongkok dengan serangan se­hingga dalam keadaan terhuyung itu Pek Lan tidak didesak terus. Hal ini membuat Pek Lan marah sekali dan tiba-tiba ia mengeluarkan suara melengking nya­ring dan ketika tangan kirinya bergerak, belasan jarum-jarum hitam beracun telah menyambar ke arah tubuh Pendekar Bongkok! Jarum-jarum itu dilepas dari jarak dekat, juga disambitkan dengan pengerahan tenaga sekuatnya karena Pek Lan sedang marah, maka tentu saja a­mat berbahaya bagi Pendekar Bongkok! Akan tetapi, dia memang selalu waspada dan melihat sinar lembut yang banyak itu, diapun maklum bahwa Pek Lan mempergunakan senjata rahasia. Maka dia ce­pat memutar tongkatnya sehingga tong­kat itu membentuk bayangan seperti pa­yung yang melindungi tubuhnya. Ketika jarum-jarum itu bertemu dengan sinar tongkat, runtuhlah jarum-jarum itu, a­kan tetapi ada beberapa batang yang terpental ke kanan kiri. Terdengar teriakan-terjakan mengaduh dan dua orang di antara tiga Tibet Sam Sinto roboh!

Tentu saja hal ini amat mengejut­kan para pengeroyok. Kiranya, di anta­ra jarum hitam beracun yang terpental, ada beberapa batang yang mengenai dua orang itu! Racun yang dikandung jarum-jarum itu memang jahat sekali. Dua orang itu sudah berkelojotan sekarat! Tentu saja Pek Lan tidak mungkin dapat melakukan pemeriksaan untuk memberi pengobatannya, bahkan iapun sama seka­li tidak memusingkan keadaan dua orang rekan ini karena hal itu bahkan membu­at ia menjadi semakin marah kepada Pendekar Bongkok dan kini ia menyerang lagi mati-matian dengan pedangnya.

Namun, mengeroyok lima saja tidak dapat mendesak Pendekar Bongkok apa lagi kini berkurang dua. Tongkat di tangan Pendekar Bongkok menjadi semakin dahsyat gerakannya dan ketika seorang di antara Tibet Sam Sinto yang masih hidup dan merasa berduka dan marah ka­rena kematian dua orang saudaranya itu menyerangkan golok di tangannya dengan sekuat tenaga, Pendekar Bongkok sengaja memapaki golok itu dengan tongkat­nya sambil mengerahkan tenaganya.

"Trakkk....!" Golok itu patah dan terlepas, dan sebuah tendangan ka­ki Pendekar Bongkok masih sempat die­lakkan oleh orang itu, namun sambaran ujung tongkat tidak dapat dia hindarkan.

"Bukkk!" Orang itu terjungkal dan pingsan karena punggungnya terkena ge­bukan tongkat dari samping.

Kini Pek Lan dan Thai-yang Suhu terkejut bukan main, juga mulai merasa jerih. Pada saat itu terdengarlah sorak sorai gemuruh. Ketika tiga orang yang sedang berkelahi itu mendengar suara ini, mereka semua berloncatan ke belakang dan memandang ke arah bawah. Dan nampaklah puluhan orang, bahkan ada kurang lebih seratus orang penduduk yang memegang segala macam senjata, berlarian mendaki Bukit Onta dengan sikap mengancam! Melihat ini, tentu saja Pendekar Bongkok menjadi girang. Dia telah berhasil membangkitkan semangat para penduduk itu yang kini agaknya berbondong-bondong naik ke bukit itu untuk mencari siluman! Sebaliknya, Thai-yang Suhu dan Pek Lan makin geli­sah.

"Pek Lan, mari kita pergi!" kata Thai-yang Suhu. Tanpa diperintah dua kali, Pek Lan meloncat bersama Thai-yang Suhu.

"Hemm, kalian hendak lari ke mana?" Pendekar Bangkok membentak dan diapun meloncat untuk melakukan pengejaran. Akan tetapi, tiba-tiba Thai-yang Suhu melontarkan sesuatu ke atas tanah dan terdengar ledakan keras disusul mengepulnya asap hitam yang tebal. Khawatir kalau-kalau asap itu beracun, tentu saja Sie Liong menjauhkan diri, bermaksud mengejar dengan mengambil jalan memutar. Akan tetapi setelah dia tiba di belakang asap hitam, dua orang itu telah lenyap tanpa meninggalkan bekas.

Dia lalu kembali ke tempat tadi, melihat betapa orang ke tiga dari Tibet Sam Sinto sudah siuman dan kini bangkit sambil mengeluh. Melihat Pendekar Bangkok datang kembali, dia terkejut, meloncat akan tetapi roboh lagi sambil mengerang kesakitan. Wajahnya nampak ketakutan dan orang tinggi besar itu segera menjatuhkan diri, berlutut menghadap Pendekar Bongkok.

"Taihiap (pendekar besar), ampunilah aku...."

Wajahnya nampak ketakutan dan orang tinggi besar itu segera menjatuhkan diri berlutut menghadap Pendekar Bangkok.

Pendekar Bongkok adalah orang yang berhati lembut. Dia tidak pernah mem­benci orang, betapapun jahatnya orang itu. Yang ditentangnya adalah perbuat­an jahat, bukan orangnya. Dia tahu, dari gemblengan yang didapatnya dari Pek-sim Sian-su, bahwa orang yang melaku­kan perbuatan jahat adalah orang yang sedang sakit batinnya. Yang mendorong­nya melakukan perbuatan jahat adalah batinnya yang sakit itu. Kalau batin­nya sembuh tentu dia tidak akan melakukan perbuatan jahat. Maka, melihat be­tapa seorang di antara Tibet Sam Sinto itu minta ampun, dia mengangguk.

"Siapa namamu?"

"Namaku Coa Kiu, taihiap. Mereka ini adalah kakakku dan adikku, dan i­jinkanlah aku membawa mayat mereka a­gar dapat kukuburkan dengan pantas."

"Nanti dulu, aku ingin bertanya. Di mana adanya gadis-gadis yang dicu­lik itu dan mengapa mereka diculik?"

"Itu adalah kehendak Thai-yang Suhu yang sedang mengumpulkan lima belas orang gadis untuk dijadikan pelayan di Pek-lian-kauw. Kami hanya membantunya. Gadis-gadis itu dalam keadaan selamat, berada di rumah itu. Mereka tidak di­ganggu karena memang hendak diangkut dan diserahkan kepada ketua Pek-lian-kauw."

Pendekar Bongkok mengangguk, hatinya merasa lega. Orang ini jelas tidak berani berbohong. "Satu pertanyaan la­gi. Engkau memakai julukan Tibet Sam Sinto, tentu merupakan tokoh Tibet. A­ku ingin sekali tahu tentang mereka yang disebut Tibet Ngo-houw (Lima Harimau Tibet), yaitu lima orang pendeta Lama dari Tibet. Di manakah mereka se­karang dan apa kedudukan mereka?"

Mendengar disebutnya Lima Harimau Tibet, Coa Kiu terkejut dan kelihatan ketakutan. "Tidak, taihiap.... aku tidak mempunyai hubungan dengan mere­ka. Sama sekali tidak mempunyai hubungan....!"

Pendekar Bongkok mengerutkan alisnya. Sikap itu sungguh menarik sekali. "Aku tidak menuduhmu memiliki hubung­an, hanya ingin mendapat keterangan darimu tentang diri mereka."

Barulah Coa Kiu kelihatan lega. "Mereka adalah tokoh-tokoh paling ditakuti di Tibet, dan kini mereka menjadi pendukung-pendukung utama dari Kim Sim Lama, pendeta tingkat tinggi yang mem­berontak karena hendak merampas kedu­dukan Dalai Lama."

"Pemberontak? Ah, di mana kini mereka itu?"

"Di sekitar telaga Yam-so di sebelah selatan Lasha. Lima Harimau Tibet menjadi pendukung dan bahkan lima o­rang tokoh itulah yang sebenarnya men­jadi pelopor karena tanpa adanya mere­ka, tentu Kim Sim Lama tidak mampu berbuat sesuatu."

Pendekar Bongkok mengangguk-ang­guk. Pada saat itu, para penduduk du­sun sudah semakin dekat dan Coa Kiu nampak gelisah. Maka dia lalu menyuruh orang itu membawa jenazah dua orang saudaranya dan melarikan diri ke jurusan lain. Coa Kiu mengucapkan terima kasih dan memanggul jenazah kakaknya dan a­diknya, pergi dari situ sambil terhuyung.

Pendekar Bongkok tidak menanti datangnya orang-orang dusun, melainkan cepat dia lari ke arah rumah yang menjadi tempat tinggal Thai-yang Suhu dan teman-temannya.

Sembilan orang gadis yang berada dalam ruangan di rumah itu, terkejut ketika daun pintu dirobohkan orang da­ri luar. Mereka bergerombol saling peluk dengan ketakutan, semua mata memandang ke arah pemuda bongkok yang berdiri di ambang pintu.

"Ampunkan kami.... jangan.... jangan ganggu kami....!" kata seorang di antara mereka. Melihat betapa semua gadis yang berada di ruangan itu masih amat muda dan cantik-cantik, ki­ni wajah yang manis-manis itu nampak pucat, mata mereka terbelalak seperti sekelompok kelinci yang ketakutan melihat seekor harimau, Pendekar Bongkok tersenyum pahit, teringat akan bongkoknya dan dia maklum bahwa tentu mereka mengira bahwa dia seorang jahat!

"Tenanglah, nona-nona. Aku tidak berniat jahat. Aku datang untuk membe­baskan kalian. Para penjahat itu telah kuusir pergi dan keluarga kalian kini sedang menuju ke sini."

Namun, para gadis remaja itu masih belum percaya dan mereka masih memandang kepada pemuda berpunuk itu de­ngan curiga. Pada saat itu, orang-orang dusun sudah tiba di situ. Mereka me­nyerbu ke dalam rumah dan dipimpin o­leh Gumo Cali, mereka tiba di ruangan yang daun pintunya audah dijebol Sie Liong dan mereka melihat Sie Liong masih berdiri di ambang pintu dan para gadis itu memandang ketakutan.

"Ayah....!" teriakan ini bukan hanya keluar dari mulut dua orang ga­dis puteri Gumo Cali, akan tetapi juga dari para gadis lain. Ternyata para a­yah gadis-gadis yang diculik itu ikut pula dalam rombongan para penyerbu. Terjadilah pertemuan yang mengharukan dan para gadis itu dihujani pertanyaan oleh ayah mereka. Diam-diam Pendekar Bongkok merasa lega dan gembira mende­ngar keterangan mereka bahwa benar seperti yang diceritakan Coa Kiu, mereka itu sama sekali tidak diganggu, bah­kan diperlakukan dengan baik.

"Semua ini karena jasa Pendekar Bongkok! Taihiap, terimalah terima kasih kami!" Gumo Cali menjatuhkan diri berlutut menghadap Pendekar Bongkok, diturut oleh semua orang. Para gadis yang tadinya merasa ketakutan itu kini baru sadar bahwa pemuda bongkok itu memang benar menjadi penolong mereka. Maka merekapun ikut berlutut di samping ayah masing-masing.

Seorang diantara para gadis itu, menjatuhkan diri berlutut paling dekat di depan Pendekar Bongkok dan ia menangis sesenggukan. Tadipun Sie Liong melihat bahwa berbeda dengan para gadis lain, tidak ada seorangpun yang meme­luk gadis ini. Tadinya dia mengira bahwa tentu ayah gadis yang satu ini ti­dak ikut. Ia seorang gadis yang bertu­buh sedang, berkulit agak gelap namun wajahnya manis sekali, dengan mata yang lebar dan bening. Pakaiannya sederha­na, bahkan ia tidak memakai perhiasan seperti para gadis lainnya. Usianya kurang lebih delapan belas tahun dan tu­buhnya sudah mulai padat ramping, bagaikan setangkai bunga yang mulai mekar.

"Nona, engkau kenapakah?" tanya Sie Liong, dan kepada semua orang dia berkata, "Harap kalian suka berdiri, tidak perlu memberi hormat berlebihan seperti itu!"

Gumo Cali bangkit dan yang lain ikut berdiri. Gadis itu masih tetap berlutut di depan Sie Liong. Dia segera meayentuh pundaknya dengan lembut. "Nona, bangkitlah, tidak perlu berlutut dan mengapa engkau menangis? Bukankah seharuanya engkau bergembira karena sudah terbebas dari cengkeraman penja­hat?" Lalu dia merasa curiga kalau-ka­lau gadis ini mengalami nasib yang buruk di tangan para penjahat. "Nona, a­pakah para penjahat itu mengganggumu?"

Gadis itu menggeleng kepalanya, akan tetapi masih terisak. Akhirnya, dengan suara bercampur tangis, ia berkata, "Aku.... aku tidak mau pulang.... ke rumah mereka...."

"Kenapa, nona? Di mana rumahmu?" tanya Sie Liong. Seorang di antara para penduduk dusun itu, seorang laki-laki setengah tua, lalu mendekat dan berkata, "Ling Ling, kenapa engkau tidak mau pulang?" Gadis itu tidak menjawab, hanya menggeleng kepala sambil menangis.

"Siapakah nona ini, paman, dan di mana rumahnya?" tanya Sie Liong. Orang itu lalu memberi keterangan bahwa ga­dis itu bernama Sam Ling, biasa dipanggil Ling Ling. Ia seorang gadis yatim piatu. Ketika ia berusia sepuluh ta­hun, ayah dan ibunya meninggal dunia karena wabah, dan ia lalu dipungut a­nak oleh keluarga di dusunnya. Dijadi­kan anak angkat dan bekerja seperti pelayan.

"Sepanjang pengetahuan kami, keluarga yang memungutnya itu bersikap ba­ik kepadanya. Mereka tidak mempunyai anak, maka mau mengambil Ling Ling menjadi anak mereka. Ling Ling, katakan­lah, kenapa engkau tidak mau pulang! Ayah dan ibu angkatmu tentu mengharap­kan kedatanganmu!" kata orang itu.

Gadis itu mengangkat mukanya yang basah air mata, memandang kepada orang itu dan menggeleng kepala keras-keras sambil berkata, "Tidak...., tidak.... aku tidak mau pulang ke sana.... Lebih baik aku mati saja dari pada harus kembali lagi ke sana....!" Dan iapun menangis lagi.

Sie Liong mengerutkan alisnya. Dia menduga bahwa tentu ada alasan kuat sekali mengapa gadis ini tidak mau pu­lang ke rumah ayah dan ibu angkatnya.

"Marilah, nona. Kita bicara di luar," katanya, lalu dia berkata kepada semua orang. "Kalau kalian setuju, ru­mah ini sebaiknya dibakar saja agar jangan menjadi sarang penjahat lainnya! Dan semua orang boleh pulang, akan te­tapi kerukunan seperti sekarang ini harus dipelihara terus. Kalau kalian da­pat bersatu seperti ini, tidak akan a­da penjahat yang berani mengganggu kalian." Berkata demikian, Sie Liong lalu mengajak gadis bernama Sam Ling atau Ling Ling itu untuk keluar.

Dia mengajak gadis itu agak men­jauhi rumah, lalu duduk di atas batu besar. "Nah, Ling Ling, duduklah kau dan ceritakan mengapa engkau memilih mati daripada pulang ke rumah orang tua angkatmu."

Setelah mereka berada di tempat sepi, berdua saja, tiba-tiba gadis itu kembali mpnjatuhkan diri berlutut.

"Taihiap, engkau telah menyelamatkan aku dan teman-teman, harap taihiap jangan kepalang tanggung untuk menolong aku. Berjanjilah bahwa taihiap akan suka menolongku, dan aku akan menceritakan keadaanku."

"Baiklah, dan duduklah agar engkau dapat bicara dengan enak. Ceritakan apa yang terjadi. Tentu saja aku suka membantumu kalau memang engkau perlu dibantu."

"Sejak berusia sepuluh tahun, a­yah ibuku meninggal dunia karena penyakit." Ling Ling mulai bercerita sambil duduk di atas batu, di depan Sie Li­ong. Suaranya lirih dan memelas, dan matanya yang lebar itu kini agak keme­rahan dan masih basah walaupun ia su­dah tidak menangis lagi. "Aku diangkat anak oleh ayah ibu angkatku yang sekarang karena mereka tidak mempunyai anak. Kini mereka berusia kurang lebih empat puluh tahun. Dahulu memang sikap mereka itu baik sekali walaupun aku tidak menguntungkan mereka karena aku seorang anak perempuan. Akupun bekerja keras di rumah mereka, seperti seorang budak untuk membalas budi kebaikan ha­ti mereka. Akan tetapi akhir-akhir ini...." Ling Ling menutupi mukanya, merasa sedih dan berat hatinya untuk menceritakan peristiwa yang membu­atnya merasa sengsara itu.

Sie Liong membiarkan gadis itu dan setelah kelihatan ajak tenang, dia berkata, "Bagaimana lanjutannya? Aku baru akan dapat menolongau kalau aku mengetahui persoalannya."

Gadis itu menatap wajah Sie Liong dengan sepasang mata yang penuh permohonan, sepasang mata yang tentu akan nampak indah kalau tidak tertutup awan kedukaan. "Taihiap, aku akan kelihat­an sebagai orang yang tidak mengenal budi kalau sekarang aku seolah menceritakan keburukan orang tua angkatku. A­kan tetapi, kepadamu aku harus berte­rus terang dan harap taihiap mengerti bahwa bukan maksudku untuk memburukkan mereka. Aku masih berterima kasih kepada mereka. Begini taihiap. Akhir-akhir ini, semenjak beberapa bulan yang lalu ini, ayah angkatku berusaha untuk.... untuk menodaiku...."

Sie Liong mengerutkan alisnya dan mengamati wajah itu dengan sinar mata tajam menyelidik. Dia sudah menduga, akan tetapi ingin mendapat keyakinan. "Apa maksudmu dengan menodai itu?"

"Dia.... dia mula-mula merayuku.... agar aku suka melayaninya, suka tidur dengan dia. Aku menolak dan beberapa kali dia nyaris berhasil memperkosa aku....! Karena aku selalu menghindar dan menolak, dia kini seperti benci kepadaku. Dan ibu angkatku agak­nya melihat pula gejala itu dan iapun menjadi cemburu dan membenci aku...."

"Hemmm....!" Sie Liong mengelus dagunya yang mulai ditumbuhi rambut. Mengertilah dia kini mengapa gadis ini tidak ada yang menjemput, dan mengapa pula Ling Ling tidak mau pulang ke rumah orang tua angkatnya.

"Ling Ling, engkau tadi menceritakan bahwa tadinya, sebelum timbul perubahan sikap ayah angkatmu itu, mereka amat baik kepadamu. Bagaimana kalau sekarang engkau kuantar ke sana, ayah angkatmu itu kuancam agar dia tidak lagi melakukan hal yang tidak pantas i­tu, dan aku membujuk ibu angkatmu agar ia mau mengerti bahwa engkau tidak bersalah dalam peristiwa itu? Kalau mere­ka mau mendengarnya dan mentaati permintaanku, maukah engkau kembali kepa­da mereka?"

Ling Ling mengerutkan alisnya dan ia menatap wajah pemuda itu sampai be­berapa lamanya. Sinar matanya penuh kegelisahan dan keraguan, kemudian iapun menggeleng kepalanya. "Tidak mungkin, taihiap. Ayah angkatku itu akan tetap membenciku selama aku tidak mau memenuhi permintaannya. Aku melihat nafsu yang amat mengerikan dari pandang matanya. Dan ibu angkatku.... ia amat membenciku karena cemburu. Tidak, aku tidak akan kembali lagi ke sana. Bah­kan, terus terang saja, taihiap. Ketika wanita cantik yang menyamar siluman merah itu menculikku, membawaku ke si­ni, melihat betapa gerombolan itu ti­dak menggangguku, memperlakukan dengan baik, aku merasa gembira untuk menjadi pelayan. Asalkan aku tidak harus kembali ke rumah orang tua angkatku."

"Tapi.... kalau engkau tidak mau kembali ke sana, lalu ke mana engkau hendak pergi? Apakah engkau mempunyai keluarga lain, sanak keluarga da­ri orang tua kandungmu sendiri?" Diam-diam Sie Liong merasa kasihan sekali dan dia dapat menerima alasan gadis i­tu. Tentu saja dia tidak mungkin dapat menanggung dan memastikan bahwa ayah angkat Ling Ling kelak tidak akan mengulang perbuatannya terhadap gadis yang seperti setangkai bunga baru mu­lai mekar ini. Mungkin karena segan dan takut kepadanya, ayah angkat itu mau berjanji, bahkan mau bersumpah. A­kan tetapi, dia tidak mungkin dapat berada di dusun itu terus! Dan gadis ini makin hari menjadi semakin cantik manis dan semakin menarik. Kalau nafsu sudah menguasai hati ayah angkat itu, siapa berani tanggung dia tidak akan menjadi buta akan kebenaran? Dan dia dapat menduga bahwa seorang gadis yang demikian kukuh mempertahankan kehormatannya seperti Ling Ling ini, kalau sampai diperkosa ayah angkatnya, tentu a­kan membunuh diri!

Gadis itu menggelengkan kepala­nya. "Aku tidak mempunyai siapapun juga di dunia ini, sebatangkara...." jawabnya lirih dengan air mata kembali mengalir di pipi.

"Kalau begitu, lalu ke mana engkau hendak pergi, Ling Ling? Kalau engkau tidak mempunyai keluarga lain, dan engkau tidak mau kembali ke rumah orang tua angkatmu, lalu bagaimana?"

Mendengar pertanyaan ini, Ling Ling turun dari atas batu dan kembali ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Sie Liong sambil berkata dengan suara mengandung isak, "Aku ingin turut denganmu, taihiap...."

"Ehhh?" Sie Liong terkejut dan heran bukan main. Tadinya timbul dugaan di hatinya bahwa tentu gadis manis ini telah mempunyai seorang kekasih dan ia akan pergi bersama kekasihnya itu. Sungguh seujung rambutpun dia tidak pernah menyangka akan mendengar jawaban seperti itu. "Apa maksudmu, Ling Ling? Bangkitlah, dan mari kita bicara dengan baik."

"Tidak, aku tidak akan bangkit sebelum engkau sudi menerimaku. Taihiap, tolonglah aku. Aku.... aku ingin membalas budimu, aku ingin ikut denganmu, biar kaujadikan pelayan.... aku akan mencucikan pakaianmu, memasak­kan makananmu, melayani keperluanmu...."

Tiba-tiba Sie Liong tertawa dan dia memegang kedua pundak gadis itu dan mengangkatnya bangun, mendudukkannya di atas batu kembali. Ling Ling tidak mampu menolak karena ia bagaikan sebuah boneka saja di kedua tangan yang memiliki tenaga dahsyat itu. Ia­pun kini yang memandang bengong. Pendekar itu tertawa bergelak dan betapa gagah dan tampannya wajah itu sekarang nampak olehnya. Wajah yang tadinya se­lalu nampak dilanda duka itu, wajah yang menimbulkan perasaan iba kepada siapapun yang memandang, kini nampak cerah den berseri!

"Aih, Ling Ling.... engkau ini sungguh lucu sekali!" kata Sie Li­ong setelah dia menghentikan ketawanya.

"Taihiap, apanya yang lucu?" Ling Ling bertanya khawatir.

"Bagaimana mungkin engkau ikut denganku? Kau tahu siapa aku ini?"

"Taihiap seorang pria yang sakti dan berbudi mulia, yang telah menyela­matkan aku dan banyak gadis di sini, yang pantas kupuja den kubalas budinya...."

"Cukup semua itu. Aku hanyalah seorang laki-laki yang hidup sebatangkara, tidak mempunyai tempat tinggal, miskin dan papa. Dan engkau hendak ikut dengan aku. Bukankah itu sama sekali tidak mungkin, dan lucu sekali?"

"Kenapa tidak mungkin dan kenapa lucu, taihiap? Aku ingin ikut dengan­mu ke manapun engkau pergi. Aku tidak perduli apakah engkau kaya atau miskin taihiap. Bahkan kebetulan sekali ka­lau engkaupun sebatangkara seperti a­ku, karena tidak akan ada keluargamu yang mungkin tidak suka kepadaku. Aku akan melayanimu, membantumu dalam segala hal, taihiap. Kasihanilah aku...."

"Tapi, Ling Ling, engkau tidak mengerti! Kau tahu, aku seorang pengemba­ra, hidupku penuh bahaya! Aku seorang yang selalu menentang kejahatan, se­hingga aku dimusuhi para penjahat yang kejam. Engkau akan ikut terancam baha­ya kalau engkau bersamaku."

"Aku tidak takut! Kalau aku berada di sampingmu, bahaya mautpun tidak akan membuat aku gentar, taihiap. Aku­pun siap mati kalau perlu!"

Diam-diam Sie Liong menjadi kagum dan juga heran. Mengapa gadis ini mati-matian hendak ikut dengan dia? "Ling Ling, aku kadang-kadang tidur di hutan.... di atas rumput...."

"Hemm, menyenangkan sekali, taihiap. Apalagi di waktu terang bulan, dengan api unggun menghangatkan badan. Rumput tentu lunak dan awat nyaman untuk tidur...."

"Kadang-kadang harus di atas pohon besar...."

"Ah, aku belum pernah tidur di atas pohon, taihiap. Aku ingin sekali merasakan. Tentu aman dari gangguan binatang buas...."

"Ling Ling...." Sie Liong kewalahan. "Kadang-kadang aku tidur di dalam kuil tua yang kuno dan kotor, yang pantas menjadi tempat tinggal pa­ra iblis dan setan!"

Wajah itu menjadi pucat seketika, matanya terbelalak den tubuhnya jelas nampak menggigil, pandang matanya ketakutan dan penuh kengerian. Bagi orang- orang dusun di daerah itu, iblis dan setan amat menakutkan karena mereka i­tu pada umumnya masih amat tebal rasa ketahyulan mereka. Melihat ini, Sie Liong menjadi tidak tega dan tanpa disadarinya dia menyambung. "Akan tetapi selama ini belum pernah aku bertemu setan dan iblis, semua itu hanya dongeng kosong belaka untuk menakut-nakuti a­nak-anak dan orang-orang penakut."

Ling Ling menarik napas lega. "Aku juga.... ti.... tidak takut, taihiap."

Akan tetapi, membayangkan betapa gadis ini ikut dengannya, Sie Liong menarik napas panjang dan menggeleng ke­palanya. "Ling Ling, maafkan aku. Bagaimanapun juga, rasanya tidak mungkin engkau ikut denganku. Ingatlah, aku seorang pria, dan engkau seorang wanita, seorang gadis muda yang cantik. Apa akan kata orang? Tentu mereka menyangka yang bukan-bukan terhadap kita."

"Taihiap, apakah kita harus menggantungkan hidup kita kepada kata dan pendapat orang lain? Yang terpenting adalah kita sendiri, bukan? Kalau kita tidak melakukan sesuatu yang tidak be­nar, mengapa takut disangka orang! Taihiap, aku akan menjaga diri agar tidak sampai membikin kecewa dan malu kepadamu. Aku akan menjadi pelayan yang ba­ik...."

"Sekali lagi maaf, Ling Ling. Terpaksa aku menolak. Tidak mungkin aku dapat mengajakmu berkelana menempuh banyak bahaya."

Tiba-tiba wajah gadis itu nampak layu dan muram. Ia menundukkan muka­nya, sampai lama tidak bergerak. Tidak lagi ia menangis, akan tetapi ketika ia bicara, suaranya lirih dan mengan­dung rintihan.

"Baiklah, taihiap. Maafkan gang­guanku tadi. Aku akan pergi sekarang juga, selamat.... tinggal...." Dan gadis itupun membalikkan tubuhnya dan pergi dengan langkah satu-satu dengan tubuh lemas dan agak terhuyung.

"Nanti dulu, Ling Ling! Engkau hendak pergi ke mana?" tanya Sie Liong dengan hati penuh rasa iba.

Gadis itu berhenti melangkah, me­noleh dan wajahnya nampak demikian pu­cat, matanya tidak ada sinarnya lagi dan sebelum menjawab ia tersenyum, senyum yang menyayat perasaan Sie Liong karena senyum itu demikian pahitnya. "Ke mana saja kakiku membawaku, taihiap. Habis, ke mana lagi? Akupun tidak tahu...." dan iapun melanjutkan langkahnya. Langkah satu-satu dan dari belakang Sie Liong melihat betapa ke­dua pundak itu menurun, lalu bergoyang-goyang, tanda bahwa gadis itu menangis lagi. Tiba-tiba gadis itu terhuyung, lalu jatuh berlutut dan menangis!

Sie Liong marasa semakin iba dan sekali meloncat, dia telah berada di samping gadis yang berlutut sambil menangis itu. "Ling Ling...." katanya lirih.

"Biarkan aku mati saja.... ah, biarkan aku mati saja...." gadis itu berbisik-bisik dan tangisnya mengguguk.

Dengan kedua tangannya, Sie Liong memegang pundak gadis itu dan menarik­nya bangun berdiri. "Ling Ling, jangan berkata demikian! Kalau engkau memang nekat dan berani menghadapi kesengsaraan, baiklah, aku suka menerimamu."

Kedua tangan itu menurun dari depan mata, mata itu terbelalak, air matanya masih menetes-netes, muka itu masih pucat, akan tetapi mulut itu mengembangkan senyum. "Benarkan, taihiap? Ah, terima kasih....! Aku tidak akan sengsara. Aku akan menjaga agar taihiap tidak sengsara! Aku siap menghadapi segala kesukaran tanpa mengeluh. Dan aku dapat bekerja, taihiap. Aku memiliki keahlian menyulam indah, dan dengan itu aku akan dapat mencari uang untuk dipakai keperluan kita sehari-hari! Ah, aku berbahagia sekali, terima kasih, taihiap.... terima kasih...."

Pada saat itu terdengar suara so­rak sorai dan ketika mereka menengok, nampak rumah itu telah dibakar. Api bernyala besar dan orang-orang dusun itu bersorak gembira. Kernudian mereka berbondong menghampiri Sie Liong, dipimpin oleh Gumo Cali, dan mereka kembali menjatuhkan diri berlutut di depan pendekar itu, menghaturkan terima kasih.

"Saudara sekalian tidak perlu berterima kasih kepadaku. Kuharap saja mulai sekarang saudara sekalian dapat mempersatukan tenaga untuk menjaga keamanan dusun sendiri. Sekarang, perke­nankan aku pergi."

Pendekar Bongkok meninggalkan tempat itu dan Ling Ling mengikutinya. Semua orang memandang dengan heran meli­hat gadis itu ikut pergi bersama Pendekar Bongkok, namun tidak ada seorang­pun yang berani bertanya. Mereka hanya mengira bahwa pendekar itu tentu hen­dak mengantarkan gadis yang tidak di­jemput orang tuanya itu ke dusunnya sendiri. Merekapun bubaran dengap hati gembira karena gadis-gadis itu ternya­ta dalam keadaan selamat. Nama Pende­kar Bongkok lebih dikenal daripada nama Sie Liong di dusun itu dan mereka takkan pernah melupakan pertolongan yang diberikan pendekar itu dalam mengusir para penjahat yang menyamar sebagai setan merah penculik gadis-gadis remaja yang cantik.

"Ling Ling, aku mau mengajakmu pergi, akan tetapi engkau harus mentaati semua permintaanku," demikian Sie Liong berkata setelah dia dan gadis itu berada di kaki Bukit Onta, jauh dari para penduduk dusun.

Wajah yang manis itu basah oleh keringat. Sejak tadi, Sie Liong berja­lan saja, seolah tidak memperdulikan gadis yang berjalan di belakangnya, bahkan kadang-kadang dia melangkah le­bar sehingga Ling Ling terpaksa harus setengah berlari untuk mengikutinya. Sie Liong mendengar langkah kaki pendek-pendek itu, dan mendengar pula be­tapa pernapasan gadis itu mulai membu­ru. Akan tetapi, sedikitpun dia tidak pernah mendengar gadis itu mengeluh. Kini, dia berhenti dan berkata demiki­an sambil menatap wajah itu. Wajah itu basah oleh keringat, dan napas gadis itu agak memburu namun wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan sedikitpun kekesalan hati. Bahkan wajah itu berseri penuh kegembiraan! Mendengar ucapan itu, ia menjawab lantang dan mantap, tanpa ragu.

"Tentu saja, taihiap! Aku akan mentaati semua perintahmu, biarpun un­tuk itu aku harus berkorban nyawa...." tiba-tiba ia menyambung cepat kalimat yang sebenarnya sudah berakhir itu, ".... asal saja taihiap tidak menyuruh aku pergi meninggalkanmu!"

Sie Liong tersenyum. Gadis dusun ini sederhana dan tabah, akan tetapi dalam keserdahanaannya, ternyata ia cerdik juga.

"Nah, kalau begitu, perintahku yang pertama adalah jangan sebut aku taihiap. Namaku Sie Liong dan mengingat engkau pantas menjadi adikku, se­but saja aku sebagai kakakmu."

"Baiklah, Liong-ko (kakak Liong)!" kata Ling Ling gembira.

"Dan ke dua, sekarang engkau ha­rus mengantar aku ke rumah orang tua angkatmu." Dia melihat wajah itu terkejut, maka disambungnya cepat, "Bagaimanapun juga, aku ingin menemui mereka dan mengatakan bahwa engkau tidak suka kembali ke sana dan akan ikut dengan aku. Hendak kulihat bagaimana sikap me­reka, dan juga tidak baik pergi begitu saja tanpa pamit."

Ling Ling mengengguk, nampak hi­lang kagetnya. "Baiklah, Liong-ko."

Merekapun pergi nenuju ke dusun tempat tinggal orang tua angkat Ling Ling. Ketika mereka tiba di rumah itu, mereka disambut oleh sepasang suami isteri yang memandang kepada Ling Ling dengan mulut cemberut. Apalagi mereka melihat bahwa gadis itu pulang bersama seorang pemuda bongkok, segera ayah angkatnya yang dipenuhi kecewa dan cemburu segera menudingkan telunjuknya ke pada Ling Ling dan mulutnya segera mengeluarkan makian,

"Perempuan tak tahu malu! Kiranya engkau bukan diculik siluman merah a­kan tetapi minggat bersama siluman bongkok ini, ya? Bagus, engkau membi­kin malu padaku!"

"Dasar anak tak tahu diri, tak mengenal budi!" bentak ibu angkatnya. "Bertahun-tahun kami memeliharamu, memberi makan dan pakaian sampai kau dewasa, kini tidak membalas budi malah me­lempar kotoran ke rumah kami!"

Sejak tadi Sie Liong mengamati dua orang ini. Seorang pria tinggi kurus dengan muka pucat seperti berpenyakitan, berusia kurang lebih empat puluh tahun, mulutnya lebar dan giginya yang panjang-panjang itu kelihatan separuhnya lebih di luar bibir, matanya membayangkan wataknya yang kurang baik. Adapun wanita itu beberapa tahun lebih muda, tubuhnya gendut dan hidungnya pesek, muka yang tidak menarik dan nampaknya juga galak. Sungguh dia merasa heran bagaimana sepasang suami isteri seperti ini menjadi orang tua angkat seorang gadis seperti Ling Ling, bahkan dipuji oleh gadis itu sebagai orang-orang yang tadinya amat baik kepadanya.

"Ayah, ibu, aku tidak minggat, memang benar diculik...."

"Diculik setan bongkok ini, ya? Sungguh kalian pantas dihajar!" berka­ta demikian, laki-laki jangkung itu menerjang maju, siap menghajar dan tangannya menampar ke arah kepala Sie Liong. Kalau menurutkan panasnya hati karena dimaki-maki, ingin Sie Liong sekali pukul menghancurkan mulut yang giginya panjang-panjang itu. Akan tetapi dia tidak menurutkan nafsu amarahnya, melainkan menangkap lengan yang memu­kul, memuntirnya dan mendorongnya. Pria itu mengeluarkan teriakan dan ro­boh terbanting lalu berguling-guling, mengaduh-aduh. Isterinya juga sudah maju dan dengan tangan membentuk cakar sudah siap mencakari muka Ling Ling yang berdiri diam saja tidak melawan. Akan tetapi sebelum kuku-kuku jari tangan wanita itu mengenai kulit muka Ling Ling, kakinya ditendang oleh Sie Liong dan wanita itu jatuh berdebuk. Pantat yang besar itu terbanting ke a­tas tanah dan ia mengaduh-aduh, menge­lus pantatnya dan tidak mampu bangun, seperti seekor kura-kura yang jatuh telentang.

"Berani kamu memukul orang....?" Ayah angkat Ling Ling sudah bangkit lagi dan membantu isterinya berdiri. Keduanya semakin marah, akan tetapi ha­nya mulut mereka saja yang nyerocos, tidak berani lagi menyerang. Pada saat itu, beberapa orang dusun yang tadi i­kut menyerbu ke bukit Onta, mengiring­kan dua orang gadis dusun itu yang terbebas dari penculikan. Melihat betapa ayah dan ibu angkat Ling Ling memaki-maki Pendekar Bongkok, mereka terkejut dan cepat semua orang lari ke situ.

"Engkau setan bongkok, kunyuk bongkok berani melarikan gadis orang!" teriak ayah angkat gadis itu yang men­jadi semakin berani melihat para tetangga berlarian datang.

"Heiii! Gumalung.... tutup mulutmu yang kotor itu!" bentak beberapa orang dan mendengar ini, tentu saja Gumalung, demikian nama ayah angkat Ling Ling, memandang heran.

"Sungguh engkau lancang mulut! Tahukah engkau siapa pendekar ini? Dia adalah Sie Taihiap! Dialah yang telah mengusir para penjahat yang menculik gadis-gadis itu! Bahkan anak kalian Ling Ling juga dibebaskannya. Sekarang, datang-datang dia kalian semprot dengan makian. Kalian sungguh orang-o­rang yang jahat!"

Mendengar ini, seketika pucat wa­jah Gumalung dan isterinya. "Ahh.... ohh.... maafkan kami.... maafkan kami...." kata Gumalung, diikuti oleh isterinya dan mereka membongkok-bong­kok.

"Sudahlah!" kata Sie Liong membentak dan melihat banyak orang di situ dia menganggap kebetulan sekali untuk membersihkan nama Ling Ling. "Kalian memang suami isteri yang tidak berbu­di! Ketika Ling Ling berusia sepuluh tahun, kalian dengan dalih tidak mempunyai anak, mengangkatnya sebagai anak. Ling Ling telah bekerja seperti budak di sini untuk membalas budi kalian. A­kan tetapi setelah ia dewasa, engkau yang menjadi ayah angkatnya mulai ber­sikap tidak wajar, merayunya bahkan hendak memperkosanya. Karena Ling Ling tidak sudi memenuhi permintaanmu yang kotor itu, engkau membencinya. Dan is­terinya, yang tak tahu diri ini, bukan menyalahkan suaminya, bahkan juga mem­benci Ling Ling karena cemburu. Nah, coba kalian berdua katakan, benar ti­dak apa yang kukatakan semua ini. Kalian harus mengaku terns terang, baru a­kan kumaafkan. Kalau kalian membohong, aku akan turun tangan menghajar kali­an!"

Suami isteri itu saling pandang. Mereka merasa takut kepada Pendekar Bongkok, akan tetapi mereka juga mera­sa malu kalau harus mengaku di depan para tetangga yang kini sudah berda­tangan ke tempat itu. Karena merasa bingung dan serba salah, akhirnya isteri yang galak itu menuding-nudingkan te­lunjuknya ke muka suaminya.

"Memang engkau yang celaka! Eng­kau suami tidak setia, engkau suami mata keranjang, engkau rakus! Sudah kuduga bahwa tentu engkau yang hendak me­maksa Ling Ling, akan tetapi engkau selalu mengatakan bahwa Ling Ling yang menggodamu! Pendusta besar! Perempuan mana yang sudi menggoda laki-laki ber­muka buruk seperti mukamu? Engkau hendak memperkosanya, ya? Bagus, engkau memang layak mampus!" Wanita itu menerjang suaminya menggunakan kedua tangannya yang hendak mencakar-cakar. Suami­nya cepat menangkap kedua pergelangan tangan istcrinya dan mereka bersite­gang. Agaknya, si suami yang kerempeng kalah tenaga sehingga dia terbawa terhuyung ke kanan kiri.

"Engkau perempuan cerewet! Engkaulah yang membenci Ling Ling, engkau i­ri hati melihat ia cantik jelita, ti­dak macam engkau ini babi gemuk!"

"Apa kaubilang? Aku babi? Dan engkau ini monyet, engkau tikus kurus mau mampus!"

Kedua suami isteri itu saling do­rong dan para tetangga mulai tertawa melihat mereka berkelahi. Sie Liong dengan gerakan tidak sabar maju dan sekali dia menggerakkan tangan, kedua sua­mi isteri itu saling melepaskan cengkeraman dan keduanya terpelanting, un­tuk kedua kalinya mereka terbanting jatuh. Keduanya terkejut, kesakitan dan ketakutan, lalu mereka berdua berlutut menghadap Pendekar Bongkok.

"Taihiap, ampunkan saya...." Wanita itu merengek.

"Taihiap, ampunkan kami, kami mengaku salah. Kami bersalah terhadap Ling Ling...." kata sang suami, lalu tanpa memandang wajah anak angkatnya, dia menyambung, "Ling Ling, maafkanlah ayahmu yang bersalah ini...."

"Aku tidak mempunyai ayah dan ibu seperti kalian! Aku datang untuk berpamit, aku akan pergi meninggalkan kali­an!"

"Eh....? Kenapa, Ling Ling? Kenapa engkau hendak meninggalkan kami?" Gumalung berseru kaget, juga isterinya kaget mendengar ucapan ini. Mereka me­mang tidak sayang lagi kepada Ling Ling, dan kesayangan ayah angkat itu merupakan kesayangan yang terdorong nafsu, akan tetapi mereka akan repot kalau ditinggalkan Ling Ling yang me­ngerjakan semua pekerjaan rumah itu.

"Tapi, kau tidak bisa meninggal­kan kami begitu saja, Ling Ling!" kata pula nyonya gendut itu.

Sie Liong sudah merasa lega. Percekcokan suami isteri itu tadi saja sudah merupakan pengakuan dari mereka bahwa Ling Ling tidak berbohong, dan semua orang mendengarnya. Maka, diapun lalu berkata dengan suara tegas. "Ling Ling akan meninggalkan rumah ini, ia akan pergi bersamaku. Apakah kalian me­rasa berkeberatan?"

"Tapi.... tapi.... ia merupakan bantuan bagi kami di rumah ini. Tanpa Ling Ling.... pakaian tidak tercuci bersih, masakanpun tidak enak rasanya...."

"Anjing kurus, engkau mencela aku lagi, ya?" bentak isterinya. "Kalau kurang bersih, kaucuci sendiri pakaian­mu, dan kalau engkau tidak menyukai masakanku, pergi sana makan di luar! Taihiap, kami memang berkeberatan kalau Ling Ling pergi karena.... karena...."

"Karena apa?" Sie Liong mendesak.

Wanita gendut itu beberapa kali menelan ludah, agaknya ia takut untuk bicara, akan tetapi dengan memaksa diri akhirnya ia berkata, ".... anak itu sudah delapan tahun bersama kami.... entah sudah berapa banyak kami mengeluarkan uang untuk memeliharanya, makannya.... pakaiannya...."

Sie Liong menahan diri untuk ti­dak menampar muka wanita itu. "Hemmmm, jadi engkau merasa rugi? Katakanlah, berapa banyak hutang Ling Ling kepada kalian?"

"Sedikitnya seratus tail perak...."

Terdengar suara orang-orang mengomel panjang pendek. Banyak penduduk yang merasa keterlaluan sekali sikap orang tua angkat Ling Ling itu. Pada saat itu terdengar bunyi derap kaki beberapa ekor kuda dan ternyata yang mun­cul adalah Gumo Cali dan beberapa orang dusun lain yang tadi memimpin pe­nyerbuan ke Bukit Onta. Gumo Cali ce­pat memberi hormat kepada Pendekar Bongkok dan dia menurunkan sebuah bungkusan kain dari atas kudanya.

"Sie Taihiap, tadi ketika kami menggeledah rumah para penjahat di puncak Bukit Onta, kami menemukan uang sebanyak tiga ratus tail perak. Kami semua bersepakat untuk menyerahkan uang ini kepada taihiap!"

Sie Liong tersenyum. Dia memang sedang bingung memikirkan bagaimana dia akan dapat membayar hutang Ling Ling kepada orang tua angkatnya itu, dan kini mereka datang menyerahkan u­ang, bukan seratus tail, bahkan tiga ratus tail! Kalau Tuhan hendak menolong, ternyata ada saja jalannya!

"Terima kasih!" katanya. "Tolong ambilkan seratus tail perak qan serah­kan kepadaku."

Gumo Cali membuka kantung itu dan mengeluarkan sepertiga bagian dari isi kantung. Gumpalan perak dari lima tail itu besar dan berkilauan, sebanyak dua puluh buah.

"Lihat, inilah uang yang telah kaukeluarkan untuk Ling Ling!" berkata demikian, Sie Liong mengambil gumpal­an-gumpalan perak itu dan melemparkannya ke arah dinding. Potongan potongan perak itu beterbangan dan me­nancap pada dinding, sampai masuk ke dalam, berjajar-jajar dua puluh lubang banyaknya. Tentu saja suami isteri itu memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat. Kalau saja gumpalan perak itu diarahkan kepada mereka, tentu a­kan remuk dada mereka dan pecah kepa­la mereka!

"Paman, harap sisanya paman bagi-bagikan kepada para gadis yang tadi menjadi korban penculikan. Nah, selamat tinggal dan terima kasih!" bersama Ling Ling yang sudah lari mengambil pakaiannya dari dalam kamarnya dan memasukkan bekal pakaian itu dalam buntalan kain, Sie Liong lalu meninggalkan tempat itu.

Mereka duduk menghadapi api unggun di bawah pohon dekat hutan besar itu. Hawa amat dinginnya walaupun udara cerah pada sore hari itu. Bahkan panasnya api unggun yang dihadapinya tidak cukup kuat untuk dapat mengusir hawa dingin yang dirasakan Ling Ling. Ia kadang-kadang masih menggigil. Melihat keadaan gadis ini, Sie Liong merasa kasihan dan dia membuka baju luarnya yang agak tebal, diselimutkan dari belakang ke tubuh gadis itu. Melihat ini, Ling Ling tersenyum dan menarik baju luar itu agar lebih banyak menyelimuti lehernya.

"Terima kasih...." katanya lirih dan iapun termenung memandang ke arah api unggun yang bernyala indah. Ia merasa betapa kedua kakinya nyeri, ki­ut-miut rasanya karena sehari itu mereka hampir terus menerus berjalan naik turun bukit. Ia tidak pernah mengeluh walaupun kakinya terasa seperti akan patah-patah, dan telapak kakinya tera­sa tebal dan panas sekali. Kelelahan membuat ia merasa lemas, ditambah pula rasa lapar karena sejak pagi tadi mereka tidak pernah makan apapun. Minumpun hanya dari sumber air yang mereka lewati di kaki bukit terakhir tadi. Ia tidak tahu betapa pemuda itu sejak ta­di mencuri pandang dan mengamati wajahnya. Ia merasa berbahagia! Biarpun ia merasa lelah bukan main, namun senyum manis tak pernah meninggalkan mulutnya, cahaya matanya tak pernah meredup, dan wajahnya berseri-seri. Apa lagi karena banyak bergerak jalan sepanjang hari, kedua pipinya menjadi kemerahan, puncak pipi di bawah dan kanan kiri mata bagaikan buah tomat masak.

Sie Liong duduk di seberang api unggun. Dari atas nyala api, dia dapat memandang wajah gadis itu dengan jelas. Cuaca sudah mulai suram, akan tetapi cahaya api yang kuning kemerahan menimpa wajah yang manis itu. Diam-diam dia kagum sekali kepada Ling Ling. Sudah sepekan gadis itu melakukan perjalanan dengan dia. Sengaja dia membawa Ling Ling merasakan kelelahan, kekurangan makan dan minum, kepanasan dan kedinginan. Namun, gadis itu selalu tersenyum, tak pernah mengeluh. Dia sengaja menguji karena dia belum yakin apakah benar gadis ini hendak nekat ikut dengan dia mengembara dan hidup serba kekurangan. Dan selama sepekan ini, dia mendapatkan kenyataan bahwa memang gadis ini hebat! Seorang gadis yang lemah badannya karena tidak pernah mempelajari silat, akan tetapi yang memiliki batin yang amat kuat, semangat membaja dan pantang mundur! Seorang gadis yang sama sekali tidak cengeng. Timbullah perasaan iba dan suka dalam hatinya terhadap Ling Ling.

Agaknya Ling Ling merasa bahwa dirinya dipandang. Ia mengangkat muka dan pada saat itu, pandang matanya bertemu dengan pandang mata Sie Liong. Dua pasang mata bertemu pandang dan berta­ut agak lama. Akhirnya Sie Liong yang mengalihkan pandang matanya, merasa tidak enak memandang orang terlalu lama dan penuh perhatian.

"Liong-ko, ada apakah? Engkau me­mandangku seperti hendak mengatakan sesuatu."

Sie Liong memandang padanya dan tersenyum. "Aku hanya ingin bertanya apakah engkau masih kedinginan, Ling Ling?"

Ling Ling merapatkan baju luar yang tebal itu dan tersenyum makin le­bar. "Tadi memang, akan tetapi sekarang tidak lagi. Hangat dan nyaman, Liong-ko."

Mereka diam sejenak.

"Lelah....?" terdengar Sie Liong bertanya.

Gadis itu mengangkat mukanya dan kembali mereka bertemu pandang. Ia mengangguk. "Akan tetapi, betapa nyaman dan enaknya beristirahat seperti ini setelah merasa kelelahan!"

"Kakimu terasa nyeri?"

Sejenak Ling Ling tidak menjawab, mengatupkan bibirnya rapat-rapat, dan memandang kakinya, menarik kedua kakinya dari bawah untuk diluruskan. Gerakan ini mendatangkan perasaan nyeri bu­kan main, akan tetapi ia tidak menge­luh, hanya matanya tergetar sedikit dan juga bibirnya dikatupkan makin kuat. Akan tetapi ia menggeleng kepala.

"Tidak, tidak nyeri...."

Hening lagi sejenak. Dalam keheningan ini, pendengaran Sie Liong yang terlatih dan amat peka itu mendengar suara perut gadis itu berkeruyuk, seperti juga perutnya sendiri yang sejak tadi berkeruyuk.

"Lapar....?" tanyanya sambil menatap wajah itu.

Ling Ling mengangkat muka dan kembali mereka bertemu pandang. Gadis itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya, sambil menambahkan kayu kering pada perapian di depannya.

"Ling Ling, aku melihat engkau seorang gadis yang tabah dan jujur, akan tetapi mengapa engkau membohongi aku?"

Gadis itu nampak terkejut sekali. Sebatang ranting yang dipegangnya terlepas dan matanya terbelalak ketika ia memandang kepada pemuda itu. Sepasang alisnya berkerut dan suaranya terdengar heran, "Aku? Bohong?"

Sie Liong menganguk dan tersenyum. "Baru saja dua kali engkau berbohong kepadaku. Kakimu nyeri sekali dan engkau mengatakan tidak, perutmu lapar dan engkau juga mengatakan tidak. Bukankah itu bohong namanya?"

Wajah yang tadinya menjadi agak pucat itu merah kembali, dan sepasang mata itu berseri kembali. "Aih, Liong-ko, engkau mengejutkan aku. Kiranya itu yang kaunamakan bohong. Itu bukan bohong, koko, melainkan untuk melawan keadaan dan untuk menguatkan hati."

"Hemm, apa pula maksudnya itu?"

"Sebelum kujawab, aku ingin tahu bagaimana engkau begitu yakin bahwa kakiku nyeri dan perutku lapar?"

"Kita sudah berjalan sehari, naik turun bukit, sudah sepatutnya kalau kakimu nyeri dan ketika engkau melurus­kan kakimu tadi, jelas nampak pada wa­jahmu bahwa engkau menahan rasa nyeri. Sejak pagi kita belum makan lagi, su­dah sepantasnya kalau perutmu lapar, dan tadi, aku mendengar perutmu berkeruyuk."

Ling Ling tertawa dan menutupi mulutnya. Ia merasa lucu, juga merasa malu. "Ih, engkau membikin aku malu saja, koko. Telingamu usil amat sih, mendengarkan bunyi perut orang! Sekarang aku jawab pertanyaanmu tadi. Memang kakiku nyeri, habis mengapa? Andaikata aku mengaku nyeripun, pengakuan itu ti­dak akan mengurangi rasa nyeri, bahkan akan menambah. Maka aku membohongi di­ri sendiri saja, mengatakan tidak nye­ri sehingga rasa nyeri banyak berku­rang. Demikian pula tentang perutku yang lapar. Kalau aku mengaku lapar juga tidak akan ada sesuatu yang dapat kumakan. Lebih baik mengaku tidak la­par agar rasa laparnya berkurang. Ketika tadi engkau bertanya apakah aku lelah dan dingin, aku menjawab ya karena di sini ada tempat beristirahat menghilangkan lelah dan api unggun penahan dingin. Nah, jelas, kan? Aku bukan pembohbng, ya koko?" Kalimat terkahir ini terdengar manja seperti rengek kanak-kanak sehingga Sie Liong memandang dengan senyum dan hatinya terharu karena dia teringat kepada Yauw Bi Sian. Teringat dia betapa ketika masih kecil, Bi Sian yang tidak mempunyai teman lain kecuali dia, juga suka merengek seper­ti ini kalau minta sesuatu kepadanya. Dan seperti juga dahulu, ketika dia selalu menuruti permintaan Bi Sian kalau keponakannya itu sedang mere­ngek, kinipun ia menuruti permintaan Ling Ling dan dia mengangguk. "Engkau memang bukan pembohong, Ling Ling. Dan sekarang aku akan membuat pengakuan."

Kini gadis itu yang memandang heran dan penuh selidik. "Engkau akan membuat pengakuan? Pengakuan apa lagi, Liong-ko?"

"Aku telah bersikap kejam sekali kepadamu, Ling Ling...."

"Aihhh! Sama sekali tidak, Liong-ko! Apa yang kaumaksudkan ini? Engkau­lah satu-satunya orang yang paling ba­ik di dunia ini bagiku. Engkau bagiku menjadi pengganti ayah ibu kandungku, pengganti saudara dan keluargaku, men­jadi sahabat dan juga guruku...."

"Jangan terlalu tinggi memuji, Ling Ling. Lihat dan rasakan, bukankah selama sepekan ini engkau kubawa berjalan sampai melampaui batas kekuatanmu, me­maksamu berjalan jauh melalui bukit dan tempat yang amat sukar, lalu membiarkanmu kelaparan dan kehausan? Bukan­kah selama sepekan ini aku membiarkan engkau mengalami sengsara, tubuhmu le­lah, kakimu nyeri, perut lapar dan mu­lut haus? Aku telah bersikap kejam se­kali!"

"Tidak, tidak! Aku tidak mengang­gapmu kejam, koko. Sudah sewajarnya karena memang kita berdua ini sepasang kelana yang merantau, tidak memiliki apa-apa, tidak memiliki rumah, bukan? Rumah kita adalah dunia ini, lantainya tanah ini, atapnya langit. Betapa indahnya rumah kita, koko, tidak ada di dunia ini yang seindah tempat tinggal kita. Di mana-mana tempat tinggal ki­ta. Lantai kita bertilamkan rumput lu­nak, kebun kita penuh pohon dan bunga, kupu-kupu, burung...."

Mau tak mau Sie Liong tertawa gembira. Bukan main gadis ini, pikirnya girang. Memiliki ketabahan dan tahan uji, akan tetapi juga memiliki kelincahan dan kegembiraan hidup sehingga baru berkumpul sepekan saja semua kenangan buruk dan perasaan nelangsa dalam hatinya tersapu bersih, membuat diapun i­kut gembira. Tiba-tiba saja segala se­suatu di sekelilingnya nampak demikian indahnya!

"Engkau tidak tahu, Ling Ling. Selama sepekan ini, aku memang sengaja membuatmu menderita. Aku sengaja membuat engkau kecapaian, kelaparan dan ke­hausan!"

Gadis itu memandang heran. "Kausengaja? Aku.... aku tidak mengerti maksudmu, koko."

"Aku memang hendak mengujimu. Setelah engkau menderita, hendak kulihat apakah engkau benar-benar sudah nekat untuk ikut denganku. Kalau engkau ti­dak kuat, aku akan mencarikan tempat yang baik untukmu, pada sebuah keluar­ga, yang dapat kupercaya dan...."

"Liong-ko, kenapa begitu? Sudah kukatakan bahwa aku hanya mempunyai satu saja keinginan hidup ini, yalah ikut denganmu ke manapun engkau pergi. Jangankan hanya kesukaran yang tidak seberapa ini, hanya keletihan, kelaparan dan kehausan, biarpun sampai mati aku tidak akan menyesal telah ikut denganmu, koko!"

Sie Liong menundukkan mukanya agar jangan nampak betapa wajahnya merasa terharu sekali. Apakah yang mendo­rong gadis ini demikian nekat? Mungkinkah gadis ini mencintanya? Ah, bagaimana mungkin? Semua orang, terutama kaum wanita, takut dan benci kepadanya, ji­jik melihat keadaan tubuhnya. Bagaima­na mungkin ada yang jatuh cinta kepadanya? Dan gadis ini bukan seorang gadis yang buruk rupa ataupun cacat, melainkan seorang gadis yang sehat lahir ba­tinnya, bahkan cantik manis dan pasti akan mudah menundukkan hati pria yang manapun.

"Maafkan aku, Ling Ling. Sudahlah, sekarang lebih baik kita makan. Perut kita sudah lapar sekali. Aku masih me­nyimpan roti tawar, hanya tinggal men­cari daging segar untuk dijadikan teman roti."

"Tapi...."

"Ssstttt, di sana ada daging....!" Sie Liong yang sudah menyambar sebatang ranting dengan tangannya, tiba-tiba menyambitkan ranting itu ke arah kiri. Ranting itu meluncur bagaikan anak panah ke dalam semak-semak tak jauh dari situ dan seekor kelinci putih terguling keluar dengan leher tertembus ranting dan mati seketika. Melihat ini, tentu saja Ling Ling menjadi girang bukan main.

"Hebat, engkau hebat, Liong-ko! Kelinci ini gemuk sekali.... ah, akan kubuatkan daging kelinci panggang yang lezat untukmu, Liong-ko." Tiba-tiba ia kelihatan masgul dan mengeluh. "Ahh, bagaimana mungkin dapat lezat tanpa bumbu?"

Melihat wajah gadis yang tadinya amat gembira itu tiba-tiba menjadi se­dih, Sie Liong tersenyum. "Jangan kha­watir, Ling Ling. Bumbu apakah yang kaubutuhkan? Katakan saja!"

Gadis itu memandang wajah Sie Liong dengan putus asa. Yang dibutuhkannya itu hanya dapat dibeli di pasar, mana mungkin pendekar itu akan bisa dia mendapatkan daging kelinci tadi? Dengan lesu iapun menjawab, "Lada untuk penghilang bau amis, atau jahe, bawang putih untuk penyedap, garam.... dan gula agar terasa gurih dan manis.... agar terasa gurih dan manis...."

Akan tetapi, Ling Ling terbelalak ketika Sie Liong mengeluarkan barang-barang yang ia butuhkan itu dari dalam buntalan pakaian. Bumbu lengkap! Ling Ling bersorak gembira.

"Searang pengelana harus selalu menyimpan dan membawa bekal bumbu-bum­bu ini, Ling Ling."

Akan tetapi gadis itu kini bekerja keras, apalagi ketika Sie Li­ong menyerahkan sebatang pisau yang tajam, yang juga menjadi bekal Sie Liong untuk keperluan memasak makanan. Ia lupa akan dinginnya hawa udara dan sam­bil bersenandung lagu rakyat Tibet, Ling Ling menguliti kelinci gemuk itu dan mengambil dagingnya. Kegembiraan gadis itu menular pada Sie Liong. Dia­pun merasa gembira dan lincah, merasa seolah dia menjadi kanak-kanak atau remaja kembali. Dia mempersiapkan ranting penusuk daging, membantu Ling Ling dan tak lama kemudian, bau daging panggang yang sedap karena bumbunya leng­kap, membuat perut mereka semakin ke­ras berkeruyuk saling bersahutan. Sie Liong mengeluarkan bungkusan roti ta­war dan seguci anggur merah yang tidak keras, melainkan anggur manis. Dan ke­mudian merekapun makan roti tawar de­ngan daging kelinci panggang yang be­nar lezat karena masih segar, lunak dan gurih.

Ketika mereka makan inipun Sie Liong menemukan kenyataan yang membuat dia semakin termenung dan hatinya ber­debar aneh. Mengapa mereka berebut sa­ling memilihkan daging terbaik? Menga­pa mereka saling mementingkan dan sa­ling memperhatikan? Inikah cinta? Dia merasa heran dan ragu. Pernah dia mengalami perasaan seperti ini, ketika berhadapan dengan Yauw Bi Sian, kepo­nakannya! Hanya bedanya, kalau dari Bi Sian dia tidak merasakan perhatian la­in kecuali kasih sayang yang kekanak-kanakan dari seorang keponakan yang sejak kecil menjadi temannya bermain, sebaliknya dari Ling Ling dia merasakan perhatian yang lain, yang lebih dewasa dan membuat dia merasa dimanja, merasakan suatu kemesraan yang belum pernah dirasakannya. Inikah cinta? Dia tidak dapat menjawabnya. Terlampau pagi un­tuk menduga sejauh itu.

Kini, perut mereka tidak berkeru­yuk lagi. Mereka menemukan sumber air tak jauh dari situ. Setelah mencuci tangan dan mulut, mereka duduk lagi menghadapi api unggun. Malam mulai larut dan mereka membesarkan api unggun untuk mengusir dingin dan nyamuk. Kem­bali mereka saling berpandangan mela­lui atas nyala api.

"Ling Ling...." Sie Liong mera­gu, suaranya lirih dan seolah dia sangsi apakah perlu dia menyatakan isi ha­tinya.

Gadis itu memandangnya dan bibir itu terseryyum. Bibir yang kini nampak merah segar, tidak layu dan agak pucat seperti ketika kelaparan dan keletihan menguasainya tadi.

"Ya, Liong-ko?"

"Aku heran sekali...."

Melihat pemuda itu meragu, Ling Ling menjadi penasaran. "Apa yang kau­herankan, Liong-ko?"

"Engkau...."

"Eh? Aku kenapa sih?" Ling Ling tertawa kecil. "Apakah mataku tiga? Hidungku dua? Apanya yang mengherankan pada diriku?"

"Seorang gadis seperti engkau.... kenapa nekat ingin ikut dengan aku? A­ku seorang laki-laki yang sebatangkara, miskin dan tidak mempunyai apa-apa...."

"Sama dengan aku!" Ling Ling me­nyambung cepat.

"Akan tetapi engkau seorang gadis yang cantik dan masih muda, sedangkan aku...."

"Engkau seorang pendekar yang budiman, seorang jantan yang hebat sekali, mengagumkan dan...."

"Bukan itu maksudku, Ling Ling. Aku seorang laki-laki yang cacat, bong­kok dan menjijikkan...."

"Cukup!" Ling Ling berteriak dan ia mengerutkan alisnya, sepasang matanya bersinar-sinar seperti orang ma­rah. "Liong-ko, kenapa engkau begitu merendahkan diri? Ketika engkau muncul di ambang pintu itu, ketika semua ga­dis ketakutan melihatmu dan mengira engkau seorang penjahat karena cacat tubuhmu, aku melihat betapa engkau se­perti menerima tamparan atau tusukan. Aih koko, aku tidak dapat melupakan pandang matamu di saat itu dan di saat itu pula aku.... aku memutuskan untuk ikut denganmu, ke manapun engkau pergi...." Kini sepasang mata yang tadinya nampak marah itu menjadi lembut sinarnya, mata itu seperti redup.

"Kenapa, Ling Ling? Itulah yang ingin sekali kuketahui! Kenapa tiba-tiba engkau mengambil keputusan yang be­gitu nekat? Pergi mengikuti aku yang tidak kaukenal sama sekali?"

"Pada saat itu aku melihat pan­dang matamu seperti itu, koko, aku.... aku merasa hatiku tertusuk, aku merasa terharu dan kasihan sekali kepadamu. Ingatkah engkau betapa aku menangis sesenggukan, menangis dengan sedih? Bu­kan hanya karena aku tidak ada yang menjemput, bukan hanya karena aku ta­kut membayangkan harus kembali ke ru­mah orang tua angkatku, melainkan ter­utama sekali karena kasihan kepadamu!"

Sie Liong menatap tajam wajah ga­dis itu. "Engkau kasihan kepadaku karena.... aku bongkok? Karena cacat tu­buhku?"

Dengan tegas Ling Ling menggeleng kepalanya. "Sama sekali tidak! Kenapa cacat tubuhmu harus dikasihani? Biar­pun engkau mempunyai cacat, akan teta­pi cacat itu sama sekali tidak meng­ganggumu, bahkan engkau memiliki kesaktian luar biasa. Tidak, aku bukan kasihan karena cacatmu, koko, melainkan kasihan karena engkau begitu menderita batin karena cacat itu, yang membuatmu begitu merendahkan diri. Engkau tentu merasa betapa semua orang, terutama wanita, jijik dan benci kepadamu...."

"Memang kenyataannya demikian!" kata Sie Liong, suaranya agak keras.

"Tidak, tidak semua merasa seper­ti itu! Hanya perempuan yang tinggi hati saja yang memandang rendah kepada seorang pria ydng cacat. Padahal, ca­cat tubuh bukan hal yang terlalu mema­lukan, tidak seperti cacat batin! Ti­dak, koko, tidak semua perempuan benci kepadamu, setidaknya.... aku kagum padamu, aku menganggap engkau orang yang paling baik di dunia ini, dan paling gagah...."

".... dan paling buruk?" Sie Liong menambahkan swnbil tersenyum pahit. Ling Ling mengerutkan alisnya.

"Liong-ko, jangan tersenyum seperti itu! Begitulah engkau tersenyum ke­tika berdiri di ambang pintu itu, ter­senyum seolah engkau melihat dunia kiamat dan engkau tidak perduli! Tidak, koko. Siapa bilang engkau paling buruk? Bagiku, engkau gagah dan tampan!"

Sie Liong membelalakkan matanya, menatap wajah gadis itu, jantungnya berdebar keras. Dan diapun bertanya kepada matanya, bagaimana gadis itu nam­pak dalam pandangannya, dan dia meli­hat seorang gadis yang amat cantik me­nis, yang menimbulkan rasa iba dan su­ka, seorang gadis yang membuat dia me­rasa berbahagia, pandang mata yang be­ning itu seperti memberi nyala hidup dalam hatinya, senyum manis di bibir itu seperti tetesan embun pagi pada pe­rasaannya yang mulai mengering dan dia pun tiba-tiba tertawa bergelak. Suara ketawanya bebas lepas dan nyaring, me­mecahkan kesunyian malam. Beberapa e­kor burung yang bertengger di pohon yang berdekatan sampai terkejut, dan bunyi kelepak sayap mereka menandakan bahwa mereka itu terkejut dan terbang pergi menjauhi suara aneh itu.

Ling Ling juga memandang kepada Sie Liong dengah sinar mata khawatir. Suara ketawa pemuda itu mula-mula perlahan, makin lama semakin kuat dan aneh­nya, ia seperti mendengar isak tangis terselip di antara bunyi tawa itu. Se­perti terdorong oleh sesuatu, Ling Ling bangkit berdiri, menghampiri Sie Liong dan berlutut di dekat pemuda itu yang masih duduk bersila sambil tertawa. Dipegangnya pundak pemuda itu, diguncangnya dan iapun berteriak dengan geli­sah.

"Liong-ko....! Liong-ko... Kau.... kau kenapa, Liong-ko?"

Ketika merasa betapa tubuhnya diguncang-guncang, Sie Liong baru sadar. Kalau tadi ketika tertawa dia menenga­dah, kini dia menundukkan muka dan suara ketawanya terhenti. Ketika dia melihat Ling Ling di dekatnya dan gadis i­tu kelihatan gelisah hampir menangis, mengguncang pundaknya, Sie Liong ingat akan keadaan dirinya dan seperti dido­rong oleh sesuatu yang amat kuat, dia lalu merangkul.

"Ling Ling....!"

"Liong-ko.... ah, Liong-koko....!"

Keduanya Saling rangkul, hanya berpelukan saja dengan kuatnya seolah-olah ingin menjadi satu dan tidak akan berpisah lagi. Rangkulan yang penuh dengan keharuan dan rasa syukur, tidak mengandung nafsu berahi sama sekali.

Sie Liong yang lebih dulu sadar bahwa keadaan mereka itu tidak semestinya. Dengan lembut dia melepaskan rangkulannya. Merasa akan hal ini, Ling Ling juga melepaskan rangkulannya akan tetapi ia diam saja ketika kedua tangannya dipegang oleh kedua tangan Sie Liong. Mereka berhadapan, saling berpegang tangan dan dengan suara menggetar karena keharuan Sie Liong berkata lirih.

"Ling Ling, terima kasih, engkau telah mengembalikan harga diriku!"

"Dan engkau telah mengembalikan pengharapanku untuk menghadapi penghi­dupan yang kejam ini, Liong-ko."

"Nah, sekarang mengasolah. Engkau harus tidur yang enak agar besok memi­liki cukup tenaga untuk melanjutkan perjalanan, Ling Ling."

Ling Ling bangkit berdiri, lalu membongkar buntalan pakaiannya. Dikeluarkan sehelai selimut, dibentangkan selimut itu di atas rumput dekat api unggun.

"Akan tetapi engkau bagaimana, Liong-ko? Engkaupun harus mengaso!"

Pemuda itu tersenyum. "Aku sudah terbiasa dengan kehidupan begini, Ling Ling. Aku tidak perlu tidur karena ha­rus menjagamu, menjaga agar api unggun tidak padam. Tidurlah, dengan bersila saja aku akan dapat melepaskan lelah."

"Baiklah, Liong-ko," Gadis itu menguap dan menutupi mulut dengan pung­gung tangan karena ia merasa lelah se­kali dan mengantuk. Begitu ia merebah­kan diri miring, iapun pulas. Ia mi­ring menghadap api unggun sehingga Sie Liong dapat melihat mukanya. Hatinya penuh rasa haru dan sayang melihat wa­jah itu tidur pulas dengan mulut tersenyum membayangkan kebahagiaan, dan na­pasnya amat halus. Seorang gadis yang baik!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sie Liong sudah pergi ke sumber air dan mandi. Hawa amat dingin, akan tetapi karena tubuhnya memang kuat se­kali, maka mandi di waktu pagi itu te­rasa amat segar dan nyaman. Tubuhnya mengepulkan uap putih ketika dia merendam tubuhnya ke dalam air yang amat dingin itu. Dia merasa segar sekali ketika dia kembali ke tempat mereka melewatkan malam dan dia mendapatkan Ling Ling sudah bangun. Pakaian dan rambut­nya kusut, namun hal ini tidak mengu­rangi kecantikan gadis itu. Melihat Sie Liong datang dengan rambut masih basah, gadis itu tertawa kecil.

"Aih, sepagi ini dan sedingin ini engkau agaknya telah mandi, koko! Hih, hih, aku tidak berani mandi. Hawa begi­ni dinginnya dan air itu tentu dingin seperti salju!" Ia mengeluarkan pakaian dari dalam buntalannya. "Akan tetapi aku akan bertukar pakaian dan mencuci yang kotor. Kesinikan pakaianmu yang kotor, Liong-ko, akan kucuci sekalian!"

Sie Liong memperlihatkan pakaian yang masih basah dan sudah diperasnya. "Sudah kucuci tadi!" katanya.

Gadis itu cemberut. "Aih, koko. Berulang kali engkau mencuci sendiri pakaianmu. Apakah kaukira aku tidak dapat mencuci bersih? Itu sudah menjadi kewajibanku, koko. Lain kali jangan kaucuci sendiri!"

Sie Liong mengangguk dan tertawa. "Baiklah, Ling Ling, aku berjanji."

Gadis itu berlari kecil menuju ke sumber air yang berada kurang lebih tiga ratus meter dari situ, menuruni tebing yang tidak curam. Sie Liong memandang sejenak dari belakang, tersenyum dan setelah gadis itu menghilang di balik semak dan batang pohon, diapun membuat persiapan untuk memanggang sisa roti tawar semalam untuk dipakai sarapan.

Sie Liong merasa gembira bukan main pagi itu. Dia merasa seolah-olah mengalami hidup baru. Suasana nampak in­dah bukan main. Matahari pagi dengan lembut mengusir kabut pagi, menggugah burung-burung yang kini sibuk membuat persiapan untuk melaksanakan tugas ke­wajiban mereka sehari-hari, yaitu men­cari makan. Rumput dan daun pohon juga tergugah, nampak berseri dan segar, dihias butir-butir embun yang seperti mutiara berkilauan tertimpa sinar matahari pagi yang masih lemah. Kicau burung bagaikan musik yang amat riang dan merdu. Sie Liong tersenyum-senyum seorang diri. Tiba-tiba dia mengerutkan alis­nya. Roti yang dipanggangnya sudah ma­tang sejak tadi. Terlalu lama gadis i­tu pergi ke sumber air, pikirnya. Biarpun dengan mencuci pakaian, pakaian itu tidak berapa banyak. Mestinya sudah selesai sejak tadi. Dia bangkit berdi­ri dan memandang ke arah hutan, di ma­na terdapat sumber air itu. Tidak nam­pak dari situ karena selain tertutup semak dan pohon, juga jalan ke sumber air itu agak menurun.

"Ling Ling....!" Dia berteriak memanggil, mengerahkan tenaganya a­gar suaranya sampai ke sumber air itu. Dia menanti jawaban, namun tak kunjung tiba.

"Ling Ling, rotinya sudah masak...." Dia berteriak lagi, lebih nyaring. Juga tidak terdengar jawaban. Dia mengerutkan alisnya. Tak mungkin gadis itu tidak mendengar, dan andaikata gadis itu menjawabnya, tentu dengan pen­dengarannya yang peka terlatih, dia a­kan dapat mendengarnya. Memang tidak pantas kalau dia mendatangi sumber air itu. Siapa tahu gadis itu sedang mandi dan telanjang. Akan tetapi kekhawatir­an hatinya membuat dia melangkah ke a­rah sumber air. Setelah tiba di atas tebing, dia berhenti dan mendengarkan. Hanya suara gemercik air sumber berma­in dengan batu-batu yang terdengar. Tidak terdengar suara orang mandi, bermain di air, atau mencuci pakaian. Akan tetapi dia masih belum mau turun.

"Ling Ling....!" Dia memanggil lagi. Kini tidak mungkin sama sekali kalau gadis itu tidak mendengar karena sumber itu berada dekat di bawahnya, walaupun belum nampak dari situ karena terhalang batu-batu besar. Tidak ada jawaban. Sie Liong tidak ragu-ragu lagi, dengan hati gelisah dia meloncat turun. Dia memandang ke sana-sini. Ti­dak nampak bayangan Ling Ling.

"Ling Ling....!" Akan tetapi tetap saja tidak ada jawaban. Ketika dia mendekat ke sumber air, dia terkejut sekali melihat pakaian Ling Ling berada di situ, baik pakaian kotor yang akan dicucinya tadi maupun pakai­an kering untuk ganti. Gadis itu lenyap, tanpa berpakaian! Wajahnya seke­tika pucat ketika detik jantungnya se­perti terhenti, kemudian jantung itu berdebar-debar penuh ketegangan. Diterkam harimau atau binatang buas lain? Tentu ada bekas darahnya. Dengan muka pucat dia lalu meneliti ke atas tanah, mencari bekas atau bercak darah. Tidak ada darah, yang ada hanyalah jejak-je­jak kaki! Jejak banyak sepatu dengan ukuran besar. Banyak laki-laki baru saja berada di tempat itu! Dan jejak itu masih baru sekali. Celaka, pikirnya, Ling Ling tentu diculik oleh entah be­rapa orang laki-laki, dalam keadaan telanjang bulat! Dengan hati tidak karu­an rasanya, dipenuhi kegelisahan, dia lalu mengikuti jejak itu dengan cepat. Jejak itu membawanya masuh hutan. Dia berlari dengan cepat mengikuti jejak itu dan tiba-tiba dia mendengar suara-suara tertahan, seperti mulut yang menjerit akan tetapi dibungkam. Cepat dia meloncat ke kiri, ke arah suara dan matanya terbelalak, melotot ketika meli­hat apa yang terjadi di balik semak-semak belukar, di atas rumput tebal itu.

Ling Ling, dalam keadaan telan­jang bulat, sedang menggeliat-geliat dan melawan mati-matian terhadap lima orang laki-laki yang hendak menggelutinya! Empat orang memegangi kedua ta­ngan dan kakinya yang dipentang dan seorang lagi, yang brewokan, sambil ter­kekeh-kekeh berusaha untuk memperkosa­nya! Ling Ling meronta-ronta, menggi­git, menjerit, akan tetapi mulutnya dibungkam. Biarpun demikian, bagaikan seekor singa betina Ling Ling memperta­ruhkan kehormatannya.

Dari dalam dada Sie Liong keluar lengking panjang yang menggetarkan hu­tan itu. Lima orang itu terkejut, menengok. Akan tetapi Sie Liong sudah ti­dak dapat lagi menahan kemarahan hatinya yang seolah-olah dibakar api. Matanya mencorong, napasnya seperti menge­luarkan uap panas, dan begitu tubuhnya menerjang ke depan, tangannya menyam­bar dan rambut kepala si brewok itu telah dijambaknya dan sekali angkat, tu­buh si brewok yang setengah telanjang itu telah diangkat dan diayun-ayun ke atas kepalanya seolah-olah tubuh si brewok yang tinggi besar itu hanya se­helai kain saja. Si brewok berteriak-teriak ketakutan setengah mati, akan tetapi Sie Liong dengan kemarahan meluap-luap membanting tubuh itu ke atas sebongkah batu.

"Prakkk!" kepala si brewok itu pecah dan otaknya berantakan bersama da­rah.

Melihat betapa pemimpin mereka tewas dalam keadaan demikian mengerikan, empat orang itu terbelalak dan mereka melepaskan kaki dan tangan Ling Ling. Dengan marah, mereka yang belum menyadari bahwa mereka berhadapan dengan seorang pendekar sakti, mereka mencabut golok dari punggung masing-masing dan serentak mereka menyerang Sie Liong dengan golok mereka. Akan tetapi, Sie Liong mengeluarkan suara melengking lagi, menyambut mereka dengan kaki kanan yang melakukan tendangan berputar.

Terdengar teriakan-teriakan kesa­kitan dan empat batang golok terpental lepas dari tangan empat orang itu. Mereka mengaduh-aduh, memegangi tangan kanan dengan tangan kiri karena pergelangan tangan mereka telah patah disambar tendangan memutar tadi! Kini mereka memandang dengan mata terbelalak, penuh rasa takut melihat pemuda bong­kok itu dengan langkah perlahan-lahan menghampiri mereka. Saking takutnya, mereka lalu menjatuhkan diri berlutut.

"Ampun.... ampunkan kami...."

Akan tetapi, lengkingan ketige kalinya terdengar dan kembali kaki Sie Liong bergerak menendang. Empat kali dia menendang, dan tubuh empat orang itu terjengkang dan mereka tewas seketika dengan tulang leher patah-patah!

Ling Ling yang berlutut di atas tanah, memandang dengan muka pucat dan tubuh menggigil. Biarpun ia merasa me­rah dan membenci lima orang itu, namun ia merasa ngeri melihat pembunuhan itu terjadi di depan matanya, melihat betapa lima orang itu tewas seketika, melihat Sie Liong yang biasanya lemah lem­but itu mengamuk, seperti iblis maut sendiri!

Sie Liong meloncat dan melihat gadis itu dalam keadaan telanjang bulat berlutut di atas tanah, diapun lalu menghampirinya.

"Ling Ling...., kau tidak apa-apa....?" tanyanya lembut.

"Liong-ko....!" Ling Ling menjerit dan iapun pingsan dalam dekapan Sie Liong. Pemuda itu lalu memondong­nya, membawanya ke sumber air, mengambil pakaian Ling Ling dan membawa gadis itu ke tempat mereka melewatkan malam tadi. Dengan memaksa matanya agar jangan melihat bagian terlarang dari tubuh gadis itu, dia merebahkan Ling Ling ke atas selimut dan menyelimuti tubuh yang telanjang. Baru ia memijat-mijat tengkuk gadis itu untuk menyadarkannya. Ling Ling siuman kembali, mengeluh dan membuka matanya. Tiba-tiba ia terbelalak dan menjerit karena ia teringat akan peristiwa tadi. Jerit melengking ketakutan sambil bangkit duduk. Sie Liong merangkul gadis yang menjerit-jerit histeris itu. Begitu dirangkul, Ling Ling meronta dan menjerit semakin nyaring.

"Lepaskan aku....! Lepaskan! Keparat jahanam kalian.... lepaskan akuuuu....!"

Sie Liong mendorong gadis itu dan memaksanya untuk memandang kepadanya.

"Ling Ling, lihat siapa aku....!" katanya setengah membentak untuk menyadarkan gadis yang dilanda ketakutan dan kengerian itu. Ling Ling terbelalak memandang, sadar dan merangkul.

"Liong-ko.... ah, Liong-ko....!"

Dan diapun menangis di dada Sie Liong, tidak sadar bahwa selimut yang menutupi tubuhnya terbuka.

"Tenanglah, Ling Ling. Tenanglah, engkau sudah terbebas dari lima orang anjing itu! Tenanglah, dan pakailah pakaian ini...." Sie Liong menutupkan lagi selimut menutupi tubuh gadis itu.

Ling Ling baru sadar bahwa ia masih telanjang bulat. Hal ini mengingatkan ia akan pengalaman tadi dan ia bergidik ngeri. Lalu dengan kedua tangan gemetar ia mengenakan pakaiannya di balik selimut. Sie Liong duduk di atas rumput membelakangi gadis itu, alisnya berkerut dan berulang kali dia menarik napas panjang. Dia termenung dan wajahnya muram sekali.

Tangan itu dengan lembut menyentuh pundaknya, dan suara itu lirih berbisik penuh kekhawatiran. "Liong-ko, engkau kenapakah....! Liong-ko, kenapa kau diam saja? Tadi.... ketika aku berada di sumber, ketika aku habis mencuci muka membersihkan diri, ketika hendak berganti pakaian, tiba-tiba me­reka itu datang menyergapku. Aku tidak dapat menjerit karena mereka membung­kam mulutku. Aku melawan mati-matian. Ketika engkau berteriak memanggil namaku, mereka lalu membawa aku pergi ke hutan itu dan di sana.... ahh, un­tung engkau datang tepat pada waktunya, Liong-ko. Hampir aku tidak kuat bertahan lagi...."

Tiba-tiba Sie Liong mengepal tinju dan tangan Ling Ling yang memegang pundak itu cepat ditarik kembali kare­na kaget. Pundak itu seperti mengeluarkan tenaga yang panas! Ling Ling me­langkah maju dan memandang wajah pemu­da itu. Ia terkejut. Wajah itu pucat, mata itu seperti sayu dan sedih, seperti akan menangis!

"Liong-ko, engkau kenapakah? Eng­kau kelihatan begini berduka! Apa yang telah terjadi?"

Suara itu parau dan penuh penye­salan. "Aku telah membunuh mereka...."

Gadis itu memandgng heran. "Tentu saja, koko! Orang-orang seperti mereka memang layak kaubunuh! Mereka itu ja­hat sekali!"

Sie Liong menghela napas panjang. "Untuk menentang kejahatan, memang ka­dang-kadang terpaksa membunuh, akan tetapi tidak seperti yang kulakukan tadi, Ling Ling. Membunuh karena benci! Mem­bunuh dengan hati dipenuhi dendam ke­bencian, karena aku melihat mereka memperlakukan engkau seperti itu. Membu­nuh karena cemburu dan benci. Ah, aku menjadi kejam sekali, tidak ada bedanya dengan mereka....!"

"Tentu saja engkau berbeda sekali dengan mereka! Engkau seorang pendekar sakti yang budiman, penentang kejahat­an, dan mereka itu adalah segermbolan orang jahat yang berhati kejam, yang suka melakukan kejahatan. Bayangkan saja andaikata tidak ada engkau, Liong-ko, aih.... aku akan tertimpa malapetaka yang bagiku lebih mengerikan dan menyedihkan daripada maut sendiri. Engkau sudah benar, Liong-ko, tidak a­da sesuatu untuk disesalkan."

Sie Liong memandang gadis itu dan tersenyum, akan tetapi senyumnya tidaklah segembira malam tadi atau pagi ta­di sebelum terjadi peristiwa itu.

"Engkau tidak mengerti, Ling Ling. Sudahlah, mari kita kemasi barang kita untuk melanjutkan perjalanan. Akan te­tapi, sebelum itu aku akan menguburkan dulu lima jenazah itu."

"Menguburkan mereka?" Gadis itu terbelalak, akan tetapi melihat sinar mata pendekar itu, iapun menunduk. "Baiklah, Liong-ko.... aku hanya menuruti semua perintahmu."

Mendengar jawaban ini dan melihat sikap Ling Leing, senyumnya melebar dan tidak begitu pahit lagi. Gadis ini sungguh merupakan sinar baru dalam kehidupannya. Dia tadi merasa terpukul dan berduka sekali mengenangkan keke­jaman yang telah dilakukannya terhadap lima orang yang tidak dikenalnya itu. Dan dia tahu bahwa kekejaman itu dia lakukan karena cemburu dan kebencian yang amat hebat. Padahal, kebencian merupakan suatu hal yang harus dihindarkan, demikian yang selalu dipesan­kan oleh Pek-sim Sian-su kepadanya.

Tak lama kemudian, Sie Liong sudah membuat lubang kuburan untuk lima jenazah orang-orang yang tidak pernah dikenalnya itu. Ling Ling hanya menon­ton dari kejauhan, tidak mau mendekat karena merasa ngeri. Diam-diam gadis ini semakin kagum kepada Sie Liong. Seorang pendekar sakti yang budiman, gagah perkasa, namun berhati lembut. Ma­na ada orang mau menguburkan jenazah orang-orang jahat yang tadi menjadi musuhnya?

Setelah selesai mengubur jenazah lima orang yang dibunuhnya itu dengan sederhana namun pantas, Sie Liong lalu mengajak Ling Ling melanjutkan perja­lanan ke selatan.

Penyesalan dan bertaubat tidak akan ada gunanya kalau hal itu datang dari pikiran belaka. Pikiran hanya alat dalam kehidupan ini, namun pikiran sudah bergelimang dengan daya rendah sehingga menjadi budak dari nafsu. Perbuatan apapun yang dilakukan menurut pikiran tentu mengandung nafsu, karena pikiran sendiri sudah bergelimang naf­su. Karena akibat dari perbuatan yang dikemudikan nafsu ini, yang dasarnya mengejar kesenangan dan kepuasan, menuju ke arah kerugian lahir batin, maka timbul penyesalan dan keinginan bertaubat. Penyesalan dan bertaubat ini selalu muncul kalau akibat dari pada perbuatan berdasarkan nafsu itu datang menimpa diri. Namun, kalau hanya pikiran yang berjanji untuk bertaubat, biasa­nya hal itu hanya sementara saja dan akan tiba saatnya pikiran melupakan janjinya atau sengaja melanggar karena tidak mampu menahan desakan nafsu.

Penyesalan dan bertaubat baru ada gunanya kalau kita menyerahkan diri kepada Tuhan! Hanya Tuhanlah yang akan dapat membersihkan pikiran dari cengkeraman daya rendah. Kekuasaan Tuhan sajalah yang akan dapat mengatur segala Besuatu menjadi beres dan tertib, sesuai dengan kedudukan dan tugas masing-masing. Sebaliknya, pikiran tidak mungkin dapat menertibkan diri sendiri, karena usahanya itupun masih dalam tuntunan nafsu. Keinginan akan sesuatu, itulah sifat nafsu. Ingin begini atau tidak ingin begini masih sama saja, ditujukan untuk mencari kesenangan, kee­nakan, kepuasan. Ingin bebas dari nafsu! Inipun merupakan ulah nafsu! Yang "ingin" bebas inipun nafsu, dengan ha­rapan bahwa kalau bebas dari nafsu itu tentu menyenangkan, tidak menyusahkan, dan segala harapan yang enak-enak. Ma­ka terjadilah keinginan bebas dari nafsu yang diinginkan oleh nafeu. Jelas tidak mungkin! Selama ada keinginan a­kan sesuatu, di situ nafsu bekerja dan merajalela.

Lalu timbul pertanyaan tentunya. Bagaimanakah kita harus melangkah agar kita dapat terbebas dari nafsu? Kita harus berhati-hati karena pertanyaan inipun datang dari nafsu itu sendiri! Karena itu, satu-satunya jalan bagi kita adalah melihat kenyataan! Kenyataannya ialah bahwa pikiran kita bergeli­mang daya-daya rendah, pikiran kita dikuasai nafsu. Titik! Kita menyerah kepada Tuhan, menyerah dengan penuh ke­pasrahan, penuh keikhlasan, tanpa membiarkan diri diseret ke dalam keinginan-keinginan ini dan itu. Tuhan Maha Kua­sa dan Maha Kasih!


Telaga Nam berada di kaki Pegunungan Thang-la, di sebelah utara kota Lashe, ibu kota di Tibet. Biarpun telaga ini amat indah, namun tidak banyak orang datang berkunjung, karena tempat ini terlalu jauh di barat bagi mereka yang tinggal di Propinsi-propinsi Cing-hai, Sin-kiang, Se-cuan, atau Yun-nan. Hanya beberapa orang penduduk Tibet yang berkeadaan mampu saja yang kadang-kadang berpesiar ke Telaga Nam. Orang-orang Han jarang yang tiba di tempat itu. Orang Han yang berdatangan ke Tibet hanyalah mereka yang berdagang, dan yang mereka kunjungi hanyalah kota-kota besar seperti La-sha. Yang berkunjung ke telaga Nam hanya orang-orang Tibet atau peranakan Han Tibet.

Akan tetapi, pada pagi hari yang cerah itu, nampak seorang pemuda dan seorang gadis mendayung perahu kecil di telaga itu. Mereka merupakan pasangan yang cocok sekali. Senang orang me­mandangnya. Yang pria merupakan seo­rang pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh satu tahun, wajahnya tampan dan pakaiannya yang berwarna biru dan kuning itu rapi, menambah ketampanan­nya. Wajahnya dengan kulit muka putih bersih itu berbentuk bulat, sepasang alisnya berbentuk golok dan hitam sekali. Hidungnya besar mancung dan mulut­nya selalu tersenyum mengejek. Sepa­sang matanya tajam mencorong, Akan te­tapi kadang-kadang ada kilatan aneh seperti mengandung kekejaman. Adapun yang wanita adalah seorang gadis baru­sia kurang lebih delapan belas atau sembilan belas tahun. Seorang gadis yang berwajah manis sekali, dengan sepasang mata yang kocak, tajam dan jeli. Wajah yang manis ini menjadi semakin menarik karena selalu cerah, penuh dengan senyum dan pandang mata jenaka, wajah yang hampir selalu berseri. Anehnya gadis ini mengenakan pakaian tambal-tambalan, padahal pakaian itu bersih sekali dan kain-kain tambalan itu sama sekali bukan kain buntut. Agaknya me­mang dibuat tambal-tambalan, dari bahan kain yang baru! Di punggungnya tergantung sebatang pedang.

Mereka itu adalah Yauw Bi Sian dan sutenya, Coa Bong Gan. Biarpun Bong Gan lebih tua dari Bi Sian, namun dia terhitung sute (adik seperguruan) gadis itu karena gadis itu yang lebih dulu menjadi murid Koay Tojin. Seperti kita ketahui, Bi Sian marah dan mendendam kepada Sie Liong, adik ibunya yang dahulunya menjadi teman sepermainan dan dahulu amat disayangnya itu. Ia merasa yakin bahwa pamannya itu telah membunuh ayahnya, dan karena itu maka ia minggat dari rumah untuk mencari Sie Liong dan membalas dendam atas kematian ayahnYa. Dan ia minta bantuan sutenya, Coa Bong Gan, untuk membantunya mencari Sie Liong dan membalas dendam karena ia tahu bahwa Sie Liong a­mat lihainya sebagai murid supeknya, yaitu Pek-sim Sian-su.

Karena dua orang ini mencari dengan sungguh-sungguh, dengan teliti, dan karena Sie Liong merupakan seorang yang bongkok dan mudah diikuti jejaknya, maka akhirnya Bi Sian dan Bong Gan mengikuti jejak Sie Liong ke daerah Tibet! Dan di sepanjang perjalanan, mereka mendengar akan sepak terjang Pendekar Bongkok. Mereka menduga bahwa tentulah Sie Liong yang dijuluki Pendekar Bongkok, maka mereka terus melakukan pengejaran. Akan tetapi setelah tiba di daerah Tibet, mereka kehilangan jejak Sie Liong. Daerah ini merupakan daerah yang masih liar dan jarang penduduknya. Berhari-hari mereka melalui daerah yang tidak ada dusunnya, maka tentu saja amat sukarnya mencari seseorang di daerah itu, biarpun orang itu mempunyai cacat bongkok sekalipun.

"Semua orang yang pergi ke Tibet tentu akan berkunjung ke ibu kota Tibet, yaitu kota Lasha," kata Bong Gan. "Sebaiknya kita pergi saja ke sana. Kalau kita tidak dapat menemukan dia di sana, setidaknya kita tentu a­kan dapat mencari keterangan tentang dia."

Bi Sian menyetujui pendapat sutenya dan pergilah mereka menuju ke Lasha. Pada pagi hari itu, mereka tiba di Telaga Nam. Melihat keindahan tempat itu, mereka berhenti dan ingin berpesiar dulu di situ selama satu dua hari. Bi Sian tidak perduli akan pandangan orang melihat pakaiannya yang aneh, penuh tambalan namun baru. Memang ia setia kepada kebiasaan gurunya, yaitu Koay Tojin, dan biar sekarang tidak melakukan perjalanan bersama gurunya lagi, namun ia tetap masih mempergunakan pakaian tambal-tambalan. Ia sendiri tidak tahu apakah rasa suka akan pakaian tambal-tambalan ini karena sudah terbiasa, ataukah memang ingin sederhana, ataukah melalui kesederhanaan dan tambal-tambalan yang tidak wajar itu justeru ia ingin menonjolkan diri agar diperhatikan orang!

Kesederhanaan yang ditonjolkan dan disengaja, bukanlah kesederhanaan lagi namanya, melainkan kesombongan terselubung! Kesederhanann yang mempunyai arti adalah kalau orang itu tidak merasa lagi bahwa dia sederhana! Kesederhanaan adalah kewajaran, tidak dibuat-buat, dan merupakan suatu keadaan ke­pribadian seseorang. Bukan terletak pada pakaian seadanya, bukan terletak di luar, melainkan bersumber di sebelah dalam dirinya.

Berbeda dengan Bi Sian, Coa Bong Gan yang ketika kecilnya meniadi anak angkat seorang hartawan dan sudah bia­sa hidup royal, setelah berpisah dari gurunya, meninggalkan kebiasaan berpa­kaian tambal-tambalan. Dia mengenakan pakaian yang selalu rapi, walaupun ti­dak terlalu menyolok, tidak terlalu royal karena sucinya tentu akan menegurnya. Padahal, kalau dia mau, tentu saja dia bisa membeli pakaian yang mahal dan indah. Uangnya? Mudah saja! Di se­tiap kota terdapat hartawan dan tidak ada penjaga yang cukup kuat, tidak ada pintu yang cukup kokoh baginya ka­lau dia mau mengambil uang sekehendak hatinya dari gudang harta seorang har­tawan!

Semenjak melakukan perjalanan bersama Bi Sian, terjadi perang selalu dalam batin Bong Gan. Dia memaksa diri untuk bersikap baik dan sesuai dengan yang diinginkan sucinya. Dia memaksa diri bersikap sebagai seorang pendekar tulen dan di sepanjang perjalanan, mereka berdua selalu menentang kejahatan dan menolong mereka yang tertindas. A­kan tetapi sebenarnya, di lubuk hati­nya, Bong Can muak dengan semua itu. Bahkan dia harus menekan semua gejolak nafsunya. Semua ini dia lakukan bukan karena dia takut kepada sucinya, melainkan karena dia telah jatuh cinta ke­pada Bi Sian, karena dia tidak mau me­nentang semua kehendak Bi Sian, ingin selalu menyenangkan hatinya.

Di lain pihak, Bi Sian bukanlah seorang kanak-kanak lagi. Ia sudah berusia kurang lebih sembilan belas tahun, sudah cukup dewasa untuk dapat menduga apa yang terkandung dalam hati sute yang lebih tua itu terhadap dirinya. Dan ia selalu dalam bimbang ragu, karena ia sendiri belum yakin apakah ia juga mencinta sutenya itu sebagai seo­rang wanita mencinta seorang pria ataukah tidak. Ia suka kepada sute yang penurut itu, dan harus diakuinya bahwa Bong Gan adalah seorang pemuda yang baik, penurut, ramah, gagah perkasa dan juga tampan menarik! Akan tetapi, ia selalu mengusir kebimbangan ini dan mengambil keputusan bahwa sebelum ia mampu membalas kematian ayahnya terhadap Sie Liong, ia tidak akan memikirkan urusan cinta!

Orang yang sudah menjadi hamba nafsunya, akan merasa tersiksa kalau dia dalam waktu lama tidak berkesempatan untuk memuaskan gairah nafsu itu. Pemuasan nafsu itu sudah sedemikian dibutuhkannya, sudah mencengkeramnya se­hingga dia menjadi kecanduan. Hidupnya akan terasa hampa dan tidak ada arti­nya, tidak ada kesenangan kalau dia tidak mendapatkan kesempatan lagi untuk memuaskannya.

Demikian pula dengan Bong Gan. Sejak remaja, dia telah menjadi hamba nafsu berahi yang dibangkitkan oleh Pek Lan, selir ayah angkatnya yang ke­mudian menjadi kekasihnya sehingga perhubungannya dengan selir itu tertang­kap basah, membuat dia terusir dari rumah ayah angkatnya yang kaya raya. Ke­tika dia menjadi murid Koay Tojin, su­kar sekali baginya untuk melampiaskan nafsu berahinya. Dia adalah seorang yang amat cerdik. Dia tahu bahwa kalau dia melanggar, walaupun dengan sembunyi-sembunyi, suhunya yang amat lihai itu pasti akan mengetahuinya dan kalau sampai suhunya tahu bahwa dia melakukan suatu perbuatan yang menyeleweng, tentu suhunya marah kepadanya dan hal itu amat berbahaya. Maka, selama tujuh tahun mengikuti Koay ToSin bersama Bi Sian, Bong Gan bersikap jujur dan a­lim!

Lingkungan mempunyai pengaruh yang amat besar terhadap watak seseorang. Manusia merupakan mahluk yang tera­gung, terpandai akan tetapi juga amat lemahnya. Karena dalam dirinya terkan­dung daya-daya rendah yang memupuk nafsu yang sudah menyatu dengan hati perasaan dan akal pikirannya, maka mudah sekali manusia terpikat dan terpenga­ruh oleh keadaan lingkungannya. Terutama sekali lingkungan yang tidak sehat mudah sekali menyeret seseorang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan­nya. Segala tindak kemaksiatan memang mendatangkan kesenangan lahir dan ini memang merupakan umpan dari setan naf­su untuk memikat manusia. Karena itu, mudah sekali lingkungan yang sesat me­nyeret seseorang, biarpun orang itu tadinya alim dan tidak suka melakukan kesesatan. Bahkan lingkungan yang sehat dan bersih, biarpun daya tariknya ti­dak sekuat lingkungan yang sesat, te­tap saja dapat mempengaruhi seseorang untuk menyesuaikan diri.

Demikian pula dengan Bong Gan. Setelah dia hidup bersama Bi Sian dan Koay Tojin, setiap hari bergaul dengan mereka, bagaikan api, nafsu berahinya tidak lagi berkobar-kobar, melainkan kalau tidak padam juga mengecil. Nafsu berahinya bangkit sebelum waktunya, ketika dia berusia tiga belas tahun. Oleh karena itu, tidak begitu sukar baginya untuk dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan yang jauh dari nafsu berahi selama tujuh tahun itu. Ini sebabnya mengapa Koay Tojin, walaupun meragukan kebersihan batin murid ini, tidak menemukan suatu kesalahan dan biarpun berlawanan dengan perasaan nalurinya, tetap mengajarkan ilmu-ilmu yang tinggi kepada Bong Gan. Dan demikian pula Bi Sian. Setelah selama tujuh tahun bergaul dengan Bong Gan, ia melihat sikap dan sifat yang baik dalam tingkah laku Bong Gan selama itu, maka tentu saja iapun percaya kepadanya.

Baru setelah dua orang murid ini berpisah dari guru mereka, dan Bong Gan sudah berusia dua puluh tahun, pemuda ini mulai berani membiarkan nafsu berahinya berkobar lagi, berani dia mencarl wanita untuk memuaskan gairah nafsu berahinya, baik secara suka sama suka, secara suka rela, dengan cara membeli maupun dengan paksaan mengandalkan kepandaiannya. Namun, hal ini­ dilakukan dengan amat hati-hati, bahkan jarang dia memperoleh kesempatan karena biarpun sudah berpisah dari suhunya yang dia takuti, dia masih bersama sucinya (kakak seperguruan). Bukan karena dia takut kepada Bi Sian, melainkan karena dia jatuh cinta kepada gadis itu. Dia tidak ingin kelihat­an sesat dan buruk di depan Bi Sian. Dia tahu bahwa kalau sampai gadis itu mengetahui kesesatannya, tentu ha­rapannya untuk mempersunting bunga yang harum itu akan lenyap.

Ketika berada di Sung-jan, tempat tinggal orang tua Bi Sian, dia berma­lam di hotel dan karena itu dia mempu­nyai kesempatan untuk memuaskan nafsu berahinya dengan berkunjung ke rumah pelesir yang mewah. Celakanya, di situ dia bertemu dengan mendiang Yauw Sun Kok, ayah kandung Bi Sian! Tentu saja dia tidak ingin melihat orang ini memberitahu tentang keberadanya di rumah pelesir itu kepada Bi Sian, maka tidak ada jalan lain kecuali membunuhnya! Dibunuhnya Yauw Sun Kok dan diapun menyamar sebagai Sie Liong yang kelihatan­nya demikian disayang oleh Bi Sian se­hingga menimbulkan perasaan cemburu di hatinya. Perbuatannya ini berhasil ba­ik. Yauw Sun Kok terbunuh dan Sie Li­ong yang didakwa sebagai pembunuhnya.

Tentu saja dia merasa amat girang ketika Bi Sian minta bantuannya untuk mencari Sie Liong yang melarikan diri, membantunya membalaskan sakit hatinya karena Sie Liong telah membunuh Yauw Sun Kok, seperti telah dipercaya oleh semua orang. Inilah kesempatan baik baginya, bukan saja untuk dapat terus berdekatan dengan gadis yang dicinta­nya, akan tetapi juga untuk membalas jasa. Kalau mereka maju berdua, betapapun lihainya paman dari Bi Sian itu, tentu mereka berdua akan mampu merobohkannya. Memang si bongkok itu harus dibunuh sehingga rahasia pembunuhan atas diri Yauw Sun Kok itu akan tertutup selamanya.

Akan tetapi, setelah melakukan perjalanan selama tiga bulan, dia mu­lai merasa tersiksa. Gadis yang dicin­tanya itu, sedemikian dekatnya, setiap hari dia harus melihat segala kecantikannya, namun dia tidak boleh memilikinya, tidak boleh menyentuhnya dan tidak boleh membelainya. Yang lebih membuatnya menderita lagi adalah karena tidak ada wanita lain yang dapat menjadi pengganti Bi Sian untuk sementara. Jarang terdapat kesempatan baginya untuk mencari wanita pemuas nafsunya, karena dia selalu bersama Bi Sian dan dia menjaga dengan sungguh agar jangan sampai gadis yang dicintanya itu memergoki dia berhubungan dengan wanita lain.

Ketika dua orang muda itu menda­yung perahu kecil di atas Telaga Nam sambil menikmati sinar matahari pagi, hawa udara sejuk hangat dan pemandangan yang amat indah itu, diam-diam Bong Gan memperhatikan gadis yang duduk di depannya. Mereka duduk berhadapan dalam perahu kecil itu. Dia yang menda­yung mundur, gadis itu yang mengemudi­kan dengan dayung lain.

Setelah perahu meluncur sampai di tengah telaga, di mana terdapat sebuah pulau kecil dan di sekeliling pulau itu terdapat bunga teratai merah dan putih, indah sekali, Bi Sian berkata,

"Kita berhenti di sini. Mari kita ke pulau itu. Alangkah indahnya di sa­na, sute," Gadis itu memang selalu bersikap gembira dan terbuka, namun hati­nya keras sehingga kadang nampak galak.

Mereka mendekatkan perahu ke pantai lalu mendarat di atas pulau kecil itu. Dengan gembira sekali Bi Sian berlari-lari ke tengah pulau, dikejar oleh Bong Gan. Mereka lalu duduk di ba­gian paling tinggi dari pulau itu, duduk di atas rumput hijau tebal yang lunak. Melihat wajah sucinya yang putih halus kemerahan itu, yang pagi itu nampak cantik sekali, melihat betapa sucinya duduk di atas rumput tebal di dekatnya, terbayang dalam pikiran Bong Gan betapa akan senang dan nikmatnya kalau mereka telah menjadi sepasang kekasih, bermesraan dan bergumul di atas rumput hijau itu, di atas pulau kecil yang demikian sunyi, dikelilingi air telaga yang biru dan luas, tidak ada seorang lainpun yang mengganggu. Ba­yangan pikiran ini membuat jantungnya berdebar dan gairah nafsunya timbul dan berkobar. Namun, Bong Gan adalah seorang pemuda cerdik sekali. Biarpun gairah nafsu telah mencengkeramnya, dia tidak menjadi mata gelap. Dia tahu bahwa kalau dia mempergunakan kekeras­an, selain belum tentu dia akan mampu menundukkan sucinya, juga hal itu a­kan membuat harapannya untuk memperis­teri Bi Sian hancur sama sekali. Gadis itu tentu akan membencinya. Padahal, dia benar-benar jatuh cinta kepada Bi Sian, bukan sekedar hendak mempermain­kannya saja, melainkan hidup bersamanya sebagai suami isteri.

"Hai, sute! Kenapa engkau meman­dang padaku seperti itu?" tiba-tiba pertanyaan yang mengejutkan hatinya itu keluar dari mulut Bi Sian. Gadis i­ni merasa heran melihat betapa sutenya memandang kepadanya tidak seperti bia­sa, dengan sinar mata yang demikian tajam dan jelas sekali pandang mata itu mengandung kekaguman dan kemesraan yang mengejutkan hatinya.

Ditegur secara seperti itu, Bong Gan yang sedang melamun dan membiarkan dirinya dibuai khayal indah itu, terkejut dan dia tersipu. "Suci, aku sedang gembira sekali!" jawabnya, kecerdikan dan ketenangannya menolongnya sehingga dia tidak nampak gugup ketika menjawab.

Melihat sikap sutenya biasa saja, lenyap kecurigaan Bi Sian dan iapun memandang ke sekeliling, lalu menghela napas panjang. "Yahhhh.... akupun gembira sekali, sute. Memang amat in­dah pemandangan di sini, indah menye­nangkan dan hawanyapun nyaman bukan main!"

"Aku merasa seperti di sorga, suci!"

Bi Sian memandang pemuda itu dan tertawa. "Di sorga? Hi-hik, seperti engkau pernah tahu sorga saja. Memang indah sekali pemandangan di sini, indah dan hening, hawa udara jernih dan di sini begini tenang, begini penuh damai dan tenteram.... akan tetapi seperti sorga? Aku tidak tahu...."

"Bukan tempatnya yang mendatangkan perasaan bahagia di hatiku, suci."

Bi Sian kembali menoleh dan masih tersenyum. "Bukan karena tempatnya dan hawa udaranya? Lalu karena apa?"

"Karena ada engkau di dekatku, suci."

"Ihhh!" Bi Sian meloncat bangkit, kini berdiri dan bertolak pinggang, ke dua pipinya berubah merah. "Sute, apa maksudmu dengan omongan itu?"

Bong Gan masih tetap duduk. Dia mengangkat muka, memandang wajah gadis itu dengan sikap tenang. "Maafkan aku, suci, aku hanya bicara sejujurnya sa­ja. Entah mengapa aku sendiri tidak mengerti, suci, akan tetapi aku selalu merasa berbahagia di sampingmu. Terutama sekali saat ini, kita hanya berdua saja di pulau kecil kosong ini. Alang­kah bahagianya kalau aku terus dapat berada di sampingmu, selama hidupku."

Wajah yang tadinya kemerahan itu berubah agak pucat, dan Bi Sian merasa betapa jantungnya berdebar kencang. Tentu saja ia mengerti apa yang menja­di isi hati sutenya itu.

"Sute, kau.... bicaramu aneh sekali. Mana mungkin kita berdampingan selama hidupmu...."

"Kenapa tidak mungkin, suci? Kalau kita menjadi suami isteri...."

"Sute....!!" Bi Sian berseru, matanya terbelalak karena ia meng­anggap sutenya terlalu berani, terlalu lancang.

"Maaf, suci. Kalau suci menganggap aku bersalah atau kurang ajar, aku pasrah dan siap menerima hukuman. Akan tetapi dengarkan dulu pengakuanku, suci. Kita bergaul sejak aku berusia tiga belas tahun dan engkau sebelas tahun, mengalami suka duka yang sama, menjadi teman berlatih, teman bermain, dan bahkan sekarang, setelah kita berdua berpisah dari suhu, kita masih berdampingan. Dahulu aku memang memiliki perasaan sayang seperti seorang saudara seperguruan kepadamu, suci. Akan tetapi setelah kita sama-sama dewasa.... biarlah aku mengaku terus terang saja, akibatnya terserah kebijaksanaanmu. Aku telah jatuh cinta padamu, suci, dan aku mengharapkan kelak untuk dapat menjadi suamimu, hidup berdampingan denganmu selama hidupku."

Wajah Bi Sian sebentar pucat sebentar merah mendengar pengakuan sutenya itu. Memang ia sudah menduga bahwa sutenya jatuh cinta padanya, akan tetapi begitu pengakuan itu keluar dari mulut sutenya sendiri, bermacam perasaan mengaduk hatinya. Ada rasa haru, ada malu, ada pula marah karena sutenya dianggapnya lancang, ada pula rasa girang dan semua perasaan itu teraduk membuat ia sejenak tak mampu bergerak ataupun mengeluarkan kata-kata. Sejenak mereka saling pandang, dan akhirnya Bi Sian menghela napas sambil memutar tubuh membelakangi sutenya. Kemudian terdengar suaranya lirih.

"Sute....!"

"Ya, suci?" jawab Bong Gan penuh harap.

"Mulai sekarang, engkau kularang bicara seperti itu lagi, kularang mem­bicarakan tentang cinta lagi!"

"Tapi, suci, jawablah dulu pernyataan cintaku padamu. Sudikah engkau menerimanya? Sudikah engkau membalas­nya? Agar ada kepastian dan tidak lagi membuat aku bimbang ragu, suci. Kasih­anilah aku...."

"Cukup! Aku tidak dapat menjawab sekarang! Pendeknya, aku melarang engkau bicara tentang itu lagi sebelum a­ku berhasil menemukan Sie Liong dan membunuhnya. Kalau engkau tidak setuju dengan permintaanku ini, engkau boleh pergi dan aku tidak membutuhkan bantu­anmu lagi untuk menghadapi musuh besarku itu."

Di belakang Bi Sian, Bong Gan tersenyum, senyum kemenangan. Kalau gadis ini tidak suka kepadaku, tentu ia sudah menjadi marah dan seketika mengusirku, pikirnya. Akan tetapi, Bi Sian mengajukan syarat, yaitu menjawab ka­lau sudah berhasil membunuh Sie Liong, si bongkok! Hal ini meyakinkan hatinya bahwa sucinya itupun "ada hati" kepadanya. Andaikan tidak, tidak mungkin memberi waktu untuk menjawabnya. Kalau gadis itu tahu bahwa jawabannya kelak a­kan "tidak", tentu ia tidak akan memberi waktu. Jawabannya jelas "ya", akan tetapi tunggu sampai musuh itu dapat dibunuh.

"Baiklah, suci. Nasibku berada di tanganmu, kebahagiaan hidupu berada dalam genggamanmu. Aku menerima syaratmu itu dan maafkan kelancanganku tadi."

Bi Sian menarik napas lega, ia lalu membalikkan tubuh lagi menghadapi Bong Gan dan wajahnya sudah pulih kem­bali seperti biasa. Akan tetapi agak­nya ia sudah kehilangan kegembiraannya di pulau itu. "Mari kita kembali ke darat dan melanjutkan perjalanan kita ke Lasha."

"Baik, suci," kata Bong Gan, tak banyak membantah karena dia maklum bahwa dalam keadaan seperti itu, dia ti­dak boleh membuat sucinya marah atau jengkel.


***


Semenjak puterinya pergi tanpa pamit, dan setelah selesai mengurus jenazah suaminya, Sie Lan Hong hampir setiap hari menangisi nasibnya. Nyonya ini masih muda, baru berusia tiga puluh tahun, akan tetapi sejak remaja sudah harus mengalami banyak penderitaan batin yang amat berat. Dalam usia lima belas tahun, demi menyelamatkan adiknya, terpaksa ia harus menyerahkan dirinya kepada pria yang telah membunuh ayah ibunya di depan matanya! Bahkan kemudian menjadi isteri pembunuh orang tuanya itu. Penderitaan batin hebat ini menjadi ringan setelah iapun akhirnya jatuh cinta kepada pria itu dan bahkan melahirkan seorang anak perempuan dari pria yang menjadi suami dan ayah anaknya itu. Kemudian, hatinya tersiksa lagi karena sikap suaminya kepada adiknya. Suaminya membenci adik kandungnya sehingga adiknya itu sampai melarikan diri. Kembali ia menderita kalau teringat kepada adiknya. Apalagi puteri­nya juga pergi dibawa orang sakti menjadi muridnya.

Kebahagiaan sebentar dirasakannya lagi ketika adiknya muncul sebagai seorang pendekar walaupun tubuhnya bong­kok, lebih bahagia lagi karena puteri­nya juga pulang sebagai seorang gadis muda yang cantik dan lihai. Akan teta­pi, betapa pendeknya kebahagiaan yang dinikmatinya. Suaminya dibunuh oleh Sie Liong! Dia tidak terlalu menyalah­kan Sie Liong. Bagaimana mungkin menyalahkan kalau ia mengingat bahwa suami­nya adalah pembunuh ayah ibunya, ayah ibu Sie Liong? Ia sendiri, andaikata dahulu memiliki kemampuan, tentu saja tidak sudi diperisteri, bahkan akan membalas dendam dan akan membunuh Yauw Sun Kok! Akan tetapi, puterinya mendendam kepada Sie Liong dan kini puteri­nya minggat untuk mencari dan membalas dendam kematian ayahnya kepada Sie Li­ong! Ia tidak dapat menyalahkan Sie Liong yang membunuh suaminya, juga tidak dapat menyalahkan Bi Sian yang hendak membalas sakit hati karena kematian ayahnya.

"Aihh, apa yang dapat dan harus kulakukan....?" Berulang kali ia mengeluh dalam tangisnya. Selama belasan hari ia tenggelam dalam duka sehingga tubuhnya menjadi kurus dan mukanya pu­cat. Akan tetapi pada suatu pagi, pagi-pagi sekali ia sudah bangun dan keluar dari kamarnya dengan berdandan memakai pakaian ringkas, membawa sebuah buntalan panjang yang isinya adalah sebatang pedang! Malam tadi ia mengenangkan kembali semua peristiwa, mengenangkan munculnya Sie Liong dalam kamarnya. Ia telah menceritakan kepada Sie Liong, membuka rahasia bahwa pembunuh ayah bunda mereka adalah Yauw Sun Kok dan bahwa ia dapat mengerti mengapa adiknya mem­bunuh suaminya. Akan tetapi, yang mem­buat ia merasa ragu adalah sikap Sie Liong. Kenapa adiknya itu terkejut mendengar cerita itu, seolah-olah baru setelah ia bercerita adiknya tahu akan hal itu? Pula, mengapa adiknya menyangkal keras telah membunuh suaminya? Sungguh tidak beralasan sekali bagi Sie Liong untuk terkejut dan menyang­kal, kalau memang dia telah mengetahui rahasia itu dan membalas dendam atas kematian ayah ibu mereka. Mengapa adiknya harus berpura-pura dan berbohong kepadanya?

"Sungguh aneh dan tidak masuk di akal," pikir nyonya muda itu. Pada pa­gi hari itu, ia tidak mampu lagi mena­han kegelisahan dan keraguan hatinya. Ia hidup seorang diri, kehilangan o­rang-orang yang dicintainya. Ditinggal mati suaminya, juga musuh besar yang dibencinya karena suami itu pembunuh ayah bundanya, akan tetapi juga dicintanya karena suami itu adalah ayah dari puterinya. Kemudian ditinggal pergi Sie Liong, adik kandungnya yang amat disayangnya dan dikasihaninya karena adiknya itu seorang yang memiliki cacat di tubuhnya. Kemudian ditinggal pergi puterinya yang terkasih. Ia hidup kesepian, apa lagi harus menanggung kegelisahan memikirkan betapa puterinya itu pergi untuk mencari Sie Liong dan mem­balas dendam atas kematian ayah gadis itu. Ia harus mencegah bentrokan anta­ra mereka itu! Ia harus dapat menemukan Sie Liong dan minta penjelasan a­kan sikapnya, minta adiknya itu menga­kui secara jujur apakah ia membunuh Yauw Sun Kok ataukah tidak. Akan tetapi sebelum ia pergi mencari puterinya dan adiknya, ada satu pekerjaan yang tera­mat penting baginya, yaitu ia akan me­lakukan penyelidikan terlebih dahulu. Dan satu-satunya tempat di mana ia boleh jadi akan menemukan sesuatu adalah tempat pelesir di mana suaminya pernah menjadi langganan mereka, untuk berma­in perempuan dan mabok-mabokan!

Tanpa memperdulikan anggapan o­rang melihat ibu rumah tangga memasuki tempat pelesir itu, Sie Lan Hong mema­suki rumah pelacuran di mana suaminya pernah menjadi seorang langganan yang baik. Ia membawa cukup bekal uang dan dengan pengaruh uang ini mulailah ia menyogok para pelacur untuk memberi keterangan tentang suaminya pada kunjungan terakhir. Dua orang pelacur muda yang manis-manis terpikat oleh janji hadiah uang itu dan mereka mengaku bahwa merekalah yang melayani mendiang Yauw Sun Kok pada kunjungannya yang terakhir kalinya itu.

"Dia tidak bermalam di sini," ka­ta mereka, "melainkan bersenang-senang dengan kami dan minum arak sampai ma­bok dan pulang menjelang tengah malam."

Lan Hong mengangguk dan dengan sabar ia bertanya, "Selain itu, apa lagi yang terjadi di sini? Apakah dia bertemu dengan seseorang di sini? Apakah dia membicarakan sesuatu yang masih kalian ingat? Katakan saja terus terang segala hal yang terjadi, kalian akan kuberi hadiah yang indah. Lihat, ge­lang ini ada dua buah, harganya mahal dan akan kuberikan kepada kalian seo­rang satu kalau kalian mau mencerita­kan semua hal dengan terus terang...."

Dua pasang mata pelacur-pelacur itu berkilauan ketika melihat dua buah gelang emas yang tebal dan terukir in­dah itu.

"Setelah dia minum agak banyak dia memang mengomel, mengatakan bahwa dia mengenal pemuda yang sedang pele­sir dengan kawan-kawan kami, dan bahwa dia tidak suka melihat pemuda itu pelesir di situ, juga tentang kebenciannya kepada seorang bongkok...."

Lan Hong tertarik sekali. "Seorang pemuda? Apakah dia berjumpa dengan se­orang pemuda di sini?"

"Ketika dia masuk, dia bertemu dengan seorang kong-cu (tuan muda) yang sedang makan minum ditemani beberapa orang kawan kami. Akan tetapi mereka tidak saling menegur, seperti yang tidak saling mengenal."

"Siapakkh pemuda itu? Apakah dia.... bongkok?"

Dua orang pelacur itu tertawa.

"Bongkok? Apanya yang bongkok? Sama sekali tidak! Bahkan dia tampan sekali dan kami berdua menyesal mengapa dia tidak memilih kami. Dia tampan, muda dan royal."

"Apakah dia langganan lama di si­ni?"

"Tidak! Baru sekali itu dia da­tang dan sampai kini tidak pernah mun­cul lagi. Akan tetapi dia masih muda, tampan sekali, dan royal...."

"Siapa namanya?" tanya Lan Hong dengan jantung berdebar tegang.

"Nanti dulu, akan kami panggil mereka yang dulu melayaninya," kata dua orang pelacur itu dan tak lama kemudian dua orang pelacur lain ikut duduk di situ. Mereka inilah dua di antara empat orang pelacur yang pada malam i­tu melayani pemuda yang mereka bicarakan.

"Dia tidak menyebutkan namanya, hanya mengatakan bahwa dia putera Coa-wangwe (Hartawan Coa) di kota Ye-ceng maka kami menyebutnya Coa-kongcu (tuan muda Coa). Dia seorang langganan yang.... menyenangkan sekali, sayang hanya satu kali itu dia datang."

Para pelacur itu tertawa-tawa dan mereka tidak melihat perubahan yang nampak pada wajah Lan Hong. Coa Kong­cu? Sute dari Bi Sian itu bernama Coa Bong Gan!

"Tolong gambarkan, bagaimana bentuk wajah, tubuh dan pakaian Coa-kongcu itu!" tanya Lan Hong, menyembunyikan suaranya yang agak gemetar dengan pertanyaan yang lirih.

"Aku masih ingat benar! Dia memang hebat segala-galanya!" kata seorang pelacur berbaju hijau yang genit.

"Wajahnya tampan, bentuknya bulat dan kulitnya putih, alisnya tebal dan hi­tam sekali, hidungnya mancung dan dia suka.... suka mencium, hi-hik. Dia nakal dan matanya tajam, tubuhnya sedang dan kekuatannya seperti.... kuda jantan! Pakaiannya pesolek...."

Lan Hong sudah bangkit berdiri dan dia memberikan gelang kepada dua orang pela­cur pertama, dan memberikan uang yang cukup banyak kepada yang lain. Kemudi­an, tanpa mengeluarkan kata apapun ia meninggalkan tempat itu.

Pagi hari esoknya, pergilah Sie Lan Hong, nyonya muda yang baru beru­sia tiga puluh tiga tahun itu, mening­galkan rumahnya, membawa buntalan pa­kaian dan tidak lupa membawa pedangnyanya. Ia pernah bercakap-cakap dengan Sie Liong dan adiknya itu pernah membuat pengakuan bahwa dia akan pergi ke Tibet untuk menyelidiki keadaan para pendeta Lama di Tibet, mengapa para pendeta itu memusuhi para pertapa di Himalaya. Menurut adiknya, tugas itu harus dia laksanakan sebagai pesan dari para gurunya. Maka, kalau hendak mencari Sie Liong, ia harus pergi ke Tibet. Kota tempat tinggalnya adalah kota Sung-jan yang berada di perbatasan sebelah barat Propinsi Sin-kiang, maka untuk mencari adiknya ia harus melakukan perjalanan ke selatan, memasuki daerah Tibet yang masih asing baginya.

Pada suatu hari Sie Lan Hong tiba di kaki sebuah bukit. Ia merasa lelah sekali. Perjalanan itu sungguh tidak mudah. Bagaimanapun juga, ia seorang wanita yang tergolong masih muda, bah­kan dalam usianya yang tiga puluh tiga tahun itu ia nampak sebagai seorang wanita yang matang dan penuh daya tarik. Banyak godaan dihadapinya dalam perja­lanan itu. Hal itulah yang membuat ia merasa kesal, disamping tubuhnya juga merasa lelah. Untung bahwa ketika ke­cil, ia sudah digembleng oleh ayahnya, seorang guru silat sehingga tubuhnya menjadi kuat dan ketika menjadi isteri Yaw Sun Kok, iapun menerima latihan ilmu silat dari suaminya sehingga ia memiliki bekal ilmu silat yang luma­yan, cukup untuk sekedar menjaga diri. Dengan sikapnya yang pendiam dan anggun, dengan pedangnya, kaum pria yang tadinya hendak berkurang ajar meniadi jerih dan sampai hampir sebulan dalam perjalanan, ia masih dapat menyelamat­kan diri dari ganguan para pria iseng.

Ketika tiba di kaki bukit itu, ia menjadi bingung. Menurut keterangan yang diperoleh di dusun terakhir tadi, di depan tidak ada lagi dusun sebelum ia melewati bukit itu. Dan bukit itu cukup besar, dilihat dari bawah penuh dengan hutan! Dan matahari sudah mulai condong ke barat. Agaknya, ia akan ke­malaman di bukit itu dan terpaksa ha­rus melewatkan malam di bukit. Baru pada hari esok ia boleh mengharapkan da­pat bertemu dusun lagi. Hatinya agak kecut. Tempat itu sunyi sekali dan menyeramkan. Ia sudah memasuki daerah Tibet, dan ia tidak tahu ke mana harus mencari adiknya atau puterinya. Akan tetapi, ia akan pergi ke Lasha dan di sana ia mengharapkan akan mendapat ke­terangan tentang dua orang yang dicin­tanya dan dicarinya itu. Menurut kete­rangan terakhir yang ia dapatkan, per­jalanan ke Lasha masih membutuhkan waktu sedikitnya satu bulan lagi!

Mengapa aku tidak membeli saja seekor kuda di dusun terakhir itu, pikirnya. Kalau dengan menunggang kuda, tentu perjalanan akan dapat dilakukan le­bih cepat dan tidak begitu melelahkan seperti sekarang ini. Dengan hati ke­cut iapun mulai mendaki bukit itu. Ia mendaki dengan cepat, memaksa kedua kakinya yang sudah lelah karena sedapat mungkin ia harus tiba di puncak bukit dan mencari tempat yang baik dan aman untuk bermalam sebelum hari menjadi gelap.

Baru saja ia tiba di lereng bukit itu, di tepi hutan pertama, tiba-tiba dari dalam hutan bermunculan sepuluh orang laki-laki yang kelihatan kasar dan buas. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan di dada mereka ada lu­kisan seekor kala putih yang menyeram­kan.

"Heiii, ada seorang wanita berja­lan seorang diri!"

"Amboi manisnya!"

"Lihat pinggangnya, seperti kumbang!"

"Pinggulnya.... hebat!"

Sepuluh orang itu sudah mengepungnya dan Lan Hong memandang dengan muka pucat. Selama melakukan perjalanan, sudah banyak dia digoda pria, akan tetapi belum pernah bertemu gerombolan laki-laki yang begini kasar dan kelihatan buas. Juga di punggung mereka nampak golok besar yang mengerikan. Biarpun ia puteri seorang guru silat, bahkan bekas isteri seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun menghadapi gerombolan yang kasar dan ceriwis ini, jantung dalam dadanya berdebar penuh rasa tegang dan gelisah. Namun, Lan Hong menenangkan dirinya lalu berkata dengan lembut.

"Harap cu-wi suka mengasihani aku seorang wanita yang mencari anaknya dan tidak menggangguku. Biarkan aku pergi dari sini!"

"Tentu saja kami kasihan kepadamu, manis. Karena kasihan dan sayang maka kami tidak akan membiarkan engkau berjalan sendiri. Mari kami antar, ha-ha-ha!" kata seorang di antara mereka. "Kawan-kawan, mari kita bersenang-senang, selagi toako (kakak tertua) tidak ada. Kalau ada dia, celaka, ten­tu akan dia habiskan sendiri dan kita tidak akan kebagian!" kata yang lain.

Semua orang tertawa mendengar ini dan menyatakan setuju. Segera mereka berlumba untuk menangkap Lan Hong. Wa­nita ini sudah siap dan ia mencabut pedang dari buntalan pakaiannya.

"Harap kalian mundur atau terpaksa aku mempergunakan pedangku!" bentaknya.

Melihat betapa wanita yang manis itu memegang pedang, sepuluh orang itu terkejut, akan tetapi hanya sebentar saja. Mereka memandang rendah kepada wanita itu dan kembali sambil tertawa-tawa mereka mengepung.

"Wah, pandai juga bermain pedang, ya? Bagus, kalau melawan lebih menga­syikkan!" Dan kembali mereka hendak menangkap dari berbagai jurusan.

Melihat ancaman mengerikan itu, Sie Lan Hong menggerakkan pedangnya ke belakang sambil membalikknu tubuhnya. Orang yang berada di belakangnya, ter­kejut ketika ada sinar menyambar. Dia menarik tangannya, akan tetapi pedang itu tetap saja menggores lengannya, merobek baju dan kulit lengan. Dia berteriak kesakitan dan juga marah.

"Hemm, galak juga, ya? Kawan-kawan, mari kita tundukkan dulu wanita manis dan galak ini. Akan tetapi jangan dilukai, sayang kalau sampai ia terluka!" Dan mereka mencabut golok mereka, golok besar yang kelihatan berat dan tajam berkilauan. Lan Hong memutar pedangnya dan beberapa batang golok menangkis. Ketika mereka mengerahkan tenaga.

"Trangggg....!" Pedang itu terlepas dari tangan Lang Hong yang menjadi terkejut bukan main. Sepuluh orang itu tertawa bergelak dan kesempatan i­ni dipergunakan oleh Lan Hong untuk menyelinap di antara mereka dan melari­kan diri secepatnya ke arah kiri.

Sepuluh orang berpakaian hitam-hitam itu tertawa gembira lalu lari me­ngejar sambil berteriak-teriak. Mereka seperti segerombolan srigala yang me­ngejar dan mempermainkan seekor kelin­ci, yakin bahwa akhirnya kelinci itu takkan terlepas dari terkaman mereka. Mereka mengejar sambil tertawa-tawa dan Lan Hong melarikan diri sekuat te­naga. Ia dapat membayangkan kengerian yang melebihi maut kalau sampai ia tertangkap oleh orang-orang biadab itu. Lebih baik mati dari pada membiarkan dirinya diperkosa dan dihina. Akan te­tapi, sebelum putus asa, ia akan beru­saha sekuat tenaga untuk melarikan diri atau melawan sampai napas terakhir.

Para pengejar itu memang sengaja hendak mempermainkan Lan Hong, maka mereka hanya berlari di belakangnya, ti­dak segera menangkapnya. Lan Hong berlari terus, menurut jalan setapak dan ia melihat sebuah kuil tua di depan.

Karena tidak tahu lagi harus lari ke mana, dan kedua kakinya sudah menjadi semakin lelah, Lan Hong lalu lari menuju ke kuil itu. Siapa tahu penghu­ni kuil dapat menolongnya, pikirnya penuh harapan. Sepuluh orang pria itu mengejar sambil tertawa-tawa.

"Ha-ha-ha, engkau mengajak kami ke kuil itu, manis? Tempat yang enak untuk bersenang-senang!"

Lan Hong tidak memperdulikan ucapan mereka dan berlari terus. Hatinya semakin kecut ketika melihat bahwa ku­il itu adalah sebuah kuil tua yang a­gaknya sudah tidak dipakai lagi. Tentu kosong tidak ada orangnya, pikirnya dengan gelisah. Akan tetapi, ketika ia memandang ragu dan berdiri di ruangan depan, terdengar suara dari dalam.

"Jangan takut, masuklah dan kami yang akan menghadapi gerombolan iblis itu!" Dan nampak dua orang pria yang gagah berlompatan keluar dari ruangan dalam. Mereka adalah dua orang pemuda yang berbangsa Han, berusia kurang le­bih dua puluh tujuh tahun. Yang seorang bertubuh tinggi besar dengan muka per­segi dan sikapnya gagah. Orang ke dua bertubuh sedang, akan tetapi mukanya yang bulat itu penuh brewok yang rapi sehingga dia kelihatan gagah pula. Di tangan mereka nampak sebatang pedang.

Melihat mereka dan sikap mereka yang baik, Lan Hong segera memberi hormat. "Ji-wi taihiap (dua pendekar perkasa), tolonglah saya,...."

"Enci yang baik, jangan takut. Masuklah dan kami akan membasmi para penjahat itu!" kata yang tinggi besar dan dia berkata kepada orang ke dua yang brewok. "Sute, mari kita hadapi mereka, di depan kuil!" Mereka lalu berloncat­an keluar. Lan Hong cepat menyelinap di balik dinding dan ia mengintai keluar dengan jantung berdebar penuh kete­gangan, akan tetapi lega juga bahwa di situ ia bertemu dengan dua orang gagah yang siap membela dan melindunginya. Ia hanya dapat berharap agar kedua o­rang gagah itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi untuk melawan pengeroyokdn sepuluh orang yang buas itu.

Sepuluh orang berpakaian hitam dengan gambar seekor kala putih di baju bagian dada, tercengang ketika melihat dua orang pemuda gagah berdiri di de­pan kuil dengan pedang di tangan, menghadang mereka.

"Heii, siapa kalian berani menghadang di depan kami? Hayo cepat mengge­linding pergi!" bentak seorang di antara sepuluh orang berpakaian hitam itu.

Pemuda yang tinggi besar itu menudingkan telunjuk kirinya ke arah mere­ka sambil melintangkan pedang di depan dadanya yang bidang. "Hemm, sudah lama kami mendengar tentang gerombolan Kala Putih yang jahat! Ternyata kabar itu benar, gerombolan Kala Putih bukan ha­nya perampok dan perkumpulan penjahat keji, akan tetapi juga tidak segan un­tuk mengganggu wanita. Sudah sepantas­nya kalau kami membasmi gerombolan ma­cam kalian!"

Sepuluh orang itu terbelalak pe­nuh kemarahan mendengar kata-kata yang amat menghina itu. Seorang di antara mereka yang tubuhnya tinggi kurus, me­langkah maju. Agaknya ia mewakili ka­wan-kawannya dan dengan suara meleng­king tinggi diapun membentak.

"Kalian ini bocah-bocah ingusan hendak menentang Kala Putih? Perkenal­kan nama kalian lebih dulu agar kami tidak akan membunuh orang tanpa nama!"

Pemuda tinggi besar itu dengan lantang menjawab, "Kami tidak pernah menyembunyikan nama! Kami adalah murid murid Kun-lun-pai yang selalu akan me­nentang kejahatan. Namaku Ciang Sun dan sute ini adalah Kok Han!"

Memang dua orang pemuda perkasa itu bukan lain adalah Ciang Sun dan Kok Han, dua orang murid Kun-lun-pai yang berani itu. Mereka berdua diutus oleh ketua Kun-lun-pai, yaitu Thian Hwat Tosu, untuk pergi ke daerah Tibet mencari susiok (paman guru) mereka yang bernama Lie Bouw Tek. Lie Bouw Tek adalah murid kepala Kun-lun-pai, murid langsung dari ketua Thian Hwat Tosu dan karena Ciang Sun dan Kok Han adalah murid kelas tiga, maka Lie Bouw Tek terhitung susiok mereka. Mereka berdua mencari-cari Lie Bouw Tek dan membawa sepucuk surat dari ketua Kun-lun-pai untuk murid kepala itu. Seper­ti telah kita ketahui, dalam perjalan­an, mereka pernah berjumpa dengan Pen­dekar Bongkok Sie Liong ketika Sie Li­ong mempertemukan dua orang kekasih yang dipisahkan karena watak ayah si gadis yang mata duitan.

Mendengar bahwa dua orang pemuda itu adalah murid-murid Kun-lun-pai se­puluh orang berpakaian hitam itu menja di semakin marah. "Aha, kiranya orang-orang Kun-lun-pai yang usil dan gatal tangan, hendak mencampuri urusan kami orang Kala Putih! Kami tidak pernah bertentangan dengan Kun-lun-pai, sela­lu bersimpang jalan, kenapa hari ini ada orang Kun-lun-pai yang sengaja hen­dak menentang kami?"

Ciang Sun tersenydm mengejek. "Selama Kala Putih tidak melakukan keja­hatan, kami dari Kun-lun-pai tidak perduli. Akan tetapi, kami selalu akan menentang kejahatan yang dilakukan o­leh siapapun juga. Kalian mengejar-ngejar seorang wanita dengan niat yang kotor dan jahat, tentu saja kami menen­tang kalian!"

"Keparat, sekali lagi, pergilah kalian dan biarkan kami menawan perempuan itu! Kami masih memandang perkum­pulan Kun-lun-pai dan tidak akan menuntut atas sikap kalian yang lancang i­ni!"

"Persetan dengan Kala Putih yang jahat!" bentak Ciang Sun. Sepuluh orang itu tak dapat lagi menahan kema­rahan mereka. Kalau tadi mereka masih meragu dan mencoba untuk membujuk ada­lah karena mereka tahu bahwa Kun-lun-pai adalah sebuah partai persilatan besar, dan mereka tidak ingin menanam permusuhan dengan perkumpulan itu. Akan tetapi, para anggauta Kala Putih selalu mengandalkan kepandaian dan ke­beranian mereka untuk melakukan keke­rasan memaksakan kehendak mereka, maka melihat sikap kedua orang murid Kun-lun-pai yang menentang itu, merekapun segera mulai menyerang!

Ciang Sun dan sutenya, Kok Han, menggerakkan pedang mereka menyambut serangan golok dan terjadilah perkela­hian yang seru. Sepuluh batang golok berkelebatan dan sinarnya, ketika ter­timpa matahari sore menyilaukan mata. Namun, gerakan kedua orang murid Kun-lun-pai memang indah dan dua orang ini merupakan murid yang cukup pandai se­hingga pedang mereka berubah menjadi dua gulung sinar yang amat kuat, yang mampu menahan semua serangan golok, bahkan sinar pedang itu mencuat ke sa­na-sini melakukan serangan balasan yang membuat sepuluh orang anggauta Kala Putih itu menjadi kacau balau dan terdesak mundur!

Lan Hong yang mengintai dari dalam bingung melihat betapa dua orang peno­longnya dikeroyok oleh sepuluh orang buas itu. Ia ingin sekali membantu me­reka, akan tetapi pedangnya telah hi­lang ketika ia dikeroyok tadi. Ia men­cari-cari dengan matanya di dalam ru­angan kuil itu dan melihat beberapa potong kayu yang agaknya dipergunakan orang membuat api unggun. Lalu dipilih­nya sebatang kayu sebesar lengannya, panjangnya satu meter lebih. Kayu itu cukup kuat dan lumayan untuk dipergunakan sebagai senjata. Lan Hong sudah menjadi nekat. Kalau kedua orang peno­longnya itu kalah, tentu ia akan terjatuh ke tangan sepuluh orang jahat itu. Melarikan diripun tidak ada gunanya, karena hari akan menjadi gelap dan ia tidak mengenal jalan. Lebih baik mem­bantu kedua orang penolongnya itu, me­nang atau kalah bersama mereka! Ia la­lu meloncat keluar dan menyerbu ke da­lam pertempuran itu, menggunakan tong­katnya memukul seorang pengeroyok dari belakang.

"Bukk!" Orang itu terjungkal pingsan karena pukulan Lan Hong tepat me­ngenai tengkuknya! Kemudian Lan Hong mengamuk dengan tongkatnya, membantu dua orang murid Kun-lun-pai itu. Meli­hat ini, dua orang pemuda itu merasa kagum, akan tetapi juga khawatir. Dari gerakannya, mereka dapat menduga bahwa wanita yang mereka tolong itu pandai juga ilmu silat, akan tetapi ia hanya bersenjata sebatang kayu sedangkan pa­ra pengeroyok adalah orang-orang kejam yang semua memegang golok.

Sepuluh orang berpakaian hitam-hitam itu tertawa gembira lalu lari me­ngejar sambil berteriak-teriak. Mereka seperti segerombolan srigala yang me­ngejar dan mempermainkan seekor kelin­ci, yakin bahwa akhirnya kelinci itu takkan terlepas dari terkaman mereka. Mereka mengejar sambil tertawa-tawa dan Lan Hong melarikan diri sekuat te­naga. Ia dapat membayangkan kengerian yang melebihi maut kalau sampai ia tertangkap oleh orang-orang biadab itu. Lebih baik mati dari pada membiarkan dirinya diperkosa dan dihina. Akan te­tapi, sebelum putus asa, ia akan beru­saha sekuat tenaga untuk melarikan diri atau melawan sampai napas terakhir.

Para pengejar itu memang sengaja hendak mempermainkan Lan Hong, maka mereka hanya berlari di belakangnya, ti­dak segera menangkapnya. Lan Hong berlari terus, menurut jalan setapak dan ia melihat sebuah kuil tua di depan.

Karena tidak tahu lagi harus lari ke mana, dan kedua kakinya sudah menjadi semakin lelah, Lan Hong lalu lari menuju ke kuil itu. Siapa tahu penghu­ni kuil dapat menolongnya, pikirnya penuh harapan. Sepuluh orang pria itu mengejar sambil tertawa-tawa.

"Ha-ha-ha, engkau mengajak kami ke kuil itu, manis? Tempat yang enak untuk bersenang-senang!"

Lan Hong tidak memperdulikan ucapan mereka dan berlari terus. Hatinya semakin kecut ketika melihat bahwa ku­il itu adalah sebuah kuil tua yang a­gaknya sudah tidak dipakai lagi. Tentu kosong tidak ada orangnya, pikirnya dengan gelisah. Akan tetapi, ketika ia memandang ragu dan berdiri di ruangan depan, terdengar suara dari dalam.

"Jangan takut, masuklah dan kami yang akan menghadapi gerombolan iblis itu!" Dan nampak dua orang pria yang gagah berlompatan keluar dari ruangan dalam. Mereka adalah dua orang pemuda yang berbangsa Han, berusia kurang le­bih dua puluh tujuh tahun. Yang seorang bertubuh tinggi besar dengan muka per­segi dan sikapnya gagah. Orang ke dua bertubuh sedang, akan tetapi mukanya yang bulat itu penuh brewok yang rapi sehingga dia kelihatan gagah pula. Di tangan mereka nampak sebatang pedang.

Melihat mereka dan sikap mereka yang baik, Lan Hong segera memberi hormat. "Ji-wi taihiap (dua pendekar perkasa), tolonglah saya,...."

"Enci yang baik, jangan takut. Masuklah dan kami akan membasmi para penjahat itu!" kata yang tinggi besar dan dia berkata kepada orang ke dua yang brewok. "Sute, mari kita hadapi mereka, di depan kuil!" Mereka lalu berloncat­an keluar. Lan Hong cepat menyelinap di balik dinding dan ia mengintai keluar dengan jantung berdebar penuh kete­gangan, akan tetapi lega juga bahwa di situ ia bertemu dengan dua orang gagah yang siap membela dan melindunginya. Ia hanya dapat berharap agar kedua o­rang gagah itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi untuk melawan pengeroyokdn sepuluh orang yang buas itu.

Sepuluh orang berpakaian hitam dengan gambar seekor kala putih di baju bagian dada, tercengang ketika melihat dua orang pemuda gagah berdiri di de­pan kuil dengan pedang di tangan, menghadang mereka.

"Heii, siapa kalian berani menghadang di depan kami? Hayo cepat mengge­linding pergi!" bentak seorang di antara sepuluh orang berpakaian hitam itu.

Pemuda yang tinggi besar itu menudingkan telunjuk kirinya ke arah mere­ka sambil melintangkan pedang di depan dadanya yang bidang. "Hemm, sudah lama kami mendengar tentang gerombolan Kala Putih yang jahat! Ternyata kabar itu benar, gerombolan Kala Putih bukan ha­nya perampok dan perkumpulan penjahat keji, akan tetapi juga tidak segan un­tuk mengganggu wanita. Sudah sepantas­nya kalau kami membasmi gerombolan ma­cam kalian!"

Sepuluh orang itu terbelalak pe­nuh kemarahan mendengar kata-kata yang amat menghina itu. Seorang di antara mereka yang tubuhnya tinggi kurus, me­langkah maju. Agaknya ia mewakili ka­wan-kawannya dan dengan suara meleng­king tinggi diapun membentak.

"Kalian ini bocah-bocah ingusan hendak menentang Kala Putih? Perkenal­kan nama kalian lebih dulu agar kami tidak akan membunuh orang tanpa nama!"

Pemuda tinggi besar itu dengan lantang menjawab, "Kami tidak pernah menyembunyikan nama! Kami adalah murid murid Kun-lun-pai yang selalu akan me­nentang kejahatan. Namaku Ciang Sun dan sute ini adalah Kok Han!"

Memang dua orang pemuda perkasa itu bukan lain adalah Ciang Sun dan Kok Han, dua orang murid Kun-lun-pai yang berani itu. Mereka berdua diutus oleh ketua Kun-lun-pai, yaitu Thian Hwat Tosu, untuk pergi ke daerah Tibet mencari susiok (paman guru) mereka yang bernama Lie Bouw Tek. Lie Bouw Tek adalah murid kepala Kun-lun-pai, murid langsung dari ketua Thian Hwat Tosu dan karena Ciang Sun dan Kok Han adalah murid kelas tiga, maka Lie Bouw Tek terhitung susiok mereka. Mereka berdua mencari-cari Lie Bouw Tek dan membawa sepucuk surat dari ketua Kun-lun-pai untuk murid kepala itu. Seper­ti telah kita ketahui, dalam perjalan­an, mereka pernah berjumpa dengan Pen­dekar Bongkok Sie Liong ketika Sie Li­ong mempertemukan dua orang kekasih yang dipisahkan karena watak ayah si gadis yang mata duitan.

Mendengar bahwa dua orang pemuda itu adalah murid-murid Kun-lun-pai se­puluh orang berpakaian hitam itu menja di semakin marah. "Aha, kiranya orang-orang Kun-lun-pai yang usil dan gatal tangan, hendak mencampuri urusan kami orang Kala Putih! Kami tidak pernah bertentangan dengan Kun-lun-pai, sela­lu bersimpang jalan, kenapa hari ini ada orang Kun-lun-pai yang sengaja hen­dak menentang kami?"

Ciang Sun tersenydm mengejek. "Selama Kala Putih tidak melakukan keja­hatan, kami dari Kun-lun-pai tidak perduli. Akan tetapi, kami selalu akan menentang kejahatan yang dilakukan o­leh siapapun juga. Kalian mengejar-ngejar seorang wanita dengan niat yang kotor dan jahat, tentu saja kami menen­tang kalian!"

"Keparat, sekali lagi, pergilah kalian dan biarkan kami menawan perempuan itu! Kami masih memandang perkum­pulan Kun-lun-pai dan tidak akan menuntut atas sikap kalian yang lancang i­ni!"

"Persetan dengan Kala Putih yang jahat!" bentak Ciang Sun. Sepuluh orang itu tak dapat lagi menahan kema­rahan mereka. Kalau tadi mereka masih meragu dan mencoba untuk membujuk ada­lah karena mereka tahu bahwa Kun-lun-pai adalah sebuah partai persilatan besar, dan mereka tidak ingin menanam permusuhan dengan perkumpulan itu. Akan tetapi, para anggauta Kala Putih selalu mengandalkan kepandaian dan ke­beranian mereka untuk melakukan keke­rasan memaksakan kehendak mereka, maka melihat sikap kedua orang murid Kun-lun-pai yang menentang itu, merekapun segera mulai menyerang!

Ciang Sun dan sutenya, Kok Han, menggerakkan pedang mereka menyambut serangan golok dan terjadilah perkela­hian yang seru. Sepuluh batang golok berkelebatan dan sinarnya, ketika ter­timpa matahari sore menyilaukan mata. Namun, gerakan kedua orang murid Kun-lun-pai memang indah dan dua orang ini merupakan murid yang cukup pandai se­hingga pedang mereka berubah menjadi dua gulung sinar yang amat kuat, yang mampu menahan semua serangan golok, bahkan sinar pedang itu mencuat ke sa­na-sini melakukan serangan balasan yang membuat sepuluh orang anggauta Kala Putih itu menjadi kacau balau dan terdesak mundur!

Lan Hong yang mengintai dari dalam bingung melihat betapa dua orang peno­longnya dikeroyok oleh sepuluh orang buas itu. Ia ingin sekali membantu me­reka, akan tetapi pedangnya telah hi­lang ketika ia dikeroyok tadi. Ia men­cari-cari dengan matanya di dalam ru­angan kuil itu dan melihat beberapa potong kayu yang agaknya dipergunakan orang membuat api unggun. Lalu dipilih­nya sebatang kayu sebesar lengannya, panjangnya satu meter lebih. Kayu itu cukup kuat dan lumayan untuk dipergunakan sebagai senjata. Lan Hong sudah menjadi nekat. Kalau kedua orang peno­longnya itu kalah, tentu ia akan terjatuh ke tangan sepuluh orang jahat itu. Melarikan diripun tidak ada gunanya, karena hari akan menjadi gelap dan ia tidak mengenal jalan. Lebih baik mem­bantu kedua orang penolongnya itu, me­nang atau kalah bersama mereka! Ia la­lu meloncat keluar dan menyerbu ke da­lam pertempuran itu, menggunakan tong­katnya memukul seorang pengeroyok dari belakang.

"Bukk!" Orang itu terjungkal pingsan karena pukulan Lan Hong tepat me­ngenai tengkuknya! Kemudian Lan Hong mengamuk dengan tongkatnya, membantu dua orang murid Kun-lun-pai itu. Meli­hat ini, dua orang pemuda itu merasa kagum, akan tetapi juga khawatir. Dari gerakannya, mereka dapat menduga bahwa wanita yang mereka tolong itu pandai juga ilmu silat, akan tetapi ia hanya bersenjata sebatang kayu sedangkan pa­ra pengeroyok adalah orang-orang kejam yang semua memegang golok.

"Enci, masuklah ke dalam, biar kami yang menghajar mereka!" teriak Kok Han dengan khawatir.

"Tidak, aku harus membantu kalian membasmi iblis-iblis jahat ini!" jawab Lan Hong yang terus mengamuk dengan tongkatnya. Akan tetapi, dua orang me­ngeroyoknya dengan golok dan Lan Hong terhimpit, lalu sebuah tendangan yang cukup keras mengenai pahanya, membuat wanita itu terguling roboh!

"Hati-hati....!" teriak Ciang Sun yang cepat menerjang dan melindungi tubuh wanita itu dari para pengero­yoknya, dengan pedangnya berkelebat ke kiri merobek pangkal lengan seorang pengeroyok, dan melindungi tubuh Lan Hong dengan putaran pedangnya. Akan tetapi Lan Hong bangkit lagi dan menga­muk lagi, tidak memperdulikan pahanya yang terasa nyeri.

Kini, dua orang murid Kun-lun-pai menjadi semakin sibuk karena mereka harus pula melindungi Lan Hong yang mengamuk seperti seekor harimau betina itu. Namun, diam-diam mereka merasa ka­gum dan tidak menyesal menolong wanita yang ternyata gagah berani ini.

Tiba-tiba terdengar bentakan nya­ring, dengan suara pria yang besar dan parau, "Tahan semua senjata!"

Mendengar suara ini, sembilan o­rang berpakaian hitam itu segera berloncatan ke belakang. Ada yang meno­long kawan yang pingsan oleh pukulan tongkat di tangan Lan Hong, dan ada yang dengan girang berseru, "Toako datang....!"

Melihat para pengeroyok berloncatan mundur, Ciang Sun dan Kok Han memandang orang yang baru datang itu dengan penuh perhatian. Lan Hong juga melon­cat ke belakang dan wanita ini menahan rasa nyeri di pahanya, wajahnya merah sekali, napasnya agak terengah, dahi dan lehernya basah keringat, rambutnya kusut, akan tetapi ia nampak semakin manis menarik dan gagah ketika ia ber­diri tak jauh dari dua orang pemuda Kun-lun-pai itu dengan tongkat di ta­ngan, tongkat yang sudah tidak karuan bentuknya karena berulang kali bertemu dengan golok para pengeroyok yang ta­jam.

Orang yang baru datang itu adalah seorang laki-laki yang usianya antara empat puluh lima sampai lima puluh tahun. Tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, kepalanya besar dan botak sedangkan kulit muka dan tangannya putih sekali, putih yang tidak wajar sehingga mudah diketahui bahwa dia adalah seorang bule. Rambut di kepalanya agak kekuningan yang hanya tumbuh di bagian bawah saja, dan bulu-bulu di muka, leher dan lengannya juga kekuningan. Dia pun mengenakan pakaian serba hitam, akan tetapi terbuat dari sutera, dan lukisan seekor kala putih di bajunya lebih besar daripada yang berada di baju anak buahnya. Mudah diduga bahwa tentu dialah kepala dari gerombolan Kala Putih itu.

Dengan suara yang aneh dan asing logatnya, raksasa bule itu berteriak marah. "Heh, siapa yang berani membi­kin ribut di sini dan bahkan melukai seorang anak buahku? Siapa kalian ber­tiga dan mengapa berkelahi melawan a­nak buahku?"

Sebelum dua orang pemuda itu menjawab, seorang anak buah gerombolan i­tu sudah cepat melaporkan, "Toako, mereka berdua itu adalah murid-murid Kun-lun-pai yang sombong. Kami sedang me­ngejar wanita itu yang berani lewat seorang diri di sini, untuk kami tangkap dan kami serahkan kepada toako untuk diambil keputusan. Eh, dua orang ini muncul dan melindunginya, hendak merampasnya dari tangan kami!"

Raksasa bule itu memandang kepada Lan Hong dan wanita itu merasa bulu tengkuknva meremang saking ngerinya. Mata itu sungguh menyeramkan dan begi­tu penuh gairah! Kemudian raksasa itu, setelah menjelajahi seluruh tubuh Lan Hong dengan sinar matanya, tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, kiranya memperebutkan wanita? Aha, baru kuketahui sekarang bahwa orang-orang Kun-lun-pai juga su­ka kepada wanita. Tidak aneh, tidak a­neh!"

"Kami tidak memperebutkan wani­ta!" bentak Ciang Sun marah. "Kami me­lindungi wanita ini karena dikejar-kejar oleh anak buahmu. Kami murid Kun-lun-pai akan menentang semua kejahatan dan melindungi siapa saja yang teran­cam!"

"Ha-ha-ha-ha, tidak perlu malu-malu, sobat muda! Laki-laki mana yang tidak akan suka kepada seorang wanita yang manis dan denok seperti ini? Ka­lau memang kalian tidak suka, serahkan saja kepadaku, mengingat hubungan baik antara Kala Putih dan Kun-lun-pai. Ketahuilah bahwa aku adalah Konga Sang, ketua dan pemimpin Kala Putih yang se­lama ini tidak pernah mengganggu Kun-lun-pai."

"Kami tidak akan membiarkan siapa saja mengganggu manita ini!" bentak pula Ciang Sun.

"Ho-ho-ha-ha, kiranya kalian mengajak bertanding? Baik, memang wanita ini cukup berharga untuk dijadikan ta­ruhan dalam pertandingan. Kalau kalian dapat mengalahkan aku, Konga Sang, kali­an boleh pergi membawanya dan kami takkan mengganggu. Akan tetapi kalau kalian kalah, wanita ini harus diserahkan kepadaku. Sudah adil, bukan?"

Lan Hong yang sejak tadi diam sa­ja, tiba-tiba membentak dengan suara nyaring, "Iblis jahat, engkau terlalu menghinaku. Dengarlah baik-baik, aku lebih baik mati dari pada menyerah ke­padamu!"

"Konga Sang," kata Kok Han yang brewok gagah, "kalau engkau memang la­ki-laki sejati, biarkan wanita ini pergi melanjutkan perjalanannya dan jangan diganggu. Sedangkan kalau engkau menghendaki kita untuk bertanding, ka­mi akan menyambut tantanganmu itu. Taruhannya bukan wanita melainkan nyawa kita!"

"Kalian orang-orang muda sombong!" Konga Sang berseru dan sekali tangan kanannya bergerak, dia telah melepaskan sebatang rantai yang tadi melibat pinggangnya. Rantai itu sebesar ibu jari, panjangnya ada dua meter dan di ujung rantai terdapat kaitan baja yang menyeramkan. Inilah senjata raksasa bule itu. Dia memutar rantainya di atas kepala lalu membentak, "Kalau kalian berani, majulah!"

Ciang Sun dan Kok Han maklum bah­wa kepala gerombolan Kala Putih ini tentu lihai, maka merekapun maju de­ngan sikap yang waspada. Ciang Sun berkata kepada Lan Hong, "Enci, engkau mundurlah!"

Lan Hong tahu diri. Iapun maklum bahwa kepala gerombolan ini tidak bo­leh disamakan dengan anak buahnya tentu lihai bukan main dan ia tahu bahwa tingkat kepandaiannya masih jauh untuk dapat dipergunakan membantu dua orang pendekar Kun-lun-pai itu. Kalau ia me­maksa diri maju, tentu hanya akan menjadi penghalang bagi dua orang peno­longnya. Maka iapun melangkah mundur dan siap dengan tongkatnya untuk membela diri. Ia mengeraskan hatinya, mencoba untuk bersikap tetap tenang dan si­ap menghadapi apapun juga. Hanya satu pegangannya. Ia tidak akan menyerah dan kalau terpaksa, ia akan memperta­hankan diri sampai mati!

"Haiiiiiitt....!" Kakek raksasa itu berteriak dan rantai di tangannya menyambar-nyambar ganas ke arah dua o­rang lawannya. Ciang Sun dan Kok Han mempergunakan kelincahan tubuh mereka untuk mengelak dan merekapun balas me­nyerang dengan pedang mereka. Namun, semua serangan pedang dapat ditangkis oleh sinar rantai yang bergulung-gulung. Setiap kali pedang bertemu ran­tai, terdengar bunyi nyaring dan nam­pak bunga api berpijar. Terjadilah perkelahian yang hebat, lebih seru daripada tadi ketika dua orang itu dikero­yok sepuluh orang anak buah gerombolan Kala Putih.

Akan tetapi, lewat tiga puluh ju­rus lebih, kedua orang murid Kun-lun-pai itu diam-diam mengeluh karena mereka mendapat kenyataan bahwa lawan mereka sungguh amat lihai. Permainan ran­tai itu sungguh dahsyat, selain amat cepat datangnya, juga mengandung tena­ga yang lebih kuat dari pada tenaga mereka berdua sehingga setiap kali pe­dang mereka bertemu rantai, mereka merasa betapa telapak tangan mereka menjadi nyeri dan panas. Bahkan beberapa kali, hampir saja mereka melepaskan pedang karena tidak tahan getaran hebat yang menyerang telapak tangan mereka.

"Ha-ha-ha, mampuslah!" Tiba-tiba raksasa bule itu membentak dan rantainya menyambar dengan tenaga sepenuhnya ke arah Ciang Sun. Pendekar ini melom­pat ke samping, akan tetapi tetap saja kaitan rantai itu mengenai leher bajunya.

"Bretttt....!" Baju itupun terobek sampai ke bawah, dari tengkuk ke pinggang. Masih untung bahwa kulit tubuh Ciang Sun tidak terluka! Pada saat itu, Kok Han sudah menusukkan pe­dangnya untuk melindungi kakak seperguruannya. Konga Sang menangkis dengan ujung rantai, dan tiba-tiba dia melepaskan rantai dari tangan kiri, hanya me­megangi dengan tangan kanan dan tangan kirinya yang berjari besar-besar itu telah menangkap pergelangan tangan Kok Han. Dan dengan sentakan aneh sambil memutar tubuhnya, tak dapat dipertahankan lagi oleh Kok Han, tubuhnya ikut terputar dan diapun terpelanting dan terbanting keras! Kiranya kepala gerombolan Kala Putih itu lihai pula dalam ilmu gulat! Ciang Sun cepat memutar pedangnva menyerang untuk melindungi su­tenya yang cepat menggulingkan tubuh­nya dan melompat bangun kembali. Kembali, kedua orang murid Kun-lun-pai itu menghadapi sambaran rantai dan kini mereka hanya mampu mempertahankan diri saja, tidak mampu lagi balas menye­rang.

"Ha-ha, kalian jaga baik-baik a­gar pengantinku itu tidak melarikan diri! Dua ekor domba ini sebentar lagi akan kusembelih, ha-ha-ha!" Konga Sang berkata kepada anak buahnya karena dia sudah merasa yakin bahwa tak lama lagi dia akan dapat merobohkan dua orang lawannya dan memondong wanita manis itu.

Sambil menyeringai, anak buahnya mendekati Lan Hong. Wanita ini memandang dengan wajah pucat. Iapun tahu bahwa dua orang penolongnya sudah terdesak dan berada dalam bahaya. Ia tahu bahwa mereka kini tidak mampu melindunginya lagi dan untuk melawan para anak buah gerombolan itupun ia tidak akan menang. Oleh karena itu, iapun sudah mengambil keputusan nekat, untuk melawan mati-matian dan kalau tertawan, ia akan membunuh diri! Ia mengangkat tongkatnya sambil berseru, "Majulah, akan kuhancurkan kepalamu!"

Akan tetapi, dua orang di antara para anak buah gerombolan itu, dua orang yang bertubuh tinggi besar, me­langkah maju sambil menyeringai.

"Manis, jangan banyak tingkah. Engkau akan menjadi pengantin pemimpin kami malam ini, ha-ha-ha! Lebih baik menyerah saja!"

Akan tetapi Lan Hong menyambut mereka dengan hantaman tongkatnya! Ia sudah lelah sekali, sudah hampir kehabisan tenaga, akan tetapi ia masih bersemangat dan pukulannya masih kuat. Akan tetapi, dua orang anak buah gerombolan itu adalah dua orang yang terkuat di antara mereka. Yang dihantam tongkat itu miringkan tubuhnya dan ketika tong­kat itu lewat, orang ke dua sudah me­nangkap lengan kanan Lan Hong yang memegang tongkat, sedangkan orang perta­ma sudah merangkulkan kedua lengannya yang panjang dan besar melingkari pinggang ramping Lan Hong.

"Lepaskan! Keparat busuk, lepaskan aku....!" Lan Hong meronta untuk melepaskan diri, namun dua orang itu memiliki tenaga yang kuat sekali.

Pada saat itu, terdengar bentak­an, "Kalian srigala-srigala yang ja­hat!" Bentakan ini disusul berkelebat­nya bayangan orang dan dua orang raksasa yang sedang menangkap Lan Hong yang meronta-ronta itu tiba-tiba saja ter­lempar dan terpelanting, roboh dan ti­dak mampu bangkit kembali. Seorang pe­cah kepalanya dan seorang lagi menge­rang kesakitan dengan beberapa buah tulang iga patah-patah. Kiranya yang muncul adalah seorang laki-laki yang ga­gah perkasa, berpakaian biru, dan tadi begitu muncul, dia menendang roboh dan menampar tewas dua orang anak buah ge­rombolan yang sedang menangkap Lan Hong.

Lan Hong terbelalak dan memandang kepada penolongnya. Seorang pria yang tinggi besar dan gagah perkasa, usia­nya hampir empat puluh tahun, kumis dan jenggotnya terpelihara rapi, pakaian­nya berwarna biru dan di punggungnya nampak gagang sebatang pedang dengan ronce merah. Ketika Ciang Sun dan Kok Han melihat pria gagah perkasa itu, mereka menjadi girang sekali.

"Lie susiok (paman guru Lie)!" seru mereka dengan gembira dan hampir berbareng.

"Mundurlah kalian dan hajar saja anak buah Kala Putih, biar aku yang menghadapi Konga Sang!" kata pria ga­gah perkasa itu. Dia bernama Lie Bouw Tek, murid kepala Kun-lun-pai yang me­mang sedang dicari-cari oleh dua orang murid Kun-lun-pai itu. Begitu meloncat dan menggantikan dua orang murid kepo­nakannya, Lie Bouw Tek telah mencabut sebatang pedangnya yang mengeluarkan sinar kemerahan. Itulah pedang pusaka Ang-seng-kiam (Pedang Bintang Merah) yang menurut dongeng dibuat dari logam yang berasal dari bintang dan logam i­tu berwarna merah!

"Hemm, siapakah engkau?" Konga Sang membentak ketika melihat bahwa yang menghadapinya adalah seorang laki-laki yang tingginya tidak kalah olehnya, berdada bidang dan kokoh, dengan sinar mata yang tajam dan mencorong.

"Konga Sang, sudah lama aku mendengar akan sepak terjang Kala Putih yang semakin jahat. Sekarang kebetulan sekali kita bertemu di sini, aku tidak akan membiarkan engkau merajalela mengumbar nafsu kejahatanmu. Aku bernama Lie Bouw Tek, murid Kun-lun-pai!"

"Aha, lagi-lagi murid Kun-lun-pai. Sungguh mati, tak kusangka bahwa Kun-lun-pai terdiri dari orang-orang usil dan lancang, suka mencampuri urusan orang lain!"

"Tak perlu banyak cakap, Konga Sang! Bukan hanya murid Kun-lun-pai, akan tetapi seluruh pendekar di dunia ini pasti akan menentang perbuatan ja­hat!"

"Manusia sombong!" Bentak Konga Sang dan rantainya sudah menyambar dahsyat ke arah kepala Lie Bouw Tek. Pen­dekar ini merendahkan tubuhnya dan ke­tika rantai melewati atas kepalanya dia melangkah maju dan pedangnya menu­suk ke bawah lengan kanan lawan! Gerakannya mantap, cepat dan kuat sekali sehingga pedang itu meluncur bagaikan sinar merah yang didahului angin dan suara mendesing! Terkejutlah Konga Sang dan dia terpaksa melempar tubuh ke be­lakang untuk menghindarkan diri. Ran­tainya membuat gerakan memutar dan kembali menyambar ke arah pinggang lawan. Sekali ini Lie Bouw Tek menangkis de­ngan pedangnya sambil mengerahkan tenaga. Melihat lawan menangkis, Konga Sang girang dan dia menarik sedikit rantainya agar ujung yang ada kaitannya dapat melibat pedang lawan.

"Tranggg....!" terdengar suara nyaring dan bukan main kagetnya ha­ti Konga Sang ketika melihat betapa ujung rantainya berikut kaitannya telah putus! Kiranya pedang merah itu merupakan pedang pusaka yang ampuh! Untung baginya bahwa yang buntung hanya ujung sepanjang satu dua jengkal saja sehingga rantainya masih merupakan senjata yang berbahaya walaupun tanpa kaitan. Dengan marah dia mengeluarkan suara gerengan dan rantainya menyambar-nyambar ketika dia memutarnya dan melancarkan serangan bertubi-tubi.

Namun Lie Bouw Tek dapat mengelak dengan langkah-langkah yang teratur, kadang meloncat tinggi dan diapun mem­balas dengan tusukan dan bacokan pe­dang. Terjadi pertempuran yang amat seru di antara kedua orang ini. Ternyata tenaga mereka seimbang, juga kini mereka bertanding dengan hati-hati. Konga Sang jerih terhadap pedang pusaka itu, sebaliknya Lie Bouw Tek juga tidak be­rani sembarangan menangkis. Sekali pedangnya terlibat rantai, dia akan menghadapi bahaya karena diapun tahu bahwa kepala gerombolan ini adalah seorang ahli gulat. Dalam ilmu silat, dia da­pat menandingi kepala gerombolan itu, akan tetapi kalau dalam ilmu gulat, sekali tubuhnya tertangkap, bahaya maut mengancam dirinya!

Sementara itu, Ciang Sun dan Kok Han mengamuk, menghajar anak buah ge­rombolan yang kini tinggal tujuh orang itu. Yang dua tewas oleh Lie Bouw Tek dan yang tadi terkena hantaman tongkat Lan Hong pada tengkuknya, biarpun su­dah siuman akan tetapi masih pening dan tidak mampu berkelahi, agaknya ge­gar otak! Lan Hong juga tidak tinggal diam, ia sudah mengambil golok seorang di antara penjahat yang tewas, lalu ia membantu dua orang murid Kun-lun-pai yang mengamuk, dengan memutar golok itu sekuat tenaga!

Lie Bouw Tek yang sudah lama ber­kelana di daerah ini dan sudah banyak mendengar tentang gerombolan Kala Pu­tih, maklum bahwa gerombolan itu masih mempunyai banyak sekali anak buah dan hanya kebetulan saja sekali ini mereka hanya menghadapi kepala gerombolan de­ngan sepuluh orang anak buah saja. Dia khawatir kalau-kalau akan datang lebih banyak lagi anak buah gerombolan Kala Putih, maka sambil memutar pedangnya sehingga membentuk gulungan sinar me­rah yang merupakan benteng kokoh kuat yang melindungi dirinya, dia berseru keras.

"Ciang Sun! Kok Han! Kalian ajak pergi nona itu, biar aku yang menahan mereka. Cepat!"

Ciang Sun dan Kok Han mengerutkan alisnya. Kenapa susiok mereka menyuruh mereka melarikan diri? Padahal, jelas bahwa susioknya tidak kalah oleh Konga Sang, juga mereka bahkan mendesak tujuh orang anak buah gerombolan itu, malah di antara pihak musuh sudah ada yang tergores pedang. Akan tetapi, dalam keadaan seperti itu, mereka tidak sempat membantah dan juga tidak berani membantah. Mereka mengenal susiok mereka sebagai seorang gagah perkasa dan kalau susioknya menyuruh mereka pergi lebih dahulu, tentu dia memiliki alas­an yang kuat.

"Mari, enci!" kata Ciang Sun sam­bil menarik tangan Lan Hong, diajak meloncat pergi sedangkan Kok Han melin­dungi mereka. Ketika tiga orang ini melarikan diri, para anak buah gerombol­an tidak berani mengejar. Mereka tidak bodoh. Tadi mereka sudah terdesak dan kalau dilanjutkan, mereka tentu akan roboh semua. Maka, sebaliknya daripada mengejar tiga orang itu, mereka kini membantu pemimpin mereka mengeroyok Lie Bouw Tek!

Lie Bouw Tek mengamuk bagaikan seekor rajawali merah! Pedangnya tidak nampak lagi, berubah menjadi sinar me­rah bergulung-gulung dan bermain di antara sinar golok dan rantai. Kadang-kadang, dari gulungan sinar merah itu mencuat sinar kilat disusul robohnya seorang pengeroyok karena disambar pe­dang Ang-seng-kiam. Lie Bou Tek sebe­tulnya memiliki ilmu yang seimbang de­ngan kepandaian Konga Sang, akan tetapi pedang pusakanya membuat lawan itu merasa jerih. Diapun tahu akan hal i­ni, dan dia tahu pula bahwa kalau Ko­nga Sang menyerang dengan sungguh-sungguh, dibantu beberapa orang anak buahnya, dia akan menghadapi bahaya. Maka, dia memberi waktu bagi dua orang murid keponakannya untuk melarikan di­ri bersama wanita itu, kemudian setelah memutar pedangnya, diapun moloncat jauh dan menghilang di balik semak be­lukar dan pohon-pohon yang mulal dise­limuti kegelapan karena malam telah menjelang tiba.

Konga Sang merasa penasaran dan marah sekali. "Kejar!" teriaknya, dan merekapun melakukan pengejaran. Namun, karena di dalam hati mereka timbul ra­sa jerih menghadapi tiga orang murid Kun-lun-pai itu, maka mereka tidak berani berpencar ketika mengejar dan mencari sehingga gerakan mereka tidak da­pat cepat. Apalagi mereka terhalang oleh kegelapan malam sehingga akhirnya mereka terpaksa menghentikan pengejar­an dan menolong kawan yang terluka atau tewas. Konga Sang mengapal tinju dan berkata dengan geram.

"Orang-orang Kun-lun-pai telah menghinaku! Awas, sekali waktu aku a­kan mengambil tindakan!" Walaupun ucapan ini lebih banyak hanya untuk mengumbar rasa penasaran dan marahnya karena diapun tahu betapa kuatnya Kun-lun-pai yang mempunyai banyak murid yang pan­dai dan pimpinan yang berilmu tinggi itu. Kalau tidak yakin akan kekuatan pasukannya sendiri, penyerbuan ke Kun-lun-pai hanya akan mengakibatkan pasu­kannya hancur.

Mereka duduk mengitari api unggun. Mereka berempat kini berada di puncak bukit, dari mana mereka dapat melihat ke empat penjuru dan tempat itu aman dan baik untuk melewatkan malam. Kalau ada musuh datang, maka dari jauhpun sudah akan dapat mereka lihat atau de­ngar karena sekeliling mereka datar dan merupakan padang rumput.

Tadi Lie Bouw Tek dapat menyusul Ciang Sun dan Kok Han yang mengajak Sie Lan Hong melarikan diri dan dua o­rang pendekar Kun-lun-pai itu segera memberi hormat dan berlutut di depan kaki Lie Bouw Tek.

"Terima kasih atas bantuan Lie susiok," kata mereka.

Lan Hong juga ikut berlutut dan berkata, "Atas pertolongan taihiap, akupun mengucapkan terima kasih."

"Bangkitlah kalian berdua, juga engkau, nona. Bangkitlah, tidak perlu dengan segala macam kesungkanan ini. Musuh berada jauh di bawah dan mungkin tidak akan mengejar ke sini. Andaikata mereka datang, kita dapat melihat mereka sebelum mereka dekat. Tempat ini baik sekali untuk melewatkan malam. Ci­ang Sun dan Kok Han, kumpulkan kayu kering dan kita bikin api unggun di sini."

Demikianlah, mereka kini duduk saling berhadapan, mengelilingi api ung­gun yang bernyala indah, terang dan hangat. Lan Hong memandang kepada pria yang duduk tepat di depannya, terhalang api unggun itu. Sinar api unggun yang kemerahan menerangi wajah pria itu dengan jelas. Dan iapun merasa kagum. Seorang pria yang usianya kurang lebih tiga puluh enam tahun, tubuhnya tinggi besar akan tetapi perutnya tidak gendut, seperti tubuh seekor kuda balap yang pilihan. Dan wajahnya demikian tenang, penuh wibawa dan gagah perkasa. Wajah yang jantan sekali, bukan tampan kewanitaan, melainkan jantan perkasa. Sikapnya seperti seekor burung garuda, atau seperti seekor harimau. Ya, seperti seekor harimau karena tadi ketika mencari kayu bakar, lenggang dan langkahnya mengingatkan Lan Hong akan seekor harimau. Tanpa ia ketahui, pria di depannya itupun sejak tadi memperhatikannya, walaupun tidak kentara. Dan Lie Bouw Tek juga kagum. Wanita itu sungguh jelita dan tidak mengherankan kalau Konga Sang, kepala gerombolan Kala Putih itu, tertarik dan bertekad untuk menawannya. Seorang wanita yang sudah matang, usianya su­kar ditaksir, nampaknya masih amat mu­da akan tetapi sikap dan gerak gerik­nya, bentuk tubuhnya, wajahnya yang manis, sudah matang seperti seorang wanita yang sudah dewasa benar. Tubuhnya tinggi semampai, dengan pinggangnya yang amat ramping dan pinggul yang be­sar membulat. Wajahnya amat manis, de­ngan kulit yang mulus dan mulut yang membayangkan kealiman, akan tetapi sepasang mata itulah yang amat menarik perhatiannya. Sepasang mata yang indah jeli, namun penuh bayangan duka dan derita.

"Ciang Sun dan Kok Han, sekarang ceritakanlah bagaimana kalian dapat berada di sini dan sampai berkelahi de­ngan orang-orang gerombolan Kala Putih itu," kata Lie Bouw Tek, suaranya te­nang sekali dan mendatangkan perasaan damai dan aman dalam hati Lan Hong. Ketika pandang mata mereka saling berte­mu, Lan Hong cepat menundukkan mukanya dan pada wajah pria yang gagah itu terbayang suatu keheranan. Memang dia merasa heran sekali mengapa dia demikian tertarik kepada wanita ini. Padahal sejak dikecewakan oleh seorang wanita, ketika dia berusia dua puluh tahun, sampai sekarang berusia tiga puluh enam tahun, belum pernah dia merasa tertarik kepada seorang wanita. Bukan berarti bahwa tidak ada wanita yang jatuh cinta kepadanya. Banyak sudah wanita yang suka kepadanya, bahkan banyak pula ayah dari gadis-gadis cantik menginginkan dia sebagai mantu mereka, namun dia selalu menolak. Dan sekarang dia merasa tertarik kepada seorang wanita yang baru saja dijumpainya, bahkan belum dikenal namanya dan belum diketahui pula riwayatnya.

"Kami berdua memang sengaja datang ke daerah ini untuk mencarimu, susiok. Kami diutus oleh supek (uwa guru) Thi­an Hwat Tosu untuk mencarimu dan menyerahkan surat ini kepadamu."

"Hemm, toa-suheng (kakak sepergu­ruan tertua) Thian Kwat Tosu yang mengutus kalian? Sudah pasti ada urusan penting sekali," kata Lie Bouw Tek dan dia menerima sampul surat itu, lalu merobek ujung sampul dan mengeluarkan surat dari dalamnya. Di bawah penerangan api unggun, dibacanya surat itu. Dalam surat, kedua orang suhengnya, yaitu ketua Kun-lun-pai Thian Hwat Tosu dan wakilnya, Thian Khi Tosu, menyerahkan tugas kepadanya untuk menyelidiki keadaan lima orang tokoh di Tibet yang dikenal dengan julukan Tibet Ngo-houw (Lima Harimau Tibet), yaitu Thay Ku Lama, Thay Si Lama, Thay Pek Lama, Thay Hok Lama dan Thay Bo Lama. Para pimpinan Kun-lun-pai itu merasa penasaran seka­li melihat sikap lima orang tokoh Tibet itu yang pernah mengambil sikap bermusuhan dengan Kun-lun-pai dan hampir terjadi bentrokan hebat antara Kun-lun-pai dengan mereka. Padahal, sejak da­hulu, Dalai Lama sendiri dan para pendeta Lama di Tibet bersikap baik dan bersahabat dengan Kun-lun-pai. Oleh karena itu, mengingat bahwa yang dapat diandalkan di Kun-lun-pai hanyalah Lie Bouw Tek, satu-satunya tokoh Kun-lun-pai yang ­bebas, yaitu tidak menjadi tosu dan tidak bertugas di Kun-lun-pai melainkan menjadi seorang kelana yang bebas, maka para pimpinan Kun-lun-pai mengutus Lie Bouw Tek untuk melakukan penyelidikan itu.

Membaca surat itu, Lie Bouw Tek mengangguk-angguk. "Sampaikan hormatku kepada kedua suheng, dan aku menerima baik tugas yang diberikan kepadaku." Hanya itulah pesannya kepada dua orang keponakannya itu. "Akan tetapi bagaimana kalian sampi bentrok dengan gerombolan Kala Putih?" Dia mengulang pertanyaannya.

"Hal itu terjadi hanya karena kebetulan saja, susiok. Kami sedang beristirahat di kuil tua di lereng bukit itu ketika tiba-tiba kami melihat enci ini berlari-lari dan dikejar oleh gerombolan Kala Putih menuju ke kuil. Kami sudah mendengar akan kejahatan Kala Putih, maka kami lalu membela enci ini, sampai susiok muncul dan menyelematkan kami semua."

Lie Bouw Tek mengerutkan alisnya mendengar Ciang Sun menyebut "enci" (kakak perempuan) kepada wanita itu. Mungkin Ciang Sun salah lihat, ataukah dia yang keliru? Wanita itu nampaknya tidak lebih tua dari murid keponakannya itu. Ataukah sebutan itu hanya sebutan akrab saja?

"Hemm, kalau boleh aku mengetahuinya, bagaimana sampai engkau dikejar-kejar oleh mereka, nona? Dan siapakah nona, mengapa pula melakukan perjalan­an seorang diri di tempat ini?" Lalu dia menyambung cepat ketika teringat bahwa dia bertanya nama kepada seorang wanita tanpa lebih dahulu memperkenal­kan diri. "Mungkin nona sudah tahu bahwa kami bertiga adalah murid-murid Kun-lun-pai. Namaku Lie Bouw Tek, sedang­kan dua orang murid keponakanku ini bernama Ciang Sun dan Kok Han."

Lan Hong memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada, lalu berkata dengan suara lirih namun cukup jelas bagi tiga orang itu. "Namaku Sie Lan Hong dan aku datang dari kota Sung-jan di perbatasan sebelah barat Propinsi Sin-kiang. Akan tetapi, harap Lie Taihiap jangan menyebut nona kepadaku. Aku bukan seorang gadis yang be­lum menikah. Aku pergi untuk mencari seorang adikku, dan juga mencari pute­riku...."

Lie Bouw Tek membelalakkan kedua matanya. Wanita ini sudah menikah, bahkan sudah mempunyai seorang puteri! Kalau begitu, agaknya penglihatan kedua orang murid keponakannya itu yang benar. Dia merasa betapa mukanya menjadi panas dan untunglah bahwa sinar api unggun memang sudah kemerahan dan mem­buat wajahnya merah sehingga perubahan wajahnya tidak akan nampak oleh orang lain.

"Ah, maafkan aku, toanio (nyonya). Kiranya toanio mencari adiknya dan puterinya? Akan tetapi, kenapa engkau mencari mereka seorang diri saja? Mengapa tidak dengan suamimu.... maaf...."

Lan Hong menundukkan mukanya, bu­kan karena sedih melainkan karena malu dan ucapannya lirih sekali. "Dia su­dah meninggal...."

"Ah, maafkan aku, toanio!" seru Lie Bouw Tek dan ingin dia memukul ke­palanya sendiri mengapa ada perasaan lega dan girang di dalam hatinya. Lega dan girang mendengar bahwa suami orang sudah meninggal. Sungguh kejam dan tak tahu malu, makinya pada dirinya sendi­ri. Sementara itu, diam-diam Ciang Sun dan Kok Han merasa heran dan geli melihat betapa susiok mereka yang biasanya berwibawa, tenang dan tegas itu kini telah beberapa kali minta maaf dan menjadi seperti gugup. Akan tetapi mereka pun tentu akan menjadi gugup kalau me­nanyakan suami seorang wanita lalu mendapat jawaban bahwa orang yang mereka tanyakan itu sudah meninggal dunia!

"Tidak mengapa, taihiap. Keduka­an itu telah lewat," kata Lan Hong.

Kalau saja wanita itu tidak mengeluarkan ucapan ini, agaknya Lie Bouw Tek akan sukar mengeluarkan ucapan la­gi, apalagi untuk bertanya. Kini, se­telah Lan Hong berkata demikian, kei­nginan tahunya mendorongnya untuk ber­tanya lagi.

"Kalau boleh aku bertanya lagi toanio. Ke manakah perginya adikmu dan puterimu itu?"

"Aku tidak tahu benar, akan teta­pi aku hendak mencari mereka di Lasha."

Lie Bouw Tek mengangguk-angguk, lalu berkata kepada kedua orang murid keponakannya. "Kalian ke Kun-lun-pai dan sampaikan kepada kedua suheng tentang pesanku tadi, sesuai dengan tugas yang mereka berikan kepadaku, aku akan pergi ke Lasha dan karena toanio ini hendak mencari keluarganya di Lasha, maka biar aku menemaninya. Kasihan kalau ia harus melakukan perjalanan seorang diri ke Lasha, hal itu amat berbahaya karena Lasha masih jauh dari sini."

Dua orang pendekar Kun-lun-pai i­tu mengangguk. "Baik, susiok. Kami be­sok pagi akan berangkat, kembali ke Kun-lun-pai. Dan memang sebaiknya ka­lau anci ini ada temannya ke Lasha. Siapa tahu gerombolan Kala Putih itu akan melakukan pengejaran. Harap susiok berhati-hati karena mereka itu jahat sekali."

"Aku mengerti. Bagaimana, toanio, setujukah engkau apabila aku menemanimu melakukan perjalanan ke Lasha? Kebetulan sekali akupun hendak pergi ke sana."

"Tentu saja, ahh, tentu aku merasa senang sekali, taihiap. Tadinya a­ku hampir putus asa melihat betapa su­karnya mencari adikku, dan betapa bar­bahayanya perjalanan ini. Aku berteri­ma kasih sekali kepadamu, taihiap."

"Sungguh engkau tahan uji dan juga bersemangat besar, toanio. Bagaimana mungkin dapat menemukan seseorang dalam jarak yang begini jauh, dan aku­pun belum dapat memastikan apakah eng­kau akan dapat menemukan adikmu di Lasha. Di sana banyak terdapat orang dan mencari seseorang di antara orang ba­nyak di tempat yang besar...."

"Adikku mudah dicari. Dia.... dia mempunyai cacat, yaitu punggungnya berpunuk dan dia bongkok...."

Tiba-tiba Ciang Sun dan Kok Han saling pandang dan Kok Han segera berseru, "Nanti dulu, enci. Apakah adikmu itu bernama Sie Liong?"

Kini Lan Hong yang terkejut dan memandang heran. "Benar sekali! Bagai­mana engkau bisa tahu?"

"Ah, kiranya Pendekar Bongkok itulah adikmu, enci! Tidak sukar menduga setelah engkau tadi mengatakan bahwa adikmu itu bongkok. Engkau she Sie dan Pendekar Bongkok juga she Sie. Kami pernah bertemu dengan dia!"

Hampir Lan Hong bersorak. Ia merasa gembira sekali. "Di mana dia? Bagaimana keadaannya?"

Juga Lie Bouw Tek menjadi terta­rik mendengar bahwa adik wanita ini yang dicari-cari itu disebut Pendekar Bongkok oleh dua orang murid keponakannya.

"Kok Han, ceritakan tentang Pendekar Bongkok itu. Aku ingin sekali tahu karena belum pernah aku mendengar namanya."

Kini Ciang Sun yang menjawab. "Aih, susiok. Dia memang baru saja muncul di dunia kang-ouw, masih amat muda akan tetapi namanya cepat sekali menjadi terkenal. Tentang ilmu kepandaiannya, ah, susiok, kami berani mengatakan bahwa selama hidup belum pernah kami ber­temu dengan seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian sehebat yang dimiliki Pendekar Bongkok! Dia lihai bukan main, susiok sehingga kami berdua merasa seperti kanak-kanak tidak berdaya saja kalau dibandingkan dengan dia! Sayang sekali, enci, kami tidak tahu ke ­mana sekarang dia pergi, karena kami berjumpa dengan dia baru-baru ini di sebuah dusun di mana dia melakukan hal yang menggemparkan dan mengagumkan. Bahkan dulu, ketika dia masih kecil, tujuh tahun yang lalu, kamipun pernah bertemu dengan dia. Akan tetapi, baik­lah kami ceritakan saja pengalaman dua kali bertemu dengan adikmu yang aneh dan yang gagah perkasa itu, enci, agar susiok juga mengetahui siapa adanya Pendekar Bongkok yang kami kagumi i­tu."

Ciang Sun dan Kok Han lalu mence­ritakan pengalaman mereka. Mula-mula pengalaman mereka tujuh tahun yang la­lu ketika mereka menolong seorang tosu yang diseret-seret oleh dua orang pen­deta Lama Jubah Merah. Mereka baru pu­lang berbelanja untuk Kun-lun-pai dan waktu itu usia mereka baru dua puluh tahun. Akan tetapi, dua orang pendeta Lama itu ternyata lihai bukan main sehingga mereka berdua tidak berdaya dan roboh tertotok. Mereka hampir dibunuh oleh dua orang pendeta Lama itu, akan tetapi tosu itu, yang tadi diseret-se­ret dan yang ternyata adalah seorang sakti yang bernama Pek-in Tosu, berba­lik menyelamatkan mereka. Terjadi perkelahian antara Pek In Tosu dan dua o­rang pendeta Lama itu.

"Nanti dulu, bukankah Pek-in Tosu itu seorang di antara Himalaya Sam Lojin?" tanya Lie Bouw Tek yang banyak mengenal tokoh Himalaya dan daerah barat.

"Benar, susiok. Perkelahian itu hebat sekali, akan tetapi ketika dua orang pendeta Lama itu mengeluarkan ilmu sihir melalui suara nyanyian mereka, Pek-in Tosu kewalahan dan hampir roboh. Untunglah, pada saat itu muncul Pendekar Bongkok, pada waktu itu hanya seorang anak laki-laki berusia dua belas atau tiga belas tabun yang bongkok, dan Pek-in Tosu tortolonglah."

"Apa? Dalam usia dua belas tahun sudah begitu lihainya?" Lie Bouw Tek berseru heran dan kagum.

"Tidak, susiok. Pada waktu itu, dia belum pernah mempelajari silat, a­taupun kalau pernah, masih dangkal se­kali. Akan tetapi dia memang aneh dan cerdik. Mendengar dua orang pendeta Lama itu bernyanyi-nyanyi yang mengan­dung sihir sehingga Pek-in Tosu kewalahan, anak itu lalu menggunakan bambu memukuli batu-batu sehingga suaranya bising sekali. Suara ini yang agaknya mengacaukan ilmu sihir dua orang pendeta Lama itu dan mereka kalah oleh Pek-in Tosu dan melarikan diri. Itulah pertemuan kami yang pertama dengan Pendekar Bongkok."

"Sungguh menarik sekali!" kata Lie Bouw Tek kagum.

"Ah, kasihan adikku. Taihiap, apakah dua orang pendeta Lama itu tidak marah karena mereka diganggu oleh Sie Liong?" kata Lan Hong.

"Dua orang pandeta Lama itu marah sekali dan mereka menyerang Pendekar Bongkok, akan tetapi Pek-in Tosu yang sudah sadar kembali dari pengaruh si­hir lalu membelanya dan berhasil mengusir dua orang pendeta Lama itu."

"Dan bagaimana perjumpaan kalian untuk yang kedua kalinya dengan Pende­kar Bongkok?"

"Pertemuan kami dengan dia baru saja terjadi beberapa pekan yang lalu, di sebuah dusun di perbatanan Tibet. Ketika itu kami menjadi tamu kepala dusun yang sedang merayakan pesta perni­kahan puteranya. Akan tetapi pernikah­an itu gagal karena Pendekar Bongkok turun tangan mancampuri. Kiranya dia yang benar karena pernikahan dengan putera kepala dusun itu dipaksakan. Setelah mengetahui duduknya perkara, kami setuju akan tindakan Pandekar Bongkok yang menggagalkan pernikahan itu dan di dalam perjumpaan itulah dia menge­nal kami berdua. Ternyata dia telah menjadi seorang pendekar yang sakti!"

Lan Hong menarik napas panjang mendengar cerita dua orang murid Kun-lun-pai itu. "Ya, memang setelah pu­lang dari perantauannya, adikku telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali. Menurut pengakuannya, dia telah menjadi murid Himalaya Sam Lojin dan Pek-sim Sian-su."

"Ahhh....!" Lie Bouw Tek berseru dengan mata terbelalak panuh ka­sum. "Pantas saja adikmu itu menjadi seorang pendekar yang sakti, toanio! Kiranya dia murid orang-orang yang sakti. Menjadi murid Himalaya Sam Lojin sudah hebat apalagi menjadi murid Pek-sim Sian-su! Ah, sungguh hebat sekali adikmu itu, toanio!"

Mendengar pujian-pujian itu, Lan Hong sama sekali tidak menjadi gembi­ra, bahkan diam-diam ia merasa sedih sekali, mengingat akan nasib adiknya. Sejak kecil, adiknya sudah mengalani kesengsaraan, bahkan dibandingkan dengan dirinya sendiri, adiknya itu lebih tersiksa. Tersiksa lahir batin, bahkan kini sedang dicari oleh Bi Sian untuk dibunuh!

Karena melihat Lan Hong kelelahan, Lie Bouw Tek menghentikan percakapan mereka dan mempersilakan wanita itu untuk mengaso. Dia memberikan selimutnya dan Lan Hong rebah miring dekat api unggun. Sebentar saja ia sudah terti­dur karena memang ia sudah lelah sekali. Lie Bouw Tek masih bercakap-cakap lirih dengan dua orang murid koponakannya, akan tetapi tak lama kemudian merekapun mengaso dengan duduk bersila.


***


Mereka berduA menunggang kuda berdampingan dan membiarkan kuda mereka berjalan perlahan menuruni bukit. Lie Bouw Tek membeli dua ekor kuda di du­sun yang baru mereka tinggalkan, di lereng bukit. Lan Hong berterima kasih dan ketika ia hendak membayar harga kuda untuknya, pendekar itu mencegahnya. Diam-diam Lan Hong semakin kagum kepada pendekar yang bertubuh tinggi besar itu. Lie Bouw Tek bukan saja gagah perkasa, pendiam, berwibawa dan tenang sekali, akan tetapi ternyata juga bersikap lembut dan sopan terhadap dirinya. Belum pernah pendekar itu menunjukkan sikap kasar ataupun melanggar kesopanan terhadap dirinya sepanjang melaku­kan perjalanan bersamanya, bahkan di waktu memandangnya, pendekar itu selalu membatasi diri.

Karena senja telah tiba dan malam menjelang datang menggelapknn bumi, mereka terpaksa menghentikan perjalanan di kaki bukit itu. Mereka memilih sebuah guha di daerah yang penuh batu gu­nung itu sebagai tempat melewatkan ma­lam. Mereka membuat api unggun di mu­lut guha dan setelah makan roti dan daging kering, minum anggur yang tidak begitu keras, mereka lalu duduk bercakap-cakap di dalam guha. Api unggun menghangatkan tubuh dan mengusir nya­muk. Mereka duduk berhadapan, terha­lang api unggun. Melihat usia mereka, sepantasnyalah kalau ada orang melihat me­reka akan mengira bahwa mereka adalah sepasang suami isteri.

Keduanya termenung, seolah tenggelam dalam lamunan masing-masing. Padahal, diam-diam mereka itu saling memikirkan. Bagi Lan Hong, perasaannya yang amat kagum dan tertarik kepada pendekar itu merupakan pengalaman yang baru pertama kali ia rasakan. Semenjak masih remaja, hati dan badannya telah direnggut secara paksa oleh mendiang Yauw Sun Kok. Kalaupun akhirnya timbul perasaan cinta kepada Yauw Sun Kok, hal itu adalah karena keadaan. Ia telah menjadi isterinya, bahkan telah melahirkan anak keturunannya, maka ia anggap sudah semestinya dan sewajarnyalah kalau ia bersikap setia dan mencinta suaminya. Akan tetapi betapa seringnya hatinya menderita nyeri yang amat hebat melihat sikap suaminya, pertama sikap Suaminya terhadap adiknya, dan kedua kalinya ketika mereka kehilangan anak mereka sikap suaminya menjadi teramat buruk, bahkan mulai memaki dan memukulnya. Dan selama itu, sama sekali ia tidak pernah bergaul dengan pria lain, bahkan mengangkat muka memandangpun tak pernah. Dan kini, setelah ia menjadi janda, setelah ia bebas, tiba-tiba saja, tanpa disangkanya, ia kini melakukan perjalanan berdua saja dengan seorang pendekar yang dalam segala-galanya jauh berbeda dengan mendi­ang suaminya! Seorang pendekar yang berkepandaian tinggi, berjiwa satria, yang sopan santun dan lembut, namun keras dan jantan bagaikan seekor rajawa­li atau seekor naga jantan.

Di lain pihak, Lie Bouw Tek juga tiada habis herannya melihat kenyataan yang terjadi pada hatinya. Semenjak kegagalan cinta pertama, dia tak pernah mau bergaul dengan wanita, bahkan ada kecondongan menganggap bahwa wanita tidak dapat dipercaya, bahwa di balik kehangatan dan kelembutan itu tersembu­nyi kepalsuan, di balik keindahan itu tersembunyi racun yang jahat. Akan te­tapi mengapa kini dia demikian terta­rik kepada wanita yang sudah menjadi janda ini, yang biarpun tergolong can­tik namun tidaklah luar biasa, bahkan kecantikannya sederhana? Mengapa tim­bul perasaan iba yang mendalam, juga perasaan kagum terhadap wanita ini yang mendorongnya untuk membela dan melindunginya, kalau mungkin selama hidupnya?

"Toanio, engkau mengasolah, biar aku yang berjaga di sini," akhirnya Lie Bouw Tek berkata kepada wanita itu.

"Aku belum mangantuk, taihiap. Engkau mengasolah biar aku yang berja­ga. Masa satiap kali kita bermalam di tempat terbuka, engkau saja yang mela­kukan penjagaan dan aku yang disuruh tidur."

Lie Bouw Tek tersenyum. "Sudah sepantasnya begitu. Sudah menjadi kewa­jiban pria sebagai yang lebih kuat un­tuk selalu menjaga dan melindungl wanita yang lemah."

"Akan tetapi aku tidaklah sedemi­klan lemahnya, taihiap."

Lie Bouw Tek mengangkat muka menatap wajah itu. Mata itu! Mata yang in­dah akan tetapi sinaraya seperti mata­hari tertutup awan hitam. Dia menarik napas panjang. "Toanio, ada sedikit permintaan dariku, harap engkau tidak berkeberatan untuk memenuhi permintaanku itu."Lan Hong balas memandang, sinar matanya tajam menyelidik. Bagaimanapun percayanya kepada pendekar ini, penga­laman-pengalaman pahit selama dalam perjalanan karena ulah pria membuat ia berprasangka buruk dan berhati-hati. "Taihiap, permintaan apakah itu? Apa yang dapat kulakukan untukmu? Tentu saja aku bersedia memenuhi kalau permin­taanmu itu wajar dan baik."

"Setiap kali engkau menyebut tai­hiap kepadaku, aku merasa amat tidak enak. Kita melakukan perjalanan bersama, berarti kita senasib seperjalanan, menghadapi segala bahaya dan segala kemungkinan berdua. Akan tetapi sebutan yang kaupakai itu membuat aku merasa seperti kita ini saling berjauhan dan asing."

"Ah, sungguh aneh. Aku sendiripun merasa tidak enak setiap kali engkau menyebut toanio kepadaku. Sebutan itu demikian menghormati aku dan merendah­kan dirimu."

Mereka saling pandang, lalu keduanya tersenyum. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita saling sebut seperti dua orang sahabat baik, atau seperti ang­gauta keluarga? Kita seperti kakak dan adik, bagaimana kalau engkau menyebut aku toako (kakak) dan aku menyebutmu siauw-moi (adik perempuan)?"

Biarpun wajahnya berubah merah dan jantungnya bardebar agak keras, namun Lan Hong tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, toako. Sejak saat ini aku a­kan menyebutmu Lie Toako."

"Dan aku akan menyebutmu siaw­moi Sie Lan Hong, atau cukup dengan Hong-moi (adik Hong) saja, bagaimana?"

Kembali mereka saling pandang dan Lan Hong mengangguk. Lalu keduanya di­am, seolah-olah mereka merasa sungkan dan rikuh setdah ada sedikit keakrab­an tadi. Akhirnya, merasa tersiksa oleh kediaman mereka itu, Lie Bouw Tek bertanya. "Hong-moi, aku masih merasa heran sekali mengingat ceritamu bahwa puterimu telah pergi. Apakah ia pergi bersama adikmu, Pendekar Bongkok itu?"

Lan Hong menggeleng kepalanya dan kedua matanya kelihatan semakin sedih. Kalau saja mereka pergi berdua, pikir Lan Hong, tentu hatinya tidak serisau sekarang ini. "Dia pergi sendiri,toako. Ia pergi untuk mencari panannya yang pergi lebih dahulu."

"Hemm, sungguh berbahaya kalau begitu. Dan sungguh berani sekali puterimu itu. Seorang anak perempuan kecil pergi seorang diri mencari pamannya, ke arah Tibet pula!"

Tiba-tiba Lie Bouw Tek memandang dengan mata terbelalak melihat betapa wanita yang duduk di seberang api unggun itu tertawa geli sambil menutupi mulut dengan punggung tangannya.

"Eh? Kenapa engkau tertawa geli, Hong-moi?"

"Habis, engkau lucu sih, toako. Bi Sian bukan seorang anak kecil lagi! Dia sudah berusia delapan belas tahun dan ia bukan pula seorang gadis lemah!"

"Ah, tidak mungkin! Aku tidak percaya!"

Kini Lan Hong yang terbelalak dan memandang heran. "Apa maksudmu, toako? Engkau tidak percaya kepadaku? Apa kau kira aku membobong?" Dalam suaranya torkandung penasaran. Entah mengapa, hatinya terada nyeri kalau tidak dipercaya oleh pendekar itu.

"Aku tidak mengatakan engkau mem­bohong, Hong-moi, akan tetapi siapa dapat percaya bahwa engkau mempunyai se­orang puteri yang berusia delapan belas tahun? Anakmu sendiri ataukan anak ti­ri, atau anak angkat?"

"Eh? Kenapa begitu, toako? Tentu saja anakku sendiri!"

"Itulah yang tidak mungkin! Kalau puterimu itu berusia tujuh atau dela­pan tahun, baru masuk akal. Akan teta­pi delapan belas tahun?"

Kini mengertilah Lan Hong dan se­nyumnya manis sekali, matanya bersinar dan untuk sejenak kedukaan yang membayang di dalamnya menipis.

"Lie-toako, berapa kaukira usiaku sekarang?"

"Paling banyak dua puluh lima tahun."

Kembali Lan Hong tertawa geli dan menutupi mulutnya dengan tangan, "Hi-hik, engkau lucu, toako. Umurku tahun ini sudah tiga puluh tiga tahun."

"Apa? Tidak mungkin sama sekali! Engkau.... sungguh tidak pantas berusia sebanyak itu!" Teriak Lie Bouw Tek penasaran sehingga Lan Hong tertawa geli. Wanita mana yang tidak akan senang sekali hatinya melihat orang lain, apalagi kalau orang itu seorang pria, yang dikaguminya pula, mengira ia jauh lebih muda daripada usianya yang sebenarnya?

"Lie-toako, aku yang mempunyai usia itu, tentu aku yang lebih tahu dan tidak bohong."

"Aihhh.... maafkan aku. Sungguh mati sukar dipercaya bahwa engkau sudah berusia tiga puluh tiga tahun, Hong-moi."

"Bahkan sudah hampir tiga puluh empat tahun, toako, mungkin malah lebih tua daripadamu."

"Ah, tidak, tidak!" jawab Lie Bo­uw Tek cepat. "Usiaku sudah tiga puluh enam tahun."

"Tantu engkau sudah mempunyai be­berapa orang putera dan puteri, toako, Berapa banyak anakmu dan berapa usia anakmu yang pertama?"

Lie Bouw Tek menggeleng kepalanya. "Aku tidak mempunyai anak, bahkan aku belum pernah menikah, Hong-moi."

"Ahh....!" Lan Hong menundukkan mukanya yang tiba-tiba menjadi kemerahan dan ia memaki dirinya sendiri mengapa begitu tak tahu malu untuk merasa girang mendengar bahwa pendekar itu belum menikah! Ingatlah engkau, tak tahu malu, makinya pada diri sendiri, engkau sudah janda dan memiliki anak yang sudah dewasa, sedangkan dia ini masih perjaka, seorang pendekar besar yang budiman. Jangan mengharapkan yang bukan-bukan!

Kembali keduanya berdiam diri se­perti tenggelam ke dalam lamunan yang lebih dalam lagi. Suasana semakin sunyi karena malam semakin larut. Ketika Lan Hong menambahkan kayu bakar pada api unggun, gerakannya itu seperti menghidupkan lagi suasana yang tadinya seperti mati. Lie Bouw Tek soperti sadar kembali dari lamunan.

"Hong-moi, berapakah usia adikmu yang berjuluk Pendekar Bongkok itu?"

"Dia masih muda, toako, baru dua ­puluh tahun lebih, paling banyak dua puluh satu tahun."

"Hemm, sudah demikian lihainya walaupun masih amat muda. Kalau dia melakukan perjalanan seorang diri ke Ti­bet, hal itu tidaklah aneh. Akan tetapi puterimu itu siapa namanya tadi?"

"Bi Sian, Yauw Bi Sian."

"Nah, Bi Sian seorang gadis berusia delapan belas tahun, sungguh berba­haya melakukan perjalanan ke daerah i­ni. Sedangkan untuk engkau sendiri sa­ja sudah amat berbahaya, apalagi un­tuk puterimu yang berusia delapan belas tahun."

Lan Hong tersenyum, senyum penuh kebanggaan. "Kurasa tidak, toako. Biarpun usianya baru delapan belas tahun, akan tetapi Bi Sian memiliki ilmu silat yang jauh lebih tinggi daripada aku, atau bahkan mendiang ayahnya, bahkan pula, kurasa tidak kalah jauh diban­dingkan Sie Liong."

"Apa?" Kembali Bouw Tek terbelalak. Sudah terlalu sering dia mendengar hal-hal yang amat aneh dan tidak terduga dari janda muda yang manis ini. "Selihai Pendekar Bongkok? Wah, hebat! Murid siapakah puterimu itu, Hong-moi?" Di dalam hatinya, sukar untuk dapat mempercayai keterangan Lan Hong tentang puterinya itu.

"Menurut pengakuannya, Bi Sian menjadi murid seorang pertapa sakti yang berjuluk Koay Tojin."

"Benarkah?" Kembali pandekar itu terkejut. "Nama besar Koay Tojin amat terkenal di daerah barat dan utara! Dia seorang pertapa sakti yang namanya sejajar dengan nama basar Pek-sim Sian-su."

"Memang benar, toako. Menurut keterangan Bi Sian, gurunya itu memang sute dari Pek-sim Sian-su guru Sie Liong."

Pendekar itu tertegun kagum, lalu menarik napas panjang. "Sungguh hebat sekali! Engkau memiliki keluarga yang hebat, Hong-moi. Aku jadi semakin tertarik untuk mengetahui riwayatmu dan keadaan keluargamu. Kalau boleh aku bertanya, kenapa suamimu meninggal da­lam usia yang masih muda? Apakah kare­na penyakit?"

Sejenak Lan Hong menunduk dan berdiam diri. Bagaimana ia dapat men­jawab? Sampai lama ia tak mengeluarkan suara.

"Maafkan aku banyak-banyak, Hong-moi, kalau pertanyaanku tadi terlalu lancang dan tidak menyenangkan hatimu, maafkan dan engkau tidak perlu menja­wabnya." Di dalam suara itu terkandung keluhan. Lan Hong mengangkat mukanya menatap wajah pendekar itu. Tidak, ia tidak perlu menyembunyikannya. Bahkan ia perlu menceritakan kepada pendekar itu, orang yang telah mendapat keparcayaannya, bahkan yang bersedia mengan­tar dan membantunya sampai ia dapat bertemu dengan adiknya atau puterinya. Ia merasa bahwa pendekar yang duduk bersila di depannya itu bukan orang lain lagi, ia sudah merasa demikian a­krab, apalagi setelah bercakap-cakap malam ini, setelah mereka saling menyebut toako dan siauw-moi. Akhirnya Lan Hong menarik napas panjang.

"Akulah yang minta maaf, toako, karena aku tadi telah meragukannya. Baiklah, akan kukatakan kepadamu. Suamiku itu.... tewas karena terbunuh orang."

"Ahhh!" Lie Bouw Tek mangepalkan tinju, memandang dengan penasaran dan kasihan sekali. "Siapakah penjahat yang telah berani melakukannya, Hong-moi? Bagaimana si jahat itu berani melakukan­nya kalau di sana terdapat adik kandungmu dan puterimu yang memiliki ilmu kepandaian tinggi?"

Lan Hong menggeleng kepalanya. "Tidak diketahui siapa pembunuhnya, Lie-toako."

"Aku akan menyelidikinya! Aku a­kan menangkap pembunuh jahanam itu untukmu, Hong-moi! Lalu.... mengapa adikmu malah pergi, juga puterimu? Apakah mereka berdua itu sudah pergi ketika peristiwa itu terjadi? Apakah mereka tidak tahu akan pembunuhan i­tu?"

Lan Hong menarik napas panjang. Karena Bouw Tek membantunya mencari adiknya dan puterinya, maka akhirnya ia tentu akan mengetahuinya, dan pendekar itu sudah terlibat dalam urusan keluarganya. "Mereka berdua tahu, toako. Justeru karena pembunuhan itulah mereka pergi meninggalkan rumah. Bi Sian, puteriku itu, menuduh bahwa adikku Sie Liong yang membunuh ayahnya. Kare­pa tuduhan ini, Sie Liong melarikan diri dan anakku itu melakukan pengejar­an, mencari pamannya untuk dibunuh, untuk membalas dendam kematian ayahnya."

"Ah.... ahh....!" Bouw Tek kini tidak mampu bicara lagi. Tar­lalu berat peristiwa yang menimpa keluarga janda ini, pikirnya dan dia merasa terharu, juga bingung dan tak tahu harus berkata apa lagi. Akhirnya dia hanya mengeluh, "Hong-moi.... sungguh kasihan sekali engkau. Keluargamu hebat, akan tetapi juga tertimpa malape­taka yang hebat pula. Sungguh membuat aku merasa penasaran, Hong-moi. Adikmu demikian lihai, juga puterimu, akan tetapi suamimu dapat dibunuh orang, dan sekarang puterimu malah mengejar-ngejar pamannya yang dituduh melakuken pembu­nuhan itu. Sebetulnya bagaimana duduk­nya perkara, Hong-moi? Maukah engkau menceritakan kepadaku? Percayalah, aku siap untuk membantu, sedapat mungkin akan kubongkar rahasia itu yang meliputi seluruh keluargamu. Menurut keterangan dua orang murid keponakanku, Pendekar Bongkok adalah seorang pendekar budiman yang hebat, bagaimana mungkin membunuh kakak iparnya sendiri?"

"Tadinya.... aku sendiri percaya bahwa dia yang membunuh suamiku, tapi.... tapi sekarang tidak lagi...."

"Lebih aneh lagi kalau begitu. Wahai, Hong-moi, ternyata dirimu diling­kari banyak rahasia